
Di apartemen Geo.
Beni menghentikan mobil di parkiran apartemen. Rosalina dan Beni segera turun dari mobil.
Rosalina melihat mobil-mobil yang terparkir di sana dengan teliti. ”Beni! Mobil Geo tidak terlihat di antara deretan mobil-mobil ini! Dia tidak ke apartemen, lalu kemana perginya?” ia sangat khawatir.
”Tante! Jangan khawatir! Bisa saja kan Geo ada di dalam apartemen sekarang? Sedangkan mobil, mungkin saja setelah mengantar Geo, supirnya di suruh kembali ke rumah oleh Geo.” Beni menenangkan Rosalina.
Rosalina menghela nafas, ”Baiklah! Ayo kita naik ke atas, semoga saja benar, Geo ada di dalam apartemennya.”
”Iya, Tante!”
Rosalina dan Beni segera naik ke apartemen Geo menggunakan lift. Kini mereka tiba di depan apartemen Geo.
Sudah lama aku tidak pergi kesini. Apakah kata sandinya masih sama seperti sebelumnya? Ataukah Geo sudah menggantinya? benak Beni.
”Kamu tahu kata sandinya kan? Bukalah pintunya!” ucap Rosalina.
”Kalau kata sandinya belum di ganti, Beni tahu kata sandinya. Beni akan coba buka dulu.” ia menekan beberapa angka dan huruf. Kata sandi benar. Pintu terbuka. ”Kata sandinya masih sama.”
”Syukurlah!” Rosalina bernafas lega.
”Ayo masuk, Tante!” Beni melangkah masuk ke dalam, Rosalina juga ikut masuk ke dalam. Beni menyalakan lampu. Apartemen Geo terlihat sangat kotor.
”Sudah berapa lama apartemen ini tidak di bersihkan?” tanya Rosalina.
”Sudah lama sekali, Tante.” jawab Beni.
”Sepertinya ada orang di dalam kamar sebelah, pintunya tidak tertutup rapat, dan lampunya menyala. Mungkin saja itu Geo. Beni, ayo kita lihat ke sana!” Rosalina menarik tangan Beni dan mempercepat langkah menuju kamar tersebut.
Beni hampir terjatuh, tidak dapat menyeimbangkan jalannya dan jalan Rosalina. ”Pelan, Tante! Beni hampir terjatuh!”
Rosalina melepaskan tangan Beni. ”Maaf, Tante.. terburu-buru!” sesalnya.
”Gak apa-apa, Tante!” Beni membuka pintu kamar semakin lebar. Ia dan Rosalina bingung dan terkejut melihat seorang perempuan yang tidur tengkurap di atas ranjang.
Siapa perempuan itu? benak mereka berdua.
”Dia bukan Geo! Lalu, di mana Geo? Siapa perempuan itu? Bagaimana bisa dia masuk ke apartemen Geo dan tidur di sini?” tanya Rosalina.
”Beni tidak tahu Tante, kecuali Beni melihat mukanya dulu.”
Yang tahu kata sandi di apartemen ini hanyalah, aku, Geo, Tante, dan dia... Dawiyah! Apakah wanita yang tidur itu adalah Dawiyah? Bukan kah Geo sudah mengusir Dawiyah dari apartemennya? Bagaimana bisa Dawiyah kembali tinggal di sini? benak Beni.
”Bangunkan wanita itu!” titah Rosalina. Ia duduk di kursi, di dalam kamar itu. Ia menatap lurus wanita yang ada di ranjang.
”Hei! Siapa kamu? Bangun!” Beni menepuk punggung wanita itu dengan pelan. ”Hei! Cepat bangun!”
Dawiyah menggeliat, ia membuka mata.
”Kamu, bangun cepat!” sekali lagi Beni membangunkan wanita itu.
Eh..ini suara Beni! Berarti Geo juga ada di sini! benak Dawiyah.
Ia bangun dengan cepat dan duduk di atas ranjang, melihat Beni. ”Beni? Kamu di sini? Apakah Geo juga ada di sini?” ia belum menyadari jika Rosalina sedang melihatnya dengan banyak tanda tanya.
”Ngapain kamu kesini? Bukan kah Geo sudah melarang mu untuk datang kesini?” tanya Beni.
”Beni, aku...aku...tidak punya pilihan untuk pergi kemana! Aku... kebetulan kata sandi apartemen Geo masih menggunakan kata sandi lama, aku menginap sementara di sini. Aku...aku sudah tidak punya uang untuk menyewa apartemen lain.” Dawiyah menjeda ucapannya.
”Beni..Geo...di mana Geo? Aku...aku ingin bertemu Geo! Apakah Geo ada di depan?” Dawiyah turun dari ranjang. Ia terkejut dan mematung melihat Rosalina duduk di kursi dan menatapnya tajam.
Tante Rosalina? Pasti Tante akan membenci ku, memarahi ku, jika dia tahu aku adalah Dawiyah. Yang meninggalkan anaknya saat hari besar mereka, hari pertunangan aku dan Geo. benaknya.
”Dawiyah! Geo tidak ada di sini! Sebaiknya kamu angkat kaki dari apartemen Geo, sebelum Geo yang datang kesini dan mengusir mu dengan kejam! Kamu sangat mengenal Geo, kan? Jadi, jangan cari hal dengannya!” Beni menasehati Dawiyah.
Dawiyah terdiam, masih dalam keterkejutannya, ia masih terpaku berdiri, melihat Rosalina.
__ADS_1
Rosalina memang belum pernah bertemu dengan Dawiyah, tapi Dawiyah, dia telah melihat dan tahu siapa itu Rosalina, ibunya Geo.
”Oh, jadi kamu wanita yang bernama Dawiyah? Yang sudah membohongi anakku! Yang sudah menipu anakku! Yang sudah membuat anakku seperti sekarang ini! Kamu wanita tidak tahu diri! Anakku sudah mencintai mu setengah mati, dan kamu malah mengkhianati ketulusan anakku!” Rosalina berjalan mendekati Dawiyah yang masih mematung di tempatnya. Suaranya meninggi, memarahi Dawiyah.
Gawat! Dia sudah tahu itu aku! Apa yang harus aku lakukan? Geo, datanglah selamatkan aku? Kamu masih mencintai ku, kan? Jika kamu datang sekarang, aku janji, aku tidak akan mengkhianati cinta kamu lagi! benak Dawiyah.
”Tante! Maaf, aku tidak bermaksud mengkhianati Geo! Aku..aku terpaksa pergi waktu itu karena ada alasan lain. Bukan, bukan ingin meninggalkan Geo begitu saja!” ia membela diri. Suaranya pelan, pandangannya mengiba, raut wajahnya di buat sesedih mungkin.
”Tidak mengkhianati Geo!? Tidak meninggalkan Geo?! Plak!! Rosalina mengangkat tangan, menampar wajah Dawiyah. ”Anakku mencari mu kemana-mana dari hari setelah kamu kabur! Tapi, kamu, sedikitpun tidak meninggalkan jejak kepergian mu! Geo mencari mu seperti orang gila! Tapi, apa yang dia dapat setelah ia berhasil menemukan kamu!? Kamu malah asyik berduaan, berciuman dengan pria lain di pinggir pantai!!” suaranya semakin meninggi, amarah jelas terlihat di mata dan di wajahnya.
Apa? Geo...menemui ku di pantai? Dia melihat ku berduaan, berciuman dengan pria lain? Hah, pantas saja dia membenciku! benak Dawiyah.
Beni hanya terdiam, menyaksikan. Ia juga geram pada Dawiyah, tapi, ia enggan menodai tangannya. Cukuplah, Rosalina yang memberinya pelajaran.
Dawiyah memegang wajahnya yang perih, ia menangis, menunduk. ”Tante, jika memarahiku, memukuliku, bisa membuat Tante, memaafkan aku, aku terima Tante! Aku tidak ada pilihan untuk pergi saat itu, aku sangat mencintai Geo. Tapi, keadaan ku saat itu mengharuskan ku untuk pergi, jika tidak, aku... nyawaku yang terancam, Tante.”
”Mau berbohong sampai di mana kamu, Dawiyah! Apa kamu kira Tante tidak tahu kebenaran ini? Kebenaran kamu kabur dengan pria lain, di hari pertunangan mu dengan Geo? Kamu terlalu menganggap tinggi dan penting dirimu, Dawiyah!” kini Beni membuka suaranya.
”Ti...tidak! Itu...itu tidak benar! Tante...”
”Stop! Ambil pakaian mu dan pergi dari apartemen anakku!! Jangan pernah datang kemari lagi, dan jangan pernah temui anakku! Geo, anakku sudah hidup bahagia bersama istrinya.” pangkas Rosalina.
Dawiyah melihat Rosalina tidak percaya, ”A..apa? Tan...Tante...Geo sudah menikah?” tanyanya, memastikan.
Bagaimana bisa Geo menikah dengan wanita lain? Tidak mudah baginya untuk menemukan wanita lain, dia punya penyakit kelainan. Di tambah lagi, untuk melupakan aku, dia butuh waktu yang lama...itu...itu tidak mungkin! benaknya.
”Iya, jadi, tinggalkan tempat ini! Tinggalkan anakku! Jangan pernah kamu datang lagi untuk mengganggu kehidupan anakku!!”
Dawiyah menggeleng, ”Tidak! Itu...tidak mungkin! Aku mengenal Geo, dia...tidak! Tante, jangan membohongi ku dengan hal mustahil untuk aku pergi dari Geo!”
”Berani sekali kamu bicara seperti itu di hadapan mamanya Geo!” ucap Beni. Ia mengeluarkan handphone dan menunjukkan foto Geo dan Syakila, saat Geo mengucapkan ijab kabul. ”Lihat baik-baik! Apakah foto ini masih kurang jelas membuktikan Geo telah menikah?”
Dawiyah terkejut, membulatkan matanya melihat foto tersebut. Ia tidak melihat baik-baik wajah wanita di foto itu, wanita itu menunduk dan rambutnya menutupi sebagian wajahnya. ”Dia...dia sudah menikah!!” ucapnya masih tidak percaya.
”Iya, jadi, pergilah dari sini! Jangan ganggu kehidupan Geo lagi!” sahut Beni.
Ia menyesal telah meninggalkan Geo saat itu. Padahal, Geo sangat-sangat mencintai nya dan begitu lembut dan perhatian padanya.
Tidak! Aku tidak yakin kalau Geo sudah tidak mencintai ku! Aku...aku harus bertemu Geo! Aku harus meyakinkan Geo, aku mencintainya. benak Dawiyah.
”Aku benar-benar menyesal telah meninggalkan Geo saat itu! Sekarang, Antonio tidak menginginkan ku lagi! Dan aku, tidak bisa mengancam dia untuk menerima ku lagi di sisi nya. Sekarang, satu-satunya harapan ku adalah Geo.” gumamnya.
Di apartemen Geo.
”Beni! Kemana perginya Geo? Tante...Tante takut, Geo akan melakukan hal aneh!” air mata Rosalina terus mengalir membasahi pipi. Ia sangat sedih juga khawatir.
Beni menghela nafas, ia merangkul pundak Rosalina. ”Tante! Tante gak boleh ngomong begitu! Beni yakin, Geo tidak akan melakukan hal bodoh pada dirinya. Tante tenang saja, yah? Kalau Geo tahu sedih, khawatir, menangis seperti ini, Beni yang akan di marahi oleh Geo. Karena Beni tidak bisa menjaga Tante.” ia membujuk Rosalina agar tidak bersedih, khawatir, apalagi menangis.
Rosalina menghapus air matanya. Ia tersenyum melihat Beni. ”Mengapa kamu selalu mengalah dan menerima kesalahan saat di salahkan oleh Geo? Padahal kamu tidak melakukan kesalahan itu! Beranilah untuk melawan dari Geo.” nasehatnya.
Beni tersenyum singkat, ”Siapa suruh dia kakak ku, coba kalau dia adikku. Sudah ku tindas dia seperti dia menindas ku!” ia merubah ekspresi wajahnya, datar. ”Dia lah yang membuat ku bersinar sampai sekarang. Dia yang membuat ku untuk tidak takut pada dunia. Dia mengajari ku banyak hal, dia selalu ada di depan ku saat aku terkena masalah. Dia panutan ku setelah mendiang ayah. Dia hanya marah padaku di saat Tante bersedih, dan aku ada di situ tidak menghibur Tante. Aku sangat menyayangi Geo. Aku tidak berani melawan dia.” ungkapnya.
”Terima kasih, Beni! Terima kasih, kamu selalu ada buat Geo, di saat-saat Geo mengalami keterpurukan. Terima kasih!”
”Sama-sama, Tante!”
”Coba kamu hubungi Geo lagi! Mungkin saja handphone sudah di aktifkan.” titah Rosalina.
”Iya, Tante!” Beni menghubungi nomor Geo. Ia menggeleng, ”Nomornya masih gak aktif, Tante! Gak bisa di hubungi. Kita pulang saja Tante, mungkin saja saat ini Geo sudah pulang ke rumah.”
”Baiklah!” Rosalina berdiri. Beni juga berdiri, mereka berdua keluar dari apartemen Geo.
.. ..
Di depan SD tempat Syakila mengajar.
”Apa kamu ingin bertemu dengan ku hanya untuk mendiamkan ku seperti ini saja? Aku sudah satu jam lebih berada di dalam mobil mu. Dan kamu tidak berbicara sedikitpun! Jika tidak ada hal lain, aku keluar sekarang!” Sardin mulai tidak sabar.
__ADS_1
Sudah hampir dua jam ia berada di dalam mobil Geo, Geo tidak berbicara satu katapun. Bahkan ia gak di herani. Pandangan Geo justru menatap tajam ke depan.
Geo masih berdiam, ia melihat mobil-mobil yang lalu lalang di jalanan.
Sardin menyandarkan punggungnya. ”Sebenarnya, kamu ingin bertemu dengan ku, untuk apa?” ia bertanya ketus.
”Lihatlah mobil itu! Yang berwarna hitam campur silver, di depan sana. Mobil yang ingin parkir di pinggir jalan itu.” Geo pun bersuara.
Sardin melihat mobil yang di maksud Geo. Ia melihat Antonio keluar dari mobil tersebut. ”Itu Antonio! Kamu gak berbicara padaku, aku akan turun dan menemuinya. Dia ingin bertemu Syakila, membicarakan sesuatu.” ucapnya.
”Syakila tidak ada! Dia tidak mengajar! Dia sudah di keluarkan dari sekolah itu!” ungkap Geo. Pandangannya melihat ke depan, melihat Antonio yang berdiri bersandar pada dinding mobil.
Sardin memicing melihat Geo. ”Apa yang sudah kamu lakukan? Menjadi guru adalah impian dia dari kecil! Kamu tidak bisa membatasi pergerakan dia, dia akan membencimu!”
”Aku punya alasan untuk itu! Kamu turunlah, temui Antonio! Katakan padanya, Syakila tidak bisa menemuinya, jadi, katakan semuanya yang dia ketahui padamu. Setelah itu, kembalilah padaku! Setelah kamu kembali ke sini, baru aku bicara apa perlu ku dengan mu.”
”Jangan bilang, kamu mengurung Syakila! Geo, Syakila adalah seorang gadis yang bebas. Dia tidak suka di atur-atur! Tidak suka di kekang! Tidak suka di perintah! Di...”
”Membicarakan dia nanti saja! Temui Antonio sekarang!” pangkas Geo.
Sardin terdiam, melihat Geo. Menit berikutnya, ia keluar dari mobil, menemui Antonio. Geo memperhatikan mereka dari dalam mobil.
”Rupanya kamu tepat waktu juga datangnya.” ucap Sardin.
”Kamu! Kamu sendirian? Di mana Syakila?” Antonio melihat gerbang sekolah, mencari sosok Syakila.
”Tidak perlu kamu menunggu atau mencari Syakila. Dia sudah berhenti mengajar dari sekolah itu! Dia juga katakan padaku untuk menemui mu sendirian. Jadi, katakan semuanya yang kamu ketahui padaku. Aku akan memberitahu pada Syakila.”
Antonio melihat Sardin. ”Tapi, aku ingin bicara sendiri sama Syakila. Jika tidak hari ini, aku akan mengatakan pada Syakila lain kali saja saat aku bertemu dengannya.” ia membuka pintu mobil.
Sardin menutup kembali pintu mobil Antonio. ”Kamu tidak akan berkesempatan bertemu dengan dia! Jadi, katakan saja padaku, aku akan menyampaikan padanya.”
Antonio melihat Sardin tajam. ”Baiklah! Katakan padanya, Tidak perlu mencari Gege jauh-jauh! Dia ada di sekitarnya sendiri, dekat dengannya! Bahkan mungkin tidur sekamar dengannya.” ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil.
Sardin masih berdiri, mencerna ucapan Antonio barusan. Ia terkejut mendengar dan melihat mobil Antonio yang sudah berlalu.
”Apa maksudnya? Apakah...yang dia maksud itu adalah....” ia melihat mobil Geo. ”Geo?”
”Tidak! Aku tidak bisa mempercayai kabar ini begitu saja! Tidak mungkin Gege dan Geo adalah orang yang sama. Aku tidak bisa memberitahu Syakila tentang ini sebelum semuanya jelas.”
Ia berjalan kembali ke mobil Geo. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam, ia duduk dengan tenang.
”Jalan!” perintah Geo pada supirnya.
Tidak menunggu lama, sang supir menjalankan mobil.
”Sekarang kamu sudah tahu kan, Gege yang di cari Syakila selama ini adalah aku.” ucap GEO.
”Jadi benar kamu adalah Gege?”
”Hum! Kamu percaya kalau aku yang menyuruh orang untuk membunuh Halim?”
Sardin terdiam. Ia nampak berfikir. Jika posisi ini di pikirkan oleh Syakila. Dia akan membenarkan hal itu dengan berpikir, Geo memang sengaja membunuh Halim agar Halim tidak bisa membayar utangnya dan merencanakan pernikahan dengan Syakila. benaknya.
”Kita adalah sama-sama orang pebisnis! Hanya melihat keuntungan tanpa ingin merugi. Tidak ada untungnya kamu melenyapkan Halim. Tapi, aku tidak tahu, bagaimana namamu bisa tercemar?”
”Vian, pamannya Antonio, adik dari Kevin, dia sengaja mendorong ku ke masalah itu. Dia memiliki dendam pribadi dengan ayah ku.”
”Tunggu-tunggu! Kevin adalah ayah dari Antonio?” Sardin ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
”Iya, yang berseteru dengan Halim saat itu adalah Kevin, ayah Antonio, kakak dari Vian. Vian dan Antonio sama-sama ingin membalaskan dendam Kevin pada ayahku. Ayahku sudah meninggal, tapi, mereka belum puas sebelum aku meninggal.”
Sardin tersenyum kecut, ”Dengan kata lain! Antonio dan Vian sama-sama musuh Halim dan Albert? Kok bisa begitu?” ia penasaran.
”Kevin menaruh dendam pada ayah ku karena istrinya, mama dari Antonio, di lindungi oleh ayah ku.....”
Ia pun menceritakan semuanya pada Sardin tanpa menutupi satu hal pun. Bahkan pembunuhan ayahnya, kematian ibunya Antonio, kegagalannya saat bertunangan, kecelakaan yang terjadi di kota S, dan kecelakaan yang dia alami belum lama ini. Semua ia ceritakan kepada Sardin.
__ADS_1