Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 174


__ADS_3

Di dapur kediaman Anton.


”Jadi pernikahan kamu dan Geo karena terpaksa!! Kamu sudah membohongi Paman dan Bibi bibi mu yang lain selama ini? Dia memaksamu menikahinya dengan apa?! Katakan pada Paman!!” Anton menerobos masuk ke dalam dapur dengan wajah marah. Serlina segera menyusulnya.


Sardin dan Syakila terkejut, mereka segera memisahkan diri.


”Paman, Paman salah paham! Ka..kami menikah bu..bukan karena terpaksa...kami menikah karena kemauan ku sendiri!” Syakila menjadi gugup. Tubuhnya gemetar.


Apakah rahasia pernikahannya sudah saatnya di ketahui oleh keluarganya? Ia takut jika keluarganya akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Geo dan Rosalina.


”Kamu masih berbohong?! Paman sudah mendengar semuanya!! Kontrak apa yang sudah kamu tanda tangani dengan Geo? Apakah Sarmi tahu hal ini?!” Anton masih mengeluarkan amarahnya.


”Pa...jangan berkata keras! Tidak baik jika di dengar sama Geo dan mamanya, apalagi mereka berdua ada di samping rumah kita sekarang! Bicara pelan saja! Duduklah dulu!” Serlina mencoba membujuk suaminya agar tenang.


Anton menurut, ia duduk.


”Sardin, Syakila, duduklah! Jelaskan semuanya dengan jujur pada kami! Mengapa kalian berdua putus, padahal kalian baru bertunangan?” Serlina bertanya penasaran.


Syakila dan Sardin saling pandang sejenak, kemudian, mereka berdua segera duduk.


Anton menatap Sardin dan Syakila dengan tajam, tanpa kedip. ”Apa Sarmi tahu kamu dan Geo menikah karena terpaksa?” suaranya masih terdengar marah


Syakila mengangguk perlahan sambil menunduk.


Gubrak!! Anton berdiri sambil menggebrak meja. Membuat Serlina dan Syakila juga Sardin terkejut. ”Apa-apaan ini!!”


”Pa!!” Serlina memegang tangan suaminya.


”Apa kamu kira pernikahan itu mainan?! Sarmi juga! Apa yang dia pikirkan? Mengapa dia menyetujui pernikahan kalian?!” Anton kembali duduk dengan lemas. ”Syakila! Paman sungguh tidak berdaya sekarang! Kamu menikah dengan terpaksa dan menandatangani kontrak perjanjian nikah sama Geo! Apakah kamu sadar? Kamu itu perempuan! Berapa tahun kalian akan melakukan nikah kontrak?”


”Jika Geo telah sembuh dari sakitnya, dan bisa berjalan normal lagi, kami berdua akan bercerai.” Syakila menjawab sambil menunduk.


Anton mengusap wajahnya, ”Astaghfirullah! Syakila! Jika ayah mu masih hidup, dia akan sangat terpukul melihat kamu seperti ini! Pernikahan itu bukan mainan Syakila! Bukan mainan!! Apa kamu bisa bayangkan tidak Syakila? Jika Geo bisa sembuh dan berjalan di saat kamu lagi hamil, apa yang akan kamu lakukan, Syakila?! Hah!!”


”Paman, Syakila dan Geo tidak saling mencintai, jadi, di antara kami berdua tidak akan terjadi apa-apa! Dia dan aku, tahu batasan.”


”Jadi, selama ini kamu dan dia tidak saling mencintai?” Anton bertanya serius memandang Syakila, meski Syakila menunduk.


Syakila mengangguk.


”Apa kalian tidurnya terpisah?”


Syakila menggeleng, ”Semenjak kembali dari kota S, kami sudah tidur seranjang, Paman. Tapi, Syakila dan Geo tidak melakukan hubungan lain, selain tidur saja.” ungkapnya.


”Astaghfirullah!” Anton kembali mengusap wajahnya.


Syakila mendongak, melihat Anton, ”Maaf, Paman, Bibi. Syakila tidak berniat menyembunyikan ini pada Paman dan Bibi. Syakila juga tidak berniat untuk menutupi ini dari Paman dan Bibi. Syakila tidak bisa menjelaskan semua ini pada Paman dan Bibi sekarang. Tapi, Syakila mohon! Paman dan Bibi berpura-pura lah tidak tahu hal ini di hadapan Geo dan Rosalina.” Syakila menatap penuh harap pada Anton dan Serlina.


Anton menatap tajam pada Syakila. Bahkan Syakila menyuruhnya untuk berpura-pura tidak tahu hal ini. ”Mengapa Paman harus berpura-pura?” tanyanya, penasaran.


”Syakila!! Kamu di mana, Nak?”


Semua terdiam mendengar suara Rosalina yang mencari dan memanggil Syakila. Syakila refleks berdiri. Sardin juga ikut berdiri.


”Paman, Bibi, Syakila mohon! Berpura-pura lah tidak mendengar ataupun mengetahui apapun tentang pernikahan Syakila dan Geo!! Syakila janji, Syakila akan menjelaskan semuanya pada Paman dan Bibi nanti!” Syakila kembali memohon, wajahnya menampakkan wajah penuh iba.


Anton dan Serlina sama-sama terdiam. Amarah masih terlihat di wajah Anton.


”Syakila, ternyata kamu di sini? Mama mencari mu dari tadi! Eh, Anton, Sardin, kalian juga ada di sini?” Rosalina berbicara sambil terus berjalan ke samping Syakila.


”Iya, Mama! Syakila baru saja selesai masak, di bantu oleh Paman, Bibi, dan kak Sardin, biar cepat masaknya.” Syakila terpaksa berbohong. Ia tidak ingin Rosalina tahu jika Anton dan Serlina telah tahu kebenaran pernikahannya. ”Mama, Mama ada apa mencari Syakila?” tanyanya.


Rosalina tidak menjawab, ia malah memperhatikan raut wajah Anton. Wajah Anton masih terlihat marah. Wajahnya sangat tidak bersahabat malam ini. ”Ada apa dengan wajah mu, Anton? Apa kamu sedang marah?”


Serlina tersenyum, ia memegang tangan suaminya. ”Suami ku tidak apa-apa! Hanya saja.... ada sedikit masalah di tempat jualannya, hal ini baru dia tahu setelah mendapat telfon dari anak buahnya.” ucap Serlina, berbohong.


”Oh, begitu!”

__ADS_1


”Oh iya, Mama ada apa mencari Syakila? Mengapa Mama meninggalkan Geo sendirian?” Syakila kembali bertanya tujuan Rosalina mencarinya.


”Oh, Mama hampir lupa! Geo sudah lapar, ia ingin makan sesuatu. Tapi, ia ingin kamu yang menyiapkan makanan dan menyuapinya.” jawab Rosalina.


”Baiklah, kebetulan makanan sudah masak. Syakila akan menyiapkan makanan untuk Geo. Mama duduklah di sini untuk makan malam bersama Paman dan Bibi ku.”


”Baiklah,” Rosalina duduk di kursi tempat Syakila duduk tadi.


Syakila mengambil piring dan menyendok makanan untuk Geo. Setelah semuanya di siapkan, ia keluar dari dapur dengan membawa makanan tersebut.


Sardin melihat Syakila dengan pandangan tidak rela, ia sedikit cemburu. Namun, lagi-lagi ia harus berdamai dengan rasa cemburunya itu.


”Rosalina, Sardin. Mulailah untuk mengambil makanan. Makanlah selagi makanannya masih hangat.” ucap Serlina. Ia pun mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk suaminya tersebut.


Sementara Anton masih menampakkan wajah marahnya. Meskipun tidak terlalu jelas terlihat marahnya tersebut.


Sehabis ini, aku akan menelfon Sarmi meminta penjelasannya. Selama ini aku pikir alibi yang di kemukakan Syakila dan Geo waktu itu adalah benar! Ternyata... Syakila, paman tidak tahu mau bicara apa lagi! Halim, lihatlah anakmu, Syakila, yang kamu banggakan itu! Apa yang ada di otak anakmu itu?! benak Anton.


Rosalina dan Sardin pun mulai mengambil makanan untuk diri mereka masing-masing. Mereka pun makan dengan diam.


Di ruang praktek Samnia.


Syakila masuk ke dalam ruangan. Geo tersenyum melihat Syakila yang berjalan ke arahnya sambil membawa makanan. ”Kamu sudah datang? Aku lapar sekali!”


Syakila menaruh makanan di atas meja, ”Aku akan mengatur posisi ranjang dulu.” ia mengatur posisi ranjang tersebut, Geo terlihat sedang duduk bersandar dengan nyaman, di ranjang tersebut.


Syakila mengambil makanan di atas meja dan duduk di kursi samping ranjang. Ia menyendok nasi dan mengarahkan sendok itu ke mulut Geo. ”Makan lah selagi makanan ini masih hangat.”


Geo membuka mulut dan Syakila memasukkan makanan di dalam mulut Geo. Geo mengunyah makanan itu sambil memperhatikan raut wajah Syakila yang berubah-ubah.


Bagaimana cara menjelaskan ini pada paman dan bibi? Paman dan bibi di dapur tidak akan mengusik Rosalina kan? Oh... ya Allah! Semoga saja paman dan bibi tidak melakukan apapun! benak Syakila.


”Ada apa?” tanya Geo. Rupanya ia menyadari ada sesuatu yang di khawatirkan dan di pikirkan oleh Syakila.


”Tidak ada apa-apa!! Makanlah saja! Setelah selesai makan, baru boleh berbicara.”


Syakila tahu Geo terus melihatnya, namun, ia abaikan saja. Dia anggap Geo tidak melihatnya. Ia terus menyuapi Geo hingga makanan itu habis.


”Makanannya telah habis! Sekarang bicarakan padaku apa yang kamu pikirkan!” ucap Geo setelah ia selesai meminum air.


”Geo, tulang kaki mu sudah tampak baik. Setelah keluar dari sini dan luka mu sudah sembuh, ikutlah dengan ku untuk melatih kaki mu berjalan.”


Kening Geo mengerut, ”Kenapa? Kamu sudah tidak sabar lagi untuk berpisah dengan ku dan ingin menikah dengan Sardin?”


Iya, itu benar! benak Syakila.


”Kenapa? Apa kamu tidak mau berlatih berjalan? Tidak ingin sembuh?” sahut Syakila.


”Jangan menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan, Syakila!! Jawab saja yang jujur! Kamu tidak sabar lagi untuk menikah dengan Sardin? Iya kan?”


Syakila menghela nafas, ”Jika di dalam pikiran mu seperti itu, maka aku cuma bisa mengiyakan saja. Tapi, aku hanya ingin kamu cepat sembuh biar mama mu bisa tenang dan bahagia melihat putranya sudah bangkit dari keterpurukannya!”


Syakila menjeda ucapannya sejenak, ia melihat Geo dengan memicingkan matanya. ”Atau...apa kamu sebenarnya sudah bisa jalan...tapi, kamu sembunyikan itu dari ku?!”


Geo terdiam. Apa Syakila sudah menyadari atau mengetahui sesuatu? Tidak mungkin kan Rivaldi memberitahu Syakila tentang kebenaran kesembuhan ku!? benaknya.


Ia membuang muka, menghindari tatapan mata Syakila. ”Untuk apa aku menyembunyikan itu darimu? Tidak ada untungnya bagiku!!” ia melihat Syakila, ”Lagi pula, jika aku sudah sembuh pun, kamu juga akan tetap berada di sisi ku! Aku tidak akan menceraikan mu!” tegasnya.


Syakila terkejut, ” Apa!? Kamu tidak bisa begitu, Geo! Kita sudah sepakat! Jangan membuat ku kembali membenci mu, Geo!!” Syakila terlihat marah.


”Pergilah! Aku tidak ingin berbicara apapun lagi sekarang dengan mu! Aku ingin istirahat!” sahut Geo, nada suaranya pelan.


Syakila memandang Geo tanpa kedip.


”Tunggu apa lagi!! Kamu tidak dengar?! Aku ingin istirahat!!”


Tanpa berkata Syakila menurut, ia mengatur lagi ranjang Geo seperti semula. Ia melihat Geo, Geo membuang muka, menghindari tatapan Syakila.

__ADS_1


Kamu tidak bisa menahan ku di sisi mu, Geo! Kita tidak akan bersama, sekeras apapun kamu mencoba menahan ku di sisi mu! benak Syakila.


Syakila mengambil piring kotor. Ia kembali melihat Geo, ”Kamu dan aku...tidak bisa tinggal bersama! Kita pasti akan bercerai...dengan inisiatif mu sendiri!” ucapnya dengan yakin. Ia segera keluar dari ruangan itu.


Geo menoleh, melihat Syakila yang telah keluar dari ruangannya, setelah ruangan itu tertutup. ”Jangan mimpi!!” gumamnya.


.. ..


Di dapur.


”Mama, Papa sudah selesai makan. Papa pergi ke kamar dulu.” ucap Anton, sambil berdiri.


”Iya, Pa.” sahut Serlina.


Anton segera keluar dari dapur.


”Apa masalah di tempat jualannya begitu besar? Coba kamu ceritakan padaku, mungkin saja aku bisa membantunya.” ucap Rosalina.


”Insya Allah, masih bisa di atasi sendiri oleh mas Anton. Terima kasih, atas niat baik mu.” sahut Serlina.


”Baiklah, jika kalian butuh apa-apa, bilang saja padaku. Kita sudah menjadi satu keluarga, jangan sungkan padaku atau pada Geo. Geo adalah menantu kalian.” ucap Rosalina lagi sambil tersenyum.


Serlina melirik Sardin yang sedang mengumpulkan piring kotor. Bagaimana bisa ia menganggap Geo anak mantunya sekarang? Sedangkan ia sudah mengetahui kebenaran status pernikahan Syakila dan Geo!


”Iya, baiklah. Jika ada apa-apa, aku akan memberi tahu mu.” Serlina memaksakan senyum ramahnya kepada Rosalina.


”Oh iya, apakah kamu ingin bermalam di sini? Menemani Geo? Aku akan mengatur kamar untuk mu!” ucapnya lagi.


”Tidak, aku akan pulang! Sudah cukup Syakila yang menjaganya. Besok, aku harus ke kantor pagi-pagi, ada urusan penting yang harus ku selesaikan.” jawab Rosalina.


”Baiklah kalau begitu, mari kita pergi ke ruangan Geo. Di sini, biar Sardin saja yang membersihkan nya.” kata Serlina. Ia beranjak berdiri.


Rosalina ikut berdiri sambil melirik Sardin. Mereka segera keluar dari dapur. Mereka berpapasan dengan Syakila di pintu dapur.


”Nak, Geo sudah selesai makan?” tanya Rosalina, mencegah Syakila yang hendak masuk ke dapur.


”Iya, Mah. Geo sudah selesai makan, tinggal minum obat saja yang belum. Setelah beberapa menit lagi, baru ia akan meminum obat. Mama dan Bibi ingin pergi melihat Geo?”


”Iya,” jawab Serlina dan Rosalina. ”Kamu simpan saja piring kotornya di atas meja, ayok pergi ke ruangan Geo bersama-sama.” lanjut Rosalina berucap.


”Maaf, Mah. Mama dan Bibi duluan saja, Syakila ingin makan dulu. Perut Syakila lapar.” jawab Syakila. Ia melangkah masuk ke dapur. Rosalina memperhatikan Syakila yang berjalan.


”Sudah, biarkan Syakila makam dulu. Ayo kita pergi.” ucap Serlina pada Rosalina.


”Iya,” sahut Rosalina. Ia berbalik dan memutar badan, melangkah bersama Serlina meninggalkan dapur.


Di dapur hanya ada mereka berdua. Bukankah mereka berkesempatan untuk berduaan? benak Rosalina.


Syakila meletakkan piring kotor ke tempat bak cuci piring. Kemudian, ia melangkah ke lemari piring dan mengambil piring bersih.


Sardin merebut piring itu dari tangan Syakila. ”Biar kakak yang sendok kan ade makanan. Ade duduklah di kursi.” titahnya.


Syakila tersenyum, ”Baik, kakanda! Adinda menurut!”


Sardin balas tersenyum dan mencubit pelan hidung Syakila sambil menggelengkan kepala.


Syakila duduk di kursi, ia memperhatikan Sardin yang menyendokkan makanan untuknya.


Terima kasih kakak Sardin! Terima kasih atas besarnya cintamu padaku. Terima kasih, sudah bertahan bersama ku. benaknya.


Ia tersenyum melihat Sardin yang berjalan ke arahnya sambil membawakan makanan untuknya.


Sardin meletakkan makanan Syakila di atas meja, ia juga duduk berdepanan dengan Syakila. ”Makanlah, kakak akan menemanimu, disini.”


”Ok, terima kasih, sayang.” ucap Syakila senang. Ia mulai memakan makanannya.


”Kakak, tidak terjadi apa-apa kan selama kalian makan bersama tadi? Paman dan bibi ku tidak bicara apa-apa kan sama mama mertuaku?” tanya Syakila, sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


”Iya, aman kok! Paman dan Bibi itu baik, mereka bisa menyikapi segala hal dengan baik. Kamu tenang saja!”


__ADS_2