
Di perjalanan menuju mall di kota S.
”Kakak, aku gak nyangka kakak akan datang kesini demi kak Sardin.” ucap Hardin memulai pembicaraan mengusir rasa hening. ”Apa kakak ipar tahu niat kakak datang kesini untuk apa?”
”Kenapa kamu tidak memberitahu tentang kecelakaan kak Sardin padaku?”
Syakila tidak menjawab pertanyaan Hardin, ia menghindar untuk memberitahu hubungan pribadinya untuk Jaka ataupun orang lain, meskipun itu adalah keluarganya sendiri.
”Maaf, kakak, mama melarang ku untuk memberitahu kan itu pada kakak. Mama bilang, kakak tidak berhak lagi untuk tahu keadaan kak Sardin, karena kakak sudah punya suami.” ungkap Hardin
Syakila terdiam, ia menghela nafas kasar.
...Ternyata dugaan ku benar, mama yang melarang mereka untuk memberitahu keadaan Sardin padaku. Aku tahu niat mama baik, tapi, mama tidak tahu yang sebenarnya terjadi antara hubungan aku dan Geo. Aku tidak ingin setelah aku berpisah dengan Geo, maka Sardin telah menjadi miliknya orang. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Sardin adalah milikku sejak kecil....
”Bukankah kakak sudah bilang padamu, apapun, siapapun yang melarang kamu, kamu harus tetap memberitahu kan keadaan kak Sardin padaku!?” suaranya meninggi.
”Maaf, kakak, jangan marah padaku. Aku tidak bisa ngapa-ngapain kak, hapeku di sita sama mama, makanya aku tidak memberitahu kan keadaan kak Sardin pada kakak.”
”Apa kamu tidak bisa meminjam handphone yang lain untuk mengabari kakak?”
”Hapenya yang lain juga di sita sama mama. Hanya hapenya kak Fatma saja yang tidak disita. Tapi, aku tidak mungkin meminjam hape kakak, sementara kakak juga melarang ku untuk mengabari kakak tentang kabar kak Sardin.”
”Sudahlah, sekarang kakak sudah disini. Kamu jangan beritahu kakak Fatma dan mama juga om, dan bibi tentang tujuan kakak yang sebenarnya datang ke kota ini.”
”Iya, kak. Tapi, apa menurut kakak, mama tidak akan curiga tentang itu? Dan apakah kakak ipar tidak akan menceritakan tujuan kalian datang ke kota ini pada mama?”
”Tidak akan, Geo..tidak akan bicarakan hal itu kepada mama, bibi, dan om. Untuk curiga...mama pasti curiga, kita tidak bisa sembunyi kan apa pun dari mama. Tapi, mama tidak akan membicarakan hal itu secara langsung kalau kamu tidak akan bicara ceplas-ceplos di hadapan mama, bibi, dan om. Apa kamu mengerti?!”
”Iya, kak, aku ngerti!”
Kini mereka kembali terdiam. Jaka membelokkan motornya ke haluan kiri dan mereka telah tiba di mall yang di tuju. Jaka memarkirkan motornya di halaman parkir mall tersebut. Jaka dan Syakila memasuki mall.
”Kakak, kita cari sepatu untuk ku dulu ya.” tawar Hardin.
”Iya,”
Mereka menaiki tingkat dua dari mall tersebut menggunakan eskalator dan berjalan ke arah penjualan sepatu sesampainya di lantai dua. Hardin sedang memilih sepatu yang dia sukai.
”Mana yang bagus kak?”
”Kamu maunya warna apa?”
”Merah tua dan biru navy.”
”Kamu ambil sneaker hitam dan biru navy aja deh.”
”Ok, sesuai perkataan mu.” sahut Hardin sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum melihat Syakila.
”Apaan sih kedipan mata segala!” ucap Syakila sambil menyapu wajah Hardin. ”Sudah, ayo kita bayar sekarang dan cari pakaian lengkap untuk Geo, baru kita pulang.”
”Ok,”
Mereka berdua berjalan bersama menuju kasir. Setelah Syakila membayar sepatu Hardin, mereka berdua kini berada di toko pakaian khusus pria. Syakila nampak serius memilih pakaian yang kira-kira cocok dengan Geo.
Syakila melihat beberapa baju kaos dan kemeja pendek yang ia sukai, ia mengambil beberapa buah kaos dan kemeja tersebut dengan tiga warna, biru navy, merah maroon, dan putih. Ia juga membelikan jaket Zipper hitam, dan Sweater Zipper Hoodie dengan warna biru navy dan Hitam. Setelah memilih baju, ia membelikan celana panjang dan pendek juga pakaian dalam untuk Geo.
Setelah selesai membeli pakaian, ia beralih ke lantai bawah untuk membeli keperluan mandi Geo. Ia membelikan semua perlengkapan mandi Geo sesuai dengan produk yang di gunakan Geo di kota A. Setelah semua selesai di beli, mereka keluar dari mall tersebut.
Hardin mengeluarkan motor dari parkiran, sementara Syakila, ia menunggu Hardin di jalan besar.
”Syakila,” sapa seseorang dari arah belakang Syakila. Syakila menoleh, melihat siapa yang menyapanya.
Syakila terkejut sekaligus merasa senang, ”Guru,” sahutnya sambil tersenyum.
Guru tersebut tersenyum. ”Ternyata tebakan ku benar, kamu Syakila. Apa kabar mu? Mengapa kamu tidak pernah datang menemui ku beberapa bulan ini? Kamu disini sedang menunggu siapa?”
__ADS_1
”Maaf, Guru, Syakila berada di kota lain selama beberapa bulan ini. Syakila baik-baik saja, seperti yang Guru lihat, aku menemui Guru untuk berpamitan sebelum pergi ke kota A, tapi, Syakila tidak menemukan Guru di tempat latihan. Syakila juga tidak menemukan Guru di rumahnya Guru, kata mereka Guru sedang keluar kota. Aku disini sedang menunggu adikku, Jaka.” ungkap Syakila.
Sang guru menghela nafas, ”Iya, aku memang keluar kota dan setelah datang untuk mengajar kembali, satu murid ku hilang. Aku mencari mu dan menemui mu di tempat karate, tapi, kamu juga tidak ada. Di rumah mu juga kamu tidak ada.”
Syakila terkejut, ”Apa? Guru mencari ku di tempat karate? Dan di rumah? Untuk apa Guru mencari ku?”
Sang guru tertawa, ”Aku membelikan mu sebuah gelang giok warna hijau. Aku mencari mu untuk memberikan padamu, tapi, kamu tidak ada dan ku dengar kamu telah menikah.” ucapnya menjelaskan. Di akhir ucapannya ia terasa sedih dan tersenyum kecut.
”Ah, ku rasa Guru sangat berlebihan dalam memperhatikan ku. Iya, aku sudah menikah. Guru, Guru pernah menyembuhkan pria yang hampir lumpuh. Apakah Guru bisa membantu ku menyembuhkan seseorang yang lumpuh juga?”
Hardin sengaja menunggu Syakila yang sedang berbincang dengan gurunya di belakang mereka.
Sang guru kembali tersenyum, ”Selamat untuk pernikahan mu. Untuk menyembuhkan...aku juga belum tahu bisa apa gak! Tapi, kamu bawa saja dia menemui ku, setelah kulihat kondisinya bagaimana, baru aku bertindak. Baiklah, sudah terlalu lama kita berbincang, aku pulang dulu.”
”Baiklah, hati-hati, Guru.” sahut Syakila.
”Hum, aku menunggu mu di rumah dan bawalah juga suami mu, aku ingin bertemu dan melihatnya.”
Syakila tersenyum, ”Baik, Guru.”
Sang guru berlalu meninggalkan Syakila.
Syakila, selama kamu menjadi murid silat ku, aku selalu memperhatikan mu dengan berlebihan. Apakah kamu tidak menyadari maksud hati ku yang menyukai mu? Setelah ku dengar kamu menikah, aku menyimpan rasa ini untuk ku. Semoga kamu bahagia dengan suami mu.
Hardin menghampiri Syakila yang masih memandang punggung gurunya yang sudah pergi.
”Kakak, ayo naik, kita pulang sekarang!” ucapnya.
”Iya,”
Syakila naik di atas motor, Hardin menjalankan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah. Selama perjalanan, Syakila maupun Jaka tidak terlibat percakapan. Syakila tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia terkenang kembali bagaimana perhatian yang di berikan gurunya tersebut padanya. Guru tersebut selalu ada dalam kesusahan yang di alaminya, guru tersebut juga selalu mentraktirnya makan dan mengobati luka Syakila jika ia terluka. Setelah seorang wanita yang iri akan perhatian guru yang berlebihan padanya, Syakila keluar dari sana, ia beralih mengambil karate.
Guru, aku tahu guru menyukai ku, itupun aku tahu dari Risna, adik mu. Maafkan aku Guru, aku tidak bisa mendapatkan perhatian mu dan kasih sayang mu yang melebihi kasih sayang antara guru dan murid. Selain aku menunggu Sardin, ada seseorang yang mencintai Guru dengan tulus, tidak bisakah Guru melihat gadis itu? Dia selalu memperhatikan Guru, dia juga sering mendatangi ku dan bercerita tentang kecemburuannya padaku di saat Guru mendekatiku. Maaf, selama aku menjadi murid mu, aku sering membuat Guru susah. Hemp, baguslah Guru sudah datang kembali di kota ini, aku akan membawa Geo bertemu dengan Guru untuk di obati. Semoga Guru bisa menyembuhkan kaki Geo.
Hardin menghentikan motor tepat di halaman parkir rumahnya. Syakila turun dari motor, ia melangkah masuk ke rumah sambil memegang belanjaannya sendiri. Hardin menyusul Syakila sambil memegang belanjaannya juga.
”Wa 'alaikum salam,” sahut mereka semua yang ada di dalam rumah.
Hardin dan Syakila menyalim punggung tangan mama, om, dan bibinya. Lalu mereka berdua duduk di samping Sarmi, mamanya.
”Apa saja yang sudah kalian berdua beli?” tanya Sarmi.
”Aku hanya membelikan kebutuhan Geo saja, Mah. Kami kesini tidak membawa koper pakaian, jadi, aku membelikan ia pakaian untuk di kenakan nya selama kami disini.” sahut Syakila.
”Aku hanya membeli sepatu, Mah.” sahut Hardin
”Kalian tidak membeli sesuatu untuk di makan begitu? Buah? Atau kue?” tanya Biah, bibi mereka.
”Em, maaf, Bibi. Kami tidak kepikiran itu.” sahut Syakila, ia melihat Hardin. ”Dek, kamu keluar lagi gih sana, belikan kita buah dan kue, ini uangnya.”
Syakila memberikan uang 100 ribuan kepada Hardin. Hardin mengambil uangnya sambil berdiri.
”Tidak usah, kita sudah mau makan malam. Kakak mu sudah memasak.” cegah Johan.
Hardin kembali duduk. ”Kalau begitu, uang ini untukku saja ya kak.” ucapnya.
”Tidak bisa! Kembalikan uang ku!” sahut Syakila seketika.
Hardin mengembalikan uang Syakila sambil cemberut. Syakila mengambil uangnya dan memasukan kembali pada dompetnya.
”Mama, Bibi, Om, Syakila pergi ke kamar dulu.” pamit Syakila.
”Iya,” sahut mereka.
Syakila beranjak berdiri dan melangkah ke kamarnya. Johan dan Biah tersenyum, namun, pandangan matanya mengiba melihat punggung Syakila yang menghilang dari pandangannya. Begitu juga Sarmi, mereka seakan merasa bersedih.
__ADS_1
”Tidak menyangka Syakila bisa beradaptasi dengan keluarga barunya yang memang benar-benar asing untuknya. Ia menghargai suaminya yang punya kekurangan. Apakah menurut mu, Syakila bahagia, Sarmi?” ucap Biah.
Sarmi tersenyum, namun, senyuman yang di paksa. ”Seorang ibu hanya mendoakan kebahagiaan untuk anaknya, semoga dia bahagia dalam menjalani rumah tangganya.” sahutnya dengan tegar, namun, suaranya bergetar, seakan menahan tangis.
Selama kepergian Syakila ke kota A, hanyalah pertanyaan itu yang menyelimuti hati dan pikiran Sarmi. Apakah Syakila bahagia di sana? Apakah Syakila benar-benar bahagia? Mampukah Geo membahagiakan Syakila? Pertanyaan pertanyaan itu selalu singgah untuk mengganggu ketenangan dan pikiran Sarmi di setiap harinya.
Kisah cinta yang di jalani Syakila kurang lebih dari kisah cintanya sendiri, yang membedakan adalah Halim, suaminya lelaki yang sempurna sedangkan Geo, suami Syakila adalah lelaki cacat, yang berdiri sendiri saja tidak mampu.
Terkadang air mata jatuh membasahi pipinya jika sedang terpikirkan itu. Sarmi menguatkan hati dan jiwanya dengan berdoa semoga anaknya, Syakila mendapatkan kebahagiaannya.
Biah bisa melihat setumpuk kesedihan di pelupuk mata Sarmi. Ia sangat memahami perasaan Sarmi saat ini.
”Kamu benar, mendoakan kebahagiaan Syakila itu adalah poin terpenting.” ucapnya sambil tersenyum membelai punggung Sarmi.
Sarmi menoleh, melihat Biah, ia pun tersenyum dan mengangguk.
.. ..
Di kamar Syakila.
Syakila menyimpan pakaian Geo di kursi meja hias, dan perlengkapan mandi Geo, ia menyimpannya di kamar mandi. Ia mendekati Geo yang sudah terbangun, entah sejak kapan.
”Geo, kamu sudah bangun?” tanyanya lembut.
”Aku sudah bangun dari satu jam yang lalu.” sahut Geo dengan datar.
”Maaf, aku baru melihat mu, aku baru pulang dari berbelanja dengan adikku. Aku membelikan mu beberapa lembar pakaian, apa kamu mau mandi sekarang?”
Geo menatap Syakila dengan tajam dan mengerut.
Apa dia membelikan ku pakaian menggunakan uangnya Sardin? Perempuan ini, mengapa tidak bisa menjaga perasaan ku yang statusku adalah suaminya? Mengapa ia tidak mau menggunakan uang ku sepersen pun? Padahal, aku adalah suaminya, dan ia sangat wajar untuk menghabiskan uang ku sebagai istri.
Syakila terkejut dengan tatapan tajam Geo. ”Ada apa? Mengapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ku?”
”Tidak apa-apa, aku mau mandi sekarang.” sahut Geo dengan datar dan menahan amarah.
Tanpa berbicara lagi, Syakila membantu Geo mandi. Setelah selesai mandi, Syakila mengambil satu set pakaian yang di belinya untuk di kenakan pada Geo. Dengan wajah murung, Geo terpaksa memakai pakaian yang di belikan Syakila untuknya. Syakila memandang Geo dengan tersenyum senang, karena pilihannya sangat cocok untuk Geo.
Wah, baju ini pas sekali untuk badannya! Kulit putihnya bersinar memakai warna ini, seandainya dia sempurna, jika berjalan dengan memakai baju kaos seperti ini yang menampakan keseksian tubuhnya, dan ototnya yang kekar, gadis-gadis pasti akan terpesona dan terpikat padanya.
Geo tersenyum senang dalam hati. Syakila menatapnya tanpa kedip.
”Apa aku begitu tampan? Mengapa melihat ku tanpa kedip? Aku suami mu, tubuh ku ini milik mu loh!” ucapnya menggoda Syakila.
Syakila berdekhem saat ia tersadar setelah mendengar ucapan Geo.
”Em, Geo, besok kita akan kerumah sakit untuk menjenguk Sardin.” ucapnya mengalihkan pembicaraan Geo.
Geo terdiam memandang Syakila, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Mungkin, pikirannya sedang memikirkan ucapan Syakila barusan. Atau mungkin, dia memikirkan hal lain. Yang jelasnya, pikirannya sedang memikirkan sesuatu yang buruk terhadap Syakila atas ucapan nya itu.
”Kakak, kakak ipar, mama panggil untuk makan.”
Syakila dan Geo memandang ke arah pintu yang tertutup itu. Mereka sama-sama mendengar suara Yuli dari balik pintu tersebut.
”Iya,” sahut Syakila.
Ia dan Geo kembali saling memandang. ”Kuta keluar makan sekarang,” ucap Syakila.
Geo mengangguk. Syakila mendorong kursi roda Geo keluar kamar dan menuju ke dapur. Mereka semua telah berkumpul di meja makan. Masing-masing telah menyendok makanannya sendiri.
Syakila menyendok makanan buat Geo.
”Terima kasih, sayang.” ucap Geo.
Deg deg deg detak jantung Syakila, ia terkejut dalam diamnya atas ucapan Geo. Ia melirik semua anggota keluarganya, mereka sedang tersenyum kecil sambil melihat ke arahnya.
__ADS_1
Syakila menjadi malu, ia menyendok makanan untuk dirinya sendiri dan duduk makan sambil menunduk dan terdiam.