
Sepanjang perjalanan ke rumah Sardin, Geo berpikir keras tentang ucapan Sardin yang akan memberikan tanggung jawab Sardin untuk dirinya.
Apa maksud Sardin sebenarnya? Sardin yang akan menikah, dia yang akan mengucapkan ijab kabul, dan di surat nikah tertulis namanya dan nama Syakila. Kenapa harus dia yang bertanggung jawab? Ini sangat tidak masuk di akal.
Geo melihat wajah Sardin yang tertidur. Wajah pucat nya tidak bisa di sembunyikan lagi.
Apa sebenarnya yang membuat dirinya menyerah pada hidupnya? Apakah karena Syakila?
Kecelakaan yang dia alami waktu itu saat Syakila masih berstatus istri ku. Apakah karena Syakila sudah menjadi istriku dan dia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Syakila, yang membuat dia putus semangat hidup? Dan di saat ada harapan untuknya memiliki Syakila, sudah terlambat untuk melakukan pengobatan? Yang aku tidak mengerti juga, kenapa kedua orang tuanya tidak setuju Sardin di operasi saat itu? Apa hanya karena alasan bahwa hasil dari operasi itu sangat tipis?
Apakah dia tidak bisa mencoba memacari wanita lain selain Syakila? Dia sadar dari komanya dulu di saat Syakila ada di sampingnya.
Kenapa aku gak berbicara saja sama Syakila tentang kesehatan Sardin ini dan menyuruh Syakila untuk membujuk Sardin, pergi ke China untuk berobat? Sardin pasti akan mendengarkan setiap kata dan permintaan Syakila. benak Geo.
.. ..
Di kediaman Alimin.
Mobil Sardin berhenti di halaman parkir kediaman Alimin.
Geo melihat kedua orang tua Sardin sedang duduk di kursi, di teras rumah. Dia tidak mungkin akan turun dari mobil dan memapah Sardin untuk masuk ke dalam rumah.
Geo sangat tahu jika Nesa, ibunya Sardin tidak menyukai dirinya. Yah, dia bisa memaklumi hal itu. Karena dialah yang menjadi penghalang cinta Sardin dan Syakila. Jika tidak ada dia waktu itu, mungkin Sardin akan baik-baik saja dan hidup bahagia menjalani rumah tangganya dengan Syakila.
”Sardin, bangun. Kita sudah sampai di rumah mu.” Geo membangunkan Sardin dengan menepuk pelan pipi pucat Sardin.
Sardin membuka matanya. ”Kita sudah sampai?” dia bangun dengan pelan dan bersandar di kursi, matanya kembali dia pejamkan.
”Iya. Kamu bisa turun sendiri kan? Aku akan menunggu supir mu di sini. Setelah dia membawamu ke dalam rumah, dia akan mengantar ku kembali ke gedung the cobra.”
”Kamu saja yang memapah ku masuk ke dalam rumah.” pinta Sardin.
”Di teras rumah mu, kedua orang tuamu sedang duduk bersantai. Kamu tahu sendiri, orang tuamu tidak menyukai diriku.” jelas Geo.
Sardin membuka matanya, melihat Geo. ”Ayo, turun. Bantu aku masuk ke dalam rumah, sampai ke kamar ku.” tegas nya.
Geo menghela nafas. Dia tidak bisa menolak. Dia membuka pintu mobil dan turun. Dia mengitari mobil Sardin. Membuka pintu mobil di sisi Sardin.
”Kenapa aku harus mau mengikuti kemauan mu ini? Kamu bukan apa-apa ku.” gerutu Geo. Dia membantu Sardin turun dari mobil, dan memapah tubuh Sardin ke rumah Sardin.
”Karena aku adalah pria yang di cintai Syakila, makanya kamu memperhatikan ku, peduli padaku, dan menuruti kemauanku.” sahut Sardin.
”Aku tidak peduli padamu.” elak Geo.
”Kamu peduli padaku, karena kamu peduli pada Syakila, kebahagiaan Syakila.”
”Kamu berbicara dengan sangat jelas. Aku tidak perlu memapah mu lagi. Lanjut lah kamu berjalan sendiri.” ucap Geo.
”Tidak perlu pura-pura tidak peduli padaku. Kamu tahu sendiri fisikku sudah lemah.”
”Aku tidak tahu bagaimana cara berpikir mu. Seharusnya, sebagai pengantin baru, kamu harus bersemangat menjalani rumah tanggamu. Bagaimana kamu akan menyentuh Syakila, jika kamu lemah seperti ini? Ikutlah saran ku, Sardin. Berobat lah, demi Syakila.” Geo membujuk Sardin untuk mau menjalani pengobatan.
”Bukan kah sudah ku bilang, tanggung jawabku akan ku serahkan padamu?”
Geo terdiam. Lagi-lagi Sardin berbicara begitu. Apa maksudnya? Dia yang menikah, haruskah dia yang menjamah Syakila?
Geo baru saja menginjakkan kakinya di teras rumah Sardin, dia telah mendapatkan tatapan jengkel dari Nesa, ibunya Sardin.
”Abaikan saja tatapan tidak sukanya ibuku.” bisik Sardin.
Geo tidak menjawab.
”Sardin? Kenapa dengan Sardin, Nak?” tanya Alimin pada Geo. Dia khawatir melihat kondisi Sardin yang semakin memburuk.
”Sardin tidak apa-apa, Pa. Geo, bawa aku masuk ke kamar ku.” titah Sardin, pada Geo.
Geo tidak menjawab. Tapi, dia tetap mengikuti perintah Sardin, mengabaikan tatapan tidak suka Nesa. Alimin juga membantu Geo memapah Sardin masuk ke dalam rumah.
Nesa sendiri ikut masuk ke dalam rumah. Dia juga khawatir dengan keadaan anak semata wayangnya itu.
Geo dan Alimin membaringkan Sardin dengan pelan di ranjang Sardin.
”Benar kamu tidak apa-apa, Nak? Papa akan memanggil dokter ke sini yah.” ucap Alimin.
”Tidak perlu, Pa. Setelah Sardin meminum obat, sakitnya juga akan hilang. Maaf, Pa. Maaf, Mah. Sardin ingin istirahat.” ucap Sardin.
”Baiklah, kamu istirahatlah! Aku akan pulang dulu.” pamit Geo.
”Iya, terima kasih. Geo, malam ini datanglah ke sini, temani aku.” pinta Sardin. Tatapannya penuh harap, melihat Geo.
__ADS_1
Geo mengangguk.
”Om, Bibi, aku pamit pulang.” pamit Geo pada orang tua Sardin.
Nesa tidak menyahut.
”Iya, hati-hati di jalan, Nak. Terima kasih, sudah menjaga anakku.” sahut Alimin.
”Iya, Om. Sama-sama. Geo pergi dulu.” Geo melangkah keluar dari kamar Sardin, setelah menatap Sardin beberapa menit.
Geo menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. Dia berhenti sekejap melihat wanita yang baru saja melewatinya. Dia menoleh lagi ke belakang melihat wanita itu.
Jika tidak salah ingat, wanita yang memakai baju merah itu adalah wanita yang datang ke apartemen ku. Apa hubungan nya dia dengan keluarga Alimin? benak Geo.
Dia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Dia keluar dari rumah Sardin. Dia melihat supir mobil Sardin duduk di teras.
”Bang, maaf, aku mengganggu istirahat Anda. Tapi, bolehkah Abang mengantar ku kembali ke gedung the cobra?”
”Oh, iya, Tuan. Mari, saya akan mengantar Tuan ke sana.” sang supir berdiri.
”Terima kasih, Bang.” ucap Geo. Dia melangkah ke mobil. Dia masuk ke dalam mobil. Sang supir masuk ke mobil. Dia menyalakan mobil dan menjalankannya.
.. ..
Di dalam rumah Alimin, di kamar Sardin.
Syukurlah Geo tidak mengenaliku. Jika dia kenal padaku. Bisa bisa dia akan permalukan aku di sini. Tapi, ngapain dia di sini? Apakah dia teman Sardin? Atau keluarga Sardin dari pihak bibi Nesa? benak Tia.
Dia memikirkan lagi saat Geo membantunya dulu, waktu dia hampir saja di nodai oleh orang-orang. Dulu usianya baru menginjak lima belas tahun.
Geo waktu bersama dengan cewek yang bernama Dawiyah. Kebetulan mereka berdua jalan kaki melewati jalan lorong kecil untuk pergi ke apartemen Geo.
Geo segera datang padanya setelah mendengar suaranya yang meminta tolong. Geo menghajar para berandal itu dengan brutal, kalau saja para berandal itu tidak melarikan diri, mereka akan mati di hajar oleh Geo.
Geo membawanya ke apartemennya waktu itu. Sampai di sana, Geo melepas bajunya. Si saat itu, dia terpana melihat body Geo yang sixpack.
Setelah hari itu, Tia selalu berkunjung ke apartemen Geo. Tapi, Geo sudah tidak tinggal di sana lagi. Dan di saat dia mendengar kabar Geo kembali ke apartemennya. Dia sangat senang. Untuk itulah, kemarin malam dia berdiri menunggu Geo di depan apartemen itu.
Jelaslah dia tidak kenal dan mengingat ku, itu sudah sangat lama sekali waktu Geo menolong ku. benak Tia.
”Tia, apa yang kamu pikirkan? Kenapa diam saja dari tadi?” tanya Alimin.
”Tidak boleh ada media. Dan aku tidak ingin kamu hadir di dalam pernikahan ku.” Sardin yang menjawabnya.
”Apa kamu kecewa pada Tante? Kenapa kami tidak boleh hadir di pernikahan mu?” ketus mamanya Tia bertanya.
Sardin terdiam. Dia tidak kecewa dengan bibinya. Tapi, dia tidak mau Tia datang dan mengacaukan acaranya. Karena Tia tukang pengacau. Dan bukan hanya sekali, tapi, sudah berkali-kali Tia mengacaukan acara-acara Sardin.
”Tapi, sayang. Ini .adalah pernikahan mu, sekali seumur hidup mu, kamu tidak ingin mengabadikannya?” tanya Nesa.
”Tidak, Mah. Tante, Tia. Aku ingin istirahat. Bisakah kalian keluar dari kamar ku?”
Nesa dan Alimin saling pandang. Kenapa ya, Sardin selalu bersikap dingin kepada bibi dan sepupunya itu?
”Kamu mengusir Tante?”
”Ah, bukan begitu maksudnya Sardin. Dia baru datang dan belum beristirahat, kami sudah mengganggu tidurnya. Kemudian, temannya lagi yang datang melihatnya. Temannya saja baru juga pulang. Jadi, maaf, ya. Jangan di ambil hati ucapan Sardin.” Nesa yang menjawabnya.
Oh, jadi Geo hanya temannya Sardin. Malam itu aku tidak berhasil tidur sama dia. Aku akan mencari waktu yang pas saja untuk tidur dengannya. Semenjak beberapa tahun lalu, aku benar-benar mendambakan pria itu. benak Tia.
Dengan kecewa dan tanpa berpamitan lagi, Tia dan mamanya pergi.
”Kalau begitu, kamu istirahatlah. Mama dan Papa akan keluar dulu.” ucap Alimin.
”Ma, Pa. Ada yang ingin Sardin bicarakan.”
Alimin dan Nesa sejenak saling pandang.
”Ada apa sayang?” tanya Nesa.
”Mah, tolong jangan tampakkan wajah tidak suka Mama pada Geo. Geo adalah orang baik. Tidak seperti yang Mama pikirkan selama ini.” ucap Sardin.
Nesa menghela nafas. ”Kalau dia orang baik, dia tidak akan masuk dalam hubungan mu dengan Syakila.”
”Mah, Mama tahu sendiri kan? Waktu itu Syakila terpaksa memutuskan Sardin dan menerima Geo karena Syakila ingin menepati janji almarhum ayahnya. Mama juga tahu kan? Kalau Syakila dan Sardin sama-sama berpegang teguh pada janji. Walau dalam kondisi apapun, Syakila maupun Sardin akan tetap menepati janji.”
Nesa terdiam. Yang di bilang sama anaknya memang benar.
”Mama, berjanjilah untuk tidak menghakimi Geo.”
__ADS_1
Nesa mengangguk. ”Iya, Mama janji.”
”Mama, Papa, berjanjilah satu ha lagi pada Sardin. Apapun yang terjadi besok itu jangan bersedih, jangan menangis, dan jangan membenci siapapun.”
Nesa dan Alimin saling pandang. Apa maksud ucapan anaknya itu?
”Sardin, Mama dan Papa tidak mengerti maksud mu. Bisa kamu jelaskan agar Mama dan Papa mengerti.” ucap Nesa.
”Sardin tidak bisa menjelaskannya Mah, Pa. Sardin hanya mau kepastian Mama dan Papa. Mama dan Papa mau berjanji untuk itu?”
”Baiklah, Mama berjanji.”
”Papa juga berjanji.”
”Terima kasih, Mah, Pa. Ukhuk...ukhuk...” Sardin batuk seketika.
”Sardin, Nak. Kamu...” Alimin dan Nesa terkejut melihat darah yang keluar dari hidung dan mulut Sardin saat dia batuk. Mereka jadi panik dan khawatir. Perasaan mereka berdua tiba-tiba menjadi tidak enak.
”Papa akan panggil dokter dulu.” Alimin mengeluarkan hapenya dari saku celana dengan gemetar.
”Tidak usah, Pa. Ambil kan obat Sardin saja.” cegah Sardin.
Alimin terdiam saat hape dari tangannya terjatuh.
”Biar Mama saja yang ambilkan obat mu.” suara Nesa bergetar saat berbicara, matanya penuh kesedihan. Dia mengambil obat Sardin dari laci, di pegangnya obat itu dengan gemetar. Dia memberikan obat itu pada Sardin.
”Pa..Papa keluar dulu.” pamit Alimin. Dia langsung bergegas keluar dari kamar Sardin.
Nesa mengambilkan air minum untuk Sardin. Sardin meminum obatnya.
”Terima kasih, Mah. Sardin mau istirahat dulu.” ucap Sardin.
Nesa mengangguk. Matanya masih memancarkan kesedihan. Dia keluar dari kamar Sardin setelah mencium kening Sardin. Keningnya terasa dingin saat dia cium.
Mama...Papa...maaf kan Sardin. benak Sardin. Air matanya mengalir di kedua pipinya.
.. ..
Di taman bunga, kediaman Sarmi.
Geo merasa tidak tenang saat berhadapan dengan Syakila. Bukan karena apa, si saat melihat wanita itu, mimpinya malam itu terbayang di matanya. Suara ******* dan lenguhan Syakila di mimpi pun terdengar jelas di telinganya.
”Kamu dari tadi terdiam. Kamu ingin bicara apa mencari ku?” tanya Syakila.
”Em...aku ingin membicarakan kondisi Sardin saat ini.” Geo pun mulai membuka suara mengatakan tujuannya datang menemui Syakila.
”Sardin? Dia baik-baik saja kok.”
”Sebenarnya kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Kondisi kesehatannya semakin buruk.” ungkap Geo.
”Aku tahu, kalau masalah sakit kepalanya. Tapi, itu tidak apa-apa. Nanti, setelah menikah aku akan mengajaknya berobat ke Rivaldi.”
”Apa Rivaldi tidak pernah cerita padamu, kalau dia pernah memeriksa kesehatan Sardin?” tanya Geo. Dia serius melihat Syakila.
”Rivaldi pernah memeriksa kesehatan Sardin?”
”Iya.” Geo pun menceritakan apa yang Rivaldi terangkan padanya mengenai penyakit Sardin kepada Syakila. Semua dia ceritakan kepada Syakila tanpa ada yang di tutup tutupi.
”Astaghfirullah! Apakah ini benar? Mengapa Sardin berbohong padaku?” Syakila menangis mengetahui kebenaran kesehatan Sardin saat ini. Badannya lemas seketika.
Geo juga menceritakan jika darah sudah keluar dari hidung Sardin. Tapi, tentu saja Geo tidak menceritakan tentang masalah ”Tanggung jawab” kepada Syakila.
Syakila berdiri. ”Aku harus menemuinya! Aku akan memarahinya! Beraninya dia sembunyikan penyakitnya dariku!”
Dengan langkah cepat, Geo menahan Syakila. ”Dengarkan aku! Sardin memintaku untuk tidak memberitahu mu tentang kondisinya. Tapi, aku bersikeras ingin memberitahu mu. Kamu tenang, jangan panik. Ok?”
”Bagaimana aku gak panik! Gak khawatir! Besok adalah hari pernikahan kami! Teganya kakak padaku...hu..hu..hu...apa aku bukan pacarnya? Makanya dia sembunyikan dariku.”
”Aku tahu kamu khawatir! Jika kamu mendatangi dia seperti ini, apa dia akan senang melihat mu begini?”
Syakila menggeleng.
”Kalau begitu. Kamu dengarkan rencana ku untuk Sardin.”
Syakila mengangguk. Dia masih menangis, hatinya sangat sedih.
”Dengar! Besok, setelah kalian menikah, ajaklah Sardin untuk pergi berobat ke China. Dia pasti akan mendengarkan mu. Di sana, Sardin akan menjalani perawatan traditional dari China. Bujuklah dia. Ok?”
Syakila kembali mengangguk.
__ADS_1