Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 63


__ADS_3

Enam tahun kemudian...


”Hap!” ucap sang guru karate.


”Hap!” sahut para murid yang berjejer baris demi baris memenuhi lapangan gedung karate sambil mengubah jurus.


”Hap!”


”Hap!”


Begitu seterusnya hingga berulang-ulang untuk memantapkan bela diri para anak murid.


”Ok, untuk hari ini selesai disini. Silahkan untuk beristirahat.” ucap sang guru.


”Baik, guru!” seru para murid sambil menunduk.


Para murid pun membubarkan diri dari tempat pelatihan dan mencari posisi masing-masing untuk istrahat.


Syakila duduk bersandar di kursi sambil memejamkan mata, nafasnya masih terdengar tidak beraturan setelah berlatih. Ia terkejut saat botol dingin menempel di wajahnya.


Ia membuka mata dan melihat siapa yang sudah menganggu istrahat nya. Ia tersenyum saat melihat Sardin yang berdiri di hadapannya sambil menyodorkan sebotol air mineral.


”Kakak, duduk!”


Syakila meraih botol Aqua dari tangan Sardin yang sudah duduk di sampingnya itu. Ia membuka tutup botol dan meminumnya.


Gluk


Gluk


Gluk


Syakila meminum air itu sampai habis hanya dalam tiga kali teguk saja. Sardin tersenyum kecil melihat Syakila.


"Capek?”


”Iyalah kak capek, pakai bangat. Kakak gak kerja?" Syakila memandang Sardin.


"Kakak sudah pulang dari kerja sayang." sahut Sardin dengan mencubit dagu Syakila.


Syakila membalas cubitan Sardin dengan mengacak-acak rambut Sardin. Membuat bibir Sardin selalu tersenyum.


"Rupanya, Kila masih ingat yah kebiasaan kita berdua." Sardin menatap wajah teduh Syakila. Hingga mereka saling bertatapan. Wajah ayu, putih mulus, alis tebal, hidung mancung dan mata coklat terang sangat memikat hati Sardin.


”Iyalah kak, mana bisa Kila lupa. Kalau Kila lupa.. berarti Kila sudah melupakan kakak dari dulu.”


"Hum, coba saja kalau Kila lupakan kakak. Kila akan kakak hukum habis-habisan.” kembali Sardin mencubit dagu Syakila.


”Coba saja kalau kakak berani, dengan menggunakan jurus Kila, Kila akan melawan kakak.” ucapnya sambil mengacak rambut Sardin.


"Hahahaha, mana tinggi tingkatannya Kila atau kakak? Hum?”


”Ish, kakak jangan sombong begitu, ingat kak gajah aja yang badannya gede begitu bisa loh di kalahin sama semut.”


"Iya ya Kila sayang, kakak tahu kok!” Sardin mengacak rambut Syakila. Dan Syakila membalas mencubit dagu Sardin sambil tersenyum manis, hingga membuat lesung pipi di wajah kiri dan dagu runcingnya terlihat dalam.


Glek!


Sardin menelan ludahnya kasar. Ia sangat tergoda dengan senyum manis Syakila, bibirnya yang mungil dan berwarna pink alami membuat Sardin ingin merasakan manis bibirnya itu. Akhirnya, ia hanya mampu berhalusinasi saja sedang mencium bibir Syakila.


"Kak..kakak!" Syakila melambaikan tangannya di wajah Sardin yang menatapnya tanpa kedip. ”Kak..kakak kenapa sih? Kok bengong?"


Sardin tersadar saat Syakila kembali mencubit dagunya. Ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


”Eh.. em...maaf kakak sedang melamun.” ucap Sardin sambil mengacak rambut Syakila membalas cubitan di dagunya.


”Kila, kakak senang bangat bisa bertemu dengan Syakila disini. Tadinya, kakak menunggu waktu cuti kakak untuk pergi ke kota A menemui mu. Tapi, ternyata Allah mentakdirkan kita bertemu disini.”


”Memangnya kakak tahu Kila berada di kota A waktu itu?” tanya Syakila penasaran.


Sardin mengangguk, ”Iya kakak tahu dari pamannya kakak, Anton.”


”Oh, jadi om Anton itu pamannya, kakak? Lalu, mengapa kakak tidak tahu jika Kila sudah berada di kota ini dari enam tahun yang lalu?”


"Iya, Anton itu pamannya kakak. Kakak tidak memiliki waktu lagi untuk memegang handphone saat kakak sudah mulai sibuk antara kerja, kuliah, dan berlatih disini. Saat pulang di rumah.. ingin sih menelfon tapi, aktivitas yang kakak lakukan membuat tubuh kakak sangat lelah, jadi kakak gunakan waktu kakak untuk tidur.” jelas Sardin.


”Oh, begitu!” sahut Syakila. Sardin mengangguk pelan sambil memandang Syakila.


Ia mengingat kembali hari pertemuannya dengan syakila sebulan yang lalu. Ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang terburu-buru masuk ke gedung tempat pelatihan karate. Hingga wanita tersebut jatuh ke lantai.

__ADS_1


Dan saat Sardin meminta maaf dan membantu wanita tersebut berdiri, ternyata wanita itu adalah Syakila. Awalnya ia tidak mengenalinya, namun dengan melihat kalung yang bertengger di leher wanita itu, ia tahu jika wanita itu adalah adik kecilnya.


"Kak, kakak melamun lagi?" Syakila melambaikan tangan ke wajah Sardin. Membuyarkan khayalannya.


”Eh, em...hehehe maaf Kila. Entah kenapa berada di dekat mu akal sehat kakak menjadi hilang." gombal Sardin.


"Ck, kakak suka betul menggombal." gubris Syakila.


"Yang penting kakak hanya menggombal Kila saja.”


"Ah, palingan juga hanya di depan Kila kakak bicara begitu. Tapi coba kalau di belakang Kila, pasti deh kakak banyak menggombal cewek-cewek yang cantik.”


”Hahaha, Kila cemburu? Ayo ngaku cemburu, kan?"


"Siapa juga yang cemburu, biar kakak mencium cewek di depan Kila juga, Kila gak akan cemburu.” elak Syakila.


”Yang benar? Kakak cium cewek yang lewat nanti yah.” goda Sardin.


"Iya cium saja kalau kakak berani.” tantang Syakila. mukanya cemberut. Hingga membuat Sardin tertawa.


"Hahahaha, tadi suruh kakak cium cewek. Lah giliran kakak mau untuk nyium cewek nanti, kok mukanya Kila malah cemberut gitu? Ehm, udah ngaku aja kalau cemburu."


”Kalau Kila cemburu, memangnya kenapa?” tanya Syakila.


Sardin tersenyum lebar, ”Tidak apa-apa, kakak senang saja dengar itu. Berarti Kila menyayangi kakak dan mungkin juga.. Kila mencintai kakak.” ucap Sardin sambil berdiri dari duduknya dan berjalan.


Kila ikut berdiri menyusul Sardin yang sudah melangkah empat langkah darinya. Dengan berlari kecil ia mengejarnya. Hingga langkah mereka sejajar.


"Kakak mau kemana?" Syakila bingung ketika Sardin melangkah masuk ke tempat ruang ganti. Sedangkan hari ini Sardin tidak latihan.


Sardin tidak menjawab, ia terus melangkah hingga mereka tiba di ruang ganti wanita.


”Masuklah dan berganti, kakak menunggu mu disini." titah Sardin.


"Baiklah kakakku sayang!”


Syakila tersenyum manis lalu masuk keruang ganti. Tidak lupa ia mengunci pintunya dari dalam. Setelah ia mengganti pakaian karate dengan baju biasanya, ia keluar dari ruangan itu menemui Sardin.


”Maaf membuat kakak lama menunggu.”


Sardin terpukau dengan melihat kecantikan yang sempurna pada diri Syakila. Meskipun tingginya hanya seratus enam puluh centi meter, tidak membuat kecantikannya melemah. Apalagi dress yang di gunakan berwarna hitam membuat kulit putihnya bersinar.


"Maaf, maaf mataku sangat terpukau dengan pesona alami mu, mataku enggan untuk berpaling dari melihatmu.” goda Sardin.


Syakila mencubit perut Sardin. ”Kakak menggombal melulu. Antar Kila pulang sekarang, kak.”


Sardin menggeleng. ”Uhhum, tidak semudah itu sayang! Temani kakak makan dulu, baru kakak antar kamu pulang." tawarnya.


"Baiklah, Kila akan temani kakak makan." Syakila menyetujui. ”Ayok kita pergi.” Sardin mengangguk.


Mereka berdua keluar dari gedung itu dan Sardin mengajak Syakila makan di warung makan yang bertengger di depan jalan. Bukan di restoran yang terkenal. Ia tahu selera Syakila. Bukan berarti selera Syakila sangat rendah, tapi suka makan di pinggir jalan, selain makanan tidak kalah enaknya dari restoran, uang yang dia kasih untuk membayar makanannya sangat membantu kebutuhan penjual.


"Kakak juga suka makan di tempat seperti ini?"


kini mereka berdua telah sampai di warung makan. Syakila heran, dia pikir Sardin tidak akan menyukai makanan di pinggir jalan. Berhubung penampilan Sardin yang bergaya bangat.


"Kenapa? Kila heran melihat kakak bisa makan disini?”


”Iya kak, Kila heran. So penampilan kakak, postur tubuh kakak, dan wajah rupawan kakak, sangat mencerminkan jika kakak alergi untuk makan di tempat seperti ini.”


”Kila meledek kakak?” ucap Sardin dengan wajah datar.


Kila terkekeh kecil, ”Tidak kak, mana berani Kila. Udah, ayo masuk kak, perut Kila udah lapar nih."


"Ok, ayok!" Sardin menggenggam tangan Syakila masuk kedalam warung. "Kila, kamu cari tempat duduk, kakak yang antri untuk pesan makanan. Kila mau makan apa?”


"Kila mau makan apa aja yang kakak makan.” jawab Kila. Ia pun mencari tempat duduk yang di kiranya nyaman untuk dirinya dan Sardin.


Ia duduk di tempat tengah paling ujung tepat di samping dinding tenda warung tersebut. Tidak lama dari duduknya, Sardin datang dengan membawa nampan berisi makanan dua porsi beserta minumnya.


Ia menyimpan nampan tersebut di atas meja. Lalu ia duduk berhadapan dengan Syakila. Ia memberikan makanannya Syakila serta minumnya.


”Silahkan di makan, sayang.” Syakila tersenyum dan mengangguk. Mereka makan dengan diam, sesekali Sardin memandang Syakila yang lagi serius mengunyah. Sardin tersenyum kecil melihat tingkah imut makan yang Syakila tunjukan. Terkadang Syakila memandang arah samping kiri dan kanannya, melihat para pelanggan lain yang makan di sana.


Usai makan mereka masih terduduk di sana untuk menurunkan rasi ke perut. Sardin mengajak Syakila berbicara.


”Lalu apa kegiatan mu sekarang, selain mengikuti Karate?"


"Aku lagi kuliah dan kerja.”

__ADS_1


"Oh ya? Kuliah di mana? Kerja dimana?” tanya Sardin lagi penasaran.


”Aku kuliahnya di jln. Abu Salim. Aku kuliah hanya ambil diploma satu saja. Lumayan, kuliah selama tujuh bulan aku sudah di tawarin kerja sebagai guru TK. Karena aku menyukai anak-anak, jadi aku menerimanya.” terang Syakila.


"Oh, lalu untuk kekasih? Atau teman lelaki yang sering mendekatimu, apakah ada?”


”Kekasih? Hahahaha, jangan kan kekasih, teman pria saja aku tidak punya.”


”Tidak punya?” Sardin mengulang ucapan Syakila.


Ia tidak percaya dengan ucapan adik kecilnya itu. Mana mungkin cewek secantik, manis, dan menawan sepeti dia tidak ada kekasih atau pun teman prianya. Pikir Sardin.


Syakila mengangguk mantap. ”Iya, aku tidak punya.” Syakila menyeruput Minumannya. ”Aku selalu menyueki pria yang mencoba mendekati ku dan aku tidak mau dekat-dekat dengan seorang pria. Karena aku, punya satu janji dengan seorang pria untuk tidak dekat-dekat dengan pria manapun lebih dekat seperti aku dengan dia.” terang Syakila. Ia memandang Sardin.


”Hahaha, kamu memegang teguh janjimu, Kila.” Sardin terharu memandang Syakila.


”Iya, aku memegang teguh janjiku. Kenapa? Jangan bilang kakak__”


”Jangan ragu! Tidak ada teman cewek ku yang dekat dengan ku seperti aku dekat dengan mu.” Sardin memandang Syakila serius. ”Kila, jadilah kekasih kakak.”


Syakila tersenyum, ”Dengan senang hati Kila menerima kakak.” Ia memandang Sardin dengan lekat.


"Serius Kila?"


”Iya Kila serius kakak. Karena Kila menyayangi kakak.”


Sardin tersenyum lebar. "Terima kasih Kila, kakak sangat senang sekali mendengarnya.”


"Kakak, antar Kila pulang sekarang." pinta Syakila. Ia berdiri dari duduk dan menyandang tasnya.


”Ok, tunggu kakak di motor yah. Kakak bayar ini dulu.” ucap Sardin. Syakila mengangguk. Ia pergi ke motor menanti Sardin. Sedangkan Sardin membayar makanan dan minuman yang di pesannya. Setelah itu ia keluar dari warung dan berjalan menghampiri Syakila.


Maaf Kila, kakak sedikit berbohong padamu. Sebenarnya, kakak memang tidak punya pacar. Tetapi ada satu wanita yang selalu mendekati kakak. Itu pun karena orang tua ku yang menjodohkan ku sama dia. Tapi, kamu tenang saja, kakak masih punya hak untuk menolak perjodohan itu jika kakak sudah memiliki kekasih. Jadi, bersiaplah Kila, kakak akan membawa mu kepada orang tuaku untuk membatalkan perjodohan ku dengan perempuan itu.


”Ini helm mu.” Sardin menyerahkan helm untuk Syakila. Syakila mengambil dan memakainya. Sardin pun memakai helmnya. Ia menyalakan motor dan Syakila segera naik di atas motor.


Setelah Syakila naik dan berpegangan padanya, Sardin menjalankan motor dengan kecepatan sedang. Ia mengantar Syakila ke rumahnya.


Sardin menghentikan motor tepat di depan rumah Syakila. Dan itu juga bertepatan dengan handphone Sardin berbunyi Ia meraih hapenya dan melihat di layar tertulis Aninda is calling, Sardin mengabaikannya hingga bunyi deringnya tidak terdengar lagi. Syakila Turin dari motor.


”Telepon dari siapa? Kok di abaikan?”


Handphone kembali berdering.


”Angkat saja, siapa tahu penting.” bujuk Syakila.


Sardin pun mengangkatnya dengan malas.


”Sayang, kenapa lama bangat sih ngangkat telfonnya?" keluh Aninda dengan manja.


”Kenapa?” Sardin bertanya dengan ketus.


”Aku kangen sayang. Aku mau bertemu dengan mu.”


”Aku tidak punya waktu.”


”Sayang, aku masuk ke dalam dulu yah. Terima kasih sudah mengantarku pulang.” ucap Syakila berpamitan pada Sardin.


Sardin menggeleng, ia menarik tangan Syakila yang ingin melangkah. Suara Syakila terdengar oleh Aninda yang di seberang sana.


"Sayang, itu suara siapa, sayang? Kamu selingkuh yah.” ucap Aninda dengan cemberut di sebrang sana.


”Maaf Aninda, nanti baru aku telfon kamu.” Sardin langsung memutuskan sambungannya.


”Kila, kakak belum sempat meminta nomor handphone mu. Berapa nomor mu, biar gampang kita komunikasi.”


"082190xxxxxx”


Sardin mencatat nomor Syakila di layar handphone dan menyimpannya ke dalam kontak dengan nama adik kecil sayangku. Ia mencoba menghubungi nomor itu dan tidak lama terdengar bunyi handphone dari dalam tas Syakila. Syakila mengambil handphone dari tas dan melihat identitas penelpon. Tidak ada nama yang tertera hanya nomor handphone yang membuatnya bingung.


”Terima kasih Kila. Itu nomor kakak.”


"Oh ok, kirain tadi nomornya siapa. Kalau begitu Kila masuk dulu, kak.” ulang Syakila berpamitan.


"Iya sayang."


Syakila melangkah masuk ke rumah. Dan Sardin menyalakan motor dan menjalankannya dengan kecepatan sedang bertolak belakang dari depan rumah Syakila.


Perasaan senang sedang menggayuti hati kedua insan yang saling jatuh cinta itu. Syakila dan Sardin sama-sama bahagia.

__ADS_1


__ADS_2