Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 213


__ADS_3

Keesokan paginya, di rumah sakit.


”Pagi sekali kamu datang kesini. Penasaran pada hasil cek darah mantan istrimu?” tanya Rivaldi.


”Ini sudah jam sepuluh, masih bisa dikatakan pagi sekali? Dan, bisa gak, kalau gak sebut mantan istri? Sebut saja namanya.” ketus Geo.


Meskipun kebenarannya Syakila adalah mantan istrinya. Dia tidak suka bila ada orang berbicara dengannya dengan menyebut Syakila sebagai ”Mantan istri”.


Kata-kata itu seperti bermakna jika dia dan Syakila tidak bisa saling berhubungan lagi. Komunikasi juga putus. Sementara Geo dan Syakila masih erat hubungan keduanya.


”Oh, sorry!” sesal Rivaldi. Dia tahu, Syakila masih tersemat di lubuk hati Geo. Dan lagi pula, Geo dan Syakila sama-sama belum bisa menerima kalau mereka sudah bercerai.


Rivaldi menyerahkan sebuah kertas pada Geo. ”Ini adalah hasil cek darahnya Syakila. Dia hanya terkena demam berdarah biasa. Tidak perlu khawatir. Obat yang aku berikan padanya, minum sampai habis.” tuturnya.


”Alhamdulillah! Semalam, demamnya sudah turun, padahal dia belum meminum obat. Harusnya memang tidak apa-apa. Jika badan Syakila masih panas, maka, siap-siaplah kamu di depak dari rumah sakit ini.” gertak Geo. Kertas yang ada di tangannya dia simpan kembali di atas meja. Dia tidak perlu melihat kertas itu lagi. Dia hanya ingin mendengar penjelasan Geo.


”Huh! Apa tidak bisa jika kamu tidak main gertak? Aku kan hanya dokter biasa, bukan Allah yang esa. Aku hanya berusaha sesuai dengan kemampuan yang ku punya untuk menyembuhkan.” protes Rivaldi.


”Apa kamu pernah memeriksa kesehatan Sardin?”


”Pernah! Dan aku juga sudah berusaha mengobatinya. Tapi, tidak berhasil. Obat yang ku berikan padanya hanya bisa menekan rasa sakit di kepalanya saja. Pembuluh darah di kepalanya sudah semakin membengkak. Dan penyakit Sardin ini sudah menyebar. Kalaupun di operasi...tingkat keberhasilan sangat tipis.” ungkap Rivaldi.


”Bagaimana dengan pengobatan tradisional Cina? Akupuntur, apakah bisa?”


”Mungkin saja bisa, kalau tidak terlambat menangani penyakitnya. Apakah dia mau menjalani pengobatan itu? Itulah yang menjadi pertanyaannya sekarang.” tutur Rivaldi.


Geo terdiam.


”Kenapa? Kamu peduli padanya?” tanya Rivaldi.


”Tidak, aku hanya peduli pada Syakila. Besok mereka akan menikah. Aku tidak menginginkan Syakila menjadi janda dengan cepat.” elak Geo.


”Besok dia akan menikah dengan Syakila? Kok aku gak dengar informasinya yah! Bukan nya kamu dan Syakila baru saja bercerai? Mengapa Sardin dan Syakila segera menikah, setelah kalian bercerai? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah Syakila dan Sardin telah....”


Geo mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja dan berdiri. ”Aku pergi dulu. Sudah terlalu lama aku duduk di sini.” dia melangkah keluar dari ruangan Rivaldi.


”Hei! Aku belum selesai bicara dan kau belum menjawab pertanyaan ku!” Rivaldi berharap bisa mencegah Geo untuk pergi. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka bertiga.


Namun, Geo tidak mendengarkan. Dia tetap pergi dari ruangan Rivaldi.


”Huh! Wataknya tidak berubah sama sekali!” gerutu Rivaldi.


”Apa aku tanyakan saja pada Syakila, ya? Aku sangat penasaran. Pertama, Sardin putus dengan Geo hanya lewat beberapa hari putus dari Sardin, Syakila menikah dengan Geo. Kedua, Syakila dan Geo baru saja bercerai, baru empat hari. Tapi, Syakila akan menikah dengan Sardin. Bukan kah ini membuat orang sangat penasaran?” gumam Rivaldi.


.. ..


Sore hari, di gedung the cobra.


”Sudah kosong semua?” tanya Geo. Dia berkeliling di gedung itu. Sudah lama dia tidak berkunjung di gedung the cobra. Gedung miliknya sendiri. Dia jadi rindu dengan suasana di dalam gedung itu. Dia berkeliling di temani oleh Zarie. Kini mereka telah kembali ke halaman parkir gedung the cobra, setelah berkeliling. Mereka sedang duduk di kursi.


”Iya, dari jam dua siang tadi sudah kosong. Sesuai dengan keinginan mu. Tapi, siapa sih yang akan datang nanti? Perlakuan mu sedikit istimewa untuk dia.” Zarie, penasaran.


”Kamu juga akan tahu setelah dia datang. Dia salah satu murid di sini..”


Kening Zarie berkerut. Murid di the cobra sangat banyak. Mana mungkin dia akan mengingat satu persatu murid yang pernah belajar ilmu bela diri di the cobra?


Suara deru mobil berhenti di parkiran gedung the cobra. Geo dan Zarie menoleh, melihat mobil itu.


”Dia sudah datang. Kamu boleh pergi ke dalam ruangan mu.” usir Geo pada Zarie.


”Kau mengusir ku? Bahkan aku belum melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Kamu ingin aku mati penasaran?”


”Dia.. Sardin?” Zarie sedikit terkejut, saat melihat Sardin turun dari mobil. ”Sejak kapan kalian berdua berteman? Bukan kah kalian tidak akur? Apakah kalian ingin berkelahi lagi di sini?” Zarie mengernyit melihat Geo.


”Bukan kah tadi ku bilang padamu untuk pergi?”


”Ok! Aku akan pergi. Tapi, ku perhatikan... wajahnya Sardin terlihat pucat. Apa dia sedang sakit?”


Geo berdiri. ”Rupanya kamu tidak mengerti dengan bahasa mulut.” Geo merenggangkan otot jari-jarinya.


Zarie menciut. Dia berdiri. ”Aku pergi!” dia melangkah pergi ke ruangannya. Meninggalkan Geo.


Meskipun di the cobra, Zarie memiliki tingkat tinggi dalam karate. Dan dia yang di takuti di sana, namun, ilmu bela dirinya masih kalah jauh dari ilmu bela diri yang di miliki oleh seorang Geovani Albert.

__ADS_1


”Sudah lama kamu datangnya?” tanya Sardin.


”Kondisi mu semakin menurun. Wajahmu terlihat pucat. Kita masuk di dalam saja baru berbicara, di lapangan basket. Di sana, sedikit teduh.”


”Bicara di sini saja. Di dalam sana banyak orang.” tolak Sardin.


”Apa kamu melihat halaman parkir ini penuh? Di sini hanya ada mobil ku, mobil mu, dan mobil Zarie.”


Sardin memperhatikan sekitar halaman parkir. Benar! Halaman parkir telah kosong, hanya terdapat tiga buah mobil saja. ”Kamu sengaja mengosongkannya untukku?”


”Anggap saja kamu orang istimewa bagiku. Ayo, masuk ke dalam.” Geo mendahului jalan.


”Aku sangat terharu diistimewakan olehmu. Sayangnya aku adalah seorang pria, jika aku wanita, aku sudah akan mencari cara untuk memikat mu.” Sardin menyusul langkah Geo masuk ke dalam gedung the cobra, tempat dia berlatih karate dan tempat yang mempertemukan dia dengan Syakila.


”Kau masih bisa bercanda dalam kondisi mu yang seperti itu? Langkahmu mulai lamban. Fisikmu, jika di lihat teliti oleh orang, mereka akan menyadari jika fisik mu tidak kuat lagi. Berhentilah bercanda!”


Mereka telah tiba di lapangan basket. Mereka duduk di kursi. Geo sengaja memilih berbicara di lapangan basket, karena hanya di sana tidak terdapat cctv. Karena yang memakai lapangan basket hanyalah Geo sendiri pada waktu itu. Dan karena Geo tidak berada di kota s, maka tempat itu tertutup. Meskipun begitu, tiap minggunya tetap di bersihkan.


”Apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku?” tanya Geo.


”Kau terlalu cepat langsung ke intinya. Tidak bisa kah kamu bercanda sedikit? Ketahuilah, saat Syakila sedang merajuk, cemberut, cemburu, sedih. Hatinya akan cepat luluh jika kamu merayunya sedikit dengan kata-kata manis. Dan perlakuan romantis yang membuat dia nyaman dan tidak akan tahan untuk kesal dan cemberut.”


Apakah benar seperti itu? Seperti nya memang benar. Tapi, itu bukanlah gaya ku. Apa mungkin karena aku yang sering angkuh, sombong, brutal, makanya aku tidak tahukan berkata manis dan merayu wanita?


Bahkan sama kedua mantan ku, aku tidak pernah merayunya. Aku hanya memberikan materi saja pada mereka. Menurut ku itu sudah cukup untuk mengikat mereka di sisi ku. benak Geo.


”Apa yang ingin kamu katakan padaku? Aku bukan orang yang sabar dan suka bercanda seperti mu.” ucap Geo.


Sardin menghela nafas. ”Aku..aku meminta maaf sama kamu. Selama kamu menjalani pernikahan dengan Syakila, aku masuk dalam hubungan kalian. Aku mengacaukan pernikahan kalian, membuat Syakila tidak memperhatikan mu. Dia hanya memperhatikan ku saja.”


Geo melihat Sardin. Mata pria itu mengungkapkan ketulusan dalam berbicara. ”Aku sudah melupakan itu. Lagi pula, pernikahan kami telah selesai. Tidak perlu di bicarakan lagi.”


”Meskipun begitu, aku harus tetap meminta maaf padamu. Karena aku terang-terangan menjalin kasih dengan Syakila, di depan mu. Aku tahu, kamu pasti kesal, marah sama aku waktu itu.”


Geo menunduk sejenak. Dia tersenyum kecut. ”Jujur saja, iya. Aku memang marah sama kamu waktu itu. Tapi, aku yang pertama menghancurkan hubungan kalian berdua. Aku yang pertama masuk dan merusak hubungan kamu dan Syakila. Aku juga berhak mengucapkan kata maaf padamu. Maafkan aku.”


”Aku memaafkan mu. Dan tolong maafkan aku.” pinta Sardin.


”Aku maafkan kamu.” Sesaat Geo terdiam. ”Sardin, selesai menikah besok, maukah kamu ikut aku ke China? Syakila juga akan pergi bersama.”


”Berobat. Pengobatan tradisional China sangat bagus. Aku ingin kamu sehat dan terus menjaga Syakila.”


Sardin menggeleng, ”Aku tidak akan pergi.”


”Kamu tidak ingin sembuh?”


”Aku sudah lelah!”


”Bagaimana dengan Syakila?”


”Aku akan memberikan tanggung jawab ku padamu.”


”Kamu gila!!” Geo mulai berbicara nada tinggi.


”Geo..kamu tahu sendiri, kalaupun aku berobat, itu tidak akan ada artinya. Sewaktu aku terkena musibah di kota A. Semakin membuat kesehatan ku memburuk. Rambut ku sudah mulai gugur. Ingatanku sudah mulai lemah. Fisikku juga sudah tidak mampu bertahan. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku masih bisa bertahan untuk besok.”


Geo berdiri. Dia sangat marah. Tapi, dia tidak bisa melampiaskan marahnya itu. ”Aku tidak tahu bagaimana cara berpikir mu! Menurut ku, kamu tidak mencintai Syakila.”


Geo terkejut saat melihat Sardin, darah keluar dari hidungnya. Hatinya berubah lembut. Dia jongkok di hadapan Sardin. ”Kamu...kita ke dokter!”


Sardin menggeleng. Dia mengambil tisu dari saku bajunya dan membersihkan hidungnya sendiri. ”Semenjak subuh tadi, darah mulai keluar dari hidungku. Ini...tidak akan apa-apa.”


”Lebih baik kita sudahi percakapan kita. Aku akan mengantarmu pulang.”


”Ada supir ku yang menunggu di halaman parkir. Bantu aku jalan hingga ke mobil.” pinta Sardin.


Geo menurut. Dia membantu Sardin berdiri dan dia memapah Sardin berjalan.


”Geo. Ku harap, kamu hadir besok. Aku menantikan dan sangat mengharapkan kedatangan mu.” ucap Sardin.


”Tidak usah banyak bicara.”


Mereka telah sampai di halaman parkir. Geo terus memapah Sardin hingga ke mobil Sardin.

__ADS_1


”Tuan! Tuan baik-baik saja?” sang supir Sardin menghampiri Geo dan Sardin saat melihat Geo memapah Sardin. Sang supir terlihat khawatir.


”Aku tidak apa-apa.” jawab Sardin.


”Tolong buka pintunya, pintu belakang saja. Biarkan dia berbaring.” ucap Geo.


Supir Sardin menurut. Dia membukakan pintu belakang mobil. Geo membawa masuk Sardin ke dalam mobil dan membaringkan dia di sana. Geo menutup pintu mobil.


Dia berjalan mengitari mobil Sardin. Dia membuka pintu mobil belakang Sardin, yang di sebelahnya. Geo masuk ke dalam mobil.


Dia memangku kepala Sardin. Sang supir Sardin juga masuk ke dalam mobil.


”Ke rumah sakit!” titah Geo.


”Ke rumah!” titah Sardin.


Sang supir menjadi bingung. Mesin mobil sudah di nyalakan, namun, belum bergerak.


”Kamu bekerja padaku, bukan padanya. Aku yang harusnya kamu dengar. Jalankan mobilnya, ke rumah.” titah Sardin.


Sang supir menjalankan mobilnya, mengikuti perintah Sardin. Geo terdiam. Dia tidak punya kata-kata untuk di ucapkan.


”Kalau aku tahu kondisi mu seperti ini, aku tidak akan mengajak mu bertemu di luar. Apakah semalam, saat kamu menghubungi ku, sakit mu kambuh? Jadi, memintaku datang menemanimu?” tanya Geo.


”Iya. Tidak perlu kamu menyesalinya. Aku ingin tidur sebentar.”


”Hum! Tidurlah!” sahut Geo.


.. ..


Di kediaman Sarmi, di kamar Syakila.


”Terima kasih, Nak Rivaldi, sudah merepotkan mu datang kemari.” ucap Sarmi.


”Tidak perlu sungkan, Bibi. Sudah tugas ku sebagai dokter. Lagi pula, Syakila adalah murid ku dulu. Tentu saja, aku tidak boleh mengabaikannya saat aku tahu dia sakit. Infusnya sudah ku lepas. Demamnya juga sudah turun. Tapi, obat yang aku berikan, harus tetap di minum sampai obatnya habis.” tutur Rivaldi.


”Iya. Sekali lagi, terima kasih. Oh, iya, tehnya di depan mungkin sudah dingin, Bibi akan pergi buatkan yang baru saja.”


”Oh, boleh, Bibi. Maaf, sudah merepotkan Bibi.” ucap Rivaldi.


Sarmi tersenyum, ”Tidak perlu sungkan. Kamu temani saja dulu Syakila. Nanti Bibi akan memanggilmu jika tehnya sudah siap.


”Iya, Bibi.”


Sekalian. Aku akan bertanya pada Syakila. Kalau bertanya sama Geo, tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. benak Rivaldi.


Sarmi keluar dari kamar.


”Kamu pikirkan apa sampai kamu sakit? Bahkan, semalam, kamu kayak orang mati saja.” ucap Rivaldi. Dia mulai mengajak Syakila untuk berbicara.


”Bukan kah kamu tahu, aku sakit demam berdarah, apa hubungannya dengan pikiran?” elak Syakila.


”Kamu lupa siapa aku? Selain mendeteksi penyakit luar, aku juga mendeteksi penyakit dalam. Jadi, masih ingin mengelak?”


”Tidak ada yang perlu di bahas. Mama ku pasti sudah selesai membuat kan mu teh. Pergilah minum.” titah Syakila.


”Nanti aku akan meminumnya. Aku masih ingin bicara dengan mu, aku ingin memastikan sesuatu.”


Kening Syakila mengerut melihat Rivaldi. ”Ingin pastikan apa?” dia penasaran.


”Apa benar besok kamu dan Sardin akan menikah?”


”Iya.”


”Bukan kah kamu dan Geo baru saja bercerai? Mengapa kamu langsung ingin menikah dengan Sardin? Dulu, di saat kamu putus dengan Sardin, Geo yang menikah sama kamu. Sekarang, kamu yang bercerai dengan Geo, kamu yang mau menikah dengan Sardin. Apakah ada sesuatu yang terjadi, yang tidak aku pahami?” tanya Rivaldi.


”Bukankah kamu dan Geo cukup akrab? Tanyakan lah saja padanya.” usul Syakila.


Rivaldi menghela nafas. Konyol! Aku kira akan dapat jawaban memuaskan dari Syakila. Ternyata, dia masih tetap sama seperti dulu, tertutup. benaknya.


”Paman, Mama panggil ke depan.” ucap Ita pada Rivaldi, dari pintu kamar Syakila.


”Tuh kan, tehnya sudah di siapkan. Pergilah! Jika masih penasaran, tanyakan saja padanya, Geovani Albert.” sambung Syakila.

__ADS_1


”Iya. Paman segera datang.” sahut Rivaldi. Dia pun keluar dari kamar Syakila.


Syakila menggelengkan kepalanya. ”Rumah tanggaku sangat memalukan, bagaimana aku akan cerita?” gumamnya.


__ADS_2