
Malam ini Sarmi tidak bisa tidur, ia sangat gelisah. Pikirannya selalu berputar-putar tentang Halim, suaminya.
Ada apa denganku? Semenjak tadi aku gelisah seperti ini, apa terjadi sesuatu kepada mu, suamiku? Ya Allah lindungilah selalu suamiku dimana pun kakinya berpijak untuk mencari rahmat dan rezeki -Mu, ya Allah. Aamiin.
batin sarmi
Ia mencoba untuk selalu menenangkan hatinya dengan selalu berdoa kepada Allah untuk melindungi suaminya. Ibunya yang belum tidur juga ia keluar untuk duduk-duduk di gode gode. Ia menemukan Sarmi yang sedang duduk disana sambil memandang langit yang gelap gulita. Ibunya mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Kamu belum tidur, Nak?"
"Belum, Ibu! Hatiku gelisah memikirkan suamiku, Ibu!" jawab Sarmi.
"Kamu tenangkan hatimu, Nak! Jangan terlalu memikirkan yang tidak-tidak tentang suamimu, percayalah selalu kepada suamimu." ucap sang ibu menasihati Sarmi.
"Iya Ibu, Sarmi selalu menenangkan diri, jujur Sarmi sedikit ragu Ibu. Sarmi sedikit takut, jika mas Halim seperti kakaknya, Ibu!" sahut Sarmi.
Sang ibu tersenyum, "Suamimu dan kakaknya adalah orang yang berbeda, sifat mereka juga berbeda. Jangan ragukan suami mu, Nak!" ucapnya lagi menasihati.
"Perasaan ragu ini timbul tiba-tiba, Ibu!" ucap Sarmi dengan sedih.
Sang ibu mengelus-elus punggung Sarmi untuk menenangkannya. "Begitulah cobaan jika berjauhan dengan pasangan kita, Nak! Kepercayaan dan kejujuran sering di uji. Percaya sama Ibu, suamimu sangat mencintaimu, dia tidak akan menduakan kamu seperti kakaknya." ucapnya meyakinkan Sarmi.
"Tanamkan kepercayaan di hatimu untuk suamimu, jangan ragu padanya. Serahkan semua kepada yang kuasa, Insya Allah, Allah melindungi suamimu dari perbuatan yang akan merugikan dirinya kelak." lanjut si ibu menasihati Sarmi.
Sarmi terdiam, ia memikirkan ucapan ibunya. Ia jadi sadar jika ia sudah meragukan kuasa Allah "Iya Ibu, maaf kan Sarmi." ucapnya kemudian.
Ibunya tersenyum, "Pergilah tidur, temani anakmu!" perintah sang ibu.
Sarmi mengangguk, "Ibu tidak tidur?" tanyanya kepada ibunya.
"Ibu sedikit lagi baru tidur, kamu tidurlah duluan!" perintahnya lagi kepada Sarmi. Sarmi mengangguk. Lalu ia melangkah naik ke rumahnya lalu ia baring di samping anak bungsunya.
Maafkan aku suamiku, aku meragukan mu tadi, jagalah dirimu selalu, suamiku! Aku akan mendoakan mu dari sini juga untuk kesehatan dan keselamatan mu.
__ADS_1
batin Sarmi.
Ia mencoba memejamkan mata mengajaknya untuk tertidur. Setelah hatinya tidak gelisah sekarang ia bisa tertidur dengan pulas.
.. ..
Sementara itu Halim sendiri tidak bisa tertidur, ia memikirkan istrinya sejak tadi. Ia merindukan istrinya itu.
Sarmi, aku merindukan mu! batinnya.
Ia melirik teman di sampingnya, "Dia sudah tertidur." gumamnya. Ia berdiri dari duduknya dan hendak pergi ke sisi kapal untuk melihat keindahan laut di malam hari.
Baru saja ia berdiri, temannya terbangun karena tangan Halim yang tidak sengaja mengenai kakinya. "Kamu mau kemana? Kenapa tidak tidur?" tanya Hamid.
"Aku tidak bisa tidur, aku akan keluar ke sisi kapal sebentar, aku ingin melihat air laut. Kamu mau ikut?" sahut Halim sekaligus mengajak temannya untuk ikut dengannya.
"Boleh," sahutnya. Ia bangun dari tidurnya. "Ayok!" ajak Halim. Ia berjalan di belakang Halim. Kini mereka sampai ke sisi kanan kapal, mereka sama-sama terbuai dan asyik dengan pikirannya masing-masing.
Sebenarnya Hamid ia penasaran tentang pernikahan Halim dan Sarmi. Ia ingin bertanya tapi ia sedikit ragu.
"Iyah usia perkawinan ku sekarang 12 tahun. Dan kami sudah memiliki enam orang anak dari hasil pernikahan kami." jawab Halim dengan tersenyum.
"Kamu pasti sangat mencintainya dan dia juga pasti sangat mencintaimu." sahut Hamid.
"Iyah Alhamdulillah sekarang kami saling mencintai, awalnya kami sama-sama tidak saling suka." ucap Halim dengan tersenyum mengingat awal pernikahan mereka.
"Oh yah? Lalu Bagaimana kalian bisa menikah jika kalian tidak saling suka?" tanya Hamid dengan bingung sekaligus penasaran.
"Apa kalian di jodohkan?" tanya Hamid lagi ketika Halim belum menjawab pertanyaannya tadi.
Halim memandang Hamid yang sedang memandangnya dengan penasaran. Halim tersenyum.
"Bukan di jodohkan, tapi aku dan Sarmi tidak sengaja bertemu di jalan saat kami pulang sekolah dulu. Dan saat itu sedang turun hujan besar, kami sama-sama berteduh di depan rumah yang kosong tidak berpenghuni. Dan saat hujan mulai reda ada beberapa warga kampung yang lewat disana dan melihat kami berdua. Mereka melaporkan kami kepada pak RT dan pak RT memanggil kedua orang tua kami. Akhirnya kami berkumpul di rumah pak RT dengan beberapa warga yang melihat kami saat itu. Pak RT bertanya banyak kepada kami berdua, dan kami sudah menjelaskan jika kami tidak saling kenal, juga tidak berpacaran, kami hanya numpang berteduh saja saat itu. Tapi jawaban kami tidak di terima oleh warga setempat. Akhirnya sesuai keputusan dari warga dan pak RT juga kedua orang tua kami, kami di nikahkan dua hari kemudian. Awalnya kami sama-sama menolak, karena kami tidak bersalah juga kami sama-sama sudah mempunyai pacar. Tapi kami memikirkan kembali tentang kehormatan keluarga kami, jadi kami pun menikah." ucap Halim menceritakan awal pernikahannya.
__ADS_1
Ia kembali tersenyum, "Kami menikah pas kami masuk kelas 3 SMA, tapi setelah menikah kami masih tinggal bersama kedua orang tua kami masing-masing. Setelah lulus SMA baru kami tinggal serumah. Saat itulah kami sudah mulai ada rasa cinta yang terbenam di lubuk hati kami berdua." lanjutnya lagi bercerita.
"Wow! Jadi istilahnya kalian terpaksa menikahnya? Tapi kamu beruntung dia sangat cantik!" puji Hamid.
Halim tertawa kecil, "Hahaha kamu benar! Dia sangat cantik dan juga baik hati. Seandainya aku tidak menikahinya pasti aku sudah menyesal menyiakan gadis yang cantik alami dan berbudi baik seperti dia." sahutnya sambil memandang bulan yang membulat sempurna di atas langit. Seakan ia bisa melihat wajah istrinya yang sedang tersenyum pada dirinya.
"Lalu bagaimana dengan pacar kalian masing-masing?" tanya Hamid lagi penasaran.
Halim terdiam sejenak. "Awalnya aku akan menceraikan Sarmi setelah lulus SMA nanti dan aku kembali dengan pacarku, tapi Allah menyayangiku ia menunjukan sikap sesungguhnya wanita yang aku cintai. Saat aku ingin menemuinya dan menceritakan hal yang terjadi padanya, dan mengajaknya untuk menikah nanti. Tapi saat itu pula aku melihat dia sedang berpelukan dan berciuman dengan pria lain. Jadi aku memutuskan dia saat itu juga. Dan saat orang tuaku mendengar aku akan menceraikan istriku, disitulah aku tahu jika perceraian Allah tidak menyukainya." ujarnya dengan tersenyum masam.
"Bagaimana dengan Sarmi dan pacarnya?" tanyanya penasaran. Sebenarnya hal itulah yang ingin dia dengar. Karena ia sampai sekarang tidak tahu alasan yang sebenarnya Sarmi memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba. Dan setelah Sarmi memutuskannya, Hamid pergi keluar kota untuk menenangkan dirinya.
"Sarmi memutuskan pacarnya sebelum kami bertemu di saat hujan itu," katanya "Iya memutuskan pacarnya karena ia di desak oleh kedua orang tua pacarnya, ia tidak di restui oleh mereka. Alasannya hanya karena sepele, hanya karena Sarmi bukan dari kalangan orang berada." ucap Halim bercerita.
Hamid terdiam mendengar cerita Halim.
Jadi, Sarmi memutuskan aku karna orang tuaku? Bukan karena ada pria lain di hatinya? Maafkan aku Sarmi aku lelaki yang bodoh, aku mudah percaya dengan omongan orang lain. Aku juga mudah menyerah dengan cinta kita saat itu. Aku salah menilai mu, bodohnya aku. Sekarang aku mencari mu pun percuma kamu sudah lama menikah dan sudah mempunyai anak. Jujur saja Sarmi aku masih mencintaimu sampai sekarang.
batin Hamid.
"Kalau kamu bagaimana tentang cerita asmaramu? Apa kamu sudah menikah juga dan memiliki anak?" tanya Halim seketika.
Hamid tersenyum kecut mendengar pertanyaan Halim. "Aku?" Ia terdiam sejenak memandang Halim yang memandangnya. "Aku sudah bercerai enam bulan yang lalu dengan istriku, dari pernikahan kami, kami tidak memiliki anak." ucapnya.
Halim menatap Hamid dengan bingung. "Kenapa bercerai? Bukankah Allah tidak membenarkan perceraian?" tanyanya.
"Sebenarnya kami menikah karena di jodohkan, dia istri pilihan dari orang tuaku, awalnya aku berusaha untuk mencintainya dan menerima pernikahan kami dengan ikhlas. Aku mulai membuka diri untuknya. Di pernikahan kami yang ketiga tahun, aku begitu bahagia dengan hadirnya seorang putra di tengah-tengah kami tapi sayangnya ketika anak itu berusia dua tahun kami mengalami sebuah musibah, mobil yang ku kendarai tiba-tiba remnya blong dan sulit untuk ku kendalikan lajunya, dan kecelakaan pun tidak terelakan lagi. Tapi Alhamdulillah kami hanya luka ringan saja, dan anak kami banyak kehilangan darah, di saat aku mendonorkan darahku saat itu pula aku mengetahui kebenarannya jika dia bukan anak kandungku." ucap Hamid bercerita.
Ia kembali tersenyum masam. "Tapi aku menyembunyikan kebenaran itu dari kedua orang tua kami. Aku berusaha untuk memaafkan dia atas apa yang telah ia perbuat dan mencoba untuk menerima kekurangannya. Tapi ia menolak, ia ingin bercerai. Aku tidak ada pilihan jadi aku menuruti kemauannya. Setelah bercerai dengan ku, dua Minggu kemudian ia menikah dengan ayah kandung dari anaknya itu. Dan ternyata dia adalah pacarnya, mereka masih berhubungan di belakangku meski kami sudah menikah." ucap Hamid lagi.
Hamid memandang Halim dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Halim. "Kamu sangat beruntung bisa memiliki istri yang baik seperti Sarmi. Kisah cintaku sangat memilukan bukan?" tanyanya kepada Halim dengan tersenyum masam.
Halim memegang pundak Hamid. "Maaf aku sudah mengulit kenangan mu yang kelam, semua itu kuasa ilahi, semoga di pernikahan mu yang kedua nanti, kamu akan mendapatkan pasangan yang baik dan setia pada mu. Bersyukur lah Allah menunjukan jalan yang benar padamu, meski jalannya membuatmu kecewa." ucapnya memberi semangat kepada Hamid.
__ADS_1
Hamid mengangguk. Kini mereka kembali terdiam memandangi laut yang gemerlap dengan lampu-lampu sinaran dari kapal.