
Malam hari di kediaman Sarmi.
”Bagaimana menurut Anda, Sarmi?” tanya Nesa.
”Aku sih mana-mana saja. Tapi, keputusan itu tunggulah anak-anak kita datang dulu, baru kita dengar bagaimana pendapat mereka berdua. Karena mereka berdua lah yang wajib memutuskannya.” jawab Sarmi.
”Iya. Jujur kami senang, hubungan mereka berdua kembali terjalin. Apapun keputusan yang mereka ambil nanti, kami akan memberikan restu.” sambung Johan.
”Baiklah! Dari pembicaraan Sardin, mungkin besok mereka akan terbang ke sini. Syakila gak boleh lama-lama di kota A. Dia takut Syakila akan tenggelam dan masih memikirkan hal yang sudah terjadi ini. Apalagi berada di satu kota dengan mantan suaminya. Dia tidak ingin Syakila berlarut dalam kesedihan dan terpuruk dalam pemikiran yang gak gak, jika bertemu terus dengan Geo.” ungkap Alimin.
Seharusnya Syakila tidak akan sedih kan? Atau apa dia sudah mulai menyukai mantan suaminya itu, barulah dia bersedih dan menangis akan perceraian yang di ucapkan Geo? benak Sarmi.
”Baiklah, ini sudah malam. Terima kasih, atas jamuan yang kalian hidangkan. Kami berdua pulang dulu.” pamit Nesa.
”Iya, sama-sama. Dan hati-hati di jalan.” sahut Sarmi.
Nesa dan Alimin pun pergi dari kediaman Sarmi.
”Kalau di saat Geo masih duduk di kursi roda, dia tidak melakukan hak nya, itu wajar. Tapi, saat dia sudah sembuh, tidur satu kamar dengan Syakila, dia masih tetap bertahan tidak mengambil haknya sebagai seorang suami pada Syakila. Apakah Geo tidak mencintai Syakila?” tanya Johan pada Sarmi.
”Untuk perasaan Geo, aku tidak tahu. Kalau Syakila, dia sangat jelas menampakkan rasa tidak suka nya pada Geo. Mungkin itu benar. Syakila dan Geo tidak saling mencintai. Meskipun aku senang, Geo mengembalikan anak ku dengan keadaan utuh. Aku masih sayangkan perceraian mereka.” tutur Sarmi.
”Namanya perasaan tidak bisa di paksakan, Sarmi. Berbeda dengan kisah antara kamu dan Halim. Kalian berdua sepakat membangun suatu komitmen dalam rumah tangga kalian. Kita do'akan saja supaya Syakila dan Geo sama-sama mendapatkan kebahagiaan dari orang yang mereka cintai.” ucap Biah.
”Iya. Kamu benar.” sahut Sarmi.
Aku masih memikirkan Syakila yang bersedih menerima perceraian itu. Jika dia tidak suka pada Geo, seharusnya dia akan tenang dan bersantai menghadapi perceraian itu. Apakah sesuatu telah terjadi?
Meskipun aku tidak pernah melihat cinta Geo untuk Syakila. Tetapi, aku bisa melihat keseriusan Geo dalam menjalani rumah tangganya dengan Syakila. Bahkan, dia bersikap lembut pada Syakila, saat mereka berada di rumah ku. benak Sarmi.
”Ini sudah larut malam. Kami berdua juga harus pulang. Kami pergi dulu.” pamit Johan.
”Iya. Terima kasih, kak ipar. Sampai sekarang, kakak menemani kami.”
”Iya. Kalau bukan kami, siapa lagi yang akan perhatikan anak-anak dari adikku.” Johan tersenyum melihat Sarmi. ”Baiklah, kami pergi dulu.”
Biah dan Johan berdiri, Sarmi ikut berdiri. Ia mengantar Biah dan Johan sampai di teras rumahnya.
Biah dan Johan telah pergi. Sarmi masuk ke dalam rumah. Ia mengunci pintu rumah dan masuk ke kamarnya. Ia masih memikirkan hubungan rumit antara Syakila dan mantan anak mantunya itu.
Sebenarnya, dia tidak mau merestui perceraian Syakila dan Geo. Tetapi, Alimin dan Nesa berkunjung ke rumahnya di saat ia baru selesai membaca lembaran dari map yang di kirimkan Geo padanya.
Alimin dan Nesa menyampaikan pada Sarmi akan niat anaknya, Sardin pada Syakila. Untuk melanjutkan kembali hubungan asmara Syakila dan Sardin. Syakila dan Sardin sudah setuju akan niat Sardin tersebut.
Johan juga mencegah Sarmi untuk menghalangi perceraian Geo dan Syakila. Bagaimanapun, mereka berdua menikah juga tidak sah dan dengan paksaan waktu itu. Mungkin selama satu tahun dalam hubungan mereka tidak ada kemajuan. Jika di paksakan, mungkin saja akan jadi fatal untuk mereka berdua. Jadi, bercerai adalah hal yang terbaik.
Mendengar ucapan Johan dan Alimin, Sarmi pun mengikhlaskan semuanya.
.. ..
Keesokan paginya di kediaman Denis, kota A.
”Mengapa cepat sekali berangkatnya? Bukan kah penerbangannya kemarin om Anton bilang, pada jam 2 siang?” protes Syakila.
”Sebelumnya juga kak Sardin bilang lusa akan berangkat. Tetapi, semua nya malah mendadak seperti ini. Apakah kalian semua mengusir ku dari kota ini?”
Syakila sedang mengomeli Sardin dan Anton yang tiba-tiba datang ke rumah Denis, dengan membawa koper pakaian Sardin. Dan satu karton dos untuk oleh-oleh buat keluarga di kota S dari paman Anton.
Sardin dan Anton sama-sama menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Apa yang di omelkan Syakila itu benar.
Memang, sebelum Anton membayar tiket pesawat, ia menelfon Syakila untuk meminta persetujuannya. Dan memberitau Syakila jika jam berangkat mereka adalah jam dua siang.
Syakila sudah setuju. Anton ingin memboking dua tiket, untuk Syakila dan Sardin. Namun, dari pihak loket, menolaknya.
Anton bingung, namun, kebingungannya telah di jelaskan oleh Geo yang saat itu Geo berbicara dengan dirinya melalui handphone pemilik travel tersebut, menjelaskan niatnya.
Ia juga di larang oleh Geo untuk memberitahu pada Syakila tentang niatnya tersebut. Anton hanya memberi tahu pada Sardin saja.
Sardin sendiri audah tahu duluan tujuan Geo. Sebelum Geo berbicara pada Anton, Geo berbicara dulu pada Sardin.
Dan Sardin mengikuti keputusan Geo jika mereka akan berangkat pada hari ini, di penerbangan pagi, bersama Geo, menggunakan pesawat pribadi Geo.
”Maaf, sayang! Ternyata Om terlambat lima menit saat pembayaran. Dan tiket itu sudah di beli orang lain. Dan kebetulan ada orang yang membatalkan penerbangan paginya ke kota S, jadi, Om ambil itu saja. Dan Om lupa memberitahu mu.” alibi Anton, menutupi kebohongannya.
”Maaf, sayang! Ada urusan mendadak di kantor kakak. Jadi, kakak berkompromi dengan Paman untuk berangkat lebih cepat dari kesepakatan. Dan kebetulan sekali, ada tiket di penerbangan pagi ini. Jangan kesal, yah?” alibi Sardin, menutupi kebohongannya pula.
”Kesal lah, kak! Syakila tidurnya jam empat subuh tadi, dan sekarang di kasih bangun jam lima pagi. Kepala Syakila masih pusing.” omel Syakila lagi.
Wajah Sardin berubah sedih.
Dia tidak tidur semalam? Apa karena memikirkan Geo? Masih memikirkan perceraian itu? benak Sardin.
Kepalanya jadi sakit secara tiba-tiba. Dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
”Kak, kenapa? Kepalanya kakak sakit lagi?” Syakila menghampiri Sardin. Suaranya jadi lunak. Dia duduk berjongkok di hadapan pria itu yang memegang kepalanya. Syakila khawatir.
Sardin menyandarkan kepalanya di bahu Syakila. ”Sakit, sedikit! Kalau mendengar kamu mengomel lagi, sakitnya akan tambah nih.” Sardin justru bercanda menyahuti Syakila.
Syakila memegang kedua pipi Sardin, menegakkan kepala pria itu. Mereka pun saling tatap. Sardin dapat melihat jika wanita di depannya itu khawatir padanya.
”Jangan bercanda kak! Kepala kakak pasti sakit sekali, lihatlah raut wajah kakak yang berubah masam itu. Apa kakak sudah minum obat?”
”Iya, sebelum kesini kakak sudah minum obat. Jangan khawatir, selama ada Syakila di sisi kakak, dan Syakila gak marah-marah, gak mengomel, sakit kepala kakak gak akan pernah mencapai seratus persen.” kembali Sardin bercanda.
”Kakak jangan bercanda begitu! Syakila takut melihat kakak yang berbicara begitu, apalagi dengan nada menggoda Syakila.” ucap Syakila dengan serius.
”Iya. Gak lagi, maaf. Sudah selesai berkemas nya?” tanya Sardin.
”Iya. Bagaimana kepalanya kakak, masih sakit?”
”Gak lagi.” jawab Sardin.
Tiin tiin tiin! Terdengar bunyi klakson mobil. Anton dan Sardin tahu jika yang datang itu adalah Geovani Albert.
”Kalau sudah siap semuanya. Ayo, kita berangkat sekarang.” ucap Sardin. Ia berdiri dan mengambil koper pakaiannya.
Syakila mengangguk. Ia mengambil koper pakaiannya dan berjalan keluar rumah bersama Sardin.
Langkah Syakila terhenti saat melihat mobil yang terparkir di depan kios ayahnya. Mobil itu adalah mobil milik seorang pria yang masih melekat di hatinya.
Ah, aku lupa. Mama menyuruh Geo mengantar ku ke kota S. Jadi, kami berangkatnya bertiga. Ini sangat canggung sekali. Apa yang harus ku lakukan nanti? benak Syakila.
”Kenapa?” tanya Denis yang berada di belakang Syakila.
”Ah, gak apa-apa, Om.” Syakila melanjutkan langkahnya. Ia harus menghadapi ini semua. Dia tidak akan menjauh dan tidak akan bersembunyi. Itu kekanakan sekali.
”Syakila, kamu duduk di depan saja.” titah Sardin. Ia sendiri masih memasukkan koper pakaiannya dan koper pakaian Syakila di bangku belakang.
Setelah memasukkan barang-barang, Sardin masuk ke dalam mobil. Melihat keadaan begitu, Syakila mengerti.
”Baiklah!” Dengan hati yang berdegup kencang, ia memberanikan diri membuka pintu mobil depan. Dia masuk dan duduk dengan tenang di depan, di samping Geo.
”Kalian berhati-hati di jalan. Setelah tiba di kota S, jangan lupa hubungi kami.” ucap Denis.
”Sardin, meskipun kamu kemenakan Paman. Tapi, Syakila lebih aku perhatikan keselamatannya. Dia adalah anak dari sahabat ku, keselamatannya aku percayakan padamu. Jika terjadi sesuatu padanya selama perjalanan, kamu yang akan Paman marahin.” ucap Anton.
Sardin tersenyum. ”Iya, Paman. Sardin akan menjaga putri teman Paman ini dengan baik. Kalaupun aku tidak bisa menjaganya, ada temanku, sahabat ku, Geovani yang akan menjaga Syakila. Iya kan, Geo?” tanya Sardin pada Geo.
Geo tidak menjawab. Dia hanya melirik Syakila, itupun hanya sekilas. Syakila sendiri menunduk. Perasaannya campur aduk.
”Paman Anton dan Paman Denis, gak ngantar sampai di bandara?” tanya Syakila pada Denis dan Anton.
”Tidak. Salam buat Sarmi.” jawab Denis dan Anton.
”Iya, Paman.”
Geo telah menyalakan mobilnya. ”Kami berangkat dulu.” pamit Geo. Ia pun mulai menjalankan mobilnya setelah mendengar sahutan Denis dan Anton.
”Huh! Baru pergi beberapa detik saja, sudah merindukan mereka.” keluh Denis.
”Aku tidak tahu bagaimana nasib kebahagiaan mereka bertiga. Cinta segitiga sangat rumit. Syukurlah, semuanya bukan tipe orang yang sangat keras kepala. Jika tidak, mereka bertiga tidak ada yang akan bahagia.” tutur Anton.
”Iya. Aku tidak tahu, apakah Halim akan marah pada kita di atas sana atau tidak? Kita berdua tahu, dia tidak suka yang namanya perceraian. Almarhum selalu mencegah yang namanya bercerai, apakah kita sudah gagal menjaga perceraian anaknya?” tanya Denis pada Anton.
”Apakah istrimu ada membuat sarapan? Perut ku sudah lapar.” Anton berjalan ke rumahnya Denis.
”Hei! Aku sedang bertanya padamu! Mengapa kamu mengubah topik?” Denis menjadi kesal, ia mengejar Anton.
”Perutku lapar! Kamu tahu kan, kalau di saat lapar, pikiran buntu. Ayo, masuk! Aku sudah lapar!” titah Anton.
Denis dan Anton pun masuk ke dalam rumah Denis. Mereka langsung menuju meja makan.
”Mah, ada masak sarapan apa?” tanya Denis.
”Mama cuma buat nasi goreng, Pa. Sebentar, Mama akan siapkan. Mama kira, Papa dan kak Anton akan pergi mengantar Syakila dan Sardin sampai ke bandara.” ucap Samnia.
”Tidak jadi, Mah.” jawab Denis.
”Oh!” Samnia datang dari dapur dengan membawa penumbuh nasi goreng di tangannya. Ia meletakkan nasi goreng di atas meja. Ia kembali lagi dan mengambil piring serta telur yang sudah ia goreng. Ia juga membuat susu hangat.
Setelah itu, ia membangunkan anaknya dan mempersiapkan sekolah anaknya. Setelah anaknya selesai mandi, dan telah berganti pakaian sekolah, mereka pergi ke meja makan.
Anton dan Denis sedang makan.
Samnia dan anak-anaknya sedang mengambil makanan. Mereka semua sedang makan.
.. ..
__ADS_1
Perjalanan ke bandara.
Suasana di dalam mobil sangat canggung.
Krucuk krucuk! Suara itu berasal dari perut Syakila.
Syakila sangat malu, kenapa harus pada saat suasana canggung begini, perutnya berbunyi?
”Kita akan singgah makan sebentar di restoran, di depan sana.” ucap Geo. Pandangannya datar melihat ke depan.
Kening Sardin berkerut. ”Kamu tidak makan semalam? Tidur juga jam empat subuh, kamu mencari penyakit? Apa yang kamu pikirkan sampai hilang nafsu makan dan tidur mu? Hum?” tanyanya. Dia menjadi marah. Syakila tidak memperdulikan dirinya sendiri.
Geo menatap tajam Syakila. Dia marah. Tapi, apakah tidak mengapa dia akan memarahi Syakila, yang notabenenya adalah kekasih Sardin? Sementara Sardin ada di sini. Ia kembali menatap ke depan dengan perasaan dangkal.
Syakila terdiam. Suara perut Syakila yang lapar kembali berbunyi.
Geo menggelengkan kepala dan menambah laju mobil.
Sardin menghela nafas. Ia tahu, Syakila tidak akan menjawab pertanyaannya. Apalagi ada Geo di sini.
Geo menghentikan mobil di parkiran restoran. ”Ayo turun! Aku juga lapar.” titah Geo. Ia sendiri sudah turun dari mobil.
”Maaf, kakak memarahi mu. Ayo, kita turun. Geo sudah menunggu kita di depan restoran.” ucap Sardin.
”Tidak apa. Aku memang salah.” Syakila membuka pintu mobil dan turun. Sardin ikut turun dari mobil.
Mereka berjalan bersama memasuki restoran. Geo sudah masuk duluan di dalam restoran saat melihat Syakila dan Sardin berjalan ke arahnya.
Sardin mencari tempat keberadaan Geo. Dia melihatnya. Pria itu telah tengah di layani oleh pelayan restoran. Dia menghampiri tempat duduk Geo. Syakila mengikuti dari belakang.
”Pesan makanan kalian.” ucap Geo pada Sardin dan Syakila.
Sardin memesan makanannya. Syakila mengikuti makanan yang di pesan Sardin, berikut minumannya.
Mereka pun makan dalam diam. Suasana canggung masih terasa di antara mereka bertiga.
Beberapa menit berlalu, mereka telah selesai makan. Pelayan tadi datang dengan membawa bil makanan.
Mereka semua mengeluarkan kartu miliknya dan memberikan pada pelayan tersebut. Pelayan tersebut menjadi bingung, mau mengambil yang mana.
”Em...aku akan bayar sendiri.” ucap Syakila.
”Aku yang mengajak kalian makan, aku yang membayarnya.” ucap Geo.
”Tidak, terima kasih, aku tetap bayar sendiri.” kekeh Syakila. ”Mba, aku bayar makanan dan minuman ku.”
Pelayan tersebut melirik Sardin dan Geo. Sardin mengangguk. Pelayan tersebut mengambil kartu milik Syakila dan menggeseknya. Ia kembalikan kartu itu ke Syakila.
”Maaf, aku ke toilet dulu.” Syakila berdiri dan langsung bergegas ke toilet.
Geo memberikan kartu miliknya, membayar makanannya dan makanan Sardin.
”Dia memang tidak suka di bayarkan oleh orang lain. Kecuali, pria itu statusnya adalah paman atau suaminya.” ungkap Sardin.
”Kalau saat berbelanja dengan mu?” tanya Geo, penasaran.
”Dia tetap membayar barangnya sendiri. Kecuali, aku memberikan barang sebagai hadiah. Dia akan terima.” ungkapnya lagi.
”Mengapa saat statusnya adalah istriku, dia menolak menggunakan uang ku untuk memenuhi kebutuhan dirinya?”
”Bukan kah di antara kalian terjadi kesepakatan, yang mana pernikahan kalian akan berakhir di saat kamu sembuh? Pernikahan kalian bukan pernikahan sungguhan. Dia tidak mau merepotkan kamu, dan tidak mau memiliki hutang padamu.” tutur Sardin.
”Syakila sudah kembali. Jangan bahas apapun.” ucap Sardin lagi.
”Sudah selesai?” tanya Sardin pada Syakila.
”Iya. Kalian juga sudah selesai kan? Ayo kita pergi.” titah Syakila.
Geo dan Sardin berdiri. Syakila mengambil tas dan berjalan keluar dari restoran. Geo dan Sardin mengikuti di belakang.
Mereka masuk ke dalam mobil. Geo kembali menjalankan mobil ke bandara.
Dua puluh menit berlalu, mereka telah sampai di bandara. GEO di sambut beberapa anak buahnya.
Geo, Sardin, Syakila turun dari mobil. Barang-barang Geo dan Sardin di pegang oleh anak buah Geo. Sementara Syakila, ia memegang barangnya sendiri.
”Mana pesawatnya? Apakah kita sudah terlambat?” tanya Syakila.
Saat ia memandang ke bandara, tidak terlihat pesawat. Ada hanya satu pesawat, tapi, terlihat seperti pesawat pribadi, bukan pesawat penumpang.
”Pesawat yang kamu lihat, pesawat itu yang mengantar kita ke kota S.” ungkap Sardin.
Kening Syakila berkerut.
__ADS_1
”Sudah, ayo, kita naik. Sampai di dalam pesawat baru aku jelaskan.” Sardin mengambil barang Syakila dan menggandeng tangan Syakila, mengajaknya naik ke dalam pesawat.
Ini...apakah ini pesawat pribadi Geo yang lain? Pesawat ini baru ku lihat juga. benak Syakila.