Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 111


__ADS_3

Di rumah sakit kota S.


Syakila masih tetap pada posisinya, ia tidak meninggalkan Sardin meskipun itu hanya sebentar. Terkecuali, di saat ia ingin pergi ke toilet, baru ia meninggalkan Sardin. Bunyi handphonenya berbunyi, ia melihat ke layar handphone, tertera mamanya menelfon. Ia mengangkatnya.


”Halo, Mah.” sapa Syakila dengan suara serak khas orang habis menangis.


”Syakila, kamu istri macam apa, Asya? Suamimu ada di rumah, menunggu mu dari tadi! Tapi, kamu malah masih berdiam diri di rumah sakit! Cepat pulanglah, apa kamu tidak memikirkan suami mu? Hah?” Sarmi memarahi Syakila.


Syakila memegang keningnya sambil memejamkan mata. ”Mah, maaf, Syakila__”


”Mama tidak mau mendengar alasan mu! Kamu pulanglah, dan urus suami mu! Mama tidak habis pikir dengan kamu, Asya! Bukankah Mama sudah bilang padamu, kamu adalah istri orang, bukan perempuan yang belum menikah!? Dari pagi kamu berada di rumah sakit, sekarang sudah siang, apa kamu tidak memikirkan apakah suami mu sudah makan siang atau belum?” ucap Sarmi memotong ucapan Syakila. Nada suaranya masih terdengar marah.


”Iya, Mah. Syakila akan pulang sekarang.”


”Itu lebih baik!” dengan masih marah-marah Sarmi menutup telfon secara sepihak.


Syakila menghela nafas kasar. Ia melihat Sardin yang masih setia dengan tidur panjangnya.


”Kak Sardin, Kila pergi dulu. Nanti Kila akan datang menemui kak Sardin lagi, tapi, Kila harap, setelah Kila datang menemui kakak, kakak harus bangun dan lihat Syakila.”


Syakila kembali mencium kening Sardin. Ia melepas genggaman tangannya sambil berdiri. Syakila terkejut tangannya di pegang oleh Sardin meskipun tidak erat. Ia melihat wajah Sardin, matanya masih terpejam. Ia melihat tangannya Sardin, tangannya diam tak bergerak.


Apakah gerakan itu refleks di bawah alam sadarnya? Apa dia memimpikan aku dan bertemu dengan ku di sana? Dia tidak menginginkan aku pergi. Bagaimana ini? Di rumah mama dan Geo menunggu ku, di sini, Sardin menahan ku.


Syakila kembali melepaskan tangan Sardin, namun, pergerakan kecil dari tangan Sardin kembali menahan tangan Syakila. Syakila kembali duduk di kursinya. Ia melihat Sardin.


”Aku tahu, kakak tidak mau aku pergi, kan?” Syakila tersenyum kecil, ”Aku akan tetap berada disini, di samping kakak. Aku tahu, kakak mendengarkan setiap ucapan ku, kan? Kakak, Kila mohon, sadarlah, bangunlah.”


Syakila meraih handphonenya, ia menelfon Fatma, kakaknya. Sambungan tersambung.


”Halo, Asya.” sapa Fatma di sebrang sana.


”Kakak, sepertinya aku tidak bisa pulang ke rumah saat ini, kak Sardin masih belum sadar. Aku melepas tangan ku yang menggenggam tangan Sardin untuk kembali pulang ke rumah, tapi, di bawah alam sadarnya, ia menahan tangan ku. Kak Sardin membutuhkan ku. Kakak, tolong perhatikan Geo. Aku benar-benar tidak bisa pulang sekarang. Aku harus berada di samping Sardin sampai ia sadar dan melepaskan tangan ku.”


”Asya! Kamu sa__”


”Kakak, maaf kan, Syakila. Syakila tutup telfonnya.”


Syakila menutup telfonnya secara sepihak. Bukan hanya itu, ia juga menonaktifkan handphonenya agar tidak ada yang akan mengganggu nya.


Maaf mama, maaf kakak, maaf Geo.


Syakila kembali menghela nafas sambil melihat Sardin.


.. ..


Di kediaman Sarmi.


Geo tersenyum kecut setelah ia mendengar pembicaraan Syakila dengan kakaknya lewat handphone seluler miliknya. Sebelumnya juga, ia mendengar pembicaraan antara Syakila dan mamanya. Dari suara Syakila, ia tahu jika wanita itu benar-benar habis menangis.


Syakila, cinta mu memang besar untuk Sardin. Demi pria itu, bahkan kamu tidak menuruti ucapan mama mu, kakak mu juga kamu abaikan.


Geo menghela nafas.


Syakila, mengapa saat-saat seperti ini hatiku mulai terusik dengan kamu? Apapun yang kamu lakukan, aku begitu peduli. Syakila, aku juga disini membutuhkan mu. Apakah kamu tahu itu? Seharusnya kamu lebih tahu. Syakila, tidak bisakah kamu berada di sisiku sebentar saja? Syakila, aku ingin kita berpisah dengan baik-baik nanti, agar kamu dan aku tidak bisa saling melupakan satu sama lain. Jadi, ku mohon, jangan membuat ulah yang akan membuat kita salah paham nantinya.


Geo menengadah menatap langit, ia memejamkan mata dan kembali menghela nafas. Fatma yang berada di belakang Geo, menatap Geo dengan iba.


”Geo, Mama memanggil mu ke dalam.” ucap Fatma dengan pelan.


Geo menoleh, melihat Fatma. ”Mama memanggil ku? Bawalah aku ke dalam.”


Fatma mengangguk, ia membawa Geo masuk ke dalam rumah. Tidak lama dari mereka masuk ke dalam rumah, suami Fatma dan adik-adik Fatma juga pulang ke rumah.


Rumah itu kembali rame dengan kehadiran seluruh anggota keluarga. Adik-adik Fatma pergi ke kamarnya masing-masing untuk mengganti pakaian sekolahnya. Sedangkan suami Fatma, ia pergi ke kamarnya.


”Kakak ipar, pergilah susul suamimu di kamar, sambutlah dia dengan menyium punggung telapak tangannya.” ucap Geo pada Fatma.


”Haruskah seperti itu?”

__ADS_1


Geo tersenyum kecil, ”Itu harus untuk mempererat jalinan rumah tangga. Aku sering melihat almarhum ayah dan ibu ku setiap bepergian dan kembali mereka selalu melakukan hal itu. Syakila juga sering melakukannya dengan ku. Pergilah! Jangan banyak tanya lagi, abaikan aku sendirian disini.”


"Baiklah,” Fatma menurut.


Ia membiarkan Geo di ruang keluarga sendirian. Fatma menyusul suaminya, Johansyah di dalam kamar. Dengan ragu, Fatma masuk ke dalam kamar. Ia melihat suaminya sedang duduk bersandar sambil memejamkan mata di kursi.


Biasanya setiap suaminya datang dari bekerja, ia tidak pernah mengganggunya. Ia membiarkan saja apa yang akan di lakukan oleh suaminya.


Fatma berjalan perlahan mendekati suaminya. Ia mengambil tangan suaminya, suaminya terkejut dan membuka matanya melihat Fatma. Fatma mencium punggung telapak tangan suaminya.


Spontan Johansyah membalas dengan mencium kening Fatma. Fatma terkejut, namun, ada rasa bahagia di hatinya. Dadanya terus bergetar. Ini pertama kalinya ia dan suami melakukan hal kecil ini.


”Kakak capek, aku buatkan teh untuk kakak.” tawar Fatma.


”Aku memang capek, tapi, rasa capek ku sepertinya hilang dengan sambutan mu yang hangat ini.” sahut sang suami dengan tersenyum manis.


Deg.. jantung Fatma berdetak cepat. Ia tersipu malu. Melihat istrinya tersipu malu, Johansyah meraih tubuh Fatma dan membawanya dalam pelukannya. Fatma semakin tersipu malu. Ia tersenyum dalam pelukan suaminya.


Ah, yang di bilang adik ipar benar, hal kecil ini bisa membawa kebahagiaan tersendiri. Terima kasih adik ipar.


Johansyah melepas pelukannya, ” Kakak mau mandi dulu, gerah bangat. Setelah itu baru kakak makan.” ucapnya kemudian.


”Baiklah, aku akan menyiapkan baju santai untuk kakak. Setelah itu, keluarlah, aku menunggu mu di meja makan bersama yang lain.”


”Iya,”


Johansyah pergi ke kamar mandi setelah ia mencium kembali kening istrinya. Fatma tersenyum kecil, ia menyiapkan baju ganti suaminya, lalu, ia pergi ke dapur mempersiapkan makan siang untuk semua keluarga dengan hati yang senang.


Semua orang telah berkumpul di meja makan, kecuali, Syakila. Gadis itu belum juga pulang ke rumah.


”Syakila belum pulang juga?” tanya Sarmi dengan marah.


”Iya, Mah. Em.. itu.. Syakila tadi menelfon ku, Mah.” katanya, ”Ia belum bisa pulang sekarang, Sardin sedang menahannya di bawah alam sadarnya. Jadi, __”


”Anak itu! Hardin, ambilkan handphone Mama di kamar!” perintahnya pada Hardin dengan wajah marah. Hardin berdiri.


”Mama, bukankah Geo sudah bilang pada Mama, kalau Syakila akan pulang malam hari. Tolong, Mama biarkan Syakila menemani sahabatnya itu, sahabatnya membutuhkan dia saat ini.” ucap Geo dengan datar dan tenang.


”Tapi, Geo__”


”Mama, aku yang mengizinkan Syakila untuk pergi dan pulang malam. Mama jangan khawatir dengan Syakila, ia hanya menganggap Sardin teman biasa, tidak lebih. Yah, meskipun mereka berdua adalah mantan kekasih.” sahut Geo memangkas ucapan Sarmi.


Sarmi menghela nafas kasar, ” Baiklah, kita makanlah sekarang! Tidak usah menunggu Syakila.” ucapnya. Ia mendahului menyendok makanan. Yang lain pun menyendok makanannya pula setelah Sarmi bersendok.


”Hardin, duduklah dan sendok lah makanan mu.” Hardin menurut.


Sarmi mengunyah makanannya dengan enggan, pikirannya masih memikirkan Syakila yang ada di rumah sakit. Sesekali ia melirik Geo yang hanya makan sedikit.


.. ..


Di kota A. Kediaman Albert.


”Tante, apa Tante merasa bosan di rumah? Beni melihat Tante, sepertinya Tante sedang merasa bosan.” ucap Beni.


”Tidak, Tante tidak merasa bosan. Mengapa harus bosan di rumah sendiri? Tante hanya merasa sepi tidak ada Geo dan Syakila di rumah ini.”


Sekarang Beni dan Rosalina sedang berada di dapur. Beni sedang memasak untuk makan siang untuk mereka berdua. Sedangkan Marlina, ia sudah keluar sejak pagi tadi dan belum kembali ke rumah.


”Jika Tante merindukan mereka, kenapa Tante tidak menyusul mereka saja di sana? Sekalian kan Tante bersilaturahmi sama keluarga Syakila.”


”Tidak, Beni, seusia mu ini, seharusnya kamu sudah punya kekasih. Apakah ada wanita yang kamu sukai, biar Tante lamar kan buat mu.”


Beni terdiam.


Ada, dia adalah Syakila. Aku bisa memiliki dia setelah kak Geo resmi bercerai dengannya.


Beni mematikan kompor, ia menyendok sayur yang sudah masak itu ke dalam piring dan meletakkan di atas meja.


”Untuk sementara, Beni belum memikirkan hal itu, Tante. Beni masih berfokus menjalankan perusahaan.”

__ADS_1


”Kamu pikirkan juga masa depan mu, Beni. Aku ini sudah sepantasnya menimang cucu dari kamu dan Geo.”


Beni tersenyum, ”Tante, sekarang kita makan dulu, jangan membahas keturunan dulu. Geo dan aku pasti akan memberikan cucu untuk Tante jika saatnya nanti.”


”Kamu ini, sama saja dengan Geo jika sudah membahas tentang menikah dan cucu.” keluh Rosalina, ia menghela nafas panjang. ”Beni, apa menurut mu, Geo dan Syakila tidak akan pernah bersama selamanya?”


Beni melihat Rosalina yang sedang menyendok makanannya dengan wajah sedih.


”Tante, mengapa Tante berbicara begitu? Bukankah Syakila dan Geo sedang bersama sekarang?”


”Beni, di antara mereka berdua tidak ada rasa cinta.”


Beni terdiam mengunyah makanannya. Ia tahu maksud ucapan Rosalina, tetapi, ia menutup diri untuk bertanya selanjutnya.


”Mereka berdua sepakat jika Geo sudah sembuh, mereka akan berpisah. Firasat Tante, dengan adanya Geo di tengah keluarga Syakila, ia akan segera pulih. Dan Tante takut, Geo benar-benar sudah sembuh dan akan kembali kesini sendirian.” ucapnya lagi.


Raut wajah Rosalina masih sedih.


Beni menghela nafas, ”Tante, setau Beni yang cukup mengenal Syakila, Syakila bukanlah orang yang bertindak dengan sembrono. Meskipun Geo telah sembuh di sana, ia akan tetap kembali kesini dengan Geo. Kalaupun dia ingin berpisah, dia akan berpisah dengan baik-baik meskipun awalnya ia menikah dengan tidak baik.”


Rosalina terdiam, ia tidak bersuara untuk menanggapi ucapan Beni. Ia lanjut memakan makanannya. Beni juga lanjut memakan makanannya tanpa bersuara sampai mereka menghabiskan makanannya.


”Beni, temani aku duduk-duduk di teras rumah.” ucap Rosalina kemudian.


”Iya, Tante. Tante duluan lah, Beni akan menyusul.”


Rosalina berjalan duluan ke teras rumah. Beni sedang membuat dua cangkir teh untuk menemani mereka berdua. Kini mereka telah berada di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Wajah Rosalina dan Beni menegang seketika, ketika mereka berdua melihat kedatangan Marlina dan Antonio.


”Tante, Beni.” sapa Marlina.


”Mengapa kamu membawa Antonio kemari, Marlina?” ucap Beni dengan marah.


”Santai Beni, aku kemari hanya datang untuk mengunjungi Ma ma ti ri ku. Apakah aku salah untuk mengunjunginya?” sahut Antonio dengan tersenyum jahat. Ia melihat Rosalina.


Rosalina mengacuhkan Antonio. Antonio duduk di kursi berhadapan dengan Beni dan Rosalina.


”Beni, ucapan Antonio benar, apa salahnya dia? Dia hanya mengunjungi Tante. Kamu jangan berlebihan begitu kepada kakak mu.” sahut Marlina membela Antonio.


”Brengsek! Jika tujuan mu datang kesini hanya untuk mencari masalah, lebih baik kamu pulang saja!” ucap Beni, masih memasang wajah marahnya.


”Tante, apakah begini caramu menyambut a nak ti ri mu? Hum.” Antonio kembali menyeringai jahat melihat Rosalina.


”Kakak, kamu jangan keterlaluan!” bentak Beni.


”Beni, diam lah. Biarkan dia.” ucap Rosalina.


Beni terdiam, wajahnya masih menampakkan marahnya.


”Tante, gimana kabarnya, Tante?” ucap Antonio.


”Baik-baik saja.” singkat Rosalina menjawab dengan enggan.


Marlina menyadari ada sesuatu di antara Rosalina, Antonio, dan Beni. Tapi, ia tidak tahu tentang apa itu. Yang ia tahu, Antonio hanya dendam kepada Albert karena Albert menikahi mama mereka dan memisahkan mereka dari ayah kandungnya. Bukan hanya itu, Albert juga membuat papa mereka bangkrut, tetapi, balas dendam itu telah Antonio penuhi dengan berhasil membunuh Albert.


Sebenarnya, ada apa di antara Antonio dan Tante juga Beni? Ah, sudahlah, masa bodoh, lebih baik, aku gunakan kesempatan ini untuk pergi menyelinap ke kamar Geo. Mumpung yang punya kamar tidak ada di sini, Beni pasti tidak akan meninggalkan Tante berdua saja dengan Antonio.


”Em, Tante, Beni, Antonio, aku masuk ke dalam dulu. Aku ingin istrahat.” ucap Marlina.


”Hum,” sahut mereka bertiga.


Marlina masuk ke dalam rumah. Ia menaiki lantai atas dengan menggunakan lift. Ia pergi ke kamar Geo. Marlina berdiri tepat di depan pintu kamar Geo, ia tersenyum licik. Dengan lihai tangannya menekan kata sandi yang di ingat dari melihat saat Syakila membuka pintu tersebut.


”Apa! Bagaimana bisa kata sandinya salah? Ini..ini sudah benar kata sandinya! Apa.. jangan-jangan Geo sudah mengganti kata sandinya? Ah, sialan!”


Marlina kesal sendiri, ia menghela nafas.


”Brengsek! Bagaimana bisa aku mengecek penyelidikan yang di usut Geo dan Beni, jika aku gak bisa masuk ke dalam kamar Geo? Sudahlah, nanti ada kesempatan aku akan masuk ke kamar ini.”


Marlina berbalik arah, meninggalkan kamar Geo dengan kekesalan. Ia pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2