Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 21


__ADS_3

Sarmi yang sementara sedang makan menikmati santapan siangnya, ia terbatuk-batuk karena lehernya terasa sangat gatal sekali.


"Kamu kenapa, Nak? Makanya makan itu musti hati-hati." ucap ibunya Sarmi mengingat kan.


"Sarmi makannya udah pelan-pelan dan hati-hati, Bu. Sarmi batuk karena tenggorokan Sarmi sangat gatal Ibu, bukan karena keselek makanan, Bu." sahut Sarmi membela diri sambil masih terbatuk-batuk.


"Minum dulu, minum air hangat biar gatalnya hilang," ucap si Ibu mengajari. Sarmi pun meminum air hangat satu gelas penuh, dan benar saja rasa gatal di kerongkongan nya sudah berkurang.


"Mungkin ada yang sedang merindukanmu lalu membicarakan mu, makanya tenggorokan mu sangat gatal." ucap si ibu lagi menjelaskan.


"Mungkin saja Bu, ini sudah hampir tiga bulan kepergian mas Halim, mungkin saja dia yang merindukan aku." sahut Sarmi mencoba meyakinkan diri.


Iya ya tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga aku tidak sadar sudah hampir tiga bulan Halim, suamiku tidak berada di sisiku. Aku merindukanmu Halim, apa kamu tidak merindukan ku yang ada disini? Gimana kabarmu sekarang, mas?


batin Sarmi sambil terus memakan makanannya hingga habis.


Sarmi yang menjalani kehidupan dengan baik meski tanpa Halim di sisinya, ia terus di usik oleh tetangga tetangga kebun dan juga tetangga rumah yang kebetulan berpapasan di jalan.


Mereka tidak henti-hentinya membicarakan rumah tangga Nanda yang hancur karena suaminya merantau di kota A tersebut, terlebih lagi mas Halim dan Ikhsan saudara kandung.


Tapi Sarmi sudah kebal telinganya dengan hal-hal itu, ia hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka dan berdoa perlindungan untuk suaminya yang jauh di sana.


Sama seperti halnya Sarmi, Syakila juga menjadi bahan gunjingan oleh teman-temannya, bahkan Syakila di gelar anak yatim sekarang.


Awalnya Syakila merasa terganggu dengan hal itu, tetapi sahabat sahabatnya selalu memberikan nasihat kepada Syakila dan menguatkan hati Syakila.


Jadi Syakila sudah menganggap itu sebagai lagu-lagu lama, hingga ia tidak memusingkan ucapan mereka lagi.


.. ..


Halim yang kembali menjaga toko, ia sedang di sibukkan dengan mencatat barang-barang yang kurang dan yang habis.


Setelah selesai mencatat ia pergi berbelanja di toko Anton yang partai. Sebagai pembeli yang di kenal, mereka sambil menyediakan barang-barang Halim, mereka bercanda tawa.


Mereka awalnya mengira Halim adalah orang yang pendiam juga sombong, namun seiring berjalannya waktu, dan tinggal dalam satu rumah mereka mengenal sifat Halim yang sesungguhnya. Jadi mereka tidak ragu untuk mengajak Halim bercanda.


Setelah membayar belanjaan Halim kembali ke tokonya untuk menjaganya dan untuk barang yang di belinya akan di antarkan setelah mereka mengulang mengecek barang-barang sesuai dengan nota belanjaan.

__ADS_1


Sore hari ini Halim benar-benar di sibukkan dengan pekerjaan nya. Tapi itu lebih baik daripada ia duduk melamun menghayalkan anak dan istrinya sambil menunggu orang belanja.


Pikiran dan tenaganya fokus untuk barang jualannya. Kini ia sedang mengecek kembali barang yang baru di beli dan mengecek harganya juga menyusunnya pada rak-rak tempatnya.


Halim selesai beberes tepat pada waktu jam 5 sore saatnya ia menyimpan. Dengan penuh hati-hati dan teliti Halim kembali menyimpan barang-barang jualannya masuk ke dalam toko.


"Alhamdulillah, selesai juga akhirnya." ucap Halim bersyukur. "Hari ini aku benar-benar capek." ucapnya lagi sambil duduk sebentar di depan tokonya yang sudah tertutup itu.


Besok malam, malam Minggu. Kemana yah Hamid akan membawaku? Kenapa juga aku harus penasaran dengan perempuan itu.


batin Halim.


Setelah di rasa cukup istrahat, Halim pulang kerumahnya. Sesampainya di rumah tanpa beristirahat lagi ia segera mandi dan pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah.


Setelah selesai sholat tidak membuat Halim lekas pulang, ia duduk-duduk di dalam mesjid sambil mendengar suara orang membaca Al-Qur'an, dan sekalian ia menanti sholat Isya.


Sungguh luar biasa suara anak kecil itu mengaji, suaranya kurang lebih dengan suara anakku, Syakila saat mengaji.


batin Halim memuji suara anak perempuan yang seusia Syakila sedang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an.


"Assalamu 'alaikum anak muda, apa aku mengganggu waktu mu?" ucap lelaki tua itu.


"Wa 'alaikum salam, Pak. Bapak tidak menggangu waktu ku," jawab Halim dengan sopan.


"Sepertinya kamu orang baru disini, anak muda." tanya lelaki tua itu lagi.


"Iya Pak, saya memang belum lama disini, kurang seminggu lagi genap tiga bulan saya berada di kota ini, Pak." sahut Halim. "Dan saya bukan anak muda lagi, Pak. Saya sudah menikah dan mempunyai anak, panggil saya dengan Halim saja, Pak." lanjutnya lagi berucap.


Lelaki itu tertawa kecil, "Hahaha maaf, saya kira kamu masih muda, ternyata kamu sudah menikah." ucapnya.


"Tidak apa-apa," sahut Halim.


"Sebenarnya, saya sudah tahu jika kamu sudah menikah, dan kamu memiliki enam orang anak. Bapak cuma menguji kejujuran mu saja." ucap lelaki itu lagi yang membuat Halim terbengong.


"Bagaimana Bapak tahu, saya memilik enam orang anak, padahal saya belum memberitahukan berapa banyaknya anak saya kepada Bapak." ucap Halim bertanya penasaran.


Lelaki itu kembali tertawa kecil, "Hahaha, dari ke enam anakmu hanya satu anakmu yang laki-laki, dan ia merupakan anak yang ke lima, benar?"

__ADS_1


Halim benar-benar terkejut dengan ucapan lelaki itu.


Bagaimana bisa Bapak ini tahu, yah kalau aku memiliki satu putra dan juga tebakannya benar, Hardin anakku yang kelima? Siapa Bapak ini sebenarnya?


batin Halim sambil memandang bingung sekaligus penasaran kepada lelaki yang di sampingnya itu.


"Kamu tidak usah penasaran dengan siapa Bapak ini, kamu mau mendengarkan nasihat Bapak untukmu?" ucapnya bertanya.


Halim mengangguk, "Iya," sahutnya.


"Kamu di sukai oleh seorang perempuan yang tidak pernah kamu sukai kehadirannya. Kamu berhati-hati lah, jangan pernah meminum minuman yang di berikan oleh orang lain nanti, meskipun orangnya kamu kenal, tanyalah padanya minuman itu dari siapa, jika ia sendiri yang membelinya untukmu dan segelnya masih utuh baru kamu boleh meminumnya. Dan ingat jika kamu berkumpul dengan teman-teman mu di manapun, di tempat yang tidak biasa kamu kunjungi jangan coba-coba kamu meninggalkan minuman mu." ucapnya menasehati Halim.


Halim nampak bingung, ia belum bisa mencerna perkataan lelaki tua itu. Ia ingin memperjelas nya, tapi sayangnya saat ia ingin bersuara. Kumandang adzan Isya telah terdengar.


"Mari kita ambil air wudhu dan sholat Isya." ajak Bapak tua itu pada Halim. Halim mengangguk dan mengikuti langkah bapak itu di belakangnya.


Mereka berwudhu sama-sama dan berdiri berdekatan di saf depan di belakang pak imam. Setelah selesai sholat dan berdoa berjamaah. Halim yang ingin berjabat tangan dengan bapak tua itu, ia sudah tidak ada pada tempatnya.


Dengan bingung Halim mengedarkan pandangannya mencari sosok bapak itu, karena masih ada yang ingin ia pertanyakan tentang maksud ucapannya tadi, tapi sejauh memandang ia tidak melihat sosok lelaki tua itu.


Akhirnya Halim pulang dari masjid dengan beribu pertanyaan yang menghantui pikirannya. Bahkan di saat makan Halim tidak bernafsu untuk makan. Jadi ia melewati makan malamnya.


Halim langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat, namun pikirannya selalu menerawang akan maksud ucapan dari bapak tua yang di temui di masjid. Dengan duduk bersandar pada sandaran ranjang, Halim terus bergumam sendiri mengajak pikirannya untuk mencari tahu arti dari maksud ucapan bapak itu.


"Siapa sebenarnya bapak-bapak itu? Tebakannya tentang anakku itu benar. Apa tadi yang dia bilang, seorang perempuan yang tidak aku sukai kehadirannya."


Halim nampak berpikir selesai bergumam kecil, ia kembali menerawang siapa perempuan itu, apakah yang ada di kampung atau kah yang ada di kota dimana ia berada sekarang.


"Siapa perempuan itu, yah? Jika di kampung perempuan yang tidak aku sukai kehadirannya ada beberapa orang, termasuk mantan ku yang masih mengejar ku sampai sekarang. Jika disini yang tidak aku sukai.." Halim berhenti sejenak dalam gumamnya, "Apa jangan-jangan si Halima, maksud dari ucapan bapak-bapak itu, yah?"


Gumam Halim menerka sendiri maksud dari lelaki tua yang di jumpai nya di masjid.


"Sepertinya memang perempuan yang di maksud itu adalah Halima, apa ini bersangkutan dengan besok malam? Karena besok malam aku akan jalan-jalan bersama Hamid."


Gumam Halim lagi sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Mending sekarang aku beristirahat karena besok pekerjaan ku menanti ku kembali." ucapnya lagi bergumam sendiri. Dan ia pun tertidur yang sebelumnya ia memandang foto istrinya yang ada di dalam dompetnya itu.

__ADS_1


__ADS_2