
Mereka tiba di rumah bersamaan dengan datangnya lemari pakaian yang di beli oleh Syakila. Beni turun dari mobil mengurus lemari pakaian. Ia bersama dua orang lainnya mengangkat lemari dan membawanya hingga ke kamar Geo.
Syakila masih di mobil bersama Geo. Ia menunggu para pengantar lemari meninggalkan kediaman Albert baru ia akan turun dari mobil.
Ia duduk bersandar sambil memejamkan mata. Tangan kanan memegang kalung yang ada di lehernya. Ia sedang memikirkan Sardin, bagaimana keadaannya? Sedang apa dia? Dan lain hal sebagainya.
Trrtrtrrt trrtrtrrt
Syakila membuka mata, meraih handphone yang berdering dan melihat id si pemanggil. Syakila mengangkat telfon dengan kembali memejamkan mata.
”Halo, ada apa sayang?”
Geo memicingkan mata melihat Syakila yang memanggil kata sayang untuk orang di telfon. Ia menggertakkan kedua rahangnya.
”....kabar ku baik-baik saja, bagaimana dengan kabar disana, apakah baik juga?.... Alhamdulillah, aku senang dengarnya....maaf sayang aku gak bisa datang....eh, bukan begitu sayang, tapi aku sedang tidak berada di kota S....sama sekali tidak bisa sayang, maafkan aku....cukup doa ku saja yang mewakili ku ya, selamat menempuh hidup baru sayang, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek.... hahahaha bisa saja kamu... iya, aku mengundurkan diri dari mengajar sayang.... tidak-tidak, gak ada alasan seperti itu...ah begitu yah rumor yang beredar di sana? Tapi aku gak merasa loh...ya...ya...eh, tidak-tidak, siapa yang bilang aku pacaran sama pak Dendi? Iya itu tidak benar....pacarku itu namanya Sardin Am__”
Geo merebut handphone Syakila secara tiba-tiba, Syakila menjadi kaget, ia mencoba merebut kembali handphonenya dari tangan Geo.
”Kembalikan handphone ku!”
Namun, Geo tidak menghiraukan ucapan Syakila. ”Siapa pun kamu, jangan menghubungi Syakila lagi.” Tut tut tut Geo memutuskan sambungan setelah mengucapkan itu.
”Kamu apa-apaan sih, Geo? Cukup, aku malas dengan mu!” Syakila mengambil handphone, ia keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar.
”Brengsek!” umpat Geo yang terkejut di dalam mobil.
Syakila berjalan masuk ke rumah dengan wajah marah. Beni geleng-geleng melihat itu.
Pasti mereka bertengkar lagi.
Ia menghampiri Geo yang masih ada di mobil. Beni menurunkan Geo dari mobil di bantu anak buahnya. Beni juga mengeluarkan barang belanjaan Syakila.
”Beni, barang sebanyak itu, apakah kamu yang membayarnya? Bukan kah sudah ku kasihkan kartuku untuk membayar belanjaannya? Pantas saja tidak ada notifikasi dari bank di hapeku?” Geo bertanya dengan wajah datar.
”Tidak, Syakila membayar belanjaannya pakai kartu limited miliknya sendiri. Dia melarang ku untuk membayar belanjaannya.” jelas Beni.
Dahi Geo mengkerut. ”Apa? Dia punya kartu limited sendiri?”
”Iya,” sahut Beni.
Tidak mungkin dia memiliki kartu limited sendiri, terkecuali kartu itu di berikan oleh Sardin Ampagara.
Geo menampakkan wajah marahnya. Mereka tiba di kamar Geo. Mereka melihat Syakila yang tertidur di sofa. Beni segera keluar setelah ia menaruh belanjaan Syakila di ujung sofa di bawah kaki Syakila.
Geo mendekati Syakila yang tertidur. ”Hei, bangun.” Geo melemparkan satu paper bag belanjaan pada Syakila.
Syakila terkejut, ia bangun dan langsung terduduk.
”Bisa gak, bangunin orang itu dengan baik-baik.” ucap Syakila dengan ketus.
”Wanita seperti mu tidak pantas di perlakukan dengan baik.” sahut Geo dengan ketus
”Apa maksudmu? Aku wanita seperti apa di matamu?” Syakila memandang Geo tajam.
Geo tersenyum kecut, ”Tidak perlu kamu bersandiwara sama aku lagi, aku sudah tahu kamu wanita seperti apa. Kamu lebih rendah dari pembantu.”
Syakila memelankan suaranya, ”Apa katamu? Aku lebih rendah dari pembantu?” Syakila meninggikan suaranya. ”Jika kamu sudah tahu aku sangat buruk di pandangan mu, mengapa kamu memilih ku untuk dinikahi? Bukankah kita sama saja rendahnya sekarang, Geo?”
”Kamu__” Geo tidak melanjutkan ucapannya. Tatapan mata Syakila begitu tajam dan penuh kebencian. ”Mandikan aku!” Geo mengalihkan pembicaraan.
Tanpa menyahuti, Syakila berdiri dari duduk dan mendorong kursi roda Geo masuk ke kamar mandi.
”Buka pakaian mu sendiri. Setelah itu baru aku simpan kamu di dalam bak, kamu mandi sendiri. Aku akan menunggu mu di luar. Setelah kamu selesai mandi, baru panggil aku.” ucap Syakila.
”Untuk apa kamu? Buka kan bajuku dan mandikan aku.” titah Geo.
”Tidak bisa begitu!” ketus Syakila.
__ADS_1
”Tidak bisa? Kamu tahu status mu, bukan?”
Syakila terdiam. Ia benar-benar malu untuk melepaskan pakaian Geo. Dengan terpaksa ia membuka semua pakaian Geo, hanya menyisakan celana boxer nya saja.
”Termasuk celana boxer, buka.” ucap Geo tanpa ragu. Syakila memandang Geo dengan tajam. ”Dengan menatap ku seperti itu, gak akan membuat celana ku terbuka.”
”Apa kamu punya rasa malu Geo? Aku ini wanita, bagaimana bisa kamu suruh aku melakukan itu?” suara Syakila merendah. ”Aku akan panggilkan Beni untuk membantu mu mandi.”
”Kamu itu lebih pantas melihat tubuh polos ku ketimbang Beni, kamu pembantu ku yang berstatus istri. Jadi, ini adalah tanggung jawab mu.”
Dengan kesal Syakila membuka celana boxer Geo dengan memalingkan muka. Syakila merasa malu sendiri membuka pakaian pria untuk yang pertama kalinya.
"Papah aku ke bak dan mandikan aku.”
Dengan terpaksa Syakila melakukan itu, ia memandikan Geo hingga acara mandi selesai. Syakila memapah Geo kembali ke kursi roda, ia menggosok badan Geo, dan melilitkan handuk ke pinggang Geo.
”Papah aku ke ranjang dan pakaikan pakaian ku, lalu keringkan kursi roda ku.”
Syakila menurut saja. Syakila mengerjakan pekerjaan itu dengan menggerutu di dalam hatinya.
Brengsek nih orang! Sebenarnya papa berhutang pada keluarga Albert untuk apa sih? Uang senilai satu milyar, untuk apa coba? Papa, lihatlah anakmu ini, apa papa yakin aku bisa bertahan dengan pria seperti dia?
Kursi roda sudah kering dan Geo telah selesai berpakaian.
”Papah aku ke kursi roda dan kita pergi ke dapur. Masaklah sesuatu untuk makan malam kita, jangan masak makanan yang seperti siang tadi.”
Syakila kembali memapah Geo ke kursi roda, lalu mereka pergi ke dapur. Sesampainya di dapur, Syakila terkejut melihat Beni yang sedang bersiap-siap untuk memasak. Syakila mendorong Geo hingga ke meja makan. Ia mendekati Beni yang sedang mencuci sayuran.
”Beni, apa yang sedang kamu lakukan?”
”Eh Syakila, ini aku lagi bersiap untuk masak. Kenapa kamu kemari tanpa ku panggil? Kamu sudah lapar? Kamu duduklah di kursi, aku akan memasak untuk makan malam kita." ucap Beni.
Beni belum menyadari jika di dapur masih ada seorang lagi selain dia dan Syakila. Geo merasa kesal dengan perlakuan lembut Beni pada Syakila.
”Aku tidak mau duduk diam saja dan melihat mu memasak, Beni.” sahut Syakila, ia mengambil pisau dan memotong sayuran yang sudah di cuci oleh Beni. ”Kamu tahu, aku dan kakak Sardin sering memasak bersama, entah itu di rumah ku ataupun di rumahnya Sardin.”
Syakila tersenyum, ”Bukan hanya aku, tapi kami berdua saling mencintai dari kami masih kecil dulu.”
Cih cinta dari kecil, cinta uangnya kali.
batin Geo.
Syakila asyik bercerita dengan Beni sambil bekerja. Ia juga lupa jika di meja makan sana Geo sedang duduk. Mereka berdua benar-benar mengabaikan Geo. Geo sangat marah, Syakila bisa berbicara lembut begitu pada Beni, sementara ke dia. Yang ada hanyalah kata-kata kasar saja.
”Jika sudah selesai masak, hidangkan makanannya segera. Perutku gak akan kenyang dengan mendengar celotehan kalian berdua.” ketus Geo berucap.
Beni berbalik, baru ia tahu kalau GEO berada di dapur. ”Geo, kamu disini? Sebentar lagi akan masak. Bersabarlah.”
Syakila lanjut melakukan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, makanan sudah masak. Dan sudah di tata di atas meja oleh Syakila dan Beni. Syakila duduk di kursi samping Beni, berhadapan dengan Geo.
”Ambillah makanan mu Geo, dan makanlah.” ucap Beni.
BNI dan Syakila sendiri telah mengambil makanannya, mereka berdua sementara makan.
”Hei, sendokkan makanan untuk ku dan suapi aku.” titahnya pada Syakila.
”Kamu makanlah sendiri, jangan bersikap manja begitu, seperti anak kecil saja. Apa kamu gak lihat, aku sedang makan? Perutku juga lapar bukan hanya perutmu,” sahut Syakila.
”Aku tidak peduli dengan perutmu yang lapar. Cepat suapi aku.” kekeh Geo.
”Geo, biarkanlah dulu Syakila menghabiskan makanannya baru ia akan menyuapi mu.”
”Diam kamu Beni, lanjutkan saja makan mu. Tidak usah menjadi pahlawan untuk wanita ini. Sudah tugasnya dia melayani ku.” ucap Geo sambil menatap Syakila.
”Aku benar-benar bingung, sebenarnya papaku berhutang pada keluarga mu itu karena apa? Kalian tidak sedang menjebak papaku bukan? Dan aku juga penasaran, sebenarnya niat mamamu mengotot meminta salah satu putri papaku dan di nikahi oleh mu itu untuk apa? Kalian mengambil keuntungan untuk ini, kan?”
”Tentu saja kami mengambil keuntungan dari itu. Ibuku menginginkan putri Halim untuk menjadikan pembantu ku, pelayan pribadi ku. Bukankah kamu sudah tahu itu?”
__ADS_1
”Berapa sebenarnya jumlah hutang papaku?”
”Geo, Syakila, berhenti berbicara. Jangan bertengkar di meja makan.” Beni menasehati Geo dan Syakila. Namun, Geo mengabaikan ucapan Beni.
”Kenapa? Kamu ingin membayarnya? Baiklah, Beni buatkan perincian utang Halim dan berikan pada Syakila. Tuliskan dalam perincian itu Syakila akan membayarnya dengan tubuhnya setiap malam sampai hutangnya lunas.” ucap Geo tanpa melepas pandangan nya pada Syakila.
Syakila menatap tajam Geo. ”Kamu pria brengsek yang pernah aku temui. Jangan berharap aku akan membayar itu dengan tubuh ku. Sedikitpun tubuhku ini tidak layak di sentuh oleh kamu.”
Syakila beranjak berdiri dan keluar dari dapur. Ia meninggalkan makanannya yang masih tersisa banyak itu.
Apa dia bilang? Aku tidak layak menyentuh tubuhnya? Kita lihat saja nanti.
”Geo, tidak kah kamu berpikir kamu keterlaluan pada Syakila. Tidak bisakah kamu menghargai dia, berbicara lembut padanya? Dia wanita baik Geo, sakit hatimu pada wanita-wanita mu jangan bebankan padanya. Jika saja karena bukan hutang ayahnya, belum tentu Syakila akan mau menikah denganmu. Dia pasti akan menghina mu, mengejek mu, mengatai mu, seperti wanita-wanita sebelumnya. Hargailah pengorbanan dia, Geo. Dia rela memutuskan pacarnya yang begitu dia cintai, rela memilih menikah dengan mu dari pada melihat mamanya di penjara. Jadi, bersikap baiklah padanya.” Beni menasehati Geo.
”Berhenti berbicara Beni, aku tidak ingin mendengar ucapan mu. Sendokkan aku makanan.”
Beni geleng-geleng kepala, ia menyendok makanan untuk Geo. ”Kamu makanlah, aku cari Syakila dulu.”
”Duduk, temani aku makan. Dia bukan anak kecil, jika dia lapar dia akan kesini untuk makan.” ucap Geo. Ia mulai memakan makanannya.
”Tapi Geo,_”
”Setelah aku makan baru kamu cari dia.”
”Geo, dia istrimu, ka__”
”Dia pembantu ku, bukan istriku! Bukankah kami menikah untuk itu?”
Beni terdiam, memang benar ucapan Geo. Mereka sengaja mengikat Syakila dengan pernikahan untuk mengurus, merawat Geo, dan menyembuhkan trauma Geo pada wanita. Juga menyemangati Geo untuk mau di rawat untuk penyembuhan kakinya.
Tapi, jika mereka bertengkar terus seperti ini, bagaimana bisa Syakila bisa membujuk Geo dan merawat Geo dengan baik.
”Iya, kamu benar Geo, tapi bagaimana Syakila akan mengurus mu dengan baik, merawat mu dengan baik, dan memulihkan trauma mu, jika kamu dan dia tidak bisa akur.”
”Kamu tenang saja tidak usah repot-repot memikirkan itu. Aku sudah selesai makan. Aku mau kembali ke kamar. Panggilah dia untuk makan.”
”Aku akan mengantar mu ke kamar dulu, baru aku cari Syakila. Mungkin saja dia juga lagi di kamar.” sahut Beni.
Jadi, itu tujuan kalian yang sebenarnya, makanya kalian bersikukuh m minta putri Halim untuk di nikahi?
Tanpa mereka sadari, Syakila mendengar percakapan mereka. Syakila menghapus air matanya dan pergi dari sana, sebelum ada yang tahu jika dia sudah menguping. Syakila pergi ke teras rumah.
Jika seperti itu aku akan membuat kesepakatan dengan dia nanti. Tidak, percuma saja berbicara dengan dia, aku akan menunggu Tante Rosalina datang baru aku buat kesepakatan dengan nya.
Beni mengantar Geo ke kamarnya.
Syakila tidak berada di kamar, apa dia sedang di kamar mandi?
batin Geo dan Beni.
Beni memapah tubuh Geo dan membaringkannya di ranjang. Baru ia mengecek Syakila di kamar mandi.
Tidak ada juga di kamar mandi. Kemana dia?
”Geo, kamu istirahatlah. Aku akan mencari Syakila dulu.”
”Hum, sebelum kamu keluar ambilkan aku handphonenya Syakila.”
Beni menurut, ia mengambilkan handphone Syakila yang berada di sofa untuk Geo. Setelah itu ia keluar mencari Syakila.
Geo mengaktifkan handphone Syakila, ia bebas melihat-lihat apa saja yang ada di hape Syakila, karena handphone nya tidak memakai kata kunci.
Ia membaca chat Syakila dengan temannya dan juga chat Syakila dengan Sardin. Ia juga melihat foto-foto yang ada di galeri Syakila.
Geo mengambil handphone nya, ia menyadap handphone Syakila. Jadi, siapa pun yang menghubungi Syakila ataupun chat pada Syakila, akan tertransfer di handphonenya. Jadi, ia bisa tahu dan mendengarkan pembicaraan mereka dan ia juga bisa membaca pesan yang masuk dan pesan terkirim dari handphone Syakila melalui handphonenya.
Setelah itu, ia meletakkan handphone Syakila di atas nakas dan handphonenya sendiri ia biarkan di atas kasur.
__ADS_1