
Di kamar Geo.
Syakila terus mendorong kursi roda Geo hingga ke ranjang.
”Aku akan membantu mu berbaring.” ucapnya.
Geo terdiam. Syakila berjalan ke arah depan Geo. Geo menekan pundak Syakila dengan kuat hingga Syakila terduduk di pinggir ranjang. Syakila melihat Geo dengan bingung, ia berdiri.
”Duduk!” titah Geo dengan ketus.
Syakila kembali duduk tanpa melawan. Geo mendorong kursi rodanya sendiri mendekati nakas. Syakila memperhatikan gerak Geo, apa yang akan di lakukan oleh pria ini ya? Pikirnya. Geo mengambil kotak obat dan menyimpannya di atas paha, lalu ia kembali menghampiri Syakila. Syakila semakin bingung menatap Geo.
Kotak obat? Untuk apa?
Geo mengambil kedua kaki Syakila, melepaskan sepatu pantofel nya dan meletakkan kedua kaki Syakila di atas pahanya. Syakila terkejut, ia menarik kembali kakinya.
”Ge... Geo...apa yang kamu lakukan?”
Geo tidak menjawab, ia menatap Syakila dengan tajam dan marah. Syakila menciut dengan tatapan tajam Geo.
Lagi-lagi dia menatap ku dengan tajam seperti itu, sangat menakutkan! Apa dia masih marah? Bukankah sudah ku jelaskan alasan ku mengapa pulang naik bis, 'kan! Lalu, mengapa dia masih terlihat marah seperti ini? Jika bukan karena merasa bersalah, aku gak akan ragu untuk berdebat dengannya.
Geo terus memandangi Syakila tanpa kedip, Syakila menunduk, ia meletakkan kembali kedua kakinya ke atas paha Geo tanpa di perintah oleh Geo. Geo melihat betis kanan Syakila yang memar kemerahan dan kedua telapak kaki Syakila yang lecet-lecet.
Syakila mengikuti arah pandang mata Geo. Ia terkejut mendapati Geo menyadari memar kemerahan pada betis dan telapak kakinya. Geo menatap pemilik kaki tersebut dengan tajam, Syakila melirik Geo.
Tatapannya belum berubah. Apa dia sedang meminta penjelasan atas apa yang terjadi dengan betis dan telapak kaki ku?
”Em, ini, sepatuku agak sempit dan aku agak susah berjalan menggunakan sepatu ini. Jadi, aku melepas sepatu ku dan berjalan tanpa alas kaki menyelusuri jalan dari bis sampai depan rumah.” ungkapnya.
Tanpa menyahuti, Geo mengoleskan obat ke telapak kedua kaki Syakila. Ia menekannya sedikit kuat.
”Argh! Sa..sakit, Geo! Perih, tolong pelan-pelan!” ucap Syakila mengeluh.
”Sudah tahu rasanya sakit, mengapa kamu jalan tanpa memakai sepatu mu? Aku masih marah dengan hilangnya kamu dari sekolah. Jadi, katakan yang perlu kamu katakan untuk menjelaskan apa yang terjadi padamu hari ini!”
”Aku tidak menghilang! Aku hanya pulang dengan menaiki bis. Itu tidak salah 'kan?” elak Syakila dengan ketus.
Geo menatap mata Syakila masih dengan tatapan tajam.
”Em, iya, aku..aku sa..salah. Tidak semestinya aku.. pulang na..naik bis. Seharusnya aku...aku...menunggu supir mu datang menjemput ku.” ucap Syakila penuh sesal dengan lembut.
Geo mengoleskan obat juga pada betis Syakila, sama halnya dengan tadi, ia menekan betis Syakila dengan kuat. Syakila memegang tangan Geo yang mengoles luka memar pada betisnya sambil memejamkan mata menahan perih.
Pria ini, apa dia tidak bisa bersikap sedikit lembut dalam mengobati luka ku? Atau dia sengaja menekannya untuk meminta penjelasan ku lagi!
Syakila membuka sebelah matanya melirik Geo. Ia kembali menciut menyadari Geo menatapnya lagi dengan tajam.
”I..ini..lu..luka memar ini..karena, karena aku...aku...berkelahi dengan beberapa pria yang menghadang ku di gang kecil dalam perjalanan menuju halte bis.” ungkapnya dengan menunduk dan gemetar.
Eh, kenapa aku menjelaskan semuanya pada Geo? Dia kan tidak meminta penjelasan! Ada apa dengan ku ini, sepertinya aku peduli dengan marahnya. Tidak, tidak, aku hanya merasa takut karena aku memang bersalah. Bukan karena hal lain.
Tangan Geo mengepal, kedua rahangnya mengeras. Ia sengaja menekan luka memar pada betis Syakila dengan semakin kuat untuk melampiaskan amarahnya.
”Ah, Ge.. Geo... ini...ini..sakit sekali. Ku...ku mohon, lepaskan tangan mu! Aku..aku salah, aku.. aku minta maaf.”
Bukannya melepas, Geo malah semakin menekan luka memar tersebut dengan sekuat tenaganya.
”Argh, sshh..sa..sakit!” Syakila meringis kesakitan sambil memejamkan matanya menahan sakit. Syakila tahu Geo masih tersulut amarah. Syakila membuka mata melihat betisnya, kini luka memar tersebut telah berdarah.
Pantas saja sangat sakit dan perih, luka memarnya kini berdarah. Geo sialan! Brengsek! Bukannya mengasihani ku yang sudah terluka ini, malah dia menambah lukaku berdarah. Brengsek! Brengsek! Aduh sakit sekali. Geo sialan. Jika aku membalasnya, dia akan semakin menekan kuat lukaku ini. Brengsek kamu Geo!
__ADS_1
”Kamu mengatai ku di dalam hati mu?” tanya Geo dengan dingin.
Syakila terperanjat kaget. ”Ah, ma..mana berani! Aku ..aku..tidak...!” sahutnya dengan gugup, senyum kecil ia sematkan untuk menyembunyikan kebohongannya.
”Aduh..Ge.. Geo. To..tolong le..lepas..ini...semakin sakit ku rasa. Ssshh aku ..aku...” Syakila menggigit bibirnya menahan rasa sakit tersebut.
Ia melirik Geo. Geo masih menatapnya tajam sambil terus menekan betisnya. Air mata Syakila menetes membasahi pipi. Ia sudah tidak mampu menahan rasa sakitnya lagi. Memberontak pun tidak bisa ia lakukan, ia hanya duduk menerima perlakuan Geo. Geo mengiba melihat kesakitan di wajah Syakila.
Mengapa hatiku sakit melihat dia kesakitan seperti ini?
Ia melepas tangannya dari betis Syakila dan menarik wajah Syakila, Geo mencium bibir Syakila. Syakila terkejut.
Aneh, ciuman mendadak Geo kali ini sangat lembut. Untuk pertama kalinya aku tidak menolak ciumannya ini. Apakah ini karena rasa bersalah ku makanya ku biarkan ia mencium bibirku? Atau apakah karena aku sudah mulai terbiasa dengan ciumannya yang mendadak ini?
Syakila melepas ciuman Geo dengan pelan dan mendorong tubuh Geo dengan pelan pula agar tidak terlalu dekat dengannya. Geo pun tersadar.
”Ehm, Ini hukuman teringan yang ku berikan untuk menghukum mu! Jika kamu masih tidak mendengar bicara ku, hukumannya akan lebih lagi dari ini.” ucapnya dengan ketus dan tegas.
Syakila mengangguk sambil menghapus air matanya.
”Mengapa pria itu menghadang mu? Apa kamu mengenal mereka?” tanya Geo. Ia membersihkan luka pada betis Syakila lalu ia ulang mengobati luka tersebut.
Syakila menggeleng, ”Tidak, aku tidak mengenal mereka. Tuan mereka ingin bertemu dengan ku, jadi, mereka ingin membawaku menemui Tuan mereka. Tapi, aku menolak dan melawan mereka. Kami pun terlibat perkelahian, mereka berhasil ku kalahkan. Aku juga menitip pesan pada mereka untuk memberitahu tian nya untuk menemui ku dengan baik jika membutuhkan ku, bukan aku yang harus mendatangi dia, apalagi dengan cara kasar menangkap ku.” ungkapnya dengan semangat.
”Semangat sekali kamu menceritakan kesalahan mu! Apa sudah hilang rasa sakit mu?”
”Ah, ti..tidak. Ini..ini masih sakit.” sahut Syakila dengan lembut.
”Hum, kamu istrahat lah di ranjang ku, masih tersisa tiga jam lagi untuk kita berangkat ke kota S.” ucap Geo.
”Dan kamu? Apa kamu tidak ingin istrahat?”
”Apa kamu sedang mengundang ku untuk tidur seranjang dengan mu, Syakila? Jika demikian, aku tidak keberatan.”
”Kamu istrahat lah! Aku sudah beristirahat tadi. Lagian, apa kamu kira aku tertarik dengan badan mu yang rata itu jika kita tidur seranjang? Sama sekali tidak! Jika kamu belum tidur juga, maka aku akan mencium bibir mu kembali.”
Tanpa bersuara kini Syakila berbaring di ranjang Geo dan memejamkan matanya.
Rata apanya! Matanya sudah buta, bentuk badan ku seksi begini di bilang rata! Banyak pria yang tergoda dengan kecantikan dan lekuk tubuh ku karena keseksian ku ini. Ini..pria dingin, angkuh, sombong, tanpa ekspresi, si sialan, si brengsek itu bilang tidak tertarik dengan badan rata ku! Oh tidak! Dia benar-benar sudah buta!
Geo tersenyum kecil melihat tingkah lucu Syakila yang penurut jika sedang takut padanya. Geo kembali teringat dengan kata-kata Syakila.
Siapa pria itu? Untuk apa dia mencari Syakila?
Geo meraih handphone. Ia nampak mengirimkan pesan pada seseorang.
”Selidiki siapa yang menghadang Syakila di gang kecil yang menuju halte bis dari sekolah tempat Syakila mengajar”
Pesan terkirim pada salah satu anak buah Geo.
”Baik, Tuan.”
Balasan pesan dari bawahannya tersebut. Ia juga mengirimkan pesan kepada anak buahnya untuk menyiapkan pesawat pribadinya dalam tiga jam mendatang untuk melakukan perjalanan ke kota S.
.. ..
Di kota pusat.
Beni sedang duduk di kafe yang berada di salah satu mall terbesar di kota pusat. Ia sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi di sana sambil memandang layar handphone.
Syakila, aku sudah merindukan mu. Sebentar malam aku akan kembali ke sana. Aku ingin lihat, apa kamu pernah merindukan aku gak selama aku gak ada di pandangan mu!
__ADS_1
”Beni, serius sekali kamu menatap hape mu! Kamu sedang melihat apa?” tegur Marlina. Ia mencoba melihat ke layar handphone Beni.
Beni terkejut, secepat kilat, ia menyimpan handphonenya ke dalam saku celananya.
”Marlina, sedang apa kamu disini?” sahutnya.
”Aku sedang berbelanja, tidak sengaja lewat di depan kafe dan ku lihat kamu disini sendirian, jadi, aku samperin kamu. Sepertinya kamu sedang memandang foto perempuan tadi, fotonya siapa itu? Apa dia kekasih mu?” ucap Marlina sambil duduk di kursi depan Beni.
” Em, tidak, kamu salah lihat. Aku sedang membuka salah satu akun sosmed ku, wajarlah jika banyak wajah wanita yang terlihat di sana. Aku sedang melihat apakah ada kabar terbaru di sana.”
”Oh, kirain kamu punya kekasih dan sekarang sedang merindukan kekasih mu itu. Kapan kamu akan kembali ke kota A? Aku ingin ikut.”
Beni terdiam, ia kembali mengingat perkataan Geo untuk membiarkan Marlina jika ingin ikut dia ke kota A.
”Aku akan kembali malam ini. Kamu ingin ikut, tidak masalah, yang penting, kamu gak mencari hal yang membuat Geo marah.” sahutnya
”Oh, yah, apakah kamu tidak memberitahu keadaan Geo kepada Antonio?” ucap Beni lagi bertanya.
”Iya, aku tidak memberitahu keadaan Geo padanya, juga tentang pernikahannya, aku menutupinya dari Antonio.”
”Mengapa?” tanya Beni penasaran. Ia memandang lekat mata Marlina.
”Apalagi? Dia masih saudara tiri dengan ku. Aku tidak ingin Antonio dan Geo bertentangan lagi.” sahut Marlina berbohong.
Beni tersenyum kecil, ”Apa kamu kira aku percaya ucapan mu?”
”Aku tahu, kamu tidak akan percaya! Dan aku juga tidak menyuruh mu untuk percaya padaku!” sahut Marlina dengan ketus.
”Sudahlah, aku pergi sekarang! Aku tidak ingin mengganggu waktu mu. Tunggulah aku di rumah mu sebentar malam, aku ikut dengan mu ke kota A.” ucapnya lagi sambil berdiri.
”Hum,” sahut Beni singkat.
Marlina pergi dari sana meninggalkan Beni sendirian.
Selama beberapa hari aku disini. Aku bisa melihat Antonio sudah mulai merespon baik untuk mengurus perusahaannya dengan serius. Itu bagus! Tapi, selama beberapa hari disini, mengapa aku tidak bertemu dengan Dawiyah? Bukankah Dawiyah kekasih Antonio? Seharusnya Dawiyah terlihat, tapi ini tidak terlihat. Mana aku harus sampaikan pesan Geo padanya lagi! Huft, menjengkelkan sekali jika benar-benar Geo masih mengharapkan wanita rubah tua itu!
Beni meneguk habis kopinya. Ia meletakan uang di bawah gelas kopi sesuai dengan harga kopinya dan meninggalkan kafe tersebut.
Ia berjalan kaki pergi ke taman di dekat mall tersebut. Taman yang menjadi kenangan setiap hari Minggu keluarganya berkumpul di sana untuk sekedar bersantai dan bercanda ria.
Beni duduk bersandar sambil memejamkan mata di bawah salah satu pohon besar yang sering di pakai oleh Geo bersandar sendirian ketika mereka berada di taman itu.
Geo, Rosalina dan Albert bukanlah orang jahat yang seperti sering di katakan oleh Antonio padaku. Mereka adalah keluarga yang sangat baik, aku besar di tengah keluarga itu dengan penuh Kadi sayang dan didikan yang baik dari mereka. Justru Antonio yang kejam padaku, memisahkan aku dari ibuku dan melemparkan ku tinggal di kediaman Albert. Kematian ibu tidak ku ketahui bahkan jasadnya tidak ku lihat untuk terakhir kalinya. Aku mendengar ibu meninggal karena di bunuh, dan Antonio mengatakan Rosalina yang membunuhnya. Aku mencari bukti itu tapi tidak ada, aku percaya ibuku meninggal bukan di bunuh Rosalina. Apa kematian ibu dan ayah ada hubungannya dengan Antonio? Marlina! Marlina, apa dia tahu sesuatu dengan kematian ayah dan ibu? Kenapa aku tidak memperhatikan hal ini yah! Aku akan menanyakan ini pada Marlina di waktu tepat. Jika benar Antonio di balik meninggalnya ayah dan ibu, aku akan memberinya pelajaran yang setimpal dan menyerahkan dia pada polisi menunggu hukumannya!
”Beni, sedang apa kamu di situ?”
Beni membuka mata, ingin melihat siapa yang sudah menyapanya itu.
Dawiyah, si wanita rubah tua ini, akhirnya bertemu juga dengannya tanpa bersusah payah.
”Dawiyah, kamu sendiri sedang apa disini?” Sahutnya sambil berdiri.
”Jalan-jalan! Kamu sendirian? Di mana Geo? Apa kabarnya dia?”
”Kamu tidak usah pura-pura peduli pada Geo! Jika kamu benar peduli pada dia, mengapa kamu kabur di hari pertunangan kalian berdua?” sahut Beni dengan ketus.
”Hahaha, jawaban nya gampang! Aku sudah tidak menyukai pria impoten itu! Aku tidak ingin terikat dengannya di sepanjang hidup ku. Kenapa? Apa dia masih mengharapkan ku untuk berada di sisinya? Dia belum bisa melepaskan bayang-bayangan ku?”
Beni tersenyum kecut, ”Entahlah, apa dia goblok atau buta dalam menilai mu! Tetapi, kamu benar, dia ingin kamu datang menemuinya. Jika kamu ada waktu, datangi dia dan katakan padanya untuk tidak mengharapkan kamu lagi. Karena kamu tidak layak untuk di harapkan oleh seorang Geovani Albert! Apalagi berdiri di sampingnya!” sahutnya masih dengan ketus.
Ia berlalu pergi dari hadapan Dawiyah tanpa menunggu sahutan atau pun jawaban dari Dawiyah. Tangan Dawiyah mengepal kuat, ia menggertakan gigi nya memandang punggung Beni yang semakin menjauh.
__ADS_1
Kurang ajar! Siapa yang tidak pantas berdiri di samping siapa?! Bukan aku, tapi dia! Pria impoten tidak berguna itu tidak pantas berada di sisiku! Baiklah, aku akan menemuinya untuk membunuhnya secara pelan-pelan, agar dia tidak menghancurkan hidup dan rencana Antonio.