Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 175


__ADS_3

Di ruangan praktek Samnia.


”Mengapa Mama tidak bermalam saja di sini? Di rumah Mama hanya sendirian, loh!” Geo terlihat khawatir.


”Tidak sayang! Mama harus pulang, ada urusan kerjaan yang harus Mama urus. Makanya..cepatlah sembuh dan gantikan Mama mu ini untuk mengurus perusahaan! Mama sudah tua, seharusnya sudah waktunya istirahat dan duduk santai di rumah.” jawab Rosalina.


Serlina hanya mendengar percakapan ibu dan anak itu, sambil menunduk, tanpa ingin ikut campur.


”Iya, Mah. Mama tenang saja, setelah Geo sembuh, Geo akan mengurus perusahaan. Mama istirahat saja di rumah.”


”Itu keinginan Mama! Mama ingin di rumah menemani anak mantu dan bermain-main dengan cucu-cucunya Mama. Jadi, kabulkan lah keinginan Mama ini. Kamu sudah punya istri, kapan memberikan Mama cucu?” Rosalina tersenyum dan tatapannya penuh harap melihat Geo.


Serlina terkejut, ia mendongak, melihat Geo dan Rosalina.


Mungkin dengan membuat Syakila hamil, baru dia mau tinggal di sisi ku. benak Geo.


”Mama, Geo akan mengabulkan keinginan Mama yang sederhana ini. Tapi, semua butuh proses, jika Allah sudah memberikan kepercayaan aku untuk merawat anak, Mama akan segera memiliki cucu.” ia tersenyum simpel.


Serlina menjadi gelisah mendengar ucapan Geo.


Rosalina tersenyum senang, ”Baiklah, kalau begitu, Mama pulang dulu! Kamu istirahat yang banyak.” Rosalina berdiri. Ia membelai wajah Geo dan mencium kening anaknya itu dengan lembut.


”Iya, Mah. Hati-hati dalam perjalanan.” ia melihat mamanya dengan tatapan sedikit tidak rela. Karena mamanya tersebut akan tidur sendirian di rumah besar, kediaman Albert.


”Iya, sayang.” Rosalina berbalik, berjalan menghampiri Serlina. ”Aku pulang dulu. Aku titip anakku.”


Serlina tersenyum, ”Iya, hati-hati di jalan! Kami akan menjaga Geo dengan baik. Jangan khawatir!”


”Terima kasih, sudah merepotkan kalian.” sahut Rosalina.


”Tidak apa-apa. Jangan sungkan! Geo adalah menantu kami.”


”Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan sungkan pada keluarga menantuku.” Rosalina tersenyum senang. Serlina ikut tersenyum.


Rosalina berjalan keluar dari ruangan, Serlina mengikuti langkah kaki Rosalina. Rosalina terus berjalan hingga ke mobilnya, sedangkan Serlina berhenti di bibir pintu.


Bagaimana mungkin Rosalina dan Geo punya pemikiran itu? Sementara Geo dan Syakila tidak saling mencintai, bahkan mereka berdua ingin bercerai. Jika Sarmi tahu hal ini, bukan kah Rosalina lebih paham hubungan antara Syakila dan Geo kan? Ya kan?


Atau apakah Geo sudah mulai mencintai Syakila dan tidak ingin bercerai? Dan Rosalina sudah menerima Syakila sebagai anak mantu di keluarga Albert, terlepas dari perjanjian itu?


Serlina masih berdiri di bibir pintu ruangan, pandangannya masih memandang ke depan. Sementara mobil Rosalina sudah dari beberapa menit yang lalu telah meninggalkan kediaman Anton.


”Serlina, apa yang kamu lihat?”


Serlina terkejut mendengar suara di sampingnya, ia menoleh melihat Samnia yang melihatnya dengan bingung. Pasalnya, di depan sana tidak ada hal menarik untuk di lihat.


”Ah, eh..Samnia. Kamu datang? Kamu ingin melihat pasien mu?”


”Iya, apakah dia sudah makan malam? Sudah minum obat? Dan apa yang kamu lihat di depan sana?” matanya memandang lagi di depan sana, yang tadi di lihat oleh Serlina. ”Tidak ada apa-apa di depan sana.”


Serlina tersenyum sedikit, ”Tidak ada apa-apa! Mari masuk ke dalam, lihatlah sendiri kondisi pasien mu.” ia menyingkir dari bibir pintu, berjalan masuk ke dalam ruangan. Samnia menyusul masuk ke dalam.


”Geo sudah selesai makan dan juga sudah meminum obatnya dan dia sedang istirahat.” jelas Serlina.


”Oh, dimana Syakila?”


”Sedang makan, di dapur.” jawab Serlina.


Mereka kini sudah berdiri di samping ranjang Geo. Pria itu sudah tertidur.


”Biarkan Geo beristirahat, mari kita keluar.” Samnia memutar badan dan berjalan keluar ruangan. Serlina mengikuti dari belakang.


Serlina menutup pintu ruangan dengan pelan agar tidak menggangu tidurnya Geo. ”Kamu sudah makan malam?” tanyanya.


”Sebelum kesini aku sudah makan.” jawab Samnia.


”Ada apa dengan mukamu? Kok gak bersemangat begitu? Apa ada yang kamu pikirkan?” Samnia duduk di kursi teras ruangan.


Serlina juga duduk di salah satu kursi tersebut. Ia menghela nafas, ”Iya, ini menyangkut kehidupan dan kebahagiaan Syakila.”


Kening Samnia mengerut, ”Kebahagiaan Syakila? Bukan kah Syakila sedang berbahagia sekarang dengan suaminya? Apa yang kamu khawatirkan?” tanyanya, penasaran.


”Itu semua tidak seperti apa yang kita lihat.” Serlina menjeda ucapannya, ”Ada kenyataan yang tidak terduga tentang pernikahan mereka.” ungkapnya.

__ADS_1


Kening Samnia semakin mengerut, rasa keingintahuannya semakin membara. ”Maksudmu, Syakila bahagia hanya nampak di luarnya saja? Apa sesuatu terjadi di tengah pernikahan mereka berdua?”


Serlina kembali menghela nafas, ia ingin bersuara, namun, terhenti saat mendengar suara tawa Syakila dan Sardin dari dalam rumahnya.


Serlina mendengar pintu rumahnya terbuka, ia memperhatikan kedua insan tersebut. Ternyata, bukan hanya Serlina, Samnia juga memperhatikan Syakila dan Sardin yang nampak mesra.


Sardin sedang merangkul pinggang Syakila dan menoel hidung mancung Syakila sambil tersenyum mesra melihat Syakila.


”Kakak apa-apaan sih? Bicara terlalu manis deh!” ia melepaskan tangan Sardin yang berada di pinggangnya.


”Kenapa? Ade gak suka dengan kata-kata kakak?” Sardin kembali meletakkan tangannya di pinggang Syakila dan merangkulnya.


”Suka dan terharu juga..cuman...” Syakila menghentikan ucapannya ketika melihat Serlina dan Samnia yang sedang duduk di kursi teras tempat praktek.


”Cuman apa? Hum?” Sardin menoel hidung mancung Syakila. Ia belum menyadari jika Serlina dan Samnia sedang menatap mereka berdua.


Syakila kembali melepaskan tangan Sardin yang berada di pinggangnya. Ia menjadi gugup. ”Ada Bibi Samnia dan Serlina di situ!” bisik nya pada Sardin.


Sardin melihat arah mata Syakila memandang. Ia terkejut juga sedikit gugup. Mereka berdua menjadi kikuk. Mereka menghampiri Serlina dan Samnia dan duduk di kursi yang tersisa.


”Bibi tidak tahu harus berbicara apa sama kamu Syakila! Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan? Kamu wanita bersuami, apa layak melakukan itu? Membiarkan seorang laki-laki yang bukan muhrim merangkul pinggul mu? Menoel hidung mu?” Samnia berkata dengan marah.


Syakila terdiam, menunduk.


”Kamu juga Sardin, kamu tahu kan Syakila sudah bersuami! Mengapa kamu memperlakukan Syakila seperti itu? Kalau di lihat orang lain, apa pandangan mereka terhadap kalian berdua? Apa kamu tahu, perbuatan mu itu bisa merusak hubungan rumah tangga Syakila dan Geo!” Samnia juga memarahi Sardin.


”Bibi..ini salahnya Syakila bukan kak Sardin...”


”Kamu membela nya?!” Samnia menatap tajam Syakila.


”Bu..bukan begitu...”


”Bukan begitu? Lalu apa? Kalau kamu memang mencintai Sardin, mengapa kamu malah menikah dengan Geo! Citra mu sebagai seorang istri akan buruk di mata orang-orang!” lanjut Samnia memarahi Syakila.


”Sudah! Samnia..tenanglah sedikit! Inilah yang aku pikirkan!” Serlina menghela nafas, ”Syakila, untuk sementara kamu jaga jarak dengan Sardin. Setelah Geo sembuh, kita semua harus berbicara, kamu, Geo, keluarga mu juga keluarga Geo. K...”


”Untuk apa?” sanggah Syakila, ia terlihat bingung dan cemas.


”Untuk membahas dan memperjelas status pernikahan kamu dengan Geo.” jawab Serlina, dengan tegas.


”Tidak ada tapi-tapi!” sanggah Serlina dengan tegas.


Syakila terdiam, kembali menunduk. Tanpa mereka sadari, Geo yang di dalam sana mendengar pembicaraan mereka.


Cintanya Syakila selalu pada Sardin. Apa keistimewaan pria itu, hingga ia begitu di cintai Syakila? benak Geo.


Samnia benar-benar penasaran apa sebenarnya yang terjadi? ”Syakila, bukan kah kamu ingin sekali bertemu dengan bibi Halima?” Samnia sengaja mengalihkan topik.


”Iya, di mana Syakila bisa bertemu dengan bibi Halima?” Syakila sangat antusias.


”Bibi Halima sekarang ada di rumahnya Bibi. Tidak lama lagi mereka akan pulang. Jika kamu ingin bertemu, pergilah lihat dia di rumah Bibi.” ungkap Samnia.


Syakila beranjak berdiri, ”Baiklah, Syakila akan pergi ke rumah Bibi bersama Sardin. Syakila titip Geo, Bibi Serlina, Bibi Samnia.” pandangannya memohon.


”Iya, pergilah! Jangan lama-lama di sana! Ini sudah malam, dan Bibi juga ingin pulang, Bibi Serlina juga pasti ingin istirahat.”


”Baik, Bi.” sahut Syakila. Ia memegang dan menarik tangan Sardin sampai Sardin berdiri. ”Kami pergi dulu, Bi.” pamitnya.


”Hum.” sahut Serlina dan Samnia.


Syakila dan Sardin pun pergi ke rumah Samnia yang tidak berjauhan dengan kediaman Anton. Cukup dilalui dengan berjalan kaki saja.


”Serlina, katakan padaku ada apa sebenarnya?” Samnia sangat penasaran.


”Kamu sengaja mengalihkan topik, yang sebenarnya ingin membuat Syakila dan Sardin pergi dari sini?”


Samnia mengangguk.


”Ternyata Syakila dan Geo hanya menikah kontrak! Mereka juga menandatangani sebuah perjanjian.” ungkap Serlina.


”Apa?!” Samnia sangat terkejut. ”Ba.. bagaimana mungkin!! Apakah Sarmi tahu hal ini?”


Bukan hanya Samnia, Geo yang ada di dalam pun sama terkejutnya. Ia tidak menyangka pernikahan nya di ketahui juga oleh keluarga Syakila.

__ADS_1


Bagaimana mereka bisa tahu tentang kontrak dan perjanjian di pernikahan kami? Apakah Syakila yang memberitahu mereka? Gadis itu ingin sekali bercerai dengan ku! Tidak akan ku biarkan!! Apapun yang akan di lakukan oleh keluarga Syakila, mereka tidak akan bisa menantang ku!! benak Geo.


Serlina mengangguk. ”Dari pengakuan Syakila, Sarmi tahu jika Syakila terpaksa menikah dengan Geo.”


”Astaghfirullah!! Mengapa Sarmi bisa menyetujui pernikahan itu? Apa dia ingin melihat anaknya menderita?” Samnia sungguh tidak menyangka jika Sarmi pun tahu hal ini dan tetap membiarkan Syakila menikah dengan Geo.


”Aku juga tidak tahu alasan Sarmi menyetujui pernikahan mereka.” Serlina menjeda ucapannya, ia melihat Samnia dengan serius. ”Untuk kontrak dan perjanjian, menurut ku mungkin saja Sarmi tidak tahu. Jika Sarmi tahu, tidak mungkin dia akan membiarkan Syakila menjalani kehidupan seperti ini!”


”Jadi, kamu mengusulkan untuk mengumpulkan anggota keluarga untuk membicarakan hal ini? Apakah Sarmi juga ada?” tanya Samnia.


Tidak! Sarmi tidak boleh tahu! Cukup keluarga di sini saja yang tahu, jangan di ketahui oleh Sarmi ataupun saudara Syakila yang lain. benak Geo.


”Iya, Sarmi harus ada! Aku dan Anton sangat marah pada Sarmi yang menyembunyikan ini dari kami. Tanggung jawab Syakila bukan hanya dia dan Johan. Tapi, aku dan Anton juga ikut andil menanggung tanggung jawab atas anak-anak Halim. Itu adalah keinginan almarhum sebelum meninggal dunia.” ungkap Serlina.


”Bagaimana jika masa kontrak dan perjanjian habis dan mereka bercerai tanpa di sadari Syakila jika dia sedang hamil?”


”Itulah yang ingin aku cegah sekarang! Selama ini Syakila dan Geo tidak pernah melakukan hubungan badan. Tetapi, aku ragu jika Geo sudah sembuh nanti..dia...”


Samnia melihat dengan serius wajah Serlina yang menunduk. ”Dia kenapa?”


Serlina mendongak, melihat Samnia. ”Dia mungkin akan meminta haknya sebagai seorang suami. Rosalina menginginkan cucu dari pernikahan Geo dan Syakila. Sementara Geo dan Syakila sepakat untuk bercerai jika Geo sudah bisa berjalan lagi seperti biasanya.”


”Apa!” Samnia kembali terkejut.


”Iya, dari pengakuan Syakila, dia dan Geo tidak saling mencintai. Jika seperti itu...mungkinkah Syakila dan Geo akan baik-baik saja dalam pernikahannya? Aku takut Syakila akan ditindas dan terpaksa melayani Geo.”


Geo tersenyum kecut mendengar pembicaraan Serlina dan Samnia.


”Masalah ini memang harus di bahas secepatnya. Aku juga melihat Sardin dan Syakila masih saling mencintai.” ucap Samnia.


”Syakila dan Sardin memang masih saling mencintai, setelah Syakila dan Geo bercerai, mereka berdua akan memutuskan untuk menikah.” ungkap Serlina.


”Astaghfirullah! Itu artinya sampai sekarang sardin dan Syakila masih menjalin hubungan asmara! Ya Allah, Syakila... bagaimana bisa dia seperti itu? Statusnya masih seorang istri dari Geo tapi dia malah berpacaran dengan Sardin. Sardin juga gila! Masa dia setuju menjalin hubungan dengan Syakila yang statusnya istri orang!” Samnia memijat pangkal hidungnya.


”Itulah mengapa harus secepatnya kumpul keluarga.” sahut Serlina.


Kini mereka terdiam.


.. ..


Di rumah Samnia.


”Inilah rumah kenangan aku waktu kecil. Tempat aku menemukan kebahagiaan bersama ayah, ibu, kakak dan adik-adik ku.”


Syakila dan Sardin telah sampai di depan rumah Samnia.


”Jadi, rumah kalian ini sudah di beli oleh Samnia dan Denis?” tanya Sardin.


”Tidak! Bibi dan om hanya tinggal di sini. Rumah ini masih Atas nama ibu ku, Sarmi.” jelas Syakila.


”Oh..” sahut Sardin.


Tok tok tok! ”Assalamu 'alaikum!” ucap Syakila sambil mengetuk pintu rumah.


Pintu rumah terbuka, ”Wa 'alaikum salam! Eh... Syakila? Sardin? Ayo masuk!” sahut Denis. Ia sempat terkejut dengan kehadiran Syakila dan Sardin di rumahnya.


Syakila dan Sardin segera masuk mengikuti langkah kaki Denis. Mereka duduk di kursi sofa panjang.


Syakila, Sardin, Halima dan Hamid saling memandang.


”Bagaimana keadaannya suami mu, Syakila? Mengapa kamu meninggalkan suami mu sendiri di sana? Mengapa kamu tiba-tiba datang kerumahnya Om?” tanya Denis.


”Geo sudah membaik kok Om. Ada bibi Serlina dan bibi Samnia yang menjaga Geo.” Syakila menjeda ucapannya, ”Syakila kesini untuk bertemu dengan Om Hamid dan Bibi Halima. Ada sesuatu yang ingin Syakila ketahui dari Om dan Bibi.”


Halima, Denis, dan Hamid menatap serius juga heran pada Syakila.


”Apa yang ingin kamu ketahui dari Om dan Bibi, Syakila?” tanya Hamid penasaran.


Syakila terdengar beberapa kali menghela nafas. Mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Hamid dan Halima juga mengumpulkan kekuatan untuk mendengar jawaban yang mungkin menyakitkan untuk di di dengar.


”Bibi, mengapa ayah dulu memenjarakan bibi Mulfa? Dan apa Om dan Bibi tahu ayah meminjam uang senilai 1 milyar pada keluarga Albert, untuk apa?” Syakila nampak serius dan menatap tanpa kedip melihat Hamid dan Halima.


Denis sendiri mengerutkan dahi, ia sama sekali tidak tahu soal Halim meminjam uang 1 milyar pada keluarga Albert.

__ADS_1


Halima dan Hamid terkejut, kebenaran itu telah lama di sembunyikan. Mereka terkejut darimana Syakila tahu hal ini? Apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Syakila?


__ADS_2