
Sardin duduk di kursi yang berhadapan dengan Syakila. Ia sengaja memilih duduk disitu. Karena dari situ ia bisa memantau kalau kalau ada yang datang ke teras.
"Sayang, mengapa tidak membalas dan menjawab telfon ku? Membuat ku khawatir saja." Sardin memasang wajah kesal.
"Maaf kak, sehabis Kila mengirim pesan ke kakak, Kila langsung mandi. Setelah mandi baru Kila mengecek balasan pesan dari kakak. Jadi, Kila baru membalas pesan kakak itu. Eh, tiba-tiba malah kakak yang datang kesini.” jelas Syakila. ”Jadi kakak memang pemilik Mitra tv yang lagi bersinar itu ya...”
Sardin mengangguk. ”Iya, Kenapa?"
Syakila tersenyum kecut. ”Berarti benar kalau kakak akan bertunangan dalam waktu dekat ini.”
Syakila tidak memandang Sardin yang sedang melihatnya. Ia melihat ke arah lain.
”Tidak, sepenuhnya itu tidak benar. Kamu dengar dari siapa berita itu?" Sardin penasaran.
”Sepenuhnya tidak benar? Berarti berita itu ada benarnya. Aku tahu berita itu dari paman ku.” Kila masih enggan melihat Sardin.
”Sebenarnya, papa dan mama ku memang menjodohkan ku dengan anak dari sahabatnya. Namanya Aninda. Cewek yang menelfon ku tadi saat aku mengantar mu pulang. Tapi, aku masih punya hak untuk menolak jika aku sudah memiliki kekasih.” Sardin menerangkan.
”Apa orang tuamu tidak akan marah jika perjodohannya kamu batalkan?” tanya Syakila
Ia memandang Sardin dengan serius.
"Tidak sayang, karena itu perjanjian antara aku dan orang tuaku. Hanya saja, aku tidak tahu jika berita pertunangan kami sudah tersiar. Ini pasti ulah dari Aninda.”
”Kakak, kenapa tidak merima saja cintanya, pasti dia cewek yang cantik.”
"Kamu menyuruh pacar mu ini untuk menerima cinta wanita lain, sayang?" Sardin memandang tidak percaya pada Syakila.
”Tidak, bukan begitu kakak. Aku hanya tidak mau saja jika aku di cap sebagai orang ketiga, yang merusak hubungan kalian berdua.” Syakila menunduk.
”Tidak ada orang ketiga sayang, kakak hanya mencintai mu dan itu sedari kita masih kecil. Jika kamu tidak percaya, cobalah bertemu dengan mamaku dan tanyakan pada mama ku bagaimana sikapku kepada Aninda. Dan siapa wanita yang ku cintai. Selain kamu, aku juga masih teguh dengan janjiku, Kila.”
Syakila terharu dengan ucapan Sardin. Namun, ia tidak mau berlama-lama terlena dengan ucapannya.
”Tidak, aku belum siap untuk bertemu mamamu, kak. Oh yah, besok kakak ada jadwal untuk latihan karate?”
”Kenapa belum siap?” Sardin memandang Syakila dengan serius. Ia mengabaikan pertanyaan Syakila.
”Kakak, Kila belum siap jika mama kakak nanti menyuruh kita bertunangan. Kila belum ingin bertunangan ataupun menikah dengan cepat kakak.”
Syakila menunduk ketika Sardin memandangnya dengan bingung. Sardin terdiam.
Kenapa Kila tidak mau bertunangan? Sedangkan mama pengennya tunangan dulu untuk bisa lebih dekat lagi. Tapi, jika Kila menolak untuk tunangan di hadapan mama dan papa, bisa-bisa...huff...aku bingung. Ck nanti saja baru pikirkan ini.
”Sayang, tadi Kila bertanya pada kakak apakah ada jadwal karate kakak gak hari besok?” Syakila mengangguk. ”Kila sayang, jadwal kakak untuk latihan karate hanya di hari Minggu saja. Memangnya kenapa Kila bertanya begitu? Kila pengen kakak datang kesana besok?”
Syakila mengangguk. ”Jika kakak tidak sibuk, dan punya waktu luang. Kila pengen kakak datang.”
”Baiklah, kakak akan usahain untuk datang. Masih ada lagi yang ingin Kila tanyakan pada kakak?”
”Tidak ada kak.”
”Kalau begitu, kakak pulang dulu ya, sayang.”
Ucapan Sardin di dengar oleh Sarmi yang baru datang menemui mereka berdua di teras. Sarmi menyahuti ucapan Sardin.
”Gak makan dulu, Nak? Sayur sebentar lagi masak dan kami akan segera makan malam. Makan malam lah bersama kami, Nak.” pinta Sarmi.
”Maaf Tante, Sardin sudah habis makan sebelum kesini. Tante jangan kecewa, Insya Allah lain kali Sardin akan ikut bergabung makan dengan keluarga Tante.” ucapan Sardin di bumbui dengan senyum manisnya.
Sarmi tersenyum. ”Baiklah, Tante tidak akan memaksa mu. Hati-hatilah di jalan, Nak!”
__ADS_1
”Iya Tante. Aku pergi dulu.”
Syakila dan Sarmi sama-sama mengangguk.
”Apa yang kalian bicarakan, Nak? Apa benar dia akan bertunangan?" tanya Sarmi selepas kepergian Sardin. Ia menggantikan posisi duduknya Sardin.
”Tidak semuanya benar Mah. Orang tua Sardin memang menjodohkan Sardin dengan Aninda, anak dari sahabat orang tuanya Sardin. Tapi, Sardin belum menyetujuinya. Dan Sardin dia di berikan hak untuk menolak perjodohan itu jika dia sudah memiliki kekasih sendiri.” jelas Syakila.
”Oh begitu. Apakah kalian benar-benar berpacaran, Nak?” Syakila mengangguk. ”Mama tidak ingin anak Mama menjadi orang ketiga yang menghancurkan hubungan orang lain.”
”Syakila tahu Mah. Jika memang Aninda dan Sardin berpacaran sebelum Sardin bertemu dengan Syakila. Syakila akan menjauhi Sardin Mah.”
Sarmi tersenyum. Ia berdiri. ”Mama tahu, anak-anak Mama dan papa adalah anak yang baik.” Sarmi mengelus lembut rambut Syakila. ”Ayo masuk kita makan, sayur pasti sudah masak.”
”Mama makanlah dengan kakak dan adik. Kila masih kenyang Mah.”
”Baiklah, Mama masuk ke dalam dulu.” Sarmi melangkah masuk ke dalam. Syakila menyusul masuk, namun ia pergi ke kamar.
.. ..
Sepulang dari rumah Syakila, Sardin pergi ke Kafe untuk menemui Aninda. Malam ini Aninda dan Sardin di atur bertemu oleh kedua orang tua Aninda.
Sardin sudah menolak terlebih dahulu. Tapi, mamanya memaksa dengan alasan tidak enak hati dengan temannya jika ia tidak menemui putrinya. Dengan malas dan tidak bersemangat Sardin menyetujui pertemuan itu.
Sardin masuk ke Kafe dan mencari sosok Aninda. Aninda yang melihat kedatangan Sardin, ia mengangkat tangannya ke atas agar Sardin melihatnya.
”Sardin, aku disini sayang.”
Sardin menoleh ke asal suara. Lalu ia melangkah mendekatinya. Ia duduk di kursi di hadapan Aninda. Sardin melirik meja, ada makanan dan minuman. Aninda sedang makan.
Aninda tersenyum manis padanya. ”Kakak mau makan apa? Dan mau minum apa? Biar Aninda pesankan.” tawarnya.
”Sikap mu dingin sekali padaku, kak. Tidak bisakah kakak berlaku lembut padaku? Aku ini calon tunangan mu, kak.” Aninda tetap berucap lembut pada Sardin.
”Tapi, aku tidak mengakui itu. Dan satu lagi, aku punya wanita yang aku cintai. Jadi, jangan bermimpi untuk bisa bertunangan dengan ku.” Sardin tetap menampakan wajah datar dan dingin pada Aninda.
Aninda tersenyum. ”Kak, apa kakak mengira aku percaya dengan ucapan kakak? Aku tahu selama ini kakak tidak pernah berdekatan dengan cewek manapun. Lalu, kenapa aku harus percaya dengan ucapan mu?” ia memasukan sesendok nasi ke mulutnya lalu mengunyahnya sambil melihat Sardin.
”Kamu mau percaya atau tidak itu urusan mu. Tapi, aku tekankan padamu, kubur niat mu untuk bertunangan dengan ku sebelum kamu akan sakit hati di kemudian hari.” Sardin beranjak berdiri dari duduknya.
Aninda tersenyum kecut. ”Kakak, mamamu takut kakak akan tetap menutup hati kakak hanya untuk teman kecil kakak yang di kampung. Jadi, mamamu memintaku untuk mendekatimu. Yah, untungnya kakak memang ganteng dan juga terkenal jika tidak. Aku juga tidak ingin mendekati pria yang sikapnya dingin seperti mu.”
”Oh, ternyata kamu sudah menunjukan sifat aslimu, Aninda! Bagiamana jika mamaku tahu, jika wanita yang dia puja-puji memiliki karakter seperti ini?”
Sardin mendekatkan kepalanya pada kepala Aninda. Aninda menutup matanya, ia mengira Sardin akan menciumnya. Namun, ia keliru saat ia mendengar bisikan di telinganya.
”Biar pun di dunia ini hanya kamu cewek yang tersisa, aku tidak sudi untuk menjadikan mu teman hidupku.”
Setelah berbisik Sardin menegakkan badannya kembali dan ia pergi begitu saja dari kafe. Ia pergi meninggalkan Aninda yang sedang marah.
"Lihat saja Sardin, kamu akan tetap bertunangan dengan ku, kamu suka atau tidak!” Aninda tersenyum licik memandang punggung Sardin.
Aninda Rahmayanti adalah salah satu presenter di Mitra tv. Ia tidak pernah serius dalam menjalani sebuah hubungan. Itulah mengapa ia selalu bergonta ganti pria saat berpacaran. Karena ia tidak ingin terikat dengan lelaki. Memeluk, mencium, dan hak sebagainya ia anggap biasa saja dalam berpacaran.
Saat Ia bekerja di Mitra tv, pada awalnya ia tidak tahu jika Sardin lah pemiliknya. Dan di saat mamanya Sardin bertemu dengan teman lamanya dan mengetahui jika ia memiliki seorang putri, ia berniat untuk mendekatkannya dengan Sardin.
Karena Sardin termasuk orang ke tiga yang di akui bisnisnya di kota tersebut dan juga tampangnya yang rupawan, Aninda tidak menolak itu.
Saat Sardin tahu mamanya menjodohkan dia dengan Aninda yang merupakan salah satu karyawannya, ia menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Aninda. Sardin sangat tahu tentang Aninda untuk itulah ia selalu menjauh darinya. Dan ia memang wanita yang licik yang pandai bersandiwara. Di hadapan orang tuanya ia mampu menutupi sifat aslinya.
Sardin sudah pernah menceritakan sifat asli dari Aninda pada mamanya, namun mamanya tidak percaya, justru ia menganggap itu hanyalah akalan Sardin untuk menolak perjodohan itu.
__ADS_1
.. ..
Di sisi kota lain, di kota A.
Geovani Albert masuk kedalam kantornya dengan marah. Membuat para staf karyawannya menunduk dan memucat. Jika Geovani Albert sedang marah hanya dua wanita dan dua orang lelaki saja yang mampu tenangkan dia.
Wanita itu adalah kekasihnya yang bernama Dawiyah dan ibunya yang bernama Rosalina. Dan pria itu adalah Beni asistennya dan ayahnya Albert.
”Gege, redakan emosi mu. Tidak bisa kah kamu bersikap tenang sedikit?” Beni yang berusaha menenangkan Geovani.
”Jangan memanggilku Gege! Nama itu sudah ku hapus sejak enam tahun yang lalu. Panggil aku dengan Opan saja!" pinta Geovani. Amarahnya mulai meredam.
Ia berjalan ke dinding kaca kantornya, ia memandang pemandangan dari sana.
”Utus orang untuk mencari kemana dia pergi!” titahnya
”Opan, biarkan saja dia pergi. Kenapa kamu harus mencarinya? Ingat, dia yang pergi darimu di hari pertunangan mu dengan dia. Jadi, lupakan saja dia!"
”Aku tidak bisa melupakan dia, Beni! Dia hidupku! Mengapa kalian belum berhasil temukan dia?”
"Maaf Opan, mungkin dia bersembunyi di luar kota atau mungkin di luar negeri. Karena di seluruh pelosok kota ini, kami tidak menemukan keberadaannya."
”Cari dia di kota-kota yang ada villa ku. Dia pasti berada di salah satu villa ku di kota-kota tersebut!"
”Baik, Opan.” Beni mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia menggeser layar sebentar lalu mendekatkan handphone tersebut di telinganya.
"Halo, Bos!" sapa pria di sebrang sana.
”Halo, utus lima puluh orang untuk mencari keberadaan Dawiyah di sepuluh kota yang terdapat villa Bos. Setiap kota lima orang, cari dia dan laporkan segera jika kalian menemukannya.”
”Baik, Bos!”
Setelah mendengar itu, Beni memutuskan sambungan dan menyimpan kembali handphone ke sakunya.
”Sekarang bisakah kita membicarakan tentang pekerjaan? Kamu harus ke kota S untuk meninjau lokasi baru pembangunan pabrik.” Beni memandang serius pada Geovani.
”Ambilkan minuman ku!”
Beni beranjak ke rak minuman koleksi Opan. Ia mengambil salah satu koleksi brandi yang bermerek Cognac. Lalu ia mengambil gelas. Ia menyimpan gelas dan botol minuman di atas meja di hadapan Geovani.
Geovani membuka penutup botol dan menuang airnya kedalam gelas.
”Aturkan saja waktunya untukku.” ia meminum minumannya. ”Bagaimana dengan persiapan tahun depan? Apakah kalian sudah mulai mengumpulkan masa dari sekarang?"
”Jangan ragukan itu, Bos. Semua aman dan terkendali.” jawab Beni.
”Yang penting ingat, jangan pernah menyinggung nama Gege di hadapan khalayak.” Opan mengingatkan.
”Beres, Bos! Bos, siang ini Tante akan datang berkunjung dan langsung menemui mu di apartemen. Dan sore ini, kita akan berangkat ke kota S.” Beni memaparkan kegiatan Geovani.
”Hum, kamu atur saja, dan jika sudah waktunya baru datangi aku. Aku ingin istrahat sejenak.”
Tanpa menunggu sahutan dari Beni, Opan langsung pergi ke kamar pribadi yang ada di dalam ruang kerja kantornya.
Goevani Albert adalah seorang putra dari Albert dari istrinya yang bernama Rosalina. Ia memiliki perusahaan sendiri yang di bangun dengan usahanya tanpa bantuan dari sang papa. Selain itu ia ingin menunaikan niat papanya menjadi seorang Gubernur di kota A.
Geovani yang sering di panggil Gege. Namun, karena insiden tewasnya seseorang enam tahun lalu di pasar membuat nama Gege di hapus dari nama panggilannya. Kini ia di panggil Opan.
Dalam peristiwa itu, belum di ketahui siapa yang menyebabkan namanya hancur di mata masyarakat. Almarhum Albert, ayahnya meninggal dalam mencari siapa di balik pencemaran namanya itu.
Di usianya yang sudah menginjak dua puluh tujuh tahun, Geovani merupakan pria muda yang banyak di gemari para kaum hawa. Namun, sikap dinginnya itu membuat ia tidak tersentuh oleh wanita. Apalagi ia memiliki penyakit dari kecil yang tidak mudah bersentuhan dengan wanita. Hanya satu wanita yang sudah mengetuk hatinya yaitu Dawiyah. Namun, ia menghilang di hari pertunangannya.
__ADS_1