
Sarmi melihat wajah lelah suaminya yang sedang tertidur. Ia mengelus pelan wajah sang suami yang sangat ia rindukan. Pelan dan lembut ia mengecup kening suaminya.
Cup
”Selamat malam, sayang. Istrahat lah. Kamu tahu, malam ini aku sangat senang. Setelah beberapa bulan lamanya, akhirnya aku bisa tidur di sampingmu dan memelukmu seperti biasa.”
Gumam kecil Sarmi. Ia kembali mencium mesra kening sang suami, dan ia berbaring di samping suaminya dan memeluknya erat. Satu jam berlalu, namun, Sarmi tidak bisa tidur. Ia gelisah, ia membolak balikkan badannya ke kiri dan kanan. Ia semakin gelisah, kini ia sedang duduk sambil memandang wajah teduh sang suami. Akibat gerakan bolak balik Sarmi, membuat sang suami terbangun. Ia membuka mata. Dan melihat sang istri sedang duduk memandangnya.
”Ada apa Mama? Sepertinya Mama sedang gelisah. Apa yang Mama gelisah kan?”
Halim sudah terduduk di kasur. Ia meraih tubuh Sarmi agar dekat dengannya.
”Papa, Papa terbangun? Maafkan Mama, sudah mengganggu tidurnya Papa.” ucap sesal Sarmi.
”Tidak apa-apa. Apa yang Mama gelisah kan?” Halim bertanya kembali sambil mengelus lembut kepala istrinya.
”Ehm, itu...Mama...em tidak ada, Pa. Ayo kita tidur lagi.”
Sarmi menarik selimut dan kembali berbaring di samping suaminya. Halim tersenyum penuh arti dengan sikap istrinya itu. Ia juga ikut berbaring. Namun., bukan berbaring di samping sang istri.
Ia berada di atas tubuh sang istri, dan memandang lekat mata wanita yang di cintainya itu. Melihat tatapan mata sang suami yang mendamba dan penuh kelembutan, membuat kedua tangan Sarmi terangkat dan melingkarkan tangannya ke belakang kepala suaminya.
Sarmi mengecup ringan bibir sang suami. Saat ia melepaskan ciumannya, Halim justru menahan tengkuk sang istri dan membalas ciumannya. Halim merasakan kenikmatan bibir sang istri yang sudah lama ia tidak cium itu. Halim semakin memperdalam ciumannya, *******, dan menggigitnya pelan. Lalu, ia melepaskan ciumannya. Ia memiringkan kepalanya ke samping kanan istrinya. Hingga bibirnya tepat berada di telinga sang istri, Halim berbisik padanya.
”Papa tahu, apa yang Mama gelisah kan. Papa juga merindukan hal ini bersama Mama. Papa rindu Mama. Rindu kehangatan Mama, rindu belaian Mama.”
Sarmi tersenyum senang mendengar suara bisikan sensual Halim, ia tidak membalas ucapan sang suami. Ia membalas dengan tindakannya. Perlahan, Sarmi membuka kancing baju sang suami dan mulai merangsang sang suami untuk melakukan kegiatan wajib mereka sebagai suami istri yang sah.
Kerinduan, kegelisahan, mereka padukan menjadi satu. Mereka saling terbuai, terlena, akan buaian tangan masing-masing. Bulan yang bersinar menghiasi langit malam menjadi saksi perpaduan mereka.
Setelah, sama-sama mendapatkan kepuasan lahir batin. Kini mereka sedang berbaring sambil memeluk satu sama lain. Halim merentangkan tangan kanannya di bawah kepala Sarmi. Ia mengecup kening sang istri.
”Istirahatlah sayang, malam sudah larut. Besok kita harus ke pasar untuk membeli perlengkapan untuk persiapan ketiga dan ketujuh harinya ibu.”
Sarmi yang sudah menguap dan merasa mengantuk, ia mengangguk. Ia tertidur dalam dekapan sang suami. Tidak membutuhkan waktu lama. Sarmi telah tertidur pulas. Halim tersenyum senang. Ia kembali mencium kening sang istri yang masih berkeringat itu. Lalu ia semakin mengeratkan pelukannya, dan ia pun memejamkan mata, melanjutkan kembali tidurnya setelah melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
.. ..
Matahari telah terbit menggantikan posisi malam. Sarmi terbangun mendengar suara burung-burung kecil yang bertengger di pohon-pohon samping jendela kamar.
Ia menggeliat. Ia merasakan sebuah tangan yang sedang memeluk tubuhnya. Sarmi memiringkan kepalanya. Ia melihat wajah sang suami yang masih tertidur pulas.
”Sudah puas memandangi wajah ku, sayang?” Halim bertanya, namun, matanya masih terpejam.
Membuat Sarmi mencubit hidung mancung Halim. ”Papa sudah bangun rupanya, namun masih berpura-pura tidur. Mama kira Papa tadi sedang bermimpi.”
Halim tersenyum tipis dan membuka matanya, ia ikut memiringkan tubuhnya menghadap Sarmi.
”Mengapa harus bermimpi? Sedangkan wanita yang selalu masuk dalam mimpiku, ada di hadapanku. Bahkan dengan nyata aku mencumbunya.” goda Halim.
Sarmi mencubit perut polos suaminya. Ia merasa malu di goda Halim.
”Aduh sayang! Sakit!” keluh Halim. Ia menangkap tangan Sarmi yang mencubitnya.
”Makanya, Papa sih, ngomongnya terlalu fulgar begitu. Udah Pa, Mama mau mandi dulu. Lalu, menyiapkan sarapan untuk kita semua.” Sarmi bangkit dari tidurnya dan memakai handuk mandinya. ”Papa juga cepat bangun dan mandi. Gak enak, jika kita berdua selalu berada di dalam kamar. Apa kata mereka nanti?”
”Iya, sayang! Setelah Mama mandi, baru Papa akan mandi.” sahut Halim. Ia kembali membaringkan tubuhnya di kasur.
Sarmi geleng-geleng kepala. Ia keluar dari kamar dan pergi mandi. Setelah selesai mandi, ia bergantian dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Ia menggoreng pisang dan ubi jalar, untuk sarapan pagi mereka. Dan ia juga membeli beberapa jenis kue dari tetangganya yang berjualan kue.
__ADS_1
Setelah siap, ia kembali pergi ke kamar untuk melihat sang suami.
Ternyata sudah bangun.
batin Sarmi.
Ia keluar dari kamar. Ia membangunkan anak-anaknya juga anak-anak kemenakannya dari tidur pulas nya.
Di saat itu juga saudara Sarmi terbangun semua. Sarmi menyuruh Syakila dan Fatma untuk segera mandi dan memandikan adik mereka juga.
Sarmi menyiapkan sarapan pagi. Bertepatan dengan Halim yang sudah datang dengan tampak segar. Ia duduk di lantai yang beralaskan tikar, bergabung dengan saudara iparnya. Sarmi juga duduk di samping sang suami.
”Bagaimana kehidupan mu selama beberapa bulan di kota, Halim?” Edi, kakak dari Sarmi bertanya.
”Alhamdulillah, baik-baik saja, kak ipar.” jawab Halim. Ia meraih gelas teh dan meminumnya, lalu meletakkan gelasnya kembali ke lantai. ”Oh ya kak, mengapa Halim tidak melihat kakak ipar, selama Halim berada di kota?”
”Oh, kakak sudah pindah ke kota lain. Kakak, tidak bertugas di kota itu lagi.” jelas Edi. ”Lalu, bagaimana selanjutnya? Apa kamu akan kembali kesana sendirian lagi? Atau bersama anak dan istrimu?”
”Aku akan kembali ke kota nanti, setelah empat puluh harinya ibu selesai. Aku akan membawa anak dan istriku kesana, kak.”
”Oh, baguslah kalau begitu.” sahut Edi.
Kini tidak ada pembahasan lagi di antara mereka. Mereka menghabiskan sarapan paginya dengan diam. Setelah selesai, kakak dan adik Sarmi berpamitan untuk pulang kerumahnya.
”Sarmi, kami pulang dulu. Nanti, setelah Isya baru kami kembali kesini untuk menginap.” ucap Edi, sekaligus mewakili mila. untuk berpamitan. ”Oh iya, tidak perlu repot menyiapkan makan malam untuk kami nanti, yah. Kami akan makan dulu sebelum kesini.”
”Iya kak. Dan hati-hati di jalan. Kamu juga dek, hati-hati di jalan.” sahut Sarmi.
”Iya.” kompak Edi dan Mila menjawab. Namun, sebelum pergi Edi mengeluarkan amplop dari sakunya. Ia memberikan pada Sarmi. ”Ini sedikit uang untuk berbelanja kebutuhan besok dan tujuh harinya ibu nanti. Uangnya Mila juga, sudah bergabung di situ.” jelas Edi.
Sarmi menerima amplop itu dengan tersenyum. Edi beserta istri dan anaknya segera keluar dari rumah Sarmi. Begitu juga dengan Mila beserta anak dan suaminya. Mereka segera pulang ke rumahnya.
”Mama, Papa kami datang!” seru Hardin, Yuli, Ita dan Endang bersamaan. Sedangkan Fatma dan Syakila mereka hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu.
”Eh, anak Papa dan Mama sudah datang? Wah, harum sekali.” puji Halim yang menyambut kedatangan anaknya.
”Iya dong, Papa. Sudah habis mandi, jadi harum dong!” Yuli dan Hardin yang menyahuti ucapan Halim bersamaan.
Halim mengacak rambut basah mereka bergantian. ”Anak pintar!” pujinya.
Sarmi datang dari dapur dengan membawa gelas dari dapur. Ia menuangkan teh untuk anak-anaknya. Dan ia juga menyuguhkan kue untuk mereka.
”Fatma, Syakila, ayo duduk disini. Jangan berdiri saja disitu.” Sarmi memanggil anak pertama dan keduanya itu untuk bergabung. Mereka patuh. Kini mereka duduk berkumpul semua.
Sarmi dan Halim menyaksikan anaknya yang memakan sarapan paginya dengan lahap, mereka tersenyum bahagia.
Semoga keluargaku akan terus berkumpul dan bahagia seperti ini, selamanya. Aamiin.
batin Sarmi dan Halim bersamaan.
”Asya, Fatma. Kalian berdua, jaga adik-adik kalian, yah. Mama dan Papa akan pergi ke pasar untuk membeli keperluan besok, tiga harinya nenekmu.” ucap Sarmi.
”Iya Mah, jawab Syakila dan Fatma bersamaan.
Semenjak nenek sakit keras, Fatma sudah tinggal bersama mamanya. Itupun ia karena Fatma memenuhi permintaan terakhir neneknya. Jika tidak, ia masih tinggal bersama bibinya.
Halim dan Sarmi segera pergi ke pasar. Karena keberadaan pasar yang cukup jauh. Halim dan Sarmi membelanjakan sekaligus keperluan untuk tujuh hari ibunya. Setelah selesai berbelanja, mereka segera pulang kerumah.
Halim sempat membelikan sebuah mainan untuk anaknya dan juga beberapa buah baju untuk mereka. Mereka sangat bahagia setelah sampai di rumah. Bagaimana tidak, buah hati mereka selalu menyambut kedatangan mereka dengan ceria dan senang.
__ADS_1
Halim sedang bersama Yuli, Ita, Endang, dan Hardin. Sedangkan Syakila dan Fatma, mereka sedang membantu mamanya memasak di dapur.
Setelah masakan siap, mereka menata makanan. Lalu, Syakila memanggil Papa dan adiknya untuk makan dalam diam. Setelah selesai makan, Sarmi menidurkan Yuli, Ita, Hardin, dan Endang. Sedangkan Syakila dan Fatma sedang mengerjakan Pr-nya.
Halim juga istrahat di dalam kamar. Setelah anaknya tertidur, Sarmi mendatangi suaminya. Ia membuka pintu kamar. Dan melihat sang suami lagi berbaring dengan memejamkan mata.
”Papa, sudah tidur?”
Halim membuka matanya mendengar suara istrinya. Ia bangun dari baringnya, dan duduk di atas kasur.
”Belum, Mah. Kenapa? Mama masih kangen? Ayok Papa sudah siap.” goda Halim.
Sarmi mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan menghampiri sang suami.
”Ih, Papa. Ngomongnya kok jadi fulgar setelah dari kota. Apa jangan-jangan... Papa_”
Halim menempelkan bibirnya pada bibir Sarmi untuk menghalau ucapan Sarmi yang ngawur.
”Jangan bicara yang tidak-tidak! Papa di sana hanya fokus mencari, bukan perbuat yang tidak-tidak. Cinta, hati, dan tubuh Papa terkunci hanya untuk Mama.” ucap Halim.
”Iya Pa, Mama percaya dengan Papa. Maafkan Mama, yah.” ucap sesal Sarmi.
”Iya Mah, Papa maafin. Oh iya, Fatma sudah tinggal bersama kita lagi yah, Mah?” tanya Halim penasaran.
”Iya, Pa.” jawab Sarmi. ”Fatma tinggal bersama kita semenjak ibu keluar dari rumah sakit. Ibulah, yang meminta Fatma untuk tinggal lagi bersama kita.” jelasnya.
”Oh, begitu.” sahut Halim. ”Mah, mengapa ibu meminta keluar dari rumah sakit?” Halim masih penasaran dengan jawaban yang sebenarnya. ”Apa benar karna biaya rumah sakit yang tidak ada, makanya ibu minta pulang kerumah?” tebak Halim. ”Jangan bohongin Papa, Mah. Bicarakan yang sebenarnya.”
”Em, itu... sebenarnya iya, Pa. Ini masalah biaya rumah sakit. Uang yang Papa kirimkan ke Mama, Mama habiskan untuk pengobatan ibu. Ibu belum pulih, tapi dokter juga tidak ingin mengobati ibu tanpa pembayaran terdahulu. Waktu itu, kak Edi masih dalam perjalanan ke kampung. Sedangkan Mila...ia baru saja memakai uangnya untuk modal minyak tanah dan jualannya di pondok. Jadi, ia tidak memiliki uang. Jadi, ibu meminta pulang saja di rumah. Ibu, terlihat kecewa kepada Mila. Ibu tidak percaya jika Mila tidak mempunyai uang. Setelah kak Edi datang, ia mengajak ibu kembali kerumah sakit. Tetapi, ibu tidak mau.” katanya ibu, ”Kalau ayah, sudah menunggunya pulang bersama. Tapi, ibu bertahan untuk menunggu Papa pulang. Kami sudah menitipkan pesan kepada orang yang kebetulan pergi ke kota itu untuk meminta Papa pulang dulu. Tapi, tak disangka ternyata Papa sudah datang.” jelas Sarmi.
”Astaghfirullah, mengapa adik seperti itu, Mah?”
”Sudahlah, Pa. Ini semua sudah berlalu. Tidak usah di bahas lagi.” pinta Sarmi. Halim mengangguk. ”Bagaimana kalau kita bahas keseharian Papa saja selama di kota?” usul Sarmi.
”Mama ingin tahu keseharian Papa selama di kota?” Sarmi mengangguk. ”Tidak ada yang menarik, pagi-pagi Papa pergi ke pasar, membuka jualan dan menjual. Pulangnya sore hari. Sesekali Papa pergi ke Club, dengan Anton, Denis, dan Hamid.” jelas Halim.
Mendengar kata Hamid, Sarmi mengernyit heran. Ia terbengong.
Hamid? Apakah Hamid yang di maksud adalah dia? Ah, tidak. Banyak orang yang memakai nama tersebut. Bahkan nama Halim, dan namaku sendiri ada juga yang memakainya.
batin Sarmi.
Halim tahu apa yang di pikirkan istrinya itu. Ia memasang wajah cemburu. Yang padahal, ia tak dak cemburu sama sekali.
”Papa cemburu sekarang ini, Mama terang-terangan di hadapan Papa, memikirkan pria lain.” Halim memandang keluar jendela.
Sarmi tersenyum kecil. Ia mencubit hidung mancung suaminya.
”Jangan cemburu! Mama hanya menebak saja, apa dia adalah Hamid yang ku kenali atau bukan.” jelas Sarmi.
”Hum, sayangnya memang ia. Dia adalah Hamid yang pernah singgah di hati Mama.” ucap Halim.
”Oh, ternyata benar.” sahut Sarmi.
”Mama tidak ingin menanyakan kabarnya dia bagaimana sekarang?” ucap Halim lagi.
Sarmi menggeleng. ”Tidak penting juga, Pa. Dia hanya masa lalu Mama.” Sarmi menyilang kan kedua tangannya di belakang kepala Halim. ”Yang terpenting adalah Papa. Karena Papa adalah masa depanku.”
Sarmi mengecup pelan bibir sang suami. Halim menyambutnya dengan hangat. Ia kembali melancarkan aksinya dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
__ADS_1