
Sarmi tidak banyak bertanya saat Syakila melangkah masuk ke dalam rumah. Ia membiarkan Syakila yang terus melangkah ke kamar tanpa menegurnya.
Anakku, maafkan Mama sayang, Mama tidak bisa membantu mu.
Syakila membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Ia mengingat semua kenangan yang ia lalui bersama Sardin, kenangan yang terukir dari masa kecil, hingga mereka merajut cinta kasih.
”Bagaimana denganmu, Kila? Apa kamu bahagia dengan semua ini?”
”Bagaimana Kila akan bahagia, kak? Jika bukan kakak yang bersanding dengan Kila.”
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
”Kakak yang memasang kalung itu, kakak juga yang berhak melepasnya. Kamu yang gak berhak disini, Kila!”
"Kakak benar, hanya kakak yang berhak melepas kalung ini dari leher Syakila. Tapi Syakila tidak terima itu kak. Biarlah kalung ini menjadi kenangan manis untukku.”
”Hati kakak, nama kakak, cinta kakak, akan ku simpan rapi di sudut hatiku, tidak akan ada yang bisa mengusik kakak dari hatiku. Aku sangat mencintai kakak.”
”Seandainya saja, Kila tahu yang mereka minta hal ini, Kila tidak akan membuat janji sama papa. Papa, apa papa pernah menduga ini semua, Pa?”
Syakila terus bergumam dalam kesendirian, tangan kanan tidak ia lepaskan dari memegang kalung yang bertengger di lehernya.
.. ..
Di sisi lain.
Hembusan angin malam yang bertiup kencang, menembus permukaan kulit, menusuk membuat rasa dingin hinggap di tubuh setiap insan di bumi. Hingga mereka menghangatkan diri dengan memakai syal, jaket, juga menghangatkan diri dengan membuat api unggun.
Tapi semua itu tidak berlaku bagi seorang pemuda yang sedang berdiri bersandar pada dinding balkon rumahnya. Ia tidak merasakan hawa dingin yang menerpa kulitnya, meskipun dingin telah merambat di sekujur tubuh.
Rasa dingin telah menyatu dengan hatinya yang telah membeku di saat kisah asmaranya pupus dengan wanita yang di cintainya.
”Syakila, jika kamu tahu betapa hancurnya hati dan perasaan ku, Kila.”
”Tidak Kila, aku tidak akan membiarkan mu menikah dengan orang lain, apalagi tanpa cinta, dan lagi hanya sebagai pelunas hutang. Tidak akan ku biarkan Kila, aku akan memperjuangkan mu.”
Gumaman Sardin terdengar oleh ibunya, Nesa yang sedang berdiri di bibir pintu tanpa sepengetahuan dari Sardin. Nesa ikut merasa terpukul dengan situasi yang di alami oleh putranya tersebut.
Selama ini, Sardin tidak pernah di pusingkan masalah wanita, apalagi tentang cinta. Tetapi setelah ia bertemu dan merajut cinta kasih bersama gadis yang bernama Syakila, gadis itu berhasil mengobrak-abrik perasaannya.
Nesa meninggalkan tempat berdirinya dan pergi ke kamar menemui Alimin, suaminya. Ia beranjak dari sana dengan mata yang berkaca-kaca hingga ia masuk ke dalam kamar. Nesa duduk di bibir ranjang.
”Ada apa Mah? Mengapa wajahnya di tekuk begitu?”
”Sardin, Pa. Mama kasihan melihat dia yang seperti ini, Pa.” sahut Nesa dengan sedih.
”Mau bagaimana lagi Mah, ini sudah jalan jodoh mereka. Kita semua tahu, Syakila tidak cukup bersalah dalam hal ini. Jika pun seandainya anak gadis kita dalam posisi seperti itu, ia akan mengambil langkah yang sama seperti Syakila. Lambat laun, Sardin bisa melupakan cintanya untuk Kila. Berdoa saja yang terbaik untuk anak-anak kita, Mah.”
”Iya Pa,”
”Sebaiknya kita tidur, malam sudah semakin larut. Tidak usah memikirkan anakmu, dia sudah besar, dia sudah tahu mana yang baik dan buruk. Mana langkah yang harus di ambil dan tidak, kita hanya terus mendukungnya. Tapi, jika dia mengambil langkah yang salah, baru kita boleh ikut campur untuk mengingatkannya, agar ia tidak salah jalan.”
”Iya Pa,”
Alimin membaringkan tubuhnya di ranjang, Nesa ikut berbaring di sampingnya. Ia memeluk tubuh suaminya dan memejamkan mata.
Ya Allah berilah pendamping yang baik untuk anakku Sardin. Berilah ia kebahagiaan, kebahagiaan dunia dan akhirat.
.. ..
Keesokan paginya, di kediaman Geo.
”Beni, apa kamu sudah mempersiapkan segalanya?” tanya Rosalina.
”Sudah Tante.” jawab Beni, ”Tante, apa ini tidak terlalu terburu-buru?”
”Tidak Beni, kita harus segera kembali ke kota A. Jadi, hari ini juga Geo dan Syakila harus menikah.”
”Tapi Tante__”
”Tidak ada tapi tapi Beni, banyak yang harus kita urus di kota A, Tante juga harus ke pusat ada yang Tante urus. Kita tidak punya banyak waktu disini. Bangunkan Geo, siapkan dia, setelah itu kita ke KUA, dan pergi ke rumahnya Sarmi.” titah Rosalina.
Rosalina beranjak berdiri dan keluar dari kamar Geo tanpa mendengar sahutan Beni. Ia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
__ADS_1
Maafkan Tante Syakila jika Tante egois. Tante tidak punya pilihan lain. Tante akan mengikatmu dengan pernikahan untuk menyembuhkan anakku.
Rosalina sekarang telah bersiap. Ia menunggu Geo dan Beni di ruang keluarga. Tidak lama dari menunggu, Beni datang dengan mendorong kursi roda Geo. Geo tampak gagah hari ini
”Sudah siap Nak?”
”Sudah Mama. Mah, Geo tidak ingin akad nikahku terekspos media. Dan Geo tidak ingin ada resepsi. Cukup ijab kabul saja.”
”Iya sayang, kita berangkat sekarang.”
Beni, Rosalina, Geo, berangkat dengan menggunakan satu mobil. Mereka pergi ke KUA, selain menjemput wali hakim untuk menikahkan Geo dan Syakila, mereka juga mengambil surat nikah yang sudah di siapkan.
Dari KUA, mereka berangkat menuju rumah Sarmi. Sarmi menyambut mereka dengan bingung. Karena kedatangan mereka kali ini dengan berpakaian rapi, dan juga membawa seseorang yang Sarmi kenal. Karena anaknya, Fatma di nikahkan olehnya.
Apa maksudnya ibu Rosalina datang membawa wali hakim? Dia tidak mungkin kan menikahkan anaknya dan anakku sekarang?
”Ibu Rosalina, A-anda sudah datang? Ma-mari silahkan duduk.”
Rosalina melenggang masuk mendorong kursi roda Geo, Beni, dan wali hakim juga ikut masuk dan mereka mengambil posisi duduk masing-masing.
Rosalina membangun kan Syakila, memberitahunya jika Rosalina telah datang, ia juga menyuruh Fatma membuat teh untuk tamu, dan menyuruh Yuli untuk memanggil kan ayah Johan dan ibu Biah datang ke rumah.
Yuli segera pergi ke rumah Johan lewat pintu samping. Fatma segera membuat teh di cerek yang besar dan menyediakan beberapa buah gelas di atas nampan, tidak lupa beberapa jenis kue. Sarmi masih membangunkan Syakila yang terlihat malas untuk bangun.
”Sayang, bangunlah sayang. Pergilah mandi, tidak baik jika kamu tidak menyambut kedatangan Rosalina.”
”Mah, Syakila sangat mengantuk sekali. Syakila masih ingin tidur. Bilang saja pada mereka jika Asya tidak ada di rumah. Bilang saja pada mereka, hari ini jadwal Asya mengajar, kuliah, dan latihan karate. Syakila belum ingin melihat mereka Mah.”
”Sayang, kamu menyuruh Mama mu untuk berbohong? Asya, jangan membuat Mama malu. Ayo bangun dan mandilah lalu pergi ke depan temui Rosalina dan calon tunangan mu.”
”Hum, kalau saja itu Sardin yang datang, Syakila sangat bersemangat Mah.” Sarmi memandang Syakila marah. ”Iya Mah iya, Asya bangun dan mandi sekarang.”
Sarmi keluar dari kamar Syakila setelah melihat anaknya itu masuk ke kamar mandi. Ia pergi ke depan, Sarmi sedikit merasa lega saat ia melihat Johan dan Biah sudah datang di rumahnya.
Dan mereka sedang menyantap kue yang di sajikan bersama teh hangat. Sarmi duduk di samping kakak iparnya. Suasana terasa hening, mereka nampak menikmati minuman dan kue yang di suguhkan di hadapannya, sambil menunggu Syakila.
Disisi lain, Sardin terlihat tidak fokus pada kerjaannya. Di matanya, pikirannya, wajah Syakila terus berbayang. Ia merasa seperti akan kehilangan wanita itu. Ia menutup berkas yang ada di hadapannya dan pergi meninggalkan kantor, ia pergi untuk menemui Syakila.
Syakila telah selesai mandi, ia menggunakan baju santai blus setelan St love berwarna hitam dengan bahan baby Terry Kombi kotak katun. Memancarkan kulit putih mulusnya. Rambut panjangnya tersisir rapi dengan belahan samping kiri. Syakila tampak cantik berbinar dengan mata coklat terangnya. Tanpa menggunakan polesan bedak maupun sentuhan lipstik di bibirnya, Syakila sudah cantik alami.
”Ehm, karena Syakila sudah berada disini, langsung saja saya bicarakan maksud kedatangan kami.” Rosalina berucap mengawali pembahasan. Ia menjeda ucapannya, ia melihat tatapan serius dari pihak keluarga Syakila. Terkecuali Syakila, ia tetap dengan wajah murung dan menunduk.
”Karena saya tidak punya banyak waktu di kota ini, maka saya ingin Geo dan Syakila menikah sekarang juga.” Rosalina kembali menjeda ucapannya. Ia menunggu reaksi dari keluarga Syakila.
Syakila yang menunduk dari tadi, mendongak melihat tidak percaya pada Rosalina. Geo tersenyum senang dalam hatinya melihat pandangan Syakila yang tajam dan marah. Sarmi, Johan, dan Biah juga memandang tidak percaya pada Rosalina.
”Apa ini tidak terlalu cepat? Biarkanlah anak-anak bertunangan dulu untuk saling mengenal satu sama lain.” Sarmi berkomentar.
”Iya Rosalina, berikan waktu untuk mereka saling mengenal.” ucap Johan.
”Maaf Sarmi, Johan, saya sudah mempersiapkan semuanya. Mereka tinggal melaksanakan ijab kabul. Dan hanya ijab kabul saja tanpa ada resepsi pernikahan, dan hanya orang di dalam rumah yang tahu pernikahan ini, tidak di perbolehkan orang luar tahu.” jelas Rosalina.
”Apa?!” Sarmi, Johan, dan Biah terperanjat kaget.
Hati Sarmi sedih seketika, pernikahan seperti apa ini? Sarmi melihat Syakila yang terus memandangi Rosalina tanpa kedip. Sarmi bisa melihat mata Syakila yang berkaca-kaca. Johan dan Biah pun merasakan hal yang sama.
”Sarmi, adakah baju yang bagus yang bisa di kenakan Syakila untuk proses ijab kabul dan foto untuk disimpan di buku nikah ini?”
”A-ada,” jawab Sarmi. Sarmi beranjak berdiri. Syakila menahan tangan mamanya.
”Tidak Mah, Syakila tidak perlu mengganti baju. Jika mau berfoto, foto lah sekarang, jika ingin menikah, menikahlah sekarang. Bukankah kalian tidak punya waktu banyak sekarang? Maka jangan membuang-buang waktu lagi.”
Geo menggertakkan kedua rahangnya mendengar ucapan Syakila. Geo mendorong kursi rodanya hingga di depan Syakila. Ia menarik tangan Syakila hingga Syakila berdiri.
Sarmi, Johan, dan Biah semakin terkejut melihat sifat Geo yang kasar. Fatma menangis membayangkan bagaimana nanti kehidupan yang di jalani Syakila kedepannya.
”Pa wali hakim, foto kami berdua sekarang! Setelah itu nikah kan kami.” ucap Geo dengan pandangan marah melihat Syakila.
Sarmi menangis memeluk tubuh Biah, Biah sendiri berkaca-kaca.
”Bisakah kamu bersikap lembut sama anakku? Jangan berlaku kasar padanya.” ucap Johan.
”Semua tergantung sikap dan sifatnya sendiri, Om. Eh salah, papa mertua.” sahut Geo dengan pandangan tajam memandang Johan. ”Wali hakim, cepat foto kami sekarang, dan segera laksanakan ijab kabul.”
__ADS_1
Wali hakim segera memfoto mereka dengan mengambil setengah badan mereka. Tidak sedikit pun wajah Syakila yang memancarkan senyuman di bibir. Setelah itu pak wali menikahkan mereka.
”Apa ada selendang putih? Ijab kabul akan kita laksanakan sekarang.”
”Langsung saja nikahkan kami tanpa selendang putih Pak wali, pernikahan ini juga bukan pernikahan sakral.” ucap Syakila.
Membuat Geo naik pitam. Ia menatap tajam Syakila.
”Bukan pernikahan sakral katamu? Baik, aku ikut kan ucapan mu.” Geo melihat wali hakim. ”Nikah kan kami tanpa selendang, lagi pula apa artinya selendang, selendang bukan yang mensahkan pengantin, tapi ijab kabulnya.”
Geo meletakkan cincin emas yang sudah di belinya untuk mahar di atas meja. Wali hakim segera menikahkan mereka tanpa memakai selendang. Syakila menahan air matanya agar tidak tumpah. Sarmi dan Fatma semakin menangis.
Pak wali berjabat tangan dengan Geovani. ”Saya nikahkan dan kawinkan engkau Geovani Albert bin Albert dengan anak kami bernama Syakila binti Halim dengan mas kawin sebuah cincin emas dengan berat 5 gram di bayar tunai.” wali mengucapkan ijabnya.
”Saya terima nikah dan kawinnya Syakila binti Halim dengan mas kawin tersebut, tunai.” Geo mengucapkan kabul nya.
”Bagaimana saksi?”
”Sah,” Beni dan Rosalina yang menyahut. Sementara dari pihak Syakila tidak ada yang menyahuti. Pak wali menyerahkan surat nikah untuk di tandatangani oleh Geo dan Syakila.
”Syakila,” Sardin datang bertepatan dengan Geo menandatangani surat nikahnya.
Syakila melihat Sardin, air matanya jatuh saat itu juga. Sardin melihat situasi di rumah itu. Ia melihat Geo dan Syakila yang duduk berhadapan dengan wali hakim dan Geo sementara tanda tangan di buku kecil di hadapannya.
Tubuh Sardin melemah, ia mundur selangkah dan terduduk sambil memandang Syakila.
Geo tersenyum licik melihat sepasang kekasih yang sudah terpisahkan itu. ”Sayang, aku sudah tandatangani surat nikahku, sekarang giliran mu, sayang. Ayo tandatangani surat nikah mu.”
Syakila tidak mendengarkan Geo, ia berdiri, Geo menahan tangannya.
”Mau kemana? Tanda tangani surat nikah mu.” titah Geo.
Namun Syakila mengabaikan ucapan Geo. Ia melepaskan tangannya dengan kasar. Ia menghampiri Sardin.
”Mengapa kakak datang kesini?” tanya Syakila dengan menatap sedih pada Sardin.
”Kakak datang untuk mempertahankan mu, Kila. Tapi, sepertinya kakak sudah terlambat. Hubungan kita benar-benar sudah berakhir, Kila.”
Syakila memeluk erat tubuh Sardin. Ia menumpahkan kesedihannya di sana.
Cih, pandai sekali membual. Setelah kamu tahu suamimu ini lebih kaya dari mantan mu itu, pasti kamu juga akan berpaling cepat melupakan dia.
batin Geo.
”Maafkan Syakila kakak. Maaf kan Syakila.” Syakila semakin menangis saat tidak mendapat jawaban dari Sardin. Ia bisa merasakan tubuh Sardin yang melemah.
”Kakak, kakak, ada apa dengan kakak? Kak bangun kak.” Syakila terkejut sekaligus panik dan khawatir saat kepala Sardin bersandar di pundaknya.
Johan di bantu Beni menggendong tubuh Sardin yang pingsan ke atas sofa.
"Kakak bangun kakak, jangan buat Kila khawatir kak. Kakak bangun kak. Kila mohon bangun kak hu..hu..hu.., kakak ayo bangun.” Syakila menepuk pipi Sardin pelan dan sesekali menggosok minyak kayu putih di hitung Sardin.
”Sarmi, acara pernikahan sudah selesai. Saya minta maaf sekali, saya harus segera pergi dan kami akan membawa Syakila bersama kami.” ucap Rosalina.
Beni sigap mengambil cincin dan surat nikah milik Geo dan Syakila dan memasukkan ke dalam sakunya, saat mendengar ucapan Rosalina.
”Tidak, Syakila tidak akan pergi sebelum kakak Sardin ku sadar.” tolak Syakila.
”Kamu harus ikut kami sekarang Syakila. Tidak usah membawa pakaian mu. Sampai di sana baru kami akan membelanjakan pakaian mu dan semua kebutuhan mu.” ucap Rosalina.
”Tidak Tante, Tante tidak berhak memaksa Syakila untuk pergi.” ucap Syakila dengan marah.
”Dia sangat berhak Syakila!” Geo berbicara dengan lantang dan tajam memandang Syakila. Membuat Syakila terdiam.
”Pergilah Nak, jangan khawatirkan Sardin, ia akan baik-baik saja.” ucap Sarmi dengan terpaksa.
Dengan terpaksa juga Syakila menurut. ”Mama, Asya mohon, jangan biarkan Sardin pulang dengan menyetir sendiri. Hubungi orang tuanya untuk menjemputnya. Sampaikan maaf ku pada orang tua Sardin, Mah.”
Sarmi mengangguk. Syakila pergi ke kamarnya sebentar, ia mengambil sebuah kalung yang ia belikan untuk ulang tahun Sardin. Ia membelikan kalung dengan mainan liontin yang terukir nama Kila dan Sardin di sana. Dan ia mengambil handphonenya baru ia keluar dari kamar.
Syakila menghampiri Sardin yang belum sadar itu, ia memakaikan kalung itu pada leher Sardin dan ia mencium pipi dan kening Sardin sebelum ia pergi. Geo yang melihat itu terlihat marah.
Mereka pun pergi dari kediaman Sarmi. Syakila pergi meninggalkan rumahnya dengan beribu penyesalan, beribu kesedihan. Sarmi melepaskan putrinya dengan tidak rela, begitu juga dengan Biah dan Johan.
__ADS_1
Air mata tidak terhenti mengalir membasahi wajah Syakila, begitu juga dengan Sarmi, Fatma semua sedang bersedih. Pernikahan yang seharusnya membuat bahagia, meskipun ada tangis tapi itu tangis bahagia.
Tapi pernikahan Syakila yang baru saja di laksanakan adalah pernikahan yang penuh dengan derai air mata. Syakila masuk ke mobil masih dengan menangis. Hingga mereka tiba di bandara dan naik ke jet pribadi Geo, air mata Syakila masih mengalir. Beni dan Rosalina sebenarnya ikut merasa sedih melihat Syakila.