Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 108


__ADS_3

Mereka semua menikmati makan malamnya dalam diam dan hening. Yang terdengar hanyalah suara denting sendok dan garpu yang tergesek di piring, juga suara Geo yang selalu menggoda Syakila. Geo selalu menunjukan keromantisan nya kepada Syakila di hadapan keluarga Syakila.


Syakila selalu menunduk malu akan sikap Geo yang berubah seratus derajat setelah berada di kediaman Sarmi, mamanya. Jauh berbeda sekali sikapnya saat berada di kediamannya sendiri di kota A.


Geo, aku tahu kita sedang berakting untuk menunjukkan bahwa rumah tangga kita baik-baik saja dan bahagia selama ini di hadapan keluarga ku. Tapi, berhentilah memanggil ku sayang, cinta, apalah itu, dan berhentilah selalu merangkul ku di hadapan keluargaku dan berhenti bersikap manja padaku. Untuk menunjukan kita bahagia bukan dengan hanya cara seperti ini, 'kan? Kamu membuatku malu sendiri di hadapan keluarga ku.


”Em, Mama, besok aku akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Sardin.” izin Syakila.


Semua anggota keluarga sudah selesai makan, sekarang mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Sedangkan, Hardin, Yuli, Ita, dan Endang telah pergi ke kamarnya masing-masing.


Sarmi terkejut, dahinya mengernyit. ”Kamu tahu Sardin sakit? Apa tujuan...”


”Tadi aku bertemu dengan sepupunya Sardin di mall, ia menceritakan tentang keadaan Sardin padaku. Tujuan ku datang kesini hanya untuk berkunjung melepaskan rindu pada keluarga ku, tidak ada hubungan nya dengan Sardin.” jelas Syakila berbohong memotong ucapan mamanya.


Sarmi, Biah, dan Johan melirik Geo. Mereka semua tahu, bahkan Geo sendiri juga tahu jika Sardin adalah mantan tunangan Syakila. Apakah Geo tidak masalah dengan itu? Membiarkan Syakila bertemu dengan mantan tunangannya? Geo tampak biasa-biasa saja dalam ketenangannya, meskipun di dalam hatinya ada sesuatu yang bergejolak ingin marah.


Aneh, mengapa aku merasa sangat tidak senang mendengar Syakila akan mengunjungi Sardin? Padahal, aku sendiri tahu kalau aku kesini hanya mengantar Syakila untuk bertemu dengan kekasihnya. Mengapa aku merasa seperti kehilangan sesuatu? Tidak mungkin 'kan aku mulai tertarik dengan Syakila? Dia berbohong menjelaskan pada keluarganya tentang niatnya datang kesini untuk apa. Segitu cintanya kah dia pada Sardin, sampai ia berbohong demi pria itu? Aku iri dengan cinta yang besar ini.


”Em, Mama, Bibi, dan Paman, jangan melirik ku seperti itu. Aku tahu, Sardin adalah mantan kekasih Syakila, terlepas dari itu juga, Sardin adalah sahabat Syakila dari kecil. Aku tidak keberatan Syakila mengunjungi sahabatnya. Tujuan kami kesini hanya melepas rindu pada keluarga, tapi, setelah sampai disini, kabar tidak enak tentang Sardin terdengar. Tidak ada salahnya jika mengunjungi teman lama yang sedang sakit.” ucapnya sambil melihat Syakila yang melihatnya.


Sarmi, Biah, dan Johan sama-sama menghempaskan nafas berat ke udara.


”Boleh kamu kesana, tapi, kamu tidak boleh bermalam dan berlama-lama di sana. Dan, suami mu harus ikut bersama mu.” ucap Sarmi kemudian.


”Aku tidak apa-apa tidak ikut Syakila, Mama. Biarlah Syakila sendiri yang kesana untuk menjenguknya. Aku ingin beristirahat di rumah saja.” Geo yang menyahuti ucapan Sarmi.


”Kalau kamu tidak keberatan, tidak apa-apa. Tetapi, untuk menghilangkan kecurigaan, kamu harus menemani Syakila kesana.” kini Johan yang bersuara.


"Paman, terima kasih atas usulannya. Aku percaya dengan istriku, dia tidak akan melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri ya 'kan, sayang?” ucap Geo. Ia kembali merangkul pundak Syakila yang duduk di dekatnya, ia juga mencium pucuk kepala Syakila.


Syakila terdiam, lagi-lagi Geo melakukan hal itu di hadapan keluarganya. Sedangkan ia, ia tidak bisa menegurnya.


”Baiklah kalau begitu, terserah dari kalian berdua saja. Ini sudah malam sekali, sebaiknya kalian istirahatlah, kami juga ingin pulang dan beristirahat.” ucap Johan.


”Terima kasih atas makan malamnya, Sarmi. Kami pulang ke atas dulu.” pamit Biah.


”Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan.”


Johan dan Biah kembali pulang ke rumah. Fatma dan sang suami pergi ke kamarnya.


”Mah, kami kembali ke kamar dulu.” ucap Syakila berpamitan. Sarmi mengangguk.


Syakila mendorong kursi roda Geo untuk ke kamar, mereka masuk ke dalam kamar.


”Mengapa kamu tiba-tiba berkata tidak ikut bersama ku kerumah sakit? Apa kamu sengaja melakukannya? Bukan kah sudah ku bilang padamu, besok kita berdua akan pergi ke rumah sakit 'kan?” ucap Syakila dengan marah.


”Kamu memang bilang begitu, tapi, aku belum menyetujuinya, kan? Bukan kah seharusnya kamu senang? Kamu punya kesempatan berduaan dengan kekasih mu di sana, tanpa ada gangguan dari orang lain.” sahut Geo dengan tenang.


Syakila memandang Geo dengan tajam. ”Apa yang ingin coba kamu katakan?”


”Tidak ada, kamu jangan terlalu banyak berpikir. Aku tidak ingin berdebat dengan mu, aku sudah mengikuti kata-kata mu, sekarang giliran mu mengikuti kata-kata ku.”


”Terserah kamu! Aku mau tidur! Kamu.. tidurlah dengan duduk di kursi roda, aku mau tidur di ranjang ku!” ucap Syakila dengan nada kasar.


Ia mengabaikan Geo yang menatapnya tanpa ekspresi. Syakila berbaring di ranjangnya, ia memejamkan mata dengan kening yang mengerut. Menit berikutnya, ia membuka mata dan terduduk di ranjangnya, ia memandang Geo yang masih memandangnya.


”Lain kali, jangan memanggil ku dengan kata sayang, cinta, apalah dan sebagainya! Juga jangan lancang merangkul ku di hadapan keluarga ku, apa yang ingin kamu buktikan kepada mereka dengan menunjukkan sikap mu seperti itu?” ucapnya dengan marah. Masih memandang Geo.


Beruntung, Geo menyuruh anak buahnya yang berada di kota S untuk pergi ke kediaman Sarmi untuk memasang alat kedap suara di kamar Syakila, sehari sebelum mereka berangkat ke kota S. Jadi, meskipun Geo dan Syakila saling berteriak dengan keras di dalam kamar, suara mereka tidak akan terdengar oleh yang lain.


”Berhentilah berteriak, apa kamu tidak sadar ini di rumah mu? Di kamar mu? Suara besar mu akan terdengar oleh mama mu.”


Geo menghempaskan nafas kasar.

__ADS_1


”Aku bersikap begitu, hanya mengikuti ucapan mu saja. Bukan kah kamu sendiri yang bilang, bahwa kita harus menunjukkan kepada keluarga mu jika kita adalah pasangan yang bahagia?”


Syakila mengalihkan pandangannya menatap lantai. Apa yang dibilang Geo memang benar adanya, dialah yang meminta Geo untuk berakting bahwa rumah tangganya baik-baik saja dan bahagia. Ia kembali melihat Geo.


”Tetapi, bukan kah sudah ku bilang padamu, ada batasnya dalam bertindak! Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu merangkul ku terus menerus, mencium pucuk kepala ku, mencium kening ku, mencium pipi ku, memanggil ku sayang, cinta, di hadapan keluarga ku! Aku tidak suka! Tidak perlu seperti itu untuk menunjukan rumah tangga kita baik-baik saja!”


”Kecilkan suara mu, atau kamu ingin mama mu dan kakak juga adik-adik mu datang kemari melihat dan mendengar kita yang bertengkar?”


”Syakila, Geo.” terdengar suara Sarmi dari balik pintu kamar yang memanggil Syakila dan Geo sambil mengetuk pintu.


Mata Syakila melebar, pandangan matanya dan Geo bertemu.


Apa mama mendengar kami bertengkar? Mati aku!


”Iya, Ma.” sahut Syakila.


Ia buru-buru turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu. Ia membuka pintu kamar, Sarmi masuk kedalam kamar setelah pintu terbuka. Ia berjalan dan duduk di pinggir ranjang, Syakila mengikuti langkah mamanya dengan hati yang deg degan. Geo pun mendorong kursi rodanya mendekat ke arah mereka berdua.


”Ada apa Mah?” tanya Syakila dengan pelan. Ia duduk di samping mamanya.


”Syakila, apa kamu yang melarang Geo untuk pergi ke rumah sakit?” tanya Sarmi dengan pelan, namun, pandangannya marah.


Syakila dan Geo saling memandang.


”Tidak, Mama. Syakila__”


”Mama, Syakila menyuruh ku untuk menemaninya ke sana besok, tetapi, ini keputusan Geo sendiri untuk tidak ikut dengannya.” jelas Geo memangkas ucapan Syakila.


”Kenapa?” tanya Sarmi penasaran. Ia memandang Geo dengan bingung.


”Geo hanya ingin beristirahat saja, Mah. Tidak ada hal yang lain.”


Sarmi melihat Syakila, ”Kamu tidak mengancam dan mengatai suami mu sendiri kan Syakila? Apakah kamu malu jika kamu jalan berdua dengan suami mu, makanya suamimu tidak ingin pergi ke rumah sakit bersama mu? Apa jangan-jangan tujuan mu datang kesini hanya untuk bertemu dengan Sardin? Bukan untuk mengunjungi kami!”


”Ucapan Syakila benar, Mah. Geo sendiri yang tidak ingin pergi kesana. Syakila tidak malu untuk jalan berdua dengan Geo, meskipun kondisi Geo seperti ini. Syakila selalu menghargai dan menghormati Geo, Mama. Mama jangan salah paham pada Syakila karena aku menolak pergi kerumah sakit. Sebenarnya, Geo tidak bisa pergi ke rumah sakit, ada sesuatu hal yang membuat Geo trauma dengan rumah sakit, bukan hanya itu, Geo juga trauma dengan pantai.” ungkap Geo.


Kening Syakila mengerut.


Ah, aku lupa dengan hal itu! Geo memang tidak bisa menemani ku ke rumah sakit.


Syakila menghela nafas. Rasa bersalah timbul di benaknya karena ia sudah membentak dan marah-marah pada Geo.


”Apa benar begitu? Jadi, bukan karena Syakila yang melarang mu untuk menemaninya ke rumah sakit? Kamu jangan membela Syakila, Geo!” ucap Sarmi lagi.


”Geo tidak membela Syakila, Mama. Tapi, ini adalah kebenarannya. Geo memang trauma dengan rumah sakit dan pantai, jika Mama tidak percaya, Geo akan menelpon mamaku sekarang dan Mama bertanyalah pada mamaku tentang trauma Geo itu.”


Sarmi melihat Syakila, Syakila mengangguk, membenarkan ucapan Geo.


”Baiklah, Mama percaya itu. Geo, kamu istirahat lah, Mama ingin berbicara berdua dengan Syakila.”


”Mama, jangan marahin Syakila! Syakila tidak salah apa-apa!” ucap Geo dengan panik.


Sarmi tersenyum, ”Tidak, Mama hanya ingin berbicara saja sama Syakila, bukan memarahinya. Lagi pula, Mama sudah tidak salah paham lagi dengan penolakan mu menemani istrimu ke rumah sakit.”


Geo menghela nafas lega. ”Baiklah, Syakila bantu aku berbaring. Lalu, pergilah berbicara dengan Mama.”


Syakila mengangguk, ia melihat Sarmi. ”Mama, tunggu Syakila di teras rumah. Syakila ingin membantu Geo berbaring dulu, setelah itu baru Syakila menemui Mama.”


”Baiklah,”


Sarmi keluar dari kamar. Syakila memapah Geo ke ranjang.


”Aku temui Mama dulu, kamu istirahat lah.”

__ADS_1


”Iya, pergilah temui mama, jangan biarkan mama menunggu mu lama.”


”Hum, maaf, tadi aku bicara kasar padamu. Aku lupa akan trauma mu itu.”


Geo tersenyum, ”Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah tahu alasan ku mengapa menolak mu ke rumah sakit.”


Syakila mengangguk.


”Keluarlah, temui mama mu.”


Tanpa berkata lagi, Syakila keluar kamar. Ia menemui Sarmi di teras rumah. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Sarmi.


”Ada apa Mah?”


”Apa benar Geo trauma dengan rumah sakit dan pantai?”


”Iya, Mah. Syakila lupa akan hal itu, Syakila marah pada Geo tadi, Syakila mengira Geo sengaja tidak ingin ikut untuk membuat ku di marahi oleh Mama. Tetapi, setelah aku mendengar penjelasan Geo tadi, Syakila baru teringat akan hal itu. Hal itu, Syakila pernah dengar dari Beni dan mama Rosalina.” ungkap Syakila.


”Oh, bagaimana dengan hubungan kalian berdua?”


”Seperti yang Mama lihat, kami berdua baik-baik saja.”


”Maksud Mama bukan hubungan itu.” ucap Sarmi.


Syakila terdiam memandang mamanya.


Apakah maksud Mama adalah hubungan kami berdua di atas ranjang?


”Mama, kami berdua baik-baik saja, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Selain untuk menjenguk keluarga ku disini, Syakila juga berencana membawa Geo ke guru ku untuk berobat. Mama jangan khawatir kan itu, Syakila tidak apa-apa.”


”Apa benar kamu baik-baik saja?” tanya Sarmi memastikan.


Mama, setelah Geo sembuh, Geo dan Syakila akan bercerai, dan Syakila akan menikah d Ngan Sardin.


”Iya, Mah, aku baik-baik saja.” sahut Syakila dengan tersenyum.


”Asya, waktu Mama dan papa mu menikah dulu, Mama dan papa tidak saling suka dan cinta. Bahkan, papa mu berencana menceraikan Mama agar ia bisa menikahi kekasihnya. Alhasil, entah karena apa, papa mu justru mempertahankan Mama. Papa mu berpesan pada Mama sebelum kalian semua lahir di dunia ini, pesan papa mu di peruntukkan bagi kalian anak-anaknya.”


Syakila mengerut, ”Apa pesan papa, Mah?”


Sarmi menatap langit hitam yang berhiaskan Sinaran bintang dan cahaya bulan.


”Pesannya adalah jauhi yang namanya perceraian. Apapun, bagaimana pun sifat dan sikap pasangan, apapun, bagaimanapun bentuk suatu permasalahan yang datang dalam rumah tangga, selagi masih bisa di pertahankan dan di perbaiki maka perbaikilah dan pertahankan lah hubungan yang sudah di satukan dengan nama pernikahan. Ikatan itu suci, jangan mempermainkan suatu pernikahan. Allah sangat membenci yang namanya perceraian.”


Sarmi menjeda ucapannya. Ia beralih melihat Syakila, ”Syakila, hadapilah rumah tangga mu dengan baik dan iklhas, meskipun kalian berdua menikah tanpa ada rasa suka satu sama lain. Cobalah untuk saling mengenal antara satu dan yang lain. Mama tidak menginginkan perceraian dalam pernikahan mu, dan mama tidak menginginkan kamu menikah berkali-kali.”


Syakila terdiam, ia beralih memandang lantai. Keningnya mengerut.


Bagaimana ini?


Syakila melihat mamanya. Ia menelan salivanya.


Maafkan Syakila, Mah. Syakila akan melangkah dan berjalan bertolak belakang dengan keinginan Mama dan papa. Syakila tahu, perceraian itu tidak baik, tetapi, hal itu yang harus Syakila ambil. Syakila hanya ingin menikah dengan kak Sardin, pria yang Kila cintai.


”Mama, kita hanya manusia biasa yang kehidupan kita sudah di tentukan oleh Allah. Syakila tidak tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya dengan kehidupan Syakila. Untuk sementara, Syakila menjalani ini semua dengan baik dan ikhlas.”


Sarmi menghela nafas. Sebagai seorang ibu, ia tahu dan dapat merasakan juga melihat jika hubungan antara anak dan anak mantunya tidak sebaik yang mereka tampakkan di hadapannya. Ia bisa merasakan jika kedua sejoli itu seperti sedang merencanakan sesuatu. Tapi, ia tidak tahu apa yang di rencanakan oleh mereka berdua. Tetapi, hati kecilnya merasakan tidak ada cinta di antara mereka berdua.


”Kamu benar, kita berjalan sesuai dengan ketentuan Allah. Kamu istrahat lah, ini sudah larut malam. Mama tidak akan melarang mu untuk menemui Sardin, tapi, kamu berpikirlah sebagai wanita yang telah bersuami. Biar bagaimanapun, kalian berdua adalah mantan tunangan, dan kalian berdua pasti masih sama memendam rasa. Jaga dirimu, dirimu adalah kehormatan suami mu.”


Syakila terdiam, ia menampakkan senyumnya, namun, senyum yang hanya sebentar. Ia berdiri dari duduknya.


”Syakila, istrahat dulu, Mah.”

__ADS_1


Sarmi mengangguk, Syakila berjalan masuk ke dalam rumah sambil berpikir. Ia memikirkan kembali perkataan Sarmi, mamanya.


__ADS_2