Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 110


__ADS_3

keesokkan harinya. Di kediaman Sarmi.


”Gak nyangka aku tertidur dengan nyenyak di kursi ini.” gumam Syakila.


Ia melihat foto yang ada di atas meja. Ia mengusap bingkai kaca tersebut seakan mengusap wajah Sardin.


”Kak Sardin, tunggulah aku, aku akan datang menemui mu. Kamu harus baik-baik saja.”


Syakila beranjak berdiri dari kursinya, ia meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia pergi ke lemari pakaian, mengambil satu stel pakaian lalu pergi ke kamar mandi. Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, ia mendekati Geo yang masih tidur di ranjang.


”Geo, ayo bangun, ini sudah pagi.”


Syakila membangunkan Geo dengan menepuk pundaknya pelan. Geo terbangun, membuka mata, melihat Syakila. Syakila tampak begitu cantik, dan sudah rapi. Apakah dia sudah tidak sabar ingin bertemu Sardin? Pikirnya.


”Syakila, aku masih ngantuk. Biarkan aku tidur dulu, jika kamu ingin pergi, pergilah saja. Jangan ganggu tidur ku.” sahut Geo, ia kembali memejamkan mata.


”Geo, bagaimana aku bisa pergi jika kamu belum bangun? Memangnya siapa yang akan mengurus mu jika aku duluan pergi? Tidak mungkin kan mama ku atau adik bahkan kakak ku? Jadi, ayo bangunlah. Selesai aku mengurus segala keperluan mu, baru aku akan pergi.”


Geo kembali membuka mata melihat Syakila. Ia menghela nafas.


”Baiklah, bantu aku membersihkan diriku.” ucap Geo mengalah.


Syakila tersenyum, ia membantu Geo bangun dan memapah Geo di kursi roda, ia membantu memandikan Geo dan membantu Geo memakai pakaian setelah selesai mandi.


Mereka berdua keluar dari kamar. Semua anggota keluarga Syakila juga sudah bangun dan mereka berkumpul di ruang tengah dengan kue dan satu cerek teh yang isinya sudah berkurang karena telah tertuang ke dalam gelas-gelas yang ada di atas meja tersebut.


”Wah, semua adik-adik ku telah rapi dengan pakaian sekolah.” puji Syakila. Ia mendorong kursi roda Geo ke tempat kosong yang di sediakan untuknya dan Syakila duduk di kursi di samping Geo.


”Iya, dong kak. Kakak juga sudah terlihat rapi dan cantik, kakak mau pergi?” ucap Endang. Ia yang menyahuti ucapan Syakila.


”Iya, kakak ingin pergi.”


”Sudah, ayo di makan sarapannya. Tidak lama lagi papa Johan datang menjemput kalian.” ucap Sarmi.


”Iya, Mama”


Mereka memakan sarapannya masing-masing. Sarmi melirik Syakila, ia juga melirik Geo.


Aku hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan di dalam rumah tangga kalian. Geo, awalnya aku mengira kamu adalah orang yang sombong karena memiliki segalanya. Tidak ku sangka, kalau kepribadian mu dan juga mama mu sangat baik. Jika saja Anton dan Denis tidak memberitahu sifat kalian yang sebenarnya, aku masih khawatir dengan kehidupan anakku di tengah keluarga mu.


”Mama, mama pergi kerja di antar Hardin?” tanya Syakila. Ia telah menyelesaikan sarapannya.


”Iya, kamu ke rumah sakit ikut om Johan saja yah, tidak usah naik ojek.” sahut Sarmi.


”Tidak Mama, Syakila akan di antar oleh anak buah ku, Mah. Dia juga yang akan menemani Syakila di rumah sakit.” ucap Geo. Ia yang menyahuti ucapan Sarmi.


”Baiklah. Lalu, kamu sendiri bagaimana? Di rumah hanya ada Fatma saja. Apa kamu tidak apa-apa berada di rumah?”


”Iya, Mah. Geo tidak apa-apa di rumah, Geo akan menunggu Syakila di rumah saja.”


”Baiklah, kalau begitu, Mama berangkat duluan bersama Hardin. Yuli, Ita, dan Endang, kalian naiklah di atas, tunggu papa Johan di sana.”


Mereka semua telah selesai memakan sarapannya.


”Iya, Mama.” sahut Yuli, Ita, dan Endang.


Mereka menyalim tangan Sarmi, lalu, mereka menyandang tas dan pergi ke depan rumah papa Johan. Hardin, ia mengeluarkan motor dari garasi dan menyalakannya.


Sarmi keluar dari rumah setelah mendengar suara motor Hardin. Ia pergi ke kantor untuk bekerja di antar Hardin, setelah mengantar mamanya, Hardin pergi ke sekolahnya. Suami Fatma pun berangkat kerja. Tinggal Fatma, Syakila, dan Geo saja di rumah.


”Kamu belum ingin pergi?” tanya Geo pada Syakila.


”Apakah anak buah mu sudah siap?”


"Iya, dia ada di depan sudah menunggu mu sedari tadi.”


”Oh, lalu, kamu bagaimana? Bukan kah kamu ingin istrahat lagi? Aku antar kamu kembali ke kamar.”


”Tidak usah, aku sudah tidak mengantuk lagi. Pergilah kalau ingin pergi.”


”Baiklah, aku pergi sekarang.” sahut Syakila. Ia mengambil tangan kanan Geo dan menciumnya. Geo membalas dengan mencium kening Syakila.


Fatma terkejut melihat cara pamit Syakila pada Geo, begitu juga cara Geo Mengizinkan Syakila.


”Kakak, aku pergi dulu. Aku titip Geo, kalau ada apa-apa dengan Geo, kakak telfon aku yah.” pamit Syakila.

__ADS_1


”Iya, kamu jangan lama-lama di sana. Pikirkan juga dengan suami mu di sini.” sahut Fatma.


Syakila terdiam. Ia melirik Geo sebentar, ”Aku pergi, assalamu 'alaikum.”


"Wa 'alaikum salam.” sahut Fatma dan Geo.


Syakila pergi ke rumah sakit di antar oleh anak buah Geo. Kini, tinggal Fatma dan Geo di rumah.


”Apa kalian berdua sering berinteraksi begitu jika berpamitan untuk pergi?” tanya Fatma.


”Iya, setiap Syakila pergi, atau aku yang ingin pergi, Syakila selalu menyium punggung tangan ku, aku pun selalu menyium kening Syakila.” Geo melihat Fatma. ”Kenapa? Apa kamu dan suami mu tidak seperti itu jika ingin pergi?”


Fatma tersenyum malu, ”Iya, kami biasa-biasa saja kalau aku ataupun suamiku ingin bepergian.” sahutnya sambil menunduk.


"Mulai besok, biasakan lah untuk mencium punggung telapak suami mu dan minta lah suami mu untuk mencium kening mu. Ada pahala yang Allah simpan dalam rutinitas kecil itu.”


”Baiklah, mulai besok, aku akan mulai melakukannya pada suami ku. Oh iya, mengapa kamu tidak menemani Syakila ke rumah sakit untuk menjenguk Sardin?”


”Bukan apa-apa. Aku punya trauma dengan rumah sakit, jadi, aku tidak bisa menemaninya.”


”Oh, ku kira karena...kamu...”


”Aku cemburu?” potong Geo.


Fatma mengangguk, Geo tersenyum. ”Tidak, untuk apa cemburu? Syakila adalah istriku sekarang, sedangkan Sardin, dia hanyalah masa lalu Syakila.”


”Tapi, bukan kah kamu tahu sendiri jika Syakila dan Sardin...”


”Masih saling mencintai?” potong Geo lagi. Fatma mengangguk.


Geo tersenyum kecut. ” Iya, mereka berdua mungkin masih saling mencintai, tetapi hubungan ku dan Syakila sudah resmi. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan, terkecuali, aku dan Syakila sudah tidak punya ikatan lagi, mungkin baru aku merasa cemburu dan khawatir.”


Fatma terdiam. Ia bisa mengartikan isyarat mata yang terpancar dari sinaran mata dan raut wajah Geo.


Apa benar hubungan Geo dan Syakila baik-baik saja seperti yang terlihat? Ataukah mereka saat ini hanya sedang berdrama memainkan peran rumah tangga yang bahagia di depan keluarga? Aku tidak mengenal Geo, tetapi aku sangat mengenal Syakila. Kenapa aku merasa hubungan mereka tidak baik-baik saja?


”Kamu ingin keluar rumah? Aku akan antar kamu ke taman bunga yang Syakila tanam.”


”Syakila bisa menanam bunga? Ku kira dia hanya bisa mengagumi tanaman orang lain saja, ternyata dia bisa menanam bunga juga.”


”Iya, dari kecil Syakila pandai menanam bunga. Rumah di kampung, semua bunga yang ada di pekarangan rumah adalah bunga yang di tanam Syakila, begitu juga di kebun, ia menanam bunga juga di sana. Bukan hanya itu, rumah kami yang ada di kota A, ia juga menanam bunga di sana, hanya ia menanamnya di dalam pot.” ungkap Fatma.


”Bawa aku kesana.”


”Baiklah.”


Fatma membawa Geo ke taman bunga yang di tanam dan di hias oleh Syakila.


”Apa ini semua Syakila yang menghias dan menanamnya?” tanya Geo. Ia takjub melihat pekarangan bunga yang indah itu.


”Iya,”


”Bisa tinggalkan aku disini?” ucap Geo


”Baiklah, kalau ada apa-apa, panggil aku saja.”


”Hum,”


Fatma pergi dari sana, membiarkan Geo sendirian. Geo memejamkan mata menghirup aroma wangi dari berbagai macam bunga di taman itu.


Syakila, kenapa makin kesini, mengetahui tentang mu, perasaan ku semakin memujamu. Syakila, bisakah aku menahan mu untuk tetap selalu di sisi ku? Dan maukah kamu berada di sisi ku ketika aku menahan mu?


”Sedang apa kamu di sana? Apa Sardin sudah sadar? Apa kalian sedang saling melepas rindu sekarang? Berhubung kalian sudah beberapa bulan terpisah.” gumamnya.


.. ..


Di rumah sakit kota S.


Syakila tiba di rumah sakit di mana Sardin di rawat. Ia buru-buru masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ruang informasi.


”Permisi, Mba! Saya ingin menanyakan ruangan dari pasien yang bernama Sardin Ampagara.” ucap Syakila.


”Oh, sebentar yah. Saya cek dulu.” sahut sang petugas.


”Iya,”

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, setelah petugas itu membalikkan dua lembar kertas, ia menyebutkan ruangan Sardin berada.


”Mba, pasien atas nama Sardin Ampagara masih berada di ruangan ICU.”


”Oh, terima kasih.”


Syakila berjalan dengan khawatir ke ruangan ICU.


Mengapa ia masih berada di ruangan ICU? Apakah kecelakaan itu sangat parah? Bukan kah semalam mereka melakukan operasi? Seharusnya semua baik-baik saja kan?


Mata Syakila berkaca-kaca memikirkan kondisi Sardin. Anak buah Geo setia membuntuti kemana langkah Syakila berjalan. Syakila telah berada di ruangan ICU, ia melihat orang tua Sardin sedang duduk di kursi di depan ruangan tersebut.


Syakila mempercepat langkahnya.


”Paman, Bibi, bagaimana kondisi kak Sardin?” tanya Syakila setelah ia berada di dekat mereka.


Syakila melihat jelas air mata mamanya Sardin yang masih menetes di kedua pipinya.


”Operasinya sudah selesai, tapi, Sardin masih harus di rawat di ruang ICU, dia koma, di kepalanya masih ada darah yang membeku. Ia harus menjalani operasi sekali lagi. Tapi, kondisinya masih sangat menurun, setelah ia sehat dari operasi pertama ini baru bisa di operasi ulang lagi.” jawab mamanya Sardin sambil terisak.


”Paman, Bibi, boleh kah aku masuk melihat keadaannya?”


”Masuklah, dia mungkin sedang menantikan mu, dari tempat kecelakaan, ia terus menyebut namamu bahkan sebelum dia tidak sadarkan diri, ia masih saja memanggil nama mu.” ungkap mamanya Sardin.


Syakila terdiam, air mata telah menumpuk di pelupuk matanya. Perasaan bersalah hinggap di jiwanya. Tanpa menyahuti mamanya Sardin, Syakila berbalik melihat dan berjalan ke arah ruangan ICU.


Ia membuka pintunya. Setetes air matanya jatuh membasahi pipinya melihat kondisi Sardin saat ini, selang infus terpasang, alat bantu pernapasan juga di pasang padanya, dan beberapa selang lainnya terpasang di badannya.


Syakila berjalan ke arah Sardin dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia mencium kening Sardin dan menggenggam tangannya.


”Kak Sardin, ini Kila, kak. Kakak, lihatlah aku, aku disini, di samping kakak. Aku datang khusus untuk kakak. Bangunlah, kak.” ucapnya sambil menangis.


Terbayang kebersamaan mereka sejak kecil dan kebersamaan mereka di saat-saat mereka menjalin asmara.


Syakila menggenggam tangan Sardin semakin erat, meskipun Sardin tidak membalasnya. Syakila terus menangis di hadapan Sardin.


”Kakak, maaf kan, Syakila, kak. Syakila mohon, kakak harus baik-baik saja, demi Syakila, kak. Sebenarnya, Syakila tidak ingin melihat kakak yang seperti ini, Syakila takut, Syakila sangat takut, kakak akan pergi meninggalkan Syakila, seperti papa yang meninggalkan Syakila. Kakak, sadarlah demi Syakila.”


Syakila semakin terisak. Mama dan papa Sardin melihat Syakila dari dinding kaca di ruangan itu. Begitu pula dengan anak buah Geo, ia hanya bisa melihat Syakila dari balik kaca itu. Meskipun mereka hanya melihat punggung Syakila, tetapi mereka tahu dengan jelas, jika Syakila sedang menangis saat ini.


Anak buah Geo meraih handphone dari saku ketika ia merasakan getaran di sak celananya. Ia melihat ke layar satu pesan dari Tuan Bos. Ia membacanya.


”Apakah kalian sudah sampai di rumah sakit? Bagaimana kondisi Sardin saat ini?”


Anak buah Geo membalas pesan Geo dengan lihai menekan tombol-tombol keyboard.


”Iya, Tuan. Kami telah sampai di rumah sakit, saya tidak bisa melihat pasien secara langsung. Saya berada di luar ruangan bersama orang tua Sardin. Nyonya berada di dalam ruangan. Nyonya, sepertinya Nyonya sedang menangis. Dari penglihatan saya, kondisi Sardin sangat buruk.”


Geo tidak membalas balasan SMS itu lagi. Anak buahnya memasukkan kembali handphone ke dalam sakunya. Ia beralih duduk dan kursi. Orang tua Sardin juga kembali duduk di kursi. Mereka memberikan waktu untuk Syakila dan Sardin.


Syakila masih setia menggenggam tangan Sardin ia juga sesekali mendaratkan ciuman di kening pria yang di cintainya itu. Meskipun Sardin tidak merespon perbuatannya, ia tetap berbuat seperti itu pada Sardin. Hingga waktu memasuki siang hari, Syakila masih betah di tempat duduknya. Ia tidak menangis seperti tadi lagi, tapi, ia matanya lembab dan bengkak akibat menangis. Dan dari pelupuk matanya, terlihat air mata yang masih memupuk di sana.


... ..


Di taman bunga kediaman Sarmi.


”Ini ketiga kalinya Syakila menangis untuk pria yang di cintainya. Untuk yang ketiga kalinya ini, mengapa hatiku serasa sakit?” gumam Geo. Ia menghela nafas.


Sarmi telah pulang dari kantor, ia pulang bersama Johan. Sarmi melihat Geo di taman bunga, ia mendekatinya.


”Geo,” sapanya.


Geo menoleh, ”Eh, Mama. Mama sudah pulang kerja?” sahut Geo.


”Iya, kamu buat apa disini? Di mana Syakila? Mengapa ia membiarkan mu sendirian disini?”


”Em, itu, Syakila masih di rumah sakit, Mama. Geo suka dengan taman bunga ini, jadi, Geo ingin disini dulu. Nanti, setelah Geo bosan, baru Geo masuk ke rumah.”


Sarmi mengerut. ”Mengapa Syakila belum pulang? Ini sudah siang hari, Mama akan telfon dia.”


”Mama, tidak usah telfon Syakila. Syakila sudah meminta izin padaku, dia akan pulang malam. Aku sudah mengizinkannya, Mah.”


Sarmi terdiam. Ia memandang Geo dengan pandangan iba.


”Mama masuk dulu, jika kamu ingin masuk, panggil Mama saja, Mama akan membantu mu.”

__ADS_1


”Iya, Mah.”


Sarmi meninggalkan Geo di taman bunga sendirian dengan rasa iba.


__ADS_2