
Di dalam kamar Geo.
”Mama sudah memanggil mu untuk turun makan, mengapa tidak turun? Kamu ingin aku yang datang untuk memanggil mu?” ia melihat Syakila yang selalu menunduk, wajahnya juga terlihat tidak bersahabat.
Syakila masih terdiam, duduk di sisi ranjang, menatap lantai, mengabaikan Geo.
”Ayo, kita turun makan!” ajak Geo.
Syakila masih enggan menanggapi.
”Kenapa? Tidak mau bicara? Tidak mau turun makan? Mau aku bawakan makanan mu ke sini?” Geo masih bertanya lembut padanya.
Syakila jengkel mendengar suara Geo yang berisik. ”Aku tidak lapar!” jawabnya ketus, tanpa melihat Geo.
Geo menahan marah, ”Dari pagi kamu belum makan, apa kamu tidak merasa lapar?”
Syakila melihat Geo. ”Aku tidak lapar! Kamu pergilah makan! Tidak usah repot-repot peduli padaku!!” jawabnya, masih ketus
Geo masih sabar. ”Aku tidak akan pergi makan, jika kamu tidak ikut aku untuk turun makan!” tegasnya.
Syakila semakin kesal. ”Apa kamu tidak dengar! Aku tidak lapar!! Aku tidak mau makan!! Pergilah ke bawah jika kamu ingin makan! Jangan menggangguku!!” suaranya meninggi.
”Jangan memancing amarah ku, Syakila! Kamu pasti masih mengingat terakhir kali, apa yang aku lakukan padamu, kan? Masih ingin mencobanya? Teriak lah padaku! Ayo, teriak!! Bicaralah dengan nada tinggi padaku!!”
Syakila menunduk, ia sudah lupa akan hal itu. Di mana, waktu dia berbicara kasar pada Geo. Geo tidak ragu-ragu, mencekik lehernya, ingin membunuhnya waktu itu.
”Ayo, turun makan bersama ku!”
”Biarkan aku untuk keluar besok,” ucap Syakila.
”Kamu ingin tawar menawar dengan ku? Aku telah memberi mu kesempatan untuk keluar tadi sore bersama mama ku. Kamu sendiri yang menolaknya.”
Syakila menatap Geo tajam. Membuatnya marah, tidak baik untuk ku. Lebih baik aku turun ke dapur dan makan. Ada kesempatan bagus, baru aku keluar. benaknya.
Huh! Mengikuti ucapan Sardin tidak cocok untuk ku. Kasar, bicara tinggi, dan mengancam, baru dia akan mendengar ku. benak Geo.
Syakila berdiri, berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu kamar. Ia terkejut mendapati Rosalina dan Beni ada di depan pintu kamarnya.
”Mama? Beni? Apa yang Mama dan kak Beni lakukan di sini?” Syakila melirik Geo.
Geo pun terkejut, ia mendorong kursi rodanya dengan cepat menghampiri mereka.
”Mama? Beni? Kenapa ada di depan pintu kamarku? Apa kalian sudah lama berdiri di sini?” tanya Geo.
”Em...” Beni bingung untuk berbicara.
”Mama dan Beni cuma khawatir saja jika kamu melakukan sesuatu yang brutal pada Syakila, karena amarah mu.” ucap Rosalina.
Apakah aku terlihat seperti seorang pembunuh? benak Geo.
”Sudahlah! Mari kita turun ke bawah, kasian Marlina, makan sendirian di dapur.” ucap Rosalina lagi.
Mereka pun pergi ke dapur, menggunakan tangga lift. Rosalina yang mendorong kursi roda Geo. Mereka telah sampai di dapur.
Rosalina meletakkan kursi roda Geo pada tempatnya. Syakila duduk di samping Marlina. Beni duduk di samping Geo.
”Makan saja pakai drama!” ketus Marlina menyindir Syakila.
”Marlina!” tegur Beni dan Rosalina.
Marlina terdiam. Ia telah menghabiskan makanannya. Namun, ia tetap duduk di tempatnya.
Rosalina mulai menyendok makanan. Beni dan Syakila juga mengambil makanan, terkecuali Geo. Pria itu enggan menyendok makanan sendiri.
Rosalina dan Geo sama-sama melihat Syakila, wanita itu makan dengan enggan sambil menunduk. Makanan yang di sendok nya pun hanya sedikit.
Rosalina mengambil piring makan Geo. Geo menahan tangan mamanya itu, matanya masih memandang Syakila. Pria itu ingin Syakila yang melayaninya makan.
Rosalina menendang pelan kaki Syakila.
Syakila terkejut, menoleh, melihat Rosalina.
Rosalina melirik piring makan Geo. Syakila mengerti, ia melihat piring makan Geo masih kosong. Dan saat ia melihat Geo, pria itu ternyata sedang melihatnya.
Tidak bisa mengambil makanan sendiri kah? Nasi, sayur, ikan, sup, daging, semua ada di atas meja, di hadapannya. Haruskah aku lagi yang mengambilkan makanan untuknya? benak Syakila.
Ia pun mengambil piring Geo dan mengambilkan makanan untuknya dan memberikannya pada Geo, tanpa berbicara.
Syakila kembali makan sambil menunduk. Geo mulai memakan makanannya. Beni dan Rosalina pun mulai makan.
Syakila telah selesai makan, ia berdiri dan membawa piring kotornya ke tempat cuci piring. Ia langsung mencuci piring tersebut.
Tanpa berkata, ia keluar dari dapur. Semua mata melihat punggung Syakila yang berjalan menjauh.
”Tante! Tante jangan terlalu lunak dengan Syakila. Lambat laun, Syakila tidak akan menghargai dan menghormati Tante sebagai ibu mertuanya.” ucap Marlina.
”Siapa yang memberimu hak untuk mengomentari istriku?!” Geo menatap tajam Marlina. Ia pun enggan menghabiskan makanannya. ”Sekali lagi, aku mendengar mu mengomentari istriku, lidahmu tidak akan berada di dalam mulut mu lagi!” ancamnya.
Marlina, Beni, dan Rosalina terkejut.
”Geo! Dia adik mu, jangan menakuti nya seperti itu!” tegur Rosalina.
”Dia bukan adikku! Aku tidak menakutinya! Jika dia berani berbicara satu katapun tentang Syakila, lidahnya akan ku potong.” wajahnya sangat serius saat berucap. Ia mendorong kursi rodanya keluar dari dapur. Nafsu makannya telah hilang.
__ADS_1
Beni yang sudah selesai makan, bergegas mengejar Geo.
”Lain kali, di hadapan Geo, jangan berbicara macam-macam tentang Syakila.” Rosalina menasehati Marlina. Ia sudah selesai makan.
”Tapi, Tante! Syakila memang sudah keterlaluan!” Marlina membela diri.
”Kamu tidak tahu apa yang terjadi antara Syakila dan Geo, kan? Berhentilah, ikut campur urusan Geo dan Syakila.”
Marlina tidak senang mendengarnya, tapi, ia tetap mengangguk, mengiyakan.
Rosalina mengumpulkan piring kotor.
Marlina mencegahnya. ”Biar Marlina saja yang membereskannya Tante. Tante istirahat saja.” ucapnya.
”Baiklah! Maaf, sudah merepotkan mu.”
”Tidak apa-apa Tante! Marlina sudah terbiasa kerjakan ini.”
Rosalina pergi dari dapur. Marlina membereskan meja dapur dengan enggan.
.. ..
Di teras rumah.
”Ada apa?”
”Dawiyah telah meninggal!” ungkap Beni.
”Kapan?” Geo tidak terkejut, bersedih juga tidak. Dawiyah benar-benar sudah pergi dari hatinya.
”Belum lama ini! Beritanya pasti akan meledak besok di berbagai media. Dia meninggal terjatuh di tangga apartemen.” ungkap Beni lagi.
”Bagaimana kamu tahu? Kamu tidak membunuhnya, kan?”
”Gila! Apa untungnya aku membunuh dia?” elak Beni, ”Dia terjatuh dari tangga karena Antonio mendorong nya secara tidak langsung. Aku mendengar pertengkaran mereka ber...”
”Tidak perlu menceritakan padaku secara detail. Jika tidak ada yang mau di bahas, aku pergi dulu.” pangkas Geo. Ia pergi dari sana.
”Dasar pria es!! Tidak ada simpatik nya sedikit pun sama Dawiyah, gitu-gitu dia pernah kamu cintai dan pacari selama beberapa tahun.” gumam Beni.
Geo berhenti di bibir pintu, ia menoleh, melihat Beni. ”Apa kamu bilang!? Siapa pria es yang kamu maksud?” tanyanya, ketus. Rupanya, ia mendengar gumaman Beni tersebut.
Beni terkejut, ia menoleh kebelakang, melihat Geo. Wajah pria itu tidak bersahabat. ”Em...” ia tidak tahu ingin bicara apa. Tersenyum, ia hanya tersenyum kaku pada Geo.
”Jika kamu simpatik pada dia, pergi susul dia!” Geo mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.
Beni melongo. Ia kembali melihat ke depan. ”Apa kecemburuannya pada Syakila menyesatkan akal sehatnya?”
.. ..
Vian terbangun mendengar suara pintu rumahnya di ketuk kasar. ”Siapa sih, malam-malam begini mengganggu tidur ku!” ia berjalan keluar dari kamar.
”Sabar!” teriaknya, pada si pengetuk. Ia membuka pintu rumah. Melihat dengan jelas tamu yang berkunjung itu. Ia terkejut melihat Anak kemenakannya, Antonio. ”Antonio? Mengapa malam-malam begini datangnya? Ada perlu apa? Ayok masuk!”
Antonio masuk, Vian menutup kembali pintu rumahnya. Ia duduk menghampiri anak mendiang Kevin itu.
”Kenapa? Baru kali ini aku melihatmu ketakutan. Ada apa?” tanya Vian.
”Paman! Dawiyah mati!” ungkap Antonio.
”Dawiyah? Mati?” Vian tidak percaya. Jam lima sore, ia masih bertemu dengan Dawiyah. Dawiyah baik-baik saja.
”Iya, Dawiyah sudah mati! Aku...aku cekcok mulut dengan nya dan aku mencekik lehernya dan melepaskannya dengan kasar. Dawiyah kehilangan keseimbangan badan dan jatuh dari tangga apartemen. Polisi datang ke lokasi, aku...aku kabur dari sana.” ungkap Antonio lagi.
”Ada yang melihat mu saat kamu kabur?”
”Iya, polisi yang tinggalnya di sekitar apartemen ku. Dia melihatku lari dengan baju dan celana yang berlumuran darah.”
Vian menyapu wajahnya, ”Antonio! Sekarang kamu akan menjadi incaran polisi! Bersembunyi di sini pun, percuma! Polisi tahu, aku paman mu dan tempat lari mu pertama adalah aku. Sebaiknya, kamu pergi malam ini juga ke villa ku. Di sana, kamu tidak akan di temukan.”
Vian pergi ke kamarnya. Mengambil uang serta kunci mobil dan kunci villa. Ia kembali menghampiri Antonio.
Ia memberikan uang senilai lima juta, kunci mobil, dan kunci villa ke tangan Antonio. ”Ini, ambillah uang dan kunci villa. Kamu duduk dengan tenang di sana. Pergilah, gunakan mobil ku untuk ke sana.”
Antonio mengambilnya. ”Terima kasih, Paman! Antonio pergi dulu.” ia berdiri dan pergi dari rumah Vian.
”Anak itu..sudah sering membunuh orang. Tapi, ketakutan setelah membunuh Dawiyah. Apa dia masih seorang pembunuh? Saat membunuh Albert, dan korban lainnya santai-santai saja.” gumam Vian.
”Iya, sih! Dia tenang-tenang saja karena tidak ketahuan, dan tidak meninggalkan jejak apapun setelah membunuh. Tapi, kasus Dawiyah ini...polisi terang-terangan melihat dia. Wajar saja kalau ketakutan, apalagi, Dawiyah adalah wanita yang di cintai nya juga.” gumamnya lagi.
Ia berdiri dan mengunci pintu rumahnya dan kembali ke kamar untuk beristirahat.
.. .. ..
Keesokan harinya.
Di kamar Geo.
Mata Syakila perlahan terbuka. Ia terkejut mendapati dirinya sedang memeluk tubuh Geo yang bertelanjang dada.
Bagaimana bisa aku memeluknya begini? Aku kan tidurnya menghadap kiri, membelakangi Geo. Ini... bagaimana aku tiba-tiba malah memeluk Geo? benaknya.
Ada desiran aneh yang melandanya sesaat saat ia menatap wajah teduh Geo yang terpejam itu.
__ADS_1
Aku akui dia memang tampan, bentuk tubuhnya juga bagus. Saat matanya terpejam begini...dia seperti seorang malaikat.Tetapi, saat matanya terbuka dan mulutnya berbicara... sangat mengerikan... apalagi kalau sudah bertindak, sangat ganas! benaknya lagi.
Ia terkejut saat Geo bergerak. Ia mengira Geo akan terbangun. Rupanya tidak! Ia menarik tangannya dengan pelan dari perut Geo.
Namun, Geo sengaja membalikkan badannya miring ke sebelah kanan. Hingga tangan Syakila tertindih badannya. Bukan hanya itu..tubuh Syakila pun menabrak tubuh belakang Geo.
Desiran aneh kembali melanda diri Syakila...dadanya bergetar... jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ada apa ini....dalam posisi begini...Geo dapat merasakan tubuh ku yang gemetar dan detak jantungku yang tidak normal. Aku harus segera bangun. Eh... tunggu-tunggu!
Syakila seperti tersadar sesuatu.
Bukan kah, kakinya belum bisa di gerakkan? Tapi, mengapa dia bisa bergerak menyamping tidurnya? Apakah kakinya perlahan sudah bisa di gerakkan? Ini berita bagus! Artinya tidak lama lagi dia bisa berjalan. Coba saja dia mau melakukan kemoterapi, pasti dia sudah bisa berjalan sekarang. Tapi, sayangnya... pendiriannya berubah-ubah, setelah setuju untuk melakukan kemoterapi, besoknya tidak mau. benaknya lagi.
Ia membalikkan tubuh Geo menjadi terlentang, dengan pelan dan hati-hati agar Geo tidak terbangun. Tangannya sudah tidak tertindih lagi.
”Terasa hangat!”
Syakila terkejut mendengar suara Geo. Ia melongo, melihat Geo. Mata pria itu telah terbuka. Dan pandangan mereka saling bertemu.
Ia menarik dirinya, namun, Geo menangkap tangannya dan menariknya, ia terjatuh di atas tubuh Geo.
”Geo! Lepaskan aku!” ia berontak.
”Bukankah kamu yang diam-diam memelukku saat aku tidur? Ayolah! Jangan memelukku diam-diam, peluklah juga saat aku terbangun, seperti ini.” ia menggoda Syakila.
”Siapa yang memelukmu diam-diam! Aku tidak memeluk mu! Dan aku tidak tertarik untuk memeluk tubuh mu itu. Jadi, lepaskan aku.”
”Masih mengelak? Aku mendapatimu memelukku!” ia semakin mengeratkan pelukannya.
”Geo! Lepaskan aku! Aku tidak punya waktu luang untuk bersantai dengan mu!” ketus Syakila. Ia terus berontak di atas tubuh Geo.
Geo mendaratkan bibirnya ke bibir Syakila. Syakila terdiam, tubuhnya menjadi kaku. Tangan sebelah Geo menahan kepala Syakila dan mencium, merasakan, manisnya bibir Syakila.
Syakila tersadar, ia kembali berontak. Dia menggigit bibir bawah Geo. Geo melepaskan ciumannya dan memegang bibirnya yang sedikit berdarah.
Waktu yang pas. Syakila segera menarik dirinya dan turun dari ranjang. Ia pergi ke kamar mandi.
Geo tersenyum tipis, tangannya masih memegang bibirnya yang terluka. Ia menyeka darah yang keluar itu.
Syakila! Sampai kapan pun kamu istriku! Tidak akan ku lepaskan kamu. benaknya.
Di kamar mandi.
Syakila mencuci mukanya dan melihat dirinya di pantulan cermin. ”Brengsek! Dia mencium ku lagi secara tiba-tiba! Tenaganya semakin kuat, aku tidak mampu memberontak saat mengunciku di atas tubuhnya.” gumamnya.
”Apa jangan-jangan sebenarnya dia sudah bisa jalan?” ia menjauhkan pikirannya tentang Geo.
Ia melihat ada jubah mandi tergantung di belakang pintu kamar mandi. Ia pergi mandi.
.. ..
Di kantor polisi.
”Lapor, Pak!”
”Hum!” kepala polisi itu melihat bawahannya dengan serius. ”Katakan!”
”Penyelidikan telah selesai! Dari cctv, pelaku memang benar adalah Antonio. Mereka terlihat sedang cekcok di tangga tersebut. Dari sidik jari, Antonio mencekik leher korban. Semua buktinya ada di dalam map ini!” ia menaruh map tersebut di atas meja, di hadapan atasannya.
Atasannya itu membuka map tersebut, melihat bukti-bukti tertulis dari ucapan bawahannya tersebut. ”Buat surat penangkapan! Kita bergerak kerumahnya!” ia memasukkan kembali bukti-bukti tersebut ke dalam map.
”Siap, Pak!” polisi tersebut undur diri dari ruangan atasannya. Ia pergi menyiapkan surat penangkapan untuk saudara Antonio.
Beberapa menit kemudian, surat penangkapannya telah siap. Ia kembali ke ruangan atasannya.
”Pak! Ini surat penangkapan untuk saudara Antonio.” ia menaruh surat itu di atas meja.
Atasannya mengambil dan membacanya. ”Siapkan mobil! Panggil beberapa orang lagi untuk ikut dalam penangkapan.” titahnya.
”Siap, Pak!” ia keluar lagi dari ruangan atasannya.
Kepala polisi tersebut berdiri, memakai topi kebanggaannya dan berjalan keluar dari ruangan. Tangannya memegang surat penangkapan dan map yang berisi bukti-bukti kejahatan Antonio.
Ia berjalan hingga ke depan. Ia melihat anak buahnya telah siap dan mobil telah di nyalakan mesinnya. ”Kita berangkat!” ucapnya.
Ia masuk ke dalam mobil, duduk di depan. Sementara yang lain, ikut masuk ke dalam mobil duduk di belakang, saling membelakangi, di kursi kayu.
Beberapa menit berlalu, mereka tiba di rumah Antonio. Mereka turun dan menghampiri rumah Antonio. ”Ketuk pintunya!” titah sang atasan.
Anak buahnya mengetuk pintu rumah..tidak ada sahutan dari dalam...mengetuk lagi hingga berkali-kali. Masih tidak ada tanggapan.
”Dobrak pintunya!”
”Baik, Pak!” ia menendang pintu tersebut. Tiga kali tendangan, pintu terbuka. Semua masuk dengan langkah siap, memegang pistol di tangannya.
”Periksa seluruh ruangan!”
”Siap, Pak!” mereka bubar, berpencar menelusuri setiap inci ruangan di dalam rumah Antonio. Kamar, kamar mandi, dapur, semuanya di periksa. Tidak menemukan apa-apa, mereka kembali lagi berkumpul. ”Lapor, Pak! Rumah ini sudah kosong! Pelaku melarikan diri!”
”Hum! Kembali!”
Mereka kembali ke mobil.
__ADS_1
”Jalan! Ke apartemen pamannya, Vian!” titah sang atasan.
”Baik, Pak!” mobil mulai melaju ke apartemen Vian, paman satu-satunya dari Antonio.