Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 78


__ADS_3

Bunyi alarm di handphone Geo berbunyi memutuskan pandangan tajam Geo pada Syakila, dan pandangan marah Syakila pada Geo. Mereka sama-sama melihat ke arah handphone Geo yang berbunyi.


Geo tahu jika pintu kamarnya ada yang buka, sedangkan Syakila tidak mengerti apa-apa. Pintu terbuka. Beni melangkah masuk ke dalam. Ia melihat handphone Syakila yang ada di lantai.


Apa mereka berdua habis bertengkar?


”Beni, bisakah antar aku ke pasar? Aku ingin membeli beberapa barang kebutuhan ku.” ucap Syakila.


”Iya, duluan lah ke bawah, tunggu aku di mobil kakak ipar.”


”Jangan panggil aku kakak ipar! Aku tidak merasa menikah dengan kakak mu, jadi panggil aku dengan namaku saja.” Syakila kembali meralat panggilan Beni untuknya.


Selepas itu ia melenggang keluar dari kamar Geo. Ia menuruni anak tangga dengan sedikit berlari kecil.


”Geo, apa kamu bertengkar dengan istrimu?” Beni bertanya pada Geo selepas kepergian Syakila dari kamar.


”Jangan sebut dia istriku, dia hanya pembantu yang mengurus diriku. Kami bertengkar atau tidak, bukan urusan mu.” sahut Geo dengan ketus. ”Cepat antar Syakila berbelanja, sebentar lagi pasar akan tutup.”


”Kenapa tidak membawanya di mall saja Geo untuk dia berbelanja? Itu mall satu-satunya di kota ini.”


”Untuk apa buang-buang uang untuk membelanjakan pembantu seperti dia di mall? Keluarganya saja masih berhutang banyak pada ayahku dan ibuku.” sahut Geo.


Beni terdiam, ia tidak menyahut lagi. Ia mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar, mereka turun ke lantai dasar menggunakan lift.


Beni mendorong kursi roda Geo hingga ke mobil.


Mengapa pria angkuh ini harus ikut sih? Oh iya jika dia di rumah, dia hanya sendirian.


”Asya, ba__”


”Iya, aku sudah tahu tidak usah di lanjutkan.” Syakila memotong ucapan Beni. Ia turun dari mobil dan membantu Beni menaikkan Geo ke dalam mobil.


Setelah itu, Beni masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian setir.


”Kaki ada bagus bagus di gunakan untuk yang tidak-tidak, kena karma kan?” gumam Syakila dengan kecil. Namun Geo mampu mendengarnya.


”Apa katamu? Karma? Siapa yang kena karma? Kalau kamu tidak tahu apa-apa, jangan banyak berkomentar tentang ku!” ucap Geo dengan marah.


”Iya karma, kakimu begitu karena kamu menggunakan hanya untuk menendang orang yang tidak bersalah. Kalau bukan karena karma kakimu akan masih terlihat bagus, kan?" sahut Syakila.


Geo meraih tubuh Syakila dengan marah dan membaringkan di pahanya, ia memegang leher Syakila namun belum mencekiknya.


”Apa? Kamu ingin membunuh ku dengan tangan mu itu? Bunuh aku!” Syakila menatap Geo dengan tajam. Ia menantang Geo.


Geo menggertakkan kedua rahangnya. ”Kamu menantang ku? Untuk membunuh mu sangat mudah, tapi aku belum puas dengan pelayanan mu sebagai pembantu ku.” Geo membalas menatap tajam pada Syakila. Ia membangunkan kembali tubuh Syakila setelah lama mereka saling bertatap tajam.


Beni menghempaskan nafas leganya.


Huff syukurlah, Geo tidak melakukan tindakan apapun pada Syakila. Syakila, jangan lah kamu mengundang amarah Geo.


Beni menghentikan mobil di area parkir pasar. Syakila segera turun dari mobil. Ia menunggu Beni turun dari mobil.


”Kamu ingin turun juga Geo?” Beni bertanya pada Geo.


”Tidak, aku tunggu kalian disini.” Geo mengeluarkan kartu limited nya dan memberikan pada Beni. Beni mengambilnya. ”Gunakan ini untuk membayar kebutuhan dia, jangan menggunakan kartumu ataupun kartu perusahaan. Turunlah!”


Katanya tidak perlu buang-buang uang untuk membelanjakan dia, tapi malah memberikan ku kartu kreditnya untuk membayar belanjaannya.


Beni mengangguk. Ia keluar dari mobil. Geo hanya memperhatikan Syakila dan Beni yang berjalan bersampingan dari kaca mobil.


Syakila memasuki toko pakaian yang berlantai dua. Ia masuk dan memilih pakaian-pakaian yang di sukainya. Beni setia mengikuti Syakila. Hamid terus melihat Syakila yang sedang serius memilih pakaian, semenjak Syakila memasuki tokonya.


Wanita ini, di lihat sekilas mirip Sarmi. Apa dia anaknya Sarmi? Tapi, mereka kan ada di kota S, bagaimana bisa dia ada disini? Laki-laki yang mengikuti dia, apakah dia pacarnya atau suaminya?


Hamid terus memperhatikan Syakila dengan seksama.


Senyumnya itu mengingatkan aku pada Syakila. Cara pandangnya sama persis dengan cara pandang Halim. Bisa jadi dia memang anak dari Halim dan Sarmi.

__ADS_1


Hamid mendekati karyawannya yang sedang berjalan mendekati Syakila untuk melayaninya.


”Biar aku saja yang melayani pembeli itu.” ucapnya.


Karyawan itu mundur, Hamid sudah menghampiri Syakila yang masih memilih dan melihat pakaian.


”Cari pakaian yang seperti apa Nona?” Hamid bertanya dengan sopan.


”Eh, em, biar aku pilih pilih dulu Mas.” sahut Syakila tanpa melihat Hamid.


”Baiklah, silahkan di lihat-lihat, Nona. Di deretan sana adalah baju-baju yang baru masuk silahkan di lihat lihat Nona, siapa tahu sesuai dengan selera Anda.” Hamid menunjuk deretan baju yang di maksud, Syakila mengikuti arah tunjuk Hamid.


Syakila mengangguk dan tersenyum.” Oh baiklah, aku akan melihatnya.” Syakila pergi ke deretan baju tersebut.


Hamid pergi ke kasir, ia menanti Syakila di sana. Sedangkan Beni, ia selalu mengekor Syakila.


Syakila mengambil beberapa buah baju setelan St Emily homewear dengan berbagai macam warna, baju setelan Armi dengan dua macam warna, baju setelan casual dengan dua warna, baju set astier dengan berbagai warna, dan beberapa baju setelan daster tidur, piyama tidur dan satu lusin pakaian dalamnya. Baru ia membawanya ke kasir.


”Bang, ini pakaian yang ku ambil, total kan semuanya.” ucap Syakila. Ia menaruh pakaian itu di atas meja kasir. Syakila melihat Hamid. Namun, ia telah lupa wajah Hamid. Ia hanya mengingat namanya saja.


Dia tidak mengenal ku meski sudah melihat ku. Apa dia lupa padaku? Atau benar wanita ini bukan lah anak dari Halim dan Sarmi? Apakah hanya suatu kebetulan saja ada kemiripan antara wanita ini dengan Sarmi dan Halim.


Hamid mengambil baju tersebut dan memisahkan sesuai dengan mereknya. Setelah itu ia menyimpan baju-baju itu kedalam paper bag.


”Berapa semuanya, Bang.”


”Total semuanya dua juta tujuh ratus enam puluh lima ribu rupiah, Nona.” ucap Hamid.


Syakila mengeluarkan kartu limited miliknya yang dulu di buatkan oleh Anton. Ia menyodorkan itu pada Hamid. Namun, Beni melarang Hamid untuk memakainya.


”Em, Bang, kembalikan kartu miliknya. Pakai punyaku saja.” Beni menyodorkan kartu limited milik Geo.


”Oh, tidak tidak, jangan ambil itu. Aku bayar kebutuhan ku pakai uang ku sendiri.” tolak Syakila. Beni mengalah, ia memasukan kembali kartu milik Geo ke sakunya. ”Pakai itu saja Bang.”


Hamid mengangguk dan menggesek nya. Lalu ia mengembalikan kartu Syakila dengan bil belanjaannya. ”Terima kasih,”


Ini kesempatan ku untuk mengetahui apakah wanita itu Syakila atau bukan.


Hamid memanggil nama anaknya yang berlari ke arahnya.


”Syakila,”


”Iya,” Syakila menoleh dan menyahuti Hamid. Ia melihat gadis kecil berlari ke pelukan pria yang melayaninya tadi. Hamid dan Halima melihat Syakila yang berdiri di bibir pintu saat ia menyahut panggilannya.


Ternyata benar, dia memang anaknya Halim dan Sarmi tidak salah lagi. Cara memandangnya persis sekali dengan Halim, dan wajahnya ada kemiripan dengan Sarmi.


”Maaf Nona, saya memanggil nama anak saya. Tidak menyangka nama anda sama dengan nama anak saya.” ucap Hamid kemudian, ”Syakila sayang, Papa kangen sama kamu.” Hamid mencium kedua pipi anaknya.


Syakila menjadi malu, ia tersenyum hingga memamerkan lesung pipit yang dalam di pipi dan di dagunya. ”Oh, maaf. Aku mengira Anda memanggil ku.”


Halima dan Hamid terpana dengan senyuman manis Syakila, dan senyuman itu benar-benar persis sekali dengan senyuman Syakila yang mereka kenal. Beni juga terpana melihat senyuman Syakila.


Syakila, aku benar-benar yakin kamu Syakila. Jangan sampai orang-orang tahu jika kamu adalah anaknya Halim.


”Tidak apa-apa Nona Syakila.” sahut Hamid.


”Kalau begitu saya permisi,” ucap Syakila dengan tersenyum.


”Iya, hati-hati Nona Syakila.” sahut Hamid. Syakila mengangguk.


Syakila keluar dari toko itu. Syakila kembali berjalan menelusuri toko-toko di pasar itu. Ia mencari toko kosmetik ayahnya. Beni terus saja mengikuti Syakila.


Syakila tepat berada di depan toko yang bertuliskan SaSya kosmetik. Bukan hanya tokonya saja yang Syakila lihat, tetapi juga rumah yang berdiri di atasnya. Mata Syakila berkaca-kaca, terbayang di matanya masa kecilnya dengan keluarganya di rumah itu.


Papah melihat rumah dan toko ini, aku merindukan mu, Pa. Aku ingin berkunjung di pemakaman mu, tapi aku sudah lupa dengan jalannya.


Syakila masuk ke dalam toko. ”Permisi Bang,”

__ADS_1


”Oh iya Nona, cari apa Nona?” sahut si penjual toko.


”Em, biar aku lihat-lihat dulu.” ucap Syakila.


Ia masuk ke dalam toko dengan mengambil keranjang belanjaan yang tersedia di sana. Ia mengambil barang-barang yang di butuhkan. Setelah selesai ia memberikannya kepada penjaga toko tersebut.


Penjual itu mengambil barang dan memasukkan ke kantong plastik sambil menghitung total harganya. Setelah selesai ia memberikan kantong itu pada Syakila.


”Ini Nona, total semuanya seratus tujuh puluh lima ribu rupiah.”


Syakila kembali memberikan kartu limited nya kepada penjual itu untuk membayarnya. Penjual itu mengambil dan menggesek kartunya. Lalu mengembalikan kartu Syakila sekalian dengan bil belanjaannya. ”Terima kasih Nona,”


"Sama-sama, Bang.” sahut Syakila.


Syakila dan Beni keluar dari toko itu.


”Apa masih ada yang kamu cari?”


”Iya, aku mau beli bantal, bantal guling, dan selimut, juga lemari pakaian, dan hanger.” jawab Syakila sambil berjalan ke toko ayahnya yang pecah belah.


Disana ia membeli keranjang pakaian untuk pakaian kotornya, tempat sabun yang ada cermin dan hanger pakaian. Selepas dari sana, ia pergi membeli lemari pakaian. Untuk lemarinya nanti penjualnya akan membawakan kerumah kediaman Albert.


"Masih ada lagi yang kamu butuhkan?” tanya Beni lagi.


”Tidak ada, ayo kita pulang. Kasihan si Devils mu sudah lama menunggu kita di mobil.” ucap Syakila. Mereka berbicara sambil berjalan.


”Si Devils?” Beni bingung.


”Iya itu si bos yang duduk di kursi roda.” jelas Syakila.


”Maksudmu Devils itu suami mu, Geovani?” Beni ingin memperjelas.


Syakila melihat Beni, ia tertawa melihat wajah bingung Beni. Dan Geo yang melihat mereka dari kejauhan sangat marah.


”Hahahaha, lihatlah wajah mu Beni, itu sangat lucu. Ehm, memangnya menurut mu siapa lagi yang pemarah di rumah itu selain dia? Ingat dia bukan suamiku.”


”Tidak ada. Syakila, wataknya dia memang pemarah.” Beni menghentikan langkahnya. Syakila ikut berhenti. Ia dan Beni saling berhadapan dan saling memandang, ”Saya mohon, jangan pancing amarahnya.”


Syakila memutuskan pandangan matanya, kembali melanjutkan langkahnya. Beni pun kembali melangkah sejajar dengan langkah Syakila.


”Beni, jika dia bersikap baik padaku, aku juga akan bersikap baik padanya. Tapi Beni, dari pertama kami bertemu kami memang sudah saling membenci.” ungkap Syakila.


”Kalian pernah bertemu sebelumnya?” Syakila mengangguk. ”Apa itu di pusat perbelanjaan?” tebak Beni.


Syakila menggeleng, ”Kami bertemu saat di gedung Cobra, aku tidak sengaja menabrak lengannya saat berjalan terburu-buru. Aku meminta maaf padanya, tapi pria itu nampak tidak terima. Aku pun marah saat ia mengatai ku. Kemarahan ku padanya semakin bertambah saat ia menendang kekasih ku tanpa henti dan ia juga hampir menendang ku.” ungkap Syakila lagi. ”Jadi, jangan terlalu berharap untuk kami berbaikan,” Syakila tersenyum kecut, ”Apalagi di antara kami hanyalah majikan dan pembantu, malah tidak pantas jika kami saling berbaikan.”


Beni terdiam. Ia tidak tahu akan berbicara apalagi. Mereka tiba di mobil. Syakila dan Beni masuk ke dalam mobil. Syakila meletakkan belanjaannya di kursi paling belakang.


”Kenapa lama sekali?” Geo bertanya dengan ketus.


”Maaf Geo, Kami berkeliling mencari semua barang kebutuhan Syakila.” sahut Beni.


”Tidak bisakah membeli di toko-toko yang dekat sini saja? Mengapa harus berkeliling? Apa kamu sengaja, Syakila?”


Syakila melihat Geo dengan mengkerut, ”Maksudmu apa? Aku sengaja apa?"


”Kamu sengaja berbelanja di tempat jauh, untuk membuatku menunggu di sini, kan?” Geo menekan setiap ucapannya.


”Iya, aku sengaja, kenapa? Kamu ingin aku meminta maaf padamu? Jangan harap ak__” Syakila menghentikan ucapannya saat Geo mencekik lehernya.


Beni yang melihatnya terkejut. ” Geo, lepaskan dia! Kamu bisa membunuhnya, Geo. Dia adalah istrimu!?”


Geo menekan tangannya, hingga wajah Syakila memerah, ”Aku adalah Tuan mu, sebagai pembantu ku, kamu tidak berhak membentak ku atau berbicara keras padaku. Paham!?” Geo melepaskan tangan nya.


”Ukhuk ukhuk ukhuk,” Syakila terbatuk-batuk sambil mengatur nafasnya. Beni sangat kasian kepada Syakila. Syakila memandang Geo dengan marah. Ia ingin berbicara namun terhenti dengan gelengan kepala Beni. Geo menyadari interaksi Beni dan Syakila. Ia menjadi kesal.


”Jalankan mobilnya, Beni?"

__ADS_1


Beni menjalankan mobilnya dengan diam.


__ADS_2