
Di villa Geo, kota S.
Ddorr! Ddorr! Tembakan kembali terdengar menggema di seluruh ruangan villa Geo.
Prang! Terdengar suara kaca pecah setelah bunyi suara tembakan tersebut.
”Tuan, dari tadi kita menembak, tapi, tidak ada tembakan balasan dari dalam. Apakah mereka sudah mati terkena peluru pada tembakan pertama?”
”Itu tidak mungkin! Mereka pasti ada di dalam sedang berwaspada! Jadi, kita harus tetap berhati-hati!” sahut Antonio.
”Tuan, dari arah depan mereka sudah masuk ke dalam villa. Di sana tidak menemukan siapapun! Apakah kita salah menduga? Apakah villa ini kosong?” lapor salah satu anak buah Antonio pada Antonio.
Antonio terdiam, matanya menyipit. ”Hum, tidak mungkin villa ini kosong!” hanya itu tanggapan yang keluar dari mulutnya. Ia melihat Seva, ”Buka pintunya! Kita masuk sekarang!” titahnya.
”Baik!”
Seva menendang pintu, hanya pada tendangan pertama pintu terbuka.
Ini, tidak mungkin kan segampang ini pintunya akan terbuka!? Apakah di dalam sana terdapat jebakan yang tersembunyi?
Ia masuk melangkah kedalam, senjata tetap siaga di tangannya. Yang lain ikut masuk tepat berada di belakang Seva, termasuk Antonio.
Mereka berjalan pelan- pelan dan hati-hati sambil menengok arah kanan dan kiri, memantau apakah ada musuh di depan mereka atau tidak?
”Tidak ada siapapun disini, Tuan!” ucapnya
Antonio terdiam sambil memandang arah sekeliling.
”Apakah mereka telah tahu jika kita akan menyerang mereka malam ini? Dan mereka mempersiapkan perangkap untuk kita, Tuan!” ucapnya lagi, memberi pendapat.
Antonio masih terdiam, membaca situasi, pencahayaan pada jalan yang mereka lewati temaram, tetapi di sisi kiri dan kanan gelap gulita.
Bisa jadi apa yang di pikirkan Seva ada benarnya. Atau apakah villa ini memang kosong? Tapi, selama memantau banyak anak buahnya Geo yang keluar masuk villa.
”Tetap waspada, mungkin saja ada jebakan yang menanti kita di depan sana! Tembak sisi gelap kiri kanan jalan!” ucapnya kemudian.
Ddorr ddorr ddorr!
Ddorr ddorr ddorr!
Mereka menembak sesuai perintah Antonio, menembak sisi gelap yang ada di sekitar mereka. Tidak terdengar jeritan yang merintih kesakitan karena terkena peluru ataupun suara tembakan balasan.
Tidak ada siapapun disni!
”Lanjut jalan! Tetap berhati-hati!” ucap Antonio.
Semua mengangguk mengerti. Mereka terus berjalan ke depan dengan berhati-hati. Samping kiri dan kanan yang gelap memang berdiri Ijan dan anak buahnya, tetapi mereka tidak melihat keberadaan Ijan dan anak buahnya tersebut.
Di saat mereka menembak, mereka dalam posisi tiarap, tanpa suara dan gerakan, setelah mereka mendengar perintah Antonio pada anak buahnya.
Geo tersenyum tipis mendengar ucapan Seva dari layar monitornya.
Benar sekali dugaan mu Seva! Tapi sayangnya, kalian telah masuk ke sarang ku! Tidak akan ku biarkan kalian keluar dengan hidup-hidup dari sarang ku!
Jika saja kalian menembak lantai juga, maka musuh kalian akan berkurang. Kepintaran kalian masih standar jauh di bawah anak buah ku. Mereka gesit dan bertindak cepat, tanpa di perintah lagi.
... ..
Di kota A, kediaman Albert, di kamar Beni.
Ada apa ini? Apa aku harus kesana untuk memastikan sendiri keadaan Geo? Untuk apa Geo memanggil pelindung bayangan? Apa sesuatu telah terjadi padanya?
”Sial! Di saat begini nomor pribadi mereka tidak ada yang aktif! Hubungi Syakila juga percuma, tidak mendapatkan informasi apapun!”
Beni sangat frustasi dan gusar karena memikirkan Geo, saudara tirinya beda mama itu. Di saat Geo menekan tombol biru memanggil pelindung bayangan, sinyal itu juga berbunyi pada telpon selular Beni.
”Tidak mungkin aku akan meninggalkan tante sendirian disni! Argh! Geo! Jika saja kondisi fisik mu seperti sedia kala, aku tidak perlu khawatir padamu seperti ini!”
Ia keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan cepat. Ia berpapasan dengan Rosalina di anak tangga terakhir.
”Beni, apa kamu tahu kemana perginya Geo? Tante menghubungi Syakila menanyakan Geo padanya, tetapi, Geo sedang tidak berada di kediaman Sarmi. Dia pergi bersama Ijan dan beberapa anak buah lainnya. Ia pun tidak memberitahu Syakila kemana ia akan pergi.” ucap Rosalina dengan cemas.
Kening Beni mengerut.
Apa? Apakah sekarang Geo berada di villa? Apa yang sedang terjadi di sana? Siapa yang ku hubungi untuk mendapatkan informasi?
”Tante, mungkin saja Geo punya urusan mendadak menyangkut proyek yang di tanganinya. Tante kan tahu, belum lama ini Geo memiliki proyek di sana. Yah, proyeknya itu dekat dengan villanya, jadi, selama menangani proyek, dia akan tinggal sementara di villa.”
”Tapi, mengapa dia tidak membawa Syakila bersamanya? Siapa yang akan mengurus dia? Ijan? Gun? Apa mereka bisa di andalkan?” ucap Rosalina makin cemas.
”Tante, mereka adalah anak buah yang bisa di andalkan oleh Geo 100%. Mereka akan melayani Geo dengan baik. Tante tidak usah begitu khawatir dengan Geo. Sebaiknya, Tante istrahat lah sekarang, Beni tidak mau di kuliti oleh Geo jika Geo tahu Tante tidak enak badan karena aku tidak menjaga Tante dengan baik.”
__ADS_1
Rosalina tersenyum, ia memukul dada Beni dengan pelan. ”Kamu ini bicara apa? Mana mungkin Geo akan menguliti kamu, Geo begitu menyayangi mu.”
Beni tersenyum, ia tidak memungkiri itu, Geo memang menyayanginya dari kecil sampai dewasa. Geo juga selalu melindungi dan membelanya. Karena itulah, Beni ingin melindungi Geo seperti yang dilakukan Geo padanya.
”Baiklah, sekarang Tante akan pergi istrahat. Kamu juga harus istirahat.” ucap Rosalina lagi.
”Baik, Tante.”
Rosalina menaiki anak tangga pergi ke kamarnya. Beni juga kembali naik ke atas, tetapi, ia pergi ke kamar Geo. Dari kamar Geo, ia bisa mengetahui apa yang terjadi di sana. Yah, di dalam kamar Geo ada satu bilik yang hanya di ketahui oleh Geo dan Beni, kamar itu berisi tentang hal-hal rahasia Geo dan beberapa tekhnologi canggih yang bisa melacak dan mengetahui lokasi seseorang. Juga sebuah komputer yang yang terhubung langsung dengan villa Geo yang ada di kota S.
Ia membuka kata sandi kamar Geo, namun, sandinya selalu salah.
Ah, aku lupa kalau Geo telah mengganti kata sandinya, dan yang tahu kata sandi itu hanya dia dan Syakila saja. Apa aku harus minta kata sandinya pada Syakila?
”Sudahlah, aku yakin, Geo akan baik-baik saja. Ada Ijan, Gun, dan pelindung bayangan yang menjaga dan melindunginya.” gumamnya sebelum ia pergi dari depan pintu kamar Geo.
.. .. ..
Di kota S, kediaman Geo.
Antonio dan anak buahnya yang lainnya yang masuk dari berbagai pintu masuk villa Geo, mereka bertemu di satu ruangan yang begitu luas.
”Apakah di villa ini tidak ada ruangan lain selain ruangan ini? Kamar atau kamar mandi, dapur, apa tidak ada?” Seva dan anak buah yang lainnya saling memandang dan bertanya secara bersamaan, saat mereka berkumpul di satu ruangan setelah mereka masuk dari pintu yang berbeda-beda.
”Cari dengan teliti, pasti ada pintu-pintu rahasia di sekitar sini! Tidak mungkin villa ini tidak ada ruangan lainnya, selain ruangan yang kita injak sekarang!” sahut Antonio.
Ddorr! Bunyi suara tembakan dari arah yang tidak di ketahui oleh Antonio dan anak buahnya.
”Argh!” jerit Seva sambil menahan tangan kirinya. Tembakan tersebut mengenai tangan Seva. Membuat yang lain dan Antonio terkejut.
”Seva, kau baik-baik saja!” tanya Antonio pada Seva.
”Saya baik-baik saja, Tuan! Peluru hanya mengikis lengan ku!”
Antonio melihat ke sekitar ruangan, ”Jika kamu bernyali, tunjukan diri mu!” Teriaknya, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.
Ddorr! Kembali suara tembakan terdengar di telinga Antonio dan bawahannya. Kali ini sasarannya pada sebuah lampu yang tergantung di atas kepala Antonio.
Lampu tersebut pecah dan terjatuh di lantai, jika saja Antonio tidak menggeser badannya, pecahan lampu tersebut akan mengenainya.
Bertepatan dengan lampu yang jatuh, lampu dalam villa itu semua menyala, Antonio terkejut melihat di sisi kiri dan kanan di sisi gelap tadi telah berjejer anak buah Geo lengkap dengan senjatanya yang telah di arahkan kepada mereka.
”Kunjungan mu terlalu tiba-tiba, kakak tiri! Apa yang kau cari di villa ku?”
Antonio menoleh, melihat ke arah datangnya suara yang bertanya padanya. Ia melihat sebuah dinding yang terbelah yang menampakkan seorang pria yang duduk di kursi roda.
Kursi roda? Permainan apa yang di mainkan Geo? Atau benar dia memang sakit dan dalam penyembuhan, makanya dia tidak terlihat keluar masuk di villanya?
Antonio tersenyum tipis, ”Seharusnya aku tidak meremehkan mu! Rupanya, kamu sudah tahu kedatangan ku kesini!”
Geo membalas senyum Antonio, ”Apa kamu tidak senang dengan sambutan ku?”
Antonio melihat sekeliling ruangan itu. Nampak, anak buah Geo yang bisa di hitung banyaknya. Ia memberi kode pada Seva, Seva memberi kode pada anak buahnya. Separuh di antara mereka, mengepung, melindungi Antonio, yang lain, mereka berhadapan dengan anak buah Geo yang ada di sana dengan menyodorkan senjata ke arah mereka.
”Menyerah lah Geo! Aku akan memberimu kesempatan untuk hidup, memandang adikku yang begitu mencintai mu!” ucapnya
”Kamu begitu berani masuk ke sarang ku dan mengancam ku, Antonio!!”
Antonio tersenyum licik, ”Apa menurut mu, dengan anak buah mu yang tidak seberapa ini bisa menekan dan membunuhku, Geo? Dan lihatlah kondisi mu, apa kau sudah tidak ingin hidup lagi?”
Geo tersenyum tipis, ”Cobalah, jika kamu ingin mencoba membunuh ku!”
Seva menodongkan senjatanya, membidik Geo, ia menekan lepas pada senjatanya.
”Shsshs!” jerit Geo tanpa bersuara. Peluru yang di tembakan Seva mengenai lengan Geo, senjata itu tidak menimbulkan suara.
Ijan, Gun, para pelindung bayangan terkejut melihat darah yang mengalir di lengan Geo. Ijan memerintahkan anak buahnya untuk menembak Antonio dan anak buahnya tanpa ampun, melalui isyarat mata dan tangan.
Ddorr ddorr ddorr!
Ddorr ddorr ddorr!
Suara tembakan terdengar dari ruangan sunyi itu, suara tembakan yang saling bersahutan.
"Argh!” sesekali terdengar suara jeritan yang terkena peluru.
Pelindung bayangan Geo membawa Geo kembali masuk ke kamarnya. Antonio mencari kesempatan bersama Seva dan tiga orang lainnya mengejar Geo.
Suara tembakan masih terdengar sahut menyahut di ruangan itu, dalam waktu beberapa menit, suara tembakan berangsur sunyi tidak terdengar.
Ijan dan Gun melihat ke sekitar, semua anak buah Antonio telah terbaring bercucuran darah di lantai. Ia juga melihat ada beberapa anak buah nya yang juga meninggal di tempat karena terkena tembakan. Namun, ia tidak melihat Seva dan tiga lainnya juga Antonio di antara para korban itu, ia juga tidak melihat keberadaan Geo di tempatnya dan para pelindung bayangan.
__ADS_1
Apa Antonio melarikan diri bersama Seva dan tiga lainnya? Kemana Tuan ku?
”Angkat para korban, teman kita, naikkan mereka ke mobil dan urus jenazahnya. Yang masih bisa di selamat kan, bawa segera ke rumah sakit! Yang lain, ikuti aku! Gun!” ucapnya.
Gun mengangguk, ia dan Ijan juga beberapa anak buah lainnya pergi dengan buru-buru ke kamar Geo. Dan anak buah mereka yang lainnya, mengerjakan tugas yang di berikan Ijan.
Mereka menyangkut teman mereka yang telah meninggal ke dalam mobil dan mengurus jenazah mereka dengan baik. Mereka membawa para jenazah itu pada sanak keluarganya dengan uang santunan yang telah di tentukan oleh Geo sebelum mereka bergabung dan bekerja di bawah naungan Geo. Para korban yang masih bisa selamat, mereka membawanya ke rumah sakit untuk di obati.
.. ..
Di kamar Geo.
Ijan, Gun, terkejut melihat situasi yang ada di dalam kamar Geo.
Seva, dan tiga lainnya sedang berkelahi dengan pelindung bayangan Geo tanpa senjata. Sedangkan Geo dan Antonio sama-sama menodongkan pistol di kepala masing-masing dengan saling memandang tajam. Geo terbaring di lantai terpisah dari kursi rodanya.
Darah sama-sama bercucuran dari lengan mereka. Wajah mereka juga sama-sama memar. Dari situasi itu, Ijan dan Gun tahu, sebelum mereka sama-sama menodongkan pistol di kepala mereka, mereka terlibat perkelahian.
Ijan mengambil pisau kecilnya dari saku celananya, ia membidik tangan kanan Antonio yang memegang pistol.
”Argh!" jerit Antonio, pistol di tangannya terlepas, jatuh ke lantai. Pisau yang di lemparkan Ijan tepat mengenai ibu jari tangan Antonio.
Dalam kesempatan itu, salah satu pelindung bayangan Geo yang telah mengalahkan lawannya, menendang Antonio menjauh dari Geo. Antonio jatuh tersungkur ke lantai. Ijan dan Gun berlari cepat menghampiri Geo.
Seva dan dua orang lainnya terkejut melihat Antonio, bos mereka jatuh. Dalam kesempatan itu para pelindung bayangan Geo, mengambil kesempatan.
Mereka melumpuhkan lawan mereka. Mereka tidak membunuh anak buah Antonio, hanya saja, patah kaki, patah tangan, dan luka ringan tidak terelakkan.
”Tuan! Anda terluka!” ucap Ijan dan Gun bersamaan, saat mereka melihat memar di wajah Geo, luka tembakan di lengan juga luka kecil di jari-jari nya.
”Aku tidak apa-apa!” sahut Geo. Ia melihat luka tembakan di paha kanan Ijan dan juga luka tembakan di kanan tangan Gun. ”Kalian juga terluka?!”
”Kami baik-baik saja, Tuan! Maaf, Tuan. Kami terlambat datang kemari.” ucap Ijan dan Gun bersamaan.
”Tidak apa-apa. Kalian datang tepat waktu!”
”Jangan bunuh dia!” cegah Geo saat melihat salah satu pelindung bayangannya ingin menghunuskan dua buah belati ke perut Antonio.
Mata pisau terhenti tepat di perut Antonio. Seva memejamkan mata sambil menghela nafas lega, tuanya paling tidak masih hidup.
”Mengapa Tuan?! Kedepannya dia akan kembali melukai Tuan!” ucap pelindung bayangan tersebut. Tangannya masih memegang belati yang ada di atas perut Antonio.
”Aku masih memikirkan perasaan Beni, jika tidak aku yang akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri!” sahut Geo.
”Aku tidak butuh belas kasihan mu! Jika ingin membunuh ku, bunuh saja! Tidak usah banyak berfikir!” ucap Antonio dengan lemah.
Geo tertawa mengejek, ”Anggap saja aku membalas kebaikan mu karena telah menolong nyawa istriku, Syakila”
Antonio terdiam.
Istri? Bukan kah mereka belum menikah?
”Aku menolong Syakila bukan karena dia calon istrimu, karena aku mencintainya. Dan ku pastikan, dia akan menjadi milikku!” ucapnya kemudian.
Geo terdiam, ia tidak menyangka jika Antonio inilah yang memang menolong Syakila dan Rivaldi di malam itu. Ia juga tidak menduga jika Antonio tertarik dengan istrinya, Syakila.
Plak! Pelindung bayangan tersebut menampar wajah Antonio, ”Beraninya kamu berebut dengan Tuan ku!!”
”Jangan bermimpi untuk mendapatkan Syakila! Dia milikku! Istri ku! Buang jauh-jauh perasaan mu kepada Syakila!” ucap Geo, ”Ayo kita pergi dari sini! Bakar tempat ini sampai benar-benar rata dengan tanah!” ucapnya lagi.
”Baik!” jawab pelindung bayangan Geo, Ijan, dan Gun.
Ijan dan Gun mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar, di susul anak buahnya yang lain. Para pelindung bayangan memukul pingsan Seva dan komplotannya juga Antonio sebelum mereka meninggalkan kamar tersebut.
Geo menaikkan tangannya ke atas, menyuruh Ijan dan Gun menghentikan kursi rodanya. Kursi roda terhenti, ia melihat mayat-mayat di ruangan tersebut.
”Bagaimana dengan para anak buah ku? Apakah ada korban?” tanya Geo, saat mereka berada di ruangan besar tempat di mana mereka mengepung Antonio beserta anak buahnya tadi.
”Ada 10 orang yang meninggal, Tuan. Yang lainnya masih sempat di bawah kerumah sakit. Dan yang lainnya, Alhamdulillah, selamat Tuan!” ungkap Ijan.
”Hum, mari kita keluar! Tunggu sampai Antonio dan anak buahnya yang lain sadar dan keluar dari villa, baru bakar villanya!”
”Baik, Tuan!”
Mereka keluar dari villa Geo. Ijan berlari ke arah mobil, menyalakan mobil dan menjalankan mobil ke arah Geo. Gun membantu Geo naik ke mobil.
"Kita pulang ke kediaman Sarmi, Tuan!” tanya Ijan.
"Tidak! Kita ke markas!”
”Baik, Tuan!” Ijan menjalankan mobil menuju markas mereka yang tidak jauh dari gedung the cobra.
__ADS_1