
Di club Vian, kota A.
Dawiyah tiba di club pamannya Antonio. Ia masuk ke dalam, matanya menilik, melihat ke seisi ruangan club itu.
Musik terdengar hingar bingar memenuhi ruangan club. Orang-orang bergoyang sesuka hatinya di lantai dansa. Ada yang bergoyang sendirian, ada juga yang bergoyang berpasangan.
Ia terus melangkah masuk dan duduk di depan bartender. Ia tidak memedulikan beberapa pasang mata yang melihatnya dengan kagum. Ia juga mengabaikan beberapa pria yang menawarkan dirinya untuk berdansa maupun di temani minum.
”Bir nya satu gelas.” ucapnya pada sang bartender.
Sang bartender menyiapkan minuman yang di pesan Dawiyah. Ia meletakkan air minum Dawiyah di depannya.
”Ada rokok mu? Aku lupa membawa rokok ku.” ucapnya lagi pada pria bartender itu.
”Maaf, saya tidak merokok.” jawab pria itu sopan.
”Oh.” sahut Dawiyah.
”Ingin rokok?”
Dawiyah menoleh melihat arah sampingnya. Ia melihat seorang pria asing yang sedang berdiri di sampingnya, sedang menatapnya sambil tersenyum, tangan kanannya menyodorkan bungkusan rokok.
”Ambillah!” ucap pria itu lagi sambil duduk di bangku samping Dawiyah.
Tanpa ragu Dawiyah mengambil satu buah rokok. Pria itu menyalakan korek api dan mengarahkan korek yang menyala itu pada ujung rokok Dawiyah yang ada di mulutnya.
Dawiyah menyalakan rokoknya. Ia menghisap rokok tersebut, mengumpulkan asap di dalam mulut dan membuang asapnya ke udara.
”Terima kasih,” ucapnya pada pria itu.
Pria itu tersenyum, ”Jangan sungkan! Namaku Hami, namamu siapa?”
”Dawiyah.”
”Oh, nama yang cantik! Sesuai dengan orangnya juga sangat cantik!” ucap Hami memuji.
”Sudah banyak ku temui pria yang berkata manis seperti mu ini.” sahut Dawiyah dengan ketus.
Hami terkekeh, ”Rupanya aku pria terakhir yang datang memuji mu. Di mana pasangan mu? Kenapa tidak menemani mu disini?”
”Dia sedang sibuk dengan urusannya. Lagi pula, apa urusannya dengan mu?”
”Tidak ada!” sahut Hami sambil melirik Dawiyah yang sedang merokok, sesekali ia meminum birnya.
”Apa kamu orang baru di sini? Aku baru melihat mu malam ini.” ucapnya lagi.
”Hum, aku baru datang berkunjung disini. Ini adalah club milik paman dari kekasih ku.” sahut Dawiyah sambil meneguk minumannya yang terakhir.
Hami terdiam.
Oh, rupanya ia kekasihnya Antonio.
”Mau nambah birnya? Biar ku traktir malam ini.” tawar Hami.
”Tidak! Aku sudah cukup minumnya.” sahut Dawiyah sambil mematikan puntung rokoknya yang sudah habis itu.
Ia mengeluarkan secarik uang kertas membayar minumannya. Setelah mengambil kembaliannya, ia berdiri dari duduknya. Ia melihat pria yang masih duduk di sampingnya, yang masih menatapnya.
”Terima kasih sudah menemani ku. Aku pergi dulu.” pamitnya.
”Bisakah menemaniku di lantai dansa untuk satu lagu, sebagai tanda ucapan terima kasih mu?”
Mata Dawiyah menyipit melihat Hami, pria itu sedang memasang wajah memohon untuk di temani. Ia melihat tangan pria yang terulur itu.
Dawiyah menyambutnya, ”Baiklah, hanya untuk satu lagu.”
Hami tersenyum, ”Ok,”
Mereka berjalan ke arah lantai dansa, berkerumun dengan orang-orang lain di lantai dansa tersebut. Banyak pasang mata pria yang iri dengan Hami yang berhasil mengajak Dawiyah bergoyang di lantai dasar.
Mereka mulai bergoyang, badannya diliukkan seiring dengan nada musik.
”Apa kamu tahu berita tentang Geovani Albert?”
”Iya, aku dengar-dengar jika dia sudah menikah.”
Kening Dawiyah berkerut mendengar pembicaraan dua wanita yang bergoyang di belakangnya. Ia menoleh, melirik kedua wanita itu sejenak.
Apa? Geo sudah menikah? Apa itu benar? Mengapa aku tidak tahu hal itu?
Dawiyah mempertajam pendengarannya, mencuri dengar pembicaraan kedua wanita itu.
”Iya, sayang sekali dia sudah menikah. Ah, kekasih khayal ku sudah menjadi suaminya orang.” keluh salah satu wanita itu dengan sedih.
”Aku juga kesal mendengar berita itu. Katanya istrinya seorang guru di SD negeri 1.”
”Iya. Wajar gak sih, masa Geovani, seorang CEO di sebuah perusahaan, yang tampan, cool, berkharisma seperti itu, istrinya adalah seorang guru? Lebih baik aku kan seorang sekretaris, lebih cocok menjadi istrinya.”
”Mengkhayal saja kamu! Geovani juga tidak akan pernah melirik kita-kita yang memiliki kecantikan dan postur tubuh yang biasa-biasa saja.”
”Apakah kamu pernah melihat istrinya Geo itu?”
”Belum pernah! Secantik apa ya dia? Sehingga bisa mencuri hati seorang Geovani Albert?”
”Entahlah! Pasti dia sangat cantik dan seksi, tidak seperti kita.”
Dawiyah bergoyang dengan tidak fokus, pikirannya terusik dengan hal yang baru saja ia dengar.
Tidak! Ini tidak benar! Tidak mungkin Geo menikah dengan wanita lain! Dia memiliki penyakit yang tidak mudah bersentuhan dengan sembarang wanita. Itu tidak benar! Tidak!!
Dawiyah menggelengkan kepalanya.
”Kenapa? Apa kepalamu pusing?” tanya Hami, saat melihat Dawiyah menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
”Ah, eh, iya. Kepala ku sedikit pusing. Bolehkah kita sudahi jogetnya?”
”Baiklah, lagunya juga hampir habis.”
Mereka menyudahi jogetnya. Mereka berdua kembali duduk di kursi, Dawiyah memperhatikan kedua wanita yang masih berjoget di lantai dasar itu.
Hami memesan satu minuman bir untuk dirinya dan Dawiyah, ia menaruh sesuatu dalam minuman Dawiyah secara diam-diam.
”Kamu ingin pulang sekarang? Ini baru jam 11 malam.” tanya Hami, saat Dawiyah berdiri dari duduknya, ”Duduklah dulu sebentar! Temani aku minum, aku sudah memesankan minuman untuk mu.” pintanya dengan wajah memohon.
”Maaf, aku harus pulang sekarang!” sahut Dawiyah, ia tidak peduli dengan tatapan memohon Hami.
Musik telah berhenti, kedua wanita yang menggosipkan Geo telah keluar dari club. Dawiyah ingin mengejar mereka berdua.
”Oh, baiklah. Aku tidak akan menghalangi mu, tapi, bisakah kamu meminum minuman mu dulu baru pergi?” tawar Hami.
Dawiyah menoleh, melihat dua cangkir gelas di depan Hami. ”Maaf, aku berkendara. Tidak bisa meminum bir lebih dari satu gelas.” tolaknya halus.
Dan itu juga pesan dari kekasih ku, Antonio. Tidak boleh meminum bir atau apapun di club lebih dari satu gelas, meskipun hanya sedikit.
Ia berjalan keluar dari club, mengejar kedua wanita itu. Tapi sayangnya, ia tidak menemukan kedua wanita itu lagi di luar sana.
”Sial!” umpatnya kesal.
Ia berjalan ke mobilnya dengan terus mengumpat, ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan cepat menuju apartemennya.
Di dalam club.
Hami menghela nafas gagal, ia menoleh kebelakang saat merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya.
Rupanya orang itu adalah temannya sendiri, teman yang mengajaknya bertaruh untuk uang senilai 2 juta untuk mengajak Dawiyah berjoget, dan 5 juta untuk mengajak Dawiyah ke atas ranjang.
”Hahahaha. Kamu gagal membawanya ke ranjang, boy!!” ucap pria itu sambil tertawa mengejek.
”Hah, sudahlah. Berikan saja uang ku 2 juta. Aku gagal membawanya ke atas ranjang, aku bersyukur. Jika saja hal itu terjadi, entah apa yang akan Antonio lakukan padaku, jika ia memergoki ku sedang berada di atas tubuh wanitanya.”
Temannya tersebut terkejut, ”Eh, wanita tadi... wanitanya Antonio?”
”Hum,”
”Wah, bersyukur juga kamu joget dengannya, Antonio tidak melihatnya. Jika tidak, pasti aku sekarang memapah mu kerumah sakit.” sahut temannya itu.
”Brengsek Lo!” umpat Hami kesal, ”Berikan uang ku!”
Temannya itu mengeluarkan uang dari dompetnya senilai 2 juta dan memberikannya pada Hami. Hami menerima uang itu.
”Yuk cabut!” ajaknya pada temannya itu. Ia berdiri dari duduknya setelah memberikan uang pada bartender, membayar minuman dua gelas yang tidak tersentuh.
”Gak memancing dulu? Siapa tau ada umpan yang termakan!”
”Tidak! Kamu sendiri saja yang memancing, aku akan pulang sekarang.” ia melangkah keluar dari club meninggalkan temannya itu di sana.
.. ..
”Bagaimana keadaan tuan?” tanya Ijan sambil mendudukkan dirinya di kursi panjang depan ruangan pribadi Geo, di samping sang dokter pribadi Geo, tuannya itu duduk.
Pagi-pagi sekali, setelah ia terbangun dari tidurnya, ia bergegas untuk melihat Geo.
”Tuan sempat demam semalam, untungnya demamnya tidak terlalu tinggi dan cepat aku menanganinya. Sekarang, harusnya tuan baik-baik saja. Aku belum masuk lagi ke dalam semenjak merawat demamnya semalam.” ungkap sang dokter.
”Bagaimana keadaan mu? Luka mu?” tanyanya pada Ijan.
”Aku sudah membaik. Kamu sepertinya tidak beristirahat dengan baik semalam, kantung mata mu menghitam. Kamu Istrahat lah, biar aku yang menjaga tuan.”
Sang dokter berdiri dari duduknya, ia menepuk pelan pundak Ijan. Ia memang butuh istirahat sekarang.
”Baiklah, aku pergi istrahat dulu. Jagalah tuan!” ucapnya sambil menguap dan meregangkan ototnya yang kaku.
Ia berjalan ke arah ruang kerjanya, meninggalkan Ijan di bangku panjang itu. Setelah kepergian sang dokter, Ijan masuk ke dalam ruangan Geo.
”Tuan! Bagaimana keadaan Tuan sekarang? Apa ada yang sakit?” tanyanya pada Geo.
Saat ia masuk dan berjalan mendekati ranjang Geo, pria itu membuka matanya. Ijan mempercepat langkahnya mendekati Geo.
”Tidak, aku baik-baik saja! Bantu aku bangun!”
Ijan membantu Geo bangun dari tidurnya, ia menyandarkan punggung Geo di sandaran ranjang.
”Bagaimana luka mu? Gun? Mana dia?” tanya Geo.
”Saya baik-baik saja, Tuan. Begitu juga dengan Gun. Ia pergi dengan beberapa anak buahnya, memeriksa kondisi villa.” jawab Ijan.
”Apa villanya sudah di bakar?”
”Sudah Tuan! Villa itu di bakar setelah Antonio dan ketiga bawahannya keluar dari sana, sesuai dengan keinginan Tuan.” ungkap Ijan.
”Jam berapa ini?”
”Jam 08 : 00 pagi, Tuan.” jawab Ijan.
”Antar kan sarapan ku kemari. Setelah sarapan, antar aku pulang ke kediaman Sarmi.”
”Tuan? Apa tidak apa-apa Tuan pulang dengan kondisi wajah yang masih terlihat memar begitu? Dan luka-luka kecil di jari Tuan...masih....” ucap Ijan dengan ragu-ragu.
Geo melihat luka-luka yang ada di jari-jarinya.
Apa wanita itu akan khawatir padaku saat melihat ku seperti ini? Aku akan melihatnya...
”Tidak usah khawatirkan itu. Mereka akan lebih khawatir jika aku tidak pulang hari ini.” ucapnya kemudian.
Ijan mengangguk mengerti. Ia keluar dari sana dan pergi ke dapur, ia sendiri yang menyiapkan sarapan untuk Geo. Setelah ia menyiapkan sarapannya, ia kembali ke ruangan Geo dengan membawa sarapan itu.
”Tuan, ini sarapan Anda.” ucapnya sambil meletakkan sarapan Geo di meja kecil yang sudah ia siapkan dan membawanya ke hadapan Geo.
__ADS_1
”Hum, kamu...duduklah di situ...temani aku makan.” ucap Geo.
”Saya...saya mana berani.. Tuan!” sahut Ijan.
”Kamu ingin membantah?!”
”Hah, lebih tidak berani..Tuan!” sahut Ijan sambil duduk di ranjang di hadapan Geo.
”Hum, makanlah bersama ku!”
”Baik, Tuan.”
Mereka makan bersama di piring yang sama. Ijan memakan makanan dengan sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia makan sepiring berdua dengan Geo, tuannya itu.
Apakah ini akan menjadi makan terakhir ku bersama tuan? Apa setelah ini tuan akan menyuruh ku istrahat dengan baik di rumah, menjaga anak dan istri ku? Tidak! Aku tidak terima! Aku ingin terus bekerja dengan tuan seumur hidup ku.
”Aku sudah kenyang. Kamu habiskan makanan itu.” ucap Geo.
Ijan melihat ke piring nasi, hanya tinggal sedikit.
”Hah, ba...ba..baik, Tuan!” sahutnya dengan gugup dan gemetar.
Ia berkeringat dingin. Apakah yang barusan ia pikirkan itu benar? Apakah jamuan yang terhormat ini adalah yang terakhir ia bekerja untuk tuannya? Tapi, ia belum setua itu untuk hengkang dari kerjanya.
”I..ini...apakah...Tuan ti...tidak inginkan saya bekerja lagi de..dengan Tuan?” tanyanya ragu-ragu.
Kening Geo mengerut, ”Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu sudah tidak ingin bekerja lagi dengan ku?”
”Hah, saya...saya masih... sangat ingin bekerja dengan Tuan! Saya ingin terus berdiri di samping Tuan. Jangan jadikan jamuan ini, hari terakhir saya bekerja dengan Tuan, saya mohon...Tuan!”
Kening Geo kembali mengerut. Apa yang sedang di pikirkan anak buahnya itu?
”Apa aku bilang seperti itu? Kamu, Gun, dan yang lainnya tetap bekerja untuk ku. Kalian semua sudah terikat bekerja seumur hidup kalian bersama ku. Habiskan makanan mu! Jangan banyak berpikir yang tidak penting!!” ucapnya menjelaskan.
”Baik, Tuan.”
Ijan lanjut memakan makanannya itu dengan sedikit tenang setelah mendengar penjelasan tuannya itu.
Beberapa menit kemudian, Ijan telah selesai makan. Ia membawa nampan yang berisi piring kotor ke dapur, setelah itu, ia kembali ke ruangan Geo.
”Tuan, obatnya...apa Tuan sudah meminum obat?” tanyanya.
”Tidak perlu! Sekarang, bawa aku pulang ke kediaman Sarmi. Aku tidak ingin ibu mertuaku khawatir padaku!” jawab Geo.
”Ta...baik, Tuan.”
Ijan membantu Geo duduk di kursi rodanya. Mereka keluar dari ruangan Geo. Setelah berpamitan dengan anak buahnya di sana, Ijan dan Geo pergi dari markas.
Ijan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
”Berhenti sebentar di depan sana.” pintanya sambil menunjuk sebuah toko yang menjual berbagai macam handphone.
”Baik, Tuan.”
Laju mobil perlahan-lahan menjadi pelan-pelan dan berhenti di depan toko yang di tunjuk oleh tuannya itu.
”Kamu turunlah, belikan aku handphone keluaran terbaru. Beli langsung dengan kartunya.”
”Baik, Tuan.”
Ijan turun dari mobil, ia masuk ke dalam toko, mencarikan handphone yang paling bagus, keluaran terbaru untuk Geo.
Setelah ia membelikan handphone dan kartunya, ia kembali ke mobil.
"Tuan, ini handphone yang Anda inginkan.” ucapnya sambil memberikan belanjaan nya itu pada Geo.
Geo mengambilnya, ia membuka dan melihat handphone tersebut, ia sangat menyukai handphone itu, ia memasang kartu pada handphone dan meletakkan kembali handphone tersebut di kotaknya.
Ijan kembali menjalankan mobilnya. Mereka tiba di kediaman Sarmi. Ijan membantu Geo turun dari mobil dan membawa Geo ke rumah Sarmi.
”Assalamu 'alaikum!” ucapnya sambil mengetuk pintu, karena pintu rumah Sarmi tertutup.
”Wa 'alaikum salam,”
Terdengar sahutan dari dalam, pintu rumah terbuka.
”Adik ipar?” sapa Fatma, ia terlihat terkejut melihat kondisi adik iparnya itu.
Geo tidak menyahuti, ia menaikkan tangannya ke atas, Ijan mengerti dengan kode tersebut.
”Saya pulang dulu Tuan. Nona Fatma, saya permisi.” pamit Ijan.
”Hum,” sahut Geo.
”Iya, hati-hati di jalan.” sahut Fatma.
Setelah mendengar sahutan dari kedua insan itu, Ijan pergi sana.
”Adik ipar, apa yang terjadi dengan mu? Muka mu, tangan mu...”
”Apa Syakila di dalam?” pangkas Geo.
”Oh, iya. Dia lagi istrahat setelah meminum obatnya tadi. Itu...adik ipar...” ucapan Fatma terhenti saat melihat tangan Geo menahannya untuk berbicara.
”Aku tidak apa-apa. Aku pergi istrahat dulu.” ucap Geo sambil berlalu dari sana, mendorong kursi rodanya sendiri menuju kamar Syakila.
Ia sudah merindukan wanita itu. Fatma hanya memperhatikan punggung belakang Geo yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang karena terhalang oleh dinding saat Geo membelokkan kursi rodanya ke kamar Syakila.
Geo tiba di kamar, karena pintu kamar Syakila tidak terkunci, Geo lebih leluasa masuk kedalam. Ia melihat Syakila sedang tidur di kursi sofa panjang.
Wanita ini, suka sekali tidur di sofa.
Ia mendorong kursi rodanya mendekati Syakila.
__ADS_1