
Di kota pusat. Perusahaan Antonio.
”Sial! Sekarang aku harus kembangkan perusahaan ini dengan serius demi Marlina. Kurang ajar si Beni! Beraninya di belakang ku tanpa memberi tahu ku sebelumnya, ia mengganti kepemilikan ini atas nama Marlina agar aku pusatkan perhatian ku untuk perusahaan ini dan berhati-hati dalam bertindak! Sial!” ucap Antonio dengan marah sambil menggebrak meja.
Ia mengambil handphone, tangannya tampak lincah memencet di layar handphone tersebut.
”Beri Beni pelajaran, cukup memberinya peringatan ringan, biar bagaimanapun juga dia masih adik ku satu ibu. Bilang padanya ini peringatan terakhir, jangan ikut campur urusan pribadi ku.”
Pesan terkirim ke Edo, salah satu anak buah Antonio.
Ting
Notifikasi pesan masuk berbunyi, Antonio menatap layar membaca balasan dari Edo.
”Baik, Tuan. Sesuai perintah!”
Tok tok tok
Mata Antonio memandang arah pintu dengan tajam, telinganya mendengarkan suara di balik pintu yang tertutup itu.
”Permisi, Tuan. Saya sekretaris Anda__”
”Masuk!” sahut Antonio memangkas ucapan sekretarisnya.
Eva membuka pintu, ia melihat raut wajah marah pada wajah Antonio, ia menunduk.
”Maaf, Tuan. Ini adalah berkas yang harus Tuan tanda tangani terkait proyek baru kita. Di sini rinciannya sudah jelas, kami sudah mengadakan beberapa kali rapat untuk membahas tentang penanganan proyek ini.” ucapnya sambil meletakkan berkas tersebut di atas meja di hadapan Antonio.
”Hum,”
Antonio mengambil berkas itu, tanpa membacanya lagi, ia menandatangani berkas tersebut.
”Ini, sudah ku tandatangani semua. Apakah masih ada hal yang lainnya?”
”Iya, Tuan. Siang ini, Tuan ada janji temu bersama klien yang dari kota B, tempat bertemunya di hotel xxx.”
”Hum, apakah selama saya di luar tadi, Dawiyah datang kemari?”
”Tidak, Tuan. Hanya nona Marlina saja yang datang, tapi, melihat Tuan tidak berada di ruangan, nona kembali pulang.”
”Hum, keluarlah!”
”Baik, Tuan.”
Eva keluar dari ruangan Antonio dengan membawa kembali berkas yang sudah di tandatangani oleh Antonio. Antonio menyandarkan kepala di kursi sambil menghela nafas.
”Kemana Dawiyah? Sudah beberapa hari ini dia tidak datang menemui ku, handphonenya juga tidak aktif.” gumamnya.
Trrtrtrrt
Antonio memicing melihat ke layar handphone, ”Vian? Mengapa dia menghubungi ku?” gumamnya lagi.
”Halo, ada apa?” Antonio mengangkat telfonnya.
”Antonio, aku sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu. Namanya adalah Syakila, dia adalah adik dari Anton, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Halim.” ucap Vian dengan santai.
”Lalu, mengapa dia datang berziarah ke makam Halim? Aku juga mendengar kabar dari anak buah mu jika gadis kecilmu itu tinggal di kediaman Albert. Apa hubungannya Syakila dengan keluarga Albert?”
”Untuk itu, aku belum mendapatkan informasi nya dengan pasti. Praduga ku adalah, Syakila tinggal di sana untuk bekerja. Aku mendengar kabar bahwa para pekerja di kediaman Albert telah berkurang, terutama wanita. Dan untuk berziarah ke makam Halim, praduga ku adalah ia hanya menemani Anton dan Denis mengunjungi makam Halim, mungkin hanya suatu kebetulan saja. Tapi, aku pasti akan mendapatkan informasi yang tepat dari Syakila sendiri.”
”Maksudmu?”
”Aku akan mendekati Syakila secara pribadi. Kamu tahu, aku tertarik dengan gadis kecil ini. Yah, meskipun statusnya adalah wanita yang sudah menikah, tapi, dalam penyelidikan ku, ia dan suaminya tidak berhubungan dengan baik dari awal.”
”Ck, aku penasaran dengan selera mu itu seperti apa! Jika dia benar-benar tidak ada kaitannya dengan Halim, kamu bebas memilikinya. Tapi, jika dia berkaitan dengan Halim, maka buang jauh-jauh pikiran mu untuk memiliki gadis kecil itu!”
”Tidak perlu kamu mengingat kan ku tentang itu, apalagi aku ini adalah paman mu. Aku yakin, dia tidak ada kaitannya dengan Halim. Jika dalam penyelidikan ku, tertulis dia anak kemenakan dari Anton, aku masih curiga mungkin dia anak dari Halim. Tapi, dalam penyelidikan ku, Syakila adalah adik dari Anton.”
”Semoga saja seperti itu. Justru karena kamu adalah adik dari papaku, aku mengingat kan mu lagi, kakakmu Kevin, ayahku mati di bunuh oleh Halim. Jadi, jangan sampai kamu terperdaya oleh cinta.”
”Hum, aku tutup telfonnya sekarang.” sahut vian. Ia tampak tidak senang dengan ucapan Antonio.
”Hum,”
Tut tut tut telfon terputus. Antonio meletakkan handphone di atas meja, ia tampak berfikir.
__ADS_1
Seperti apa sebenarnya sosok Syakila ini? Dia adik dari Anton, tinggal di kediaman Albert. Bagaimana mungkin Anton membiarkan adiknya tinggal dan bekerja di kediaman Albert? Sedangkan Anton sendiri punya kemampuan untuk menghidupi adiknya. Syakila, kamu sudah berhasil menarik perhatian ku untuk memperhatikan kamu.
Antonio beranjak berdiri dari kursi kebesarannya. Ia keluar dari ruangan. Ia mendatangi ruangan sekretarisnya.
”Eva, aku pergi makan siang dulu. Jika sudah waktunya untuk bertemu klien, hubungi aku dua puluh lima menit sebelum jam bertemunya.” ucapnya.
”Baik, Tuan.” sahut Eva.
Antonio meninggalkan ruangan Eva tanpa berpamitan lagi padanya. Ia keluar meninggalkan perusahaan, ia pergi ke sebuah restoran yang menjadi langganannya untuk pergi mengisi perutnya yang lapar.
.. ..
Di kota A. Di SD negeri 1.
”Syukurlah, hari ini semua berjalan dengan lancar. Aku sudah mendapatkan izin untuk pergi ke kota S selama dua Minggu dari pihak sekolah.” gumam Syakila sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
”Eh, tunggu! Kok bisa pihak sekolah memberikan ku izin untuk dua Minggu? Padahal seingat ku dalam peraturan sekolah, guru honorer tidak mendapatkan izin keluar sebelum satu bulan mengajar. Kalaupun di izinkan, pihak sekolah akan memberi izin selama dua atau tiga hari saja, paling tidak, batas seminggu. Tapi, ini aku di izinkan selama dua Minggu, bukan kah itu tidak sesuai dengan peraturan sekolah? Ah, ini..aku..kenapa baru aku kepikiran sekarang, yah? Ah, sudahlah! Yang penting aku sudah dapat izin.” gumamnya lagi.
”Hai, Asya! Sedari tadi aku mendengar kamu bergumam sendirian terus, gumam kan apa sih?” ucap Jurina.
”Eh, Rina! Bukan, bukan apa-apa! Oh iya, Rin, sore ini aku akan berangkat ke kota S, aku di berikan izin dari pihak sekolah selama dua Minggu di sana.”
”Hah! Kamu baru masuk kemarin dan sudah di izinkan dari sekolah untuk izin selama dua Minggu?” ucap Jurina dengan terkejut.
”Iya, kenapa? Kamu merasa janggal?”
Jurina mengangguk.
”Aku juga merasa begitu, Rina. Aku merasa janggal dengan pemberian izin ini. Tapi, ya sudahlah, toh yang penting aku mendapatkan izin. Jadi, aku akan manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bertemu dengan keluarga ku di sana.”
”Kamu orang yang beruntung, Syakila. Dulu, pernah juga ada guru honorer yang baru masuk mengalami hal yang sama seperti mu sekarang ini. Dia meminta izin untuk pergi ke kota asalnya untuk mengunjungi saudaranya yang sakit, kamu tahu Asya, pihak sekolah tidak mengizinkan! Tapi, guru honorer itu nekat untuk pergi. Setelah dua hari kemudian, ia datang kembali ke sekolah untuk mengajar, eh tau-taunya hari itu adalah hari terakhirnya ia mengajar di sekolah ini. Kamu tahu, gaji pun tidak ia dapatkan, padahal ia sudah mengajar di sekolah ini selama dua Minggu. Jujur, aku kasian sama guru itu.” ungkap Jurina.
”Hah, apakah benar ada hal seperti itu?” tanya Syakila tidak percaya.
Jurina kembali mengangguk.
”Berarti aku orang yang beruntung! Oh iya, Rin, aku pulang duluan, yah.” ucapnya lagi berpamitan.
”Iya, hati-hati di jalan! Dan ingat, jika kamu kembali nanti, belikan aku oleh-oleh dari kota S tersebut.”
”Oh, ok,” sahut Syakila sambil berdiri dari duduknya. ”Aku pergi!”
”Mang Obi belum datang menjemput ku, mana nomornya tidak ada lagi padaku. Geo sangat pelit sekali untuk memberikan ku nomor supirnya. Mau hubungi Dian, tapi dia pasti belum pulang dari sekolah. Aku pulang naik bis saja deh.”
Syakila berjalan sendirian ke arah halte bis. Tanpa ia sadari, ia di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Ia masuk ke gang kecil untuk cepat sampai di tempat halte bis, karena gang itu adalah gang tembusan tercepat untuk tiba di sana.
Salah satu pria mempercepat jalannya hingga melewati langkah Syakila. Pria tersebut menghadang langkah Syakila dari arah depan. Langkah Syakila terhenti. Ia memandang pria yang berdiri di depannya itu dengan memicing, ia juga menoleh ke belakang mendengar langkah beberapa kaki berhenti di belakangnya. Syakila kembali melihat pria di depannya.
”Siapa kamu? Apa mau mu?” tanyanya.
”Maaf, Nona. Anda tidak perlu tahu siapa kami! Sebaiknya, Nona ikuti kami dengan baik tanpa ada perlawanan, Tuan kami ingin bertemu dengan Anda.” sahut pria tersebut dengan sopan.
”Apa! Aku, ikuti kalian? Maaf, aku tidak ada waktu! Jangan halangi jalan ku! Aku harus pulang ke rumah sekarang, awas!” ucap Syakila dengan ketus. Ia lanjut melangkah.
Pria tersebut merentangkan tangan menahan langkah Syakila. Langkah Syakila kembali terhenti, ia memandang tangan yang menghadangnya lalu ia menatap tajam pemilik tangan tersebut.
”Sebaiknya, Nona menurut agar kami tidak berbuat kasar kepada Nona. Mari Nona ikuti kami!”
”Ikut kalian? Jangan mimpi aku akan ikut kalian!” ucap Syakila dengan lantang.
”Nona, jangan paksa kami untuk menyeret Nona mengikuti kami!”
”Oh, kalau begitu, cobalah kalian menyentuh tangan ku untuk menyeret ku!” tantang Syakila.
Pria tersebut menertawakan Syakila. Ia memegang tangan Syakila, namun, dengan cepat Syakila menghindari tangan pria tersebut dan Syakila berbalik menarik tangan pria itu dan memukul lengan orang tersebut dengan keras.
”Sudah ku bilang, jangan menggangguku!” ucap Syakila dengan ketus sambil berjalan melewati pria tersebut.
Pria tersebut melihat teman-temannya.
”Mengapa kalian hanya diam saja? Cepat, tangkap dia, dan bawa dia ke dalam mobil. Jangan biarkan Tuan menunggu kita lama!” ucapnya memerintah.
”Baik,”
Mereka maju bersamaan menghadang langkah Syakila. Syakila menghantam seorang pria lagi tepat meninju perut dan mukanya dengan kuat. Syakila kembali melancarkan serangannya dengan menendang pria yang ada di belakangnya dengan kuat, hingga pria tersebut tersungkur di tanah.
__ADS_1
”Kamu! Pergi beritahu pada Tuan mu, jika ingin bertemu dengan ku, maka datangi aku sendirian dengan sopan, bukan aku yang harus datangi dia. Apalagi dengan cara kasar sepeti ini!” ucapnya dengan marah dan pandangan tajam pada pria yang belum di sentuhnya itu.
”Ba...baik.” sahut pria tersebut dengan gugup dan ketakutan. Ia berlari menjauhi Syakila, ia pergi menemui Tuan nya.
Syakila melihat pria-pria yang terduduk lemas di tanah sambil menahan rasa sakit akibat pukulan dan tendangan keras darinya
”Lain kali, jika kalian masih berani mengganggu ku, aku tidak akan mengampuni nyawa kalian!” ucapnya sambil berlalu dari gang kecil tersebut.
Ia tiba dengan tepat waktu di halte bis. Ia naik ke dalam bis dan duduk di belakang kemudi. Ia menonaktifkan handphonenya dan memejamkan mata sambil bersandar pada dinding mobil.
Siapa Tuan dari pria-pria tadi? Ada perlu apa dia mencari ku? Beruntung Dian memberitahu ku dengan detai jalan pulang jika menggunakan bis. Jika tidak, sudah pasti aku akan tersesat.
”Stop disini.” ucap Syakila.
Bis tersebut berhenti. Syakila segera turun dari bis setelah ia membayar ongkosnya. Ia kembali berjalan kaki menyusuri jalan hingga sampai ke kediaman Albert.
”Akhirnya sampai juga di rumah.”
Syakila beristirahat sebentar di depan pintu gerbang. Ia menyandarkan punggungnya di sana sambil memejamkan mata. Syakila membuka matanya perlahan mendengar suara mobil berhenti di depannya. Mang Obi turun dari mobil, ia melihat Syakila.
Nyonya, Anda sudah membuat Tuan marah-marah. Anda tahu, Nona, aku yang paling di marahi oleh Tuan, karena tidak becus bekerja. Padahal, Nyonya sendiri yang membuat ulah. Berhentilah membuat ulah lagi Nyonya, jika tidak Nyonya maupun aku, tidak bisa menanggung konsekuensi dari amarahnya Tuan.
”Mang Obi, apa Mang Obi dari sekolah menjemput ku?” tanya Syakila.
”Iya, Nyonya. Tapi, Nyonya tidak ada di sekolah. Saya tel__”
”Mang Obi!” teriak Geo dengan keras dari dalam mobil memangkas ucapan Mang Obi. Mang Obi dan Syakila sama-sama terkejut. Mang Obi mendekati Geo dan membantunya turun dari mobil.
Apa Geo juga ikut menjemput ku di sekolah?
Syakila bertanya dalam benaknya. Ia melihat raut wajah yang tidak bersahabat dari Geo.
Apa dia sedang marah? Marah kenapa?
”Mang Obi, biar aku saja yang mendorong kursi rodanya.” ucap Syakila dengan tenang.
Mang Obi menurut. Ia mundur, dan membiarkan Syakila mengambil alih mendorong kursi roda Geo. Geo membiarkan Syakila mendorong kursi rodanya, tatapannya tajam di sepanjang jalan masuk dari gerbang hingga ke dalam rumah. Amarah masih terlihat jelas di raut wajahnya.
Syakila melepaskan tangannya dari kursi roda Geo. Ia mendudukkan dirinya di kursi sofa, ia melepas sepatu pantofel dari kakinya. Syakila memijat telapak kaki dan betisnya dengan pelan. Geo semakin marah melihat betis dan telapak kaki Syakila berwarna kemerahan.
”Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku, Syakila?” tanyanya dengan dingin.
Tangan Syakila berhenti memijat, ia melihat Geo. Tatapan matanya begitu tajam, raut wajahnya terlihat murka dan marah. Syakila menelan salivanya dengan kasar, ia jadi takut melihat Geo.
”Em, apa yang harus ku jelaskan padamu? Sepertinya tidak ada yang harus ku jelaskan!” sahutnya.
Geo memicing melihat Syakila. Syakila semakin menciut ketakutan.
Aura marahnya sangat dingin. Aku merinding di buatnya. Tatapannya begitu tajam, andaikan itu pedang, sudah ku pastikan aku tewas dalam satu kali tikaman saja.
”Em, Aku tidak melihat Mang Obi di gerbang sekolah, jadi aku pulang naik bis agar aku cepat pulang ke rumah. Itu salah mu juga karena tidak memberiku nomor telfon Mang Obi. Coba kalau kamu memberikan nomornya padaku, aku tidak perlu naik bis kan untuk pulang.” ungkapnya.
”Jadi, kamu menyalahkan ku?”
Syakila terdiam.
”Kamu tahu, aku sangat khawatir saat Mang Obi melaporkan padaku dia tidak menemukan mu di sekolah! Ia juga tidak menemukan mu di jalan sekitar sekolah. Aku dan Mang Obi menyusuri jalan mencari mu, tapi kami tidak menemukan mu, handphone mu juga tidak aktif. Apa aku sudah terlalu baik padamu sampai kamu bisa berpikiran untuk berani membantah ku, Syakila?!”
”Ti..tidak, bu..bukan begitu. Maaf, aku tidak menyalah kan mu. A..aku yang salah, aku tidak menunggu Mang Obi saat pulang. Maaf kan aku, aku..aku tidak berpikir untuk membantah mu ataupun melawan mu. Sungguh!”
”Kamu...!”
”Sudah Geo, jangan memarahi Syakila lagi, dia sudah akui salahnya. Dia juga sudah kembali di rumah dengan selamat.” ucap Rosalina memangkas ucapan Geo sambil berjalan ke arah Syakila. Ia duduk di samping Syakila.
”Lain kali, kamu jangan ulangi seperti ini, Syakila. Betapa khawatirnya Mama dan Geo mendengar ucapan Mang Obi tentang mu. Mengapa handphone mu tidak aktif.” ucap Rosalina pelan pada Syakila.
”Maaf, Mah. Syakila menonaktifkan handphone saat naik bis tadi. Syakila tidak sengaja membuat Mama dan Geo khawatir. Maaf, lain kali Syakila tidak akan mengulanginya lagi.”
”Lain kali! Kamu masih ingin kejadian ini terulang, Syakila!?” sahut Geo dengan marah.
”Bu..bukan begitu...”
”Sudah, sudah, tidak usah bahas ini lagi. Syakila, kamu istirahat lah sebentar, setelah itu baru kamu kemas pakaian mu. Kalian akan berangkat jam lima sore ini, bawalah Geo ke atas juga untuk istrahat.” ucap Rosalina menengahi.
”Iya, Mah.” sahut Syakila.
__ADS_1
Syakila menurut, ia memakai kembali sepatu pantofel nya dan mendorong kursi roda Geo pergi ke kamar. Rosalina memandang senang melihat punggung kedua anaknya itu.
Kekhawatiran Geo pada Syakila sangat berlebihan, tidak sama dengan rasa khawatirnya saat ia khawatir pada mantan kekasihnya itu. Geo sangat khawatir seperti orang gila mendengar kabar tentang Syakila, aku tahu anak itu sudah menyukai Syakila, tetapi ia tidak mau mengakui nya. Atau mungkin juga ia belum menyadari perasaannya untuk Syakila.