
Di kediaman Sarmi, kamar Syakila.
Syakila telah selesai mandi. Ia membiarkan rambut panjangnya terurai dalam keadaan basah. Ia pergi ke dapur, melihat apakah kakaknya, Fatma sudah menyiapkan sarapan pagi atau belum?
”Asya, apa kamu tidak pergi menengok suami mu?” tanya Sarmi. Ia menarik bangku kosong untuk Syakila duduk.
”Em, nanti saja Mah. Besok, baru Syakila akan menengoknya, dia ingin selama dua hari tinggal di sana dan tidak mau aku mengganggunya.” sahut Syakila, sambil duduk di bangku kosong tersebut.
”Kamu tidak boleh begitu Syakila, dia itu suami mu. Dia sangat butuh kamu di sampingnya, selama dia berobat. Selesai makan sarapan mu, bersiaplah pergi melihatnya, dampingi dia.” ucap Fatma, menasehati.
”Iya, apa yang di katakan kakak mu itu benar, Asya. Jadi, bersiaplah selesai memakan makanan mu, pergilah temui suamimu.” sambung Sarmi.
Syakila terdiam, tidak menanggapi. Ia menyendok makanannya sendiri. Sesampainya ia di dapur, anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan, tinggal dia sendiri yang belum hadir.
”Untuk yang mengantar mu, biar kakak ipar mu yang akan mengantar kamu ke rumahnya gurumu.” ucap Fatma lagi.
”Apa tidak akan merepotkan kakak ipar, kakak? Lagi pula, apa kakak ipar tidak akan terlambat pergi kerja nantinya? Jalur ke rumahnya guru ku dan tempat kerja kakak ipar, berbeda.” sahut Syakila.
”Justru itu, cepatlah makan sarapan mu. Jika bicara terus, sarapan mu gak akan habis, dan perginya kalian juga terhambat.” ucap Sarmi.
”Iya, cepatlah makan. Aku akan menunggu mu, waktu bekerja ku masih ada 50 menit lagi.” sambung Johansyah. Ia telah selesai memakan sarapannya.
”Iya, kakak ipar.” sahut Syakila. Ia melanjutkan sarapannya.
Beberapa menit kemudian, ia telah menyelesaikan sarapannya. Begitu juga dengan Sarmi, Fatma, dan adik-adik Syakila lainnya, telah menyelesaikan sarapannya.
Seperti biasanya, Yuli, Ita, dan Endang di antar oleh Johan, paman mereka. Sedangkan Sarmi di antar oleh Hardin ke kantor. Syakila pergi bersama Johansyah.
.. ..
Di kediaman Rivaldi.
”Geo, apakah suasana hatimu sekarang tidak stabil?” tanya Rivaldi.
”Jangan sok tahu! Lakukan saja pekerjaan mu!” jawab Geo dengan ketus.
”Aku bukan sok tahu, tapi aku memang bisa tahu, Geo. Aku tahu dari detak nadi mu. Sedari tadi aku bisa merasakan suasana hatimu dari denyut nadi yang ku tekan. Apa yang kamu pikirkan?”
Geo terkejut, ”Tidak ada! Lanjutkan saja pekerjaan mu!” sahut Geo, suaranya masih terdengar ketus.
Sebaiknya aku berhenti memikirkan Syakila dulu. Tidak menyangka Rivaldi bisa mengetahui dari denyut nadi. benaknya.
Rivaldi terdiam, ia melanjutkan tugasnya. Ia sedang memberikan pijakan rileks pada otot-otot saraf di seluruh tubuh Geo.
”Dari ruang suhu tubuh mu aku bisa menangkap jika kamu sudah mengalami yang namanya trauma. Apakah benar?” ucap Rivaldi.
”Seperti yang sudah kamu prediksi.” sahut Geo.
”Hum, aku juga mencium hawa alergi pada kulit mu. Sepertinya ini di sebabkan oleh dirimu yang tidak pernah berdekatan atau berbagi hawa ruang dengan orang lain dari kecil. Kamu lebih suka menyendiri. Jika darahmu dan hawa kulit mu bisa bertemu dengan hawa yang sama, kamu akan merasa tenang dan nyaman. Tetapi, jika kulit mu bersentuhan dengan yang berlawan kamu merasa jijik bersentuhan kulit dengannya. Apalagi di tambah dengan trauma yang kamu alami, alergi mu semakin menjadi. Apakah asumsi ku benar?”
”Apa kamu mengobati itu juga?” Geo menjawab dengan pertanyaan.
”Aku bisa menetralkan suhu darah dalam tubuh mu untuk tidak alergi melalui darah. Tetapi, untuk selanjutnya, kamu sendiri yang bisa memulihkan dirimu.”
Geo terdiam. Rivaldi bahkan bisa membaca itu. Ia sedikit meringis menahan rasa sakit ketika Rivaldi menekan titik saraf pada punggung belakang, lengan dan bahu nya.
”Apa kamu merasakan sakit di bagian yang ku tekan ini?” tanya Rivaldi, sambil menekan kuat pada kaki Geo.
”Baru terasa samar-samar aku merasakannya.” jawab Rio.
”Bagus, itu artinya ada perkembangan! Setelah aku merilekskan otot-otot mu, kita istirahat sebentar. Kemudian, baru ku bawa kamu ke tempat kemoterapi ku.” ucap Rivaldi.
”Hum,” sahut Geo.
Rivaldi kembali menekan otot-otot saraf pada tubuh Geo. Ia terus melakukannya selama beberapa menit, sampai otot-otot tersebut melemas. Setelah itu mereka berdua beristirahat sejenak.
Rivaldi mengoleskan kembali minyak dari sang guru untuk tulang ke kaki dan belakang Geo.
”Sinar matahari pagi ini sangat cerah. Aku bawa kamu ke taman ku, di sana kamu bisa menjemur kakimu di bawah terik matahari. Kamu beristirahat di taman sambil berjemur.” ucap Rivaldi.
”Hum,”
Rivaldi membantu Geo duduk kembali ke kursi roda. Setelah itu, ia membawa Geo ke taman miliknya.
”Apa sebaiknya aku menyuruh Ijan saja kesini untuk menemani mu? Aku harus meninggalkan mu, aku perlu mandi sekarang.”
”Kamu pergi mandi saja. Aku bisa sendiri di sini!”
”Baiklah, kalau ada apa-apa, kamu tinggal memanggil seseorang saja. Suaramu akan terdengar di seluruh kediaman ku.” ucap Rivaldi, menerangkan.
”Hum,”
”Ok, aku pergi. Baik-baik lah di sini. Jika kamu merasakan kakimu sakit saat di kena matahari nanti saat berjemur, biarkan saja, tahan sakitnya. Setelah sinar pagi pergi, baru aku akan membawamu masuk ke dalam.” ucap Rivaldi, kembali menerangkan.
”Hum,”
Rivaldi pergi setelah mendengar sahutan Geo. Ia pergi ke kedalam rumannya untuk membersihkan diri.
Geo memejamkan mata menikmati terik matahari yang sudah mulai terasa panas terkena kulit tubuhnya. Matanya terpejam, tetapi, pikirannya sedang berfikir sesuatu.
__ADS_1
Ia sedang memikirkan Syakila, wanita yang sudah mengobrak-abrik perasaannya itu.
Apa dia akan datang menengok ku di sini, atau mungkin dia sekarang pergi pada Sardin?
Aku tidak tahu pembicaraan mereka berdua setelah aku tidak mendengarkan percakapan mereka berdua lagi.
Mungkin saja mereka sekarang sedang bertemu dan duduk berduaan. Huft, memikirkannya saja sudah membuat ku sakit.
Aku ingin sekali wanita itu sekarang ada di sini, di dekat ku, untuk menemani ku, menghibur ku, dan menguatkan ku. benaknya.
Ia mendengar suara langkah kaki seseorang, dari arah depannya. Ia membuka mata, melihat siapa yang datang.
Ia terkejut melihat sosok Syakila di depan matanya.
”Syakila? Kamu di sini?” tanyanya.
”Iya, apa aku mengganggu mu?”
”Tidak, sama sekali tidak! Sama siapa kamu kesini?” tanya Geo lagi, ia menyembunyikan rasa bahagianya karena kedatangan Syakila. Wanita yang baru saja ia pikirkan dan harapkan kedatangannya.
”Di antar kakak ipar ku, Johansyah. Bagaimana? Apakah ada perubahan dalam pengobatan mu?”
”Entahlah, aku tidak merasakan apa-apa. Sepertinya, percuma saja aku berobat. Penyakit ku tidak bisa sembuh.”
Syakila mendekati Geo, ia memegang pundak Geo dengan lembut. ”Jangan bicara seperti itu, aku yakin kamu bisa sembuh. Jika tidak ada perubahan selama kamu berobat disini, aku akan membawa mu berobat ke dokter ahli, di rumah sakit yang ternama di kota ini.” ucapnya menyemangati.
”Rumah sakit? Kamu ingin aku sembuh atau aku mati secara perlahan? Secepat itu kah kamu ingin menjadi seorang janda?”
Kening Syakila mengerut, Ah, aku lupa. Geo memiliki trauma pada rumah sakit. Jika membawanya ke rumah sakit, akan semakin memicu penyakitnya. benaknya.
”Em, aku ingin kamu segera sembuh, tidak ada maksud lain. Maaf, aku lupa kamu trauma pada rumah sakit.” ucapnya, menyesal.
”Syakila, lusa kita harus kembali ke kota A.”
Syakila terkejut, ”Apa? Lu..lusa? Itu belum sampai dua Minggu kita di sini. Masih ada enam hari lagi, aku...”
”Iya, lusa kita akan berangkat pada subuh hari.” pangkas Geo.
Syakila berjongkok di kaki Geo, ia memandang Geo dengan pandangan sedih, ketidakrelaan.
”Tapi, bagaimana dengan perawatan mu?”
”Aku tidak perduli dengan perawatan ku lagi! Kamu sepertinya tidak rela pergi dari kota ini. Apakah kamu benar memikirkan perawatan ku?”
”Aku...aku baru bertemu dan berkumpul dengan keluarga ku...berangkat lusa... waktunya terlalu cepat.” ucap Syakila sambil menunduk.
”Kamu tidak rela karena keluargamu atau karena Sardin?” tanya Geo, ketika ia menyebutkan nama ”Sardin” penuh dengan penekanan.
Syakila kembali menunduk, Geo menahan wajahnya, ia tetap mendongak melihat Geo.
”Aku...”
”Hei, Syakila, kapan kamu datang?” sapa Rivaldi. Tanpa sengaja ia memangkas ucapan Syakila.
Syakila dan Geo sama-sama melihat Rivaldi. Pria itu nampak telah segar sehabis mandi. Rivaldi melihat tangan Geo yang mencubit dagu Syakila.
Geo dan Syakila menyadarinya, namun, Geo tetap mencubit dagu Syakila, bahkan ia semakin menekannya kuat saat Syakila ingin menarik wajahnya.
”Baguslah kamu ada di sini. Kamu temani Geo untuk...”
”Lusa kita tetap berangkat ke kota A, kamu mempunyai kesempatan untuk bertemu dengannya hari ini. Pergilah! Aku tidak membutuhkan mu di sini!” ucap Geo, memangkas ucapan Rivaldi. Ia melepas tangannya dari dagu Syakila sedikit kasar.
”Tapi...”
”Pergilah! Jangan buang waktu mu di sini! Besok, kamu tidak akan berkesempatan untuk menemui dia!!” ucap Geo lagi, memangkas ucapan Syakila. Suaranya terdengar marah.
Rivaldi terdiam melihat kedua insan yang ada di hadapannya itu.
”Kau belum pergi juga? Pergilah dari sini! Aku tidak butuh hadir mu di sini! Ijan ada di depan sana, dia akan mengantar mu pergi!!” ucap Geo lagi, suaranya masih terdengar marah.
Syakila terdiam, Apakah pria ini masih marah karena kemarin itu? Semalam bukan kah aku sudah minta maaf dan kami baik-baik saja berbicara? Kenapa dia begini lagi? Apakah marahnya karena aku tertidur tadi malam, sedangkan dia masih bernyanyi? benaknya.
Ia pergi dari sana dengan perlahan memundurkan langkahnya, lalu, ia berbalik dan pergi keluar dari kediaman Rivaldi.
”Geo, apakah kamu tidak merasa kalau kamu sudah berbicara dan bersikap kasar pada Syakila?” tanya Rivaldi, ia berjalan mendekati Geo.
Bugh!! Satu tinju mendarat di perut Rivaldi. Tinju itu tidak begitu kuat, Geo hanya mengerahkan setengah dari kekuatannya. Namun, sudah mampu membuat Rivaldi kesakitan.
”Ah...apa salahku Geo? Kenapa memukul ku?” tanyanya. Tangannya masih memegang perutnya, ia duduk di atas tanah, mengatur pernapasannya.
”Bukankah sudah ku bilang, Syakila tidak boleh tahu jika aku bisa berjalan lagi!?” ucap Geo. Suaranya pelan, tapi, terdengar marah.
”Tapi...”
”Waktu mu tinggal hari ini, malam ini, dan besok pagi! Jika aku masih belum bisa berdiri tegak dengan kedua kaki ku.” Geo menjeda ucapannya.
Ia melihat Rivaldi yang sedang melihatnya, dengan tatapan tajam.
”Maka bersiaplah kaki kanan mu akan patah dan berhenti berharap menjadi pemilik rumah sakit, kamu akan di keluarkan dari pekerjaan mu dan namamu akan masuk dalam daftar hitam.” lanjutnya berucap mengancam.
__ADS_1
Rivaldi terdiam, aura kejam pria ini terpancar di setiap hela bicaranya. Dia bukan orang yang biasa.
”Baik, baik! Aku tidak akan bersantai...aku akan mengurus mu, merawat mu, pagi, siang, sore, dan malam hari. Kamu akan bisa berdiri tegak dengan kedua kakimu.” sahut Rivaldi, ia sedikit ketakutan, namun, tetap bersikap tenang.
”Bagus! Aku suka percaya dirimu! Bawa aku ketempat kemoterapi mu. Jangan membuang waktu lagi!” ucap Geo.
Rivaldi mengangguk, ia berdiri, mendorong kursi roda Geo membawanya ke tempat kemoterapi nya.
Di sana semua alat yang di perlukan sangat lengkap. Geo melihat semua alat-alat milik Rivaldi.
”Kita mulai sekarang.” ucap Rivaldi.
”Hum,”
Rivaldi mulai melakukan kemoterapi untuk Geo, dengan teliti, hati-hati, dan pelan-pelan, ia melatih dan terus melatih Geo agar bisa berdiri dan menggerakkan kakinya.
.. .. ..
Di dalam mobil Geo.
”Ijan, apa ada kata-kata Rivaldi yang tidak enak yang di ucapkan pada Geo?” tanya Syakila.
”Tidak, Nyonya!” jawab Ijan.
”Apa Geo sudah sarapan pagi?”
”Belum, Nyonya. Tuan akan makan saat siang nanti, itu permintaan dari tuan sendiri, Nyonya.”
Syakila terdiam, Berarti dia masih marah kan yang kemarin dan juga yang tadi malam. benaknya.
”Maaf, Nyonya. Apakah saya akan mengantar Nyonya pada kediaman Sardin atau pulang ke rumah?” tanya Ijan.
”Geo menyuruh mu bagaimana?” tanya Syakila.
”Tuan, menyuruh ku mengantarkan Nyonya ke kediaman tuan Sardin.” jawab Ijan.
”Maka antar aku ke sana!”
”Baik, Nyonya.”
Syakila mengambil handphone dan mengirim pesan pada Sardin.
”Kakak, Syakila dalam perjalanan ke rumahnya kakak. Apakah kakak ada di rumah?”
Ting! Syakila melihat ke layar hapenya saat mendengar bunyi notifikasi pesan. Ia membaca balasan pesan dari Sardin.
”Kakak ada di kantor. Kila tunggu kakak di depan pagar rumah. Kakak segera ke sana menjemput Kila.”
Syakila membalas chat Sardin.
”Iya, kakak. Kila akan nunggu kakak di sini. Paman dan tante apakah tidak ada di rumah juga?”
”Iya, mama dan papa ku sedang berkunjung ke rumah saudaranya papa ku.”
”Kila sudah sampai di depan rumahnya kakak. Kakak cepat datang yah.”
”Ok, sayang.”
Syakila melihat handphone, Sardin hanya membaca pesannya, tidak membalas.
”Nyonya, kita sudah sampai.” ucap Ijan.
”Hum, aku turun di sini. Kamu kembali saja pada Geo. Siapa tahu saja ada hal yang ia butuhkan.”
”Baik, Nyonya.”
Syakila turun dari mobil. Ijan segera melaju meninggalkan Syakila di depan rumah Sardin.
Tidak berselang lama dari kepergian Ijan, mobil Sardin berhenti di depan Syakila.
Ia menurunkan kaca mobilnya, dan membuka pintu mobil sebelahnya. Syakila dan Sardin saling melempar senyum.
”Kila, naiklah ke mobil.” ucapnya.
Syakila menurut, ia masuk ke dalam mobil, ”Kita mau kemana kak?” tanyanya.
”Kembali ke kantor kakak.”
”Apa tidak apa-apa? Nantinya akan timbul berita heboh dengan kedatangan Kila di sana.”
”Kamu takut?”
”Sedikit, apalagi pekerjaan di kantor kakak menyajikan berita-berita terbaru, terpanas di kalangan masyarakat terkait artis, model, apapun itu. Bahkan kita nantinya tidak akan lepas dari gosip nanti. Apa kakak tidak khawatir?”
”Sedikit! Tapi, siapa yang berani menyajikan berita tentang ku tanpa seizin ku, di kantorku sendiri?” sahut Sardin dengan begitu yakinnya.
”Baiklah, jika begitu, jalankan mobilnya menuju kantor kakak. Kila juga ingin melihat kantor kakak seperti apa dan bagaimana rupa kakak saat fokus bekerja.” ucap Syakila sambil tersenyum melihat Sardin.
”Kamu akan semakin mencintai ku saat kamu melihat ketampanan ku dalam serius bekerja.” sahut Sardin. Ia mulai menjalankan mobilnya menuju kantor kerjanya.
__ADS_1