Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 184


__ADS_3

Malam hari di kediaman Albert.


Suasana makan malam di meja makan terasa mencekam. Wajah Syakila dan wajah Geo sama-sama memancarkan aura marah.


Beni, Rosalina, yang sudah tahu pokok permasalahan juga terdiam. Marlina pun ikut hanyut dengan keheningan yang mereka ciptakan.


Hingga mereka sudah selesai makan, suasana masih tetap sama...sunyi...hening.


Syakila membersihkan meja makan, mencuci piring, membersihkan dapur dalam diam. Marlina yang membantunya pun di diamkan.


Setelah selesai membersihkan dapur, Syakila pergi meninggalkan dapur. Rosalina, Geo, Beni, dan Marlina mengekori Syakila dengan pandangan mereka.


Sepertinya dia tidak takut sama sekali dengan ku, atau...dia ingin tahu bagaimana puncak dari emosiku? Syakila, apapun yang kamu lakukan, aku tidak akan melepaskan kamu! Aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari rumah ini! benak Geo.


Marlina tersenyum licik melihat wajah datar Geo. Bagus! Marahlah pada Syakila, Geo! Bunuh dia bila perlu! Bukan kah kamu selalu menghancurkan orang-orang yang tidak menghormati mu? benaknya.


Rosalina menghela nafas, ”Geo...biarkan saja dia pergi mengajar...jangan mengurungnya di rumah. Lihat lah! Kamu yang seperti ini..malah membuat dia membenci mu.” ia menasehati Geo.


”Mama...biarkan saja dia! Geo tidak akan mengizinkan dia untuk keluar dari rumah ini! Kalaupun dia ingin pergi berbelanja atau hal lain, Geo akan izinkan, asalkan perginya dengan Geo! Geo pergi dulu.” ia mendorong kursi rodanya keluar dari dapur.


Beni berdiri, ia mengambil kendali kursi roda Geo. ”Biar aku bantu kamu.” ia mendorong kursi roda Geo keluar dari dapur.


Rosalina kembali menghela nafas, melihat punggung Beni dan Geo yang pergi.


”Tante, Geo sangat keras kepala, menasehatinya sama saja bohong! Biarkan saja dia, lama-lama pasti akan mengerti sendirinya.” ucap Marlina.


Rosalina mengangguk, mengerti. ”Ini sudah malam, Tante ingin istirahat! Kamu pergilah istirahat.”


”Iya, Tante.”


Rosalina berdiri, berjalan meninggalkan dapur.


Marlina terdiam, berfikir. Apa yang telah di perbuat Syakila sehingga Geo melarangnya keluar dari rumah? benaknya.


Di dalam lift.


”Apa yang ingin kamu katakan?!” tanya Geo. Ia tahu, pasti ada hal yang ingin di bicarakan oleh Beni, makanya Beni berinisiatif mengikuti dirinya.


Ting! Pintu lift terbuka. Mereka keluar dari lift.


”Pergi ke balkon!” ucap Geo.


Beni mendorong kursi roda Geo ke balkon.


”Geo! Cepat atau lambat, Syakila pasti akan tahu juga tentang itu...”


”Kamu juga menyuruh ku untuk tidak mengurung Syakila di rumah! Apa yang aku lakukan itu salah!?” pangkas Geo.


”Bukan begitu! Hanya saja, akan lebih baik jika kita saja yang memberitahu Syakila tentang kesalahpahaman itu, daripada dia tahu dari orang lain.”


”Tidak! Dia tidak akan mendengarkan ku! Lagi pula, dia tahu dariku ataupun dari orang lain, sama saja! Dia tetap akan membenciku!”


”Bagaimana dengan kita berbicara pada Sardin?”


”Beni, pergilah istirahat! Aku juga ingin istirahat. Urusan ku, biar aku yang selesaikan sendiri.” Geo mendorong kursi rodanya, pergi ke kamarnya.


Beni terdiam melihat kepergian Geo. Ia tidak ingin Syakila membenci Geo. Syakila adalah wanita yang tepat untuk Geo.


Biar aku sendiri yang mencari Sardin dan berbicara padanya. benak Beni.


Di kamar Geo.


Geo melihat Syakila telah membungkus dirinya dengan selimut. Ia tidur menjaga jarak, meletakkan bantal di tengah ranjang.


Kursi sofa yang ada di kamarnya, ia mengeluarkannya. Ia akan memaksa Syakila untuk menerima dirinya sebagai suaminya.


Ia mendorong kursi rodanya mendekati Syakila. Tangannya terangkat, menyentuh wajah Syakila.


Dia sudah tidur! benaknya.


Ia mencondongkan tubuhnya dekat dengan Syakila, di ciumnya kening Syakila.


Geo mendorong lagi kursi rodanya ke pinggir ranjang satunya. Ia berdiri, meregangkan otot kakinya dan naik ke atas ranjang. Ia mengistirahatkan tubuhnya.


.. ..


Keesokan paginya, di kediaman Albert.


Syakila bangun seperti biasa. Ia pergi memasak di dapur. Setelah beberapa menit ia berada di dapur, ia kembali ke kamarnya.


Syakila melihat Geo masih tidur. Ia berjalan ke lemari pakaian, mengambil pakaian gantinya, handuk, dan pergi ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di kepalanya. Ia berjalan ke meja hiasnya, memakai lipstik, handbody, cream wajah, dan menyisir rambutnya. Ia telah bersiap.


Syakila mengambil tasnya berjalan ke arah pintu kamar. Ia kembali melihat Geo di ranjang, pria itu masih tidur.


Aku takut padamu, tapi, demi kebebasan ku, karir ku, aku akan menantang mu! benaknya.


Tangannya membuka handle pintu dan keluar dari kamar. Memakai anak tangga, ia turun ke bawah.


Ia tidak pergi ke dapur lagi. Ia langsung berjalan keluar rumah. Ia bingung melihat dua orang dengan pakaian lengkap serba hitam, telah berdiri di pagar rumah.


Siapa mereka berdua? Aku baru melihat mereka. Apakah mereka pekerja baru di rumah ini? Kenapa aku gak tahu ya? benaknya.

__ADS_1


Ia terus berjalan hingga ke pagar.


”Maaf, Nyonya! Nyonya tidak bisa keluar!” ucap salah satu dari mereka, mencegah Syakila keluar.


”Kalian berdua tidak berhak melarang ku untuk keluar!” bentak Syakila. Ia melerai tangan kedua pria itu yang bersilang mencegahnya.


Namun, tangan kedua pria itu tidak bergerak sedikitpun.


Syakila menatap kedua pria itu dengan tajam. Siapa mereka sebenarnya? Tenaganya cukup kuat! Padahal, aku juga sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk melepaskan kedua tangan pria itu. Tenaganya terlalu kuat! benaknya.


”Buka pagar nya! Aku ingin pergi ke sekolah!” titahnya.


”Maaf, Nyonya! Sesuai perintah dari tuan Geo, Nyonya di larang keluar, tanpa di dampingi tuan!” ucap salah satu dari kedua pria itu.


”Brengsek!” umpat Syakila. Rupanya pria itu benar-benar ingin mengurung ku di rumah! Benar-benar melarang ku untuk keluar dari rumah! Jika begini, baiklah! benaknya.


Ia menendang salah satu kaki pria tersebut dengan keras. Pria itu tidak bergerak sedikitpun, ataupun merasakan sakit dari tendangan Syakila.


Ia kembali menendang pria itu, sekarang titik serangannya pada kepala. Namun, pria itu menghindar dengan cepat.


Apakah dia segitu kuatnya? benak Syakila.


Ia kembali menendang pria itu. Pria itu hanya menghindar, tanpa melawan.


”Tidak perlu menguras tenaga mu untuk membuat mereka membukakan pagar untuk mu!”


Syakila menurunkan kakinya. Ia menoleh kebelakang, melihat Geo. Ia memutar badan, berjalan mendekati Geo. Wajahnya terlihat sangat marah. ”Geo, biarkan aku keluar! Suruh mereka memberiku jalan!” ucapnya.


”Jangan kamu berharap! Masuk!” ia menatap Syakila dengan tajam.


Syakila membalas menatap Geo dengan tajam. Lalu ia berbalik badan.


Geo menahan tangan Syakila dengan cepat yang berjalan kembali ke arah gerbang.


”Lepaskan aku!” bentak Syakila, ia berusaha melepaskan genggaman Geo.


Namun, genggaman Geo sangat erat. Meskipun Syakila berusaha bagaimana pun.


”Masuk!”


”Aku ingin pergi ke sekolah, Geo! Menjadi guru adalah impian ku dari kecil! Kamu gak berhak melarang ku menggapai impian ku, Geo!” suaranya meninggi.


Geo sangat marah! Ia menarik tangan Syakila dengan kuat, hingga Syakila terjatuh di kakinya. Dagu Syakila tepat berada di kedua lutut Geo.


Geo menengadahkan wajah Syakila agar melihatnya, tangannya memegang leher Syakila, perlahan-lahan menekannya.


”Ah...Ge...Geo! Le.. lepas!” jerit Syakila. Kedua tangannya memegang tangan Geo yang mencekik lehernya.


Namun, Geo semakin menekan tangannya. Hingga Syakila benar-benar gak bisa menghirup udara dengan leluasa. ”Berani membentak ku? Melawan ku? Kalau kamu tidak ingin bertemu dengan orang tuamu! Saudara mu! Silahkan kamu melawan ku! Kematian mu, tidak akan aku ratapi!!” ancamnya.


Geo menekan tangannya sedikit kuat lagi pada leher Syakila. Ia melihat mata Syakila memerah, dan Syakila sudah sulit mengatur nafasnya, baru ia lepaskan tangannya dari leher Syakila.


”Ukhuk...ukhuk...!!” Syakila terbatuk-batuk. Ia mengatur nafasnya, memegang leher dan dadanya bergantian.


Geo iba melihat Syakila seperti itu. Ia sakit dan merasa kehilangan nafas saat mencekik leher Syakila. Namun, ia harus bersikap keras pada Syakila, agar wanita itu takut dan nurut padanya. ”Masuk!!” titahnya.


Tanpa berkata, Syakila beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah. Jalannya masih sempoyongan. Geo benar-benar tidak ragu untuk membunuh dirinya.


”Syakila!” mata Rosalina berkaca-kaca melihat Syakila. Tangannya meraih tubuh Syakila.


Syakila menolak Rosalina, ia mengabaikan Rosalina dan berjalan ke arah lift.


Rosalina sangat sedih melihat punggung Syakila yang berjalan menjauhinya.


Beni juga sedih melihat Syakila yang di perlakukan oleh Geo seperti itu. Ia masih berdiri di balkon kamarnya, melihat Geo yang belum beranjak dari tempatnya.


Sedangkan Marlina, ia terlihat sedikit kecewa. Ia kecewa karena Geo melepaskan Syakila begitu saja.


Rosalina, Marlina, dan Beni sama-sama menyaksikan Geo yang menindas Syakila. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mencegah Geo, malah akan semakin membuat Syakila sengsara.


Meskipun Beni dan Rosalina berdiam saja, mereka tahu, Geo tidak membunuh Syakila. Karena Geo telah jatuh cinta pada Syakila.


Rosalina mendatangi Geo. Beni segera pergi dari balkon ketika melihat Rosalina.


Rosalina memegang kursi roda Geo. ”Geo, masuk makan.” ucapnya pelan.


”Tidak, Mah! Geo tidak lapar! Mama pergilah makan, ajak Syakila juga. Geo ingin keluar sebentar.” ucapnya datar.


”Kamu ingin pergi kemana? Makan dulu sebelum pergi.”


”Mama, emosi Geo belum mereda! Tolong, Geo tidak ingin menyakiti Mama. Mama pergilah makan, ajak Syakila. Aku pergi dulu.”


Geo mendorong kursi rodanya.


”Tapi...”


”Selama Geo pergi, tidak ada yang boleh membantu Syakila keluar dari rumah ini!” pangkas Geo. Ia telah memberikan perintah.


”Kamu akan pergi kemana Geo? Jangan pergi! Kalaupun ingin pergi, tunggulah Beni.” ucap Rosalina khawatir.


”Tidak usah khawatir, Mama. Geo ingin pergi sendirian. Mama jaga saja Syakila, agar tidak meninggalkan rumah saat Geo pergi.” sahut Geo.


Ia terus mendorong kursi rodanya. Supirnya telah siapkan mobil tanpa di perintah lagi.

__ADS_1


”Jangan biarkan Syakila keluar dari gerbang ini! Jika hal itu terjadi, kepala kalian yang akan hilang!” ancamnya pada kedua pria yang ia tugaskan menjaga pagar rumah.


”Siap, Tuan!” jawab kedua pria itu.


Sang supir mengentikan mobil di samping Geo. Ia turun dan membantu Geo naik ke mobil. Kedua pria yang menjaga pagar, membukakan pagar untuk Geo.


Rosalina melihat mobil Geo yang berlaku dengan khawatir. Ia pun masuk ke rumah setelah tidak melihat mobil Geo lagi.


.. ..


Di kamar Geo.


Syakila menangis memandang mobil Geo yang berlalu. Ia masih berdiri di jendela kamar.


”Brengsek! Dia mengurung ku di rumah, dan dia pergi begitu saja! Pasti dia sudah memberikan pesan kepada kedua pria itu untuk melarang ku keluar dari pintu gerbang.” gumamnya.


Ia menoleh kebelakang saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Ia kembali melihat luar jendela.


Rosalina berjalan mendekati Syakila, tangannya menyentuh bahu Syakila. ”Kamu sudah sarapan?” tanyanya lembut.


Syakila menggeleng.


”Ayo pergi makan!” ajak Rosalina.


”Tidak, Mah! Syakila tidak lapar! Mama, Syakila ingin sendiri! Tolong, tinggalkan Syakila!” ucap Syakila.


Rosalina menghela nafas, ia melepaskan tangannya dari bahu Syakila. ”Baiklah! Makanlah jika kamu lapar nanti! Syakila, maafkan Geo. Dia tidak bermaksud menyakiti mu. Dia hanya sedang marah saja. Setelah dia kembali, amarahnya pasti sudah reda. Kalian berbicaralah baik-baik.”


Syakila terdiam, tidak menanggapi. Rosalina keluar dari kamar.


Syakila menghapus air matanya. ”Memaafkan dia! Aku semakin membencinya!!” gumamnya.


.. ..


Di dapur.


Rosalina duduk di meja dengan wajah yang sedih.


”Syakila tidak mau makan?” tanya Beni.


Rosalina mengangguk pelan, ”Iya. Beni, apa kamu tahu Geo akan pergi kemana?”


”Beni tidak tahu, Tante! Mungkin saja dia pergi ke apartemennya untuk menenangkan diri. Tante tenang saja, jangan banyak berfikir! Geo tidak akan melakukan hal-hal aneh.”


”Kalau begitu, setelah makan, kita pergi lihat ke sana.”


”Baik, Tante.”


Rosalina mengambil makanan, begitu juga dengan Beni dan Marlina, mereka berdua mengambil makanannya.


Rosalina makan dengan tidak nyaman. Ia hanya memakan sedikit saja makanannya. Begitu juga dengan Beni.


Bagaimana mereka bisa makan dengan enak, tenang, jika Syakila dan Geo seperti itu. Syakila tidak mau makan, dan Geo pergi tanpa makan.


”Ayok kita pergi sekarang, Beni! Tante tidak tenang kalau belum lihat Geo baik-baik saja.” ucap Rosalina.


”Iya, Tante! Bagaimana dengan Syakila? Kita ikutkan dia saja?”


”Lebih baik tidak usah! Biarkan dia di rumah saja.” Rosalina berdiri. Ia melihat Marlina, ”Marlina, Tante pergi dulu. Kamu tolong jaga Syakila. Kalau dia bertanya padamu tentang Tante dan Beni, bilang kami pergi keluar sebentar. Ada urusan.”


”Baik, Tante. Marlina akan menjaga Syakila.” sahut Marlina.


Rosalina dan Beni pergi keluar dari dapur.


Syakila melihat Rosalina dan Beni masuk ke mobil. ”Kemana Mama dan Beni akan pergi?” gumamnya.


Mobil mereka telah berlalu, meninggalkan kediaman Albert.


Syakila keluar dari kamar, ia pergi ke bawah, mencari Marlina. Ia melihat Marlina yang duduk di kursi sedang menonton tv. Ia berjalan menghampiri Marlina.


Ia duduk di samping Marlina, Marlina hanya memperhatikan Syakila.


”Kemana perginya mama dan Beni?” tanya Syakila.


”Tidak tahu! Mungkin ada urusan di luar! Kenapa?” jawab Marlina.


”Tidak apa-apa!” jawab Syakila. Ia berdiri dan berjalan keluar dari rumah.


Marlina acuh saja, ia tetap menonton TV. Dia juga tidak bisa kemana-mana! Biarkan saja dia berkeliling di rumah ini! Penjaga di luar sana sudah di pastikan mencegah Syakila keluar dari pagar, tidak perlu aku melarangnya. Bahkan, mau ku sekarang ini Syakila harus bisa keluar pagar dan kedapatan Geo. Aku sangat senang sekali melihat adegan itu, biarkan Syakila mati di tangan Geo. benaknya.


Syakila berjalan ke taman bunga. Ia melihat kedua pria yang menjaga pagar itu selalu memperhatikan dirinya.


Ia pergi dari taman bunga terus berjalan ke arah samping taman. Ia melihat semua dinding pagar sangat tinggi. Tidak ada cara untuk menaiki dinding tersebut.


Ia terus berkeliling di sana hingga ia berjalan sedikit jauh dari rumah. Ia menoleh ke belakang, tidak ada orang yang memperhatikan dirinya.


Ia kembali melihat ke depan, berjalan dengan pelan sambil melihat kiri kanan jalan. Ia melihat ada dinding yang tidak terlalu rapat.


Langkahnya semakin di percepat mendekati dinding itu. Ia merabanya dan mencoba-coba mencari tahu tentang dinding itu.


Namun, ia tidak tahu dinding itu sebenarnya apa! Apakah pintu rahasia? Kalaupun pintu rahasia, jalan di depan sana menuju kemana? Dan bagaimana membuka dinding itu?


Ia mencoba mendorong kedua sisi dari dinding itu, namun dinding itu tidak bergerak sedikitpun pun.

__ADS_1


Lelah, tidak menemukan apa-apa untuk membuka pintu itu. Ia pun kembali ke rumah.


__ADS_2