
Syakila dan Rudi telah sampai di kediaman Anton, omnya Syakila.
”Assalamu 'alaikum!” ucap Syakila, sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Rudi, ia kembali ke dalam mobil.
”Wa 'alaikum salam.” sahut orang dalam rumah.
Syakila bersikap santai dan tenang ketika melihat Geo yang melihatnya tajam. Ia duduk di samping Anton.
”Kamu dari mana?” tanya Anton.
”Syakila dari pasar Om ingin menemui om Hamid.” jawab Syakila.
”Lalu, ketemu dengan om Hamid nya?”
”Tidak, Om. Om Hamid sudah pulang, Syakila terlambat datangnya.”
”Memangnya ada perlu apa mencari om Hamid? Kalau kamu ada butuh apa-apa beritahu Om saja atau om Denis. Biar bagaimanapun juga, om Hamid itu tidak ada hubungannya dengan kita, dia hanyalah teman dari almarhum papamu.” ucap Anton.
”Apa kamu menganggap ku tidak ada Syakila? Aku suami mu, kalau kamu butuh apa-apa, beritahu aku. Kamu yang seperti ini sama saja tidak memberiku muka.” sambung Geo, wajahnya datar, tatapannya tajam, melihat Syakila.
”Maaf, Geo. Aku bukan tidak menganggap mu tidak ada. Tapi, ini tidak ada urusannya dengan mu dan aku tidak ingin merepotkan dirimu. Apalagi kamu sekarang sudah mulai aktif di perusahaan, waktu mu akan tersita untuk ini. Kamu fokus saja pada perusahaan mu, jika memang aku membutuhkan bantuan mu, baru aku memintanya padamu.” sahut Syakila, menjelaskan. Geo terdiam.
Syakila melihat Anton, ”Aku ada perlu sedikit Om sama tante Mulfa dan tante Halima.” ucapnya.
”Ada perlu apa dengan Mulfa dan Halima, Syakila?” tanya Serlina, istri dari Anton.
”Iya, ada perlu apa mencari mereka berdua?” sambung Anton bertanya.
”Syakila ingin mencari tahu tentang kebenaran yang bersangkutan dengan almarhum papa pada tante Mulfa dan tante Halima, Om, Bibi.” jawab Syakila.
”Apa kamu mengetahui sesuatu yang kami tidak ketahui Syakila? Coba beritahu pada kami!” tanya Anton lagi.
Geo dan Beni juga Dian hanya mendengar saja percakapan Syakila, Anton, dan Serlina, tanpa menggubrisnya.
”Nanti Syakila akan beritahu Om dan Bibi setelah Syakila yakin kebenarannya. Syakila hanya ingin mencari tahu penyebab meninggalnya papa, dan siapa sebenarnya yang membunuh papa.” jawab Syakila.
Anton dan Serlina saling memandang. Geo memicing melihat Serlina dan Anton saat melihat perubahan mimik wajah Serlina dan Anton.
Jadi papanya Syakila meninggal karena di bunuh? Jika benar Halim yang di selidiki oleh papa adalah Halim papanya Syakila. Berarti Syakila dan keluarganya akan mengira Gege lah yang membunuh Halim. Karena di kalangan pasar, nama Gege sudah tercoreng, itulah sebabnya papaku mencari bukti jika pelakunya bukanlah aku. Tapi sialnya, papa meninggal di bunuh saat masih mencari bukti itu. benak Geo.
”Syakila mengetahui dari om Denis kalau yang berseteru dengan papa adalah Kevin. Tapi, di saat kejadian itu, Syakila mendengar ucapan seseorang di balik telfon jika semua kekacauan yang terjadi di dalam pasar adalah ulah dari atasan mereka, yaitu Gege.” ungkap Syakila.
Deg! Jantung Geo dan Beni berdetak gugup. Kini, giliran mereka berdua yang saling memandang.
Tebakan ku benar! Mereka akan menyalahkan Gege yang bertanggung jawab pada kejadian waktu itu. benak Geo.
Wah, kalau begini bisa gawat! Syakila akan semakin membenci Geo jika ia tahu nama Gege itu adalah nama panggilan Geo dulu. Tapi, kematian Halim bukan karena Geo. benak Beni.
”Iya, yang berseteru dengan papamu dulu adalah Kevin, mantan pacar dari tante Halima. Isu yang terdengar di kalangan masyarakat memang Gege yang bertanggung jawab atas peristiwa itu. Tetapi, bukti adanya Gege yang di sangkut pautkan dengan pembunuhan itu belum terbukti seratus persen.” ungkap Anton.
”Apa Om mengenal Kevin juga Gege? Apakah mereka orang yang berbeda? Syakila menduga mereka adalah satu orang yang sama hanya menggunakan nama berbeda.” ucap Syakila.
”Tidak, mereka adalah orang yang berbeda. Kevin memang nama samaran, nama aslinya adalah Darman. Dan Gege, Om kurang tahu tentang dia. Nama Gege sudah lama tidak terdengar lagi masyarakat menyebutnya. Keberadaannya tidak di ketahui setelah peristiwa itu. Om mendengar jika Gege sudah kabur keluar negeri.” ungkap Anton lagi.
”Jika Gege bukan pelakunya, mengapa ia harus kabur keluar negri? Apa Om tahu latar belakang Gege?” tanya Syakila. Wajahnya serius menatap Anton.
Geo dan Beni saling melirik dalam tenang meski suasana hati sangat gelisah.
__ADS_1
Iya, waktu itu papa memang menyebar kabar kalau Gege sedang mengadakan perjalanan ke luar negri. Sementara di pasar sudah terjadi kekacauan. Jadi, Gege tidak ikut bertanggung jawab dalam kekacauan itu. Dan bukti yang ada menjadi alibi yang kuat membersihkan nama Gege dari kekacauan itu. benak Geo.
”Sayangnya, jaringan Gege sangat kuat! Om tidak bisa menelusuri latar belakang dari Gege. Semua informasi tentang dia tertutup rapat.” jawab Anton.
Syakila tetap berpikir Gege lah yang bertanggung jawab atas peristiwa tahun itu. Papa memang memblokir semua hal tentang ku di media sosial, di internet, waktu itu. benak Geo.
”Syakila, Om harap, kamu tidak usah mencari tahu hal ini! Jangan mencari tahu tentang Gege, tentang Kevin!” ucapnya lagi, menasehati.
”Kenapa Om? Apa salah Syakila mencari tahu penyebab kematian ayah?” tanya Syakila, tidak senang. Wajahnya berubah cemberut.
”Kevin sudah meninggal. Tapi, kakak dan anaknya masih hidup. Mereka selalu mencari keberadaan Halima dan keluarga Halim untuk membalas dendam. Om tidak ingin identitas mu di ketahui oleh salah satu anak buah mereka yang diam-diam berkeliaran di pasar.” jawab Anton, menjelaskan.
”Keputusan papa mu saat itu untuk menipu status nya dari suami menjadi pria yang hidup sendiri, memang benar. Ia tidak ingin orang lain ikut kena imbasnya. Papa mu bahkan membentak dan mengusir ibumu agar pergi dari tempat kejadian, papamu tidak ingin mereka tahu kalau mama mu adalah istrinya. Ia mencegah Hamid dan Denis yang ingin membantu papamu menghadapi Kevin dan anak buahnya. Kalau Om, makanya Om bisa membantu papamu waktu itu karena Om yang berkuasa di pasar, mereka juga takut dengan Om.” ungkap Anton.
”Apakah papa juga yang meminta om Hamid dan tante Halima agar menutup mulut kami dan menahan tubuh kami saat malam itu? Saat kami ingin berlari menghampiri papa dan berteriak untuk menghentikan mereka memukuli papa? Fatma dan Syakila tidak bisa bergerak dan berteriak waktu itu untuk menolong papa! Kami berdua hanya bisa menangis tanpa suara melihat papa di bunuh waktu itu!” ucap Syakila, pandangannya sendu menatap lantai, bayangan peristiwa silam itu terbayang lagi di pelupuk matanya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, dengan segera, ia menghapus air matanya.
Geo ikut sedih melihat Syakila seperti itu. Ia ingin sekali berdiri dan memeluk tubuh Syakila, membiarkan wanita itu menangis di pelukannya, meringankan sedikit beban di hatinya.
Geo menghela nafas, ”Syakila, sebaiknya kita pulang sekarang! Mama baru saja menanyakan keberadaan mu, padaku.” ucapnya, berbohong. Ia mengangkat hapenya, menunjukan asal SMS Rosalina, untuk menguatkan alibinya.
Syakila mengangguk, ”Iya,” sahutnya. Ia beranjak berdiri. ”Em, Om, Bibi, Syakila pulang dulu! Nanti Syakila akan jalan-jalan ke sini lagi!” ucapnya, berpamitan.
”Apa tidak sekalian makan malam di sini saja, Geo, Syakila, baru kalian pulang?” ucap Serlina.
”Tidak, terima kasih! Mama ku telah memasak makanan untuk makan malam ini.” sahut Geo.
”Iya, pergilah! Jika ada kesempatan, datanglah ke rumah untuk kita makan bersama.” ucap Anton.
”Iya, Om. Kami pergi dulu.” ucap Geo dan Syakila berpamitan.
”Iya, hati-hati di jalan!” sahut Serlina dan Anton, bersamaan.
Anton dan Serlina mengikuti mereka dari belakang, mereka berhenti di teras rumah. Sementara Syakila, Beni, dan Geo sudah masuk ke dalam mobil.
Mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman Anton. Anton dan Serlina masuk ke dalam rumah setelah tidak melihat mobil Geo lagi.
”Pa, kita harus mencegah Syakila untuk menyelidiki kematian Halim! Mama tidak mau jika kakaknya Kevin maupun anak Kevin mengetahui jika Syakila adalah anak dari Halim. Mereka akan membunuh Syakila nanti, Pa!” ucap Serlina, khawatir.
Anton menarik nafas, ”Kamu tahu kan wataknya anak kemenakan mu itu? Sekeras apapun kita melarang, tetapi, jika keinginannya kuat, ia akan tetap lakukan itu! Papa juga khawatir dengan keselamatan Syakila jika ia terus menyelidiki ini.” sahutnya.
”Tapi, Mama tenang saja! Geo, suami Syakila tidak akan tinggal diam dan akan melindungi Syakila. Seharusnya, dengan perlindungan dari keluarga Albert, Syakila tidak akan apa-apa.” ucapnya lagi.
”Tapi, Pa. Bukankah kematian Albert juga itu karena di bunuh? Mama ragu jika mereka tidak lengah menjaga Syakila.” ucap Serlina.
”Sudahlah Mah. Pikirkan saja hal positif!” sahut Anton, sambil menghela nafas.
.. .. ..
Di perjalanan.
Syakila masih memikirkan dan menebak-nebak hal yang terjadi yang menimpa papanya waktu silam itu. Ia sangat serius memikirkan itu hingga tidak menyadari Geo dan Beni terus melihat dirinya.
Halima adalah mantan dari Kevin. Kevin memasukkan Halima sebagai wanita penghibur. Halima marah dan membenci Kevin.
Halim menolong Halima mengeluarkannya dari pekerjaan yang tidak baik itu. Hingga Kevin dan Halim terjerat perkelahian. Dan Gege, mungkinkah dia bos nya Kevin?
”Katakan padaku! Di mana dia berada?”
__ADS_1
”Jika kamu memberitahukan keberadaan dia, maka nyawamu aku ampuni!”
Jangan kamu membohongi ku! Aku masih memberikan mu kesempatan! Dimana dia!”
Syakila mengingat kembali pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan pria itu kepada papanya waktu itu.
Jika di lihat dari pertanyaan pria itu. Pria itu mencari keberadaan wanita itu yang artinya, papa yang menyembunyikan wanita itu dari pria tersebut. Mengapa papa begitu rela membela wanita itu? Apakah tante Halima adalah simpanannya papa dulu? Sebelum tante Halima dan Om Hamid bertunangan?
Tidak, tidak! Papa bukan orang yang seperti itu! Waktu itu tante Halima tiba-tiba memeluk papa, bahkan papa sangat marah pada tante Halima. Mama juga sangat percaya akan cinta papa yang tidak berubah untuk mama. Jadi, itu tidak mungkin!
Aku harus ada waktu untuk menemui tante Halima dan tante Mulfa untuk menanyakan tentang isi dari map tersebut. Aku juga harus kembali ke rumah papa untuk mencari laci satunya. Kira-kira dari laci itu ada rahasia apalagi yang tersembunyi? benaknya.
”Syakila, maukah kamu berjanji satu hal pada papa?”
”Apa, Pa?”
”Berjanjilah, jika nanti ada seseorang datang bernama Albert atau Rosalina minta sesuatu, kamu penuhi yah! Itu merupakan janji papa kepada mereka. Kamu bisa berjanji hal itu untuk papa?”
Syakila kembali mengingat perkataan papanya sebelum meninggal. Air matanya jatuh ke pipinya. Ia menghela nafas, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kalau aku tahu, perjanjian itu isinya ”Pernikahan” Syakila tidak mau mengikat janji sama papa. benaknya.
Syakila terkejut kepalanya di tarik oleh Geo, ia membuka tangannya, melihat Geo. Geo membenamkan kepala Syakila ke dadanya. ”Jangan sok kuat! Jika ingin menangis, menangis saja! Aku di sini, di samping mu, selalu menemani mu. Jika kamu bersedih, bersandar lah padaku!” ucapnya, pelan sambil mengusap-usap kepala Syakila.
Tangis Syakila menjadi pecah, tanpa ia sadari, ia memukul-mukul dada Geo, melampiaskan penyesalannya.
Hati Geo ikut tersayat melihat Syakila seperti itu. Apa yang sedang kami pikirkan Syakila? Mengapa kamu memukul-mukul dadaku? Apakah ini karena kesedihan atau penyesalan mu? benaknya.
Beni menghela nafas, ia ikut sedih melihat Syakila begitu. Apa dia masih memikirkan peristiwa kematian papanya? benaknya.
”Apa yang sedang kamu pikirkan? Hum? Katakan saja padaku! Mungkin aku bisa membantu mu!” ucap Geo, lembut.
Syakila menggeleng, ia menegakkan kepalanya. Menghapus air matanya. ”Maaf, bajumu jadi basah karena tangisan ku. Maaf, aku juga memukul-mukul dada mu.” ucapnya.
”Tidak apa-apa! Kamu tahu, ayah ku juga dulu meninggal karena di bunuh. Sampai sekarang aku belum menemukan siapa yang membunuh ayahku. Di setiap ada bukti yang di temukan sama anak buah ku, bukti itu selalu di kecoh kan sama orang.” ungkap Geo, wajahnya nampak sedih.
Beni melirik Geo dari kaca spion. Ia menjadi tidak enak hati. Ia sudah tahu siapa yang membunuh papa mereka. Dan ialah yang selalu merubah bukti itu untuk mengecoh Geo, biar Geo berhenti untuk mencari bukti itu lagi.
Maafkan aku Geo, aku sengaja menyembunyikan itu darimu. Keluarga ku tinggal kamu, Marlina, Antonio. Aku tidak ingin kehilangan kalian bertiga, aku tidak ingin kamu dan Antonio terus berseteru karena dendam. benaknya.
”Jadi, papa mu juga mati di bunuh? Tahun berapa itu?” tanya Syakila, penuh selidik. Matanya memicing melihat Geo.
Geo melihat Syakila, Apa yang dipikirkan Syakila? Apa dia berpikir ayahku juga terlibat dalam kematian papanya? benaknya.
”Satu bulan setelah meninggalnya papamu!” jawab Geo.
”Satu bulan sebelum meninggalnya papaku? Mengapa ayah mu di bunuh?” tanya Syakila lagi.
”Untuk mencari bukti tentang pembunuhan Halim, papamu!”
Syakila terdiam sesaat, ”Mencari bukti atas pembunuhan papa ku? Maksudnya gimana?” tanyanya, penasaran.
Mobil berhenti di parkiran kediaman Albert. Beni dan Rudi segera turun. Beni menurunkan kursi roda Geo.
”Kita sudah sampai, nanti baru kita bicara lagi. Ayo turun!” ucap Geo.
Syakila menurut, ia turun dari mobil. Geo membuka pintu mobil di sampingnya, Beni membantunya turun.
__ADS_1
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam rumah.