Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 126


__ADS_3

Di kamar Syakila, kediaman Sarmi.


Geo masih duduk termenung di kursi rodanya. Ia kembali menatap langit malam dari jendela kamar.


Ia teringat kembali pembicaraan Sarmi, mama mantunya itu bersama Johan, paman Syakila. Banyak praduga yang timbul dalam pemikirannya.


Kevin? Halima? Halim? Apa yang terjadi di antara mereka bertiga? Apakah Kevin dan Halim saling mendendam karena Halima?


Halima adalah wanita yang di cintai oleh Kevin. Apakah Kevin yang merebut Halima dari Halim? Ataukah Halim yang merebut Halima dari Kevin? Setelah itu, Halim meninggalkan Halima dan menikahi Sarmi? Sedangkan Kevin sendiri, ia sudah terlanjur menikahi Herlina, mamanya Antonio dan Marlina, di saat ia tahu Halima dan Halim sudah tidak bersama lagi.


Atau ada hal lain yang memicu dendam di antara mereka berdua? Jika melihat sikap dan tindakan dalam keluarga Sarmi, tidak mungkin Halim akan berbuat seperti itu kepada Halima. Yang ku tahu, Halim sangat menghargai dan menghormati wanita yang di cintainya.


Peristiwa saat meninggalnya Halim dan Kevin, tanggal berapakah itu? Apakah peristiwa itu berhubungan dengan kasus yang di usut ayah ku? Apakah nama Halim yang ku baca dalam kertas itu adalah Halim, ayahnya Syakila?


Ayah dan Halim saling mengenal saat Halim mendatangi ayah untuk meminjam sejumlah uang. Untuk apa Halim meminjam uang sebanyak itu dari ayah? Bukankah kehidupan Halim tidak kekurangan apapun? Lalu untuk apa uang tersebut? Sarmi, mama mantuku tidak mengetahui hal itu, mengapa Halim menutupinya dari anak dan istrinya?


Geo teringat kembali saat Syakila dan Sardin berada di taman, saat hubungan mereka berdua harus putus karena Syakila memilih untuk putus dari Sardin dan setuju menikah dengannya.


Apakah hanya Syakila yang mengetahui Halim meminjam uang dari ayah? Makanya ia setuju menikah dengan ku? Berarti Syakila tahu Halim meminjam uang itu untuk apa?


Geo menghela nafas berat, ”Kemana kamu Syakila? Apakah kamu baik-baik saja? Ada banyak hal yang ingin aku pastikan darimu. Cepatlah pulang, semua orang khawatir padamu.”


.. ...


Di perjalanan mencari Syakila.


”Kita sudah mencari tiga kali di area sekitar rumah sakit. Tetapi, kita tidak menemukan titik terang keberadaan Syakila. Sardin dan orang tuanya juga tidak tahu keberadaan Syakila dimana. Karena setahu mereka Syakila sudah pulang sejak setengah sembilan malam yang lalu. Lalu, kemana lagi kita mencari Syakila?” ucap Johan.


Satu tangannya memegang setir, satunya memegang kepala kanannya, sikunya bertumpu pada pintu mobil yang kaca jendelanya terbuka. Matanya memandang arah kiri dan kanan jalan, memperhatikan setiap orang yang tertangkap oleh panca inderanya.


Mereka telah mencari Syakila dari area rumah sakit sampai sekitarnya, dan menyusuri jalanan sepanjang area dari rumah sakit, tetapi, berkali-kali mereka m ncari ulang dari tempat yang sama, mereka tidak menemukan Syakila.


”Hardin juga tidak tahu, Paman. Aku mencoba terus menghubungi nomornya, tapi, handphonenya masih tetap gak aktif.” sahut Hardin.


”Bagaimana dengan para polisi yang mencari ke seluruh rumah sakit, apakah mereka menemukan nama pasien yang bernama Syakila, Paman?” tanya Hardin.


”Om belum menghubungi mereka. Nanti mereka akan menelfon ku untuk memberikan informasinya.”


Hardin terdiam. Matanya terus memperhatikan wajah-wajah orang yang masih berkeliaran di tengah malam seperti ini. Setelah mendengar dari seseorang bahwa mereka melihat seorang wanita terluka dan di bawa oleh seorang pria, dengan ciri-ciri yang sama dengan Syakila, Johan menelfon pihak polisi untuk membantu mencari keberadaan Syakila di seluruh rumah sakit kota S.


Trrtrtrrt trrtrtrrt. Bunyi handphone Johan.


”Itu pasti mereka! Jawab panggilannya, Hardin.” ucap Johan saat ia mendengar nada dering dari handphonenya berbunyi.


Hardin mengangguk, ia meraih handphone Johan yang berada di depannya itu. Ia melihat id pemanggil, benar apa yang di katakan Johan, pamannya itu. Yang menghubunginya adalah teman polisinya. Ia menjawab telfon tersebut dengan mengaktifkan loudspeakernya, agar Johan juga ikut mendengar ucapan polisi tersebut.


”Halo, selamat malam, Pak.” sapa Hardin.


”Selamat malam, apa ini Pak Johan yang sedang berbicara dengan saya?”


”Buk__”


”Iya, ini dengan saya sendiri. Bagaimana? Apakah kalian menemukan ponakan saya?” sahut Johan bertanya, menyanggah ucapan Hardin.


”Maaf, kami sudah mengecek ke seluruh rumah sakit, tapi, tidak ada pasien yang bernama Syakila, ataupun pasien seorang wanita yang terluka yang di bawa ke rumah sakit oleh seorang pria.”


Hardin dan Johan terdiam sesaat. Harapan mereka kembali sirna.


”Baiklah, terima kasih atas bantuannya membantu ku mencari ponakan ku.” ucap Johan kemudian.


”Sama-sama, Pak Johan. Kami akan terus mencari keberadaan Syakila sampai ketemu. Jika Pak Johan dan sekeluarga sudah menemukan keberadaan Syakila, harap memberitahu kami, agar pencarian di berhentikan.”


”Baik, Pak.” sahut Johan.


”Baik, selamat malam, Pak Johan. Saya tutup telfonnya.”


”Baik, selamat malam juga, Pak.” tut tut tut. Telfon terputus.


Hardin menyimpan kembali benda pipih berwarna hitam itu di depannya. Ia menghela nafas kasar.


”Di rumah sakit juga tidak ada. Kemana perginya kakak?” ucapnya.


”Sebaiknya kita pulang saja. Semoga pihak kepolisian bisa menemukan Syakila.” kata Johan.


Hardin tidak menyahuti. Johan terus menyetir sambil melihat kiri kanan jalan. Kiranya, ada keajaiban, dia bisa menemukan Syakila di jalanan itu.

__ADS_1


Tetapi, harapannya kosong belaka. Kini mobilnya sudah terparkir di depan rumah Sarmi. Sepanjang perjalanan, ia tidak melihat anak kemenakannya itu.


Hardin dan Johan turun dari mobil dengan wajah sedih, lelah, dan tidak semangat. Mereka telah di sambut oleh Sarmi dan Biah di depan pintu rumah.


Ketika Sarmi dan Biah mendengar suara deru mobil yang berhenti, mereka berdua sesegera mungkin membuka pintu rumah.


Mereka berdua nampak sedih melihat raut wajah kedua pria yang berjalan semakin dekat ke arahnya, di wajah mereka tergambar kesedihan.


”Mama, Tante.”


”Sarmi, Biah.”


Ucap kedua pria itu bersamaan, setelah mereka berhadapan langsung dengan Biah dan Sarmi.


”Kalian tidak menemukan Syakila?” tanya Sarmi dan Biah bersamaan dengan nada sedih dan pandangan sedih pula menatap bergantian wajah Johan dan Hardin.


”Mari masuk ke dalam rumah.” ajak Johan.


Sarmi dan Biah menurut, mereka semua masuk ke dalam rumah. Mereka semua duduk di kursi.


”Bagaimana? Papa, apakah Syakila benar-benar tidak di temukan?” Biah kembali bertanya.


Sarmi melihat Hardin yang menunduk dengan sedih. Sarmi tahu jika mereka tidak berhasil menemukan keberadaan Syakila. Mata Sarmi kembali berkaca-kaca.


”Kami tidak menemukan Syakila. Saat kami mendengar ada seorang wanita yang terluka dan di bawa oleh seorang pria, aku meminta bantuan pihak polisi untuk mencari Syakila di rumah sakit. Tetapi, di seluruh rumah sakit di kota ini, Syakila tidak berada di sana.”


”Kemana perginya anakku, Johan?” tanya Sarmi dengan diiringi air mata yang mengalir kembali membasahi pipinya yang masih sembab karena terus menangis.


Biah segera merangkul pundak Sarmi dan mengelusnya pelan. Biah memandang suaminya yang memandang langit-langit rumah.


Pertanyaan Sarmi tidak siapapun yang menjawabnya. Entah itu Johan, Biah, ataupun Hardin. Jika mereka ingin menjawab, apa yang akan mereka katakan? Apakah mereka harus menjawab dengan kata-kata yang bisa menenangkan Sarmi? Sedangkan jelas-jelas mereka tidak tahu di mana Syakila? Bersama siapa? Dan bagaimana keadaannya?


... ..


Di kamar Syakila.


”Syakila, semua orang khawatir padamu. Ini salahku! Jika saja aku tidak menyuruh mu ke rumah sakit, ini semua tidak akan terjadi! Mungkin sekarang kita sudah istrahat dan tidur dengan nyenyak.”


”Aku masih berharap wanita yang terluka itu bukan kamu, Syakila!!”


”Tuan!” sapa Ijan dengan takut.


Ia tahu mengapa tuannya itu menghubungi dirinya. Tidak lain hanya untuk menanyakan perkembangan pencarian nyonya mudanya. Tetapi, ia takut untuk menjawab hasilnya yang tidak pasti.


”Apa kalian sudah menemukan titik terang keberadaan Syakila?” tanya Geo.


”Ma..maaf, Tuan. Ka__”


”Kalian bekerja seperti apa? Mengapa menemukan seorang wanita saja kalian tidak bisa? Kerahkan semua anak buah ku dan anak buah Beni untuk mencari Syakila di seluruh kota ini!!” tut tut tut Geo mematikan telfonnya secara sepihak tanpa menunggu sahutan Ijan. Ia melempar handphone ke ranjang.


”Bodoh!! Tidak berguna!!”


Ia tampak gusar sekali, ia meremas kebelakang rambut depannya yang menutupi jidatnya itu.


”Syakila!!”


Ia kembali meraih benda pipih hitam yang di lemparnya di ranjang. Ia kembali membuka kontak nomor yang terpatri di sana. Ia menghubungi kembali nomor Syakila.


Ia merasa senang, senyum terukir di bibirnya, kali ini nomor Syakila aktif. Meskipun Syakila belum mengangkat telfonnya. Telfon tersambung setelah dua kali Geo mengulang memanggil.


”Halo.” sapa seseorang di sebrang sana.


Kening Geo mengerut mendengar suara pria yang mengangkat telfon Syakila.


Suara pria!? Siapa dia!?


”Halo. Ini siapa?”


Kembali Geo mendengar ucapan pria di sebrang sana. Geo masih terdiam.


”Ugh..Um..ah..!!”


Lagi-lagi Geo mendengar suara di balik telfon genggamannya itu. Namun, kali ini suara seorang perempuan. Keningnya semakin di kerutkan, ia tahu suara wanita itu adalah suara Syakila.


Apakah itu benar Syakila? Di mana dia? Dia bersama seorang pria!!!

__ADS_1


”Kamu sudah bangun?”


Lagi-lagi Geo mendengar suara pria itu bertanya kepada perempuan yang ia dengar suaranya tadi.


Kali ini wajah Geo tampak marah. Ia menghempaskan handphonenya ke dinding kamar dengan kasar. Benda pipih hitam itu hancur terbelah tiga, percikan layarnya yang pecah berceceran di lantai.


”Kurang ajar!! Brengsek!! Wanita sialan!! Wanita murahan!!” makinya.


”Semua orang khawatir padanya, sedangkan dia!! Dia bersenang-senang bersama seorang pria!! Semua orang mencarinya seperti orang gila. Dan dia...!!”


”Kamu sudah bangun?” Geo kembali menirukan ucapan pria di balik telfonnya tadi.


Ia tertawa sinis, menit berikutnya ia mengubah mimik wajahnya, aura kemarahan terpancar jelas di mata dan di wajahnya.


”Semua wanita sama saja!! Murahan!! Bangsat!! Mengapa aku bisa tertarik lagi pada wanita?”


”Syakila...!!!” teriaknya frustasi.


Ia menghentikan segala gumamnya. Ia keluar kamar masih dengan wajah datar dan penuh amarah. Ia mendatangi Sarmi, Hardin, Johan, dan Biah yang masih bersedih di ruang keluarga.


”Untuk apa kalian begitu khawatir seperti ini?!” ucapnya, setelah ia sampai di ruang keluarga.


”Geo?! Kamu__”


”Wanita seperti itu tidak pantas kalian khawatirkan seperti ini!!” ucap Geo lagi memangkas ucapan Sarmi.


”Apa maksudmu?! Jaga ucapan mu, Geo!!” bentak Hardin.


”Kalian mengkhawatirkan dia, tapi dia?! Dia sedang bersenang-senang dengan seorang pria!!” ucap Geo.


Hardin berdiri dari duduknya, ia melayangkan tinjunya yang tiba-tiba pada Geo. Geo menghindar dan menahan tangan Hardin.


”Brengsek!! Syakila menghilang karena mu!! Dan sekarang, sekarang kamu menuduh kakak ku seperti itu? Di mana hati dan pikiran mu, Geo?!” ucap Hardin.


”Syakila tidak menghilang!! Dia sedang bersenang-senang dengan seorang pria, mungkin mereka sekarang ada di sebuah hotel, mereka berdua mungkin masih ingin __”


Plak!! Ucapan Geo tersanggah dengan tamparan keras dari Sarmi yang tiba-tiba.


”Apa yang kamu pikirkan tentang anak ku? Apa kamu kira anakku wanita murahan?! Wanita penghibur? Pemuas nafsu laki-laki? Kamu tidak mengenal anakku dengan baik, atas dasar apa kamu menuduh anakku yang tidak-tidak!?!” ucap Sarmi dengan tegas. Suaranya meninggi.


Hardin melepaskan tangan Geo yang menahan tangannya. Ia tidak percaya mamanya berani menampar wajah anak mantunya. Padahal, sebelumnya Sarmi mengatakan, ia tidak akan pernah memukul anak mantunya, ia hanya akan memukul anaknya sendiri bila terjadi sesuatu pada rumah tangga anaknya.


Johan dan Biah pun terkejut melihat Sarmi begitu, ini pertama kalinya mereka melihat amarah Sarmi. Tetapi, mereka memaklumi sikap Sarmi, Geo pantas menerimanya. Dia sudah keterlaluan!


Geo menatap tajam pada Sarmi, ”Beraninya kamu menamparku!!” ucapnya masih dengan wajah datar. ”Ibu ku saja tidak pernah memukul ku, meski hanya pukulan gurauan. Tapi kamu, yang status mu hanya mertua ku, beraninya mengangkat tangan mu memukul ku!!”


Hardin, Sarmi, Johan dan Biah terkejut mendengar ucapan tajam Geo pada Sarmi.


”Mengapa aku harus takut padamu!? Kamu berhak mendapatkan itu!!” sahut Sarmi.


”Sebelum kamu menegur ku, tegur lah anak kesayangan mu itu. Dia berstatus istriku, tetapi masih mengikat hubungan dengan pria lain. Dan sekarang, ia sedang berduaan dengan seorang pria__”


"Atas dasar apa kamu mengatakan anakku dengan begitu buruk!!”


Sarmi kembali melayangkan tangannya memukul pipi Geo, namun, Geo menahan tangan Sarmi.


”Aku mendengar sendiri suara Syakila dengan seorang pria saat ku hubungi. Jadi, berhentilah untuk khawatir padanya! Kekhawatiran kalian dan aku tidak berdasar. Aku tidak sembarangan menuduh anak mu seperti itu, tapi, dia sendiri yang menunjukan siapa dirinya!” ucapnya.


”Apa?” bersamaan Sarmi, Hardin, Johan, dan Biah berucap terkejut.


Tanpa berkata Hardin meraih handphonenya di saku celananya. Ia menghubungi nomor Syakila.


”Nomornya sudah aktif, tapi, tidak bisa menerima panggilan.” ucapnya kemudian. Ia mematikan telfon dan ulang menghubungi, tetapi, masih tidak bisa menjawab panggilan.


”Lihatlah, setelah berhasil ku hubungi, ia langsung menyibukkan ponselnya.” ucap Geo dengan tersenyum sinis. Ia menghempaskan tangan Sarmi.


Sarmi terdiam, badannya mundur selangkah dari Geo. Lidahnya keluh untuk berbicara. Hardin membawa Sarmi kembali duduk di kursi. Johan dan Biah pun terdiam. Hening, suasana di ruangan itu. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Sekarang sudah waktu sudah menunjukkan pukul 03.30, mata mereka tidak merasakan kantuk sama sekali.


”Kalian tahu, ucapan apa yang ku dengar saat ku hubungi Syakila?” ucap Geo memecah kembali kesunyian.


Hardin, Biah, Sarmi, dan Johan hanya melihat Geo tanpa menyahuti.Mereka tahu, pria yang sedang ada di kursi roda, di hadapan mereka sedang mengeluarkan isi hatinya yang kecewa.


”Saat handphonenya terhubung, seorang pria yang mengangkat telfonnya menyapaku, menanyakan aku siapa. Tidak lama terdengar suara lenguhan Syakila. Dengan santai pria itu bertanya, pada Syakila ”kamu sudah bangun?” Kira-kira apa yang harus ku pikirkan dengan mendengar perkataan mereka?”

__ADS_1


Geo menatap tajam lawan bicaranya. Semua terdiam, tidak ada yang menyahuti ucapan Geo.


__ADS_2