Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 77


__ADS_3

Meskipun Syakila menangis tanpa suara, namun Geo sangat pusing melihat air mata Syakila yang terus saja mengalir.


”Berhentilah menangis! Kamu seperti anak kecil saja, aku pusing melihatmu menangis terus.”


Syakila tidak menyahuti ucapan Geo, ia beranjak berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar pribadi Geo.


”Kamu mau kemana?”


Syakila menghentikan langkahnya, ia menoleh melihat Geo. ”Aku akan keluar supaya kamu tidak pusing melihat ku.” jawabnya. Lalu ia melenggang pergi ke bagian pilot tanpa mengindahkan tatapan tajam Geo.


Ia duduk di bangku belakang kursi pilot. Ia memejamkan mata. Syakila mengingat kembali saat dirinya dan Sardin sedang duduk bersandar berdua di lapangan gedung Cobra usai latihan.


”Kila, apa kakak penting buat Syakila?”


”Tentu saja kakak penting buat Kila. Sangat penting bagi kehidupan Kila. Jadi, kakak jangan tinggalkan Syakila ya.”


Sardin tersenyum, ”Kakak tidak akan ninggalin Kila, tidak akan pernah ninggalin Kila apapun yang terjadi. Kakak sangat mencintai Kila, jadi tidak ada alasan kakak untuk ninggalin Kila.”


”Kakak sebegitu yakinnya tidak akan ninggalin Kila. Memangnya sepenting apa Kila buat kakak?”


Sardin merubah cara duduknya, ia berhadapan dengan Syakila. Sardin menatap mata Syakila dengan lembut.


”Syakila, Kila begitu penting buat kehidupan kakak, sangat penting. Syakila sudah seperti nafasnya kakak. Jika Kila pergi dari kakak, kakak tidak akan bisa bernafas dengan baik. Mungkin di saat Kila ninggalin kakak, nyawa kakak juga akan habis.”


Syakila kembali terisak mengingat perkataan Sardin dan mengingat saat Sardin pingsan di dalam pelukannya.


”Kakak hu..hu...bagaimana keadaan mu sekarang kak? Apa kakak sudah sadar? Kila mohon, kakak baik-baik saja disana.”


Suara tangis Syakila begitu pilu, hingga pilot yang mendengar suara tangis Syakila menjadi iba. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam sembilan puluh menit pesawat mengudara di udara sekarang jet pribadi Geo telah mendarat sempurna di bandara kota A.


Syakila segera turun dari pesawat tanpa menunggu Rosalina maupun Beni, ataupun Geo. Setelah pintu pesawat terbuka. Hal yang utama ia lakukan setelah sampai di darat adalah menghubungi mamanya. Sambungan tersambung.


”Halo Mah, Mah bagaimana keadaan kak Sardin?”


”Sardin sudah siuman setelah dua puluh lima menit keberangkatan mu Nak. Apa kamu sudah sampai di kota A, sayang? Apa dia berlaku baik padamu, Nak?”


”Mama, apa kak Sardin sudah pulang dari rumah?” Syakila tidak menghiraukan pertanyaan mamanya.


”Iya, Mama menelfon orang tuanya untuk menjemput Sardin. Dia sangat terpuruk Nak dengan pernikahanmu, apalagi setelah ia tahu kalau kamu sudah berangkat ke kota A. Hati Mama sebagai seorang ibu, sangat merasa sedih Nak melihatnya. Nesa pun menangis melihat anaknya yang seperti itu.” jelas Sarmi.


Syakila kembali menangis. ”Mama, apa kak Sardin akan membenci Syakila Mah? Bu Nesa dan pak Alimin juga pasti sangat kecewa sama Syakila Mah.”


Pembicaraan Syakila dan mamanya di dengar oleh Geo, Rosalina, dan Beni yang baru saja turun dari pesawat.


”Mama, maaf Syakila matiin telfonnya sekarang.” belum mendengar sahutan Sarmi, Syakila sudah memutuskan sambungan.


Syakila jongkok di tengah bandara itu. Ia mencoba menenangkan hati dan pikirannya sendiri. Ia mencoba menghubungi Sardin. Namun Sardin tidak mengangkat telfonnya.


Mengapa kakak tidak angkat telfon ku kak? Apa kakak benar-benar kecewa sama Syakila? Kakak tidak mau berbicara lagi dengan Syakila?


”Kakak, Kila tidak mengharapkan itu. Kila ingin kita tetap berkomunikasi kak.”


”Berkomunikasi dengan siapa? Aku melarang mu berkomunikasi dengan mantan kekasihmu.” ucap Geo.


Syakila menoleh ke belakang, ia melihat Beni dan Rosalina berdiri di belakang nya. Beni memegang kursi roda Geo.


”Kamu tidak berhak melarang ku Geo, sama siapapun aku berhubungan kamu tidak berhak melarang ku.” ucap Syakila dnegan marah.


”Aku berhak Syakila. Sangat berhak semenjak aku mengucapkan ijab kabul, kamu sudah menjadi tanggung jawab ku. Sebagai istri, kamu harus menuruti ucapan ku.” ucap Geo dengan menekankan suaranya.


Syakila memandang tajam pada Geo. Rosalina sangat tahu jika Syakila masih merasa terpukul sekarang, jika Geo terus berkata kasar pada Syakila, Syakila bisa stres. Dan hubungan Geo dan Syakila juga akan tidak baik. Rosalina sadar akan temperamen buruk pada anaknya.


”Beni, ajaklah Syakila duluan ke mobil.” titah Rosalina.


”Iya Tante.” sahut Beni. Tanpa perlu di suruh lagi Syakila mengikuti langkah Beni. Ia masuk ke mobil. Beni kembali menemui Rosalina dan Geo.


”Geo, Mama akan pergi ke pusat. Mama harap dan mohon sama kamu perlakukan Syakila dengan baik. Berbicara baiklah sama dia, jangan berlaku kasar. Setelah urusan Mama selesai di sana baru Mama akan kembali kesini.” ucap Rosalina.


”Semua tergantung dari dia saja Mah. Jika sikapnya baik sama Geo, Geo juga akan bersikap lebih baik sama dia.” sahut Geo.

__ADS_1


”Sayang, mengertilah perasaannya yang sedang terluka sekarang, Mama mohon perlakukan dia dengan baik. Dia berada disini sekarang karena kita. Disini tidak ada keluarganya, hanya kita yang menjadi keluarganya sekarang. Bisakah kamu menjaga sikapmu padanya?”


Geo tidak menyahuti ucapan mamanya. Beni telah berdiri di belakang kursi roda Geo.


”Beni, perhatikan sepupu mu. Kamu bereskan urusan kantor disini. Untuk Geo sudah ada istrinya yang akan mengurusnya. Tante akan ke kota pusat sekarang.”


”Iya Tante.” sahut Beni.


Rosalina kembali masuk ke dalam pesawat. Beni dan Geo pergi ke mobil.


”Kakak ipar, bisakah membantu ku menaikkan Geo ke mobil?”


Syakila tidak berbicara, ia segera turun dari mobil dan membatu Beni menaikkan Geo ke mobil. Beni pun masuk ke mobil dan duduk di bagian kemudi.


Beni menyalakan mesinnya. Ia memutar arah mobil.


”Beni, mengapa kamu sudah menjalankan mobilnya? Tante Rosalina bagaimana?" ucap Syakila.


Cewek matre ini mengkhawatirkan ibu ku kah? Serius atau hanya pura-pura?


batin Geo.


”Kakak ipar, Tante Rosalina tidak ikut dengan kita. Ia lanjut pergi ke kota pusat, ada urusan mendesak di sana.”


Oh, ternyata memang benar ada urusan penting makanya mereka buru-buru.


”Oh, begitu.” singkat Syakila menyahut.


”Iya kakak ipar.”


”Beni, kalau bisa jangan panggil aku kakak ipar, panggil saja namaku Syakila, atau Asya.” Syakila meralat ucapan panggilan Beni untuknya. Geo melirik Syakila.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, kini mereka sampai di kediaman Albert. Mereka segera turun, Syakila kembali membantu Beni menurunkan Geo. Syakila terpukau dengan megahnya rumah kediaman Albert. Ia memandangi rumah itu tanpa berpaling memandang. Geo menyadarinya.


Baru melihat rumah yang besar ini saja sudah terpukau, bagaimana kalau tahu jenis kekayaan ku? Secepat kilat pasti dia akan menyanjung ku dan melupakan mantan kekasih itu.


batin Geo.


”Hum,” singkat Geo menyahuti.


Mereka masuk ke dalam rumah. Syakila benar-benar memuji keindahan rumah tersebut dari dalam hatinya.


”Syakila, ikut denganku kita bawa Geo ke kamar sekalian kamar mu.” ucap Beni. Syakila mengangguk.


Syakila mengikuti arah Beni yang mendorong kursi roda Geo. Mereka pergi ke arah kanan di samping tangga. Beni memencet tombol, pintu lift terbuka. Beni mendorong kursi roda masuk ke dalam lift, Syakila tetap mengikuti.


Mereka tiba di lantai tiga rumah itu, di sanalah kamar Geo berada. Hanya kamar Geo dan kamar olahraga Geo yang ada di lantai tiga.


Geo membuka pintu kamarnya menggunakan kata sandi pola DG, singkatan dari nama Dawiyah Geovani. Begitu juga dengan kode kamar di apartemennya, kodenya sama dengan kode kamar Geo di kediaman Albert. Mereka masuk ke kamar.


”Geo, aku akan ke kantor dulu. Ada sedikit masalah yang harus ku atasi. Jika kamu ada perlu apa-apa bilang saja pada Syakila.” ucap Beni.


Geo mengangguk, Beni melangkah keluar dari kamar Geo.


”Beni, di mana letak kamar ku?” Syakila mencegah langkah Beni dengan pertanyaan.


Beni melihat Geo sebelum ia menjawab pertanyaan Syakila.


"Syakila, kamar ini adalah kamar kalian berdua. Kalian adalah suami istri. Jadi sudah seharusnya tidur sekamar.” jelas Beni.


Syakila terdiam. Beni melanjutkan langkahnya keluar dari kamar. Kini tinggal Geo dan Syakila. Syakila duduk di sofa panjang yang sedikit lebar yang ada di kamar Geo.


Ia bingung mau berbuat apa. Geo melihat Syakila yang duduk termenung.


Apa yang dia pikirkan? Apa dia memikirkan mantan kekasihnya itu?


”Hei, bisakah kamu memasak? Aku sangat lapar." titah Geo.


"Bilang saja di mana letak dapurnya. Aku akan memasak yang ku bisa untuk mu.” sahut Syakila dengan wajah datar dan tanpa melihat Geo.

__ADS_1


"Dapurnya ada di sebelah dari tangga, terus saja dan belok lagi ke kiri, disitu letaknya dapur.” jelas Geo.


Syakila beranjak keluar dari kamar, ia mencoba membuka pintu namun pintu tidak terbuka. Meskipun sudah memutar handle pintu berkali-kali.


”Pintu itu tidak berfungsi jika di buka dengan memutar handle nya, terkecuali kode pintu sudah rusak baru bisa berfungsi. Buka pintunya dengan membuka kode DG huruf besar.” jelas Geo lagi.


Tanpa menyahuti Geo, Syakila mengikuti arahan Geo. Dan ia mengingat kode pintu tersebut. Syakila turun melalui tangga. Meskipun tangganya sangat tinggi dari lantai tiga, ia tetap menuruni tangga tersebut.


Ia berbelok ke arah kiri dari tangga setelah ia sampai di lantai dasar. Ia terus berjalan hingga mendapat lorong sebelah kiri dan kanan. Ia berbelok ke sebelah kiri, sesuai arahan Geo.


Akhirnya ia sampai di dapur. Ia mulai memasak dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Setelah kurang lebih tiga puluh menit ia memasak, kini masakannya telah selesai. Ia menyiapkan makanan untuk Geo, lengkap semuanya.


Nasi, ikan, sambal, sayur, air minum, air cuci tangan, ia atur dalam nampan dan membawanya ke kamar Geo dengan menapaki anak tangga.


Sepanjang jalan dari kamar Geo hingga ke dapur dan kembali lagi ke kamar Geo, kok sepi yah? Tidak ada orang, pelayan misalnya. Bukankah rumah sebesar ini paling setidaknya terdapat lima atau enam pelayan kan? Ada yang bertugas untuk dapur, membersihkan lantai dan lain sebagainya. Tidak mungkin kan rumah sebesar ini di bersihkan oleh Rosalina sendiri.


Syakila tiba di depan kamar Geo. Ia meletakkan nampan di lantai, ia membuka kode kamar dan kembali mengambil nampan dan membawanya masuk ke kamar.


”Kenapa lama sekali? Kamu ingin membunuh ku yah?” ketus Geo berucap.


Syakila memandang tajam pada Geo setelah itu ia mengabaikannya. Ia meletakkan nampan di atas meja yang ada tersedia disana. Baru ia mendorong kursi roda Geo menghampiri meja tersebut.


"Makanlah." ucap Syakila sambil berjalan ke kursi sofa.


”Tidak bisakah kamu menyuapiku?"


”Tuan, yang cacat itu kakimu, bukan tangan mu. Jadi makanlah dengan tangan mu sendiri.” sahut Syakila. Syakila lanjut berjalan. Namun Geo menarik tangan Syakila dengan keras hingga Syakila jatuh ke lantai.


”Kamu hanyalah gadis pelunas hutang. Aku menikahi mu hanya sebagai pembantu yang mengurusi ku. Jadi, turuti ucapan ku. Gadis pelunas hutang!”


Syakila memandang Geo tanpa bersuara. Ia matanya berkaca-kaca. Ia bangun dari lantai, ia menggeser kursi dan duduk di sana. Ia mulai menyuapi Geo tanpa memandang wajah Geo sedikit pun.


”Gunakan tangan mu, buang sendok itu.”


Syakila menurut saja tanpa berkata dan melihat Geo. Ia menyuapi Geo sampai makanan tersebut habis.


Setelah selesai Syakila membawa nampan itu kembali ke dapur. Selama Syakila pergi ke dapur, bunyi handphonenya terus berdering.


Geo mendekati handphone Syakila di atas kursi sofa. Ia melihat di layar tertulis 'Kakak teman kecilku' memanggil.


”Rupanya temannya, kirain mantannya.” gumam Geo. Geo mendorong kursi rodanya menjauh dari sofa ke tempat semula setelah ia mendengar alarm dari handphone nya yang menandakan kode pintu sedang di buka.


Syakila masuk dan langsung duduk di kursi sofa. Handphone kembali berbunyi. Syakila meraih handphone, ia melihat identitas penelpon. Syakila tersenyum senang. Ia beranjak keluar dari kamar Geo untuk mengangkat telfon.


”Mau kemana? Terima saja telfonnya disini.” Geo mencegah Syakila yang sudah akan menekan kode pintu.


”Halo kakak, bagaimana keadaan mu?"


Terpaksa Syakila mengangkat telfonnya dan kembali duduk di kursi. Geo memicingkan mata mendengar ucapan Syakila.


Kakak? Berarti 'Kakak teman kecilku' itu nomornya Sardin? Mereka saling kenal dari kecil.


”Kabar ku kurang baik, Kila. Kakak sedikit sulit untuk bernafas.” jawab Sardin dengan jujur.


Sepenting itu kah aku buat kakak?


”Kakak, jangan bicara seperti itu. Maaf kan Syakila kak. Syakila tidak berniat membuat kakak seperti itu. Kakak berjanjilah pada Kila, kakak akan baik-baik saja.”


”Iya kakak akan menjaga diri kakak baik-baik untuk Kila.”


”Kakak, mengapa kakak tidak mengangkat telfon ku tadi? Apa kakak marah sama Kila?”


”Tidak sayang, kakak tidak mungkin bisa marah sama Kila. Kakak tadi sedang mandi, saat kamu telfon.” jelas Sardin.


Kuping Geo terasa panas mendengar obrolan Syakila dengan mantannya. Ia mendorong kursi rodanya sampai di hadapan Syakila. Ia meraih paksa handphone Syakila yang masih menempel di telinganya.


”Kembalikan handphone ku.”


Geo mematikan sambungan telfon. Dan melempar asal handphone Syakila. Ia menatap tajam Syakila.

__ADS_1


”Bukan kah sudah ku bilang, aku melarang mu berkomunikasi dengan mantan mu.”


Syakila terdiam, dengan marah ia memandang wajah Geo. Mereka saling memandang dengan amarah masing-masing.


__ADS_2