
Di kamar Sardin.
Mata Syakila perlahan terbuka. Dia tidak menyangka, jika dia akan tidur terlelap di pelukan Sardin.
Dia memindahkan tangan Sardin dengan pelan dari pinggangnya. Dia bergerak bangun dan turun dari ranjang dengan pelan, agar tidak mengganggu tidurnya Sardin.
Dia memperbaiki selimut di badan Sardin. Di belainya wajah Sardin dan di cium keningnya.
Kok, keningnya kakak masih terasa agak dingin? Dia juga tampak berkeringat, padahal suhu kamarnya tidak panas. Apakah masih dalam pengaruh obat? benak Syakila.
Dia melihat jam yang tergantung di kamar Sardin. Pukul 22 : 15. Dia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Sardin dengan pelan.
Dia melihat Nesa, Alimin, dan Geo sedang duduk di ruang keluarga. Mereka nampak sedih, dan masing-masing hanya terdiam. Syakila menghampiri mereka. Dia duduk di samping Geo.
”Sardin sudah tidur?” tanya Alimin.
”Iya, Om. Kakak sudah tidur. Om, apa gak terlalu keras ya efek obat yang di konsumsi oleh kak Sardin?” tanya Syakila.
Geo, Nesa, dan Alimin melihat Syakila. ”Maksudnya?”
”Iya, Om. Reaksi obatnya sangat keras. Kakak berkeringat dan juga dingin. Syakila bertanya sama kakak, kenapa kok dingin dan berkeringat begitu badannya? Jawabnya, karena efek dari obat yang di minumnya. Dan Syakila berpikir kalau hanya reaksi obat, seharusnya dalam waktu setengah jam sudah normal kembali. Tetapi, ini...sampai sekarang kakak masih berkeringat dan dingin. Itu artinya, obat yang di konsumsi kakak sangat keras.” ungkap Syakila.
Apa? Obatnya sudah lama dia konsumsi. Tapi, gejala seperti itu tidak ada. Dingin? Keringat? Sejak kapan dia rasakan itu? Dia menyembunyikannya dari kami. Apakah....dia rasa seperti itu dari kemarin? Kemarin dia melarang kami untuk menyentuhnya. Tadi, dia juga melarang kami untuk menyentuhnya. Apakah karena tidak ingin kami tahu keadaannya... benak Alimin dan Nesa.
Alimin dan Nesa saling pandang, kedua mata mereka berkaca-kaca. Praduga buruk menjalar ke otak mereka berdua.
”Pa..hu...hu...” suara Nesa bergetar. Dia kembali menangis.
Geo dan Syakila heran melihat Nesa yang menangis. Dan juga mata Alimin yang berkaca-kaca. Apakah dia menangis karena khawatir dengan keadaan Sardin?
”Bibi, Bibi tidak perlu khawatir. Kata kakak, dia tidak apa-apa. Obatnya kakak juga tinggal satu butir, obat itu kakak akan meminumnya besok, untuk menahan rasa sakit selama dalam perjalanan ke China.”
”Perjalanan ke China?” Alimin dan Nesa saling pandang, mereka tidak mengerti maksud Syakila.
”Iya. Besok, setelah selesai akad nikah kakak dan aku bersama Geo akan pergi ke China untuk mengobati penyakit kakak. Kakak akan berobat terapi traditional China di sana.” ungkap Syakila.
Jika itu benar. Aku bersyukur sekali. Masih ada kesempatan hidup untuk Sardin. Ya Allah, boleh kah saya berharap untuk kesembuhan Sardin, anakku? Berikanlah keajaiban mu untuk putraku. benak Alimin dan Nesa.
Sudah ku duga. Jika Syakila yang berbicara dengannya. Dia tidak akan menolak. benak Geo. Dia tersenyum masam.
Aku sudah dengar dari mencuri dengar pembicaraan mereka, tetapi...mendengarnya langsung dari mulut Syakila....kok rasa sakit yah...benak Geo lagi.
”Em...Bibi, Om, ini sudah malam, Syakila pamit pulang dulu.” ucap Syakila lagi.
”Iya, hati-hati di jalan. Em...biar Om yang antar kamu pulang. Sardin pasti tidak akan senang jika mendengar kamu pulang malam-malam begini dengan naik taksi.” Alimin berdiri.
”Biar Geo saja yang mengantar Syakila pulang, Om. Om dan Bibi jaga Sardin saja. Setelah Geo mengantar Syakila, Geo akan kembali lagi ke sini.” ucap Geo.
Alimin kembali duduk. Dia mengangguk.
Syakila dan Geo pergi keluar.
”Pa, semoga ada pengharapan untuk kesembuhan anak kita.” ucap Nesa.
”Papa juga berharap yang sama. Semoga saja semuanya belum tapi terlambat untuk berobat.” sahut Alimin.
”Ini salah kita juga Ma, coba dari awal kita menyetujui operasi Sardin. Sardin tidak akan seperti ini.” ucap Alimin lagi.
Nesa menunduk, ”Papa benar, ini kesalahan kita. Setelah penyakitnya parah dan semakin membesar pembengkakkan nya, kita obati, giliran para dokter yang menyerah. Di tambah lagi, semangat Sardin untuk hidup tidak ada setelah kepergian Syakila di kota A.” matanya kembali berkaca-kaca.
”Sardin berkata benar Pa. Kita tidak bisa menyalahkan Syakila dan Geo, atas sakit yang di derita anak kita.” Nesa terisak.
Alimin menghela nafas, dia merangkul pundak istrinya, menenangkan dirinya. ”Mah, lebih baik kita lihat Sardin di kamarnya.
Nesa mengangguk. Mereka pergi ke kamar Sardin.
.. ..
Di perjalanan ke rumah Sarmi.
Dari tadi kami berdua hanya saling diam. Rasa canggung sangat terasa. Apakah karena kami adalah mantan suami istri, sehingga suasana nya canggung begini?
Berada di dekatnya, jantungku masih saja berdegup kencang. Hatiku masih sama gemetarnya. Berada di dekat Sardin maupun berada di dekat Geo. Terasa sama saja, getaran hebat mengguncang dada. Tidak ada yang berbeda. benak Syakila.
”Apa Sardin tadi bertanya padamu, dari mana kamu tahu kondisinya saat ini?” Geo bersuara mencairkan rasa sunyi yang tercipta.
Dia pun merasakan hal yang sama yang di rasakan Syakila, jantung berdegup kencang bila ada di dekat Syakila. Untuk itulah, dia mengalihkan resah hatinya dengan mengajak Syakila bicara.
”Tidak, tapi, aku bisa melihat jelas dari tatapan kakak yang melihatmu saat kita tiba di dapur tadi, jika kakak sedang marah sama kamu. Kakak sudah bisa menebak kamulah yang memberitahu aku, tentangnya.”
”Kamu benar. Tatapannya tajam menatap ku. Oh, iya, besok adalah hari pernikahan mu. Kamu ingin hadiah pernikahan apa dariku?” tanya Geo.
”Aku tidak menginginkan hadiah pernikahan darimu. Aku hanya ingin kamu hadir di pernikahan kami.”
”Jujur, sebelumnya aku merasa kamu sedang menghukum aku makanya kamu meminta ku untuk menghadiri pernikahan mu.”
Syakila melihat Geo, ”Hum?”
__ADS_1
”Kamu ingat, pernikahan dadakan kita?”
Syakila mengangguk. Teringat kembali sikap seorang pria yang duduk di kursi roda. Yang penuh diktator, sombong, angkuh, dan sok berkuasa.
”Waktu kita menikah, Sardin datang di pernikahan kita. Dia pingsan karena terpukul dengan pernikahan kita yang tiba-tiba. Dan kamu ingin, aku menyaksikan pernikahan mu besok untuk memberitahu ku bagaimana rasa sakit yang di alami Sardin saat itu, kan?” tutur Geo.
”Pikiran mu terlalu picik. Aku tidak berniat begitu. Hanya saja, di saat pernikahan ku nanti, pasti ada wanita muda yang datang, yang tentunya bisa menarik hatimu. Kamu bisa mengencani salah satu di antara mereka nanti dan menjadikan nya istrimu.” jelas Syakila.
Kamu ingin mendorong ku dekat dengan wanita lain? Sepertinya...kamu tidak bisa mencarikan aku wanita yang pas dengan hatiku. Kecuali, wanita itu adalah dirimu sendiri. benak Geo.
”Sya, jika saat itu, situasinya adalah Sardin yang menikah dengan perempuan lain, apa kamu akan pingsan seperti Sardin juga? Apakah kamu akan memilih sendirian sambil menunggu dudanya Sardin?”
”Kenapa bertanya begitu?” Syakila bertanya balik.
Geo menggeleng, ”Hanya ingin tahu saja.” jawabnya.
”Iya. Aku juga akan mengalami hal yang sama dengan kakak. Aku dengan kakak saling setia dari kecil, saling menjaga perasaan, saling menjaga cinta dan membatasi diri dengan lawan jenis. Kami saling ketergantungan dan membutuhkan, kami selalu bertukar pikiran, jadi, kami sudah menyatu satu sama lain.”
”Jika takdir tidak mempertemukan kalian kembali setelah sekian lama berpisah dari kecil, apakah kamu tidak berniat mencari laki-laki lain?” tanya Geo lagi.
”Kalau untuk itu...aku tidak mau takabur untuk menjawabnya. Karena aku dan dia sama-sama punya orang tua yang harus di bahagiakan. Dan para orang tua pasti akan menginginkan anaknya untuk menjalani hidup rumah tangga. Aku dan dia pasti akan sama, kami akan menikah dengan orang lain, jika memang takdir tidak akan mempertemukan kami kembali.”
Geo terdiam. Wanita yang berpikiran seperti Syakila sangat jarang di temukan sekarang. Wanita yang setia, yang menghargai cinta dan menjaga cinta.
”Saat kamu memapah Sardin tadi, bagaimana kondisi tubuhnya? Saat dia menyusul kamu ke kamarnya, jalannya seperti orang mabuk.”
”Tubuhnya semakin lemah. Semoga saja di pernikahan besok, akan berjalan lancar sampai selesai.” ucap Syakila.
”Aamiin. Aku bahagia bisa melihat kamu berbahagia. Berbahagia lah selalu untukku.” sahut Geo.
”Kau juga pantas untuk berbahagia, Geo. Trauma mu, penyakit mu sudah sembuh. Berinteraksi dengan wanita bukan hal sulit lagi untuk mu. Aku doakan semoga besok, kamu akan mendapatkan jodohmu.”
Geo tersenyum kecut, yang tidak di sadari Syakila. ” Terima kasih, doamu.” sahutnya.
Tapi...aku masih belum ingin mencari wanita. Paling tidak, jika ada yang sepertimu, baru aku menoleh padanya. benak Geo.
Setelah sahutan Geo, tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua, membuat suasana kembali sunyi.
Sampai mobil berhenti di depan rumah Sarmi, di antara mereka berdua tidak saling berbicara lagi.
”Sudah sampai, kamu tidak ingin turun? Atau...mau aku yang menggendong mu turun, sampai membawa mu masuk ke kamar mu? Hum?”
Syakila tertawa mengejek, ”Kamu berani?”
”Kamu menantang ku?” Geo membuka pintu mobil dan turun.
Geo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat punggung Syakila. Syakila telah masuk ke dalam rumahnya, Geo bersandar di dinding mobil.
Syakila....seandainya waktu bisa di putar ulang dan dapat aku kendalikan. Aku ingin memutar ulang waktu kamu masih kecil, masih belum bertemu dengan Sardin. Aku akan mengatur, akulah yang bertemu dengan kamu saat itu, dan akulah pria yang berjanji sehidup semati dengan kamu. Bukan Sardin. benak Geo.
Dia menghela nafas dan kembali masuk ke dalam mobil. Dia menjalankan mobilnya ke kediaman Sardin.
.. ..
Di kediaman Alimin.
Alimin duduk sendirian di kursi teras rumah, menunggu Geo. Nesa telah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Saat dia melihat Sardin di kamarnya. Yang di katakan Syakila adalah benar. Badan Sardin berkeringat dan dingin.
Pikiran-pikiran buruk dan hal-hal negatif bersarang di kepalanya. Jika saja tidak mengingat ucapan Syakila yang akan membawa Sardin ke China untuk berobat. Mungkin saja dia dan Nesa akan gila.
Mereka berdua sudah tahu hal ini pasti akan terjadi, tetapi, mereka tidak menduga akan secepat ini reaksi dari penyakitnya. Di harapan mereka, Sardin telah menikah, merasakan indahnya berumah tangga dan memiliki Sardin junior, baru Sardin akan mengalami sakit yang parah.
Dan di saat kepergian Sardin nanti, mereka tidak akan terlalu terpukul, karena telah ada Sardin kecil yang menggantikan Sardin.
Mobil Geo berhenti di halaman parkir rumah Sardin. Geo turun dari mobil. Dia menghampiri Alimin yang duduk seorang diri di teras.
”Mengapa Om duduk sendirian di sini?” Geo duduk di kursi, samping Alimin.
”Om, hanya sedang menunggu mu datang. Kamu antar Syakila sampai di rumahnya?”
”Iya, Om. Em...Om, maaf, Geo masuk ke dalam dulu. Geo ingin istirahat.”
”Iya, Om juga mau masuk, ingin istirahat.”
Geo mengangguk. Geo masuk ke dalam rumah duluan. Alimin menyusul, setelah dia mengunci pintu, dia pergi ke kamarnya untuk istirahat, menyusul sang istri.
Di kamar Sardin.
Geo membuka pintu kamar Sardin dengan pelan. Dia masuk dan menutup pintu kamar dengan pelan juga.
Dia terus berjalan hingga ke kamar mandi. Dia mencuci mukanya dan keluar dari kamar mandi.
Dia tidak naik ke atas ranjang, dia pergi ke sofa panjang, dia berbaring di sana.
Geo melihat sekeliling kamar Sardin. Dinding kamar Sardin hampir penuh dengan potret Sardin dan Syakila. Dia bangun dan mendekati dinding-dinding kamar yang memajang foto-foto itu.
__ADS_1
Apakah ini foto Sardin dan Syakila waktu kecil? Dari kecil, dia memang terlihat cantik, imut.
Dia memang suka menanam bunga. Aku kira dia hanya berbohong waktu itu. Setelah melihat foto yang dia menanam bunga dengan Sardin, baru aku percaya, dia memang suka pada bunga.
Dia berpindah ke dinding lain.
Ini...adalah foto saat Sardin memakaikan kalung pada leher Syakila. Di foto yang kedua ini mereka saling tersenyum dan mengaitkan jari. Apakah saat itu, mereka terakhir bertemu? Kalung yang masih bergantung di leher Syakila sampai sekarang ini adalah kalung yang di pakaikan oleh Sardin sendiri.
Geo berpindah lagi ke dinding lain.
Ini adalah foto yang di ambil dari gedung the cobra. Mungkinkah, foto ini adalah awal mereka bertemu kembali?
Dari foto-foto ini Syakila dan Sardin tampak bahagia sekali. Foto ini...di ambil saat mereka berdua memilih cincin tunangan. Cincin itu menjadi mainan mata kalung yang di leher Syakila.
Cincin yang di buang oleh Sardin ke danau saat hubungan mereka putus. Tapi, Syskila menceburkan diri ke danau untuk mencari cincin itu hingga ketemu dan membuatnya pingsan karena kedinginan.
”Masih banyak foto Syakila yang belum aku cuci. Jika kamu ingin lihat, masih ada di kamera ku.”
Geo menoleh melihat Sardin saat mendengar suara pria itu. Sardin telah duduk bersandar di sandaran ranjang.
Apakah dia baru bangun? Ataukah dari tadi dan mengamati aku yang melihat foto koleksi dirinya dan Syakila. benak Geo.
”Kau terbangun? Bagaimana keadaan mu?” Geo mendekati Sardin dan duduk di sisi ranjang.
”Jika bisa bertahan sampai besok, aku sangat bersyukur sekali, apalagi sampai aku telah menunaikan janjiku dengan Syakila. Aku bisa pergi dengan tenang.”
”Berhentilah bicara jika bicaramu itu ngawur!” ketus Geo berucap.
Sardin tersenyum. ”Aku bisa pergi dengan sangat tenang sekali, saat Syakila bersamamu.”
”Aku memang mencintai Syakila. Tapi, aku tidak membutuhkan bantuan mu sebagai mak comblang cintaku! Aku tidak butuh!” Geo masih ketus menyahuti Sardin.
”Ukhuk...ukhuk...!” Sardin mulai merasakan sesak nafas yang membuatnya ter-batuk-batuk. Dia menutup mulutnya saat batuk.
Dia meraih tisu dan membersihkan darah di tangan nya dan di mulutnya.
”Apa tadi kamu menyembunyikan ini dari Syakila?”
Sardin mengangguk. Sakit kepalanya mulai terasa sakit lagi. Terlihat dari raut wajahnya yang berubah.
”Sakit kepalamu menyerang lagi? Aku ambilkan obat?”
Sardin menggeleng.
”Kalau begitu, kamu berbaringlah kembali. Aku akan memijat kepalamu, agar sakitnya berkurang.”
”Kamu bisa memijat?” Sardin kembali berbaring.
”Sedikit, di ajari Syakila.” Geo mulai memijat pelan kepala Sardin.
”Kemarin malam, saat kepalaku sakit di tambah dada ku sesak, aku hanya sendirian menahannya. Malam ini, aku tidak sendirian. Ada kamu, terima kasih.”
”Tidak perlu berterima kasih, dan diam lah jangan bicara lagi. Sebaiknya kamu istirahat, besok adalah hari pernikahan mu.”
”Aku sangat beruntung bisa mengenal mu dan mengenal Syakila. Kalian berdua akan tersemat dalam hati ku. Aku harap, kalian berdua tidak akan melupakan aku, meski aku sudah tiada di antara kalian lagi.”
Geo terkejut, dia terdiam. Tangannya berhenti memijat. ”Jika kamu masih berbicara omong kosong, aku akan pergi sekarang!” ancamnya.
Sardin menarik kedua tangan Geo dan meletakkannya kembali ke kepalanya. Geo kembali memijat kepala Sardin.
”Berjanjilah, kamu akan bahagiakan Syakila.”
”Kamu ingin aku meninju mu? Berhentilah berbicara, bicaramu tidak enak di dengar!” ketus Geo. Matanya berkaca-kaca.
”Kau bersedih untukku?”
”Sardin!”
”Jaga Syakila, jangan biarkan dia bersedih.”
”Jika Syakila mendengar kata-kata mu ini, dia yang akan mati duluan. Kamu adalah hidupnya, nafasnya, jiwanya. Berhentilah berkata yang tidak- tidak.”
”Mulai besok, jiwa, nafas, Syakila adalah kamu. Jaga Syakila untukku, jangan biarkan dia menangis.”
Geo terdiam. Dia berhenti memijat kepala Sardin. Dia bangkit dari ranjang, meninggalkan Sardin.
”Ukhuk...ukhuk...!” Sardin kembali batuk.
Geo berhenti saat ingin membuka pintu kamar Sardin. Matanya terpejam, tangannya terkepal erat. Dia menarik kembali tangannya dari gagang pintu. Dia kembali berjalan menghampiri Sardin.
”Jika kamu masih berbicara omong kosong! Aku akan benar-benar pergi meninggalkan kamu.” ancam Geo.
Dia mengambil tisu basah dan membersihkan telapak tangan Sardin dari darah dan membersihkan mulut Sardin dari cipratan darah.
Baru dia mengambilkan air minum untuk Sardin. Dia membantu Sardin untuk minum. ”Istirahatlah!” titah Geo.
Sardin menurut. Dia memejamkan mata, kembali beristirahat. Geo memijat kembali kepala Sardin. Membuat pria itu kembali tertidur.
__ADS_1