Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 74


__ADS_3

”Anak itu, baru kali ini tidak mendengarkan ucapan ku.” keluh Alimin.


”Sudahlah Pa, biarkan mereka selesaikan urusan mereka dengan baik-baik. Mereka berpacaran dengan baik, putus juga harus dengan baik-baik. Agar tidak ada salah paham di antara mereka berdua kelak. Mama tahu Papa kecewa, Mama juga kecewa. Tapi kita tahu kan apa yang terjadi?” ucap Nesa. Alimin terdiam, ucapan istrinya memang betul.


Melihat suasana haru di rumah itu, Rosalina sebagai seorang wanita dan seorang ibu juga ikut tersayat hatinya. Ia sangat tahu bagaimana perasaan kedua anak muda itu, tapi ia terpaksa untuk egois demi kesembuhan anaknya. Semenjak mereka berada di sana, Geo terlihat biasa tidak ada rasa jijik saat melihat Syakila. Ia pun berpamitan pada keluarga Sarmi untuk pulang membiarkan mereka waktu untuk berpikir dan menenangkan diri.


”Sarmi, kami pulang dulu. Besok, kami akan datang lagi untuk melanjutkan pembicaraan ini.” ucap Rosalina. Sarmi tidak menyahuti, begitu pun dengan Johan, maupun Biah. Meskipun begitu, Rosalina tetap beranjak keluar dari kediaman Johan sambil mendorong kursi roda Geo, Beni menyusul.


Sarmi semakin terisak, dia sangat tahu apa yang di rasakan Syakila saat ini. Hatinya sangat sakit, perih. Biah memeluk Sarmi, matanya berkaca-kaca mendengar tangis Sarmi.


”Syakila hu..hu..hu.., Syakila kak ipar, hatinya pasti sakit, kak ipar.” lirih Sarmi berucap. ”Mengapa Halim tega kak, mengapa Halim menyembunyikan ini dari ku, kak. Mengapa kak....”


Biah terdiam, ia tidak tahu ingin menyahuti apa ucapan Sarmi. Ia hanya mampu mengelus punggung Sarmi dengan lembut untuk menguatkan hatinya.


Johan sendiri terdiam, keluarga besan Sarmi juga terdiam, begitu pula dengan orang tua Sardin. Mereka kecewa dengan keputusan Syakila yang sepihak, tapi sebenarnya ia juga mengerti dengan posisi mereka. Hanya saja mereka sedang memikirkan perasaan anak mereka yang sedang sakit. Tidak ingin berlama-lama lagi di sana, Alimin dan Nesa memilih untuk pergi.


”Sarmi, Johan, kami pamit pulang dulu. Jika anakku kembali, bilang padanya untuk segera pulang.”


Sarmi menoleh melihat orang tua Sardin. "Nesa, Alimin, maaf kan kesalahan yang kami perbuat, maaf tanpa sengaja kami sudah menyakiti hati kalian berdua, terutama hati anak kalian, kami mohon maaf.” ucapnya sambil terisak.


Johan juga mengatakan hal yang sama seperti Sarmi. ”Saya minta maaf dengan apa yang barusan terjadi. Semua terjadi tanpa kami duga sebelumnya. Maaf kan keluarga kami. Jika Sardin datang, akan ku beritahu pesan mu.”


Alimin dan Nesa hanya mengangguk untuk menanggapi permintaan maaf mereka. Karena mereka juga tidak tahu harus berucap apa. Mereka beranjak keluar dari rumah Johan.


.. ..


Sardin menyusul Kila yang berlari ke sebuah danau yang tidak jauh dari lingkungan rumahnya. Memang di sanalah tempat Syakila jika ingin merenung atau sedang bersedih selain kamar pribadinya.


Sardin ikut bersedih melihat Syakila yang sedang duduk sambil menangis. Sardin mendekati Syakila yang membelakangi nya, ia berdiri tepat di belakang Syakila. Sardin menyentuh bahu Syakila, agar Syakila tahu keberadaannya.


”Apa yang kamu tangisi, Kila?” Sardin menjeda ucapannya. ”Bukankah keputusan itu keluar dari mulut mu sendiri? Lalu, mengapa kamu menangis? Hum?” Sardin berucap lembut, matanya berkaca-kaca, namun Syakila tidak menyadari itu.


Syakila berbalik dan memeluk pinggang Sardin yang berdiri di dekatnya. Ia menyembunyikan wajahnya di perut Sardin dan semakin menangis. Sardin membiarkan Syakila memeluk pinggangnya.


”Kakak, Syakila yang membuat keputusan, Syakila menyakiti perasaan kakak. Tapi hati Syakila yang paling sakit kak, sangat sakit. Kila menjaga diri, menjaga hati, tidak dekat dengan pria lain karena cinta Kila ke kakak. Kila sangat mencintai kakak.”


”Jika Kila mencintai kakak, mengapa Kila mengambil keputusan itu? Padahal kakak sudah melarang Kila.”


”Kila terpaksa kak, mereka bersikeras meminta salah satu putri dari papa, lalu siapa yang akan menikah dengannya? Yuli dan Ita masih sangat muda usianya. Dan itu juga merupakan janji Kila pada papa sebelum papa menghembuskan nafas terakhirnya.” jelas Syakila, di sela isak nya.


”Janji Kila ke papa? Maksudmu, Kila tahu tentang perjanjian papamu dengan keluarga mereka?” tanya Sardin selidik.


Syakila menggeleng, ”Kila tidak tahu kak, ada perjanjian apa di antara mereka, tapi Kila janji ke papa untuk memenuhi permintaan Albert atau Rosalina jika mereka datang meminta sesuatu. Hanya saja Kila tidak menyangka, mereka akan meminta salah satu putri dari papa untuk menjadi anak mantunya hu...hu...hu.... Kakak.”


”Jadi, hubungan di antara kita benar-benar sudah berakhir Kila?”


”Maaf kan Kila kakak hu...hu...maaf kan Kila.” Syakila berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh Sardin dengan erat. Sardin membalas pelukan itu.


Geo, Rosalina, dan Beni melihat interaksi mereka dari dalam mobil yang kacanya tertutup rapat. Geo menyuruh Beni menghentikan mobil tepat di depan mereka saat melintasi danau tersebut.


Sardin tak kuasa mendengar suara tangis Syakila yang berada di pelukannya. Sardin memejamkan mata, setetes air matanya jatuh membasahi pipi.


Lama Syakila menangis dalam pelukan Sardin, selama itu juga enam mata yang ada di mobil memperhatikan mereka. Syakila melepas pelukannya.

__ADS_1


Ia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, dengan tersenyum kecut Syakila melepaskan cincinnya dan meletakkan cincin itu pada telapak tangan Sardin. Sardin dan Syakila melihat cincin yang ada di tangannya Sardin dengan sedih dan perasaan yang hancur.


”Maaf kan Kila kakak, Kila melukai hati kakak. Tidak, jangan maaf kan Kila kak, meskipun beribu kali Kila meminta maaf pada kakak. Jangan maafkan Kila, Kila sangat tahu bagaimana rasa kecewa dan sakit hati Kakak sekarang ini, dan itu ulah dari Kila sendiri. Jangan maaf kan Kila kak hu..hu....” Syakila memandang Sardin, ” Bukalah hati kakak untuk wanita lain.” Setelah berucap itu Syakila pergi meninggalkan Sardin yang masih berdiri mematung di sana. Air mata tiada henti mengalir di kedua pipi mulus Kila.


Sardin tidak memperhatikan arah mana Syakila berlari. Ia masih terdiam, membisu, melihat cincin yang ada di telapak tangannya. Cincin yang merupakan bukti cintanya dengan Syakila.


”Syakila!”


Sardin memanggil lantang nama Syakila.


”Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu menyuruh kakak membuka hati untuk wanita lain, Kila? Bertahun-tahun kakak menjaga perasaan kakak untuk Kila. Bagaimana bisa kakak melupakan Kila dengan begitu mudah?”


Syakila berlari tidak jauh dari jarak Sardin, ia bersembunyi di balik pohon yang ada di sana. Ia melihat Sardin dari balik pohon tersebut. Ia menangis dalam diam, agar Sardin tidak mendengar suara tangisannya. Mendengar ucapan Sardin sangat menusuk hati Syakila.


Rosalina yang melihat itu merasa iba, matanya ikut berkaca-kaca. Sardin melempar cincin yang ada di tangannya ke danau, ia tidak ingin melihat cincin itu. Kila yang melihat itu semakin menangis.


Maaf kan Kila kakak. Maaf.


Sardin pergi dari danau setelah ia menyeka air matanya sendiri. Ia mengira Syakila telah kembali ke rumah. Ia menyusul Syakila di rumah Johan. Setelah Sardin pergi dari sana, Syakila keluar dari tempat sembunyi nya.


Ia melompat ke danau yang tidak terlalu dalam itu. Beni, dan Rosalina terkejut melihat Syakila yang melompat ke danau. Mereka berpikir yang tidak-tidak tentang Syakila.


”Apa yang di lakukan Syakila? Apa dia bunuh diri?” Rosalina bertanya khawatir, ”Beni, turun dari mobil, lihatlah apa yang di lakukan oleh Syakila.”


”Tidak usah Beni,” cegah Geo, ”Dia melompat hanya untuk mencari cincin yang di buang Sardin. Tidak usah khawatir padanya.”


”Tapi sayang, bagaimana jika dia melakukan hal itu?”


Syakila mencari-cari cincin yang di lempar oleh Sardin di danau tersebut. Ia terus mencari, ia tidak peduli dengan keadaan dirinya sekarang, ia mencari cincin itu sambil menangis. Sudah kurang lebih lima jam lamanya Syakila masih berada di dalam danau, membuat Rosalina khawatir.


Bukan hanya Rosalina, Sardin, Sarmi, Johan, Biah, dan besan Sarmi terlihat khawatir juga. Karena Syakila belum pulang ke rumah, sementara Sardin mengatakan pada mereka jika Syakila sudah pulang duluan ke rumah. Kepanikan terjadi, mereka mencari keberadaan Syakila. Johan dan Sardin kembali ke danau untuk memastikan jika Syakila memang tidak ada di sana.


”Sayang, ini sudah terlalu lama Syakila berada di dalam danau, Mama sangat khawatir. Beni, turunlah cek keadaan Syakila.”


Beni mengangguk. Ia membuka pintu mobil hendak turun, namun ia urungkan niatnya untuk turun dari mobil, ia kembali menutup pintu mobil.


”Beni, mengapa kamu masuk lagi? Cepat turun lihat Syakila.”


”Tante, Sardin dan Johan ada disini.” Beni menunjuk arah Sardin dan Johan. Rosalina dan Geo melihat arah tunjuk Beni.


Sardin dan Johan semakin dekat dengan danau. Mereka tidak menemukan seseorang pun di sekitar danau. Mereka berbalik arah dengan sedih. Kemana perginya Syakila? Pikir mereka.


Hingga saat mereka mendengar suara orang terbatuk-batuk dari dalam danau. Johan dan Sardin menoleh dan berlari cepat ke pinggir danau. Sardin dan Johan terkejut melihat Syakila yang memeluk dirinya sendiri dengan gemetar karena kedinginan. Wajahnya juga terlihat pucat, bibirnya membiru, dan kulitnya menjadi keriput. Rambut panjangnya terurai tidak beraturan. Membuat Sardin dan Johan khawatir.


Sardin masuk ke dalam danau dan menggendong tubuh lemah Syakila. Ia membawanya ke atas, Sardin membaringkan tubuh Syakila di atas tempat duduk yang ada di sana.


”Sa-sardin, Om,” Syakila sempat melihat kedua wajah pria yang sedang khawatir itu sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.


”Syakila! Syakila! Bangun Syakila!” panik dan semakin khawatir, Sardin dan Johan mencoba membangunkan Syakila. Namun Syakila tidak sadar juga, Sardin kembali menggendong tubuh Syakila.


”Kita bawa Kila kerumah sakit sekarang Om,” ucap Sardin dengan panik. Johan mengangguk.


Johan menahan mobil yang lewat di sana, setelah dapat, Sardin masuk kedalam mobil dengan memangku tubuh tidak berdaya Syakila. Johan juga segera masuk ke mobil dan mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Tanpa mereka tahu mobil yang mereka tumpangi adalah salah satu mobil dari anak buah Geo.

__ADS_1


Geo memerintah salah satu anak buahnya untuk bergerak dengan cepat ke arah danau. Setelah mobil mereka menghilang dari pandangan Geo. Mobil Geo pun bergerak maju menuju kediamannya di villa.


Wajah khawatir Sardin dan Johan terpampang jelas di wajah mereka berdua. Sesekali Sardin melihat wajah pucat Syakila, ia melihat tangan kanan Syakila yang tergenggam namun tidak erat. Ia melihat sekilas ada cahaya disana. Ia membuka genggaman tangannya dan melihat sebuah cincin.


Sardin terkejut.


”Gadis bodoh!” ucapnya.


Membuat Johan menoleh padanya. Johan tidak bertanya apapun saat menoleh melihat Sardin. Karena Sardin memejamkan mata dan tangan kanan memijit pangkal hidungnya. Johan bisa melihat setetes air mata lolos di kedua pipi Sardin.


Johan menarik napas dalam. Mereka telah sampai di rumah sakit. Johan segera turun, sebelum Sardin kembali menggendong tubuh Syakila, ia mengambil cincin yang di genggam Syakila dan menaruh cincin itu di sakunya.


Sardin segera turun dan berlari cepat memasuki rumah sakit sambil menggendong tubuh Syakila. Johan menutup kembali pintu mobil yang di tumpangi nya dan mengucapkan terima kasih kepada sang pemilik mobil. Lalu ia menyusul Sardin masuk ke dalam rumah sakit.


Syakila langsung di tangani oleh dokter. Sebelum di periksa oleh dokter, dokter menyuruh suster untuk menggantikan baju pasien. Setelah bajunya di ganti, dokter masuk keruangan untuk memeriksa pasien bersama Sardin dan Johan.


”Apa yang terjadi padanya?” tanya sang dokter sambil memeriksa keadaan Syakila.


”Kami menemukan dia berada di dalam danau, mungkin ia terlalu lama berada di dalam air.” jelas Sardin.


Dokter memberikan perawatan cepat untuk mengembalikan suhu normal pada tubuh Syakila. Dokter memberikan baju hangat, melakukan CPR dan memberikan infus pada tangan kanan Syakila.


”Pasien terkena hipotermia, kondisinya menurun drastis karena terlalu lama berada di dalam air. Jika pasien tidak segera di tangani dengan cepat, resikonya berakibat pada jantung dan otak, bahkan bisa membuat pasien kehilangan nyawa.” jelas dokter.


”Astaghfirullah!” Sardin dan Johan mendesah kan nafas kasar ke udara.


Gadis bodoh, untuk apa kamu mencari cincin itu di sana, Kila? Mengapa kamu tidak memikirkan tentang kondisimu? Apa cincin itu lebih penting dari nyawamu, Kila? Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, Kila.


”Bagaimana keadaannya sekarang, Dok?”


”Suhu panas di badannya mulai terasa. Pasien tidak apa-apa, tunggu saja dia akan segera sadar.” jelas dokter, ”Saya keluar dulu.” pamitnya.


”Iya Dokter, terima kasih banyak.” sahut Sardin dan Johan.


”Jika pasien sadar, berikan ia air minum hangat. Jangan berikan ia air yang dingin dulu.” pesan sang dokter sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan Syakila.


Sardin dan Johan duduk di bangku di ruangan itu.


”Sardin, sebaiknya kamu pulang sekarang, orang tuamu pasti sudah menunggu mu di rumah. Sebelum mereka pulang, mereka berpesan agar kamu cepat pulang. Terima kasih, sudah menolong Syakila.” ucap Johan.


”Sardin akan pulang setelah melihat Syakila sudah sadar, dan aku memastikan sendiri jika ia baik-baik saja.” sahut Sardin.


"Tapi Nak, ora__”


”Tolong, biarkan aku disini Om.” kekeh Sardin.


”Baiklah, terserah kamu.” sahut Johan.


Johan menelfon istrinya untuk memberitahu keadaan Syakila. Dan Sardin mengirim pesan ke mamanya, jika ia pulang terlambat karena ia sekarang berada di rumah sakit menunggu Syakila sadar.


Mengetahui Syakila berada di rumah sakit, membuat Sarmi dan Biah pergi kerumah sakit. Untuk anaknya yang lain, mereka bersama Fatma dan Johansyah.


Nesa dan Alimin yang khawatir dengan kondisi mantan calon anak mantunya itu pun pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2