
Geo menutup laptop. Ia melonggarkan dasinya. Ia melihat Syakila yang sedang tertidur.
Cewek matre itu! Masih terikat pernikahan dengan ku sudah ada dua pria yang menunggunya. Kedua pria itu sangat bodoh, begitu mudahnya di bohongi sama makhluk kecil ini.
Ia mendorong kursi rodanya mendekati Syakila. Samar-samar ia mendengar suara Syakila bergumam kecil. Geo semakin mendekat, ia mendengar jelas perkataan Syakila.
”Ayah...tidak! Jangan bunuh ayah ku...ayah!”
Syakila begitu gelisah. Wajahnya ketakutan.
”Syakila, bangun Syakila!” Geo membangunkan Syakila dengan menepuk pipinya pelan. ”Badannya panas! Apa yang harus ku lakukan? Sial! Syakila, bangun Syakila!”
Syakila terbangun dengan menangis. Ia refleks memeluk Geo. Deg! Jantung Geo berdetak cepat, ia terdiam membiarkan Syakila memeluknya. Dari pelukannya itu ia bisa merasakan suhu panas di tubuh Syakila.
”Kamu habis bermimpi? Kamu mimpikan apa, Syakila? Siapa yang bunuh ayah mu?” Geo memberikan pertanyaan penasarannya pada Syakila yang masih memeluknya.
Syakila tersadar jika yang di peluknya adalah Geo, bukan ibunya. Ia melepas pelukannya dan menjauhkan diri dari Geo.
”Maaf, aku sudah lancang memelukmu, tidak seharusnya aku bersikap begitu. Aku mengira yang membangunkan ku adalah ibuku. Sekali lagi maaf.” ucap Syakila sambil menunduk.
Tangan Geo mengepal.
Wanita ini, aku ini suaminya, sudah sewajarnya dia memelukku. Heh, minta maaf! Apa dia merasa tubuhku ini tidak layak untuk dia peluk? Atau dia merasa tubuhnya begitu suci hingga najis bersentuhan dengan tubuh ku? Ah, sudahlah ini tidak penting juga. Aku juga tidak sudi untuk di peluk dia.
”Hum, kali ini aku maafkan. Tapi tidak untuk lain kali! Kamu bermimpi apa? Teriak-teriak bikin telingaku sakit saja!”
Syakila mendongak, melihat Geo.
Pria ini, mengapa tidak ada sisi lembutnya? Selalu kasar, ketus, marah-marah, dasar pria angkuh, sombong. Kamu kira jika aku dalam keadaan sadar, aku sudi memeluk tubuh mu itu? Sama sekali tidak!
”Iya, lain kali aku akan berusaha untuk tetap sadar. Jadi, aku tidak perlu memeluk tubuh mu itu.” sahut Syakila ketus.
”Lagian, memeluk tubuhnya tidak ada rasa hangat-hangatnya, yang ada hanya hawa dingin.” gumam Syakila kecil sambil berdiri.
Namun, gumaman sekecil itu mampu di tangkap oleh pendengaran Geo yang tajam.
”Apa kamu bilang?”
Geo menarik tangan Syakila, Syakila terjatuh di pangkuan Geo. Ia memegang kedua pipi Syakila kuat dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menahan tubuh Syakila agar tidak terjatuh.
”Aku, aku tidak bilang apa-apa! Lepaskan aku!” Syakila berontak. Tatapannya tajam melihat Geo.
”Lepaskan kamu? Kamu bilang tubuh ku tidak ada hangat hangatnya bagimu! Mari kita buktikan!” ucap Geo dengan penuh penekanan di setiap ucapannya.
Ia melepas dasi dan membuangnya asal ke lantai, ia membuka kancing bajunya satu persatu hingga kancing baju tersebut terlepas semua.
Deg
Jantung Syakila berdetak kencang, tubuhnya menjadi kaku seketika. Ia melotot melihat Geo.
”A..apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku Geo! Jangan macam-macam kamu! Lepaskan aku! Jika tidak aku akan memukul mu!” ancam Syakila.
”Cobalah untuk memukul ku!” sahut Geo.
Syakila berontak ingin lepas dari genggaman Geo. Ia memukul dada Geo yang sudah telanjang. Geo menangkap tangan Syakila dan menggenggamnya erat. Sekuat tenaga Syakila berusaha melepaskan diri dari Geo. Tapi, Syakila kalah dari tenaga besar dan kuat dari Geo. Apalagi kini tubuh Syakila yang tidak sehat, tidak memungkinkan untuk ia menang.
”Ku mohon, lepaskan aku Geo!” pandangan Syakila mengiba.
”Lepaskan kamu?”
Geo tersenyum masam, ia merapatkan tubuh Syakila ke tubuhnya. Ia mendekap tubuh Syakila dengan erat.
Deg! Jantung Syakila dan Geo sama-sama berdegup kencang. Rasa hangat mulai tersalur dari kedua tubuh tersebut. Geo mendekatkan bibirnya ke telinga Syakila.
”Apa kamu sudah merasakan hawa dingin dari tubuh ku saat ku peluk begini? Atau rasa dingin itu masih belum terasa? Ingin lebih?”
Deg deg deg jantung Syakila berdetak tidak karuan. Geo semakin mengeratkan pelukannya. Ia bisa merasakan tubuh Syakila yang kaku dan debaran jantung nya yang cukup kuat dan tidak keruan. Geo terbuai sendiri akan pelukan itu. Ia melonggarkan sedikit pelukannya dan perlahan ia mendekat kan bibirnya ke bibir Syakila. Syakila tersadar merasakan hembusan nafas Geo di wajahnya dan sesuatu benda keras yang di dudukinya bergerak. Ia merasa Geo sedikit lengah. Ia mendorong tubuh Geo dengan kuat.
”Geo, lepaskan aku!”
Tubuh Syakila terlepas dari pelukan Geo. Ia berdiri cepat dari pangkuan Geo. Kursi roda Geo termundur akibat dorongan kuat Syakila saat mendorong tubuhnya. Syakila memandang Geo dengan tatapan tajam dan marah.
”Jangan coba-coba kamu memelukku lagi! Ku harap ini terakhir kalinya, jaga jarak mu dengan ku! Ingat akan kesepakatan kita!” ucap Syakila ketus.
__ADS_1
Geo tersenyum kecil, ” Heh, masih ingin berpura-pura! Bukan kah kamu menikmati pelukan ku yang hangat itu? Lagi pula aku hanya membalas pelukan mu saja. Jadi kita impas, tidak saling berhutang pelukan.” ucap Geo santai.
"Apa? Kamu! Lelaki brengsek!”
Syakila pergi ke kamar mandi, jalannya masih pincang. Geo menatap punggung Syakila.
Aku hampir lepas kendali jika saja dia tidak mendorong ku. Dia mampu membangkitkan hasrat ku, sial!
Geo mendorong kursi rodanya ke pintu, ia mengganti kata sandinya dengan kata sandi baru. Ia mendorong kursi rodanya lagi mendekati ranjang.
Syakila melihat pantulan dirinya di cermin.
”Lelaki brengsek! Beraninya dia memelukku! Jika aku tidak menghentikan dia tadi, dia juga akan mencium ku. Impas? Heh, dia mengira aku sengaja memeluknya tadi agar dia membalas memeluk ku. Brengsek kamu Geo!”
Puas memaki Geo, Syakila mencuci mukanya. Syakila keluar dari kamar mandi. Ia melihat Geo berusaha memindahkan dirinya dari kursi roda ke atas ranjang.
Syakila berjalan ke arah nakas. Geo tersenyum kecil. Ia berfikir Syakila datang menghampiri dirinya untuk membantunya. Senyum Geo memudar.
Syakila melewati dirinya, ia menatap punggung Syakila dengan bingung juga marah. Ia melihat Syakila mengambil kotak obat dari dalam nakas.
Syakila mengambil salah satu obat penurun panas dan meminumnya. Setelah minum obat pun, Syakila tetap berjalan melewatinya. Syakila berjalan menuju pintu.
”Sejak kapan kamu tidak memiliki hati? Apa kamu tidak melihat ku yang sedang kesusahan ini?” ucap Geo dengan ketus.
Syakila berhenti melangkah. Ia berbalik melihat Geo.
”Aku tidak melihat mu sedang susah. Bukankah tenaga mu sangat kuat? Berusahalah sendiri! Hati? Aku memang tidak memiliki hati, hatiku terdampar dan tertinggal di tubuhnya Sardin, kekasih ku yang sangat ku cintai.” sahut Syakila.
Ia terus berjalan mendekati pintu kamar. Geo menatap tajam punggung Syakila.
Brengsek! Wanita ini menegaskan jika dirinya bukan milikku. Dirinya milik lelaki lain yang bernama Sardin.
Kedua rahang Geo mengeras, begitu juga kepalan tangan Geo sangat kuat. Ia masih memandang punggung Syakila dengan tajam.
Syakila membuka pintu kamar, namun tidak bisa, tertulis di pintu masukan kata sandi. Sejak kapan pintu ini terbuka dengan kata sandi dari dalam? Pikir Syakila. Ia memasukan kata sandi yang di ketahuinya.
”Apa? Konfirmasi gagal! Ini bukan kata sandinya. Geo? Pasti laki-laki angkuh itu yang sudah mengatur ini!” gumamnya kecil.
Ia berbalik melihat Geo. Ia terkejut Goe melihatnya dengan tatapan tajam.
”Kamu ingin tahu kata sandinya? Bantu aku ke ranjang baru aku beritahu kata sandinya.”
Sial lelaki ini sengaja melakukannya.
Syakila berjalan ke arah Geo. Ia memapah tubuh Geo ke atas ranjang.
”Sudah, beritahu aku apa kata sandinya.” ucap Syakila.
Geo tersenyum sinis, ”Apa menurut mu segampang itu untuk mendapatkan sebuah informasi?”
”Apa maksudmu? Jangan berbelit-belit dengan ku! Cepat katakan apa kata sandinya?”
”Cium aku, baru aku beritahu kata sandinya.” ucap Geo sembari tersenyum.
Syakila terdiam.
Lelaki ini sengaja mempermainkan ku! Baik, mari kita lihat siapa disini yang di permainkan!
Syakila tersenyum, ia mendekati Geo.
”Kamu ingin sebuah ciuman? Akan aku berikan.”
Ia mencium pipi Geo. ”Sudah, beri tahu aku kata sandinya.”
”Ciuman apaan itu?” protes Geo.
”Kamu tidak menargetkan aku harus mencium mu dimana, kan? Kamu hanya bilang cium saja. Ya sudah, aku sudah mencium pipi mu. Sekarang beritahu aku kata sandinya.”
”Tidak, cium aku yang benar, baru ku kasih tahu kata sandinya.”
”Baik, ini kamu yang memintanya Geo, jangan salah kan aku jika aku bertindak lebih.”
”Ho, bertindak lebih! Aku tunggu itu.” sahut Geo di selingi senyum kecilnya.
__ADS_1
Syakila mengambil kursi dan berjalan mendekati dinding kaca di samping pintu.
Geo mengerut melihat Syakila.
Apa yang akan dia lakukan dengan kursi itu? Ah, apa dia akan menghancurkan dinding kacaku? Oh tidak!
”Hei, apa yang akan kamu lakukan? Berhenti di sana! Simpan kursi itu!” teriak Geo.
Syakila tidak menghiraukan ucapan Geo. Ia mengangkat kursi itu dan mengayunkannya ke dinding kaca besar itu.
”Tidak, jangan hancurkan kaca dinding ku! Kata sandinya ”01052003D” ingat itu kata sandinya. Cukup sekali ku beritahu.” ucap Geo.
Dia tidak akan sadari jika sebenarnya itu adalah tanggal lahirnya sendiri, aku hanya merubah tanggal dan bulannya saja dan menambahkan hurus D di depannya.
Syakila tersenyum menang. Ia menghentikan tangannya pas kaki kursi tersentuh dinding. Ia berbalik, melihat Geo sambil tersenyum. Ia meletakkan kursi di sampingnya.
Apa kode itu tanggal lahir kekasihnya? Berarti kekasihnya itu seumuran dengan ku. Aku lahir tanggal lima bulan satu. Kekasihnya lahir tanggal satu bulan lima. Aku tua empat bulan darinya.
Tria membuka pintu kamar dan keluar dari sana. Geo melihat punggung Syakila yang menghilang di balik pintu kamar.
”Heh, gadis itu berani juga menentang ku. Menarik, selama ini tidak ada yang berani menentang ku atau bermain trik dengan ku.Tapi, cewek matre, pendek ini justru sebaliknya.”
Syakila pergi ke dapur. Di sana ia mendapati Beni dan Rosalina sedang memasak dan separuh makanan sudah tertata di atas meja. Sedangkan Marlina tidak terlihat.
”Mama, kak Beni, ada yang bisa ku bantu?”
Syakila berjalan pelan menghampiri Rosalina dan Beni.
”Eh, Syakila. Kamu duduk saja. Ini juga sudah selesai masaknya.” ucap Beni dan Rosalina. ”Kamu turun sendirian kesini? Geo mana?” lanjut Rosalina berucap.
”Geo, dia lagi istrahat. Aku akan panggil kan dia.” Syakila berdiri.
”Tidak usah, sayang. Kamu duduk saja, biar Mama yang memanggilnya.”
"Tunggu Mah, Geo sudah mengganti kata sandi pintunya. Dan kata sandinya adalah ” 01052003D” itu kata sandi yang baru.” ucap Syakila.
"Kata sandi baru? Oh, terima kasih sudah memberitahu Mama. Mama ke atas dulu memanggil Geo.” pamit Rosalina.
”Iya, Mah.”
Rosalina pergi. Syakila duduk di kursi.
”Apa Marlina tidak di panggil untuk makan kak?" tanya Syakila.
”Dia sudah kembali ke kota pusat. Kakaknya menelponnya untuk kembali.” sahut Beni.
”Oh, boleh tanya sesuatu kak? Sebenarnya hubungan kalian seperti apa?”
Beni tertawa kecil. ”Geo dan aku adalah adik kakak dari ibu yang berbeda. Aku adalah anak pertama dari istri pertama ayah Albert. Sedangkan Marlina, ia berdua saudara dengan Antonio Albert. Mereka berdua adalah kakak tiri ku. Kami berbeda ayah, tapi karena mamaku menikah dengan Albert jadi, Marlina dan Antonio memakai nama Albert di belakang namanya.
”Oh, begitu.”
”Iya, Syakila, ambil makanan mu dan makan lah.”
”Beni, besok antar aku ke pasar yah.”
”Besok? Tapi, kaki mu masih belum sembuh Syakila. Sebaiknya, kamu istrahat sampai kaki mu sembuh.”
”Aku tidak apa-apa. Ada yang ku urus, Beni. Jadi, antar lah aku besok ke pasar. Kamu hanya mengantar ku saja di rumah Om ku.”
”Om mu? Maksudmu, rumahnya Denis?”
”Bukan Denis, tapi Om Anton.”
”Oh, ok. Aku akan mengantar mu besok.”
Mereka berdua memakan makanannya, bertepatan Geo dan Rosalina datang. Rosalina menyendokkan makanan untuk Geo dan untuk dirinya.
Luka di tangan Geo sudah hampir sembuh. Jadi, ia memakan sendiri makanannya tanpa di suapi lagi oleh Syakila.
Mereka makan dalam diam. Sesekali Geo dan Beni melirik ke arah Syakila yang sedang fokus dengan makanannya.
Rosalina menyadari itu. Ia menyadari jika Beni bersikap berbeda kepada Syakila.
__ADS_1
Apa Beni menaruh hati pada Syakila? Ah mungkin hanya perasaan ku saja. Tidak mungkin dia menyukai kakak iparnya sendiri. Ia hanya perhatian pada Syakila karena Syakila kakak iparnya.