Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 147


__ADS_3

Di kediaman Sarmi, kamar Syakila.


”Geo? Tengah malam begini, ada apa menelfon ku? Apakah ingin memastikan aku ada di rumah atau tidak?” gumam Syakila.


”Jika ingin bicara, mengapa tiba-tiba di matikan? Apa aku ulang telfon dia saja?” gumamnya lagi.


Syakila bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang. Ia menghubungi Geo. Telfon tersambung.


”Ada apa?” tanya Geo, suaranya terdengar ketus.


Syakila terdiam, Suaranya terdengar ketus. Cepat juga dia angkat telfonnya. Apa ada masalah ya di sana? benaknya.


”Em, Geo. Kamu belum tidur? Mengapa tiba-tiba menelfon ku?” jawabnya.


”Tidak ada apa-apa. Aku salah tekan nomor, kamu belum tidur?” sahut Geo, berbohong.


”Aku belum ingin tidur, belum mengantuk. Kamu sendiri mengapa belum istirahat?”


Geo terdiam, Apa karena masih memikirkan Sardin hingga membuat mu tidak ingin tidur? benaknya.


”Mengapa belum tidur? Tidak bisa tidur? Hal apa yang mengganggu pikiran mu?” ucapnya kemudian.


”Tidak ada, hanya tidak bisa tidur saja.” Syakila. menjeda ucapannya. ”Geo.” panggilnya dengan suara pelan.


”Hum, kenapa?” sahut Geo, nada suaranya berubah, pelan dan lembut.


Syakila terdiam, Mendengar suara pelan dan lembutnya, membuat ku tenang. benaknya.


Ia kembali membaringkan tubuhnya, memiringkan badannya. Ia memasang handshat di telinga dan menyimpan handphone di atas ranjang. Ia memejamkan mata.


”Kenapa diam?” tanya Geo, suaranya masih terdengar lembut.


”Geo, aku minta maaf. Aku meninggalkan mu begitu lama di rumahnya Al. Marah mu tadi wajar. Aku memang salah, aku minta maaf.” ucap Syakila.


Geo terdiam. Syakila juga terdiam, menunggu sahutan Geo. Namun, pria itu enggan berbicara.


”Geo, mengapa kamu tidak menyahuti ku? Apa kamu masih marah padaku?” ucap Syakila lagi bertanya.


”Apa kamu sedang memikirkan aku, makanya kamu gak bisa tidur?” Geo menjeda ucapannya sebentar, ”Aku tidak tahu bagaimana menyahuti mu. Setelah kamu pergi, aku berfikir, apakah aku pantas memarahi mu seperti tadi? Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan kita kan? Jadi aku pikir mungkin aku sudah berlebihan.” ucapnya lagi.


Dengan berbicara seperti ini. Aku ingin tahu bagaimana tanggapan mu. benak Geo.


Ia mendengar Syakila menghela nafas.


”Geo, kita masih dalam ikatan pernikahan, marah mu itu masih wajar. Aku minta maaf atas salah ku itu. Aku pergi terlalu lama, membuat mu makan di sore hari. Kamu pasti sudah menahan selama beberapa jam. Aku minta maaf, Geo.” sahut Syakila.


Geo tersenyum, ”Jadi, selama kita masih dalam hubungan pernikahan, jika kamu melakukan hal yang salah sebagai istri, apa aku boleh memarahi mu?” tanyanya.


”Iya,”


”Apa selama kita masih dalam hubungan pernikahan, aku boleh ikut andil dalam melarang atau mengizinkan mu untuk bepergian?”


”Iya,”


”Apa kita juga boleh melakukan hal yang wajib di lakukan sebagai suami istri?” tanya Geo lagi.


Syakila terdiam, ia membuka matanya. ”Selain melakukan hal yang di atas ranjang, kita bisa melakukan hal umumnya sebagai suami istri.” jawabnya.


Geo tersenyum kecut, ”Aku mengerti! Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu tidur. Aku matikan telfonnya.” ucapnya.


Ah, mengapa cepat sekali dia ingin mengakhiri panggilan ku? Aku sangat tenang dan nyaman mendengar suara lembutnya seperti ini, tidak ingin cepat-cepat di akhiri. benak Syakila.


”Tidak, jangan matikan dulu.” cegah Syakila.


”Kenapa? Masih ada yang ingin kamu bicarakan?”


”Bagaimana perawatan mu di sana? Apa Ijan membelikan mu makanan tadi? Aku menyuruhnya untuk membelikan makanan untuk mu.”


”Tidak, aku melarangnya untuk membelikan makanan. Aku sudah makan malam bersama guru mu.” sahut Geo.


Ia mendengar suara Syakila yang menguap.


”Kamu sudah mengantuk? Sebaiknya kamu tidur saja.” ucapnya lagi.


”Geo, aku pernah mendengar suara mu bernyanyi. Aku melihat video mu di hapenya Beni. Boleh kah aku mendengar kamu bernyanyi. Mendengar suara lembut mu, aku seperti tenang.” sahut Syakila jujur. Ia mengabaikan ucapan Geo yang menyuruhnya untuk tidur.


Geo terdiam. Hebat kamu Syakila, pikiran mu sedang terganggu dengan Sardin. Kamu malah menyuruh ku untuk menghibur mu. Tapi tidak apa, semoga ini awal baik untuk kedekatan kita. benaknya.


Geo tersenyum, ”Kamu ingin aku menyanyikan lagu apa untuk mu?” tanyanya.


”Terserah mu saja.” jawab Syakila.

__ADS_1


”Kamu gak berniat mendengarkan aku bernyanyi kan? Pikiran mu sedang memikirkan hal lain. Apa harus aku menyanyikan lagu untuk mu, yang kamu sendiri tidak niat mendengarkan?” tanya Geo lagi.


”Aku akan mendengar mu. Bernyanyinya lah.” jawab Syakila.


Geo terdiam, Bermohon lah padaku, aku akan bernyanyi untuk mu. benaknya.


”Sebaiknya kamu tidur saja.” sahut Geo.


”Ku mohon! Aku ingin mendengar mu bernyanyi. Kali ini saja, bisa kah?”


Geo terkejut, ”Kamu sangat ingin mendengar ku bernyanyi?” ia kembali bertanya untuk memastikan.


”Iya,”


”Baiklah.”


Geo terdiam sesaat.


”Menantimu hingga saat


Cintaku temukan dirimu


Usai sudah sampai di sini


Berdiri melabuhkan asmara.”


Syakila memejamkan mata menikmati suara merdu Geo yang bernyanyi.


Tidak menyangka hati dan pikiran ku tenang mendengarnya bernyanyi. benaknya.


”Menikah dengan ku


menempatkan cinta


melintasi perjalanan usia


Menikah dengan mu


menempatkan jiwa


bertahtakan kesetiaan cinta selamanya.”


Geo mengulang menyanyikan bagian reff nya.


”Bagaimana? Sudah puas?” tanya Geo, setelah ia selesai bernyanyi.


Tidak ada sahutan dari sang penelepon.


”Apa kamu sudah tidur? Syakila?” tanya Geo lagi.


Masih gak ada sahutan. Geo mematikan sambungan.


Ia menghela nafas, ”Dasar gadis ini! Entahlah apa dia sudah tidur atau pura-pura tidur saja!” gumamnya.


Drrrt drrrt! Geo melihat ke layar handphonenya. Tatapannya berubah tajam, itu adalah telfon untuk Syakila bukan untuk dirinya.


”Sardin? Mengapa dia menelfon Syakila tengah malam begini?” gumamnya.


Ia terus melihat layar handphonenya yang masih berbunyi. ”Mungkinkah Syakila benar-benar sudah tidur?” gumamnya lagi.


Ya, Syakila telah tertidur, handset terlepas dari telinganya saat ia berbalik. Namun, handset tersebut belum terlepas dari handphone, sehingga Syakila tidak mendengar suara handphonenya yang berbunyi.


Geo tersenyum senang, Dia benar-benar tidur, jika belum, pasti ia sudah mengangkat telfon dari pria yang di cintai nya itu. benaknya.


Handphone tidak berdering lagi. Menit berikutnya, handphone Geo kembali berdering, Geo masih melihat nama ”Sardin memanggil” di layar hapenya. Ia mengatur handphonenya ke dalam mode silent, lalu ia tidur.


Rivaldi membuka mata, Tidak di sangka Geo juga memiliki sisi romantis. suaranya saat bernyanyi sangat merdu dan bagus. Dari pembicaraannya yang ku tangkap. Dalam pernikahan mereka memang tidak utuh. Dan apakah mereka sudah saling sepakat untuk berpisah nantinya? Mengapa Geo bertanya seperti itu pada Syakila? Bukan kah dia bertekad mempertahankan Syakila di sisinya? Selagi mereka masih dalam hubungan pernikahan, bukankah terdengar aneh? Apakah aku bisa berharap untuk bisa memiliki Syakila? Tapi, aku tidak ingin berebut wanita dengan pria seperti dia, konsekuensinya mungkin tidak bisa aku tanggung. benaknya.


Ia menghela nafas, lalu kembali memejamkan mata.


.. ..


Keesokkan paginya, di kediaman Sarmi.


Syakila terbangun mendengar suara kicauan burung-burung. Ia mengerjap, membuka matanya.


Semalam aku tidur dengan nyenyak, ah...itu karena suara lembut dan merdu Geo yang bernyanyi untuk ku. Tak sadar aku tertidur


Apa dia akan marah karena aku tidak mendengar ataupun menyahuti ucapannya saat ia selesai bernyanyi? Apa aku harus ulang menghubunginya dan meminta maaf?


Ia bangun dan duduk tegak di atas ranjang. Ia meraih handphonenya. Melihat ke layar ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Sardin.

__ADS_1


Syakila terkejut, karena ia tidak tahu Sardin menelfon nya semalam. Ia menelfon balik nomor Sardin.


Tanpa Syakila sadari, seorang pria yang berstatus suaminya, sedang menatap layar handphone dengan tajam dan marah. Ia ingin membanting handphone tersebut, tetapi, ia ingin mendengar apa yang akan di bicarakan oleh Syakila dan Sardin. Untuk itulah, ia sekarang sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


”Halo, ini siapa?” tanya Sardin, ia belum sadar sepenuhnya menerima telfon dari Syakila.


”Kak Sardin? Selamat pagi, apa kakak masih tidur? Apa aku sudah mengganggu mu?”


Mata Sardin melebar, ia segera bangun dan duduk bersandar.


”Selamat pagi, Syakila. Kamu tidak menggangu, kakak sudah bangun, ada apa?”


”Kakak, maaf, semalam aku tidak tahu kalau kakak menelfon. Syakila sudah tertidur, dan handphone aku ubah dalam mode silent. Jadi, aku minta maaf kak, aku tidak tahu kakak menelfon semalam.” ucap Syakila.


”Oh, tidak apa-apa.” singkat, Sardin menyahuti.


Geo terdiam di tempatnya, Wanita ini berbohong pada Sardin, semalam hapenya bukan di silent tetapi ia tertidur karena nyanyian ku. Apakah dia sengaja berbohong untuk menjaga perasaan Sardin? Pacar yang baik sekali!! benaknya.


Ia masih mendengar pembicaraan Syakila dan Sardin.


”Apa yang ingin kakak bicarakan, semalam?” tanya Syakila penasaran.


”Itu, pikiran kakak tidak tenang akan permintaan mama padamu. Kakak ingin membahasnya bersamamu, karena kakak pikir, kamu tidak akan bisa tidur dengan tenang semalam, karena memikirkan hal itu.”


”Em, kakak ingin aku bagaimana?”


”Sekarang kakak ingin tanya Kila, Kila jawab kakak dengan jujur. Ok?”


”Iya, kakak.”


Kening Geo nampak mengerut, Jadi, ini mereka ingin membahas tentang permintaan Nesa pada Syakila? Baiklah, bagian ini tidak bisa aku lewati begitu saja, aku harus dengar!! benaknya.


”Apa Kila setuju kakak untuk menikahi wanita lain?” tanya Sardin.


”Jika Kila menjawab ”Tidak” apa kakak akan berpikir Kila ini sangat egois?”


”Tidak. Jadi, kamu jawab kakak.” sahut Sardin.


”Kila tidak setuju kak, Kila tidak bisa melihat kakak dengan wanita lain. Baru memikirkannya saja, hati Kila sakit kak. Tapi, Kila tidak berdaya di hadapan mama kakak kemarin. Apa yang harus Kila jawab pada mama mu? Apa harus Kila bilang jika hubungan pernikahan aku dan Geo tidak benar? Kami akan berpisah dan aku akan menikah dengan kakak? Aku tidak mungkin akan mengatakan itu pada mama mu.” ucap Syakila.


”Kila juga tahu, Kakak tidak mungkin akan bilang ke mama kakak seperti itu kan? Bahwa kakak dan aku sudah berjanji untuk saling menanti sampai aku dan Geo bercerai lalu kita berdua menikah. Kakak tidak akan mengatakan itu kan? Jadi, Kila hanya membenarkan apa kata mamanya kakak. Usia kakak memang sudah harus menikah. Tapi, jujur Kila tidak sanggup mengambil tangan kakak dan memberikan tangan kakak pada wanita lain untuk di genggam. Kila tidak bisa memenuhi permintaan mama mu untuk membujuk mu menikahi Nita. Kila tidak bisa kak...hu...hu...hu... Kila tidak bisa.” ucap Syakila lagi sambil menangis.


Geo sangat marah dan kecewa mendengar ucapan jujur Syakila pada Sardin. Ia tidak menduga jika Syakila dan Sardin sudah saling berjanji untuk saling menunggu sampai dia dan Syakila bercerai untuk menikah.


Lebih sakit lagi hatinya saat ia tahu begitu besarnya cinta yang Syakila berikan untuk Sardin.


”Kila, jangan menangis...kakak tidak bisa mendengar mu menangis. Hati kakak ikut sedih mendengar tangisan mu. Kamu tahu kakak kan? Jika kakak sudah mengatakan janji, sama seperti Kila selalu mematuhi janji. Jadi, Kila jangan bersedih, yang penting Kila tidak menjanjikan sesuatu pada mama ku. Kila dan kakak tetap akan menikah setelah Kila dan Geo bercerai nanti. Janji kakak adalah kakak akan menikah bila pengantin kakak itu adalah Syakila anak dari Halim dan Sarmi bukan orang lain.” sahut Sardin dengan penuh keyakinan.


”Apa hatimu sudah mulai tenang setelah mendengar ucapan kakak ini?” tanyanya.


”Kila tidak bisa tenang dengan begitu mudah kak. Kila tahu, kakak sangat memegang teguh pada janji. Tapi, ini masalahnya terletak pada keinginan orang tua kakak. Kila mencintai kakak, tapi, Kila tidak bisa melihat kakak berkata kasar atau bersikap kasar kepada orang tua kakak. Aku...aku tidak tahu...aku tidak yakin...apakah kakak akan masih memegang teguh pada janji atau tidak? Jika orang tuamu sudah mendesak mu untuk segera menikah dan lagi jika mama mu akan datang meminta bantuan ku untuk membujuk mu menikah. Aku...aku....”


”Jangan banyak berfikir! Percayakan semua pada kakak. Janji kakak pada Kila, kakak akan penuhi, meskipun itu di akhir nafas kakak. Kakak akan tetap menikahi mu.” ucap Sardin, memangkas ucapan Syakila.


”Kakak, jangan berbicara seperti itu. Sewaktu kakak pingsan di hari pernikahan dadakan ku dengan Geo. Kila tidak bisa bernafas dengan lega. Mendengar kakak baik-baik saja, baru Kila bisa menghirup udara seperti biasa. Jadi, kakak jangan bicara seperti itu, Kila bisa mati duluan di banding kakak nanti.” sahut Syakila.


Geo tersenyum kecut. Apakah itu artinya Syakila sudah memberikan hidup dan matinya kepada Sardin? Cinta mereka sudah sampai mana sebenarnya? Apakah mereka sudah.... sering... saling merasakan....? Jika bukan, bagaimana bisa jiwa mereka bersatu, bahkan hati mereka berdua juga menyatu.


Cewe matre dan ****** seperti dia, kenapa bisa buat aku seperti ini? Aku benar-benar di buat jatuh cinta yang begitu dalam dari wanita matre dan ****** ini. benaknya.


”Baiklah, kakak tidak akan berbicara macam-macam. Hehehehe..” Sardin tertawa kecil.


”Apa yang kakak tertawakan?”


”Hemp, kita seperti pasangan yang hidup semati. Terjadi apa-apa dengan mu, aku merasakannya. Terjadi apa-apa dengan ku, kamu merasakannya juga. Tubuh, hati, dan jiwa kita seperti terikat satu sama lain. Tapi, kenapa untuk kita bersatu sangat sulit? Takdir sangat mempermainkan cinta kita seperti ini. Bagaimana jika salah satu di antara kita meninggal duluan? Apa yang akan kita lakukan?” ucap Sardin.


”Aku...mungkin akan bunuh diri untuk pergi bersama, jika di antara kita ada yang pergi.” ucap Syakila dan Sardin bersamaan.


Geo semakin marah dan tidak senang. Ia mematikan hapenya dan membuangnya begitu saja di atas tanah. Jika Ijan tidak berada di belakangnya, mungkin hape mahal itu tidak akan terpungut.


”Mengapa kita bisa mengucapkan kata itu bersamaan?” tanya Syakila.


”Tidak perlu kakak jelaskan lagi, kamu sudah tahu jawaban atas pertanyaan mu itu. Kila...karena kamu sudah agak tenang sekarang. Kakak matikan telfonnya ya, kakak ingin mandi dulu, gerah dan sangat panas.”


”Iya, kakak. Syakila juga ingin mandi.”


”Mau mandi bersama?” tanya Sardin, sengaja menggoda Syakila.


”Setelah kita menikah, kita akan mandi bersama.” sahut Syakila.


”Hum, kakak sangat menantikan saat itu. Kakak matikan telfonnya. I love you...”

__ADS_1


”I love you to.. kakak.” sahut Syakila. Tut tut tut, Sardin memutuskan sambungan telfonnya.


__ADS_2