Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 34


__ADS_3

Sore harinya Syakila berpamitan kepada mama, nenek, dan adiknya untuk kembali ke kampung.


"Mah, Nek, Asya kembali ke kampung dulu, nanti baru kesini lagi." pamit Syakila.


"Ia Nak, hati-hati di jalan!" Sarmi dan nenek menjawab bersamaan. Syakila mengangguk.


Syakila mendekati adik-adiknya yang asyik bermain, semenjak mereka mendapatkan permainan, mereka tidak terlalu merepotkan mama dan neneknya lagi.


"Dik, kakak ke kampung dulu yah, nanti kakak kesini lagi." pamitnya pada adik-adiknya. "Kalian jadilah adik-adik yang baik, dan nurut sama Mama dan Nenek, yah!" Syakila memberi pesan kepada mereka.


"Iya kakak!" sahut mereka dengan kompak.


Syakila tersenyum sambil mengelus kepala mereka secara bergantian. Sarmi dan sang nenek juga tersenyum melihat interaksi adik kakak itu.


Syakila berdiri dan mengambil tasnya, lalu ia mencium punggung tangan mama dan neneknya sebelum ia pergi.


"Oh iya Mah! Asya lupa, Asya belum mengambilkan pakaian kak Fatma, di mana pakaiannya Mah?" Syakila tersadar telah melupakan pakaian kakaknya.


"Sebentar Mama ambilkan, Mama simpan di lemari pakaian Mama." Sarmi menyahuti sambil berjalan ke arah rak pakaian dan mengambil pakaian Fatma.


"Ini, kasihkan kakak mu. Bilang padanya baju ini pemberian papanya." Sarmi menyerahkan baju tersebut kepada Syakila.


Syakila mengambilnya lalu memasukkan ke dalam tasnya. "Iya Mah," sahutnya. "Syakila pergi yah Mah!" Syakila berpamitan kembali.


"Hati-hati di jalan!" Sarmi mengingatkan. Syakila mengangguk, "Iya Mah."


Syakila pulang ke kampung berjalan kaki sendirian. Karena pulang pergi ke kampung dan ke kebun pekerjaan sehari-harinya. Membuat Syakila tidak merasa takut berjalan sendirian lagi. Meskipun antara kampung dan kebun itu melewati hutan dan juga kuburan umum.


Syakila mempercepat jalannya agar ia cepat sampai di kampung, ia tidak ingin kemalaman di jalan. Sesampainya di kampung, Syakila pergi ke rumah bibinya untuk bertemu dengan kakaknya, Fatma.


Kebetulan sekali Syakila melihat kakaknya, Fatma yang sedang menutup kios kecil jualan bibinya. Syakila menghampiri dan menyapa kakaknya.


"Kak, Syakila datang ingin bertemu kakak."


Fatma cuek saja dengan kedatangan adiknya, ia terus saja menutup papan kios kecilnya itu hingga selesai. Setelah itu baru ia menjawab ucapan adiknya.


"Untuk apa mencari kakak sampai kesini?" Fatma bertanya dengan ketus.


Syakila mengeluarkan beberapa lembar baju milik Fatma dari tasnya. "Syakila datang untuk memberikan ini pada kakak." ucap Syakila sambil memberikan baju itu untuk Fatma. Fatma mengambil baju tersebut dan membaca tulisan di bungkusan plastik bening di baju tersebut. "Fatma,"


"Itu baju untuk kakak, oleh-oleh dari papa." Syakila menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, ini saja?" Fatma bertanya dengan enggan. Syakila merasa kedatangannya tidak diinginkan, jadi ia tidak ingin berlama-lama disana.


Yang penting aku sudah mengantar kan bajunya, aku pulang saja ke rumah. Untuk apa juga berlama-lama disini.


batin Syakila.


"Iya kak, ini saja. Kalau begitu Syakila pulang sekarang." ucapnya sambil menyandang kembali tasnya. "Sampaikan salam ku untuk bibi dan om, ya kak!" pesannya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan rumah sang bibi tanpa menunggu sahutan dari Fatma, kakaknya yang super cuek itu.


Waktu sudah masuk Maghrib Syakila baru sampai di rumahnya. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Karena ia sudah makan di kebun sebelum pulang tadi, Syakila tidak memasak lagi untuk makan malamnya.


Ia langsung pergi mandi, membersihkan diri dan berganti pakaian untuk menunaikan sholat Maghrib sendiri di rumah. Selesai shalat, ia membaca surat-surat pendek sambil menunggu waktu Isya datang.


Allahu Akbar... Allahu Akbar


Allahu Akbar.. Allahu Akbar


"Sudah adzan Isya." gumam Syakila.


Syakila segera menghentikan ngajinya, setelah ia mendengar suara adzan berkumandang di masjid. Ia bergegas pergi ke masjid untuk shalat Isya di sana.


"Assalamualaikum warahmatullah" ucap Syakila pelan sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mengakhiri shalatnya. Bersamaan dengan para jamaah lain yang hadir menunaikan shalat, dan di pimpin oleh seorang imam mereka mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.


.. ..


Halim baru saja selesai mengerjakan shalat Isya nya di masjid. Ia keluar bersamaan dengan Denis. Yah, untuk pertama kalinya Denis mengikuti Halim shalat di masjid, biasanya ia shalat sendirian di rumah. Mereka pulang berjalan kaki sambil bercerita.


"Bang, malam Minggu depan temani Denis bertemu dengan Samnia lagi ya, Bang!" pinta Denis.


"Tidak, pergilah sendiri saja! Kenapa Abang harus menemani mu? Kamu ingin Abang jadi penonton yang menonton kalian berduaan, begitu? Abang tidak mau!" tolak Halim.


"Bang, jangan gitu dong! Abang gak kasian apa dengan Denis?" ucap Denis memelas melirik Halim.


"Nggak!" dengan cepat Halim menjawab. "Sudahlah! Malam Minggu juga masih lama." lanjutnya berkata ketika melihat perubahan raut di wajah Denis. Halim merangkul pundak Denis. "Abang tidak janji untuk menemani mu ke sana nanti, tapi Abang kasih pesan saja ke kamu. Sebagai cowok, kamu harus menghargai perasaan pasangan mu. Jangan sakiti dia dengan sikap yang kasar, maupun dengan lisan yang tajam."


"Huh, pesannya Abang ini, seperti memberi nasehat saja kepada pengantin yang akan menikah. Denis belum ingin menikah, Bang!" keluh Denis.


"Kalau belum ingin menikah, jangan dulu berpacaran! Kalau Samnia langsung minta menikah saja, bagaimana tanggapan mu? Kamu akan bilang padanya kalau kamu belum siap untuk menikah? Begitu? Maka siap-siaplah kamu kembali menjomblo! Wanita itu butuh kepastian dalam suatu hubungan!" Halim memberi pengertian kepada Denis. "Lagian lihatlah usiamu, sudah sepantasnya kamu untuk menikah." lanjutnya lagi berucap memberi nasehat.


Betul juga ucapan Abang Halim, usiaku bukan usia muda lagi. Mama dan papa juga sering mengatakan dan menyuruh aku harus segera menikah. Apa sudah saatnya aku serius dalam menjalani kisah asmara ku? Tapi aku masih ragu.


batin Denis.

__ADS_1


"Kalau dari ceweknya yang gak mau nikah gimana Bang?" tanya Denis.


"Tanya dia apa alasannya, mengapa menolak untuk menikah? Kalau alasannya masuk di akal, kamu boleh memikirkan lagi langkah selanjutnya. Jika alasannya tidak masuk akal, putus kan saja cari yang lain, yang serius untuk hidup berdampingan susah maupun senang dengan mu." Halim kembali menasehati Denis.


"Iya Bang!" sahut Denis tanpa ingin membantah atau menyangga ucapan Halim lagi.


"Apa sebelumnya kamu pernah di tolak sama cewek saat kamu memintanya untuk menikah?" Halim bertanya penasaran.


Denis terdiam. Ia menghela nafas panjang. "Sebenarnya, iya Bang. Denis pernah di tolak, bukan sekali tapi berkali-kali. Makanya_"


"Kamu tidak mau menikah dan menjalani hubungan dengan serius? Begitu, hum?" ucap Halim memotong ucapan Denis


"Iya Bang! Padahal Denis sangat serius dan mencintainya. Tapi dia mempermainkan Denis." sahut Denis dengan sedih.


"Seharusnya itu kamu jadikan alasan yang kuat untuk mendorong dirimu segera mencari wanita lain yang serius berhubungan dengan mu sampai menikah, supaya kamu bisa buktikan kepada dia wanita bukan hanya dia saja. Bukan malah kamu terpuruk begini dalam suatu hubungan, dia akan menertawakan mu sebagai seorang pria yang lemah." Halim kembali memberi nasehat.


"Hum, iya Bang. Makanya, Abang bantuin Denis." sahut Denis dengan sedih.


Halim menghembuskan nafas kasarnya. "Hum," jawabnya singkat. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua. Hening sekarang yang mendominasi mereka.


Tak terasa kini mereka telah sampai di rumah. Mereka segera masuk ke dalam. Seperti biasa mereka di sambut di meja makan oleh karyawan Anton. Dan menyuruh mereka untuk bergabung makan.


"Bang Halim, Denis, ayok mari kita makan bersama." ajak salah satu karyawan Anton.


"Hum, terima kasih." sahut Halim sambil menarik bangku keluar sedikit dari meja makan, lalu ia duduk. Begitu juga dengan Denis. Mereka makan dalam diam, hanya suara gesekan sendok yang terdengar di telinga mereka.


Di dalam rumah Anton, ia menyediakan seorang pekerja wanita untuk mengurus rumah dan dapur. Jadi untuk kebutuhan makanan mereka semua terjamin.


Setelah selesai makan, Halim dan yang lainnya masuk ke kamarnya masing-masing untuk istrahat.


Halim membaringkan dirinya di ranjang dan menatap langit-langit kamar. Ia sedang memikirkan sesuatu.


"Mulai besok aku akan membangun rumah secara bertahap. Aku akan meminta bantuan Denis dan yang lainya untuk membantuku."


"Berarti aku harus tutup tempo. Besok pagi baru aku akan bicarakan ini sama Denis."


"Gimana kabar anak dan istriku yah? Apa mereka baik-baik saja? Tadi pagi dadaku sempat sesak, dan pikiran ku tertuju pada istriku. Apa yang terjadi padanya?"


"Anton, kapan kamu akan kembali ke sini? Aku gak sabar untuk menanyai keadaan anak dan istriku padamu."


Gumam gumam kecil Halim sebelum akhirnya ia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2