
Di kediaman Albert
Syakila menaruh lauk terakhirnya di atas piring dan menatanya di atas meja makan. ”Makan malam telah siap! Tinggal menunggu waktu untuk makan!” gumamnya, sambil tersenyum.
Ia kembali ke kamar, ia masuk, di lihatnya Geo masih tidur. Ia terus melangkah ke lemari pakaian, mengambil handuk dan pakaian ganti. Ia pergi ke kamar mandi, ia sedang mandi.
Ia mandi agak tidak konsen, perlakukan Geo saat di kamar mandi di kota S, kembali terngiang di pikirannya. ”Eh, mengapa aku memikirkan itu tiba-tiba? Tidak, tidak! Jangan memikirkan itu lagi!” gumamnya lagi, mukanya memerah karena malu.
Namun, sentuhan Geo saat itu begitu lembut..aku benar-benar terbuai...Dan ada sesuatu yang bergejolak di hati...rasa ingin lebih lagi dari itu...Eh...sabar, sabar! Mengapa kepikiran itu lagi sih? Apakah aku telah terkena sihirnya Geo? benaknya.
Ia memukul-mukul ringan kepalanya, ”Sudah stop! Jangan mikirin itu, jangan bayangin itu!” gumamnya. Ia mempercepat mandinya.
Ia telah selesai mandi dan juga mengenakan pakaian, ia melilitkan handuk di rambut basahnya.
Ia keluar dari kamar mandi, melangkah terus ke ranjang, ”Geo, bangunlah! Sudah masuk waktu malam,” ucapnya, dengan lembut.
Geo membuka mata, di lihatnya wajah cantik Syakila, ia tersenyum, meraih badan Syakila dan menariknya ke atas tubuhnya.
Syakila terkejut, tubuhnya mengikuti tarikan Geo, sehingga badannya tertarik ke atas tubuh pria itu. ”Geo, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan aku! Dan kamu, bangunlah, aku akan mandikan kamu.” ucapnya.
Bukannya melepaskan Syakila, ia malah mempererat pelukannya. ”Syakila, aku sudah terbiasa dengan tubuh mu, memeluk mu, mencium mu, jika tidak melakukan itu, hidup ku seakan hampa.” ucapnya. Ia langsung mencium bibir Syakila dengan lembut.
”Um...Ge... Geo...” Geo tidak memberikan kesempatan Syakila untuk berbicara, ia memperdalam ciumannya. Syakila berontak ketika merasakan nafsu pria itu. Dia merasakan milik Geo kembali mengeras.
Ia terus berontak, namun Geo semakin mengeratkan pelukannya, menahan tubuh dan kepala Syakila. ”Syakila, aku menginginkanmu, sekarang.” ucap Geo, nafasnya berat. ”Bolehkah? Kamu yang bermain di atas ku.” pintanya. Ia menatap Syakila dengan tatapan lembut dan penuh nafsu.
Ia kembali mencium bibir wanita yang sedang terbengong dan terkejut itu. Geo memasukan tangannya ke dalam baju Syakila dari belakang wanita itu.
Syakila terdiam, membeku. Apa? Aku di atas mu? Aku mana tahu! Aku tahu, status kita memang suami istri. Tapi, kita bukan pasangan yang seperti itu. Aku memang berdosa menolak keinginan mu, hak mu. Tapi, aku tidak bisa memenuhi kewajiban ku yang itu.. benaknya.
”Geo, maaf, aku tidak bisa! Aku.... kamu...jika kamu begini, kita tidurnya terpisah saja! Aku mohon, lepaskan aku! Aku benar-benar tidak ingin membencimu, jadi, jangan buat aku untuk membenci dirimu!” ucapnya, setelah Geo melepaskan tautan bibirnya.
Geo menghela nafas, melepaskan pelukannya, Syakila menarik dirinya. Ia mendorong kursi roda Geo dekat di ranjang. ”Aku duluan ke dapur, kamu bisa kan turun sendiri dari ranjang ke kursi roda, dan mandi sendiri. Aku pergi!” ucapnya, dengan menunduk.
Geo terus memperhatikan wajah Syakila yang berbicara menunduk dengannya. Wajah wanita itu memerah.
Apakah dia juga sedang ingin? Wajahnya memerah. Wanita ini, hatinya memang keras untuk di lunakkan!! Aku juga tidak bisa berbuat keras padanya. benaknya.
”Maaf, aku lupa tentang perjanjian kita! Aku tidak akan mengulanginya. Jangan membenciku, jangan berbicara menunduk padaku. Lihat aku, tatap aku, jika sedang berbicara dengan ku.”
Syakila mendongak, melihat Geo. ”Aku ke dapur dulu. Kamu latihlah dirimu untuk turun dan naik ke ranjang sendirian..” ucapnya.
”Kamu tega dengan ku?”
”Tidak, bukan kah guru ku sudah melatih mu untuk turun dan naik ke ranjang sendirian dari kursi roda kan? Guru ku juga sudah mengajarkan mu cara pindah dari kursi roda satu ke kursi roda yang lainnya? Latihlah, dirimu mulai sekarang!” ucap Syakila dengan tegas.
”Baru satu kali gurumu mengajari ku! Bagaimana aku bisa melakukannya sendirian?”
Syakila berjalan ke arah lemari pakaian, ia mengambilkan pakaian Geo dan menyimpannya di atas ranjang.
”Kamu bukan orang yang pelupa, Geo. Kamu orang yang pintar, cerdas, dan cepat tanggap. Aku pergi ke dapur, jika kamu tidak pergi ke sana, aku tidak akan mencari mu ke kamar, dan aku tidak akan tidur di kamar malam ini!” ucapnya, mengancam.
”Kamu mengancam ku? Memangnya kamu mau tidur di mana jika tidak tidur di sini?”
Syakila tersenyum, ”Kursi sofa ruang keluarga dan ruang tamu sedikit besar dari kursi sofa yang pernah ada di kamar mu. Aku bisa tidur di sana.” jawabnya.
”Apa menurut mu mamaku mengizinkan mu untuk tidur di sana?”
__ADS_1
”Jika dia tidak mengizinkan ku tidur di kursi sofa, maka dia akan membawaku tidur di kamarnya. Kamu pergi mandilah, aku pergi ke dapur.” ucap Syakila, ia melenggang keluar dari kamar.
Geo memejamkan mata setelah mendengar pintu kamarnya tertutup, ”Gadis keras kepala! Tapi, aku semakin tertarik dengan mu! Semakin ingin mendapatkan mu!” gumamnya.
Ia turun dari ranjang, mengunci pintu kamar dan pergi mandi. ”Sialan, itu artinya, mulai sekarang, ia tidak akan memapah ku naik dan turun ke ranjang lagi, ia juga tidak akan memandikan ku lagi dan memakaikan baju untukku.” umpatnya.
Beberapa menit terlewat, Geo telah selesai mandi dan memakai pakaian, ia duduk di kursi rodanya. Ia membuka pintu kamar dan pergi ke dapur.
Di dapur.
”Akhirnya kamu datang juga Nak.” ucap Rosalina sambil tersenyum, melihat Geo.
Geo melihat Syakila yang duduk di samping Beni. Kenapa dia duduk di situ? Seharusnya dia duduk di samping ku. benaknya.
”Iya, Mah. Maaf, Geo datang terlambat, ini karena Geo yang melakukan semuanya sendiri, masih agak susah untuk bergerak.” sahutnya, sambil melirik Syakila.
”Tapi, akhirnya kamu bisa kan? Tidak usah melirik tidak senang begitu pada istrimu. Mama tidak akan membelamu. Jika kamu tidak berusaha melakukan sendiri, sampai kapan kamu akan bergantung pada orang?” ucap Rosalina, menasehati.
”Iya, Syakila melakukan itu juga untuk kebaikan mu.” sambung Beni.
Geo menatap tajam pada Beni. Beni bersikap biasa saja, hal itu sering di tunjukkan Geo padanya. Tapi, ia tahu, sifat Geo sebenarnya adalah penyayang.
”Sudah, karena Geo sudah datang, ayo, semuanya sendok makanan kalian.” ucap Rosalina, ia mengambil piring dan mulai menyendok makanannya.
Syakila menyendokkan makanan untuk Geo sesuai dengan porsinya. Setelah itu, ia mengambil makanan untuknya. Beni juga mengambil makanan untuk dirinya. Mereka mulai menyantap makan malamnya.
”Oh, iya, Nak. Mulai kapan kamu akan pergi ke kantor?” tanya Rosalina pada Geo.
Beni dan Syakila sama-sama melihat Geo.
Beni tersenyum senang, ”Alhamdulillah! Aku senang mendengarnya, Geo. Akhirnya, semangat mu kembali lagi. Kami akan menunggu dan menyambut kedatangan mu dengan tangan terbuka di kantor.” sahutnya.
”Hum,” singkat Geo menyahuti.
”Tapi, apakah kamu yakin dengan ucapan mu, Nak? Kamu tidak akan apa-apa ke kantor? Kamu akan bertemu dengan banyak orang, terutama, para karyawan wanita!” ucap Rosalina.
”Geo yakin, sangat yakin, Mah.” jawab Geo.
”Baiklah, Mama hanya mendukung mu saja. Jika kamu tidak bisa nanti, jangan paksakan dirimu. Mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa.” ucap Rosalina.
”Iya, Mama.” sahut Geo.
Mereka kembali melanjutkan makannya. Syakila telah selesai makan. ”Oh, iya, besok, aku akan kembali mengajar di SD.” ucapnya.
”Aku tidak mengizinkan!” ucap Geo, tanpa melihat Syakila.
”Tapi, Geo. Itu adalah pekerjaan ku! Kamu tidak bisa untuk mengabaikan pekerjaan ku, Geo!” ucap Syakila memprotes.
”Memangnya kenapa kamu melarang Syakila untuk lanjut mengajar, Geo?” tanya Beni dan Rosalina, bersamaan.
”Selama aku di dalam rumah, Syakila akan menemani ku, mempelajari dokumen-dokumen perusahaan. Di saat aku pergi ke kantor, Syakila juga mulai berkerja di sana.” jawab Geo, menerangkan.
Mata Syakila terbelalak besar melihat Geo, ”Geo, kamu tidak bisa seenaknya begitu saja! Ini pekerjaan ku, aku yang lebih tahu akan skill ku di mana! Mengapa sekarang kamu ingin mengatur ku, Geo? Perjanjian kita tidak seperti itu!!” ucapnya, dengan ketus.
”Ok, sudah, sudah. Kamu tenang Syakila, kalian bicarakan lagi ini baik-baik. Mama tidak ingin melihat atau mendengar kalian berdua berselisih paham. Mengerti?!” ucap Rosalina sambil melihat Geo dan Syakila bergantian.
”Mengerti!” sahut Geo dan Syakila, bersamaan.
__ADS_1
Rosalina dan Beni telah menyelesaikan makannya, begitu juga dengan Geo.
”Mama, tidak usah, biar Syakila saja yang membersihkan meja makan.” ucap Syakila, mencegah Rosalina yang mengumpulkan piring kotor.
”Iya, Tante. Tante istirahat saja dan ajaklah Geo mencari udara segar di teras. Untuk urusan dapur, biar Beni dan Syakila saja yang urus.” sambung Beni, berucap.
Dahi Geo mengerut. Rosalina melihat Syakila, anak mantunya itu mengangguk, menyetujui ucapan Beni. ”Baiklah!” ucapnya, menurut. Ia mendorong kursi roda Geo ke teras rumah.
Kini tinggal Syakila dan Beni di dapur. Syakila mengumpulkan piring kotor dan membersihkan dapur dan Beni membersihkan dan merapikan meja makan.
Setelah itu, mereka berdua bersama-sama mencuci piring, Syakila yang menyabuni dan Beni yang membilasnya.
”Syakila, terima kasih banyak, karena mu akhirnya Geo kembali bersemangat dan ingin bekerja lagi di kantor. Sudah lama semenjak ia di tinggalkan Dawiyah, ia sudah tidak ingin ke kantor lagi. Kalau pun pergi, aku memaksanya untuk ke kantor.” ucap Beni, ia mengungkapkan perihal alasan Geo putus semangat.
”Di tinggalkan Dawiyah? Jadi, Dawiyah telah meninggal?” tanya Syakila.
”Tidak! Tapi, Dawiyah pergi meninggalkan Geo saat di hari penting mereka, di hari pertunangan mereka. Dawiyah pergi bersama kekasihnya yang lain. Dan Geo, mencarinya kemana-mana. Dengan penyakit yang di derita Geo, tidak membuatnya leluasa mengenal dan bersentuhan dengan wanita. Jadi, di saat ada hawa kulit wanita yang cocok dengannya, ia mempertahankan wanita itu. Dan mencintainya dengan tulus, itulah sebabnya, ia sangat kecewa dan terpukul sekali saat Dawiyah meninggalkan dirinya.” ungkap Beni lagi.
Oh, jadi, dia di khianati sama wanita yang di cintai nya? Apakah karena alasan penyakitnya itu, ia ingin menahan ku di sisinya? Tidak, aku tidak mau berada di sisi pria seperti dia. benak Syakila.
”Lalu, apa yang membuat dia lumpuh? Dan mengapa dia trauma pada rumah sakit dan pantai?” tanya Syakila penasaran.
Beni menghela nafas, ”Dia lumpuh saat dia pergi ke kota B untuk menemui Dawiyah, ia melihat Dawiyah sedang bermesraan dengan pria lain di pantai itu. Karena shock dan kecewanya, ia tidak hati-hati mengendarai mobil dan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya lumpuh. Jadi, saat ia melihat pantai, ia melihat bayang Dawiyah bersama pria itu dan itu membuatnya stres.”
Beni menjeda ucapannya, Syakila serius mendengarkan cerita Beni.
”Untuk rumah sakit, pacarnya terdahulu sebelum Dawiyah, Yulia adalah seorang dokter di rumah sakit. Awalnya Geo adalah pasiennya, lama kelamaan Yulia dan Geo saling jatuh cinta. Tetapi, aku tidak tahu apa yang membuat Yulia berpaling dari Geo! Saat Geo pergi ke rumah sakit menemui Yulia, ia melihat Yulia sedang berciuman dan berpelukan dengan pria lain. Geo menjadi shock, namun, Yulia masih bisa mengendalikan perasaan Geo. Di saat kedua kalinya Geo menemui Yulia di rumah sakit, ia justru melihat Yulia sedang bercumbu dengan pria yang sama di sana.” ungkap Beni lagi.
”Oh, rupanya, kisah asmara Geo sangat tidak beruntung! Ia di khianati oleh wanita yang di cintai nya dua kali.” sahut Syakila.
”Dan aku tidak ingin Geo di khianati yang ketiga kalinya oleh mu. Berjanjilah, jangan tinggalkan Geo. Tetaplah di sisi nya.” ucap Beni dengan serius.
Syakila dan Beni saling memandang, Syakila tidak tahu akan berkata seperti apa untuk menyahuti Beni. Apakah dia harus menjawab ya atau tidak?
Geo tersenyum di dinding dapur, iya, dia menguping pembicaraan Syakila dan Beni di dapur. Rosalina telah pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Jadi, ia pergi ke dapur untuk mengecek apakah Syakila sudah selesai membersihkan dapur atau belum?
Dan ternyata, ia mendengar suara Syakila dan Beni yang sedang berbicara, ia mendengarkan pembicaraan mereka tanpa di sadari oleh Syakila maupun Beni.
Syakila memutuskan pandangannya, ”Beni, aku tidak bisa menjanjikan hal itu padamu. Aku tahu, kamu dan Mama menyayangi Geo. Beni, aku tidak mencintai Geo, dan aku punya perjanjian dengan dia untuk bercerai.” ucapnya.
”Syakila, apa yang kurang pada diri Geo? Tidak bisakah kamu membuka hatimu untuk menerima dia di sisi mu?”
Syakila menggeleng, ”Tidak ada yang kurang dari dirinya. Tapi, aku tidak mencintainya, aku mencintai Sardin. Aku tidak bisa bersama dengan Geo.” jawabnya.
Geo merasa kecewa mendengar jawaban Syakila, ia pergi dari sana. Ia pergi ke kamarnya.
”Lagi pula, Geo juga tidak mencintai ku.” ucap Syakila lagi.
”Aku yakin Geo mencintai mu. Aku saja jatuh cinta pada kamu, tidak mungkin jika Geo tidak mencintai kamu.” sahut Beni.
Syakila tertawa kecil, ”Cinta? Beni, bukan kah kalian tahu pernikahan aku dan Geo itu untuk apa? Aku...Geo akan sembuh dari sakitnya. Dia sudah mulai ke kantor, ia akan membiasakan diri berbagi hawa dengan wanita lain. Dia akan mendapatkan cintanya lagi. Tapi wanita itu bukan aku!” ucapnya.
”Bagaimana jika Geo benar-benar mencintai mu?”
”Tidak mungkin! Di antara kami hanya ada kesepakatan yang mana, kesepakatan itu akan berakhir. Jangan mengharapkan aku bersama Geo!” jawab Syakila. Ia melenggang pergi dari dapur setelah berucap.
Beni menghela nafas melihat punggung Syakila yang keluar dari dapur.
__ADS_1