Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 234


__ADS_3

Di kediaman Albert.


”Sayang, kalian sudah pulang? Di mana Beni?” tanya Rosalina.


”Beni masih ada kerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.”


”Mama, Geo, aku masuk ke dalam dulu.” izin Syakila.


”Iya, sayang.” sahut Rosalina dan Geo bersamaan.


Syakila masuk ke dalam rumah. Di teras tinggal Geo dan Rosalina.


”Mama, mengapa Mama memberikan hak istimewa pada Alifa, Atika, Alika dan Afika di perusahaan?”


”Apa yang terjadi?”


”Apa yang terjadi?” Geo mengulang pertanyaan mamanya sambil memandang mamanya tersebut, ”Seharusnya Mama sudah bisa menduga apa yang akan terjadi di kantor, kan? Mereka menganggap Syakila adalah saingan cinta mereka yang Mama kirimkan untukku. Mereka berdua memprotes aku yang memanjakan Syakila. Mereka berpikir... seharusnya mereka juga mendapatkan hak istimewa seperti aku memperlakukan Syakila. Di manja, di peluk, di perlakukan dengan baik.”


”Kalau begitu pecat saja.”


”Pecat saja?” Geo mengusap wajahnya, ” Apakah Geo bisa mengubah peraturan yang telah di buat bertahun-tahun oleh tuan Albert, Nyonya Rosalina?”


Rosalina terdiam sesaat, ”Papa mu tidak akan suka. Itu adalah peraturan yang tidak bisa di rubah sampai ke generasi penerus lainnya. Jika tidak ada peraturan itu sama saja kalian menganggap remeh kemampuan seseorang. Dan itu sama saja kalian menutup kesempatan orang untuk mengembangkan diri di perusahaan tersebut.”


”Benar sekali, Nyonya Rosalina. Jadi, aku harus bagaimana mengatasi dua wanita yang telah Nyonya letakkan di dalam ruangan ku dan juga Nyonya memberikan hak istimewa kepada wanita-wanita itu, apa yang harus aku perbuat Nyonya?”


”Kamu ingin Mama mencabut hak istimewa yang sudah Mama berikan pada mereka?” tanya Rosalina.


”Jika Mama bisa lakukan... itu akan membuat Geo ataupun Beni gampang memecat mereka jika mereka benar-benar sudah keterlaluan menganggap diri sebagai nyonya di perusahaan Geo.”


”Prosesnya bisa sampai satu minggu jadinya. Karena Mama harus mengadakan rapat lagi dengan para petinggi di sana untuk mencabut hak istimewa tersebut. Sekaligus meralat kembali ucapan Mama jika mereka adalah calon menantu Mama pada mereka.”


”Itu akan lebih bagus. Ma, maaf... jika pembahasan ini Geo berkata kasar pada Mama.”


”Tidak sayang. Kalian sudah makan siang?” tanya Rosalina.


”Iya. Sudah, Ma. Geo masuk ke dalam dulu. Oh iya Ma, kami akan pindah ke apartemen hari ini setelah Beni pulang dari perusahaan.”


”Iya. Mama juga ikut mengantar kalian ke sana.” sahut Rosalina. Geo mengangguk kemudian, ia masuk ke dalam rumah.


”Huh, tidak menyangka akan jadinya seperti ini. Semoga saja mereka tidak akan mencelakai Syakila. Secepatnya harus aku urus masalah ini.” gumam Rosalina.


Di kamar Geo.


Geo membuka jas dan melonggarkan dasinya dan menyimpannya ke tempat pakaian kotor. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.


Ia naik ke atas ranjang dan berbaring sambil memeluk Syakila yang tidur menyamping. Syakila membuka mata saat merasakan pergerakan di belakangnya. Ia memegang tangan Geo yang memeluknya dan membalikkan badan menghadap pria itu.


”Kau terbangun? Maaf, sudah membangunkan tidur mu. Tidur lagi,” ucap Geo.


”Hum,” Syakila memeluk tubuh Geo dan kembali tertidur.


Kamu memang memiliki daya tarik yang indah, Syakila. Aku selalu cemburu jika kamu di lihat, di kagumi, di puji sama laki-laki lain. benak Geo. Ia mencium kening istrinya.


Geo melihat layar hapenya menyala. Ia melepaskan tangan Syakila dari tubuhnya dengan pelan-pelan. Ia bangun dan beranjak dari tempat tidur.


Ia mengambil hapenya dan pergi ke balkon kamarnya. Ia mengangkat telponnya. ”Bagaimana?” tanyanya.


”Sudah, Tuan. Dia ada di markas sekarang.” jawab Si penelepon.


”Hum. Jangan apa-apain dia sampai aku datang ke sana.” ucap Geo.


”Baik, Tuan.” jawab Si penelpon. Sambungan telah di putuskan oleh Geo.


Geo menghubungi Beni. Telfon terhubung.


”Sudah selesai urusan mu?


”Sudah. Ketemu di sana atau aku menunggu mu di kantor, baru kita sama-sama ke sana?”


”Ketemu di sana.” jawab Geo. Ia memutuskan sambungan telfon. Ia kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat Syakila masih tertidur.


Geo mengganti pakaiannya. Ia mengambil topi hitamnya dan memakainya, ia juga mengambil kunci mobil. Ia menghampiri Syakila di ranjang. Dikecupnya kening Syakila, lalu ia keluar dari kamar.


Geo menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.


”Loh, sayang. Kamu mau kemana berpenampilan seperti itu?” tanya Rosalina.


”Mama, Geo ada urusan di luar sebentar. Syakila ada tidur. Jika Syakila terbangun saat Geo belum datang dan menanyakan keberadaan Geo, katakan padanya aku keluar sebentar.” ucap Geo.


”Iya. Kamu hati-hati.” sahut Rosalina.

__ADS_1


”Iya, Mama. Geo pergi.” Dia melangkah keluar dari rumah. Dia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


*


*


*


Di markas Geo.


Geo membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil.


”Tuan, Anda sudah datang?” sapa Anak buahnya Geo.


”Hum. Beni sudah datang?” tanya Geo. Ia berjalan masuk ke dalam markas. Anak buahnya mengikuti di belakang.


”Sudah, Tuan. Mari... Tuan. Di sebelah sini.” Anak buahnya maju di depan Geo dan menunjukan jalan tempat mereka menyergap orang. Geo mengikuti.


”Beni? Kamu tahu siapa aku? Beraninya kamu menyergap ku di sini!”


Geo dapat mendengar suara dari orang tersebut yang berbicara menggertak Beni.


Geo masuk ke dalam ruangan tersebut setelah anak buahnya membukakan pintu ruangan tersebut.


”Geo, kenapa baru datang?” tanya Beni.


”Geo? Kenapa kamu dan Beni melakukan ini padaku? Kalian tidak takut padaku? Aku adalah manager sekaligus kaki tangan dari perusahaan terbesar di kota C. Kalian tentunya tahu kan siapa itu tuan Alex?” Sudut bibir kiri pria itu tertarik ke atas meledek Geo dan Beni.


Geo duduk di kursi yang di sediakan oleh anak buahnya di hadapan pria itu. Beni duduk di kursi sebelah Geo.


”Apa kamu kira aku takut padamu? Takut pada Alex? Kau terlalu memandang remeh seorang CEO dari perusahaan kota A. Kamu belum mengenali ku dengan benar.” ucap Geo, suaranya tegas dan jelas.


Manager dari perusahaan tersebut terlihat panik dan takut seketika. Aura yang dipancarkan Geo sangat kuat.


”Ka__kamu mau apa? Ke__kerja sama? Oke, oke. Aku akan kabulkan. Tapi... lepaskan aku dulu.” ucap Manager tersebut.


”Aku tidak butuh kerja sama dengan kamu. Yang aku butuhkan adalah nyawamu. Lalu, bagaimana aku bisa melepaskan mu?”


”Apa?” Manager tersebut terkejut. ”Nya__nyawa? Aku... aku sudah menyinggung mu apa, Geo?”


”Kamu tahu syarat yang kamu ajukan untuk kerja sama... sangat melukai hati dan jiwa kami.” Beni yang menjawab pertanyaan manager tersebut. Manager itu melihat Beni dengan bingung.


”Bukankah kalian pebisnis? Permintaan hal seperti itu lumrah kan dalam dunia bisnis? Lalu, apanya yang salah?” ucap Manager tersebut membela diri.


Bugh! Bugh! Beni meninju perut manager tersebut.


”Argh!” jerit Manager tersebut kesakitan. ”Ma__maaf! Aku... aku tidak tahu jika itu kakak ipar mu,” ucapnya.


”Meskipun dia bukan kakak ipar ku... kamu juga tidak berhak meminta karyawan di perusahaan ku untuk jaminan sebuah kerja sama...”


Bugh! Sekali lagi Beni memukul manager tersebut.


Geo melihat anak buahnya menyuruh anak buahnya untuk membuka ikatan manager tersebut dengan kode tangan. Anak buahnya mengangguk, ia membuka ikatan pada pria itu.


Manager tersebut bersujud di kaki Beni. ”Maaf, aku salah. Aku... aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf, tolong lepaskan aku. Aku... aku akan memberikan kompensasi untuk mu,” ucapnya.


Geo melemparkan sebuah kertas pada manager tersebut. Manager tersebut membaca kertas yang jatuh di hadapannya, di bawah kaki Beni.


Mata manager tersebut membulat. Ia berjalan menggunakan lututnya menghadap Geo. ”Ma__maaf, tidak seharusnya aku menyinggung kalian. Aku... aku tahu aku salah. Maafkan aku, jangan hukum aku seperti itu...” Ia bersujud pada Geo.


Geo menendang pria itu. Tubuh pria itu tergeser sampai terbentur ke dinding.


”Argh!” jerit pria itu kesakitan.


Ah! Hari ini hari sial ku... Aku... aku harus bisa keluar dari sini. Tidak seharusnya aku menyinggung kedua orang ini. benak Manager tersebut.


Geo melemparkan pena pada manager tersebut, ”Tanda tangani kertas itu!” titahnya.


Manager tersebut menggeleng, ”Tidak! Aku... aku tidak mau... Aku...aku akan meminta maaf pada wanita itu... Aku akan memberikan kompensasi yang besar pada kalian. Tolong ampuni aku...”


”Beni!”


Beni mengerti maksud Geo. Ia mengambil kertas itu dan memaksa manager tersebut untuk tanda tangan. Dengan gemetar manager tersebut menandatangani surat itu.


”Ok, sudah. Aku pergi dulu.” pamit Beni.


”Hum!”


Beni keluar dari ruangan itu dengan membawa kertas yang sudah di tanda tangani sama manager dari perusahaan kota C tersebut.


”Potong lidahnya, patahkan kedua tangannya, dan buat dia menjadi buta. Bunuh dia!” titah Geo pada anak buahnya.

__ADS_1


”Baik, Tuan.”


”Jangan! Aku mohon ampun...”


”Tidak ada ampunan dariku! Beraninya kamu meminta istri ku dariku, beraninya kamu mengkhayalkan dia bermesraan dengan mu.”


Bugh! Duagh! Geo meninju dan menendang manager tersebut.


”Argh!” Ia menjerit kesakitan menerima pukulan dan tendangan yang kuat dari Geo.


Duagh! Sekali lagi Geo menendang pria itu dengan kuat. Ia keluar dari ruangan itu setelah membersihkan noda darah di tangannya yang terciprat dari mulut pria itu saat Geo meninju perut dan dada manager tersebut.


”Aaaaa! Aaaaa!”


Geo mendengar dan masih mendengar jeritan kesakitan pria itu bahkan dari jarak 10 meter. Setelah itu, ia tidak mendengar jeritannya lagi.


”Siapa suruh memiliki khayalan yang kotor pada istriku. Siapa saja yang menginginkan istriku akan mati mengenaskan di tangan ku.” gumam Geo sambil berjalan.


”Hah! Padahal aku sudah berhenti berhubungan dengan geng ku semenjak aku tahu Syakila tidak suka pria yang kejam dan berkomplot dengan geng apapun. Tetapi pria itu sangat keterlaluan sekali! Dia membangkitkan setan yang sudah lama tertidur di dalam tubuh ku.” gumam dia lagi.


”Sudah! Ngapain bergumam sendiri...aku sudah mengirim surat itu pada asisten dia. Salah satu anak buah kita telah membuat laporan kejatahan pria itu pada istrinya dan dia membunuh pria itu. Kepolisian menerima laporannya dan sudah mengabarkan pada polisi di kota C atas perbuatan yang di lakukan pada pria itu, dia di hukum mati dan jasadnya di kuburkan di kota ini.” ucap Beni.


”Hum! Bereskan semuanya. Tidak perlu media tahu. Dan jangan sampai Syakila tahu sisi gelap ku. Aku pulang duluan. Kamu cepatlah pulang, aku dan Syakila akan pindah ke apartemen hari ini,” kata Geo.


”Ok!” sahut Beni.


Geo keluar dari markas. Ia masuk ke dalam mobil. Dia menghela nafas berkali-kali lalu ia menyalakan mobil dan menjalankannya.


*


*


*


Di kediaman Albert.


”Mama, apakah Geo sudah lama perginya? Dia pergi kemana sih, Ma? Ini sudah hampir jam 6 dia belum juga pulang. Nomornya juga tidak aktif saat di hubungi.”


Rosalina tersenyum melihat Syakila yang khawatir pada anaknya.


”Tidak lama lagi dia akan pulang. Tidak perlu khawatir padanya. Dia bukan anak kecil lagi. Mungkin saja urusannya belum selesai makanya dia belum pulang.” sahut Rosalina.


Mereka sekarang berada di teras rumah menanti kepulangan Geo dan Beni.


”Hum. Syakila ke kamar dulu, Ma. Mau membersihkan diri.”


”Iya.” sahut Rosalina dengan tersenyum.


”Oh, lupa. Mama jangan memasak sayurnya. Tunggu Beni dan Geo datang baru Syakila masak. Syakila ingin memakan sayurnya panas-panas.” ucap Syakila.


”Iya, sudah berapa kali kamu mengingatkan Mama, Syakila! Mama tidak akan lupa, kok! Sudah, pergi mandi sana!”


”Iya, Ma.”


Syakila melangkah pergi ke kamarnya. Ia pergi ke lantai dua dengan menggunakan lift.


Rosalina melihat mobil Geo baru saja berhenti di halaman parkir. Geo turun dari mobil, ia melihat Rosalina yang duduk di teras rumah. Geo menghampiri mamanya. Ia menarik kursi dan duduk.


”Kenapa duduk di situ? Pergilah ke kamar, Syakila menunggumu dan menanyakan mu dari tadi.”


”Geo duduk sebentar di sini dulu, Ma.” sahut Geo.


Mata Rosalina memicing melihat raut wajah Geo, ”Kamu... kamu tidak habis melakukan hal buruk, kan?” tanyanya. Geo terdiam tidak menjawab.


”Ampun! Anakku...! Siapa lagi yang menjadi korban mu kali ini? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Hah? Beni juga ikut bersama mu?”


Geo masih terdiam. Dari diamnya Geo, Rosalina tahu jika Beni juga ikut bersama.


”Bukan kah sudah Mama katakan berulang kali... kamu dan Beni tidak perlu mengurus kelompok itu lagi. Kalian tidak mendengar ucapan Mama?” Rosalina berucap nada kecewa pada Geo.


”Geo dan Beni sudah lama tidak ikut dalam kelompok itu lagi. Tetapi... pria itu sudah sangat menyinggung ku. Aku tidak bisa diam saja ketika dia meminta istri ku secara langsung dariku dan memikirkan untuk... untuk menggauli istri ku...”


”Apa?” Rosalina terkejut. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Ia terdiam. Ia juga pernah dalam posisi seperti itu dulu dan di saat itu, Albert sangat marah. Harga dirinya seperti jatuh saat orang tersebut meminta Rosalina untuk bersenang-senang dengannya dalam satu malam hanya untuk sebuah kerja sama.


Saat itu Albert sangat murka pada orang itu. Emosinya mereda saat orang itu mati di tangannya.


Ayah dan anak punya sifat yang sama. benak Rosalina.


”Masuklah, bersihkan dirimu.” ucap Rosalina setelah beberapa menit terdiam.


”Iya, Ma.” Geo berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Rosalina menghela nafas. ”Entah harus menanggapinya seperti apa! Mereka hanya menjaga harga diri dan kehormatan pasangannya,” gumamnya.


__ADS_2