Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 167


__ADS_3

”Aku penasaran sebenarnya Syakila sebagai apa dia di keluarga Albert? Pembantu pribadi Geo? Kekasih Geo? Atau istri dari Geo? Tapi..istri?” Antonio tertawa ringan, ”Tidak mungkin!!” gumamnya.


”Bahkan sampai di sini pun, aku tidak bisa melacak informasi tentang Syakila. Siapa dia? Orang tuanya? Keluarganya? Alamatnya? Mengapa sangat tertutup sekali identitas Syakila ini? Apakah dia bukan orang biasa?” gumamnya lagi.


”Ah, malam ini aku tidak bisa tidur!” ia melihat Vian yang tertidur lelap, ”Sebaiknya aku jalan-jalan saja di sekitar rumah sakit ini.”


Ia keluar dari ruangan Vian, ia berjalan santai menyelusuri lorong-lorong rumah sakit. Sepanjang jalan, ia teringat kembali percakapan antara dirinya dan Vian dulu.


”Kamu tahu siapa yang telah membunuh ayah mu? Dia adalah Halim! Ingat, namanya adalah Halim! Dia menjual di pasar. Ingin mencarinya, sangat mudah, nama Halim hanya dia seorang.”


”Halim? Tapi, aku tidak tahu, bagaimana orangnya? Rupanya?”


”Paman juga tidak tahu. Tapi, papa mu memberitahu ku, musuhnya sekarang selain Albert, adalah Halim! Dia lah yang membuat nenek dan papa mu di penjara, hingga nenek mu meninggal di dalam sel. Dia bekerja sama dengan Halima, wanita pelacur yang di cintai papa mu.”


”Halim? Halima? Apakah mereka berdua pasangan kekasih? Mengapa mereka berdua bisa memenjarakan papa dan nenek? Apa salah papa dan nenek pada mereka berdua, Paman?”


”Itu...itu adalah urusan orang dewasa! Kamu tidak perlu tahu! Yang perlu kamu ingat adalah yang membunuh papa mu dan penyebab kematian nenek mu adalah Halim dan Halima! Jadi, kamu harus membalas dendam kepada Halim dan Halima!”


Antonio mengusap wajahnya sambil menghela nafas, ”Hanya mereka berdua yang bernama Halim dan Halima yang berada di pasar! Tapi, mengapa sulit sekali menemukan keberadaan mereka berdua, sampai sekarang? Aku sudah bertanya sama pedagang-pedagang di pasar, jawabannya tetap sama. Halim telah meninggal dan Halima sudah lama meninggalkan kota A.” gumamnya.


Ia duduk di kursi halaman parkir rumah sakit.


”Dan orang-orang pasar juga tidak tahu, apakah Halim dan Halima punya keturunan? Punya suami? Punya istri? Atau kah Halima dan Halim adalah suami istri? Mereka juga tidak tahu siapa orang tua Halim dan Halima?”


”Bahkan aku bertanya pada karyawan yang bekerja pada Halim, ia juga tidak tahu menahu soal itu! Bahkan dia tidak mengenal Halima dan Halim. Dan toko yang di jaganya adalah toko Anton bukan Halim!”


”Kemana aku harus mencari keberadaan mereka berdua? Identitas mereka juga seperti tertutup rapat! Apakah memang identitas mereka tertutup atau sengaja di tutup?”


”Dan Syakila? Apakah aku harus mendekati dia untuk menyelidiki tentang siapa dirinya? Apakah karena dia masuk dalam keluarga Albert dan bekerja di sana, makanya identitas nya sengaja di tutup?”


Antonio kembali menghela nafas sambil melihat sekitar area parkir. Ia melihat seorang laki-laki yang berjalan terburu-buru sambil menggendong seorang wanita.


”Hardin? Aku sungguh bingung dengan sms mu! Dan ini... siapa wanita itu?” tanya Rivaldi sambil menunjuk wanita pingsan yang ada di gendongan Hardin.


”Guru, aku baru pulang dari latihan dan tidak sengaja menolong wanita ini dari gangguan pria jalanan, tapi, wanita ini terluka dan jatuh pingsan.” ungkap Hardin.


Perhatian Antonio teralihkan pada pembicaraan dua pria itu yang bertemu di halaman parkir.


”Guru, aku serahkan wanita ini di tangan mu! Sembuhkan dia, rawat dia, wanita ini sudah jadi tanggung jawab guru sekarang. Aku harus segera pulang!” ucap Hardin lagi, tidak sabar.


”Baiklah, berikan dia padaku. Kamu tenang saja, ini sudah tugas ku sebagai dokter untuk merawatnya.” sahut Rivaldi, sambil merentangkan kedua tangannya. Hardin meletakkan wanita itu ke tangan Rivaldi.


Beberapa menit sebelum Hardin membawa wanita itu ke rumah sakit, ia menghubungi Rivaldi terlebih dahulu. Memberitahu Rivaldi jika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dan memintanya untuk menunggu dirinya di depan halaman parkir.


”Terima kasih, guru! Sekarang aku harus pulang, mama dan kakak ku pasti sudah khawatir menunggu ku di rumah.”


”Iya, kamu hati-hati di jalan! Oh, iya, mengapa Syakila tidak menghubungi ku lagi? Padahal terakhir kali, ia bilang akan menghubungi ku!”


Syakila? Bukan kah pria yang berpakaian dokter itu adalah orang yang menolong Syakila dulu? Apakah dia bekerja di rumah sakit ini juga? Kok aku gak lihat dia berkeliaran di rumah sakit, selama aku berada di sini? Dan pria itu, siapa dia? Dia mengenal Syakila. benak Antonio.


Antonio terus melihat kedua pria itu, ia semakin menajamkan pendengarannya, setelah ia mendengar kata ”Syakila”. Ia sangat penasaran dengan hal baru yang ia dengar ini.


Aku akan bertanya pada anak muda itu jika pria yang berpakaian dokter itu sudah masuk ke dalam rumah sakit. benaknya lagi.


”Oh, kakak sudah berangkat ke kota A, guru. Untuk menghubungi kakak, telfon saja di nomor ku yang lama. Guru tahu kan? Kalau tidak, hubungi kakak lewat nomornya kakak ipar saja. Seharusnya Guru punya nomornya kan?”


Sabar! Kakak ipar? benak Antonio, terkejut. Apakah Syakila benar-benar sudah menikah? Apakah sama Geo? Tidak, tidak mungkin! benaknya lagi, sambil menggeleng.


Oh, iya, aku lupa jika hapenya Syakila di rusaki oleh Geo. Bagaimana bisa aku melupakan itu? benak Rivaldi.


”Oh, pantas saja dia gak menghubungi ku lagi dan saat ku hubungi, nomornya gak masuk-masuk. Ternyata, hapenya rusak. Untuk nomor mu yang lama...aku ada.”


”Iya, guru, hapenya rusak. Guru, aku pulang sekarang yah.” sahut Hardin, berpamitan.

__ADS_1


”Iya, kamu pulanglah! Aku selamatkan wanita ini dulu.” ucap Rivaldi, ia berbalik dan berjalan dengan cepat memasuki rumah sakit.


Hardin juga bergegas ingin pulang.


”Ehm, permisi, Dik!”


Hardin menahan langkahnya memasuki mobil. Ia menoleh, melihat pria yang menahannya. ”Iya, Bang! Ada apa yah?” tanyanya, ramah.


”Em, maaf, tadi, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mu dengan dokter tadi. em..perkenalkan namaku adalah Andre, aku teman sekolah dan teman silat dari saudara Syakila dulu. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Apakah aku boleh tahu tentang dia sekarang? Dan kamu siapanya Syakila?” ucap Antonio.


”Oh, Abang..temannya Syakila? Saya Hardin, adiknya Syakila. Kakak saya kabarnya baik.” jawab Hardin. ”Maaf, Bang! Aku sedang buru-buru! Aku harus segera pulang!”


”Ah, oh, iya, silahkan! Tapi, tolong jawab pertanyaan ku, apakah Syakila sudah menikah?”


Hardin terdiam, Apakah ini lelaki yang juga mengharapkan cinta Syakila? Kakak ku memang cantik, siapa yang tidak akan tergoda dengan kecantikan yang di miliki kakak ku? Sayangnya, kakak ku hanya mencintai Sardin seorang. benaknya.


”Iya, kakak ku sudah menikah, kurang lebih sudah setahun usia pernikahannya kakak ku. Sekali lagi maaf, Bang. Aku harus pergi!” ucap Hardin lagi, ia masuk ke dalam mobil. ”Aku pergi, Bang.” ucapnya, berpamitan.


Antonio mengangguk, mobil berlalu dari halaman rumah sakit.


Antonio masih memandang mobil itu. ”Syakila? Benarkah dia menikah dengan Geo? Tidak mungkin, mana ada wanita cantik, sempurna seperti dia menikahi seorang pria yang cacat seperti Geo!” gumamnya.


Antonio meraih hapenya, ia mencari nomor kontak seseorang, ia menghubungi nomor tersebut. Telfon tersambung dalam beberapa panggilan.


”Iya, kak. Ada apa?”


”Marlina, apa kamu masih di rumah tante?” Antonio menjawab dengan pertanyaan.


”Tidak! Aku sudah berada di kota pusat! Ada apa kak?”


”Apa kamu tahu Geo sudah menikah?” tanya Antonio penasaran.


”Itu... sebenarnya...iya, kak. Aku sudah tahu, memangnya kenapa kak?”


”Siapa istrinya?” tanya Antonio, tidak sabar.


Antonio memutuskan sambungan tiba-tiba. Membuat Marlina yang terkurung di kota pusat, kebingungan.


”Sial! Jadi benar, Syakila adalah istri Geo! Argh!! Bagaimana bisa aku kalah dari laki-laki cacat itu!! Tidak, aku sempurna, aku bisa mendapatkan Syakila! Syakila milikku! Akan ku dapatkan dia!!” geram Antonio. Tangannya terkepal kuat.


Ia masuk kembali ke dalam rumah sakit, masih dengan raut wajah kesal.


.. ..


Di kamar rawat Vian.


Antonio duduk dengan tidak tenang di kursi panjang. Matanya terpejam, ia menghela nafas kasar.


”Ada apa? Mengapa menghela nafas kasar seperti itu? Apa ada masalah?”


Antonio membuka mata, melihat pamannya, Vian. Vian sedang duduk bersandar di ranjang pasien. ”Ada apa?” Vian kembali bertanya.


Antonio beranjak berdiri, kini ia duduk di bangku samping ranjang, dekat Vian. ”Bagaimana keadaan Paman? Apa kepalanya masih sakit?” tanyanya.


”Tidak usah terlalu perhatian, aku baik-baik saja sekarang. Apa kamu sedang kesal? Raut wajah mu menampakkan semuanya.”


Antonio kembali menghela nafas, ”Paman, aku baru merasakan yang namanya jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seorang gadis, tapi, aku telah terdahului. Paman, aku benar-benar mencintai gadis ini, seluruh jiwa ku bergetar untuknya. Ak...”


”Yah...yah... Paman bisa tahu dari raut wajah mu itu. Kamu begitu mengagumi wanita itu. Siapa wanita itu? Dan siapa yang sudah mendahului kamu?” ucap Vian, memangkas ucapan Antonio.


”Wanita itu adalah Syakila.” raut wajah Antonio bersemu merah menyebutkan nama Syakila.


Vian terdiam seketika, Syakila? Apakah Syakila yang dia maksud adalah Syakila yang ku kenal? benaknya.

__ADS_1


Raut wajah Antonio berubah menjadi marah seketika, ”Dan Geo! Ternyata Syakila adalah istrinya!” ucapnya datar, pandangannya tajam menatap ke depan.


Kedua mata Vian terbelalak, ”Apa? Ge...Geo suaminya Syakila?” tanyanya, tidak percaya. ”Tidak, tidak mungkin!” ucapnya lagi, sambil menggeleng.


”Iya Paman! Geo, manusia cacat itu telah mengawini Syakila setahun yang lalu!” ungkap Antonio.


”Tidak mungkin! Berarti waktu pertama kali aku melihat Syakila di kediaman Geo, dia sudah menjadi istri dari Geo!!” ucap Vian.


”Apa...apa mengenal Syakila?” tanya Antonio, penasaran.


”Paman belum pernah bertemu langsung dengan Syakila. Paman sering memantau aktivitasnya. Dia seorang guru di kota A. Paman ingin sekali bertemu dan berbicara dengan dia untuk mengalahkan Geo. Dia gadis yang menarik, gak mudah untuk di ajak kerja sama.” jawab Vian, mengungkapkan.


”Apa Paman sudah menyelidiki identitas dari Syakila?”


Vian menggeleng, ”Identitasnya tertutup.” jawabnya.


”Apa... Paman juga menyukai Syakila? Aku bisa melihat dari pandangan mata Paman.”


”Apa kamu akan bersaing dengan Paman, jika Paman menyukai Syakila?” Vian menjawab dengan pertanyaan.


”Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di antara Paman dan aku. Biarkan Syakila yang memilih siapa dia antara kita berdua untuk menjadi pasangannya. Yang terpenting sekarang adalah memisahkan dia dengan Geo! Bila perlu... kita buat dia menjadi janda!” ucap Antonio.


”Menghadapi Geo sekarang tidak mudah! Dia sudah sembuh dari lumpuhnya!” ungkap Vian.


”Apa? Geo sudah sembuh dari lumpuhnya? Paman yakin?” tanya Antonio, tidak percaya.


”Iya, Paman berkelahi dengannya. Di saat ia terkapar dan Paman ingin mengakhiri hidupnya, Syakila datang dan menendang Paman dengan kuat dari belakang. Membuat Paman terlempar dan kepala Paman terbentur.” ungkap Vian lagi.


”Hah, sial!! Padahal jika dia masih duduk di kursi roda, memudahkan kita untuk menyerang dia!!” sahut Antonio.


”Apa mereka masih di sini?” tanya Vian.


Antonio berdiri dari duduknya, ”Tidak Paman, mereka telah kembali ke kota A.” jawabnya sambil berjalan ke arah jendela.


”Jika begitu, besok kita kembali ke kota A. Mari kita atur rencana sampai di sana.”


”Jangan buru-buru Paman, kesehatan Paman lebih penting sekarang. Jika Paman beristirahat dengan baik, kita bisa kembali kapan saja di kota A. Lagi pula aku punya rencana lain, aku ingin perusahaan Geo yang ada di sini jatuh bangkrut. Kita bisa menarik perhatian Geo kembali ke kota ini. Biar kita hancurkan dia di kota ini. Jika di kota A, aku tidak ingin Beni melihat kita membunuh Geo dengan tragis!!”


Vian terdiam seketika, Beni, aku melupakan dia! benaknya.


”Yah, kemenakan ku yang satu itu, begitu melindungi Geo, padahal ia tahu ibunya mati di bunuh ibu tirinya di kediaman Albert sendiri.” ucapnya, kemudian.


”Kematian ibu tidak ada kaitannya dengan Rosalina. Aku sudah melihat rekaman asli dari cctv di kediaman itu, diperlihatkan oleh Beni. Itu adalah kesalahan ibu sendiri. Tapi, aku membunuh Albert juga sepadan, ia sengaja memasukkan ibu kedalam rumahnya, memisahkan ibu dengan ayah. Dan membuat konspirasi dengan ayah, di saat ibu berhasil mendapatkan apa yang di inginkan ayah, ibu kepergok. Dan ibu sendiri yang memegang pisau, dia mengarahkan pisau itu pada Albert, tapi sialnya, pisau itu malah memakan ibu sendiri. Di saat itu, Rosalina menghampiri ibu, dan saat itu aku tiba di sana dan menyangka Rosalina yang membunuh ibu.” ungkap Antonio.


”Oh, jadi, itu alasan mu berhenti menargetkan Rosalina?”


”Iya Paman, aku tidak ingin membuat Beni semakin membenci ku, walau bagaimanapun pun Beni adalah adikku yang sama-sama lahir dari rahim ibu. Target ku hanyalah Geo!” ucap Antonio.


”Baiklah, sebaiknya kita akhiri pembicaraan kita. Istirahatlah, waktu semakin larut.” sahut Vian.


”Iya Paman. Paman kembali istirahat saja, jika aku sudah ngantuk, aku akan tidur di bangku panjang ini.” ucap Antonio.


”Hum,” Vian kembali membaringkan dirinya. Antonio masih berdiri, memperhatikan di luar jendela.


Ia sedang memikirkan tentang Syakila. Mengapa Syakila bisa menikah dengan Geo? Ia juga masih memikirkan identitas Syakila yang sebenarnya.


Apakah aku harus menemui dokter itu dan menanyakan tentang Syakila? Ataukah aku harus menemui adiknya Syakila untuk bertanya padanya? Ah, sial! Mengapa aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya? Seharusnya tadi aku mengikuti Hardin, biar aku tahu di mana letak rumahnya! Sial, bodoh!! benaknya, sambil memukul-mukul kan tangannya yang terkepal pada dinding, dengan ringan.


.. ..


Assalamualaikum


Maaf, author baru sempat membuat ceritanya lagi... Author lagi sibuk dengan aktivitas di dunia nyata..

__ADS_1


Terima kasih bagi para pembaca yang masih mengikuti kisah tentang takdir Syakila...


Di hari yang Fitri ini...saya ucapkan minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin... Maaf atas segala kekurangan dari saya....


__ADS_2