
Kediaman Anton.
”Pa, apa yang terjadi dengan Syakila? Mengapa ia begini?” tanya Serlina dengan khawatir.
Ia mendekati Anton yang sedang menggendong Syakila yang tidak sadarkan diri. Ia ikut panik melihat Syakila yang terlihat sedikit pucat dalam gendongan suaminya.
”Papa juga tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya, Ma. Mama, tolong buka pintu kamar, Papa akan baringkan Syakila di dalam kamar saja.” sahut Anton dengan tenang, meskipun ia juga sedang khawatir.
”Iya, Pa.”
Serlina mempercepat langkah, ia membukakan pintu kamar.
”Hati-hati, Pa.” ucap Serlina dengan cemas ketika Anton, suaminya membaringkan Syakila di atas ranjang.
”Papa, apa yang terjadi dengan Kakak?” tanya Dian dengan khawatir.
Ia berlari cepat dari dapur menuju kamar orang tuanya setelah mendengar kabar tentang Syakila dari adiknya.
”Papa tidak tahu, Nak. Kamu tolong panggil bibi Samnia kemari, katakan pada bibi, kalau Syakila sedang pingsan.”
”Baik, Pa.”
Dian bergerak cepat keluar dari kamar. Ia pergi berlari ke rumah Denis.
”Mama, buka kancing baju Syakila yang atas dan buka jendela kamar, agar udara segar masuk dan Syakila leluasa untuk menghirupnya.” ucap Anton.
”Iya, Pa.”
Serlina membukakan dua buah kancing baju Syakila agar tidak sesak di lehernya. Ia juga membuka lebar jendela kamar, hingga angin segar masuk mengisi ruangan kamar. Anton memberikan minyak kayu putih pada Serlina.
”Oleskan ini pada pelipis dan lehernya, gosok kan pula pada hidungnya.” ucap Anton lagi.
Serlina menuruti ucapan Anton. Ia memakaikan minyak kayu putih pada Syakila, terutama di pelipis dan di lehernya.
”Syakila, bangun Syakila!”
Serlina mencoba membangunkan Syakila, ia menepuk pelan pipi Syakila. Namun, Syakila tidak merespon.
.. ..
Di kediaman Denis.
”Bibi!” panggil Dian tanpa mengetuk pintu dan tanpa memberi salam.
Ia beristirahat sebentar di depan pintu rumah Denis, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah berlari dengan cepat dari rumahnya sampai di rumah Denis.
Denis dan Samnia yang sedang berada di kamar saling memandang dengan heran mendengar nada suara Dian yang seperti orang sedang cemas dan khawatir.
”Pa, ada apa dengan Dian? Coba Bapak lihat dia, mungkin ada sesuatu yang di butuhkan.” ucap Samnia. Ia sedang berbaring menyusui putri kecilnya.
”Iya, Ma. Papa keluar dulu melihat ada apa dengan dia.”
Denis keluar kamar, ia membukakan pintu rumah untuk Dian. Ia melihat Dian dengan bingung, keringat mengucur dari dahinya dan wajahnya memang nampak cemas.
”Ada apa Dian? Apa sedang terjadi sesuatu di rumah?” tanyanya khawatir.
”Iya, Om. Mana Bibi? Papa memanggil Bibi untuk datang memeriksa Syakila, Syakila sedang tidak sadarkan diri di rumah.
”Astaghfirullah, apa yang terjadi padanya? Kamu tunggu sebentar.” sahut Denis. Ia pun menjadi panik. Ia masuk kembali ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
Samnia semakin di buat bingung dengan tampang khawatir suaminya, ia memperbaiki bajunya setelah menyusui si kecil. Ia bangun dari baringnya.
”Pa, ada apa? Mengapa wajah Papa sangat panik dan khawatir? Apa memang telah terjadi sesuatu?” tanyanya penasaran.
”Iya, Ma. Ma, kita harus ke rumah Anton segera, Syakila membutuhkan bantuan mu. Dia sedang tidak sadarkan diri sekarang.”
”Apa! Tapi, bagaimana dengan anak-anak kita, Pa? Apa tidak mengapa meninggalkan mereka di rumah sendirian?”
”Kita bawa si kecil saja Ma, siapkan peralatan mu. Untuk si kembar, Papa akan meminta Dian untuk menjaganya.”
”Iya, Pa.”
Samnia mempersiapkan peralatannya. Denis keluar dari kamar, ia mendekati Dian.
”Dian, si kembar sedang beristirahat di kamarnya. Kamu jaga mereka ya. Nanti, setelah mereka bangun, kami belum kembali, kamu bawa si kembar di rumah mu, ok! Kunci rumah ada tergantung di pintu.”
__ADS_1
”Iya, Om.”
Denis kembali ke kamar.
”Ma, bagaimana? Semuanya sudah siap?”
”Sudah, Pa.”
”Papa saja yang gendong si kecil, Mama keluarlah dan jalan duluan dengan memegang peralatan mu kesana. Papa akan menyusul.”
”Iya, Pa. Mama duluan pergi ya, Pa.” pamit Samnia. Ia mencium punggung telapak tangan suaminya.
”Iya, hati-hati ya.”
Samnia mengangguk, ia keluar dari kamar. Ia tidak melihat Dian lagi di depan. Mungkin Dian ada di kamar si kembar, pikirnya. Ia keluar dari rumah. Ia pergi ke rumah Anton menggunakan jasa ojek. Lima menit dari kepergian Samnia, kini Denis yang pergi ke rumah Anton dengan menggendong si kecil. Ia pergi ke sana dengan berjalan kaki saja, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.
Beberapa menit dari ia berjalan, kini ia telah sampai di depan kediaman Anton. Ia langsung masuk saja karena pintu rumah yang terbuka. Ia melihat Anton dan dua pria yang belum pernah dilihat sebelumnya sedang duduk dengan wajah yang masih khawatir.
Denis mendekati Anton dan duduk di sampingnya.
”Bagaimana keadaan Syakila, Anton? Apa dia sudah siuman?”
”Belum, Denis. Istrimu masih memeriksanya.” jawab Anton.
Denis memandang dua orang pria yang ada di sana. Ia jadi teringat dengan ucapan Syakila yang mengatakan suaminya duduk di kursi roda.
Pria yang memakai kursi roda, apakah dia suaminya Syakila? Pria di sampingnya, siapa dia? Tampang mereka berdua begitu tenang dalam kecemasan. Aura mereka begitu kuat, apalagi pria yang sedang berada di kursi roda. Mata elangnya sangat tajam, ia sangat berkharisma.
Geo juga memandang Denis. Ia jadi teringat dengan sosok pria yang duduk dengan Syakila di sebuah bengkel waktu dulu.
Pria itu adalah dia, berarti yang kulihat di bengkel itu hanyalah salah paham saja. Dia adalah pamannya. Huft, sedangkan aku bersikap kasar pada Syakila dan mengatainya perempuan murahan. Maaf, Syakila.
”Kamu hanya bawa si kecil di sini? Si kembar di mana?” tanya Anton kemudian.
Kini Denis mengalihkan pandangannya melihat Anton.
”Ehm, si kembar lagi istrahat di rumah, jadi, aku bilangin Dian untuk menjaganya. Siapa mereka berdua ini, Anton?” tanyanya penasaran, sambil melirik Geo dan Mang Obi.
”Oh, pria yang di hadapan mu itu adalah Mang Obi, supir dari keluarga Albert, dan pria yang di sampingnya itu adalah Geovani Albert, suami dari Syakila.”
”Apa sebenarnya yang terjadi pada Syakila? Mengapa ia pingsan saat masih di mobil mu? Apa kamu berbuat sesuatu padanya? Kamu menyakitinya?” tanya Denis sambil menatap tajam pada Geo.
”Maaf, Tuan, se__”
Geo mengangkat tangannya, Mang Obi menghentikan ucapannya. Ia mengerti maksud Geo.
”Maaf, Tuan.” ucapnya pelan pada Geo.Geo mengangguk. Geo menghela nafas, ia mulai menceritakan apa yang terjadi pada Syakila.
”Maaf, sebelumnya atas kekurangan ku sebagai seorang suami. Saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada istriku. Kami baru saja selesai makan siang bersama, dan dalam perjalanan menuju kesini, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja dia mengasuh kesakitan sambil memegang kepala dan dadanya.__”
”Mengapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit?” tanya Denis lagi dengan marah. Ia memotong pembicaraan Geo yang belum selesai.
”Jika memutar kembali ke rumah sakit maka akan memakan waktu lebih lama lagi, sedangkan jarak ke rumah Anton tidak jauh. Supir ku menyarankan ku untuk membawa istri ku kerumah sakit, tapi, saya berpikir itu tidak bisa lagi. Dan aku tahu, istri dari Tuan Denis adalah seorang dokter, jadi saya menyarankan supirku untuk ke rumah Anton yang lebih cepat dari pada ke rumah sakit yang jaraknya masih jauh.”
Denis dan Anton terkejut, darimana Geo tahu jika Samnia adalah seorang dokter?
”Baiklah, alasanmu bisa di terima.” ucap Denis kemudian.
”Hum, terima kasih. Sebelum istriku pingsan, ia sempat mengatakan ”kak Sardin ku hara kamu baik-baik saja", itu kalimat yang dia ucapkan.”
"Apa!” Denis dan Anton kembali terkejut.
Denis melihat istrinya sudah keluar dari kamar.
”Bagaimana kondisi nya? Apa dia sudah sadar, Ma?” tanyanya.
Samnia berjalan mendekati suaminya, ia duduk di samping suaminya dan mengambil di kecil dari tangan suaminya.
”Iya, Pa. Dia sekarang sudah sadar, dia baik-baik saja. Tidak ada yang serius padanya.” jelas Samnia.
”Tapi, dia mengeluh kepalanya sakit, dia juga memegang dadanya, apa benar tidak ada masalah yang serius?” tanya Geo. Ia dahinya mengerut memandang Samnia.
”Aku sudah mengecek semuanya, dia baik-baik saja. Dia hanya merasakan kesakitan yang di rasakan oleh Sardin.” ungkap Samnia.
”Kesakitan yang di rasakan oleh Sardin?” Geo, Denis, dan Anton, bertanya bersamaan dengan bingung.
__ADS_1
”Iya, setelah Syakila sadar, ia ingin berbicara dengan Sardin. Jadi, Serlina menghubungi Sardin dan mengangkat telfonnya adalah orang tuanya. Ia menceritakan segalanya, sekarang Sardin masih dalam perawatan. Kecelakaan yang di alami Sardin, rasa sakitnya di rasakan pula oleh Syakila. Sekarang Syakila sedang menangis, Serlina sedang menghibur nya.” jelas Samnia.
”Aku tahu, Syakila dan Sardin saling mencintai sejak kecil. Mereka sudah bersumpah dan mengikat satu janji sebelum mereka terpisah, tidak di sangka waktu yang begitu lama memisahkan mereka, justru membuat cinta keduanya semakin besar. Bahkan mereka dapat saling merasakan kesulitan antara satu dengan yang lain. Jiwa mereka, hati mereka, benar-benar terhubung.” ucap Anton seketika.
Ia teringat semua kata-kata yang di ucapkan Sardin padanya dengan setiap kali Sardin menelfon untuk bercerita banyak hal padanya.
Mang Obi melirik Geo, Geo terdiam dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Secinta itu kah Syakila dan Sardin? Apakah aku harus lepaskan Syakila sekarang dan membiarkannya kembali pada Sardin? Tapi, aku masih membutuhkan Syakila di sisi ku, baiklah, setelah penyakit ku sembuh, aku akan melepaskan Syakila untuk menggapai kebahagiaannya dengan Sardin.
Geo menghela nafas. Denis melihat Geo.
”Bagaimana bisa kamu dan Syakila bertemu dan menikah?” tanya Denis kemudian pada Geo.
”Kami berdua tidak sengaja bertemu, waktu itu kebetulan saya sedang berada di kota S, ada pekerjaan yang membutuhkan saya disana. Saya mengalami kecelakaan ini dan saya kesusahan untuk bergerak atau hal lainnya, saya emosi hingga terjatuh terbalik dari kursi roda. Waktu itu kebetulan Syakila melihat ku, ia berniat menolong ku, ia membantu ku berdiri tapi keseimbangan kami hilang, jadi kami terjatuh kembali dan aku berada di atasnya. Ketika itu, orang-orang berkumpul dan mengira kami melakukan hal yang tidak-tidak. Untuk menghindarkan rasa hina, rasa malu keluarga kedua pihak, dan menghindari gosip yang tidak-tidak, kami memilih untuk menikah.” ucap Geo berbohong.
”Apakah benar seperti itu?” tanya Anton.
”Iya, kejadiannya seperti itu, Paman. Apa Paman tidak percaya?” Syakila yang menjawab pertanyaan Anton. Ia berjalan mendekati Geo dan berdiri di samping Geo.
”Tidak, Paman percaya, hanya saja kisah kalian ini sama seperti kisah antara ayah dan ibumu. Mereka berdua juga menikah karena di anggap sudah melakukan hal yang tidak-tidak, padahal mereka berdua hanya sama-sama mampir di sebuah rumah kosong untuk berteduh dari hujan. Warga yang melihat mereka, mengira telah terjadi sesuatu pada mereka berdua. Meskipun mama mu dan ayah mu sudah menjelaskan apa yang terjadi, mereka tetap di tuntut menikah untuk menghindari kecurigaan masyarakat.” ungkap Anton.
”Apakah itu benar, Paman? Ayah dan mama saling mencintai, aku kira mereka memang memang benar-benar seorang kekasih yang berpacaran lalu menikah. Tidak di sangka, pertemuan ayah dan mama seperti itu.” sahut Syakila.
”Bagaimana perasaan mu sekarang, Syakila?” tanya Denis kemudian.
”Aku baik-baik saja, Om Denis. Tapi, aku belum tahu bagaimana dengan kabar kak Sardin. Aku ingin menemuinya. Apakah Om mau mengantar Syakila ke kota S untuk menemuinya? Kak Sardin membutuhkan aku sekarang.”
”Syakila! Apa kamu sadar, apa yang kamu ucapkan sekarang? Kamu bukan seorang wanita yang masih sendiri, kamu sudah menikah, dan kamu berbicara begitu di hadapan suami mu sendiri. Apa kamu tidak memikirkan perasaan suami mu, Syakila?” ucap Anton dengan tegas memandang Syakila.
”Apa yang di katakan Paman mu, itu benar Syakila, kamu harus memperhatikan perasaan suami mu. Kami tahu hubungan mu dengan Sardin seperti apa, tapi, kamu tidak boleh tidak adil begini kepada suami mu.” ucap Serlina.
Ia baru datang dari dapur dengan membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan. Ia meletakkan di atas meja dan membagikannya kepada seluruh keluarga yang ada dalam sana.
”Nak Geo, maaf kan Syakila, ia terlalu tergesa-gesa dalam berbicara. Jangan kamu ambil hati sikapnya itu.” ucap Samnia.
Syakila menunduk. Geo tersenyum kecil.
”Tidak apa-apa, saya mengerti dengan ke khawatiran Syakila. Saya sendiri yang akan mengantar Syakila ke kota S. Tapi, yang saya pikirkan adalah Syakila baru saja masuk bekerja, apa tidak apa-apa jika ia mengambil izin bekerja untuk beberapa hari ini?”
”Apa kamu tidak khawatir dan tidak keberatan mengantar Syakila menemui pria yang di cintainya, Geo?” tanya Anton memastikan.
”Iya, saya percaya dengan Syakila. Ia sudah dewasa, dia lebih tahu tentang apa yang dia lakukan. Mungkin benar, sekarang Sardin membutuhkan kehadiran Syakila di sana untuk menyemangati hidupnya. Bukankah mereka adalah teman semenjak kecil? Dia kesana sebagai seorang teman.” jelas Geo.
Mang Obi melirik Geo. Ia tidak menyangka Geo akan berbesar hati dan berkata seperti itu. Itu bukan lah gaya Geo yang sebenarnya. Pikir Mang Obi.
”Kamu sangat berbesar hati, Nak Geo. Jika kamu meyakinkan dirimu seperti itu, untuk urusan minta izin dari pihak sekolah, itu biar ku urus.” sahut Anton.
Syakila tersenyum senang dalam hatinya. Ia tidak tahu mengapa Geo bersedia melakukan hal itu untuk nya.
”Baiklah, sebaiknya di minum dulu minuman kalian, minumannya akan menjadi dingin jika di biarkan terus. Cicipi lah cemilan yang sudah ku buat untuk kalian.” ucap Serlina.
”Iya, terima kasih.” sahut mereka semua yang ada di sana.
Mereka mengambil minumannya masing-masing dan mengambil cemilan yang tersedia untuk di cicipi. Di saat itulah, Dian dan si kembar anak Rey dan Roy datang.
”Mama, Papa, kami datang!” ucap si kembar dan Dian bersamaan.
”Eh, si kembar, kalian sudah datang! Mari, cium bibi dong!” sahut Syakila yang menyahuti ucapan si kembar.
Rey dan Roy berlari memeluk Syakila yang sudah duduk berjongkok dengan merentangkan kedua tangannya.
”Bibi, katanya kak Dian, Bibi sakit. Bibi sakit apa? Apa Bibi masih sakit?” ucap Rey.
”Bibi, aku ini dokter. Aku akan periksa Bibi, katakan di mana yang sakit, Bibi? Roy akan memeriksa Bibi.” ucap Roy
Syakila tersenyum, ”Anak pintar, Bibi baik-baik saja sekarang.” ucapnya sambil mengelus dan mencium pucuk kepala Rey dan Roy bergantian.
Roy memegang kening Syakila. Perlakuan polos kedua anak kembar Denis membuat kebahagiaan di sana. Mereka semua tertawa bahagia, begitu juga dengan Geo. Ini pertama kali Syakila mendengar dan melihat Geo tertawa senang tanpa di buat-buat. Begitu juga dengan Mang Obi, selama bekerja di kediaman Albert, baru kali ini melihat Geo tertawa lepas.
”Ehm, em Syakila, Geo, selesai makan malam, baru kalian pulang yah.” tawar Serlina.
”Iya,” Geo yang menyahuti tawaran Serlina.
Syakila tidak mengira Geo akan setuju. ”Baik, Bibi.” sahutnya.
__ADS_1