
Di rumah sakit, di ruangan rawat Syakila.
Tok tok tok! ”Tuan, saya sudah datang.”
”Masuk!”
Anak buah Geo membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, bersama Sarmi, Hardin, Alimin, dan Nesa.
Geo menoleh, melihat anak buahnya. Dia terkejut ternyata mama mantu juga adik iparnya datang ke rumah sakit bersama Alimin dan juga Nesa, orang tua almarhum Sardin.
”Mama, Bibi, Om, Hardin.” sapa nya.
”Kamu makan dulu, baru pergi mandi.” ucap Sarmi, dia memberikan bungkusan makanan pada Geo.
Geo mengambilnya. ”Iya, Ma.” sahutnya.
”Tuan, ini perlengkapan yang Tuan minta. Saya simpan di sini ya Tuan.” anak buah Geo menyimpan tas itu di atas meja, di samping ranjang kosong.
”Iya.” sahut Geo.
Anak buah Geo tersebut keluar dari ruangan dan duduk di kursi, di luar ruangan rawat Syakila.
Nesa, Alimin, Sarmi, dan Hardin mendekati Syakila. ”Bagaimana keadaannya?”
”Semenjak keluar dari UGD, Syakila belum sadarkan diri. Menurut pemaparan Rivaldi, kita tunggu beberapa menit lagi, baru Syakila akan sadar. Tadi, dia sempat kehilangan detak jantung dan nafasnya. Beruntung Rivaldi bersikap tenang dan mecoba sebisanya dengan semua kemampuan yang dia miliki, mengembalikan kembali detak jantung dan nafasnya Syakila.” ungkap Geo.
Dia duduk di ranjang kosong dan membuka bungkusan makanannya. Dia mulai memakan makanannya tersebut.
”Astaghfirullah! Ya Allah, Asya sayang. Kamu cepat sadar Nak.” ucap Sarmi. Wajahnya terlihat sangat sedih.
”Syakila akan baik-baik saja. Dia akan segera sadar. Dia juga tahu jika kita semua di sini mengkhawatirkan dirinya dan mengharap kesembuhannya.” sahut Alimin.
Nesa dan Alimin turut sedih melihat Syakila. Cinta Syakila dan Sardin memang sangat kuat. Sayangnya, mereka tidak di takdir kan untuk bersama.
”Sayang, Mama sudah kehilangan Sardin. Mama tidak ingin kehilangan kamu. Kamu jangan egois pada cinta kamu dan Sardin. Bangunlah, suami mu sangat khawatir padamu. Kami juga sangat mengkhawatirkan kamu.” ucap Nesa.
Geo terkejut, mendengar ucapan Nesa.
Ah, aku mengira bahwa bibi tidak akan mengakui hubungan ku dengan Syakila. Tapi, nyatanya...dia mendukung ku dengan Syakila. benak Geo.
Geo telah selesai makan. Dia membuang bungkusan makanan ke dalam tong sampah. Dia mengambil tas pakaian dan pergi mandi.
Di kamar mandi.
Geo melepas semua pakaiannya dan menyalakan air. Dia berdiri di bawah guyuran air shower. Membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya.
Di bawah guyuran air, dia mengingat kembali perkataan Sardin padanya. Sekarang, dia begitu sulit untuk menjadi seorang Sardin agar bisa membuat Syakila nyaman bersamanya.
Lagi pula, apakah dia harus menjadi diri orang lain hanya untuk menyenangkan hati orang yang dia cintai?
Tidak! Dia tidak bisa menipu dirinya sendiri. Dia akan tetap menjadi dirinya untuk membuat Syakila nyaman dan bergantung padanya.
Tetapi, sekarang dia benar-benar bingung untuk menyadarkan Syakila. Dia butuh perawakan seorang Sardin untuk membangunkan Syakila.
Dia telah lama berada di bawah guyuran air. Rasa dingin sekarang membelenggu dirinya. Dia memakai sampo dan memakai sabun mandi baru membilas dirinya.
Setelah dia selesai mandi, dia segera berganti dan memasukkan pakaian kotor ke dalam plastik. Dia keluar dari kamar mandi.
Dia hanya melihat Sarmi yang berada di ruangan Syakila. Sementara, Hardin, Alimin, dan Nesa tidak berada di dalam ruangan. Apakah mereka sudah pindah pulang?
”Syakila sayang, Mama tidak berharap kamu terjatuh dalam kesedihan yang mendalam. Mama bisa memahami apa kamu rasakan sekarang. Kamu harus kuat. Lihatlah Mama mu ini. Mama kuat dalam menghadapi hidup setelah kepergian ayah mu. Kamu yang selalu menghibur dan menyebarkan hati Mama saat itu. Karena sifat mu dan sikap mu sama seperti almarhum ayah mu. Dan sekarang, kamu mengalami hal yang sama seperti yang Mama alami saat itu, di tinggalkan orang yang di cintai. Tapi, kamu sangat beruntung Nak. Kenapa, kamu masih memiliki seorang yang mencintai mu. Bangunlah, sadarlah, seseorang sangat menantikan kesadaran mu.” Sarmi membelai kepala Syakila dan mencium keningnya.
”Ma, hanya Mama sendiri? Kemana adik ipar, bibi dan om?” tanya Geo. Dia duduk di ranjang yang kosong.
”Mereka sudah pulang.”
”Mama sendiri? Mama akan tidur di sini?”
”Mama akan pulang. Anak-anak Mama titipkan pada Johan dan Biah. Mereka mungkin sudah menunggu untuk pulang.”
”Geo akan mengantar Mama pulang.” tawar Geo.
”Tidak usah, Nak. Kamu di sini saja temani Syakila. Mama bisa naik taksi. Jam segini masih mudah untuk mendapatkan taksi.” tolak Sarmi.
”Mama tidak boleh pulang sendiri. Sebentar.” Geo meraih hapenya dan melakukan panggilan suara dengan anak buahnya.
Geo menoleh ke arah luar ruangan. Dering hape anak buahnya terdengar dari luar. Dia mematikan sambungan saat melihat anak buahnya masuk ke dalam ruangan.
”Iya, Tuan?”
”Antar Mama ku pulang.” titah Geo.
”Baik, Tuan.” Dia sedikit membungkuk melihat Sarmi. ”Nyonya, mari, saya antar pulang.” ajaknya sopan.
”Iya. Geo, mana pakaian kotor mu tadi? Mama akan bawa pulang dan mencucinya.”
”Ah, tidak usah, Ma. Nanti Geo akan membawanya ke laundry saja.” tolak Geo.
”Laundry? Di sini masih ada Mama, biarkan Mama yang mencuci pakaian mu. Jika Syakila sudah sembuh, dia yang akan mencuci pakaian mu nanti.”
”Baiklah, pakaian kotor Geo ada dalam plastik itu. Maaf, sudah merepotkan Mama.”
__ADS_1
Sarmi mengambil tas yang berisi pakaian kotor Geo. ”Tidak merepotkan. Mama pulang dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Mama titip Syakila.”
”Iya, Ma.” jawab Geo.
Sarmi melangkah keluar dari ruangan Syakila. Dia terus melangkah dan anak buah Geo mengikuti di belakang Sarmi.
Geo berpindah tempat duduk. Dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang Syakila. Dia menggenggam tangan Syakila dan satu tangannya membelai kepala Syakila. Dia meniru hal yang seperti Sardin lalukan pada Syakila.
Dia mencium kening Syakila dan mencium tangan Syakila. ”Sayang, sadarlah. Aku di sini menunggu mu untuk sadar. Kamu tahu kan, aku gak bisa berkata manis? Jadi, aku tidak tahu cara untuk merayu dan membujuk mu untuk sadar. Jika kamu mencintai ku, maka bangunlah, sadarlah.”
Geo kembali mencium kening Syakila. Dia berdiri. Dia menyatukan ranjang yang kosong dengan ranjang Syakila. Dia berbaring di samping Syakila dengan memeluk tubuh Syakila.
.. ..
Di alam bawah sadar Syakila.
”Aku ada di mana? Mengapa di sini sangat panas? Air juga tidak ada. Aku sangat haus.”
Syakila terus berjalan di bawah terik panasnya matahari. Keringat mengucur dari pelipisnya.
”Syakila!”
Syakila menoleh, mencari suara yang memanggilnya.
”Syakila!”
Suara itu terdengar lagi, namun, suaranya lebih terdengar jelas. Begitu juga dengan langkah kaki orang tersebut, semakin jelas terdengar.
”Syakila, sayang.”
Dia tersenyum melihat sosok di depannya sekarang. Tapi, dia sedikit terlihat bingung. Dia melihat dua wajah dalam satu tubuh.
”Syakila, sayang. Kakak menunggu mu kembali, kenapa kamu tidak kembali?” tanya Sardin.
”Syakila ingin kembali, tapi, tidak ada tempat tumpuan Syakila jika Syakila kembali.”
Sardin mencubit hidung Syakila. ”Siapa bilang kamu tidak punya tempat tumpuan jika kembali? Ada kakak di sini. Ayo, kembali dengan kakak.” ajak Sardin.
Dia mengulurkan tangannya. Syakila memberikan tangannya pada Sardin. Namun, wajah pria itu berubah menjadi wajah pria lain, saat tangannya telah di genggam.
”Kakak, wajah mu...”
”Sstttss! Kakak tidak pergi jauh. Kakak ada di sini, bersama Syakila.”
”Tapi, wajah kakak...”
”Kamu tidak mencintai kakak? Kakak adalah suami mu sekarang. Ayo, kembalilah ke sisi kakak.” ajak Sardin.
Bahkan di saat kata, "kakak adalah suami mu sekarang" dia memakai wajah Geo.
”Iya, ayo kembali.” jawab Syakila.
Syakila berjalan dengan mengikuti langkah kaki Geo yang menuntunnya.
.. ..
Di ruangan Syakila.
Mata Syakila perlahan terbuka. Dia melihat tampilan langit-langit kamar yang berbeda dari langit-langit kamarnya.
Aku ada di mana? Ini bukan di rumah. Terakhir kali aku sedang berada di teras rumah dengan pakaian pengantin. Ah...aku tersadar sesuatu. benak Syakila.
Dia hendak bangun. Namun, dia merasakan sebuah tangan memeluk dirinya. Dia menoleh melihat siapa pemilik tangan tersebut.
Geo? Jadi, Geo yang membawaku ke rumah sakit? Itu artinya, Sardin juga di rawat di rumah sakit ini. benak Syakila.
”Geo, bangun!” Syakila membangunkan Geo.
”Hum.”
”Geo, ayo, bangun.” sekali lagi Syakila membangunkan Geo.
Geo terbangun. Dia membuka matanya. ”Syakila, beneran ini kamu? Kamu sudah sadar? Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah. Terima kasih, Syakila.” dia memeluk dan mencium kening Syakila.
”Tunggu! Tunggu!” Syakila melepaskan pelukan Geo.
”Ada apa?”
”Di mana ruangan kakak Sardin di rawat? Antar aku ke sana. Aku ingin melihatnya” Syakila turun dari ranjang.
Geo terdiam. Di saat dia tidak sadar, aku pengen dia sadar. Di saat dia sadar dan pria yang pertama dia tanyakan dan khawatirkan adalah pria lain, aku pengen dia tetap dalam pingsannya. benaknya.
”Kenapa diam? Aku ingin melihat kakak. Dia di rawat di ruangan mana? Kenapa harus berpisah ruangan dengan Syakila? Apa dia baik-baik saja sekarang?” tanya Syakila.
Dia menarik tangan Geo. Namun, Geo tetap dalam posisinya, tidak bergerak sama sekali. Apa yang harus dia katakan sekarang? Apa harus bilang yang sebenarnya secara langsung kalau Sardin sudah meninggal? Apakah dia akan pingsan lagi saat mendengar kebenaran jika pria yang dia khawatirkan sudah tiada?
Geo menarik tangan Syakila hingga badan Syakila menimpa badannya. ”Mengapa kamu tidak menanyakan aku?” dia menatap wajah Syakila.
Syakila juga memandang wajah Geo. Dalam pandangannya, dia melihat wajah Sardin yang tersenyum padanya. ”Kakak, kamu baik-baik saja? Syakila sangat senang. Terima kasih, kakak baik-baik saja demi Syakila.” dia memeluk tubuh Geo.
Geo menjadi bingung. Kakak? Apa kesadaran Syakila menurun?
__ADS_1
”Syakila, aku tahu kamu merindukan aku. Tapi, pelukan mu sangat erat. Bisa longgarkan sedikit?” ucap Geo.
Syakila menarik dirinya dan melihat wajah pria di depannya baik-baik. ”Ah, kamu Geo. Di mana Sardin? Tadi dia...” Syakila tidak melanjutkan kata-katanya. Dia mencubit pangkal hidungnya.
”Kenapa?”
Syakila menggeleng. ”Bawa aku ke ruangan rawat Sardin.” titahnya.
”Kamu baru sadar. Dari pagi kamu tidak makan. Lebih baik, aku ajak kamu makan dulu. Ayo, pergi makan.” ajak Geo.
”Aku ingin melihat kakak dulu. Aku tidak lapar.” tolak Syakila.
”Tapi, aku lapar. Dosa loh kalau menolak permintaan suami.” ucap Geo.
Syakila melihat Geo.
”Kenapa? Tidak mengakui kalau aku suami mu?” tanya Geo.
”Aku tahu, kamu suami ku. Dan kita menikah karena mahar ku dari Sardin. Apakah kamu yang membujuk Sardin untuk menjadikan kamu sebagai mahar ku?”
”Kamu mencurigai ku?”
”Tidak, aku hanya bertanya saja. Tunjukan aku kamar rawatnya Sardin. Aku akan bertanya sendiri padanya, mengapa dia bersikap konyol di hari pernikahan ku? Setelah bertemu Sardin, baru aku akan pergi makan dengan kamu.”
”Aku menolak! Pertama, karena aku suami mu, panggil aku dengan sopan. Kedua, kita pergi makan dulu.”
”Kamu ingin aku memanggil mu apa?” tanya Syakila. Dia bersabar, demi bisa melihat Sardin, dia harus menuruti keinginan Geo.
”Kakak, kakak Geo.” jawab Geo.
”Baiklah. Kakak Geo, bisakah kita pergi lihat Sardin dulu, baru kita pergi makan?”
”Tidak. Kita pergi makan dulu. Ayo, aku sudah lapar. Kamu tahu aku sudah menunggu mu sadar selama tujuh jam. Dan selama itu aku menahan lapar dan haus untuk menjaga mu di sini. Hargailah, aku.”
”Baiklah, aku nurut sama kakak Geo. Tapi, setelah selesai makan, bawa aku ke ruangan rawat Sardin. Ok?”
Geo terdiam. Hanya Sardin saja kah yang ada dalam pikiran Syakila?
”Aku ke toilet dulu.” Geo beranjak dari kasur. Dia pergi ke kamar mandi.
Wanita itu. Apakah hanya ada Sardin di matanya? Huft...apa yang harus aku katakan padanya tentang Sardin? benak Geo.
Dia keluar dari kamar mandi. Syakila melihat Geo. Namun, yang dia lihat bukan Geo, tapi, Sardin. Syakila berlari dan memeluk tubuh Sardin.
Geo bingung melihat perubahan sikap Syakila. ”Ayo kita pergi makan.” ajak Geo.
Syakila tersenyum. ”Iya, kakak. Dengan senang hati.” jawabannya dengan manja.
Dia dan Geo pergi makan di luar.
.. ..
Di dalam restoran.
”Kamu mau makan apa?” tanya Geo.
Eh... aku jalan sama Geo kah? Bukannya sama Sardin tadi aku keluarnya? Kok langsung jadi Geo sih! benak Syakila. Dia memijat pelipisnya.
”Kenapa? Kepalamu pusing?” Geo khawatir.
Ini...aku bukan hanya melihat Geo yang khawatir, tapi, aku juga melihat Sardin khawatir padaku. Apa aku terlalu memikirkan Sardin makanya aku berhalusinasi melihat Sardin dalam diri Geo? benak Syakila.
”Tidak, aku baik-baik saja.” jawabnya.
”Ya sudah, kamu ingin makan apa? Biar aku pesan kan.”
”Apa saja.” jawab Syakila.
”Kalau begitu aku pesankan soto saja.” tawar Geo.
Syakila mengangguk.
Akhirnya Geo memesan dua mangkok soto dan dua gelas minuman jus jeruk, pada pelayan restoran tersebut.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang.
”Ayo, makan.” ucap Geo.
Syakila mengangguk dan memakan makanannya. Sesekali dia melirik Geo. Geo terlihat lahap sekali makannya.
Apakah dia benar-benar menahan lapar demi menjaga diriku? benak Syakila.
”Oh, iya, kakak Geo. Jika tidak ada perubahan saat Sardin di rawat di rumah sakit itu. Kita langsung rujuk saja ke rumah sakit di China. Nanti sampai di sana, baru kita cari dokter China yang ahli pengobatan tradisional. Ok?”
”Makan dulu, jangan dulu bahas itu. Aku lagi gak mood mau bahas kan yang lain. Tapi, kalau kamu mau bahas tentang bulan madu kita, aku akan mendengarkan.” ucap Geo.
”Ukhuk...ukhuk!” Syakila terbatuk-batuk.
”Makannya pelan-pelan saja.” tegur Geo.
Syakila terdiam, memakan makanannya.
__ADS_1