Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 226


__ADS_3

Di kamar Sardin.


Syakila menangis, namun, dia menangis bahagia. Dia memeluk, mencium Sardin, saling mencurahkan isi hati dan berpamitan dengan baik-baik, seperti nyata di alami. Bukan hanya sekedar mimpi.


Geo terbangun saat samar mendengar suara orang menangis. Dia melihat di sampingnya, Syakila sedang duduk bersandar melihat foto Sardin. ”Ada apa? Kenapa menangis?” tanyanya, penasaran.


Syakila menghapus air matanya, ”Kamu terbangun? Maaf, aku sudah membangunkan mu.”


Geo duduk di atas ranjang, melihat Syakila. ”Apa yang membuat mu menangis?” dia ikut menghapus air mata Syakila.


”Barusan aku bermimpi ditemui sama kakak. Kami bercerita banyak. Dia meminta maaf padaku karena dia sudah membuat ku kesal dan marah padanya. Kami berdua sudah saling memaafkan. Kakak juga berpesan untuk mu. Kakak memegang setiap kata-kata mu. Jika kamu membuat ku menangis, menduakan aku, menyakiti ku, maka dia akan merebut ku darimu. Dia akan membawa ku pergi bersamanya.”


”Dia bilang begitu?” Geo seakan tidak percaya.


”Iya. Aku juga berpamitan padanya untuk memulai hidup baru di kota A, besok. Dia mengizinkan aku. Dan dia bilang, kalau dia akan menantikan kedatangan kita berdua untuk berkunjung padanya.”


”Apa benar mimpi mu itu?” Geo semakin tidak percaya. Apakah benar orang yang sudah meninggal akan bicara seperti itu? Sewaktu meninggalnya papanya, Albert. Dia tidak pernah mimpi di datangi oleh papanya.


”Iya. Kakak meminta ku untuk hidup bahagia. Kami berdua sudah saling memaafkan dan saling mengikhlaskan satu sama lain. Geo, setelah berbicara dengannya, hatiku jadi tenang. Meskipun masih terasa rasa kehilangan, tapi, aku sudah tenang.”


”kalau tenang, kenapa kamu menangis?”


”Aku menangis karena aku bahagia.”


”Bahagia bertemu dengan Sardin?”


Syakila mengangguk, ”Bertemu dan berbicara dengannya.”


Geo menghela nafas. Syukurlah, sekarang Syakila sudah mulai terbuka padaku. Apa yang dia rasakan, dia pikirkan, dia menceritakannya padaku. benaknya.


”Aku senang kalau sekarang kamu sudah tenang. Ini baru jam tiga pagi. Ayo, tidur lagi.” ajak Geo. Dia sendiri telah berbaring.


Syakila menurut. Dia berbaring, menyamping, menghadap Geo dan memeluk tubuh Geo.


Geo mengecup kening Syakila dan membalas pelukan wanita itu, ”Tidurlah!” dia memejamkan mata.


Syakila mengangguk. Dia memejamkan mata.


Sardin, terima kasih. Kamu sudah hadir dalam mimpi Syakila untuk menenangkannya. Aku serius dengan kata-kata ku. Aku tidak akan memberikan kesempatan untuk mu untuk merebut Syakila dariku. Aku akan menjaga, menyayangi, dan melindungi Syakila dengan segenap raga dan nyawaku.


Aish, kamu masih hidup ataupun sudah meninggal pun, bersaing cinta denganmu aku pasti kalah! benak Geo.


.. ..


Keesokan paginya.


Syakila terbangun lebih awal. Dia bangun dan pergi ke kamar mandi. Setelah dia mencuci wajah dan menyikat giginya, dia pergi ke dapur.


Di dapur.


Syakila membuka kulkas melihat apa saja isi yang ada di dalam kulkas tersebut. Dia pun mengeluarkan bahan untuk membuat roti panggang dan salad buah.


Setelah bahannya dia keluarkan dari kulkas, dia mulai membuat roti panggang untuk empat porsi. Setelah selesai membuat roti panggang, dia membuat salad buah. Setelah itu, dia membuat jus jeruk empat gelas.


Semuanya sudah selesai di masak. Syakila mengaturnya dengan rapi di atas meja dan menutupnya dengan tudung saji. ”Alhamdulillah! Selesai!” senyumnya mengembang di bibirnya.


Syakila keluar dari dapur. Dia pergi ke kamar Sardin.


Di kamar Sardin.


Syakila menutup pintu kamar. Dia melihat Geo masih tidur.


Dia mendekati Geo. ”Sayang, bangun. Sudah pagi.” dia membangunkan Geo.


”Hum.”


”Bangun, sayang! Ayo, setelah sarapan kita pulang.” Syakila masih membangunkan Geo.


”Hum? Pulang? Pulang kemana?” tanyanya, matanya masih terpejam.


”Jangan hum...hum... saja, sayang! Ayo, bangunlah. Pulang ke rumah lah.”


Geo memegang tangan Syakila yang masih berada di pipinya dan menarik tubuh Syakila ke atas tubuhnya. Dan mengunci tubuh Syakila di atasnya, dengan memeluk erat tubuh Syakila. Matanya masih terpejam.


”Geo, lepasin aku! Ayo, bangun. Kita sarapan. Gak baik, membuat tante dan om menunggu kita.” bujuk Syakila.


Geo membuka matanya melihat Syakila. ”Hum? Om dan tante? Oh, aku lupa, ternyata kita menginap di rumahnya Sardin.” dia melepaskan Syakila. Dia bangun dan beranjak berdiri. Dia pergi ke kamar mandi.


Syakila mengulum senyum melihat punggung Geo. Dia beranjak dari kasur dan berdiri. Dia pergi ke dapur tanpa menunggu Geo.


Di dapur.


”Mama, Papa.” Syakila menyapa orang tua Sardin yang telah duduk di kursi meja makan. Dia menarik kursi dan duduk.


”Di mana suamimu, sayang?” tanya Nesa.

__ADS_1


”Lagi di kamar mandi, Ma. Sebentar lagi akan ke sini.” jawab Syakila.


”Kamu yang masak semua ini?”


”Iya, Mama. Ma, sebentar sore, Syakila dan Geo akan berangkat ke kota A.” ucap Syakila. Lebih tepatnya dia berpamitan kepada kedua orang tua Sardin, jika dia akan pergi dari kota S.


”Iya. Jaga dirimu baik-baik selama di sana. Kalau sudah sampai, kabarin Mama dan Papa.” sahut Alimin.


”Iya. Nanti hari haulnya Sardin, kamu harus datang. Dan kamu sesekali harus menghubungi Mama.” sambung Nesa.


”Iya, Ma, Pa.” sahut Syakila.


”Maaf, aku datang terlambat. Aku baru bangun.” ucap Geo. Dia menarik kursi di samping Syakila dan duduk.


”Tidak apa-apa. Kamu, Sardin, dan Hardin memiliki kebiasaan yang sama. Selalu jika terlambat datang, selalu minta maaf.” bibir Nesa mengukirkan senyum. Mengingat kemiripan Sardin, Hardin, dan Geo yang sama.


”Karena sudah berkumpul, ayo, semuanya makan.” ucap Alimin. Dia memakan sarapannya.


Nesa, Geo, dan Syakila juga memakan sarapannya.


Beberapa menit berlalu. Mereka telah selesai sarapan. Syakila sedang mencuci piring kotor.


Alimin telah berangkat ke kantornya. Geo dan Nesa masih duduk di tempatnya, di dapur.


”Geo. Tolong jaga putriku dengan baik sesampainya kalian di kota A. Syakila adalah kesayangan kami, kesayangan Sardin. Kami tidak ingin Syakila terluka.” ucap Nesa.


”Iya, Tante. Syakila adalah hidupku, separuh nafasku. Aku akan menjaganya dan menyayanginya.”


Syakila telah selesai mencuci piring kotor dan menyusunnya di rak piring. Dia kembali duduk di bangkunya. ”Mama. Kami pulang dulu ke rumah dulu.” ucapnya.


”Iya. Hati-hati kalian kalau berangkat ke kota A.”


”Iya, Tante.” sahut Geo.


”Iya, Ma. Em, Ma. Syakila ingin kamar Sardin tetap penampilannya seperti itu. Foto-foto yang ada di dalam kamarnya jangan di ganggu gugat.”


”Iya. Keinginan mu sama dengan keinginan Sardin. Tapi, kamar itu di pakai oleh Hardin. Apakah tidak akan mengganggu pemandangan Hardin?” tanya Nesa.


”Tidak akan. Nanti Syakila akan beritahu Hardin. Baiklah, maaf, Mama. Kami harus pergi.” pamit Syakila. Ia beranjak berdiri.


Geo dan Nesa juga berdiri.


”Iya.” Nesa mengantar Syakila dan Geo sampai ke halaman rumah.


Syakila dan Geo naik ke atas motor. Geo menyalakan mesin motornya dan menjalankan motornya.


.. ..


Di rumah Sarmi.


Geo menghentikan motor di halaman parkir rumah Sarmi. Mereka turun dari motor.


”Assalamu 'alaikum!” sapa Syakila dan Geo pada Sarmi, Hardin, dan Fatma yang duduk di teras rumah.


”Wa 'alaikum salam!” sahut mereka.


Syakila mengambil anaknya Fatma dan menggendongnya. Bayi berumur delapan bulan itu tersenyum melihat Syakila. ”Aduh senyumnya....menawan bangat anaknya mama dua ini.” puji Syakila pada sang bayi. Dia mencium gemas pipi sang bayi.


Semua orang tersenyum melihat Syakila.


”Kalau gemas dengan anak bayi, sebaiknya kakak dan kakak ipar jangan tunggu lama-lama untuk memiliki seorang bayi.” ucap Hardin.


Syakila menunduk malu. Mukanya memerah saat mengingat perkataan Geo semalam, waktu di kamar Sardin.


Geo menendang kaki Hardin. ”Anak mudah, gak bagus membicarakan pembahasan orang dewasa.” tegur nya.


”Aku sudah dewasa kak. Pembicaraan seperti ini sudah masuk dalam kategori ku.” Hardin membela diri.


”Tapi, apa yang di katakan Hardin itu benar adik ipar. Aku sudah tidak sabar menunggu adik sepupu dari Lani. Iya kan Lani, sayang.” Fatma bertanya pada anaknya yang ada di pangkuan Syakila. Bayi itu tersenyum gembira. ”Nah, lihat kan Lani setuju.”


Syakila semakin menunduk malu. Geo sendiri menggaruk alisnya. Pembicaraan ini... sungguh membuatnya canggung.


Syakila memberikan Lina pada mamanya, Fatma. ”Mama, Syakila masuk ke dalam dulu.” Syakila beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah, tanpa menunggu sahutan mamanya.


”Em...Ma....”


”Iya, pergilah kak ipar.” pangkas Hardin. Dia tersenyum senang bisa menggoda kakak iparnya.


Sarmi mencubit paha Hardin. ”Hentikan! Jangan menggoda kakak ipar mu. Lihatlah, kakak mu kabur masuk ke dalam rumah karena mu.” tegur nya.


”Ma, sepertinya Hardin sudah saatnya untuk menikah. Bagaimana kalau Geo akan mengurus secepatnya untuk mengatur pernikahan Hardin.” ucap Geo.


”Iya. Aku setuju sama usulan adik ipar.” sambung Fatma.


”Hah! Gak, gak!” tolak Hardin.

__ADS_1


”Lain kali, jika masih menggoda ku dan Syakila, kamu akan ku nikahkan di waktu itu juga.” gertak Geo.


”Iya, ampun kakak ipar! Gak lagi!”


Fatma dan Sarmi tersenyum sambil menggeleng.


”Mah, Geo keluar sebentar. Ada yang ingin Geo urus. Kalau Syakila menanyakan ku, bilang saja sedang keluar. Satu pesan ku, jangan ganggu tidurnya, kalau dia sedang tidur. Semalam dia kurang waktu tidurnya.” tutur Geo.


”Iya. Kamu hati-hati di jalan, Nak.” sahut Sarmi.


”Iya. Mama.” Geo berdiri. Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan mengambil kunci mobilnya yang ada di dalam laci meja tv.


Dia pergi ke mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Geo mulai menjalankan mobilnya.


”Dia mau kemana, Ma?” tanya Hardin.


”Mama juga tidak tahu. Dia lelaki super sibuk. Mungkin saja dia ingin memantau usahanya. Oh, iya. Mama lupa untuk memberitahu Syakila tentang kompensasi yang di berikan Geo saat mereka bercerai.”


”Kalau Mama membicarakan itu di saat mereka kembali menjadi suami isteri, sepertinya Syakila akan menerima pemberian Geo.” ucap Hardin.


”Mama coba bicarakan sama dia.” Sarmi berdiri. Dia pergi ke kamar Syakila. Dia membuka pintu kamar Syakila. Di lihatnya Syakila sedang tidur. Dia kembali menutup pintu kamar Syakila dan pergi dari sana. Dia kembali duduk di teras bersama Hardin dan Fatma. ”Syakila sedang tidur.” ucapnya.


”Tunggu dia bangun saja.” sahut Fatma.


.. ..


Di mall.


Geo sedang memilihkan baju untuk Syakila. Selama dia menikah dengan Syakila, dia belum pernah membelikan sesuatu untuk Syakila.


Dia telah menghafal semua tipe dan model kesukaan Syakila berikut ukurannya dan sesuai dengan warna kesukaan Syakila.


Meskipun dia adalah suami pemilik dari mall tersebut, Geo tetap membayar barang yang di ambilnya.


Selesai memilihkan pakaian dan sendal Syakila, dia pergi ke kafe memesan minuman dan duduk di kursi, di depan kafe. Dia sedang menelfon seseorang. Telfon tersambung.


”Ada apa, Geo?”


”Bersihkan apartemen ku. Ganti semua peralatan yang lama dengan yang baru termasuk ranjang, kasur, dan lemari pakaian.” titah Geo.


”Hah! Geo, ada apa lagi dengan mu? Kenapa tiba-tiba ingin tinggal di apartemen lagi?” Beni khawatir.


”Tidak apa-apa. Kerjakan saja semua permintaan ku. Lima jam lagi aku akan berangkat ke kota A. Semuanya harus siap.”


”Ok. Kalau begitu aku matikan hapenya. Aku akan pergi membelanjakan peralatan apartemen mu.” ucap Beni.


”Ok.” telfon terputus.


Geo terkejut melihat satu gelas cangkir kopi tiba-tiba ada di atas mejanya dan seseorang duduk di kursi, di depannya. Dia mendongak, melihat siapa yang berani duduk di hadapannya.


”Hai...!” sapa orang itu sambil tersenyum senang.


”Pergi dari sini!” usir Geo. Wajahnya datar, melihat wanita di depannya itu.


”Kalau aku tidak akan pergi, apa yang akan kamu lakukan padaku?” tantang wanita itu.


”Tia, kamu di sini? Mama mencari mu di dalam toko pakaian, ternyata kamu duduk di sini dengan....” wanita itu menghentikan ucapannya, saat melihat wajah pria yang duduk di hadapan anaknya. ”Kamu? Geo, kan? Geo ibu senang bisa melihatmu lagi...”


”Maaf, Ibu siapa? Aku tidak mengenal mu.” pangkas Geo.


”Kamu sudah lupa sama Ibu, Nak?”


Geo memandang datar wajah wanita itu. Dia berusaha mengingat siapa ibu itu. Namun, dia tidak mengingat siapa ibu itu.


”Ibu yang dulu menghadang motor mu di tengah jalan, meminta bantuan mu, untuk menolong putriku dari pria-pria bejat waktu itu. Apa kamu ingat?”


Geo mengingatnya. Memang dulu pernah ada seorang ibu-ibu yang menghadang jalannya waktu itu. Saat itu dia sedang memboncengi Dawiyah. Dia masih pacaran dengan Dawiyah.


”Ibu belum sempat berterima kasih padamu waktu itu. Kamu pergi begitu saja setelah menolong anakku. Sebagai rasa terima kasih, maukah kamu singgah di rumahku, sebentar? Rumah ku tidak jauh dari sini.” pinta wanita itu.


”Oh, maaf, aku tidak bisa.” tolak Geo. Dia beranjak berdiri.


”Tolong, sebagai rasa terima kasih ku. Terimalah undangan ku, sudah lama aku mencari mu.” sang ibu memohon.


”Baiklah! Biar cepat, pakai mobil ku saja.” Geo mengalah. Dia menyetujui undangan wanita itu.


”Terima kasih, Nak.” senyum wanita itu mereka. Tia sendiri menyeringai, melihat Geo.


Mereka pergi ke mobil Geo. Mereka duduk di belakang. Geo menjalankan mobilnya dengan pelan, sesuai arahan wanita itu.


Tidak sampai sepuluh menit, mereka telah sampai di rumah wanita tersebut. Mereka turun dari mobil.


Geo melihat rumah yang ada di hadapannya. Rumah yang sederhana.


”Mari masuk.” ajak wanita itu setelah membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


”Tidak, aku di sini saja, di teras.” tolak Geo.


__ADS_2