
Di jalan sekitar rumah sakit.
Syakila masih berjalan menyelusuri jalan trotoar, sesekali ia menengok ke samping kanan, melihat taksi yang akan melintas.
Ia melihat beberapa pria berjalan agak jauh dari belakangnya. Ia tidak menyadari jika para pria itu merupakan ancaman untuknya. Ia terus berjalan.
Hardin telah sampai di parkiran rumah sakit. Ia tidak melihat Syakila di sekitar parkiran.
”Apa kakak masih di dalam?” gumamnya.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah sakit, ia terus berjalan hingga ke ruangan Sardin. Ia melihat ke dalam ruangan dari kaca luar ruangan. Ia tidak melihat sosok Syakila di sana, ia hanya melihat kedua orang tua Sardin.
Tok tok tok, ia mengetuk pintu ruangan Sardin. Nesa berdiri membuka pintu, ia terkejut melihat Hardin yang datang berkunjung.
”Hardin, ada apa?” tanyanya.
”Tante, aku kemari menjemput kakak, apa dia ada di dalam?”
”Syakila?” tanya Nesa.
Hardin mengangguk.
”Dia sudah pulang lima belas menit yang lalu. Apa kamu tidak bertemu dengannya di luar?” ucap Nesa lagi.
”Tidak, Tante.” sahut Hardin.
”Mungkin dia sudah pulang naik taksi.”
”Mungkin Tante benar, kakak mungkin sudah naik taksi. Kalau begitu, Hardin pamit dulu, Tante.”
”Iya, hati-hati di jalan, Nak!”
”Iya, Tante. Assalamu 'alaikum.”
”Wa 'alaikum salam.”
Hardin meninggalkan ruangan Sardin, Nesa kembali masuk ke dalam dan menutup pintu.
”Siapa yang datang, Mah? Kenapa gak di suruh masuk?” tanya Sardin, saat mamanya kembali duduk di kursi, di samping ranjangnya.
”Hardin. Dia datang untuk menjemput Syakila. Kamu mengapa belum juga tidur? Tidurlah, apa kamu ingin mengabaikan perkataan Syakila?”
”Tidak. Baiklah, aku akan tidur sekarang.”
Sardin kembali memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemah itu.
Hardin memakai helm dan menyalakan motornya. Sebelum benar-benar meninggalkan parkiran rumah sakit, ia menelfon nomor Syakila. Namun, nomornya tidak aktif. Ia pun pergi dari sana, meninggalkan halaman rumah sakit dan pulang ke rumahnya.
Syakila terus berjalan, para kelompok preman terus mengikutinya dari belakang.
”Bos, kita langsung sergap saja.” usul salah satu pria di antara mereka.
”Jalanan masih agak rame, sepertinya dia menuju halte bus. Kita terus ikuti dengan jarak seperti ini, jangan membuat dia waspada. Tunggu sampai dia berada di jalan yang hening itu, pencahayaan di sana kurang. Setelah sampai di sana, baru kita ambil tindakan.” jawab salah satu dari mereka, selaku bos dari kelima pria tersebut.
”Ok, Bos.”
Mereka terus mengikuti Syakila. Syakila memasuki jalan hening. Para preman mempercepat langkahnya. Mereka mengejar Syakila di jalan itu sebelum Syakila akan melewati jalan hening tersebut.
”Telfon Udo, suruh dia cepat bawa mobil ke arah sini, dan beritahu bos besar kita menemukan wanita yang dia cari-cari. Kirimkan lokasi kita padanya.” titah sang bos.
”Ok, Bos.”
Pria yang menyahut itu menurut, ia menelfon Udo, memerintahkan dia seperti apa yang di perintahkan oleh sang bos. Ia juga memberi informasi kepada bos besar, keempat anak buah Antonio, suruhan Marlina.
Tepat di tengah jalan yang hening itu, sesuai dengan siasat para preman tersebut, mereka berniat menyerang Syakila dari belakang.
Syakila yang memiliki tingkat kewaspadaan, ia merasakan kejanggalan. Ia menoleh, melihat di belakangnya. Di lihatnya beberapa pria sedang menyeringai jahat melihat dan berjalan cepat ke arahnya.
Kening Syakila mengerut, matanya menyipit melihat mereka sambil berpikir.
Siapa mereka? Sepertinya mereka bukan orang yang baik. Apakah tujuan mereka adalah aku? Aku harus tetap waspada.
Syakila berjalan semakin mempercepat langkahnya, sesekali ia menengok ke belakang, memperhatikan pria yang mengejarnya. Para pria tersebut pun semakin mempercepat langkah mereka. Dua di antara mereka berlari ke arah Syakila, sigap, Syakila berlari saat melihat dua pria yang berlari ke arahnya.
Namun sayang, kedua pria tersebut berlari dengan cepat, mereka berhasil menghadang Syakila dari arah depan, Syakila menghentikan langkah.
__ADS_1
Ia menatap kedua pria itu dengan tatapan tajam dan penuh waspada. Ia menoleh, melihat kebelakang saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat padanya.
Syakila tetap bersikap tenang, ia melihat samping kiri dan kanannya, memperhatikan gerak-gerik dari pria-pria itu.
”Siapa kalian? Apa mau kalian?” tanyanya.
”Tidak perlu kamu tahu siapa kami!” jawab salah satu di antara mereka.
”Tunggu apa lagi? Tangkap dia!!” titah pria tersebut.
”Baik, Bos!”
Dua pria yang berada di samping kiri Syakila maju bersamaan untuk menangkap Syakila. Syakila menghindar, ia menangkap salah satu tangan dari pria itu. Dengan gerakan cepat, ia memukul bagian belakang kepala pria satunya dan menendang perutnya dengan kuat, pria itu jatuh tersungkur di tanah dan tak sadarkan diri. Syakila beralih pada pria yang di tahannya, ia menendang perut pria itu dengan kuat dua kali menggunakan lututnya. Lalu, ia menghempaskan pria itu ke tanah dengan memukul bagian belakang kepalanya.
”Wah, ternyata kamu punya bela diri juga. Sepertinya, menangkap mu tidaklah mudah.” ucap salah satu pria yang menjadi bos mereka dengan tersenyum meremehkan.
Syakila tidak menanggapi, ia tetap siaga, memperhatikan gerak-gerik dari tiga pria tersebut.
”Maju!!” ucap pria itu.
Ketiga pria itu mengepung Syakila, Syakila berada di tengah mereka bertiga. Ia tetap tenang dan waspada.
Ketiga pria itu menyerang Syakila sekaligus, langkah cepat, Syakila menghindar ke arah samping, sehingga ke tiga pria tersebut saling menghajar.
”Kurang ajar!!” ucap salah satu di antara mereka dengan kesal dan marah. Dari mulut pria itu keluar darah akibat dapat tinju pada muka dan perut dari kedua temannya.
”Bunuh dia!! Tidak ada pilihan lain, kita bawa dia ke hadapan bos besar dalam keadaan tidak bernyawa!!” ucapnya.
Sedikit pun Syakila tidak takut dan gemetar mendengar perkataan pria tersebut. Ia tetap tenang. Dua pria yang masih bertahan, mereka berdua kembali menyerang Syakila.
Di saat itu, seorang pengendara mobil yang lewat di jalan itu berhenti ketika melihat seorang perempuan di keroyok. Pria itu menelfon kakak sepupunya yang berprofesi polisi untuk datang mengamankan pelaku kejahatan di area TKP.
Setelah ia menelfon, ia turun dari mobil, ia ingin membantu wanita itu. Ia terkejut setelah mendekati mereka, ternyata wanita itu adalah wanita yang di kenalnya.
”Syakila!” ucapnya.
Syakila menoleh, kedua pria yang di hajarnya juga menoleh, melihat pria yang menyebut nama Syakila. Syakila menendang salah satu pria tersebut di saat mereka lengah.
”Guru!” sahut Syakila.
”Kamu tidak apa-apa, Syakila? Siapa mereka?”
”Me__”
”Itu dia!!” teriak salah satu pria dari dalam mobil yang baru datang. Teriakannya menghentikan Syakila dari menjawab pertanyaan sang gurunya.
Syakila dan gurunya menoleh saat mendengar suara orang yang teriak itu. Mereka berdua terkejut melihat sekelompok orang yang beranggotakan sepuluh orang itu keluar dari dua buah mobil yang baru berhenti itu.
Ketiga pria yang sudah di kalahkan oleh Syakila tersenyum lemah melihat ke arah kelompok pria yang baru datang itu.
”Bagus! Kalian datang tepat waktu.” ucap salah satu di antara mereka.
Syakila terdiam, namun, ia tetap waspada dan tenang.
Gawat!! Kami hanya berdua saja, sedangkan mereka, mereka ada sepuluh orang di tambah tiga pria yang masih lemah itu, jumlah mereka tiga belas. Bisakah kami berdua mengalahkan mereka? Apalagi, aku sudah capek berkelahi dari tadi.
Sang guru silat pun terlihat tenang. Mereka berdua sama-sama memperhatikan dan membaca gerak-gerik dari kelompok pria itu.
”Abaikan yang pria, tangkap wanita itu!” ucap salah satu anak buah Antonio. Yah, mereka adalah para preman yang di telah di sewa dan ke empat anak buah Antonio.
”Langkahi dulu mayat ku, baru kalian bisa membawa wanita ini!” ucap sang guru dengan lantang menantang mereka.
”Kamu menantang ku? Hei, jika kamu masih sayang nyawamu! Tinggalkan wanita itu disini dan kamu pergilah! Aku mengampuni nyawamu!” ucap salah satu anak buah Antonio.
Sang guru dan Syakila saling memandang. ”Tidak akan!” sahut sang guru.
”Maka jangan salahkan kami, jika nyawamu hilang disini! Hajar dia!!”
Keenam preman yang baru datang di tambah tiga pria sebelumnya bersamaan maju menghajar guru Syakila. Perkelahian tidak terelakkan lagi.
Mereka saling menghajar, memukul, menendang, dan meninju. Syakila membantu sang guru. Mereka berdua berpencar menghajar sampai babak belur dan pingsan para preman-preman tersebut.
Anak buah Antonio tidak tinggal diam, mereka berempat maju bersamaan menghajar Syakila dan gurunya.
Kali ini, Syakila mendapat tendangan di perutnya dan sang guru mendapat tendangan di kaki dan di mukanya. Mereka berdua sama-sama meringis menahan sakit, tapi, mereka tetap bertahan untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri.
__ADS_1
Syakila dan sang guru mengerahkan semua kekuatan yang di miliki untuk melawan mereka. Guru Syakila berhasil melumpuhkan dua orang.
Sang guru melihat Syakila yang telah kelelahan, namun, wanita itu terus bertahan menangkis serangan lawan. Sang guru ingin membantunya, tetapi, ia sendiri memiliki lawan.
Di saat itu, Antonio yang kebetulan lewat, ia melihat perkelahian itu, ia memandang serius wanita yang sedang berkelahi itu, ia segera turun dari mobil ketika menyadari wanita itu mirip dengan wanita yang di kenalnya di bioskop.
”Apakah dia, wanita itu? Sepertinya ia, itu adalah Syakila.” gumamnya.
Ia membantu Syakila melawan pria yang berkelahi dengannya. Laki-laki itu mendapat pukulan berat di dadanya dan tendangan kuat di kepalanya. Pria itu mundur perlahan akibat tendangan Antonio.
”Syakila, kamu tidak apa-apa?” tanya Antonio.
Syakila mengangguk lemah, ia sangat lelah, apalagi perutnya yang masih sakit akibat dapat tendangan. ”Iya, aku tidak apa-apa.” jawabnya.
Pria yang telah di beri luka oleh tendangan Antonio, ia melihat temannya yang masih berkelahi dengan guru Syakila, ia juga melihat Syakila yang sedang mengatur nafas di samping pria yang menendangnya.
Pria itu memberi kode kepada temannya yang masih sadar untuk menyerang pria yang ada di samping Syakila. Temannya itu menurut, ia menendang Antonio dari belakang, hingga Antonio jatuh kedepan.
”Antonio!” ucap Syakila terkejut.
”Brengsek!” umpat Antonio.
Ia bangkit dengan marah, ia memukul pria yang menendangnya itu, pria yang satunya memliki kesempatan untuk mendekati Syakila yang sedang tidak berwaspada.
Pria itu mengeluarkan sebilah pisau, ia mendekati Syakila tanpa suara, ia menancapkan pisau tersebut ke perut Syakila dari samping.
Syakila terkejut tanpa bersuara, pisau tercabut dari perutnya. Syakila memegang perutnya yang luka itu, ia berbalik melihat pria yang menusuknya. Sekali lagi, pria itu menancapkan pisau di perut Syakila saat Syakila menghadap pria tersebut.
Pikiran Syakila berputar pada peristiwa enam tahun silam, di mana ia menyaksikan ayahnya di tikam orang. Syakila terjatuh di tanah, pria itu tertawa senang.
Sang guru dan Antonio terkejut mendengar suara gelak tawa, mereka berdua terkejut melihat Syakila yang terbaring di tanah, tangannya memegang perutnya yang luka.
”Syakila!!” teriaknya bersamaan. Dengan marah, emosi yang memuncak mereka meninju lawan mereka di muka, perut, dan menendang kakinya tanpa henti. Setelah lawan mereka terjatuh, mereka berdua sama-sama berlari ke arah Syakila.
Di saat itu, mobil polisi terdengar. Salah satu keempat anak buah Antonio yang sudah sadar, melarikan diri, bersembunyi di balik semak yang di tutupi rumput panjang.
Polisi turun dari mobil, mengamankan para pelaku-pelaku yang tidak sadarkan diri maupun yang masih sadar.
”Syakila!!” ucap Antonio dan sang guru.
Mereka berdua sama-sama merangkul pundak Syakila. Syakila terdiam. Pikirannya masih mengajak peristiwa ayahnya di tikam di keramaian, ada dirinya, mamanya, kakaknya dan omnya. Tapi, tidak ada satupun yang mendekati ayahnya malam itu untuk menolongnya.
Ayah, inikah yang ayah rasakan waktu ayah di tikam? Dan tidak seorang pun yang membelamu? Ayah...
”Ugh..” jerit Syakila kesakitan.
”Syakila, aku akan membawa mu ke rumah sakit, bertahanlah!” ucap sang guru dan Antonio bersamaan. Syakila menahan tangan gurunya yang ingin menggendong dirinya.
Syakila menggeleng. Ia tidak ingin di bawah kerumah sakit. Di matanya, terbayang lagi saat ayahnya di bawa lari ke rumah sakit, dan ayahnya meninggal di rumah sakit tersebut. Pihak dokter tidak bisa menyembuhkan ayahnya, mereka malah menutup seluruh tubuh ayahnya dengan kain panjang.
”Gu...guru... ja..jangan...ke rumah...sa...sakit” ucapnya pelan. Ia merasakan sesak saat bernafas.
Apakah ini akhir dari hidupku? Mama... Geo.... Sardin....maafkan aku....aku...pergi...
Perlahan mata Syakila terpejam.
”Syakila! Tetap sadar, jangan tidur!” ucap Antonio.
”Tidak, Syakila! Jangan tidur! Tetap sadar, Kila!” ucap sang guru.
”Sebaiknya kita bawa Syakila ke rumah sakit, jika tidak, dia akan mati karena kehabisan darah!” usul Antonio. Ia meraih tubuh Syakila dari sang guru. Sang guru menahan tangan Antonio.
”Tidak! Apa kamu tidak dengar ucapannya tadi? Dia tidak ingin ke rumah sakit.” sahut sang guru. Ia menggendong tubuh Syakila, ia mengabaikan Antonio.
”Kamu akan bawa dia kemana jika tidak ke rumah sakit?” tanya Antonio dan kakak sepupu sang guru bersamaan.
”Syakila adalah tanggung jawabku sekarang!” ia melihat Antonio, ”Aku tidak tahu kamu siapa, tapi, aku ucapkan terima kasih telah membantu menyelamatkan Syakila.”
Antonio terdiam, ia melihat pria yang di panggil dengan guru oleh Syakila itu membawa Syakila ke dalam mobilnya. Kakak sepupunya menghampiri dirinya di mobil.
”Ini tasnya cewek itu. Mereka semua sudah ku amankan. Informasi selanjutnya akan ku kabarkan padamu setelah ku interogasi mereka.”
”Ok, terima kasih, temui aku di klinik pribadiku. Aku akan merawat dia sendirian. Temui aku nanti di sana.” sahut sang guru.
Ia menutup pintu mobil setelah melihat anggukan kakak sepupunya itu. Ia menjalankan mobilnya menuju kediaman klinik pribadinya. Kakak sepupunya pun pergi dari tempat TKP setelah ia bersalaman dengan Antonio.
__ADS_1
Setelah polisi tersebut pergi, Antonio mendekati semak-semak tempat persembunyian salah satu preman yang mereka hajar tadi, ia sempat melihat pria itu saat bersembunyi. Antonio memukul pria tersebut di bagian kepala belakangnya, hingga pria itu pingsan. Ia membawa pria itu bersamanya.