
Tepat pukul 03:00 subuh Syakila terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan dan melihat ke sekeliling ternyata masih gelap. Ia melihat wajah papanya yang sedang menatap bulan di atas langit.
"Papa tidak tidur?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Halim melihat anaknya. Ia tersenyum, "Kamu terbangun?"
Syakila mengangguk. Ia bangun dan duduk di samping papanya.
"Maaf Pa, gara-gara Asya, Papa tidak tidur!" ucapnya setelah menyadari jika ia menjadikan paha papanya sebagai bantalnya.
Halim membelai rambut anaknya lembut. "Papa yang belum ingin tidur, sayang! Papa tidak mengantuk."
"Kenapa Papa tidak mengantuk? Apa ada yang Papa pikirkan?" tanya Syakila lagi.
"Banyak yang Papa pikirkan, sayang! Tapi itu hanya jadi urusan Papa, sayang!" jawab Halim.
Syakila mengangguk seakan ia mengerti dengan maksud dari ucapan papanya. "Papa jam berapa berangkat besok?"
"Papa besok jam 5 subuh sudah berangkat ke pelabuhan, sayang! Kapal jam 7 pagi berangkat, dan sebelumnya Papa harus mengganti nama di tiket dulu. Jadi Papa berangkatnya pagi sekali ke pelabuhan, sayang!" jawab Halim menjelaskan.
Syakila mengangguk sambil menguap. Halim tersenyum melihat anak keduanya itu. Iya kembali membaringkan tubuh anaknya di pangkuannya.
"Tidur lagi!" perintahnya. "Waktu masih lama untuk berganti pagi." Halim berucap sambil membelai kepala anaknya yang kembali menjadikan pahanya sebagai bantal.
Syakila kembali bangun dan duduk di samping papahnya. "Kalau Syakila tidur! Syakila tidak akan melihat Papa kalau Papa pergi besok!" ucapnya dengan sedih.
Halim mengerti dengan maksud anaknya itu, Syakila memang semenjak bayi sudah dekat dengannya. Jika ia menangis dulu ia hanya akan berhenti menangis bila sudah berada di gendongannya.
"Tidurlah!" perintahnya lagi kepada Syakila. "Papah janji, Papa akan membangunkan kamu besok jika Papa akan berangkat!" Halim membujuk Syakila agar menurutinya.
"Papa janji?" ucap Syakila memastikan. Ia mengangkat jari kelingkingnya. Halim tersenyum.
Ia ikut mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkan pada jari kelingking anaknya. "Papah janji!" ucapnya meyakinkan Syakila.
"Baiklah! Kalau begitu Syakila kembali tidur yah, Pa?" ucapnya sambil menguap. Halim mengangguk.
Syakila kembali berbaring dan meletakkan kepalanya di atas paha papanya. "Papa tidak lelah kalau Syakila berbaring di paha Papa?"
Halim menggeleng, "Tidak sayang!" jawabnya singkat. "Tidurlah!" perintahnya lagi. Syakila kembali menguap, ia memang masih mengantuk.
Akhirnya Syakila kembali tertidur lelap di pangkuan papahnya. Halim tersenyum bahagia melihat anaknya itu. Ia membelai rambut hitamnya yang panjang itu dengan lembut.
"Semoga kedepannya kamu akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, berbudi baik, suka membantu, dan tidak sombong kepada sesama. Papah doakan semua keinginanmu akan tercapai, sayang!"
Halim kembali menerawang ke atas langit, ia seakan melihat wajah istrinya yang sangat di cintai itu tergambar jelas di tengah bulan yang membulat sempurna itu.
Sarmi istriku! Aku merindukan mu, rasanya aku ingin segera menemui dan memeluk tubuhmu saat ini.
batin Halim.
...
Di waktu yang bersamaan Sarmi sedang duduk di gode gode sendirian. Ia memandang bulan yang sama di pandang oleh suaminya.
Sarmi juga seakan melihat wajah suaminya disana. "Aku merindukan mu, suamiku..."
__ADS_1
"Semoga dirimu sukses di sana! Dan cepat lah kembali kepada kami..”
"Ya Allah, lindungilah suamiku dimana pun ia berada. Ridhoi lah di setiap langkah kakinya dengan rahmat dan rezeki -Mu, ya Allah. Aamiin."
Sarmi terus bergumam dalam kesendiriannya.
Aku merindukan pelukan mu, suamiku!
batin Sarmi.
Sarmi dan Halim masih sama-sama memandang bulan yang bersinar terang yang menghiasi langit yang gelap itu. Mata mereka enggan untuk terpejam, pikiran mereka sama-sama saling memikirkan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka saling menutup mata membayangkan wajah kekasih hatinya masing-masing dan mengucapkan kata rindu.
"Aku merindukan mu!" ucap mereka bersamaan di tempat yang terpisah.
Setelah mengucapkan itu mereka kembali membuka matanya. Sarmi merasa lega di hatinya. Kini matanya sudah serasa lelah dan mengantuk ia pergi tidur mendekati anak bungsunya dan mendekapnya. Ia tidur dengan terlelap.
...
Halim masih setia memandang sang rembulan. Ia masih belum mengantuk, banyak hal yang terpatri dalam benaknya.
Esok hari ia akan berangkat merantau di rantau orang. Entah apa yang akan dia dapat setelah dia berada disana. Bisakah ia menjalani kehidupan dalam kesendiriannya disana, tanpa di dampingi istri tercintanya. Tanpa di temani dengan suara-suara lucu dari anak-anaknya yang selalu menghiasi kesehariannya.
Selama 12 tahun semenjak ia menikahi istrinya, ia tidak pernah berpisah dengan anak dan istrinya. Baru sekarang lah ia akan meninggalkan anak dan istrinya untuk pertama kalinya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini waktu sudah menunjukan pukul 04:30 subuh.
Halim mengangkat tubuh anaknya dengan pelan-pelan dan penuh kehati-hatian. Ia menidurkan anaknya di kamar.
Halim segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat. Setelah ia selesai bersiap ia mengeluarkan tas ranselnya ke depan. Ia mengecek semua peralatan yang di bawanya, jangan sampai ada yang terlupa.
Halim menepuk-nepuk pipinya dan memanggil namanya.
"Syakila, bangun sayang! Asya, ayok bangun..”
Asya menggeliat namun ia belum terbangun. Halim mencoba membangunkannya lagi.
"Asya, bangun sayang! Papah mau berangkat, nih..”
Syakila terbangun dan membuka matanya dengan perlahan. Ia melihat papanya yang sudah berpakaian rapi. "Papah sudah mau berangkat?"
"Iyah sayang, Papa akan berangkat sekarang!"
"Papa akan menunggu mobil didepan rumah atau di jalan besar?" tanya Syakila ingin tahu.
"Papah sudah bilang sama pamanmu kemarin untuk menjemput Papa disini." jawab Halim sambil menyandang tasnya dan memakai topi hitamnya. Ia membuka pintu rumahnya, dan melangkah keluar rumah menanti jemputan iparnya.
Syakila mengikuti papahnya dari belakang. Sesampainya di luar Syakila memegang jemari tangan papanya. Halim membalas menggenggam jemari tangan anaknya itu.
Tidak lama dari mereka menunggu, kini Ipar Halim sudah datang menjemputnya. "Sudah lama menunggu, Bang?" tanyanya pada Halim.
"Belum lama, aku baru saja keluar dari rumah, kok!" jawab Halim.
Saudara iparnya mengangguk. "Ayok pergi sekarang!" ajaknya. Halim mengangguk.
__ADS_1
Halim jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anaknya itu. Ia membelai kepala anaknya dan mencium keningnya.
"Papa, pergi dulu, doakan Papa biar Papa sukses disana dan cepat kembali untuk kalian, yah!" pamitnya dengan nada sedih.
Syakila tersenyum dan mengangguk. "Iyah Papa, Syakila akan berdoa untuk Papa agar Papa sukses disana dan cepat kembali untuk kami disini." ucap Syakila dengan tenang. Yang sebenarnya ia sedang menahan tangis semenjak ia menggenggam jemari tangan papahnya tadi.
Halim bisa mengetahui dari mata anaknya itu, jika ia sedang sedih, karena mata anaknya sudah mulai berkaca-kaca sama seperti dirinya. Dan ia tetap tenang dan tidak menunjukan kesedihan di hadapannya.
Halim kembali menegakkan badannya, ia sudah berbalik arah dan melangkah masuk ke mobil. Ia berhenti sejenak ketika jemarinya di pegang kembali oleh Syakila.
"Ada apa, Nak?" tanya Halim setelah ia kembali menghadap ke anaknya.
Syakila menggeleng. Ia mencium punggung telapak tangan Papahnya. "Papah hati hati di sana, jangan lupakan kami ya, Pa!”
Lalu tanpa menunggu jawaban papahnya Syakila segera berlari masuk kedalam rumah. Ia menangis sampai di sana. Halim membiarkan anaknya pergi begitu saja. Ia yang paling dekat dengan anaknya jadi ia sangat hafal dengan sikap anaknya itu.
Setetes air mata membasahi pipinya, ia segera menghapusnya. Ia berbalik dan melihat saudara iparnya. Halim tersenyum, "Ayo berangkat, Bang!" ajaknya.
Saudara iparnya segera masuk ke dalam mobil setelah melihat Halim yang sudah masuk duluan di mobil. Ia mengantar Halim ke pelabuhan.
Sesampainya di pelabuhan Halim segera turun. Ia berjabat tangan dengan saudara iparnya.
"Semoga sukses disana!" ucap saudara iparnya menyemangati Halim.
"Iyah terima kasih, tolong yah! Untuk selalu memantau keadaan anak dan istriku, Bang!" pinta Halim.
"Iya, kamu tenang saja!" ucap saudara iparnya. Setelahnya ia pergi meninggalkan Halim di sana dengan para penumpang kapal lainnya.
Halim pergi ke loket tiket, ia mengeluarkan tiket atas nama Anton dan KTP nya dari dompet.
"Permisi!" ucapnya setelah ia berdiri tepat di depan loket.
"Ia Bang? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai loket.
"Ini Bang, saya hanya ingin mengkonfirmasi atas laporan saudara Anton, untuk mengganti nama di tiket ini dengan namaku." ucap Halim. Ia menyodorkan tiket dan KTPnya kepada pegawai loket.
"Oh iya saudara Anton kemarin ada menghubungi kami. Jadi akan di gantikan dengan namamu?" tanya pegawai loket tersebut ulang memastikan.
"Iyah." jawab Halim singkat.
Pegawai loket tersebut kini sedang sibuk dengan komputernya, ia menggantikan nama tiket dari Anton menjadi Halim serta usianya. Setelah selesai menggantinya ia menyerahkan kembali kepada Halim, tiket dan KTPnya.
"Ini tiketnya Pak Halim." ucapnya.
Halim mengambilnya dan membacanya. "Baiklah terima kasih banyak!" ucapnya kepada pegawai loket.
"Iya sama-sama, kapalnya sudah sandar sejak tadi, silahkan lewat disana untuk menuju ke kapal. Dan kapalnya akan berangkat tepat jam 7 pagi." ucap pegawai loket memberi arahan kepada Halim.
"Baik, sekali lagi terima kasih!" ucap Halim tulus.
Setelah mendapat jawaban dari penjaga loket, Halim segera menuju ke kapal.
Ini pertama kalinya bagi Halim menaiki kapal besar untuk berlayar. Dengan tekad yang kuat juga penuh keberanian Halim mendekati tangga kapal dan dengan mengucapkan basmalah Halim menaikinya.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim." ucapnya seraya melangkahkan kaki kanannya di tangga kapal pertama. Sampai akhirnya ia masuk ke dalam kapal. Ia mencari tempat disana, ia sengaja mencari tempat di dek 5. Karena disana sangat mudah untuknya jika ia ingin melihat pemandangan laut.