Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 32


__ADS_3

Sesampainya di Club, Halim bisa melihat jelas Denis dan Samnia sedang berdiri di luar Club. Dengan menengok kiri dan kanan seperti sedang mencari sesuatu.


"Mereka pasti mencari ku dan sudah menunggu ku lama." gumamnya.


Ia semakin mempercepat langkahnya mendekati dua remaja itu.


"Abang, dari mana saja? Dari tadi Denis mencari dan menunggu Abang disini." keluh Denis dengan kesal.


"Oh maaf, Abang berjalan-jalan di sekitar sini hingga lupa waktu." ucap Halim berbohong. "Kalian sudah selesai bicara?" tanyanya sambil memandang Denis dan Samnia bergantian.


Mereka berdua mengangguk. "Kalau begitu kita pulang sekarang." ucap Halim lagi.


"Hum," Denis dan Samnia menyahut bersamaan.


"Lalu, kamu naik apa Samnia?" tanya Halim pada Samnia.


"Aku bawa motor sendiri, kok kak!" Samnia menjawab dengan tersenyum manis sambil menunjukkan kunci motor.


"Oh, kalau begitu pulanglah! Kami juga akan segera pulang." sahut Halim.


Samnia mengangguk. "Hum, Samnia duluan yah." pamitnya. Ia menyalakan motor dan menjalankannya. Kini tinggal Halim dan Denis yang sedang menanti taksi.


"Taksi!"


Denis menghentikan taksi yang kebetulan lewat di sana. Taksi berhenti, Halim dan Denis segera masuk ke dalam mobil. Setelah Denis menyebutkan tujuannya, sang supir menjalankan mobil untuk mengantar mereka pulang.


"Bagaimana, apa Samnia sudah tidak berharap lagi padaku?" tanya Halim. Ia tidak ingin kesunyian berlama-lama menemani perjalanan mereka.


"Hum, awalnya dia tidak percaya, tapi aku menyakinkan dia." sahut Denis.


"Lalu, apa kamu sudah menyatakan perasaan mu padanya? Apa dia menerima mu?" Halim bertanya lagi sambil melirik Denis lalu kembali melihat jalanan kota yang mereka lalui.


Denis menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, "Hum," katanya, "Kita jalani saja dulu, jika dalam waktu sebulan tidak ada kecocokan di antara kami, maka tidak ada alasan untuk kami bertahan. Kami akan mengambil jalan sendiri-sendiri."


"Dan kamu setuju dengan ucapannya?"


Dengan penuh semangat Denis menyahuti Halim, "Oh, iya dong! Dan aku yakin bisa menaklukkan hatinya bahkan sebelum sebulan." ucapnya penuh percaya diri.


"Kamu yakin bisa melakukan itu?" Halim bertanya meremehkan.


"Abang, biar Denis begini, tapi jangan di anggap remeh dong! Apalagi soal perempuan." sahut Denis dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.


"Benarkah? Lalu siapa yang bilang gini-gini aku sudah punya pacar, loh? Dan nyatanya, saat melihat gadis lain malah mau di jadikan pacar. Lalu kemana pacar kamu itu? Dan lagi, mau dekati dan menyatakan perasaan saja harus pake bantuan seseorang." Halim berbicara meledek dan menjatuhkan kepercayaan diri Denis tanpa memandangnya, sedangkan ia tahu jika Denis sudah menatap dirinya penuh kesal.


"Ah, Abang! Bisa saja menghancurkan tingkat kepercayaan seseorang." sahut Denis dengan kesal, "Sebaiknya kita turun sekarang, Denis malas berbicara dengan, Abang." lanjutnya berucap ketika taksi sudah berhenti di depan rumah.


Kali ini Denis yang membayar taksi dan mereka segera turun setelah mengucapkan terima kasih kepada sang supir.


"Baiklah, jangan coba-coba berbicara dengan Abang! Apalagi membahas wanita." sahut Halim mengancam Denis sambil melangkah masuk ke dalam rumah, setelah ia membuka kuncinya.


"Yah, Bang! Jangan gitu dong! Denis cuma bercanda." Denis memelas pada Halim.

__ADS_1


Halim tidak menyahuti ia hanya terus melangkah ke kamarnya sambil mengangkat Kedua bahunya.


"Masa sih Abang ambil serius ucapan ku? Ah tidak! Abang bukan orang seperti itu." gumam Denis sambil melihat punggung Halim yang sudah menghilang di balik pintu. Ia pun pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Sesampainya di kamar masing-masing, Halim dan Denis bukannya langsung tidur, tetapi mereka kembali mengingat kejadian yang baru mereka alami.


Denis mengingat kebersamaannya dengan Samnia. Dan Halim pertemuannya dengan Halima.


"Apa maksud Halima?" Halim nampak sedang berpikir. "Dia ingin aku menolongnya? Dalam hal apa?"


"Mengapa dia bilang jika dirinya bukan seperti itu? Sedangkan apa yang pernah ku lihat, dan penampilannya mengatakan hal yang berbeda?"


"Sepertinya dia menyimpan begitu banyak kesedihan? Apa jangan-jangan wanita yang menabrak ku waktu malam itu benar dirinya?"


"Ya Allah, jika memang kehendak mu, aku akan mengikuti apa kata hatiku. Namun lindungilah hamba-Mu ini, dari perbuatan yang akan merugikan diriku sendiri kedepannya. Aamiin."


Lama ia berbicara sendiri mengajak pikirannya untuk berpikir. Sedangkan Denis ia sudah tertidur setelah menghayal kan Samnia, wanita yang baru saja di pacarinya beberapa jam yang lalu.


"Kenapa malam ini aku gelisah memikirkan dia? Apa dia baik-baik saja setelah ku tinggalkan dia disana?" Halim masih belum berhenti memikirkan Halima.


"Apa aku harus kembali mengecek dia disana? Tapi ini sudah sangat larut. Dan bagaimana nanti jika keluarga istriku ada yang melihat aku dengan seorang wanita di malam hari, tanpa sepengetahuan ku. Akan menjadi masalah besar nantinya."


Karena Halim gelisah tidak bisa tidur, ia pergi sebentar ke balkon kamarnya. Lama di sana namun tidak membuat gelisah nya hilang. Ia masuk kembali ke kamarnya.


Halim mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat tahajud meminta petunjuk kepada sang Khaliq. Setelah selesai ia mengaji sebentar dan setelah perasaannya tenang barulah ia pergi tidur.


.. ..


"Astaghfirullah! Mengapa aku bisa bermimpi seperti ini?"


"Mimpi ini seperti nyata sekali! Mas Halim. Ah Tidak! Aku tahu mas Halim, ia sangat mencintaiku."


"Astaghfirullah! Ya Allah, jauh kan prasangka buruk dari pikiranku terhadap suamiku, mas Halim yang kini sedang merantau untuk mencari nafkah buat saya dan anaknya. Aamiin."


"Tapi, mungkinkah? Kami sudah beberapa bulan tidak bertemu, akan kah? Mimpi ini, apakah sebuah petunjuk, atau hanya sebuah mimpi belaka untuk mengacaukan pikiran ku?"


"Ya Allah, meskipun aku tidak ingin berburuk sangka, tapi pikiran itu muncul begitu saja tanpa permisi di kepalaku. Jika saja kami berdekatan, aku tidak seragu ini. Aku hanya lah wanita lemah dan tidak berdaya."


Sarmi berbicara sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dengan memaksakan diri kembali tidur, akhirnya ia tertidur.


.. ..


Keesokkan harinya, Syakila terbangun lebih awal dari mama, nenek, dan adiknya. Ia pergi ke luar untuk menghirup udara segar di pagi hari.


"Udara di sini sangat sejuk di pagi hari, rasanya ingin selalu tinggal di kebun." gumam Syakila dengan tersenyum kecil.


"Hari ini hari Minggu, biasanya kalau ada kak Sardin, dia menghampiriku di rumah setiap sore harinya. Mengapa aku rindu kakak, yah?"


"Apa kakak akan selalu mengingat ku? Tentu saja dia akan ingat sesekali. Di sana pasti dia punya teman yang lebih banyak lagi, jadi tidak ada waktu untuk memikirkan aku."


Syakila meraba kalung di lehernya, "Kalung ini, apakah selamanya akan tetap terpasang di leherku. Aku sudah mengikat janji dengan kakak, cuma kakak yang akan melepas kalung ini dari leherku."

__ADS_1


Tanpa Syakila sadari, mamanya sudah terbangun dan sekarang sedang berdiri di belakang Syakila. Dan Syakila tidak menyadari kehadiran mamanya, jika mamanya tidak menyapanya.


"Syakila, kamu sedang memikirkan apa? Kenapa duduk di tanah? Padahal di sana ada gode-gode."


Syakila terkejut dan menoleh ke belakang. Ia menyahuti ucapan mamanya. "Mama, Syakila habis menghirup udara segar sambil olahraga ringan yang di ajarkan di sekolah. Asya capek jadi Asya duduk disini." ucapnya menjelaskan.


"Oh, begitu. Lalu kamu memikirkan apa? Mama sempat dengar tentang kalung, kalung apa itu?" Sarmi sengaja ia ingin dekat dengan Syakila. Dan mencoba dengan duduk bersampingan dan mengajak ngobrol Syakila.


"Asya tidak sedang memikirkan apa-apa, Mah." sahut Syakila. Ia menunjukan kalung di lehernya kepada mamanya, "Ini kalung yang di berikan kak Sardin sebelum ia berangkat ke kota S, Mah." lanjutnya berucap.


"Mama, Asya pergi mandi dulu." ucapnya lagi berpamitan. Sarmi mengangguk mengiyakan.


Anak ini, dia tidak ingin berbagi dengan siapapun tentang perasaan nya. Dia selalu menyimpan sendiri perasaannya. Aku khawatir bagaimana jika suatu saat dia akan merasa lelah dengan sikapnya itu.


batin Sarmi sambil melihat punggung Syakila yang menjauh.


Sebelum Syakila mandi, ia menyalakan api untuk merebus air panas. Barulah ia pergi mandi di sungai kecil yang ada di kebunnya, sungai yang di buat oleh papanya.


Selesai mandi, Syakila pergi melihat air yang di rebusnya.


"Eh, air panasnya?" Syakila terkejut karena panci air panasnya sudah berubah menjadi panci kecil. Syakila membuka penutup pancinya. "Ini ubi jalar dan pisang, apa mama yang menimba air panasnya, yah? Dan merebus ini." Syakila bertanya sendiri.


Ia menengok kiri, kanan, dan di belakang mencari mamanya. Tapi tidak ada. Namun Syakila tidak juga mencarinya sampai ke rumah. Ia duduk menunggu rebusan itu hingga masak. Ia takut jika masakan itu akan hangus, sebab airnya hanya sedikit.


Beberapa menit kemudian, masakan itu masak juga. Syakila mengangkatnya dan memisahkan kayu-kayu bakar yang masih menyala itu. Baru Syakila memadamkan api di kayu dan membiarkan arang kayu tetap berasap. Baru ia pergi naik ke rumah membangunkan adiknya buang masih tertidur.


"Mama juga tidak ada di rumah? Mama kemana yah? Oh mungkin mama lagi memetik sayur di ujung kebun." gumam kecil Syakila.


Dengan lembut Syakila membangunkan adiknya satu persatu dan menyuruh mereka untuk mandi. Sedangkan ia menyiapkan pakaian adik-adiknya.


"Syakila, dimana mamamu?" Syakila terkejut mendengar suara pria di depan pintu. Begitu juga dengan sang Nenek, dia langsung terbangun.


"Om," sapa Syakila. "Om mencari mama? Om tunggu mama di gode gode saja. Sebentar lagi mama akan datang." sahut Syakila.


"Mama mu pergi kemana?" sang Nenek dan Anton bertanya bersamaan.


"Syakila juga tidak tahu, Nek, Om. Tapi Syakila berpikir mungkin mama sedang memetik sayur di ujung kebun." jawab Syakila.


"Oh, kalau begitu Om tunggu mama di gode gode." sahut Anton. Ia langsung pergi ke gode-gode untuk menunggu Sarmi.


"Syakila, buatkan Om teh. Nenek cari mama mu dulu di dalam kebun." ucap Nenek berpamitan.


"Iya Nek. Syakila bikin tehnya di cerek saja yah Nek. Buat sekalian dengan kita."


"Iya." sahut sang Nenek. Lalu nenek turun dan berkeliling di kebun mencari Sarmi. Sedangkan Syakila ia sedang membuat teh di cerek dan juga menyendok buah pisang dan ubi jalar yang di masak oleh mamanya.


Setelah siap Syakila membawanya ke gode gode. Ia menuangkan segelas teh kepada om Anton.


"Om, di minum tehnya dan ini ada rebusan pisang juga ubi." ucap Syakila sambil menyodorkan teh dan piring berisi pisang dan ubi itu.


"Hum, makasih Syakila." ucap Anton tulus lalu ia mengambil rebusan pisang yang masih hangat itu. Ia mengupas dan memakannya.

__ADS_1


__ADS_2