Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 49


__ADS_3

Sesampainya di meja Roni, Halim duduk di bangku dengan mendesah kan nafas kasar di udara. Entah, apa arti dari helaan nafas tersebut. Fahroni juga kembali duduk di bangkunya, dengan tersenyum dan menggeleng melihat Halim seperti itu.


”Urusan ku sudah selesai, Ron. Sekarang, mereka sudah menjadi urusan mu, Roni. Aku akan pulang sekarang! Tolong, bilang supir mu untuk mengantar ku pulang.” ucap Halim.


”Iya, serahkan saja padaku! Ok, ayok kita pulang!” Fahroni berdiri dari duduknya. Halim menatapnya bingung. ”Aku juga ingin segera pulang dan istrahat di rumah, Halim. Jadi, aku akan mengantar mu dulu.” Fahroni menjawab tatapan Halim.


Halim tersenyum. ”Oh, ok ayok!” Halim pun berdiri dari duduknya.


Mereka melangkah keluar sama-sama dari kantor menuju mobil. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Fahroni menjalankan mobilnya. Selama perjalanan menuju rumah Halim, tidak ada perbincangan khusus di antara mereka berdua. Hening! Yang menemani sepanjang perjalanan. Sampai Fahroni berhenti tepat di depan toko Halim.


”Terima kasih, Ron.” ucap Halim. Ia turun dari mobil.


”Sama-sama, Halim.” sambut Fahroni dengan tersenyum. Halim menutup pintu mobil. Fahroni segera menjalankan mobilnya meninggalkan halaman toko Halim.


Halim mengeluarkan kunci rumah dari sak celana dan membuka kunci pintu. Namun, sepertinya pintu itu tidak terkunci. Halim memutar handle pintu dan mendorong pintunya pelan ke dalam. Ternyata benar tidak terkunci, pikir Halim.


”Kenapa Denis tidak mengunci pintu rumah? Kalau ada pencuri masuk, gimana?”


Ia masuk kedalam rumah, lampu masih menyala dan ia melihat Denis yang duduk di kursi menatapnya dengan tatapan tajam bercampur bingung. Halim menutup pintu tanpa menguncinya. Ia mendekati Denis dan duduk di sampingnya.


”Ada apa Denis? Mengapa melihat ku seperti itu?”


”Jam berapa ini, Bang?” tanya Denis dengan marah.


Halim melihat arlojinya pukul 00 : 15 pagi. Lalu, ia memandang Denis.


”Abang tahu? Kapal sudah sandar sepuluh menit yang lalu. Dan Abang baru datang sekarang! Abang Anton mencari Abang kesini, dan aku terpaksa bicara bohong pada Abang Anton, ketika ia menanyakan tentang Abang.” ucap Denis masih dengan marah dan wajah datar.


Halim menghela nafas.


”Maaf kan Abang, Denis. Urusan Abang baru selesai, jadi Abang baru pulang sekarang.” sahut Halim menjelaskan. ”Apa kapalnya sudah strong?”


”Baru sekali, Bang!” jawab Denis masih dengan muka datar.


”Baiklah, Abang akan kepelabuhan sekarang!” Halim berdiri dari duduknya, dengan memegang koper uang.


Membuat Denis tidak kuasa untuk tidak bertanya padanya tentang koper itu.


”Abang, Abang pegang koper apa itu?”


Halim melihat koper yang di pegangnya yang di tatap oleh Denis.


”Oh, ini kopernya orang. Dia menitipkan ini padaku.” sahut Halim berbohong.


”Oh, titipan untuk di pegang ke kampung?” tanya Denis lagi.


Lebih baik ku iyakan saja, biar pendek urusan.


batin Halim.


”Iya, titipan untuk keluarganya yang di kampung. Abang ke kamar dulu.”


Halim melangkah ke kamar tanpa menunggu sahutan Denis. Ia menaruh koper uang itu dengan rapi di lemari pakaian tempat penyimpanan barang berharga. Setelah ia simpan, ia mengunci tempat itu dengan rapat. Baru ia mengunci lemari pakaian dengan rapat pula. Kunci lemari pakaian ia gabungkan dengan kunci kamarnya.


Setelah itu, ia mengambil tas ransel dan menyandang nya di belakang. Dan tangan kirinya, memegang satu tas ukuran sedang. Ia keluar dari kamar dan mengunci pintu kamar dengan rapat.


Melihat Halim yang sudah keluar dengan menenteng tas, Denis berdiri dari duduknya dan mendekati Halim. Ia mengambil tas yang di pegang Halim.

__ADS_1


”Ayo Bang. Biar Denis antar pakai motornya bang Anton, biar cepat sampai di pelabuhan. Keburu kapalnya strong yang ketiga. Abang bisa dengar sendiri, kan? Bunyi kapal itu, strong yang kedua.” jelas Denis.


”Hum, ayok!” sahut Halim.


Denis melangkah keluar dari rumah duluan, hingga sampai di motor. Ia menyalakan motornya sambil menunggu Halim. Halim keluar dari rumah dan mengunci pintu rumahnya. Lalu, ia pergi menghampiri Denis yang terus membunyikan klakson motor. Halim, langsung naik di atas motor setelah sampai pada Denis.


Denis menjalankan motornya dengan kecepatan sedang mengantar Halim ke pelabuhan. Denis menghentikan motornya tepat di tangga naik kapal.


”Terima kasih, Denis. Sampai ketemu nanti! Oh iya, maaf kan Abang tadi, yang pulangnya telat.” ucap Halim.


”Iya, Bang. Santai saja! Salam buat anak dan istri Abang. Dan cepat kembali kesini! Karena menggantikan Abang, waktuku bersama Samnia berkurang lagi.” ucap Denis dengan wajah cemberutnya.


Halim terkekeh. ”Lebih bagus jika jarang bertemu, Denis. Sebab dari itulah bumbu rindu datang untuk mempererat hubungan.” sahut Halim. ”Oh ya, Denis. Jika, ada yang bertanya tentang ku. Jangan terlalu di ladeni! Dan jangan bicara tentang aku sedikitpun kepada orang asing maupun orang dekat yang ingin tahu tentangku. Dan, jagalah toko ku dengan baik!”


”Pesan mu terlalu banyak, Abang Halim. Cepat naiklah! Apa Abang gak dengar? Kapal baru saja strong untuk yang ketiga kalinya.” sahut Denis.


”Ok, sampai ketemu nanti, sampaikan salam ku buat Abang Anton mu itu. Ok.” ucap Halim. Lalu, ia berbalik badan dan segera berlari menaiki tangga kapal sebelum tangganya di naikkan.


Tepat, saat Halim sudah masuk di dalam kapal. Kapal sudah mulai berjalan dan anak tangga mulai di naikkan secara perlahan.


”Syukurlah, aku sampai di waktu yang tepat.”


Halim pergi mencari lokasi yang bisa ia duduki untuk tempat peristirahatannya nanti selama di atas kapal.


Beruntung ia masih mendapatkan satu ranjang kosong yang terdapat di dek dua paling belakang. Ia membaringkan tubuhnya yang lelah.


Ia memikirkan kembali kejadian-kejadian yang ia lalui selama ia di kota A. Halim menarik nafas panjang.


Bagaimana kedepannya nanti, yah? Apapun yang terjadi, aku tidak akan melibatkan anak dan istriku, juga orang-orang yang dekat dengan ku.


batin Halim.


Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian, anak-anakku, istriku.


batin Halim.


Halim tertidur, setelah memikirkan anak dan istrinya.


.. ..


”Bagaimana kamu bisa ketangkep juga, Kevin?” tanya Elsa.


Ia sekarang menjadi bingung. Karena selain dirinya, anaknya juga ikut di tahan. Jika saja, anaknya tidak di tahan, sudah pasti dia akan menelfon anaknya untuk membebaskan dirinya.


”Mama sendiri, bagaimana bisa Mama ketangkep? Padahal Kevin bisa mengandalkan Mama nanti, untuk mengeluarkan Kevin dari tempat sempit ini. Sial! Ini semua gara-gara, Halima!” ucap Kevin marah. Ia memukul dinding sel.


”Mama di jebak. Halima membawa Halim untuk menemui Mama,” Kata Halima. ”Halim ingin menjadikan dia istri kontraknya. Setelah Halim menyimpan uang di atas meja, ia pergi. Setelah kepergiannya, masuklah Roni dan anak buahnya menghadang Mama dan para wanita lainnya. Tadinya, Mama ingin melarikan diri dengan uang senilai Satu milyar. Namun, Fahroni sialan itu menembak betisnya Mama. Akhirnya Mama ketangkep.” jelas Elsa.


”Apa?” Kevin terkejut. ”Halim membawa uang senilai Satu milyar, Mah?” tanya Kevin memastikan.


”Iyah.” jawab Elsa singkat.


”Mah, Mama tahu, Halim orang baru di kota ini, Mah. Dia baru enam bulan disini, bagaimana bisa dia mendapatkan uang senilai Satu milyar dalam kurun waktu dekat, Mah? Sedangkan dia hanya seorang karyawan biasa saja di tokonya orang.” jelas Kevin.


”Ini semua rencana Halima, dan juga rencana dari Roni sialan itu. Mereka berdua bekerja sama menjebak kita menggunakan Halim. Aku akan membuat perhitungan untuk Halima dan Halim nanti.” ucap Kevin dengan menampakan wajah marahnya.


”Menurutmu, uang Satu milyar itu, Halim dapat darimana?” tanya Elsa penasaran.

__ADS_1


”Entahlah, Mah. Kevin juga tidak tahu.” Kevin terdiam dengan muka lemas. ”Mah, sebelum kasus ini, di serahkan ke pengadilan. Sebaiknya, Mama menghubungi bos untuk membebaskan kita dari tempat jelek, terpencil ini. Disini sangat sesak.” usil Kevin.


”Kamu kira Mama mau bertahan di tempat seperti ini? Jangan konyol, Kevin! Tunggu, jika ada petugas datang baru kita pinjam telponnya.” sahut Elsa. Kevin mengangguk.


Ternyata dia benar-benar kekasihmu, Halima. Hebat sekali kamu! Bisa merayu lelaki perjaka seperti dia. Kamu dan kekasihmu itu, akan berakhir di tangan ku, Halima! Aku akan membalas kalian berdua selama aku masih hidup! Jangan harap kalian akan hidup tenang!


batin Kevin.


.. ..


”Kakak, kenapa kakak memeluk pria penipu itu kak? Apalagi, sampai kakak berterima kasih padanya. Kakak tahu, dialah yang menjebak Mulfa sampai Mulfa ada disini. Apa kakak juga di jebak sama pria penipu itu, makanya kakak juga ada disini?” tanya Mulfa penasaran.


Halima tersenyum mendengar keluhan adiknya itu. ”Kalau...kakak bilang bahwa... pria penipu itu yang sudah menyelamatkan Mulfa dan kakak, apa Mulfa akan percaya sama ucapan kakak?” Halima berbicara pelan.


”Hum, Mulfa gak percaya, kak!” sahut Mulfa.


”Mulfa, kak Halim sudah menyelamatkan hidup kita dari genggaman tangan Kevin juga dari tangan Elsa. Mereka berdua adalah penjahat, mereka adalah salah satu pelaku porstitusi._”


”Apa maksud kakak berbicara begitu? Elsa dan Kevin sudah membantu kakak mendapatkan pekerjaan yang layak. Dan Mulfa juga di perhatikan dengan baik sama mereka.” ucap Mulfa menyela perkataan Halima.


Halima memegang kedua bahu Mulfa. ”Sayang, dengar! Mereka berdua tidak memberikan pekerjaan yang layak untuk kakak. Mereka berdua menjebak kakak. Mereka menjanjikan pekerjaan yang bagus untuk kakak, tapi nyatanya, mereka mempekerjakan kakak sebagai....” Halima menghentikan ucapannya. Ia ragu untuk memberitahu itu untuk Mulfa. Halima menunduk.


Mulfa memandang kakaknya yang sedang menunduk dengan bingung.


”Sebagai? Sebagai apa, kak?” tanya Mulfa penasaran.


”Sebagai... seorang wanita penghibur.” Halima menjawab dengan masih menunduk.


”Astaghfirullah!” kaget Mulfa. ”Apa Mulfa tidak salah mendengar, kak?” Mulfa bertanya memastikan.


Halima menggeleng. Ia menunjuk para wanita seprofesinya. ”Mereka semua adalah orang yang sama dengan kakak.” jelas Halima.


”Apa!” Mulfa terkejut kembali sembari melihat para wanita yang sama menundukkan kepala seperti Halima, kakaknya. ”Ja-jadi, kakak selama se-setahun ka-kakak melakukan hal itu, pa-pada setiap lelaki ya-yang datangi kakak?” tanya Mulfa dengan gugup sekaligus terkejut dan tidak percaya atas semua yang di dengarnya.


”Kakak harus melayani mereka untuk mendapatkan uang. Tapi, kamu tenang saja. Kakak masih menjaga kesucian kakak selama ini. Mereka hanya sekadar mencicipi sedikit di area tertentu saja. Tidak sampai menodai kakak.” jelas Halima.


”Benarkah, kak?” tanya Mulfa tidak percaya.


”Setelah Kevin mengantar kakak di Club itu, sore harinya kakak berpura-pura sakit perut. Dan kakak di bawa kerumah sakit. Tanpa sepengetahuan mereka, kakak berbicara pada dokter untuk meminta obat tidur yang paling mujarab. Hanya dari dua, tiga menit setelah meminum obat itu langsung membuat orang yang meminumnya tertidur nyenyak. Dan pas terbangun keesokan paginya ia terbangun ia sudah tidak mengingat kejadian semalam. Dan obat itulah yang sering kakak berikan pada mereka di setiap malam.” jelas Halima.


”Obat? Apa obat yang pernah kakak suruh Mulfa untuk membelinya di seorang dokter wanita yang bernama Anita itu, bukan?” Halima mengangguk. ”Oh, pantas obat dalam botol kecil segitu mahalnya, ternyata obatnya benar-benar efektif.” jelas Mulfa.


”Kenapa Kevin bisa sejahat itu sama kakak? Dan bagaimana kakak bertemu dengan pria penipu itu?” tanya Mulfa lagi ingin tahu.


”Kevin sakit hati pada kakak. Sedangkan Halim, kakak bertemu enam bulan lalu di atas kapal. Saat kakak pulang ke kampung mengunjungi nenek yang sakit. Disitu kakak sudah mulai mendekati Halim dan merayunya untuk bisa menjadikan kakak wanita piaranya. Agar bisa mengeluarkan kakak dari tempat menjijikan itu. Tetapi, dia tidak tertarik. Akhirnya kakak langsung berterus terang ke dia, dan meminta pertolongannya untuk membantu kakak keluar dari tempat itu. Kakak senang, pada akhirnya ia mau menolong kakak.” jelas Halima lagi. Ia memandang Mulfa. ”Dengan cara apa kak Halim menjebak mu? Padahal, sulit untuk mengeluarkan wanita yang di tampung oleh Eagle.”


”Si penipu itu, menjebak Mulfa dengan memasukan liontin nya kedalam tas Mulfa. Lalu, dia bersama polisi datang ke Eagle untuk menangkap ku. Dan aku sangat sebal dan marah sama si penipu itu.” jelas Mulfa dengan separuh emosinya.


Halima terkekeh. ”Lalu, setelah mendengar penjelasan kakak, apa kamu masih marah dengan si penipu itu? Hum?”


Mulfa menggeleng cepat. ”Tidak lagi, kak. Tapi, tetap saja Mulfa sebel sama dia kak. Caranya membuat Mulfa malu, kak.” jelas Mulfa lagi.


Halima menguap. ”Mulfa, lupakan jebakan yang di buat Halim, untukmu. Karena dia yang sudah menolong kita. Ayok tidur! Kakak mengantuk. Nanti, besok baru lanjut kita bicara. Ok.” tawar Halima.


”Iya kak. Mulfa juga sudah mengantuk.”


Mereka pun berbaring dalam lantai tanpa alas di dalam sel itu. Dingin, sempit, yang di rasakan mereka. Namun, tempat itu tempat ternyaman bagi Halima dan perempuan yang ada di sel itu. Karena mereka terbebas dari jeratan pria hidung belang yang mencari kepuasan semata.

__ADS_1


Terima kasih, Halim.


batin Halima. Sebelum ia benar-benar tertidur.


__ADS_2