Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 58


__ADS_3

Halima nampak istrahat. Ia sangat lelah. Hari pertama ia masuk kerja di sambut dengan begitu banyak pelanggan yang datang. Hamid tersenyum menyaksikan cara kerja Halima dari sebuah cctv yang terhubung ke laptopnya.


”Huff, capek bangat. Ini mah, memang benar-benar sangat menguras tenaga.” keluh Halima pada dirinya sendiri. ”Gila! Kalau begini setiap hari, badanku bukan langsing lagi, tapi berubah menjadi kurus.”


”Apaan, katanya hanya menjaga pakaian anak-anak saja, tapi nyatanya malah menjaga dua-duanya pakaian anak dan dewasa. Mana harus bolak-balik pakai tangga lagi. Kakiku pegal-pegal, jadinya.”


”Hamid sialan, gak bisa apa meskipun itu awalnya aku yang layani di saat beli pakaian anak-anak, gak bisa apa di limpahkan saja ke atas saat menanyakan pakaian dewasa. Biar mereka yang layani begitu, kenapa harus aku lagi?”


”Mana pakai pakaian begini lagi, mana capek, pegal, panas, kepanasan lagi karena bajunya ini. Rasanya pengen banget berenang di air yang sejuk untuk mendinginkan badan.”


Hamid tersenyum senyum sendiri, melihat dan mendengar keluhan Halima. Mukanya Halima tampak gemas saat memperlihatkan ekspresi kesalnya.


”Berani kamu mengatai ku, Halima!”


Hamid keluar dari ruangannya. Ia sengaja menghampiri Halima yang masih duduk bersandar itu.


”Ima, buatkan aku kopi.” titahnya.


"Hah, yang benar saja, Hamid. Aku sangat lelah!” Halima memasang wajah iba.


”Aku tunggu kopi ku sekarang, bawa di ruangan ku.” titahnya lagi sebelum ia masuk kembali ke ruangannya.


"Rese."


Dengan kesal Halima membuatkan kopi untuk Hamid. Dan mengantarkan kopinya ke ruangan Hamid. Halima mengetuk pintu ruangan yang tertutup itu.


Tok tok tok!


”Masuk!”


Halima langsung masuk saat mendengar sahutan dari dalam. Ia berjalan pelan dengan muka kesal dan sebal mendekati meja Hamid.


Ia semakin kesal melihat Hamid yang tersenyum mengejeknya. Halima menyimpan kopi itu pada meja Hamid.


"Silahkan di minum kopinya, Tuan Hamid yang terhormat.” ucap Halima dengan ketus.


"Keluarlah!” titah Hamid. Tanpa mengucapkan terima kasihnya terlebih dahulu.


Halima membelalakkan matanya tidak percaya. Bukannya berterima kasih sudah di buatkan kopi, ini malah di usir, seperti mengusir seorang pengganggu saja. Pikir Halima.


”Tunggu apalagi!” ucap Hamid lagi saat Halima masih berdiri di tempatnya.


”Tidak ada!" sahut Halima dengan ketus. Ia beranjak dari ruangan Hamid dengan beribu kekesalannya pada Hamid.


Hamid tersenyum puas melihat kekesalan di mata Halima. Tanpa ia sadari di hatinya kini mulai tertarik dengan Halima.


.. ..


Sarmi baru keluar dari kamar anak-anaknya, ia menidurkan Endang bersama Syakila, Yuli dan Ita. Kamar yang akan dipakai untuk Ita dan Yuli, di gunakan untuk Denis. Sarmi melihat suaminya yang duduk di sofa. Ia menghampirinya.


”Sayang, mau minum kopi?” tawar Sarmi.


”Tidak, sayang. Perut Papa akan gak muat lagi, sayang.” tolak Halim. ”Anak-anak sudah tidur, sayang?”


”Iya sudah.” jawab Sarmi. ”Papa mengapa Anton membicarakan tentang Syakila dan Sardin? Apa Papa berencana menjodohkan Syakila dengan Sardin?” tanya Sarmi penuh selidik.


”Tidak sayang, Papa tidak ada niatan untuk menjodohkan anak Papa dengan siapapun. Mereka akan mencari jodohnya sendiri-sendiri. Tentang soalan pembahasan Anton tadi, tidak usah Mama pusingkan.” jelas Halim.


”Iya Papa. Mama tidak ambil pusing hal itu. Mama hanya penasaran saja. Soalnya Papa dan Anton terlihat serius tadi saat berbicara.” tukas Sarmi.


”Sebaiknya kita istrahat, Mah. Besok, Mama temani Denis jaga toko. Papa akan mengurus sekolahnya Fatma dan Syakila, besok pagi.”


”Papa, daftarkan mereka berdua di sekolah yang dekat pasar saja itu, yah.” pinta Sarmi.


”Mama tahu dari mana, ada sekolah di dekat pasar ini?” tanya Halim ingin tahu.


”Dari Serlina, istrinya Anton. Dia akan mendaftarkan anaknya di sekolah itu nanti, setelah ia lulus dari TK.” jelas Sarmi.

__ADS_1


”Oh, yah kalau maunya Mama seperti itu, Papa ok ok saja.” sahut Halim. ”Ayok kita istrahat sekarang.”


”Tapi, Mama belum mengantuk, Pa.”


”Udah, nanti Papa akan membuat Mama mengantuk nanti.” ucap Halim sambil mengedipkan sebelah mata dengan tersenyum memandang Sarmi dengan tatapan penuh arti.


”Papa!”


Sarmi terkejut saat Halim menggendongnya. Halim membawa Sarmi masuk ke kamar dan membaringkan tubuh Sarmi dengan pelan di atas ranjang. Sarmi langsung mengalungkan tangannya ke leher Halim dan menciumnya. Halim, membalas ciuman istrinya itu, ciuman mereka lama kelamaan semakin menuntut.


.. ..


Meskipun Halima capek sepulang dari bekerja, ia harus tetap memasak untuk makan malam. Beruntung Mulfa kini sudah mulai bisa memasak, jadi pekerjaan rumah Halima berkurang.


Setelah masak, Halima memanggil Hamid untuk makan. Halima mengetuk pintu kamar Hamid.


Tok tok tok!


”Hamid, keluarlah makanan sudah siap!” teriak Halima.


Setelah itu, ia kembali ke meja makan dan menyendok makanan di piring untuk dirinya. Tidak berselang lama, Hamid datang dengan wajah segar sehabis mandi. Halima memandangnya.


Malam ini dia terlihat begitu tampan.


Hamid menyendok makanan. Mereka makan dalam diam. Setelah selesai makan semua, Halima mengajak Hamid untuk berbicara.


”Hamid, aku ingin berbicara dengan mu. Tapi, ku harap kamu tidak akan marah dan tersinggung dengan ucapan ku nantinya.” Halima berbicara dengan menunduk.


”Ada apa? Katakan saja!” Hamid memandang Halima serius.


Dengan menarik nafas panjang, Halima mulai berbicara tanpa ragu.


”Yang pertama, tolong kalau berada di toko, kamu jangan terlalu memperhatikan aku. Akan sangat tidak enak di pandang karyawan lain. Yang kedua, Aku ingin protes sama kamu. Kamu bilang aku hanya menjaga pakaian anak-anak, lalu mengapa saat dia menanyakan pakaian dewasa padaku, harus aku juga yang melayaninya di lantai atas? Kan di sana ada karyawan yang bertanggung jawab di sana? Yang ketiga, Aku tahu ini rumah mu. Tapi, akan sangat tidak baik pada pandangan masyarakat tentang kita nantinya, kita bukan siapa-siapa tapi kita tinggal satu rumah.”


”Sudah, itu saja yang ingin kamu bicarakan, Halima? Atau masih ada yang lainnya? Katakan saja!”


”Dengar yah, Halima. Ucapan ku ini akan menjawab ucapan pertama dan kedua sekaligus. Jadi, dengarkan baik-baik ucapan ku.” Hamid memandang Halima yang sedang memandangnya. ”Aturan di tokoku, siapapun yang melayani pelanggan di pakaian dewasa maupun anak-anak. Jika pelanggan yang ia layani, menanyakan barang lain padanya, maka ia harus melayaninya sampai selesai. Hingga pelanggan itu keluar dari toko. Itu yang pertama, yang kedua, untuk makanan, kesehatan para karyawan toko sudah menjadi tanggung jawab dari si pemilik toko. Dan si pemilik toko langsung turun tangan kepada karyawan tersebut. Sampai disini apa kamu sudah mengerti?”


Hah! Jadi, itu perhatiannya padaku tadi...itu karena sudah menjadi ketentuan di tokonya. Itu artinya, aku sudah salah paham padanya. Dan aku terlalu percaya diri. Huh, malunya karena sudah membahas ini.


Halima mengangguk dengan pelan sambil menunduk.


”Dan untuk tempat tinggal, aku juga tidak ingin tinggal dengan kalian selamanya. Besok aku akan pindah di rumahku.” lanjut Hamid berucap.


Syukurlah dia setuju dengan itu.


Hamid berdiri dari duduknya.


”Terima kasih untuk makan malamnya. Kalian, istirahatlah! Besok kamu akan bekerja dengan berat Halima. Karena besok pembongkaran barang ada lima karung, dua karung pakaian anak-anak dan tiga karung pakaian dewasa.” jelas Hamid.


Halima mengangguk. Hamid pun melangkah ke kamarnya untuk istirahat. Halima dan Mulfa pun pergi ke kamarnya juga untuk istrahat setelah mereka membersihkan meja makan dan dapur.


.. ..


Hari-hari berlalu dengan cepat. Dengan kesibukan Halima di tokonya Hamid. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan Halim. Dan mereka juga tidak tahu jika Halim sudah kembali dari kampung. Dan Mulfa, karena susah lama tidak bersekolah, ia memutuskan juga untuk bekerja. Dan Hamid merekrut Mulfa juga sebagai karyawannya.


Semenjak pembicaraan Halima dan Hamid di malam itu, mereka tinggal terpisah. Namun, Hamid kadangkala pergi ke rumahnya yang di tinggali Halima untuk sekedar mampir untuk makan bersama.


Dengan beriringnya waktu, kedekatan, kebersamaan yang terjalin di antara mereka, menimbulkan sebuah rasa di antar Halima dan Hamid. Namun, Halima menganggap perasaan itu hanyalah perasaan biasa.


Sedang Hamid, ia tahu perasaannya itu, adalah rasa cinta untuk Halima. Namun, ia tidak berani untuk mengutarakan perasaannya.


Fatma dan Syakila lanjut sekolah di sekolah yang di inginkan Sarmi. Dengan pelan-pelan, Halim mengajari Sarmi tentang berdagang. Sarmi yang memang cerdas, ia mudah untuk mengerti dengan cepat. Jadi, Halim mempercayakan toko pecah lebah untuk di kelola Sarmi.


Denis sekarang sudah menjaga tokonya sendiri. Ia membuka agen aksesoris. Percintaannya dengan Samnia berlanjut. Mereka berdua telah bertunangan dengan sederhana. Hanya anggota keluarga saja yang hadir dan mereka akan melangsungkan pernikahannya di tahun berikutnya.


Jika ada kesempatannya, Halim memantau rumah Albert. Ia ingin bertemu dengannya, untuk mengembalikan uang tunai Satu milyar itu langsung padanya. Dan untuk tiap bulannya, Halim membayarnya dengan tepat waktu. Namun, hak itu belum di ketahui oleh Sarmi.

__ADS_1


Hari ini Hamid ingin bertemu dengan Denis, jadi sore ini ia mengajak Halima dan Mulfa untuk ke toko Halim. Karena sekalian, Halima dan Mulfa ingin berbelanja kebutuhan mereka.


Sesampainya di sana, Hamid, Halima, dan Mulfa terkejut dengan hadirnya Halim.


”Halim.” ucap Halima dan Hamid bersamaan.


”Si penipu.” ucap Mulfa.


Halima yang sudah merindukan Halim, dengan tiba-tiba ia berlari dan memeluk tubuh Halim dengan erat. Halim terkejut.


Dan ia lebih terkejut lagi saat ia melihat kehadiran sang istri bersama Fatma dan Syakila di tokonya yang berdiri tepat di belakang Hamid.


”Papa” ucap Fatma dan Syakila bersamaan dengan raut wajah kecewa. Sedangkan Sarmi, ia hanya memandang mereka tanpa berkedip.


Hamid pun terkejut dengan sikap Halima yang tiba-tiba memeluk Halim, dan perasaannya semakin tidak enak setelah mendengar seseorang memanggil Halim dengan papa.


Ia menoleh. Ia bertatapan langsung dengan Sarmi, wanita yang pernah di cintainya dulu, dan wanita yang sudah membuat dirinya memiliki rasa penyesalan.


Sarmi, sudah lama aku tidak melihat mu. Kamu semakin cantik saja, padahal kamu sudah memiliki enam orang anak. Tapi, wajahmu, tubuhmu tidak berubah. Masih tetap cantik seperti masa remaja mu.


”Hamid.”


”Sarmi.” ucap mereka berdua bersamaan.


Halim melepaskan pelukan Halima.


”Halima, tolong jaga sikap mu! Jangan ulangi hal semacam ini lagi!” tegas Halim.


Sarmi mengerti satu hal setelah ia mendengar tuturan suaminya yang menyebut nama Halima.


Inikah, wanita yang di maksud suamiku? Dia bercadar, bagaimana bisa dia di perangkap untuk menjadi wanita penghibur?


Sarmi menghampiri Halim bersama Fatma dan Syakila. Sarmi mengambil tangan Halim dan mencium punggung telapak tangannya. Syakila dan Fatma pun demikian, meskipun masih. memasang wajah kecewanya.


”Papa, siapa wanita ini? Papa selingkuh?” Fatma dan Syakila bertanya dengan serius kepada Halim. Halima memandang Sarmi dan kedua anaknya.


Ini istrinya Halim? Dan anak berdua ini, anaknya Halim? Istri Halim memang cantik. Pantas saja dia tidak tergoda oleh ku.


Halim memandang wajah Sarmi, lalu ia memandang Hamid. Dan melirik Halima dan Mulfa. Halim mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Fatma dan Syakila.


”Em, Fatma, Syakila, ini__”


”Fatma, Syakila, kenalkan Om bernama Hamid. Dan ini dia pacar Om, namanya tante Halima. Dan ini adalah adiknya namanya Mulfa.” ucap Hamid menyela ucapan Halim. ”Kalian bisa memanggil mereka dengan tante Ima dan kakak Upa.”


”Tapi, kenapa dia dengan Papa berpelukan? Itu kan tidak boleh!” protes Syakila.


”Sayang, itu karena tante Ima dan Papamu adalah teman. Mereka sudah lama tidak bertemu. Jadi, saat mereka bertemu mereka sangat bahagia hingga lupa diri.” jelas Sarmi kepada Syakila dan Fatma sekaligus menyindir Halim dan Halima. Hamid memandang takjub pada Sarmi.


Sungguh bijak kamu Sarmi, aku benar-benar menyesal telah salah sangka padamu dulu.


”Iya sayang, Tante Ima dan Papa hanyalah teman.” Halim membenarkan ucapan Sarmi. ”Papa minta maaf karena kalian sudah melihat ini. Papa salah. Jangan marah sama Papa. Tante Ima hanya merasa senang saja setelah bertemu Papa. Tentunya disini ada pacarnya, jika tidak ada mungkin Tante Ima juga tidak berani untuk memeluk Papa seperti itu.” jelas Halim.


Halima dan Hamid hanya terbengong mendengar ucapan Halim dan Sarmi yang mencoba memberi pengertian kepada anaknya.


”Papamu sudah mengaku salah, dan Papa juga sudah meminta maaf. Jadi, Fatma, Syakila, maafin Papa, yah. Dan kalian juga jangan marah sama Tante Ima. Mama dan Papa harap, kalian bisa berteman baik dengan Tante Ima, kakak Upa, dan Om Hamid. Ok” jelas Sarmi lagi.


”Iya Mama, kami mengerti. Papa, maafin kami. Kami sudah salah paham sama Papa dan nuduh Papa yang bukan-bukan.” ucap Syakila dan Fatma pada Halim.


"Iya sayang, Papa maafin.” sahut Halim. Ia mencium kening Fatma dan Syakila bergantian.


”Mama, Papa, Kami pergi ke rumah dulu. Bermain sama adik.” Pamit Syakila dan Fatma. Mereka berdua melihat Hamid dan Halima juga Mulfa. ”Om, Tante, Kakak. Kami pergi dulu.”


”Iya sayang.” sahut Halim dan Sarmi.


”Iya Fatma, Syakila.” sahut Hamid, Halima, dan Mulfa.


Fatma dan Syakila pun pergi kerumah dengan berlari kecil. Kini tinggal mereka orang dewasa yang ada di sana. Suasana menjadi canggung seketika.

__ADS_1


__ADS_2