
Di kediaman Albert.
Geo dan Beni hampir mendekat! benak Syakila.
Ia melihat ke depan. Jika aku terus berlari ke depan, aku harus melumpuhkan empat orang pengawal ini, baru bisa keluar. Mereka pasti tidak akan berani menantang ku, tapi, setiap pukulan ku pasti mereka akan menghindar dan terus menghalangi jalan ku. Aku pasti kewalahan dan akan tertangkap. benaknya.
Ia teringat akan pintu keluar dari belakang, dari pintu, di dapur. Ia berlari ke dapur. Rasa sakit di telapak kakinya benar-benar tidak ia rasakan. Bahkan, ia tidak menyadari jika jejak kakinya terlihat di lantai.
”Sial!! Dia ingin kabur dari dapur! Jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ku! Apa dia tidak takut akan kehilangan darah? Kakinya terluka seperti itu, tidak kah ia rasakan sakit pada kakinya? Syakila...!!” gumam Geo. Wajahnya terlihat marah dan khawatir.
”Kalian! Kejar dia! Jaga jarak dengannya!! Jangan sentuh dia!!” seru Geo pada bawahannya.
Jadi kami hanya menghalangi jalan kaburnya! Tidak boleh menangkapnya? benak semua bawahannya tersebut.
Ke empat bawahan tersebut berlari mengikuti Syakila, di dapur.
”Geo! Sejak kapan kamu bisa berjalan lagi?” tanya Beni.
”Bukan waktunya untuk menjawab pertanyaannya mu! Aku harus amankan Syakila terlebih dahulu!” ia lanjut berlari terus keluar dari rumah dan memutar ke arah dapur.
Beni mengikuti Geo.
Syakila meraih handphone dari saku dan menghidupkannya. Dengan cepat, dia mencari kontak Sardin dan menghubungi nya. Ia melihat kebelakang.
Geo dan anak buahnya tidak mengejar ku? benaknya.
Tidak menunggu lama..telfon tersambung.
”Halo! Syakila...”
”Kakak, jangan pergi! Tunggu aku, kita pergi sama-sama ke kota S. Tut tut tut!” pangkas Syakila. Ia langsung mematikan sambungan telepon. Ia tidak punya banyak waktu untuk berbicara banyak hal dengan Sardin, apalagi lewat telepon.
Syakila menaruh kembali hapenya di saku celana. Ia berhenti seketika, ia terkejut, saat melihat Geo dan Beni berdiri di depan pintu, saat ia membuka pintu keluar.
”Nyonya muda! Lebih baik, Nyonya muda berhenti berlari! Lihatlah di kaki Nyonya muda, darah masih keluar dari telapak kaki Nyonya! Apakah Nyonya tidak merasakan sakit?”
Syakila memutar kepala, melihat kebelakang, ke empat anak buah Geo telah berada di belakangnya dengan jarak satu meter.
”Syakila! Jangan berlari lagi! Ayo, kemari! Aku akan obati luka mu.”
Syakila kembali melihat ke depan, melihat Geo.
Geo maju perlahan, mendekati Syakila. Wajah marah, kecewa dan benci Syakila masih tergambar jelas di wajahnya.
Geo mengulurkan tangannya ke depan, Syakila melihat tangan itu, ia meraihnya dan menendang perut Geo dengan tiba-tiba.
Geo terkejut dengan serangan tiba-tiba yang dilayangkan Syakila. Dua kali tendangan yang ia dapatkan, tetapi ia tidak membalas, ia membiarkan Syakila mengeluarkan kebenciannya.
”Tuan!” seru ke empat anak buah Geo. Mereka berempat berlari cepat menolong tuannya.
Geo menatap tajam pada mereka. Mereka terdiam di tempat. Mereka tahu, tuan mereka tidak ingin mereka ikut campur.
”Kamu pembunuh! Pembohong! Aku membenci mu!!” seru Syakila. Ia menyiapkan tinjunya. Mengepalkan tangan kirinya dengan kuat dan meninju wajah Geo.
”Syakila! Jangan pukul Geo lagi! Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik! Ini hanyalah salah paham!” ucap Beni. Ia tidak ingin Syakila mengeluarkan tenaga nya untuk berkelahi dengan Geo. Darah dari telapak kaki Syakila masih terus keluar.
”Beni! Kamu jangan ikut campur!!” ketus, Geo berucap pada Beni.
Wajah Syakila terlihat sedih saat di matanya terlihat bayang papanya yang di tikam dua kali di perutnya, di depan matanya. Mata Syakila berkaca-kaca.
”Kamu dan Geo sama saja! Kalian satu keluarga adalah penipu! Pembunuh! Aku membenci kalian!!” ia melayangkan tinjunya lagi pada wajah Geo.
Geo tetap menerima tinjunya Syakila. Syakila kembali meninju wajah Geo. Melepaskan tangannya yang memegang tangan Geo dan berputar menendang tubuh Geo dengan keras.
Tubuh Geo mundur beberapa langkah ke belakang. Ia melihat Syakila, tangannya memegang perutnya yang sakit. Tendangan memutar Syakila begitu kuat.
Beni menghampiri Geo. ”Geo, kamu tidak apa-apa?” ia khawatir pada Geo. Sudut bibirnya terluka akibat tinju dari Syakila. Dan sekarang, Geo memegang perutnya yang sakit.
Geo menggeleng, ia mendorong tubuh Beni. Beni menjauh sedikit dari dekat Geo. Geo masih melihat Syakila. Wajah wanita itu terlihat pucat. Ia begitu sedih melihat wajah tidak berdaya Syakila yang bercampur, sedih, kecewa, marah, dan benci padanya.
Syakila mulai terlihat lemah. Geo berjalan mendekati Syakila.
”Jangan mendekat!! Kamu pembunuh, kamu pembohong!” Syakila berucap dengan lantang! Matanya, wajahnya, masih penuh dengan marah, kecewa, dan kebencian.
”Syakila! Dengar! Kita bicara baik-baik! Kamu hanyalah salah paham padaku! Kita bicara, ok?” ia masih bersabar, membujuk Syakila, agar mendengarnya.
Syakila tertawa kecut, keningnya mengerut, ”Berbicara? Untuk melanjutkan kebohongan mu?” tatapannya tajam melihat Geo.
”Syakila, kamu menganggap ku kakak mu, kan? Tolong, dengarkan aku! Sekarang, hentikan dulu ego mu. Yang terpenting adalah mengobati luka di telapak kaki mu dulu. Jika tidak di obati, luka mu akan infeksi. Ayo, ikut dengan ku.” sambung Beni, tangannya terulur ke depan.
Syakila melihat tangan Beni yang terulur, lalu ia melirik sinis melihat Beni.
Kamu pun tahu hal sebenarnya, tapi, kamu juga menyembunyikan dariku saat aku bertanya padamu tentang Gege. Aku kecewa. benak nya.
Ia meraih tangan Beni, memegangnya dan menendangnya, hal yang sama yang ia lakukan pada Geo. Beni pun termundur beberapa langkah.
Syakila melirik Geo, ia berputar dan menendang Geo dengan sekuat tenaganya. Geo terjatuh, keseimbangan badannya hilang saat terhuyung, akibat tendangan kuat yang di layangkan Syakila.
”Aku tidak mempercayai kalian semua!! Biarkan aku pergi dari sini!!” nafasnya memburu, tubuhnya gemetar. ”Argh!” ia mengerang kesakitan.
Ia baru merasakan rasa sakit pada telapak kakinya. Barulah ia tersadar, jika kakinya memang terluka. Bahkan, ia tidak tahu sejak kapan luka itu ia dapatkan.
Argh! Kaki ku sakit...sakit sekali! Aku..aku tidak tahan untuk memijakkan kaki ku di lantai. Geo dan Beni masih terlihat lemas karena pukulan dan tendangan ku. Aku harus segera keluar dari kediaman ini. benaknya.
__ADS_1
Ia berlari ke halaman rumah.
”Syakila! Berhenti!!” teriak Geo. Ia segera berdiri dan berlari mengejar Syakila.
Beni berdiri, ia terlihat sedih membayangkan wajah dan tatapan Syakila yang benci dan kecewa padanya.
Syakila telah sampai di pagar. Dua pria yang di tugaskan menjaga pagar tidak ada. Tetapi, pintu pagarnya masih terkunci.
”Sial!! Pintu pagarnya terkunci!! Argh!! Luka di telapak kaki ku terasa sakit sekali!” gumamnya.
Ia melihat kebelakang. Ia melihat Geo berlari sendirian mengejar dirinya. Syakila melihat tinggi pagar. ”Apakah aku bisa memanjat pagar ini?”
”Syakila! Berhenti kataku!!” teriak Geo.
Syakila mengabaikan teriakan Geo. Ia mulai memanjat pagar. Meskipun kakinya terasa sakit saat menginjak pagar, ia tetap berusaha untuk memanjatnya.
Geo terlihat marah! Ia tidak sabar lagi. Ia mempercepat langkahnya, mendekati Syakila. Geo meraih tubuh Syakila.
”Lepas!! Jangan sentuh aku!!” Syakila berontak, tangannya memukul lengan Geo.
Geo mengabaikan ucapan Syakila. Ia juga menahan pukulan Syakila. Pukulannya pun tidak sakit, tenaga Syakila seakan melemah.
Geo menggendong tubuh Syakila. Ia melihat Beni yang datang ke arahnya. ”Beni, telfon dokter!” titahnya.
Beni menghubungi dokter pribadi keluarga Albert. Menyuruh sang dokter untuk datang ke kediaman Albert dengan alat dan obat.
”Lepaskan aku!!” Syakila masih memberontak. Ia menggigit dada Geo.
Geo menahan sakitnya gigitan Syakila. Ia tetap berjalan menggendong tubuh Syakila. Ia masuk ke dalam rumah.
Geo masuk ke dalam lift. Geo melihat Syakila saat wanita itu melepaskan gigitannya secara perlahan.
”Syakila!! Syakila! Bangun, Syakila!!” teriak Geo. Ia sangat khawatir, Syakila kehilangan kesadarannya. ”Syakila! Jangan membuat ku takut!! Bangun, Syakila! Aku tidak mengizinkan mu pergi meninggalkan aku!!” teriaknya.
Ia melihat pintu lift. Lift masih belum sampai di lantai atas, di mana kamarnya berada.
”Lift kurang ajar!! Cepat sampai!!” gerutunya. Ia merasa lift itu berjalan lambat.
.. ..
Di bandara, kota A.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah sampai di bandara, tiket sudah di tangan. Apakah aku harus tetap berangkat ke kota S? Sementara Syakila menyuruh ku untuk jangan pergi, tanpa membawanya. benak Sardin.
Ia menghela nafas, matanya terpejam, tangannya memijit pelipisnya. Ia tiba-tiba merasakan sesak saat bernafas.
apakah terjadi sesuatu padamu, Syakila? Kakak harap kamu baik-baik saja. benaknya.
Sardin mendongak, melihat lurus ke depan. Ia berdiri, mengambil tiket pesawat dan merobeknya.
”Baik! Itu perintah mu, aku menuruti mu. Aku akan pergi dari kota ini bersama mu.” gumamnya.
Dengan yakin, ia pergi dari bandara. Ia mencari taksi. Salah satu taksi berhenti saat ia menahannya.
Ia masuk ke dalam mobil. Ia kembali ke rumah Anton. Ia telah memutuskan akan menunggu Syakila untuk sama-sama pergi ke kota S.
Mama, papa. Maafkan, Sardin, Sardin belum bisa meninggalkan kota A sekarang. Mama dan papa jangan khawatir, Sardin akan baik-baik saja di rumah paman.
Sardin mengirimkan pesan itu pada mamanya.
Selama aku tidak ada di sana, urus baik-baik Mitra tv. Jika ada hal penting, hubungi aku.
Ia mengirimkan pesan tersebut kepada asistennya di kantor.
.. ..
Di kediaman Albert.
Di kamar Marlina.
”Tante sudah mengoleskan obat memar di wajah dan di leher mu. Obat ini kamu oleskan terus. Bekas luka di wajah dan bekas cengkraman Geo akan hilang sendirinya.”
Marlina mengangguk.
Rosalina berdiri, ”Kamu istirahatlah dulu. Untuk sementara, kamu jangan mencari hal dan membuat Geo marah.” nasehatnya.
Marlina kembali mengangguk.
Rosalina keluar dari kamar Marlina.
”Noda darah yang di lantai, darahnya siapakah itu? Apakah itu Geo? Syakila? atau Beni?” gumam Marlina.
”Geo semakin bengis! Kali ini dia benar-benar tidak ragu membunuh ku. Jika saja Syakila tidak menjatuhkan vas bunga, aku pasti sudah mati di tangannya, menyusul Dawiyah.” gumamnya lagi.
Di luar pintu kamar Marlina.
”Noda darah tadi milik siapa? Beni, Geo, dan Syakila, sekarang mereka ada di mana? Rumah terasa hening! Apa yang sudah terjadi? Jika mereka ribut di depan, di luar rumah, atau di dapur, dengan suara keras Geo, aku akan mendengarnya.” gumam Rosalina.
”Mereka pasti di kamar Geo. Semoga Geo tidak melakukan hal buruk pada Syakila.” gumamnya lagi. Ia berjalan ke arah lift.
Ia menoleh kebelakang saat mendengar suara langkah kaki seseorang. ”Beni? Dokter?” ia terlihat bingung.
”Tante!” sapa Beni.
__ADS_1
”Rosalina!” sapa sang dokter.
”Beni, ada apa ini? Siapa yang terluka?” Rosalina terlihat semakin khawatir.
”Telapak kaki Syakila yang terluka, Tante. Sebaiknya, kita keatas sekarang.”
Mereka pun naik ke lantai atas, menggunakan lift. Lift sampai ke lantai atas. Mereka keluar dari lift dan berjalan dengan cepat ke kamar Geo.
Beni mengetuk pintu kamar Geo. Pintu kamar terbuka.
”Geo! Kamu tidak melukai Syakila, kan?” Rosalina menerobos masuk menghampiri Syakila di ranjang.
”Tidak, Mah. Telapak kaki Syakila terluka karena menginjak pecahan vas bunga saat ia berlari.” jawab Geo. Ia melihat dokter, ”Dokter, cepat periksa Syakila!” titahnya.
Sang dokter pun mulai memeriksa Syakila. Ia menyimpan kembali alatnya.
”Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi padanya?” tanya Geo.
”Syakila tidak apa-apa. Dia hanya pingsan. Aku akan memberikan infus padanya. Aku juga membutuhkan sekantung darah, dia kehilangan cukup banyak darah.” papar sang dokter.
”Darah?” ucap Beni, Geo, dan Rosalina. Mereka saling pandang.
”Iya, tapi aku harus mengecek tipe darahnya dulu.” kata sang dokter.
”Tidak perlu Dokter! Darahnya sama dengan darah saya, darah A. Ambil darah saya saja.” ucap Geo.
Proses pengambilan darah sedang berlangsung. Selagi menunggu prosesnya, sang dokter membersihkan luka di telapak kaki Syakila.
Ada dua pecahan vas bunga yang tertancap masuk di telapak kakinya. Sang dokter mengeluarkan dengan hati-hati. Setelah itu, ia membersihkan lukanya agar tidak infeksi di dalam.
”Dokter! Kantung nya hampir penuh!” Geo mengingatkan sang dokter.
Dokter pun cepat-cepat membersihkan luka Syakila dan memberikan obat. Ia beralih pada Geo. Proses pengambilan darah selesai.
”Kamu istirahat lah! Darah mu lumayan banyak yang keluar.” dokter melihat Rosalina. ”Buatkan susu anak mu.” titahnya.
Rosalina menurut. Ia turun ke bawah, ke dapur. Ia membuatkan satu gelas susu. Ia menyempatkan diri membuka kamar Marlina, melihat keadaan Marlina.
Ia terkejut, Marlina tidak ada di kamarnya. Ia bergegas keluar dari kamar Marlina. Ia mempercepat langkahnya pergi ke kamar Geo.
Rosalina mengetuk pintu kamar Geo. Pintu terbuka. Marlina masuk. Wajahnya khawatir. Rosalina mendekati Geo dan memberikan susu padanya.
Geo mengambilnya dan meminumnya sedikit lalu, ia simpan gelasnya di atas meja. ”Mama kenapa?” tanyanya.
”Geo! Marlina... Marlina tidak ada di kamarnya. Dia sudah pergi!” jawab Rosalina.
Beni dan Geo sama-sama terdiam. Mungkinkah Marlina mendatangi pamannya, Vian?
”Tante! Tante tidak khawatir, Marlina pasti sedang menemui paman Vian. Marlina pasti akan kembali.” ucap Beni.
Rosalina terdiam, melihat sang dokter yang telah selesai memasangkan selang infus dan selang darah pada Syakila.
”Kalian tidak perlu khawatir lagi. Syakila sudah tidak apa-apa. Seharusnya, tidak lama lagi dia akan sadar. Aku pulang dulu. Masih ada pasien yang membutuhkan ku, di rumah sakit. Jika ada apa-apa, telfon aku saja.” ucap sang dokter.
”Iya, Dokter! Terima kasih,” sahut Beni, Rosalina dan Geo.
Beni pun keluar dari kamar bersama sang dokter. Ia mengantar kepergian dokter.
”Geo! Mama sangat senang sekali saat Mama melihat kamu sudah bisa berdiri dan berjalan dengan baik.” ucap Rosalina.
”Mama, maaf, sebenarnya Geo sudah lama sembuhnya, sewaktu Geo masih berada di kota S. Tapi, Geo sengaja menyembunyikan dari semua orang.” ungkap Geo.
”Mengapa kamu lakukan itu?”
Geo melihat Syakila yang terlihat sedang tertidur nyenyak. ”Ini semua karena Syakila. Aku ingin Syakila berada di sisi ku. Aku mencintai nya. Aku ingin menahannya di sisi ku!” jawabnya, jujur.
”Syakila sudah tahu kamu sudah sembuh. Bagaimana dengan perjanjian kalian? Dia pasti akan meminta perceraian dengan mu.”
”Geo tidak akan menceraikan Syakila. Geo mencintai nya.”
”Tapi, dia membenci mu!” ucap Rosalina.
”Itu karena dia salah paham padaku.”
Rosalina terdiam, ia tidak tahu akan berkata apa. Anaknya serius mencintai Syakila, tapi, Syakila membenci anaknya itu.
Rosalina berdiri membuka pintu kamar saat mendengar suara ketukan.
Beni melangkah masuk ke dalam kamar. ”Geo. Baru saja aku menerima telfon dari kantor agama, kota S.”
Geo dan Rosalina melihat Beni dengan serius.
”Mereka mengatakan surat nikah kamu dan Syakila tidak sah, karena tidak ada tanda tangan Syakila.” lanjut Beni berucap.
Syakila terkejut mendengar kebenaran itu. Ia tetap berpura-pura masih pingsan. Ia ingin mendengar pembicaraan mereka.
Mereka semua penuh kepalsuan! Semuanya pembohong! benaknya.
”Ah, iya, Mama ingat! Syakila belum menandatangani surat nikah waktu itu.” ucap Rosalina.
”Masalah ini! Jangan sampai Syakila tahu. Aku akan mencoba membuat surat nikah baru dan mendapatkan tandatangan Syakila.” ucap Geo.
Kalian masih sekongkol menyembunyikan kebenaran itu dariku? Hebat!! benak Syakila.
__ADS_1