Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps18


__ADS_3

"Apa ia papa dan kak Sardin sedang merindukan aku? Yah mungkin saja, sampai-sampai mereka datang mengunjungi ku lewat mimpi, apa aku boleh mempercayai mimpi itu?"


Nampaknya Syakila sedang bimbang karena mimpi yang baru saja ia alami. Meskipun itu hanya mimpi tapi seakan begitu nyata sekali baginya.


Dan sekarang pun badan Syakila sudah agak segar, tidak lemas lagi seperti tadi pagi. Lama Syakila bergumam sendiri, akhirnya ia menghentikan gumamnya dan khayalan akan mimpinya tadi.


Syakila bangkit dari kasurnya dan mengganti pakaian sekolah lalu ia pergi ke dapur memasak sesuatu untuk mengisi perutnya yang kosong.


Setelah masak iapun memakannya dan setelah selesai makan ia mengerjakan pr-nya. Untuk mengisi waktunya, ia pergi ke rumah bibinya untuk mengunjungi kakaknya disana.


Syakila telah sampai di rumah bibinya dan ia mendapati bibinya sedang duduk santai di kursi depan rumahnya. Syakila menyapanya. "Assalamu 'alaikum, Bibi."


"Wa 'alaikum salam, Nak. Tumben kerumahnya Bibi? Biasanya kalau gak di paksa sama Resti, kamu gak bakalan kesini." ucap sang Bibi menyindir Syakila.


Syakila menyahut ucapan bibinya dengan santai. "Hehehe Bibi jangan bilang begitu, Syakila datang kerumah Bibi tidak pernah terpaksa, kok."


"Oh ya Bibi, gimana kabar kakak Fatma, kami sudah jarang ketemu, dan ia sudah tidak jalan-jalan lagi ke rumah." lanjutnya lagi berucap sekaligus bertanya tentang keadaan kakaknya, si Fatma.


Sang bibi menjawabnya dengan sedikit kasar, "Fatma baik-baik saja, tidak usah tanyakan kakakmu, kehidupan kakakmu disini jauh lebih baik."


Syakila yang mengerti akan maksud ucapan bibinya, ia tersenyum kecil, lalu ia berkata padanya.


"Alhamdulillah, kalau kakak baik-baik saja. Bibi, kehidupan kami juga tidak jauh beda dengan kehidupan kakak disini. Biar bagaimanapun kebutuhan kami, orang tua kami selalu bisa penuhi."


Sang bibi terdiam mendengar ucapan sopan dari anak kemenakannya itu, ia berbicara menyindir secara halus menyahuti ucapannya.


"Bibi, nanti bilang kakak untuk datang menemui ku di rumah besok. Aku ingin mengajak kakak menengok mama dan adik-adiknya di kebun besok, nenek juga ingin menemui kakak." ucapnya lagi.


Bibi Mila mengangguk, "Hum, nanti Bibi sampaikan pada kakakmu, tapi Bibi tidak yakin kalau dia akan ikut ke kebun." sahut sang bibi.


Syakila tersenyum, "Iya Bibi, kalau kakak merindukan mama dan adik-adiknya, juga nenek, kakak pasti akan ikut Asya ke kebun." ucapnya dengan penuh percaya diri. "Asya pamit pulang dulu Bibi." lanjutnya lagi berpamitan.


"Hum," sahut sang bibi singkat. Syakila langsung pulang kerumahnya setelah mendengar sahutan singkat bibinya.


Kakak sudah berubah semenjak tinggal bersama bibi. Sikapnya kepada kami sudah sangat acuh. Bahkan sama papa dulu waktu papa berpamitan untuk pergi ke kota A, sikap kak Fatma bersikap seperti ia bukan anak dari papa.


Sikap kakak memang sudah acuh sewaktu masih tinggal bersama kami, tapi tidak separah sekarang. Dulu kakak masih peduli pada mama dan papa. Tapi sekarang acuhnya sudah lain. Kakak seperti sudah tidak peduli dengan keberadaan kami.


Apa sikap kakak seperti ini karena.. karena kehidupan mama tidak sama dengan kehidupan bibi? Ah tidak! Itu hanya perasaanku saja.


Syakila terus membatin selama ia berjalan pulang kerumahnya.

__ADS_1


.. ..


Sesuai dengan rencananya, kini Nanda berada di kebun untuk menemui Sarmi, mantan saudara iparnya. Ia ingin memperjelas lagi kabar yang di dengarnya.


Sarmi yang kebetulan sore itu sedang bersantai di gode gode, ia tersenyum bahagia melihat kehadiran Nanda di kebunnya. Sarmi menyambut Nanda dengan penuh hangat, meskipun mereka sudah tidak saling berhubungan keluarga lagi semenjak Nanda resmi bercerai dengan Ikhsan, kakak dari suaminya. Tapi mereka tetap menjalin silaturahmi sebagai sesama masyarakat, bahkan mereka sudah beranggapan kakak dan adik.


"Kak Nanda? Mari kak, duduk disini." ajak Sarmi sambil menepuk-nepuk lantai gode gode di sampingnya.


Nanda pun duduk di samping Sarmi. "Kakak kesini sendirian? Apa yang membuat kakak sampai datang menemui ku, disini?" tanya Sarmi lagi setelah Nanda duduk di sampingnya.


"Kakak.." Nanda menjeda ucapannya. "Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu, tapi sebelumnya kamu jangan tersinggung dengan ucapan kakak." lanjutnya lagi berucap.


"Tentang apa itu, kakak? Sepertinya sangat penting, ya kah?" tanya Sarmi penasaran.


Nanda melihat ke arah Sarmi, jujur saja ia ragu untuk berbicara namun ia juga penasaran jika tidak membicarakan ini secara langsung.


"Ada apa kak?" tanya Sarmi lagi ketika Nanda masih setia dengan diamnya.


"Ini tentang mu, Sarmi. Kakak mendengar kabar kalau mas Halim pergi merantau ke kota A, apa itu benar?" tanya Nanda dengan berhati-hati.


Ah! Rupanya kabar itu sudah tersiar, bahkan sampai pada telinga Nanda yang tinggalnya di kampung sebelah dari kampung ku. Huh! Ini pasti di sebar luaskan oleh Ayu. batin Sarmi


Nanda menggeleng, "Bukan dari Ayu, tapi dari tetangga kakak di pasar. Jadi kakak ingin memastikan sendiri kebenaran itu." jawab Nanda menjelaskan. "Jadi, apa itu benar?" tanyanya lagi.


"Iya kak, itu benar! Mas Halim sudah tiga Minggu di sana." jawab Sarmi sambil menunduk.


"Mengapa kamu mengizinkannya? Apa kamu tidak bisa bercermin dari rumah tangga kakak yang sudah hancur?" ucap Nanda bertanya penuh tekanan di akhir kalimatnya.


Sarmi menunduk mendengar pernyataan Nanda, Inilah maksud Sarmi agar berita kepergian suaminya tidak tersebar. Ia tidak ingin sampai Nanda mendengarnya. Karena dulu Nanda pernah mengikat Sarmi dengan sebuah janji untuk tidak mengizinkan Halim merantau ke kota A, Ia tidak ingin melihat rumah tangga Sarmi hancur seperti rumah tangganya. Biar bagaimanapun Halim dan Ikhsan saudara kandung, dan sikap mereka kurang lebih hampir sama.


"Maafkan aku, kak!" ucap Sarmi meminta maaf karena merasa bersalah sudah tidak menepati janjinya kepada Nanda.


"Aku tidak bisa menahan niat baik dari suamiku, aku juga tidak bisa melihat dia kecewa karna aku tidak mengizinkannya pergi hanya karna keegoisanku." lanjutnya lagi.


Nanda menghela nafas panjang. "Sebenarnya kakak juga tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan kalian, kakak hanya tidak ingin apa yang sudah kakak alami, kamu juga akan mengalaminya." ucapnya sambil terisak, membayangkan kembali peristiwa pahit yang ia lalui dulu.


Sarmi merangkul bahu Nanda dan membiarkan Nanda menyandarkan kepala di bahunya. Sarmi bisa mengerti maksud dari ucapan Nanda. Sarmi juga tahu bagaimana cinta Nanda dan mas Ikhsan dulu. Sarmi ikut menangis saat tangis Nanda semakin pecah.


"Sudah, sudah, tidak ada lagi yang perlu di tangisi." ucap Sarmi menenangkan Nanda sambil mengelus bahunya. Meski ia sendiri juga sedang menangis. "Semuanya sudah berlalu, bukankah sekarang kakak sudah bahagia dengan mas Askur?" ucapnya lagi bertanya.


"Bagaimana jika mas Halim akan melakukan hal yang sama seperti mas Ikhsan, Sarmi?" tanya Nanda dengan sedih dan masih terisak.

__ADS_1


Sarmi tersenyum kecut. Ia juga tidak tahu akan berbuat seperti apa jika itu terjadi juga padanya. Mungkin ia tidak akan setabah Nanda.


"Kak, aku tidak tahu bagaimana kepribadian dari mas Ikhsan, tapi aku tahu bagaimana kepribadian dari suamiku." Sarmi terdiam sebentar. Ia menghela nafas panjang. "Aku hanya bisa pasrah kepada Allah, jika sudah takdirku seperti itu, aku tidak bisa menghindarinya." Sarmi kembali terdiam lalu ia melanjutkan ucapannya. "Aku percaya dengan suamiku, kak. Insya Allah, Allah akan melindungi suamiku dari perbuatan yang akan merugikan dirinya."


"Aamiin," sahut Nanda mengamini ucapan Sarmi. Nanda menghapus air matanya. "Maafkan kakak yah membicarakan ini padamu." lanjutnya ia berucap.


"Tidak apa-apa, kak. Aku tahu niat kakak juga baik untukku." sahut Sarmi sambil tersenyum.


"Sebaiknya kakak pulang sekarang!" perintahnya kepada Nanda. "Kasihan mas Askur dan anak-anak kakak, nanti mereka mencari keberadaan kakak. Aku tahu kakak kesini tanpa berpamitan dengan mas Askur, kan?" tanyanya penuh selidik.


Nanda tersenyum tipis, "Iya, kakak memang tidak izin sama mas Askur untuk kesini, tapi kakak meminta izin kepada mama mertuaku. Dan beliau mengizinkanku." sahutnya menjelaskan.


Nanda menghapus sisa air matanya. "Kalau begitu kakak pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik, dan jika ada kabar tidak baik tentang suamimu, tolong beritahu kakak." ucapnya penuh harap agar Sarmi mengingat ucapannya ini.


Nanda yang tidak mempunyai seorang adik, setelah ia menikah dengan mas Ikhsan dan semenjak Sarmi menikah dengan mas Halim, adik dari mas Ikhsan, Nanda sudah menganggap Sarmi seperti adik kandungnya sendiri. Ia sangat menyayangi Sarmi.


Sarmi tersenyum senang pada Nanda, "Iya kak, Sarmi akan memberitahu kakak jika ada hal yang tidak baik tentang suamiku." ucapnya dengan tegas.


"Janji yah?" sahut Nanda yang tidak percaya dengan ucapan Sarmi. "Aku janji, kak! Sumpah!" ucap Sarmi meyakinkan Nanda.


Akhirnya Nanda percaya dengan ucapan Sarmi, ia pun berpamitan pulang. "Kakak pulang sekarang."


"Ia kak, hati-hati di jalan!" sahut Sarmi. Nanda pun segera pulang ke rumahnya, sebelumnya ia mengasikan beberapa jenis kue kepada Sarmi untuk di berikan kepada anak-anaknya Sarmi.


.. ..


Sore ini sama halnya seperti tadi pagi, Halim menyimpan jualannya sendirian. Ia memasukkan barang-barang kedalam toko semua, sesuai letaknya dan setelahnya ia menutup dan mengunci pintu toko.


Lalu ia segera pulang kerumah untuk beristirahat sejenak, sebelum masuk waktu Maghrib.


"Mungkin ini baru awal-awal bekerja, badan terasa begitu capek. Beda sekali seperti Denis, ia seperti tidak mengenal lelah, mungkin benar ucapannya, seiring waktu nanti semua sudah mulai terbiasa. Untuk cape mungkin tetap capek tapi capeknya tidak akan seperti sekarang yang ku rasakan."


Gumam gumam kecil Halim di sepanjang perjalanan pulang kerumah. Sesampainya di rumah ia di sambut hangat oleh Denis yang sedang duduk santai di bangku teras rumah.


"Bagaimana, Bang? Apa Abang bisa mengerjakannya sendiri? Tidak sulit kan, Bang?" Denis mencerca Halim dengan berbagai pertanyaan.


"Hum," jawab Halim singkat sambil duduk di bangku sebelah Denis. "Lumayan capek juga!" lanjutnya berucap.


Denis tertawa kecil mendengar keluhan Halim. "Itu baru awal-awal aja Bang, lama-lama akan jadi terbiasa, dan Abang akan malah menyukai pekerjaan Abang sekarang. Sukses butuh perjuangan dan pengorbanan, Bang!" ucapnya memberi nasehat dan memotivasi Halim agar tetap semangat.


"Hum." sahut Halim singkat. Mereka berdua masih duduk bersantai di teras rumah. Hingga mereka mendengar suara tahrim di mesjid, mereka segera masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri untuk menunaikan sholat Maghrib bersama di mesjid.

__ADS_1


__ADS_2