Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 60


__ADS_3

Hari ini Hamid berjualan hanya tengah hari saja. Ia ingin memenuhi janjinya untuk mengajak Syakila dan Fatma berlibur ke pantai. Halima dan Mulfa sedang memasak nasi kuning dan menyiapkan es buah untuk bekal mereka di pantai.


Setelah mereka selesai makan, mereka mendatangi Syakila dan Fatma di rumahnya. Hamid menghentikan mobil di depan toko pecah belah Sarmi. Biasanya Fatma dan Syakila berada di sana. Ia membunyikan klakson mobil.


Tiin tiin tiin!


Sarmi yang mendengar itu, ia keluar dari toko dan melihat siapa di depan. Hamid menurunkan kaca mobil saat melihat Sarmi yang berdiri di depan toko.


”Sar, Syakila dan Fatma dimana?”


”Oh, mereka ada di rumah bersama Papanya. Kalian kerumah saja, mungkin Syakila dan Fatma sudah bersiap-siap.”


”Baiklah, aku kerumah yah. Oh, ya Sar, mengapa toko kosmetik tidak buka?” tanya Hamid kemudian dengan penasaran.


”Itu, suamiku sangat capek, jadi ia beristirahat di rumah.” terang Sarmi.


”Oh, ya udah aku kerumah yah.” pamit Hamid.


”Iyah.”


Hamid menjalankan mobil dengan pelan. Ia berhenti di depan toko kosmetik Halim yang sedang tutup itu.


”Kalian tunggu disini. Aku masuk ke rumah Halim, memanggil Syakila dan Fatma.” titah Hamid pada Halima dan Mulfa.


”Em, Hamid...biar aku saja yang panggil Syakila dan Fatma. Boleh?” ucap Halima.


”Hum, baiklah. Cepat yah!” sahut Hamid. Halima mengangguk.


Ia turun dari mobil. Dan berjalan menuju rumah Halim. Pintu rumah Halim sedang terbuka. Halima mengintip sebentar di dalam. Ia melihat Hardin dan Ita yang sedang belajar menggambar.


Tok tok tok!


Meskipun pintu terbuka, Halima tetap mengetuk pintu. Membuat Hardin dan Ita melihat ke arah pintu.


”Tante Ima!” seru Ita dan Hardin.


Ita berlari ke pelukan Halima sedangkan Hardin, ia berlari ke kamar papanya. Hardin membangunkan sang papa dengan lembut dengan menggoyangkan kaki papahnya.


”Papah bangun, Pa. Ada tante Ima di depan.”


Halim terbangun karena gerakan kecil di kakinya, dan mendengar suara anak lelakinya itu. Halim terduduk di kasur. Ia menggendong Hardin ke pangkuannya.


”Ada apa sayang?”


”Papa, tante Ima di depan.”


”Tante Ima di depan?” Halim mengulang ucapan anaknya. Hardin mengangguk. ”Kakak Syakila dan Fatma di mana?”


”Kakak Asya dan Fatma di kamarnya, Pa.”


”Kamu panggilkan mereka berdua, bilang kalau tante Ima datang menjemput mereka. Papa akan temui tante Ima di depan.” titah Halim pada Hardin.


”Iya, Pa.”


Hardin langsung berlari keluar lagi dari kamar Halim. Ita yang melihatnya ia pun mengejar Hardin.


”Adik mau kemana?” tanyanya pada Hardin


”Adik mau bangunkan kak Fatma dan Asya. Kakak Ita bangunkan kak Fatma yah, Hardin mau bangunkan kak Asya.” Ita mengangguk.


Ita pergi ke kamar Fatma, dan Hardin pergi ke kamar Syakila. Halima sedang duduk di kursi depan. Halim menghampirinya.


Halima melihat Halim yang duduk di kursi sampingnya. Tidak lama dari duduknya Halim, Ita, Hardin datang bersama Syakila dan Fatma yang dengan menyandang tas di belakangnya. Halim memandang anaknya.


”Fatma, Asya, kalian sudah siap? Tante Ima datang menjemput kalian.”


”Sudah, Pa.” kompak mereka berdua menjawab. ”Tante, ayo kita pergi sekarang!” lanjut Fatma berucap.


”Ok, ayok! Om Hamid dan kak Upa ada di depan sana sudah menunggu di mobil.” terang Halima. Ia berdiri dari duduknya.


”Asyik! Kita jalan-jalan!” seru Syakila. Ia dan Fatma hendak pergi duluan ke mobil.


”Asya, Fatma, ajak sekalian Ita dan Hardin ke bawah. Antar mereka ke toko Mama, Papa akan nyusul setelah Papa mengunci rumah.” jelas Halim.


”Iya, Pa.”


Asya memegang tangan Ita, dan Fatma memegang tangan Hardin mereka turun kebawah. Halima menyusul melangkah di belakang Fatma dan Syakila. Halim pun masuk ke dalam rumah.


Halima menoleh, ia membalikkan badan dan masuk ke rumah Halim. Iya melihat Halim sedang mengunci pintu kamar. Saat Halim membalikkan badan ia terkejut dengan hadirnya Halima.


”Halima?”


Tanpa berkata Halima memeluk Halim. Halim melepaskan pelukan Halima.

__ADS_1


”Halima, apa yang kamu lakukan?” bentak Halim. ”Keluarlah!” usirnya.


”Halim, izinkan aku sekali ini saja memeluk mu.”


”Tidak!”


Halim berjalan cepat ingin keluar dari rumah agar Halima juga keluar dari sana. Jika di luar Halima tidak akan bertindak macam-macam, pikir Halim.


Halima menahan langkah Halim dengan memeluk Halim dari belakang. ”Aku punya janji untuk membalas budiku padamu. Aku...aku ingin menyerahkan perawan ku padamu.”


”Apa?” Halim terkejut mendengar tuturan Halima. ”Jangan gila, Halima!” bentaknya lagi.


Halim menggeleng kepala. Ia melepas tangan Halima dari perutnya. Dan menyeret Halima keluar dari rumah.


”Pergilah, Hamid dan anakku sudah menunggu mu!"


Halim mengunci pintu rumahnya. Lalu ia berjalan meninggalkan Halima yang masih berdiri di pintu.


”Jangan kamu berfikir membalas budi dengan menggunakan tubuh mu padaku! Aku tidak tertarik. Jika kamu ingin membalas budi maka, jadilah wanita yang menghargai tubuhmu sendiri dan jagalah tubuh mu hanya untuk suamimu kelak!”


Setelah mengatakan itu Halim langsung pergi dari sana. Ia melangkah dengan marah.


Untung saja, anak dan istri ku tidak melihat ini, jika mereka melihat ini, maka mereka akan kembali kecewa padaku. Halima, sudah ku duga kamu tidak akan pernah menyerah untuk merayuku. Aku tahu, kamu memang berjanji untuk membalas budi padaku. Tapi...sungguh aku tidak menduga kamu menjanjikan tubuhmu sendiri untuk membalas ku.


Hamid memandang Halim dengan bingung. Ia menyapanya.


”Halim, ada apa kok mukanya cemberut gitu? Dimana Halima? Kami tinggal menunggunya saja.”


”Aku disini Hamid.” sahut Halima yang berada beberapa centi dari belakang Halim. ”Maaf aku sedikit lama, aku baru habis bertelfonan dengan bibiku dan paman di kampung.” ucapnya berbohong.


”Oh, naiklah. Kita harus berangkat.” titahnya pada Halima. Halima melangkah masuk ke mobil tanpa bersuara. Hamid menyalakan mesin mobil.


”Papa, kami pergi jalan-jalan dulu!” teriak Fatma dan Syakila dari dalam mobil.


”Iya Nak. Hati-hati di jalan. Jangan menyusahkan Om, dan Tante yah, Fatma, Asya.” Halim mengingatkan.


”Iya, Papa!” seru mereka berdua lagi.


”Halim, kami berangkat sekarang.” pamit Hamid.


”Hum, berhati-hatilah dalam berkendara. Jaga putri ku baik-baik!”


"Ok!”


”Ada apa sayang? Kok datang-datang mukanya kusut begitu?”


”Papa lagi kesal Mah dengan Halima.” jawab Halim tanpa membuka mata.


Sarmi mengkerut. ”Kenapa dengannya?”


Halim membuka mata. Ia menarik Sarmi duduk di sampingnya. ”Mama, tadi Halima memeluk Papa lagi dengan tiba-tiba.”


”Apa?” Sarmi terkejut.


”Iya Mah. Mama tahu, lebih gilanya lagi, dia bilang dia ingin membalas budi baik Papa dengan menggunakan tubuhnya.”


”Apa?” lagi-lagi Sarmi terkejut. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia memandang wajah suaminya dengan beribu pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Halim menyadari itu.


”Mama, jangan berpikiran macam-macam! Papa tidak akan pernah tergoyahkan oleh siapapun.” Halim memegang wajah istrinya. ”Percayalah pada Papa.”


Sarmi memandang wajah suaminya dengan lekat. ”Mama percaya dengan Papa, tapi Mama tidak bisa menghilangkan ini dari pikiran Mama. Halima akan terus berusaha memikat Papa.” Sarmi menunduk. ”Padahal dia sudah bertunangan dengan Hamid. Ini juga salah salah Papa.” Sarmi menatap Halim.


”Salah, Papa?”


”Iya, Papa yang salah. Mengapa wajah Papa begitu tampan, dan tubuh Papa tetap energik dan bagus. Wanita mana Pa, yang tidak tergoda?” ucap Sarmi dengan cemberut.


Halim terkekeh. Ia kembali menakup wajah sang istri yang cemburu, cemberut, dan kesal itu. ”Tapi di antara wanita itu, Papa hanya tergoda oleh mu saja, sayang!” ucapnya lembut. ”Udah jangan cemberut lagi. Mama, Papa ingin keluar sebentar.”


Sarmi mengernyit. ”Papa mau kemana?”


”Ingin menemui teman Mah, pak Roni.” jawab Halim.


”Pergilah, jangan lama-lama, Pa.”


”Siap bos,” jawab Halim. Ia melihat ke anaknya, mereka sudah tertidur. Halim mengambil kesempatannya. Ia mencium bibir Sarmi dengan lembut. Lama ia menciumnya, setelah itu ia mencium kening Sarmi. ”Papa pergi dulu.”


Halim segera pergi setelah melihat anggukan istrinya. Ia pergi ke rumah dulu. Ia memakai topi dan jaketnya. Lalu ia mengambil koper uang.


Ia pergi menggunakan taksi ke rumah Albert. Sesampainya di sana, ia di sambut dengan senang langsung oleh Albert dan sang istri yang sedang duduk santai di teras rumah.


”Halim. Silahkan duduk!”


”Terima kasih, Tuan Albert, Nyonya Rosiana.”

__ADS_1


Halim duduk di bangku berhadapan dengan mereka. Dan ia menyimpan koper uang di atas meja.


”Tuan, kedatangan saya hari ini untuk mengembalikan uang Satu milyar yang saya pinjam.” Halim membuka koper uang tersebut dan menghadapkannya kepada Albert. ”Silahkan di hitung kembali, Tuan.”


Albert melihat koper uang tersebut. Isinya masih sama seperti awal ia memberikan kepada Halim. Ia menutup kopernya.


”Tidak perlu di hitung, aku percaya padamu.”


”Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu.” pamit Halim.


”Sama-sama, Halim. Silahkan, hati-hati di jalan. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.” sahut Albert.


Halim tersenyum. ”Insya Allah, jika Allah mengizinkan kita akan bertemu lagi. Saya pergi.”


Setelah melihat anggukan suami istri itu, Halim pergi meninggalkan kediaman Albert. Dengan menggunakan taksi, ia pergi ke kantor polisi ingin menemui Roni. Sesampainya di sana, ia langsung menuju tempat kerja Roni. Ia tersenyum melihat Roni yang lagi menatap layar laptop.


”Halo, Ron.” sapa Halim.


Roni mendongak. Ia melihat Halim yang tersenyum padanya. ”Eh, hai Halim. Lama tidak jumpa, mari duduk!” Roni dan Halim saling berjabat tangan. Halim duduk. ”Gimana kabarmu, Halim? Mana oleh-oleh untuk ku.”


”Alhamdulillah kabar ku baik, Ron. Bagaimana dengan mu? Untuk oleh-oleh minta maaf, tidak membawa oleh-oleh dari kampung.”


”Ah, kamu kejam, Halim. Masa dari kampung tidak membawa oleh-oleh, sih.” gerutu Roni.


”Hahaha, maaf Ron. Nantilah, jika lain kali aku pulang ke kampung sendirian, aku akan membawa oleh-oleh untuk mu, ok. Jadi, jangan marah padaku.” tukas Halim.


"Hum, baiklah. Kamu sudah berjanji itu padaku, Halim. Jadi, kamu harus tepati.” sambung Roni.


”Insya Allah, Ron. Aku tidak menjanjikan itu, tapi aku hanya meyakinkan saja, jika aku pulang kampung lagi nanti, aku akan bawakan kamu oleh-oleh.” jelas Halim.


”Hum, terserah mu lah. Oh iya, aku memberitahukan mu, jika Kevin sudah bebas dari penjara. Dan Elsa, dia sudah meninggal dunia, ia mengidap penyakit Aids.”


”Astaghfirullah, innalilahi wa Inna ilaihi raji'un. Bagaimana mungkin, Kevin bebas begitu saja?”


”Dia tidak bebas begitu saja, Halim. Ia masih dalam pengawasan kami, ia bebas bersyarat. Ada seseorang yang mendukungnya dari belakang. Jika dalam satu bulan ini dia mendapat kasus sebanyak tiga kali maka, ia akan kami tahan lagi.” terang Roni.


”Oh, begitu. Terima kasih atas informasinya. Aku pamit dulu.”


”Kok buru-buru!”


”Aku harus pulang, Ron. Istriku sendirian yang menjaga toko.” jelas Halim.


”Istri?”


”Iya, Ron. Aku membawa anak dan istriku disini. Jika kamu ingin bertemu dengan anak dan istriku, jalan-jalan lah di rumah ku.”


”Oh, baiklah. Aku tidak akan mencegah mu. Pulanglah, hati-hati di jalan.”


”Ok.” sahut Halim.


Ia pun pergi dari kantor polisi. Ia sedang menanti taksi yang lewat. Tanpa di duga Kevin melihat Halim.


”Itu dia! Sudah lama aku mencari dan menunggu kedatangannya. Sekarang kita bertemu lagi Halim! Saatnya aku membalas mu! Nyong, Pa'ang, Erik, Dido, ayok cepat keluar dan tangkap dia!” ucap Kevin dengan marah menunjuk ke arah Halim.


”Baik, bos!”


Ia keluar dari mobil bersama anak buahnya dan berlari ke arah Halim. Halim yang sedang menahan taksi, ia terkejut melihat Kevin yang berlari ke arahnya dengan beberapa orang anak buahnya. Sayangnya, taksi yang ia tahan ada penumpangnya. Ia pun berlari untuk mengelabui mereka.


Halim berlari dan terus mencoba menahan taksi. Kevin dan yang lainnya tidak kalah cepat larinya dari Halim. Sedangkan seorang lagi yang mengendari mobil, ia menjalankan mobilnya dengan pelan di belakang Kevin.


Di saat Kevin sudah mendekati Halim, Halim segera masuk ke dalam taksi.


”Jalan, Bang! Antar saya ke pasar!”


Sang supir mengangguk. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


”Sial!” Kevin mengepalkan tangan dan memukul angin.


”Bos, mobil di belakang. Ayok masuk bos kita kejar dia!” ucap Erik.


"Bagus!"


Mereka pun masuk ke mobil. Dan mengejar taksi yang di tumpangi Halim. Taksi Halim berhenti di pasar, ia segera membayar dan turun dari mobil. Ia berlari ke toko Denis. Denis sudah selesai menyimpan tinggal menutup pintunya saja. Halim langsung masuk ke dalam toko Denis.


”Denis!”


Denis terkejut melihat keadaan Halim sekarang. ”Bang Halim? Abang kenapa? Kok keringatan begitu?”


Halim mengatur nafasnya sejenak. ”Denis, setelah kamu tutup. Pergilah ke istriku dan bantu dia menyimpan barangnya. Setelah itu bawa dia dan anakku ke rumah Anton.”


Denis makin kebingungan. ”Bang, ada apa sebenarnya, Bang? Abang saja yang bantu istrinya Abang menyimpan, aku ada janji bertemu dengan pacar ku, Bang!” tolak Denis.


”Ya sudah!”

__ADS_1


Halim langsung keluar dari toko Denis dan berlari cepat ke toko istrinya.


__ADS_2