Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 189


__ADS_3

Di kediaman Vian.


Vian berjalan ke jendela, menyingkap sedikit kain gorden, melihat keluar, saat mendengar ada sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.


”Polisi bergerak dengan cepat! Untung saja Antonio telah pergi semalam! Jika tidak, tertangkap lah dia.” gumamnya.


Ia melihat semua polisi turun dari mobil dan berjalan memasuki halaman rumahnya. Ia kembali duduk di kursi menunggu ketukan di pintu.


Tidak lama kemudian, ia mendengar suara ketukan di pintu. Sekali ketukan, ia masih abaikan. Dua kali ketukan, masih ia abaikan. Tiga kali ketukan baru ia berdiri dari duduknya, berjalan ke arah pintu rumah.


”Sebentar!!” teriaknya. Ia membuka pintu. Ia berpura-pura terkejut dengan kehadiran para polisi di rumahnya.


”Pak Polisi? Ada apa ini, Pak?” tanyanya. Wajahnya di buat seakan-akan tidak tahu apapun.


”Begini saudara Vian, saya datang kesini untuk mencari anak keponakan saudara, yaitu saudara Antonio.” ungkapnya.


”Antonio? Dia tidak ada di sini. Coba cari saja di rumahnya, Pak. Tapi, kejahatan, apa yang sudah di lakukan sama keponakan saya itu, Pak?” aktingnya berpura-pura sangat bagus. Polisi memang tidak menyadari jika Vian telah mengetahui hal itu sebelumnya.


”Saudara Antonio telah membunuh seorang wanita di sebuah apartemen. Semua barang bukti telah jelas, seperti rekaman cctv dan sidik jarinya di temukan di leher korban.” ungkap polisi.


”Astaghfirullah! Antonio...anak itu! Pak polisi, tangkap saja dia! Mungkin dia sekarang ada di rumahnya!” ia berpura-pura marah. ”Saya akan antar Bapak ke sana!”


”Tidak perlu, saudara Vian.” tolak polisi tersebut, ”Saudara Antonio tidak berada di kediamannya. Makanya, kami mencarinya ke sini, karena Anda adalah keluarganya satu-satunya.”


”Kalau begitu, silahkan Bapak periksa rumah saya. Saya tidak ingin, Bapak berpikir, jika saya sudah menyembunyikan pelaku kriminal di rumah saya. Hanya karena pelaku adalah anak kemenakan saya sendiri.” ia membuka lebar daun pintu rumahnya.


”Ah, baiklah! Terima kasih, atas kerja samanya.” sahut sang kepala polisi. Ia melihat anak buahnya. ”Periksa!” titahnya.


”Siap, Pak! ” semua anak buahnya pun masuk untuk memeriksa rumah Vian. Di setiap kamar, di dapur, di kamar mandi, di balkon, semua tak luput dari pemeriksaan.


Tidak menemukan apapun, mereka kembali berkumpul, ”Lapor, Pak! Pelaku tidak di temukan di rumah ini!” ucap salah satu anak buahnya.


”Hum! Karena pelaku tidak ada di sini, maka, kami pergi dulu! Jika saudara Antonio datang berkunjung ke rumah mu, harap saudara Vian bekerja sama dengan kami, untuk menyerahkan pelaku pada kami, pihak berwajib!” pesan sang polisi.


”Baik, siap, Pak!” jawab Vian, tegas.


Tim kepolisian itu pun pergi meninggalkan kediaman Vian.


Raut wajah Vian berubah seketika, saat melihat mobil para polisi itu pergi dari rumahnya.


Aku harus mengirim Antonio ke luar negeri. Di dalam negeri dia tidak aman. Sekarang, pasti sudah beredar daftar pencarian Antonio di mana-mana. benaknya.


.. ..


Di kediaman Anton.


”Sudah siap, Sardin?” tanya Anton.


”Sudah, Paman!” Sardin baru keluar dari kamarnya.


Sardin terlihat tampan dengan memakai topi dan tas, ia sandang di bahu kanannya. Ia telah bersiap, namun, wajahnya terlihat sedih.


”Tiket pesawat mu? Jangan sampai kamu lupa!” Anton mengingatkan.


Sardin meraba kantung celananya. Mengambil tiket pesawat yang ia simpan di sana, ”Ada, Paman!” ia menunjukkan tiketnya pada Anton.


”Hum! Kalau begitu, ayo, pergi! Paman akan mengantar mu ke bandara.” Anton mengambil kunci mobilnya dari dalam laci.


Sardin memasukan kembali tiketnya ke dalam saku celananya. Ia menghela nafas dan mengikuti Anton keluar.


Mereka masuk ke dalam mobil. Sardin duduk dengan tidak tenang. Ia sedang memikirkan Syakila.


Syakila, aku merasa tidak tenang bila aku pergi tanpa bertemu dengan mu. Mengapa handphone mu gak aktif ku hubungi? Apakah Geo benar-benar mengurung mu? Syakila... benaknya.


”Kamu kenapa? Apa ada barang yang ketinggalan?” tanya Anton.


”Tidak, Paman! Semuanya sudah Sardin kemas, tidak ada yang ketinggalan.” jawabnya.


Wajah nya berubah sedih. Kecuali hatiku! Hatiku memang tertinggal di sini, bersama Syakila. Dan aku tidak berhak mengambil hatiku itu kecuali, Syakila sendiri yang memberikanya pada ku. benaknya.


”Kalau begitu, kita berangkat sekarang.” Anton menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjalankannya.


Sardin mengeluarkan hapénya dari saku celana. Ia mencari kontak Syakila di sana.


”Syakila sayang, apakah kakak harus pergi tanpa bertemu dengan mu dulu? Ataupun mendengarkan suara mu? Kakak ingin bertemu dengan mu dan ingin mendengar suaramu, tapi, mengapa nomor mu gak aktif?”


Ia mengirim pesan tersebut pada Syakila. Lalu, ia kembali menyimpan hapenya tersebut di saku celana.


”Apa karena Syakila, membuatmu tidak tenang begitu?” tanya Anton. Ia tersenyum saat melihat wajah Sardin yang terkejut. ”Tidak usah berpura-pura sama Paman. Paman melihat mu menulis pesan untuknya.”


Sardin menggaruk alisnya, ”Em...jujur, iya, Paman.” ia pun mengakuinya.


”Kamu sudah akan bertunangan dengan wanita lain, Paman harap, kamu bisa melupakan Syakila dan belajar mencintai tunangan mu itu.” nasehat Anton.


Sardin menghela nafas berat, ”Sardin tidak tahu Paman. Sardin akan bertunangan dengan dia pun karena Syakila yang menyuruh ku, jika tidak, Sardin tidak akan mau bertunangan dengan wanita lain.” ungkapnya.

__ADS_1


Anton terdiam. Ia bingung untuk berbicara sekarang. Ia juga pernah mengalami situasi seperti ini. Dan memang sulit untuk melupakan wanita yang di cintai.


.. ..


Di kediaman Albert.


Marlina begitu syok melihat kabar berita di beranda nya, di salah satu akun sosial media miliknya.


Matanya terbelalak tidak percaya, tangannya menutupi bibirnya yang membulat. Kepalanya menggeleng, ”Tidak! Ini tidak benar kan? Kakak ku tidak mungkin membunuh Dawiyah! Dawiyah adalah wanita yang di cintai nya. Berita ini pasti bohong!” gumamnya.


Ia kini khawatir dengan keberadaan kakaknya itu, kakak kandung dari orang tua yang sama.


”Aku...aku harus meminta bantuan Geo dan Tante untuk mengamankan kakak ku! Aku tidak mau kakak ku di penjara.” matanya berkaca-kaca, wajahnya sangat terlihat sedih.


Ia berlari mencari Geo, Rosalina dan Beni.


”Tante! Beni! Geo!” Marlina berteriak dengan panik. Ia berlari menaiki anak tangga sambil memanggil nama Rosalina, Beni, dan Geo. Ia telah sampai di lantai dua.


Beni dan Rosalina keluar dari kamar. Mereka mendapati Marlina yang ngos-ngosan karena kelelahan.


”Ada apa sih, Mar? Kok, teriak-teriak begitu!” tanya Beni dan Rosalina.


”Tante! Beni! Gawat! Antonio sekarang menjadi buronan polisi!” ungkap Marlina.


”Apa? Menjadi buronan polisi? Apa yang sudah dia lakukan?” Rosalina khawatir dan cemas. Walau bagaimanapun, Antonio masih anak tirinya.


Sementara Beni, ia nampak santai saja. Ia sudah tahu hal itu sebelumnya. Ia juga tahu hal sebenarnya yang terjadi pada peristiwa itu.


”Dari berita yang beredar di media sosial, Tante! Kakak Antonio membunuh Dawiyah di apartemen. Tante, Marlina tidak percaya ini. Dawiyah, wanita yang dia cintai. Tidak mungkin kakak akan membunuhnya.” ungkap Marlina lagi. Ia menunjukkan layar ponselnya pada Rosalina.


Rosalina terdiam dengan pengakuan Marlina.


Jadi, Dawiyah kabur bersama Antonio saat itu! António! Dia benar-benar ingin menghancurkan anakku. Lebih bagus, jika kamu di penjara. benaknya.


Rosalina mengendalikan perasaannya, ia mengambil hape Marlina dan melihat berita tersebut. ”Astaghfirullah! Innalilahi wa innailaihi rajiun. Padahal Tante baru bertemu dengannya kemarin pagi.” ia bersimpati atas kematian Dawiyah.


”Tante! Marlina meminta tolong pada Tante untuk membantu Antonio, kakakku! Ku mohon, Tante!” Marlina duduk memegang kaki Rosalina. ”Marlina mohon, Tante!” sekali lagi ia bermohon.


”Marlina, bangun! Jangan begini! Tante tidak bisa memberikan kesimpulan sekarang. Tunggu Geo keluar dari kamarnya, baru kita bicarakan sama dia. Keputusan membantu ada pada tangan anakku.” Rosalina membantu Marlina berdiri.


Marlina pun berdiri, air matanya masih mengalir membasahi pipinya.


Aku yakin, Geo tidak akan membantu melindungi Antonio. Biarkan saja semua berjalan sesuai dengan jalur hukum. Jika Antonio di penjara, setidaknya, orang yang menginginkan kematian Geo berkurang satu orang. Kejahatannya sudah terlalu banyak. benak Beni.


Ia tidak merasa iba sedikit pun kepada Antonio, meskipun Antonio adalah kakak tirinya.


Di kamar Geo.


Syakila sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Geo menjadi resah sendiri. Apa yang dia kerjakan di dalam sana? Mengapa lama sekali berada di kamar mandi?


Geo turun dari ranjang, meraih kursi rodanya dan ia duduk di sana. Ia mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi.


Tok tok tok! ”Syakila? Apa yang kamu buat di dalam? Kamu di dalam sana sudah terlalu lama! Keluarlah! Apa kamu ingin mati membeku di sana?” Geo terus mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil nama istrinya itu.


Syakila yang berada di dalam kamar mandi, acuh saja pada panggilan Geo.


Syakila membuka pintu kamar mandi saat tidak mendengar suara ketukan di pintu dan suara panggilan dari Geo.


Ia menelisik semua ruangan kamar dari balik pintu kamar mandi, ia sedang mengintip, mencari sosok Geo. Pria itu tidak ada di kamar.


”Kemana perginya dia? Sepertinya dia tidak ada dalam ruangan ini.” gumamnya.


Syakila keluar dari kamar mandi. Ia segera mengganti jubah mandi dengan baju. Ia pun mengambil handphone, dan kartu atm-nya dari tas dan menaruhnya ke dalam sak celana.


Ia keluar dari kamar. Ia sempat melihat Geo, Beni, Rosalina, dan Marlina berjalan ke arah balkon, di lantai dua itu.


Syakila berjalan pelan mengikuti mereka. Ia berhenti, bersandar di dinding, mendengar pembicaraan mereka.


”Katakan! Ada apa?” tanya Geo, dengan ketus.


Marlina duduk bersimpuh di kaki Geo. Ia melihat Geo dengan sedih, air matanya masih mengalir dari pelupuk matanya.


Namun, Geo mengabaikan Marlina. Sedikitpun tidak bersimpati pada adik tirinya itu.


”Geo! Aku mohon! Tolong bantu kakak ku kali ini saja. Aku tahu, kakak ku banyak salah padamu. Tapi, demi aku, tolong bantu aku untuk amankan kakak ku. Aku tidak mau kakakku masuk penjara.”


Beni dan Rosalina terdiam. Mereka berdua berada di sana hanya untuk berjaga, jangan sampai Geo akan berbuat kasar pada Marlina.


”Semua bukti sudah jelas, sidik jari Antonio pun di temukan di leher Dawiyah. Lalu, bagaimana aku akan menolong kakak mu? Dan lagi pula, kamu berpikiran bagaimana jika aku akan membantu kakak mu, yang sudah sering kali merancang kematian untukku?” ucap Geo.


Syakila terkejut. Ia tidak menyangka jika Antonio yang menolongnya itu begitu jahat.


Yang di katakan Sardin tentang Antonio padaku adalah benar. Untung saja Sardin sudah mengingatkan ku sebelumnya. Tapi, aku harus bertemu dengannya menanyakan tentang Gege. benak Syakila.


Syakila teringat beberapa kecelakaan yang di alami Geo. Di kota S dan kejadian belum lama yang menimpa Geo.

__ADS_1


Astaga! Jadi, orang yang mau membunuh Geo selama ini adalah Antonio! Antonio adalah kakak kandung Marlina? Itu artinya, Antonio dan Geo masih saudara tiri. Apa yang terjadi di antara keluarga mereka, mengapa mereka ingin saling membunuh? benaknya lagi


”Geo! Aku tahu, perbuatan Antonio tidak bisa di maafkan. Aku...aku...Geo aku akan memberi tahu kamu sesuatu, untuk gantinya, lindungi Antonio!” ia terus menangis dan bermohon pada Geo.


”Informasi apa yang kamu ketahui?” Geo menatap Marlina dengan tajam.


Marlina ketakutan, ”Aku...Geo...orang yang menyebarkan namamu, beberapa tahun lalu adalah Vian. Dia juga tahu jika papa mu menyelidiki nya. Jadi....”


Plak!


Syakila, Beni, dan Rosalina terkejut melihat Geo menampar Marlina dengan sangat keras.


Marlina pun sama terkejutnya, ia memegang pipinya yang masih nyeri itu, tatapannya menatap Geo tidak senang. Tapi, ia tidak berani berkata apa-apa sekarang, demi Antonio, kakaknya.


Geo mendorong kursi rodanya mendekati Marlina yang tergeser akibat tamparannya yang keras. Ia mencengkram erat kerah baju Marlina.


”Geo! Jangan menyakitinya!” cegah Rosalina.


Namun, Geo tidak mendengarkan.


Nafas Marlina seakan sesak, ia menunduk, tidak berani menatap amarah di wajah dan di mata Geo.


Geo menjepit kedua pipi Marlina dan memaksa Marlina melihat dirinya. ”Kamu tahu hal itu...tapi kamu sembunyikan dariku! Plak!” sekali lagi ia menampar pipi Marlina dengan keras.


Syakila meringis melihatnya, baru pertama kali ia melihat amarah Geo. Geo sangat bengis dan kejam jika marah.


”Am...ampun Geo! Aku...aku tidak menyembunyikan darimu!” Marlina hanya bisa memohon ampun. Sudut bibirnya terluka akibat tamparan Geo.


”Ampun!” ia mencekik leher Marlina.


”Geo! Hentikan! Lepaskan Marlina, kamu bisa membunuhnya!” Rosalina dan Beni maju dengan cepat membantu Marlina.


”Berhenti di sana!!” suaranya sangat lantang dan keras, menggema di udara.


Membuat Rosalina, Beni terdiam di tempat. Syakila menutup mulutnya yang membulat. Ia benar-benar takut melihat Geo.


”Gara-gara Vian menyebarkan berita aku membunuh Halim, namaku tercemar!! Aku harus mengganti nama panggilan ku ”Gege” yang di berikan oleh kakek ku!! Apakah Vian juga yang membunuh papa ku karena papa ku menyelidiki penyebar berita itu, dan mengetahui dia adalah Vian? Hum?! Katakan!!” tangannya semakin menekan leher Marlina.


Muka Marlina merah padam... ia semakin sesak untuk bernafas.


Rosalina maju mendekati Geo. Ia memegang tangan Geo yang mencengkram leher Marlina. ”Geo! Demi Mama, Mama mohon, lepaskan Marlina, kamu bisa membunuhnya, Nak!” ia memandang Geo dengan pandangan mengiba.


Syakila masih terlihat syok! Ia benar-benar terkejut, mendengar bahwa ”Gege” pria yang ia cari adalah Geovani Albert, suaminya sendiri.


Badannya gemetar, matanya berkaca-kaca...


Tidak! Tidak mungkin! Geo bukan Gege, kan? benaknya.


Perkataan Geo yang barusan terulang lagi terdengar di telinganya. Air matanya jatuh membasahi pipinya.


Sakit....ia merasakan sakit di dalam hatinya...


”Papa...” panggilnya lirih...


Prangg!! Tangan Syakila menyenggol vas bunga.


Semua orang terkejut. Sementara Syakila tidak mendengar bunyi vas bunga yang jatuh...di kepalanya masih tertumpuk ucapan Geo.


”Syakila!” tebak Geo, Beni, dan Rosalina.


”Sial!!” umpat Geo. Ia melepaskan Marlina. Ia bergegas berdiri dari kursi roda dan berlari ke arah vas bunga yang jatuh. Ia melihat Syakila, ”Syakila!”


Syakila terkejut melihat Geo yang berdiri dengan tegak di depannya. Ia mundur perlahan... kakinya menginjak pecahan vas bunga.


Rosalina membantu Marlina...Beni menghampiri Geo. Ia terkejut melihat kaki Syakila yang berdarah.


Namun, Syakila sama sekali tidak merasakan sakit pada telapak kakinya itu... Geo khawatir melihat Syakila..


”Syakila! Jangan mundur lagi! Kaki mu berdarah! Ku mohon jangan mundur! Kita bisa bicarakan ini dengan baik! Ok! Kamu hanya salah paham sama aku!” ia perlahan melangkah mendekati Syakila.


Syakila masih berjalan mundur, ia tidak mau bicara dengan Geo atau pada siapapun. Ia menghapus air matanya dan membalikkan badan. Ia bergegas lari menuruni anak tangga.


”Sial!” ia berlari mengejar Syakila.


Beni juga ikut mengejar Syakila.


”Syakila! Berhenti di sana! Berhenti kataku!!” teriak Geo.


Syakila terus berlari. Tidak mengindahkan ucapan Geo.


”Siapa di sana! Tahan Syakila!” teriakannya menggema di seluruh ruangan rumah Albert.


Syakila menghentikan larinya dengan cepat, saat melihat anak buah Geo menghadang di pintu rumah.


Tidak! Aku tidak mau tinggal di rumah ini! Aku harus keluar! benaknya.

__ADS_1


Ia berbalik ke belakang, Beni dan Geo hampir sampai padanya.


__ADS_2