
Di perjalanan ke bandara.
”Bang, bisa di percepat lagi gak laju mobilnya?” pinta Syakila kepada sang supir, ia sudah tidak sabar ingin cepat sampai di bandara dan bertemu dengan pujaan hatinya.
”Maaf Neng, ini sudah kecepatan maksimal. Kalau Abang nambah kecepatan lagi, takutnya Abang gak bisa mengendalikan laju mobil. Abang takut Neng nanti kecelakaan.” jawab si supir, menjelaskan.
”Baiklah Bang. Kecepatan ini juga sudah cukup. Maaf Bang, karena terburu-buru menyuruh Abang untuk menambah laju mobil.” ucap Syakila lagi.
Sang supir melihat Syakila dari kaca spion dalam mobil. ”Tidak apa-apa Neng, Abang mengerti akan maksud Neng. Tapi, demi kesehatan dan keselamatan kita bersama, Abang harus menghindari resiko kemungkinan yang akan terjadi.” ucapnya, menasihati. ”Neng ingin menjemput seorang kekasih di bandara?” tanyanya.
”Iya Bang. Saya ingin menjemput kekasih saya yang baru datang dari kota S.” jawab Syakila dengan jujur.
Sang supir tersenyum, ”Wah...beruntung sekali pria itu memiliki kekasih yang cantik dan setia seperti Neng ini.” ucapnya memuji.
Syakila terdiam sesaat, Apakah aku benar-benar setia? Jika benar-benar setia tidak akan menikah dengan pria lain. Seperti ini serasa aku wanita yang berselingkuh. Tapi, untuk cinta ku memang hanya untuk Sardin. Hatiku, jiwa dan ragaku, semua milik Sardin. Jadi, aku memang setia padanya. benaknya.
”Alhamdulillah, Bang.” sahut Syakila, sambil tersenyum, yang di paksakan.
”Tenang saja Neng, tidak lama lagi kita akan sampai di bandara.” sahut sang supir.
Syakila mengangguk mengerti, ia memandang jalanan yang mereka lewati.
Di dalam restoran.
Geo dan Beni masih berada di dalam restoran. Geo terdiam dengan segala pemikirannya.
Sedangkan Beni, ia ingin sibukkan diri dengan memeriksa sisa file-nya. ”Geo, setelah aku selesai memeriksa file ini, baru kita keluar dari sini. Ok?” ucapnya, matanya memperhatikan file di tangannya.
Geo masih terdiam, pandangannya tajam menatap lantai.
Beni menengadah, melihat Geo saat tidak mendengar sahutan dari pria itu. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu, apakah dia sedang memikirkan Syakila? benaknya.
”Geo, kamu tidak apa-apa?” tanyanya sambil menepuk punggung tangan Geo yang berada di atas meja. Geo melihat ke arahnya. ”Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya lagi.
”Hum, tidak, tidak ada! Lanjut saja periksa file mu, setelah selesai, baru kita pulang.” jawab Geo.
”Kamu tidak ingin menyusul Syakila di bandara? Jika pikiran mu terganggu karena hal itu, ayo kita susul Syakila.” ajak Beni, ia menutup kembali dokumen yang belum selesai ia periksa itu.
”Tidak perlu! Bukan kah kamu menyuruh ku untuk mempercayainya? Dan memenangkan hatinya secara perlahan? Aku akan mencobanya!” ucap Geo, penuh keyakinan.
Beni tersenyum, Iya, aku percaya kata-kata mu. Tapi lihatlah apa yang tertulis di mata mu dan di wajah mu adalah apa yang tertulis di hatimu. Semuanya berbanding terbalik dari ucapan mu. Berjuanglah untuk mendapatkan hati istri mu! Dan ku harap, sikap tidak sabar mu itu tidak akan meluap menghadapi sikap Syakila. benaknya.
”Hum.” ucapnya kemudian. Ia kembali membuka dokumen dan kembali memeriksanya.
Ting! Notifikasi pesan dari hapenya berbunyi. Ia dan Geo sama-sama melihat hape Beni yang ada di atas meja.
Beni mengambil hapenya, Ini pesan dari kota S. Apa yang terjadi? benaknya.
Ia membuka dan membaca pesan tersebut. Tiba-tiba saja tatapannya berubah, mimik wajah pun berubah, ia melihat Geo dengan khawatir.
”Ada apa? Mengapa melihat ku dengan tatapan itu? Siapa yang mengirim mu pesan?” tanya Geo, penasaran.
”Geo, ada masalah besar yang terjadi pada perusahaan-perusahaan mu di kota S. Perusahaan kecil yang jarang kita lihat, sudah di ambil alih oleh seseorang. Perusahaan sedang juga sudah jatuh dan itu berakibat pada perusahaan besar. Jika ini terus berlanjut, maka perusahaan di kota pusat akan terkena dampak negatifnya.” ucap Beni, mengungkapkan.
Geo terkejut, ”Apa?! Bagaimana bisa itu terjadi?” tanyanya.
”Penyebabnya belum jelas! Perusahaan besar sedang dalam masa kritis sekarang.” ungkap Beni lagi.
”Bagaimana bisa ini terjadi? Aku baru saja meninggalkan kota S belum lama, dan perusahaan ku baik-baik saja! Selidiki dengan jelas siapa yang mencoba menghancurkan ku?! Kamu pergilah ke kota S. Aku percayakan masalah ini padamu.” ucap Geo.
”Baik. Sekarang kita sama-sama ke bandara. Semoga saja Syakila masih di sana. Aku akan meminta Syakila untuk menyetir, menggantikan aku, mengantar kalian pulang ke rumah.” sahut Beni.
”Hum.” singkat Geo menyahuti.
Beni berdiri, ia mendorong kursi roda Geo keluar dari restoran sampai ke parkiran restoran tersebut.
Ia menaikkan Geo ke dalam mobil, dan ia pun masuk ke dalam mobil. Ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan restoran dan pergi ke bandara dengan kecepatan tinggi.
.. ..
Di bandara.
Syakila telah sampai di bandara, ia bergegas masuk ke dalam ruang tunggu bandara tersebut.
Orang-orang masih banyak yang berlalu lalang di sana. Syakila menoleh, melihat kiri dan kanan, ia mencari sosok pria yang di cintai nya itu.
__ADS_1
Ia melihat punggung belakang Sardin yang sedang duduk. Ia tersenyum, ”Itu dia!” gumamnya dengan senang. Ia berjalan mendekati Sardin.
”Sayang, maaf, sudah membuat mu menunggu lama.” ucapnya sambil menepuk pelan bahu Sardin dari belakang. Wajahnya di majukan sedikit melihat wajah pria itu.
Sardin berbalik dan tidak sengaja mencium pipi Syakila. Syakila tersipu malu pada ciuman yang tidak di sengaja itu, begitu pula dengan Sardin.
”Tidak apa-apa sayang, yang penting dirimu telah datang menjemput ku.” ucap Sardin. ”Kamu datang sendirian?” tanyanya.
”Iya, kakak harapkan siapa lagi yang akan datang menjemput kakak selain Kila? Hum?” jawab Syakila dengan ketus.
Sardin tersenyum, ia berdiri. Wanita yang di cintai nya sedang cemburu buta. Ia mencubit dagu Syakila, ”Tidak ada sayang, yang kakak harapkan itu cuma kamu seorang. Memangnya siapa lagi yang tahu kedatangan kakak kesini selain kamu? Hum?” sahutnya.
Syakila mengacak rambut Sardin. Mereka tertawa bersama. ”Apa kita akan berdiri di sini saja?” tanyanya.
”Jika kamu mau, dengan senang hati kakak menuruti. Kapan lagi kita akan punya waktu berdua seperti ini? Hum?”
”Kakak, kita akan punya waktu yang banyak untuk terus berdua, bahkan bertiga atau berempat dengan anak-anak kita.” ucap Syakila dengan yakin.
Mereka saling memandang. ”Aamiin. Itu yang kakak harapkan.” sahut Sardin, penuh harap.
”Kak, ayo kita pulang. Taksi sudah menunggu di sana.” ajak Syakila.
”Iya, ayok.” sahut Sardin, ia menyandang tas nya dan menggandeng tangan Syakila, berjalan beriringan menuju taksi yang di gunakan Syakila tadi.
”Neng, ini pacarnya Neng itu?” tanya sang supir setelah Sardin dan Syakila masuk ke dalam mobil.
”Iya Bang. Inilah kekasih saya.” jawab Syakila, ”Gimana Bang, cocok gak?” tanyanya.
Sang supir menoleh, melihat ke belakang. Ia melihat Sardin dan Syakila bergantian, ”Iya, serasi Neng. Semoga hubungannya sampai ke pelaminan ya Neng, Bang.” ucapnya, mendoakan.
”Aamiin.” sahut Syakila dan Sardin, mengaminkan. ”Bang, jalankan mobilnya. Ke area pasar ya Bang.” lanjut Syakila berucap.
”Iya Neng.” sahut sang supir. Ia menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
Kening Syakila mengerut melihat mobil Geo yang berpapasan dengan mobilnya yang hendak keluar dari bandara.
Ia mengikuti mobil Geo dengan pandangannya, Itu mobilnya Geo! Mau kemana dia? Apakah dia mengikuti ku sampai di sini? benaknya.
”Ada apa Kila? Siapa yang kamu lihat?” tanya Sardin, ia mengikuti pandangan Syakila.
”Geo? Apa dia menyusul mu, menjemput ku?”
Syakila menggeleng, ”Aku tidak tahu. Mungkin ada keperluan lain yang mendesak, makanya dia kesini.” jawabnya lagi.
Di bandara.
Beni turun dari mobil, ia melihat di sekitar, mencari Syakila. Ia bersandar di dinding mobil.
Sementara Geo, ia masih di dalam mobil, mencari keberadaan Syakila dari GPS yang ia pasang diam-diam di hape Syakila.
”Sudah tidak ada Syakila di sini. Dari GPS, dia sudah keluar dari bandara, belum lama. Jaraknya masih dekat bandara.” ucap Geo.
”Jadi, bagaimana dengan mu?” tanya Beni, sambil melihat Geo.
”Kamu tidak usah khawatirkan aku! Pergilah, pesawat sudah menunggu mu! Selesaikan masalah di sana sampai tuntas, baru kamu kembali! Ok?” jawab Geo.
”Kamu tidak apa-apa? Kalau kondisi mu tidak seperti ini, aku tidak akan khawatir, Geo! Tapi...ini...kondisi mu...”
”Sudah, pergilah! Kamu lupa, kita punya beberapa orang yang kita pekerjakan menjadi taksi online di sekitar bandara ini? Aku akan memakai mereka. Jadi, sekarang, pergilah!” ucap Geo, memangkas ucapan Beni.
”Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu! Kamu hati-hatilah!” sahut Beni. Ia segera bergegas menuju pesawat pribadinya.
Kepergian Beni di lihat oleh beberapa orang, orang tersebut memberitahukan hal itu kepada Antonio, melalui pesan.
”Bos! Beni telah pergi. Di sini hanya Geo sendiri.”
Pria itu membaca balasan pesan dari Antonio.
”Hahaha bagus! Kerja bagus! Jalankan sesuai rencana. Dia pasti akan tetap berpura-pura masih lumpuh. Kita manfaatkan itu! Aku tunggu kabar baik mu!” Antonio.
”Beres, Bos!” balas pria itu. Ia berjalan melewati mobil Geo sambil bersiul.
”Abang, permisi!” ucap Geo, memanggil pria tersebut.
Pemuda itu berhenti sambil tersenyum kecut. Umpan telah di ambil! benaknya.
__ADS_1
Ia menoleh melihat Geo, ia merasa takut dan gugup melihat wajah tegas dan tatapan tajam Geo. Aura pria ini sangat kuat! Apa tugas ku akan berhasil? benaknya lagi.
Ia berjalan mundur beberapa langkah, menghampiri Geo. Ia berdiri di mana tempat Beni tadi berdiri. ”Iya, ada apa Bang?” jawabnya.
”Kamu bisa menyetir?” tanya Geo.
”Bisa Bang.” jawab pria itu.
”Masuklah! Kemudikan mobilnya, arahnya, biar aku yang tunjukkan.” titah Geo.
”Tapi..Bang...ini...”
”Masuklah! Aku akan membayar mu dan memberikan biaya taksi saat kamu pulang.”
”Kalau Abang memaksa...baiklah, aku terima! Tapi, Abang jangan menyesal nantinya. Aku masih amatiran mengendarai mobil.” sahut pria itu.
”Hum, ” singkat Geo menyahuti.
Pria itu masuk ke dalam mobil. Ia mulai menyalakan mobilnya, dengan kecepatan sedang, ia mulai menjalankan mobilnya.
Sesekali ia melirik Geo dari kaca spion. GEO, pria itu duduk santai sambil melihat ke layar hape.
Geo melihat dari GPS posisi Syakila dari posisinya sekarang. ”Ambil jalur kiri setelah melewati depan sana.” ucapnya, mengarahkan arah mobil. Matanya, tidak terlepas dari hape.
Pria itu tersenyum licik yang tidak di sadari oleh Geo. Bagus! Semuanya berjalan sesuai rencana! benaknya.
”Ok.” sahutnya. Ia menjalankan mobil dengan maksimal. Setelah sampai di jalan yang di maksud Geo, ia membelokkan mobilnya di sebelah kiri.
Geo masih menatap posisi Syakila di layar hape. Keningnya mengerut, Posisi Syakila dari tempat ini.. belum berpindah. benaknya.
Laju mobil mulai berjalan dengan kecepatan tinggi. Geo menengadah, melihat pria yang sedang menyetir mobilnya.
”Apa benar kamu penyetir amatiran? Gaya menjalankan mobil, tidak mencerminkan kamu seorang amatiran!” ucapnya.
”Oh, maaf, Bang. Aku memang masih amatiran. Tidak ada salahnya kan mencoba skill ku di sini?” balas pria itu.
”Kamu berani?” tanya Geo, matanya memicing melihat pria itu.
Pria itu merasa takut, namun, ia telah di bayar mahal untuk melakukan hal ini. Ia semakin menambah laju kecepatan mobil hingga melewati batas.
Geo berdiri, ia mengalungkan tangannya pada leher pria itu. ”Kurangi kecepatan mobil, atau kamu mau mati di sini?” ucapnya, mengancam. Ia menekan sedikit erat tangannya pada leher pria itu.
”Jika aku mati, maka kamu juga ikut mati! Mati bersama bukankah lebih baik daripada mati sendirian?” sahut pria itu sambil tertawa.
Laju mobil masih kencang, sebelah tangan pria itu memegang setir dan sebelah tangannya lagi memegang tangan Geo yang melingkar di lehernya. ”Argh!” keluhnya.
”Siapa kamu? Apa kamu mengenal ku? Kamu sengaja menampakkan dirimu padaku?” tanya Geo, penasaran.
”Aku tidak mengenal mu, tapi, aku kenal dengan tuan ku! Kamu pintar! Tapi, sekarang sudah terlambat! Bersiaplah untuk mati bersama!” ucap pria itu.
”Brengsek!!” umpat Geo. Ia meninju dengan keras wajah pria itu. Ia berpindah posisi, di depan.
Pria tadi tidak terima di pukul oleh Geo. Ia melepas setir dan membalas memukul wajah Geo.
Jalan mobil tidak seimbang lagi, apalagi masih dalam kecepatan yang tinggi. Geo segera memegang setir mobil.
Ia membuka pintu mobil dan mendorong pria itu dengan kuat dari dalam mobil, saat mobil masih melaju kencang.
Pria itu memegang erat tangan Geo dan menarik Geo dengan sekuat tenaganya. Al hasil mereka berdua sama-sama terjatuh di aspal dengan kuat. Masing-masing terseret terpisah di jalan raya.
Brak!! Mobil yang melaju dan tidak berpenghuni itu menabrak mobil lain yang berkendara do depannya. Bahkan, mobil yang melintas di sekitarnya juga ikut terkena imbas.
Suara kecelakaan itu menyita perhatian masyarakat. Ada yang menelfon ambulans, ada juga yang menelfon pihak polisi.
Kecelakaan itu terdengar juga di dalam restoran, hingga mereka tidak ingin melewatkan hal itu. Mereka keluar dari restoran setelah membayar pesanan mereka.
Begitu juga dengan Syakila dan Sardin.
”Apa kamu benar-benar ingin melihat kecelakaan itu?” tanya Sardin, memastikan.
”Iya, kita harus lihat, siapa tahu saja kita bisa memberi pertolongan pada mereka.” jawab Syakila.
Aku tidak tahu, kenapa aku khawatir sama Geo! Perasaan ku tidak tenang! benak Syakila.
”Baiklah, ayo kita pergi lihat!” sahut Sardin. Ia berdiri. Syakila juga ikut berdiri.
__ADS_1
Mereka berdua bergegas keluar dari restoran berjalan menuju tempat kejadian yang tidak jauh dari restoran tersebut.