
Di kediaman Albert.
”Ini sudah siang. Kamu tidak menjemput Syakila? Dia pasti sudah pulang dari mengajar.” ucap Beni.
”Tidak perlu! Dia akan marah jika aku menjemputnya.”
”Marah?” Beni seakan tidak percaya.
”Iya! Dia menyuruh ku, selama satu minggu ini tidak boleh kerjakan apapun ataupun keluar dari rumah. Aku harus tetap di rumah.”
Beni tersenyum kecil, ”Oh...jadi, kamu sudah menjadi suami penurut nih?” ledeknya. Ia sengaja menggoda Geo.
”Kamu meledekku?” Geo menatap tajam pada Beni.
”Not! I'm not mocking you. It's just... aku tidak percaya seorang Geovani Albert bisa menurut pada wanita lain selain Rosalina.”
”Hentikan omong kosong mu!” ucap Geo dengan ketus.
”Ok...ok...em... Geo. Ada beberapa mitra kerja mu di kota S bertanya padaku, kapan kamu akan mendaftarkan diri untuk ...”
”Bukan kah aku sudah bilang padamu, kalau aku sudah tidak berminat lagi ke situ?” pangkas Geo.
”Em...iya! Aku sudah memberitahu mereka. Tetapi, mereka masih berharap kamu untuk tetap men...”
”Aku tidak ingin! Aku tahu itu keinginan papa, tapi, aku sudah tidak berminat lagi.” pangkas Geo lagi.
”Tante sudah tahu?” tanya Beni.
”Hum... awalnya mama menolak, tetapi, akhirnya mama mendukung keputusan ku.” jawab Geo.
”Oh...” singkat Beni menyahuti.
Ting! Hape Geo berbunyi. Geo dan Beni sama-sama melihat hape Geo yang ada di atas meja.
Geo meraih hapenya, ia melihat di layar tertulis satu pesan di terima. Ia membuka dan membaca pesan tersebut.
”Tuan, Antonio datang menemui nyonya Syakila di sekolah. Antonio tahu jika nyonya sedang mencari tahu tentang pria bernama Gege. Besok, Antonio akan datang lagi ke sekolah, di jam yang sama untuk menemui nyonya, membicarakan tentang identitas Gege.”
Wajah Geo berubah marah, ”Lalu, di mana sekarang nyonya kalian?”
”Nyonya telah pulang di jemput oleh seorang pria muda. Maaf, Tuan, saya tidak tahu siapa pria itu.”
Kening Geo mengerut, Apakah itu Sardin? benaknya.
”Kamu punya fotonya?”
Geo cemburu melihat foto yang dikirimkan oleh anak buahnya itu. Foto Syakila menggandeng tangan Sardin dengan mesra dan tersenyum manis pada Sardin.
Beni terus mengawasi raut wajah Geo yang berubah-ubah. ”Siapa yang sms? Kenapa muka mu marah dan cemberut begitu? Apa isi pesannya?” tanya Beni, penasaran.
Namun, Geo mengabaikan dirinya.
”Sekarang mereka sudah sampai di mana?”
”Sekarang nyonya dan pria itu sedang makan di kedai pinggir jalan, tidak jauh dari tempat halte bis berada.”
Geo tidak membalas pesan tersebut, hanya membacanya saja.
”Hei! Aku sedang bertanya! Apa isi pesan itu?” sekali lagi Beni bertanya.
Geo masih diam, ia memberikan handphonenya pada Beni. Beni mengambilnya dan membaca pesan tersebut.
Beni terkejut, ia tidak tahu ingin berekspresi seperti apa sekarang. Wajahnya tampak datar. ”Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.
”Mulai besok, Syakila tidak perlu mengajar.” jawab Geo.
”Kamu akan mengurung Syakila di rumah?”
Geo terdiam tidak menjawab.
”Syakila tidak akan setuju! Dia akan marah dan kembali membenci mu, Geo!” ucap Beni, menasehati.
Geo menatap Beni dengan tajam, ”Lalu? Aku harus membiarkan dia bertemu dengan Antonio? Memberikan kesempatan Antonio untuk mengatakan jika Gege adalah aku, Geovani Albert! Apa kamu yakin Syakila tidak akan membenci ku karena itu? Rasa benci nya padaku akan semakin dalam, Beni!? Dia pasti akan berfikir, aku sengaja membuat ulah untuk mengatur pernikahan dengan keluarga Halim, atas perjanjian itu!! Aku juga tidak yakin jika Antonio tidak akan melebihkan bicaranya untuk semakin memojokkan aku di hadapan Syakila!!”
”Bagaimana jika kamu jujur saja sama dia yang sebenarnya.” usul Beni.
”Kamu yakin Syakila akan mendengarkan ku? Lagi pula, aku tidak tahu akan menjelaskan dari mana pada Syakila! Aku tidak bisa berbicara dengan nya, yang ada kami akan kembali bertengkar! Dan lagi, Syakila hanya akan mendengarkan perkataan Sardin!”
”Jika begitu! Kita berbicara pada Sardin yang sebenarnya dan biar dia yang akan menjelaskan pada Syakila dengan caranya sendiri.” Beni kembali memberi usul.
Geo terdiam melihat Beni.
.. ...
Di dalam kedai.
Syakila makan dengan tidak bersemangat. Ia memikirkan perkataan Antonio.
Sardin menghela nafas, ”Perkataan Antonio sudah sukses menarik perhatian mu, yah?” ucapnya.
__ADS_1
”Hum?” kening Syakila mengerut melihat Sardin.
”Makanan mu masih tersisa banyak! Bagaimana bisa Ade menikmati makanan jika pikiran mu masih memikirkan perkataan Antonio? Jika Ade gak selera makan, kita balik sekarang! Kakak sudah selesai makan.”
”Em... Syakila akan menghabiskan makanan ini.”
”Jika begitu...makan yang benar! Jangan melamun!” ucap Sardin.
”Iya, sayang!” Syakila memakan makanannya dengan serius.
Sardin melihat handphone nya ketika ada SMS masuk. Keningnya mengerut melihat nomor baru yang mengirimkan SMS untuknya.
Nomor baru? benaknya. Ia membuka dan membaca pesan tersebut.
”Hai...kakak Sardin! Salam kenal ini Adelia...”
Adelia? Bukan kah nama ini yang di sebutkan papa, sebelum aku berangkat ke kota A? Rupanya papa sudah memberikan nomor kontak ku pada Adelia! benak Sardin.
Sardin tidak membalas chat tersebut. Ia menyimpan hapenya di atas meja dan memperhatikan Syakila yang masih makan.
Ting! Nada pesan kembali berbunyi. Sardin meraih hapenya dengan malas. Ia kembali membaca pesan dari nomor yang sama.
”Save nomorku ya kakak! Kakak, aku gak sabar ingin bertemu dengan kakak! Ayah mu mengatakan besok kamu akan datang. Aku akan menanti mu, di rumah mu.”
Sardin menghela nafas sambil memejamkan mata. Wanita seperti apa yang papa cari untukku? Gak ada bosan-bosannya menjodohkan anak sendiri! Seperti aku tidak laku saja! benaknya.
”Ada apa? Apa ada masalah dengan pekerjaan kakak? Apa kakak akan sudah kembali ke kota S?” Syakila telah selesai makan.
Sardin menghela nafas, ”Yah...rencana besok kakak akan kembali. Tapi, kakak akan tunda lusa, kakak akan temani Kila bertemu dengan Antonio.”
”Secepat itu? Seminggu lagi lah kakak di sini, baru pulang. Ok?” Syakila bersuara manja dan menatap Sardin penuh harap, agar pria itu menuruti permintaannya.
”Tidak bisa sayang! Kakak ada urusan kerjaan.” Sardin memijat pangkal hidungnya, ia melihat wajah Syakila berubah sedih dan kecewa padanya. ”Ok, kalau begitu.. kakak di sini dua hari lagi untuk temani Syakila. Besok dan lusa, bagaimana?”
”Baik.” Syakila tersenyum senang. Walau hanya dua hari Sardin akan menemaninya. Itu sudah cukup.
”Em... Kila...” Sardin menghentikan ucapannya. Ia nampak ragu untuk berbicara.
Syakila memandang Sardin dengan serius, ”Ada apa kak? Bicarakan saja! Mengapa harus ragu?”
Sardin kembali menghela nafas, ”Sebelum kakak datang ke sini, kakak mengikat janji sama papa dan mama. Jika kakak tidak berjanji, mama dan papa tidak akan ijinkan kakak datang ke sini.” ia terdiam sesaat.
Syakila sangat menantikan ucapan Sardin selanjutnya. Ia masih melihat sardin dengan serius. ”Kakak berjanji apa sama papa dan mama?”
Sardin terdiam sesaat melihat Syakila. Ia menghela nafas, ”Kakak berjanji untuk bertunangan dengan anak dari teman papa setelah sardin kembali ke kota S. Nama wanita itu Adelia. Yang barusan kirim pesan untukku.” ia mengatakannya dengan satu tarikan nafas.
Syakila terdiam, masih dengan melihat wajah Sardin. ”Jadi, kakak akan bertunangan dengan Adelia?” tanyanya kemudian, memastikan.
”Kakak sudah berjanji... penuhilah janji kakak itu.” ucap Syakila dengan tersenyum, namun, matanya berkaca-kaca.
”Kila mengizinkan kakak? Kila tidak apa-apa mendengar kakak bertunangan dengan wanita lain?” Sardin serius menatap kedua bola mata Syakila yang masih berkaca-kaca itu.
Syakila menghela nafas, ia memalingkan wajahnya. Ia menunduk, wajahnya sudah memerah menahan tangis. Ia mendongak, melihat Sardin. ”Jawaban apa yang ingin kakak dengar dari Kila? Kila rasa, kakak sangat faham tentang Kila.”
”Kakak sudah berjanji dan sudah sering mengatakan untuk menikah dengan Syakila. Apa Kila akan percaya dengan kakak?”
”Iya, Syakila percaya penuh kepada kakak.” jawab Syakila dengan yakin.
Sardin menghela nafas, ”Kakak antar Kila pulang sekarang. Ayok!” ajaknya. Ia tahu wanita yang ada di hadapannya kini sedang bersedih hati.
”Kakak antar Syakila di tempat praktek bibi Samnia. Syakila ingin bertemu dengan bibi.”
Sardin mengangguk, ”Ayok!” ia berdiri, pergi ke pemilik kedai dan membayar makanan dia dan Syakila. Syakila duluan pergi ke mobil.
Sardin membuka pintu mobil untuk Syakila. Syakila masuk ke dalam mobil. Sardin juga masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan nya.
Kali ini, Syakila begitu diam. Sardin sering melihat Syakila. Ia membelai rambut Syakila.
Syakila melihat sardin. Sardin tersenyum kecil padanya, ”Semua akan baik-baik saja. Jangan banyak berfikir, jiwa, hati, dan raga kakak hanya milik Syakila seorang. Wanita itu hanyalah status tunangan kakak, seperti Geo yang statusnya suami Kila.” ucapnya.
Syakila memegang tangan Sardin yang masih mengelus rambutnya, ia membalas senyum Sardin dan mengangguk.
Beberapa menit berlalu, mereka sampai di depan rumah Anton. Syakila memperbaiki raut wajahnya, kemudian turun dari mobil.
Ia langsung pergi di tempat praktek Samnia. Sementara Sardin, ia pergi ke rumahnya Anton.
Di rumah Anton.
Sardin menyimpan kunci di atas meja dan duduk di kursi.
”Sudah datang? Pergilah makan, kami sudah selesai makan.” ucap Anton.
”Sardin sudah makan Om bersama Syakila tadi.”
”Oh. Kamu antar Syakila sampai di rumahnya?”
Sardin menggeleng, ”Syakila ada di sebelah, dia ingin bertemu dengan bibi Samnia.” jawabnya.
”Syakila? Di sebelah?” tanya Anton, memastikan.
__ADS_1
”Iya,”
Anton beranjak berdiri, ”Om temui mereka dulu. Kalau bibi mu bertanya, katakan saja Om ada di tempat bibi Samnia.”
”Iya, Om.” sahut Sardin.
Anton bergegas ke tempat Samnia. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu lagi. Ia melihat Syakila dan Samnia sedang berbicara.
Anton menghampiri mereka dan duduk di kursi samping Syakila.
”Tapi, apa Geo mau melakukan kemoterapi?” Samnia kembali bertanya, untuk memastikan.
”Iya, dia sudah setuju untuk melakukan kemoterapi. Jadi, apakah ada tempat kemoterapi yang bagus yang Bibi ketahui? Mohon beritahu Syakila.”
”Kamu memaksa Geo untuk melakukan kemoterapi? Bukan kah Geo trauma dengan rumah sakit? Kemoterapi yang paling bagus ada di rumah sakit xx, kamu yakin ingin membawa Geo ke sana?” ucap Anton.
”Apa tidak ada tempat kemoterapi yang terpisah dengan rumah sakit? Orang yang membuka praktek untuk kemoterapi, misalnya? Apakah tidak ada di sini?”
Anton dan Samnia saling memandang. Bukannya tidak ada tempat praktek khusus untuk kemoterapi, tetapi, Samnia dan Anton tidak ingin membiarkan Geo untuk melakukan kemoterapi.
Karena itu percuma saja dan membuang-buang uang saja. Karena Geo pada dasarnya tidak butuh kemoterapi lagi, ia sudah bisa jalan.
”Tidak ada! Hanya di rumah sakit saja adanya. Jika kamu bisa membujuk Geo untuk melakukan kemoterapi di rumah sakit, boleh-boleh saja. Telfon Om saja, Om akan mengantar kamu dan Geo untuk berobat.” ucap Anton.
”Apa tidak ada cara untuk menghilangkan rasa trauma yang di alami Geo, Bibi?” tanya Syakila pada Samnia.
”Rasa trauma orang berbeda-beda, sayang! Dan untuk kesembuhan dari trauma itu sendiri, tergantung dari orangnya. Jika orangnya masih tenggelam dengan peristiwa itu, maka sulit untuk mengeluarkan dia dari traumanya. Untuk masalah trauma Geo, Bibi tidak ada tanggapan. Fisiknya bagus, mentalnya bagus, pencegahannya jangan memicu hal yang membuatnya trauma saja.” jawab Samnia, menjelaskan.
”Kila, Om ingin bertanya padamu, jawab Om dengan jujur! Boleh?” tanya Anton.
Syakila mengangguk, ”Iya, Om.” jawabnya.
”Kamu sudah tinggal serumah dan tidur satu kamar dengan Geo, apakah kamu tidak memiliki sedikit ketertarikan padanya?”
Syakila menghela nafas, ”Mengapa Om menanyakan itu lagi? Syakila tidak memiliki rasa apapun kepada Geo.”
”Kenapa? Karena dia duduk di kursi roda?” tanya Anton lagi.
”Bukan! Meskipun Geo bisa jalan, Syakila tidak menyukainya.” jawab Syakila.
”Karena Sardin?”
Syakila terdiam.
”Sardin akan bertunangan dengan wanita lain setelah ia kembali ke kota S. Apakah kamu tahu hal itu?”
Syakila mengangguk, ”Aku mencintai Sardin. Jika Sardin bertunangan dan menikah dengan wanita itu, Syakila akan mendoakan kebahagiaan Sardin. Syakila tidak bisa bersama Geo, terlepas apapun dari Sardin.” jawabnya dengan yakin.
Anton mengangguk, mengerti. ”Ini sudah jam setengah lima sore. Kamu pulanglah! Mungkin saja Geo dan mama mertuamu sudah khawatir padamu, karena kamu belum pulang ke rumah.” ia berdiri, ”Om pulang dulu.” ia bergegas keluar dari ruangan praktek Samnia.
”Kamu pulanglah! Bibi juga ingin pulang, suami dan anak Bibi sudah menunggu kepulangan Bibi.” Samnia berdiri dan merapikan berkas-berkas keterangan dari pasiennya. ”Jika Geo setuju ingin melakukan kemoterapi di rumah sakit, kamu hubungi om Anton atau Bibi juga boleh. Bibi akan membuatkan surat rekomendasi di rumah sakit tersebut untuk Geo.”
”Iya, Bibi. Terima kasih, Bi.” sahut Syakila.
Syakila dan Samnia sama-sama keluar dari ruangan. Mereka melihat Sardin duduk di kursi.
”Sardin sudah menunggu mu, Bibi pulang dulu. Assalamu 'alaikum!”
”Wa 'alaikum salam!” sahut Sardin dan Syakila.
Samnia pergi.
Sardin berdiri, ”Ayok, kakak antar kamu pulang.”
Syakila mengangguk.
Syakila masuk ke mobil, Sardin juga masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Mobil mulai melaju.
”Sudah selesai bicara dengan bibi Samnia?” tanya Sardin.
”Sudah!”
”Kenapa wajah mu cemberut gitu? Ada masalah?” tanya Sardin lagi.
”Kakak, berhenti dulu di sini.”
Sardin bingung, namun, ia tetap menepi. ”Kenapa?”
Tanpa berkata, Syakila memeluk Sardin. Sardin semakin bingung, namun, ia membiarkan Syakila memeluknya. Ia pun membalas pelukan Syakila.
”Kila kenapa? Tidak rela berpisah dengan kakak?”
”Jangan banyak tanya, kak. Biarkan Syakila memeluk kakak.” ucap Syakila.
”Oh... baiklah!” Sardin tidak bertanya lagi. Ia tahu cepat atau lambat Syakila akan bicara padanya tentang apa yang di pikirkan wanita itu.
Dua puluh menit lamanya Syakila memeluk Sardin. Ia melepaskan pelukannya, ”Jalan, kak!” ucapnya.
”Sudah?”
__ADS_1
Syakila mengangguk. Sardin kembali menjalankan mobilnya tanpa bertanya lagi.